BTS' Fanfiction
.
.
.
Kim Namjoon | Kim Seokjin | Min Yoongi | Park Jimin | Jung Hoseok | Jeon Jungkook | Kim Taehyung
.
.
.
I think love isn't just made up of happiness and compliments and light. Love includes scars, a little bit of hate and some dirty things inside us. -BTS' RM at Dazed Magazine Interview
.
.
.
.
.
"Apa tidak ada kesempatan lagi bagi kalian untuk kembali bersama?"
Satu pertanyaan yang terlontar meyakinkan Yoongi kalau sejak awal bukan ia satu-satunya yang meragu. Seokjin juga. Atau bahkan dunia juga sebenarnya diam-diam meragukan mereka.
Walaupun mengejutkan dan nyaris membuat Yoongi tersedak air minumnya, pertanyaan itu telah ia perkirakan dari jauh-jauh hari, baik ditanyakan oleh orang lain atau bahkan Yoongi sendiri yang mempertanyakan itu pada dirinya.
Yoongi memandang jauh ke luar jendela dimana pemandangan jalan setapak tempat pejalan kaki berlalu lalang di sajikan. Di seberangnya ada bangunan lain yang dindingnya tersusun dari batu bata merah dihiasi tanaman rambat berwarna hijau yang entah apa jenisnya, cukup mencolok dan menarik untuk di pandang sembari mengulur waktu. "Seokjin, kau lihat ini? Aku tidak bisa kembali." Ia baru menyadari kalau sedari tadi jari-jarinya bergerak memainkan benda berkilau yang melingkar di jari manis tangan kirinya, hingga ia tidak perlu terlalu frontal membuat Seokjin mengerti apa yang di maksud pertanyaannya.
Jeda di antara mereka kali ini di temani suara langkah kaki para pramusaji yang kerepotan melayani pelanggan-pelanggan di jam sibuk makan siang. Yoongi masih melempar jauh pandangannya ke luar sana, mungkin terlalu takut menatap Seokjin di depannya, tapi sampai mati pun ia tidak akan mau mengaku takut. Jangan tanya hal apa yang menakutinya, Yoongi tidak tahu pasti, di kepalanya hanya ada hal-hal abstrak yang sulit dijelaskan secara verbal.
"Bahkan jika Jungkook yang meminta, kalian tidak bisa kembali?"
Sementara Seokjin sepertinya jauh lebih baik dalam mengungkapkan isi pikiran Yoongi dan menyajikan ketakutan terbesar Yoongi dalam bentuk sebuah pertanyaan.
Jeda panjang semakin sering mampir ke tengah obrolan mereka. Kali ini Yoongi tak menghindar, justru menatap lekat Seokjin yang sudah sama-sama kehilangan nafsu makan, mangkuknya masih setengah penuh diletakkan jauh-jauh dari jangkauannya. Ekspresinya berisi ribuan arti yang menyulitkan Yoongi membaca isi hatinya. Ada luka disana, dan kesedihan, dan kekecewaan, sisanya terlalu banyak untuk di sebutkan, Yoongi jadi merasa ia sedang bercermin saat ini.
Tapi ternyata mulut Yoongi sudah tidak bisa dibendung lagi, kata-kata mulai mengalir darinya tanpa bisa dicegah.
"Bisa, tentu saja bisa. Aku akan melakukan apapun demi Jungkook dan Namjoon juga pasti berpikir seperti itu." Airmata ikut-ikutan mengkhianatinya di akhir, setelah susah payah ia tahan, mewakili serangan bertubi-tubi rasa sakit dalam hatinya. Dia masih mempertahankan kontak matanya dengan Seokjin saat kembali melanjutkan kalimatnya. "Lalu setelah itu semua akan kembali seperti sebelumnya, aku dan Namjoon bertengkar soal masalah kecil hampir setiap hari, saling menyakiti tanpa sadar, Namjoon yang pilih menginap berhari-hari di studionya dan aku akan mengajak Jungkook bermain seolah semua baik-baik saja, seolah keluarganya harmonis dan orangtuanya bukan dua orang berego tinggi yang memaksa tetap bersama demi dia. Jika itu yang ingin kau lihat dari keluarga kami, Seokjin, maka ya, aku dan Namjoon bisa kembali bersama."
Mungkin ini alasan mengapa orang-orang menyarankan untuk tidak lagi menengok masa lalu. Seperti sebuah lubang hitam yang menarikmu lalu membuatmu terjebak disana, tidak ada yang bisa di lakukan walaupun jalan keluar dapat terlihat di atas kita. Tapi biar bagaimanapun kita tidak akan pernah tahu sudah sejauh mana kita melangkah maju tanpa menoleh ke belakang dan memastikannya. Yoongi sedang menggunakan teori tersebut untuk sekedar mengonfirmasi jumlah langkah yang berhasil menjauhkannya dari masa lalu. Jadi tubuhnya kini terasa jauh lebih ringan, seperti beban berat serta seluruh keraguannya selama ini ikut luruh bersama luapan emosi dan airmata.
"Aku dan Namjoon bisa seperti sekarang ini karena kami memutuskan untuk berpisah, dan sama sekali tidak ada jaminan kami akan tetap sama saat kembali bersama nanti. Aku lelah, Seokjin, enam tahun sudah cukup dan aku tidak ingin lagi hidup dalam ketidakpastian. Seseorang sedang menawarkan sebuah kepastian yang aku inginkan, apa kau akan menolaknya jika berada di posisiku?" Saat senyum kecil berhasil ia perlihatkan, Yoongi yakin dirinya tidak lagi meragu. Tangan-tangannya sibuk bergerak menghapus sisaan airmata di wajahnya. Nyaris menertawakan diri sendiri karena merasa konyol sekali menangis di tengah keramaian restoran.
Fokusnya kembali pada Seokjin, terlalu penasaran dengan reaksi sang dokter yang sejak tadi hanya menjadi pendengar tanpa intrupsi apapun, mengizinkan Yoongi mengeluarkan seluruh isi pikirannya. Nyatanya Seokjin sedang tersenyum sembari sibuk membuka tas ransel yang ia bawa, meski begitu matanya mengatakan bahwa mereka ikut menangis bersama Yoongi tadi. Yoongi menemukan lagi satu sifat dirinya pada Seokjin. Mereka sama-sama mahir dalam 'bersembunyi', tapi harus Yoongi akui level Seokjin berada sedikit di atasnya.
"Maaf membuatmu menangis." Masih tersenyum, ia menawarkan sapu tangannya pada sang lawan bicara yang langsung mengambilnya tanpa ragu.
"Bukan salahmu, aku saja yang terlalu terbawa suasana." Yoongi memulai lagi gerakan membersihkan sisaan air mata di wajahnya. Merasa konyol sendiri karena menangis sedemikian rupa di siang hari bolong.
Katakan saja keduanya adalah para profesional dalam hal menarik-ulur situasi. Terbukti saat dimana Yoongi tahu lawan bicaranya membutuhkan waktu bersama pikirannya sendiri, atau saat sebelumnya Seokjin juga melakukan hal yang sama yaitu memposisikan diri hanya sebatas mendengarkan tanpa sedikitpun mengganggu keterbukaan Yoongi lewat ceritanya. Itu lucu bagi mereka karena jika mengingat status serta intensitas pertemuan yang bisa dihitung dengan jari, semua koneksi psikologis mereka tadi terasa sangat mustahil. Seokjin ingat dulu Jaehwan pernah menjelaskan padanya tentang kedekatan interpersonal atau apalah itu yang mana salah satu penyebabnya adalah kesamaan jalan hidup yang mereka tempuh. Dulu penjelasan itu berlaku untuk hubungan Namjoon dan Taehyung, tapi sekarang rasanya hal itu sedang terealisasi di antara ia dan Yoongi.
"Terimakasih sudah mau menceritakan semuanya, Yoongi-ya."
Seokjin memilih waktu yang tepat dalam hal mengembalikan situasi ke alur yang semestinya. Mengambil kembali fokus Yoongi yang sempat melayang kemana-mana.
"Kau sungguhan menyukai Namjoon kan?" Adalah pertanyaan random yang muncul akibat pemikiran-pemikaran asal di kepalanya. Gilirannya kali ini membuat Seokjin beku di tempat, keseluruhan ototnya kaku selama matanya tidak pernah lepas dari milik Yoongi yang seperti sedang memohon agar segera diberikan jawaban.
"Tidak, maaf." Seokjin berpikir lagi, mendadak ingatannya dipenuhi oleh sosok Namjoon dari awal pertemuan mereka di taman sampai momen di pantai kemari saat Namjoon dengan tegas menyatakan perasaannya. Juga cara Seokjin menghindari jawabannya sendiri dengan alasan ingin berada di situasi seperti ini bersama Yoongi. "Kurasa aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya."
Satu pernyataan yang berhasil membuat keretakkan pada dinding keraguan milik keduanya dan memberikan rasa lega luar biasa setelah situasi sebelumnya seperti berusaha mencekik mereka tanpa ampun.
Seokjin selalu berpikir bahwa hal tersulit dalam hidupnya adalah untuk kembali jatuh cinta dan mempercayakan hatinya pada seseorang, setelah pengalaman mengajarkannya konsekuensi terburuk melakukan hal tersebut. Tapi kemudian ia bertemu Taehyung yang mengajarkannya bahwa cinta itu tak berbatas, bebas, dan tidak utuh. Saat kita memberikannya pada satu orang, akan tetap banyak tersisa untuk orang lainnya. Maka jangan ragu untuk memberi cinta sebanyak-banyaknya bahkan setelah rasa sakit dan pengkhianatan berusaha keras mengurasnya habis dari hatimu.
Dan pertemuannya dengan Namjoon membawa penyempurnaan dari sederet pelajaran hidup yang ia dapat dari Taehyung, bahwa mencoba untuk yang kedua kalinya bukan berarti menjadi si bodoh yang menenggelamkan diri dalam kesalahan yang sama, melainkan lambang sebuah keberanian dalam mendapatkan kembali apa yang pernah gagal ia raih. Kebahagiaan, cinta, masa depan, Seokjin baru menyadari Namjoon telah berhasil membuatnya ingin kembali mencoba walau tahu resiko mematikan jika gagal sekali lagi.
Sungguh, detik ini, hal yang paling ingin ia lakukan adalah memeluk erat Namjoon dan mengatakan isi hatinya yang terlalu lama tertunda oleh egonya sendiri.
"Ini melegakan, bukan?" Bisik Yoongi hati-hati, mungkin takut mengganggu Seokjin dan isi pikirannya.
"Bagiku?"
"Bagiku juga. Melegakan bagi kita berdua."
Seokjin tersenyum sambil menangguk, merasa dirinya semakin ringan sampai rasanya hembusan angin musim gugur di luar sana bisa menerbangkannya tinggi-tinggi.
"Kookie meminta hal itu bukan hanya padamu. Aku mendapat pertanyaan itu hampir setiap hari, mungkin Namjoon juga. Lucu, bukan? Kita sebagai orang dewasa dibuat tidak berdaya oleh satu pertanyaan seorang bocah." Yoongi sedikit tertawa di akhir, campuran kekonyolan dan kemirisan terdengar dari tawanya. Sapu tangan kini sudah kembali ke pemiliknya karena Yoongi pikir Seokjin lebih membutuhkanya saat ini dilihat dari lelehan air mata yang menuruni pipinya secara perlahan. "Tapi jangan meragu lagi, Seokjin-ah. Kookie mungkin benar, baginya sebagai anak-anak tentu akan menyenangkan tetap tinggal bersama orangtuanya, tapi kita sebagai orang dewasa yang paling tahu mana hal terbaik untuk dijalani."
"Dan saat dewasa nanti, Kookie akan mengerti apa yang kita maksud hal terbaik itu."
"Tepat. Kita satu pikiran. Kupikir aku sekarang menyukaimu, oh maaf bahkan aku sudah menyukaimu sejak dulu kau berhasil membuat k.o Namjoon di rumah sakit." Giliran Yoongi yang tersenyum lebar sekali seolah sedang balas dendam pada semua airmata kesedihan yang tadi tumpah. Dia sedang membuktikan diri kalau raut bahagia juga pantas disandang di wajahnya.
"Yoongi, Namjoon disana karena penyakit kurang gizinya, bukan karena dihajar olehku."
"Setidaknya kau berhasil membuat dia menghabiskan sup penuh sayuran."
Seokjin ikut tertawa, nyaris tersedak liurnya sendiri. "Sebenarnya siapa yang sedang kita bicarakan? Namjoon atau Kookie?"
"Oh percayalah kau akan segera tahu mereka berdua itu tidak ada bedanya."
Obrolan mereka berlanjut semakin ringan, hanya berisi candaan disana-sini serta pembeberan mengenaskan dari Yoongi tentang keburukan dan kekonyolan Kim Namjoon selama ini. Membuat Seokjin mengenal Namjoon jauh lebih dalam lagi, entah memang itu menjadi tujuan utama Yoongi.
"Percaya atau tidak, Seokjin, aku pernah menemukannya menidurkan Kookie sambil menyanyikan lagu Eminem!"
"Eminem?! Rapper Amerika itu?"
"Yeah, sebelum Kookie lahir Namjoon pernah bilang kalau ingin menjadikan anaknya seorang rapper juga."
"Astaga, tidak heran kalau Kookie bisa bicara sangat cepat saat sedang bersemangat."
"Kau bisa menyalahkan Kim Namjoon untuk hal itu."
Mudah saja bagi Seokjin menyadari kerlipan cahaya tambahan di mata Yoongi setiap kali nama Namjoon disebut. Ini semakin meyakinkannya bahwa perasaan Yoongi untuk Namjoon masih tetap ada, tersimpan baik-baik dalam hatinya, meski bentuknya sendiri sudah sama sekali berbeda dari sebelumnya. Yang pasti rasa benci menjadi sangat mustahil hadir di antara mereka, sekarang maupun di masa-masa yang akan datang.
"Dan ceroboh sudah menjadi nama tengah Namjoon sejak kecil."
Seokjin tertawa, menopang dagunya pada satu lengan yang menumpu di atas meja, sepenuhnya memperhatikan dan menikmati cerita-cerita Yoongi. "Sampai separah itu?"
"Kau tak akan percaya kalau kukatakan ponselnya yang baru di beli seharga belasan juta terjatuh dan pecah layarnya di hari yang sama ia pertama kali memakainya."
"Oh, separah itu.." Kecerobohan Namjoon yang selama ini ia tahu hanya sebatas sering lupa menjemput Jungkook ke sekolah, ataupun melupakan waktu makannya sendiri.
"Dan jangan coba-coba membiarkannya memasuki dapur, Seokjin." Yoongi memulai lagi sambil menenggak air putihnya, kerongkongannya mulai kering dan ia masih tidak sadar salah satu penyebabnya adalah ia yang bicara lebih banyak dari biasanya.
"Kenapa? Aku hanya tahu Namjoon tidak bisa memasak."
"Bukan hanya tidak bisa masak, tapi saat ia memasak dan gagal, makanannya akan tetap utuh mentah sedangkan penggorengannya hangus terbakar."
"Astaga.."
Tawa mereka mendominasi situasi, sepenuhnya mengabaikan tatapan aneh para pengunjung lain yang mungkin sebelumnya melihat dua orang itu menangis menyedihkan, kini malah tampak seperti orang paling berbahagia di antara mereka. Sisa makanan yang dipesan keduanya juga sama sekali tak tersentuh lagi, kehilangan nafsu makan mereka yang biasanya besar. Seokjin dan Yoongi begitu menikmati situasi seringan kapas yang mereka buat sendiri.
"Ah, aku terlalu banyak bicara ya."
Seokjin cepat-cepat menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan dari pernyataan Yoongi. "Tidak sama sekali, lagipula aku senang mendengarkan semua ceritamu."
"Syukurlah." Balas Yoongi sembari menunjukan senyum lebarnya. "Tapi omong-omong, kau harus menjemput Taehyung kan?"
Barulah Seokjin seperti dikembalikan ke dunia yang sebenarnya, yang jauh dari kata ringan dan tidak selalu dipenuhi tawa mereka. Ia melirik jam tangannya, hampir dua jam ia bersama Yoongi disini, bahkan baru menyadari kalau restoran yang tadi ramai oleh orang-orang yang ingin menyantap makan siang mereka, sekarang sudah sepi dan hanya menyisakan satu-dua pelanggan termasuk ia dan Yoongi.
Melihat kepanikan di wajah Seokjin, Yoongi tahu ini saatnya mereka berpisah, sekuat apapun keinginan Yoongi untuk menahannya disini dan saling berbagi cerita, nyatanya Seokjin memiliki kewajiban lain yang jauh lebih penting dari apapun. "Kurasa kau harus pergi, Seokjin?"
"Ya, ya.. Taehyung akan selesai sepuluh menit lagi."
"Apa itu di dekat sini? Maksudku rumah sakit yang menangani Taehyung."
"Ya, sekitar lima belas menit dengan mobil."
"Boleh aku ikut?" Pertanyaan itu muncul begitu saja tanpa sedikitpun tersaring oleh otaknya. "Sepertinya aku butuh informasi dari Taehyungie soal cara membuat Kookie menghabiskan kimbab berisi sayuran." Yoongi hanya menggunakan nalurinya sebagai.. apa? Seorang ibu? Katakan saja begitu. Mengingat Taehyung, Seokjin jadi mendadak dingin dan kaku lagi, walaupun Yoongi yakin bukan Taehyung alasan utamanya, melainkan ketidakberuntungan situasi di antara ia dan sang bocah.
Banyak hal yang dipikirkan Seokjin selama mempertimbangkan jawaban yang akan ia pilih. Tentang bagaimana selama ini ia mengisolasi Taehyung dari dunia luar, sampai Namjoon datang, lalu Taehyung yang tidak pernah bisa berhenti tersenyum selama liburan kemarin, hal itu terjadi tentu karena kehadiran pasangan ayah dan anak yang entah sejak kapan menjadi favorit Taehyung. Jadi mungkin tidak ada salahnya menambah satu lagi orang memasuki kehidupannya dan Taehyung karena Yoongi sendiri sudah sejak jauh-jauh hari menyambutnya dan Taehyung dalam kehidupan keluarga kecilnya.
"Tentu, Yoongi. Tapi tolong persiapkan telingamu untuk mendengarkan ocehan panjang lebar dari Taehyungie." Katanya diiringi senyuman paling manis dari yang sebelumnya ia tunjukkan pada Yoongi.
Yoongi merasa telah salah mengambil kesimpulan, sebab tidak ada yang salah dengan Seokjin saat menyebut nama Taehyung. Ia tidak berubah menjadi dingin dan kaku, melainkan seribu kali lebih hangat dan nyata.
"Percayalah, Kookie sudah membuat telingaku kebal dengan semua ocehannya setiap hari."
.
.
.
.
Klinik tempat praktek Lee Jaehwan di dominasi warna merah muda dan putih, gambar hewan dan tokoh-tokoh kartun terkenal menghiasi setiap dinding yang ada. Di ruang tunggu utama tempat pendaftaran terdapat balon-balon warna-warni menghiasi plafon putihnya, juga sebuah baner besar bermotif kepala para tokoh Disney bertuliskan hangul 'selamat datang' tergantung manis di bagian atas meja resepsionis. Sebagai psikolog anak, tempatnya memang dituntut harus jauh dari suasana rumah sakit yang monoton. Jaehwan tentu tahu benar hal-hal apa saja yang bisa membantu pasien-pasiennya rileks saat berkunjung. Bahkan orang dewasa seperti Seokjin dan Yoongi yang baru datang pun dibuat sedikit rileks saat memasuki ruangan penuh warna dan gambar lucu tersebut.
Seokjin langsung membawa langkah mereka menuju salah satu lorong dimana ruangan terapi Taehyung berada. Sepanjang lorong, mereka di sambut para tokoh dari film Minion, yang Yoongi yakin jika Jungkook bersamanya sekarang sang bocah tidak akan berhenti memekik girang sampai terdengar ke pintu masuk sana. Yoongi ikut menghentikan langkahnya saat Seokjin di depannya berhenti, di hadapan mereka ada sosok tinggi berwajah kecil mengenakan jubah putih khas dokter yang mengingatkan Yoongi pada sosok Seokjin saat di rumah sakit dulu.
"Kupikir ini lebih lama dari janjimu?" Jaehwan mencibir, dengan tangan terlipat di dada sebagai intimidasi tambahan.
"Maaf, salahku menahan Seokjin lebih lama." Yoongi otomatis ikut campur karena memang merasa bertanggungjawab atas keterlambatan temannya.
Pandangan sang dokter beralih pada laki-laki yang lebih kecil di belakang tubuh tinggi Seokjin, ia menatap dengan alis berkerut memperhatikan dari ujung rambut hitam Yoongi hingga ke sepatu convers biru yang yang ia kenakan, seperti sedang berpikir keras apa ia pernah mengenalnya sebelum ini.
"Jaehwan ini Min Yoongi, teman yang tadi kutemui. Dan Yoongi, ini Lee Jaehwan, temanku sekaligus psikolog yang menangani Taehyung."
Dengan begitu Jaehwan yakin mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Walaupun tetap saja nama Yoongi terdengar tidak asing di telinganya karena bukan sekali dua kali Seokjin menyebutkan nama tersebut dalam ceritanya tentang si pasien populer.
"Senang bertemu denganmu, Yoongi-ssi." Ia melupakan kesinisannya tadi, mengulurkan tangan untuk dijabat sambil tersenyum ramah.
Yoongi menjabat tangan Jaehwan juga dengan senyuman, "Senang bertemu dengamu juga. Aku benar-benar minta maaf karena membuat Seokjin terlambat."
"Tidak apa-apa, bukan salahmu." Katanya masih ramah. Lalu melirik ke arah Seokjin untuk memberitahu bahwa kalimat tadi juga berlaku padanya.
Walaupun begitu kekhawatiran tetap belum hilang dari raut wajah Seokjin, rasa bersalahnya karena meninggalkan Taehyung terlalu lama sepertinya akan membekas untuk beberapa waktu. "Jaehwan-ah, Taehyung?"
Mengerti bahwa kekhawatiran berlebih sahabatnya telah menjadi sifat permanen, Jaehwan membuang pelan nafasnya, "Kami selesai lebih cepat hari ini dan Taehyung tertidur selama menunggumu."
"Jadi Taehyung tahu kalau aku pergi?"
"Ya, dia menangis. Akan kubangunkan agar kalian bisa bicara."
Yoongi bisa merasakan jelas kegelisahan Seokjin yang makin bertambah tiap detiknya seiring dengan langkah Jaehwan yang kembali memasuki ruang terapi. Entah sejak kapan ia bisa mengerti Seokjin semudah ia menjelaskan dirinya sendiri, yang pasti Yoongi sekarang tengah merangkul pundak Seokjin dengan tangan kanannya. Memberitahu beberapa hal pada Seokjin lewat tindakannya tersebut, permintaan maafnya yang masih tersisa karena rasa bersalahnya belum berkurang, bentuk dukungannya agar Seokjin tetap berdiri tegak, serta menyakinkan Seokjin bahwa ia tidak sendiri disana dan Yoongi siap membantu apapun.
"Thanks, Yoongi-ah." Sebuah senyum kecil yang sedikit dipaksakan mengiringi ucapan terimakasih Seokjin. Membalas dengan cara tersirat juga kalau seluruh isi pesan Yoongi lewat rangkulannya telah tersampaikan sempurna.
Ini semakin menakjubkan sekaligus mengherankan bagi mereka berdua tentang bagaimana mudahnya mereka membaca pikiran satu sama lain seolah itu adalah hal paling wajar di dunia. Seokjin yakin, psikolog atau apapun itu nama bagi mereka yang merasa ahli dalam hal-hal perasaan manusia, tidak akan mampu mendefinisikan ikatan yang terjalin antara ia dan Yoongi dalam waktu beberapa jam yang mereka habiskan bersama.
"Mama!"
Dunia keduanya teralih oleh sebuah teriakan serta suara langkah kaki yang menggema di sepanjang lorong. Taehyung sedang berlari ke arah mereka dengan kecepatan di atas rata-rata. Mengerti situasinya, Yoongi melepaskan rangkulannya pada Seokjin dan membiarkan teman barunya itu berlutut menyambut pelukan super erat Taehyung yang masih ingin melanjutkan tangisnya pada pundak sang mama.
"Aku pikir mama tidak akan kembali lagi hiks."
"Sayang, maafkan mama yang tidak bisa menemani Taehyung sampai selesai. Tapi jangan pernah berpikir mama akan meninggalkan Taehyung selamanya, oke?"
"Kenapa?"
Pelukan Seokjin mengerat, berniat mengambil segala jenis rasa sakit serta keragu-raguan Taehyung padanya. "Karena mama sayang sekali dengan Taehyung, jadi mama tidak akan sanggup meninggalkan Taehyung."
"Aku juga sayang mama."
Waktu yang terlewat begitu saja tak mereka hirauhkan, hal terpenting bagi keduanya saat ini adalah menikmati kehangatan tubuh satu sama lain lewat pelukan. Seokjin masih sesekali membisikan kata maaf karena isakan tangis Taehyung yang masih terus terdengar. Bagi orangtua manapun hal paling menyakitkan dalam hidup mereka adalah ketika anak-anaknya menangis dalam rasa sakit dan Seokjin terlalu sering berada di situasi mencekam seperti itu. Maka pujian Yoongi di awal tentang kekuatan Seokjin sebagai orangtua sama sekali tidak salah.
Saat isakan tangis Taehyung mendadak berhenti, Seokjin dibuat kembali ke dunia yang sebenarnya. Ia menunggu sejenak kalau saja tangisan Taehyung kembali berlanjut, tapi justru ia merasakan deru nafas yang mulai stabil. Jadi secara perlahan dan hati-hati, ia mulai bergerak menjauhkan dirinya dari tubuh Taehyung yang masih tak menunjukkan reaksi, sama sekali tak menyadari pelukan erat mereka mulai merenggang.
Dan saat mengikuti arah pandangan Taehyung, Seokjin menemukan sosok Yoongi yang berdiri canggung di tatap sedemikian rupa oleh bocah delapan tahun yang wajahnya masih dipenuhi bekas tangisan. Taehyung mengusap hidungnya yang gatal, menghirup udara banyak-banyak sebelum akhirnya memutuskan pandangan dengan orang asing yang baru pertama kali ia lihat. Kini ia beralih pada Seokjin meminta penjelesan secepatnya siapa orang yang datang bersamanya hari ini. Taehyung memang selalu memiliki keantusiasan berlebih saat bertemu orang-orang yang baru pertama ia lihat.
"Ah, Taehyungie, ini paman Yoongi. Dia app.."
"Dia eomma-nya Jungkookie, Tae." Jaehwan memotong kalimat Seokjin tanpa peringatan. Memberikan kesadaran tambahan pada Seokjin tentang trauma anaknya pada satu kata yang nyaris ia ucapkan tanpa beban.
Rasa bersalah Seokjin kini berpindah objek. Ia melemparkan pandangan sendu pada Yoongi sebagai permohonan maaf karena tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya. Yoongi yang mengerti arti sorot mata Seokjin, menggelengkan kepala beserta senyum kecil, berharap telepati mereka kali ini kembali berhasil agar Seokjin berhenti tak lagi merasa bersalah hanya karena hal kecil begitu.
"Seokjin-ah, bisa kita bicara? Ini tentang Taehyung tadi." Jaehwan menunduk dan berbisik dekat telinga Seokjin. Meninggalkan sejenak situasi dimana Taehyung dan Yoongi tengah melempar senyum satu sama lain di depan sana.
Seokjin melirik ke arahnya dan tak perlu berpikir lama lagi baginya untuk segera mengangguk setuju. Dia pun bangkit berdiri, kedua tangannya masih berada di pundak Taehyung, meremas-remasnya lembut.
"Taehyungie, mama harus bicara dengan Dokter Lee. Ingin ikut atau tetap menunggu disini bersama paman Yoongi?"
"Disini bersama eomma-nya Kookie." Jawabnya langsung, tak ada unsur keraguan sedikitpun. Lalu ia memutar pandangan pada Seokjin yang berdiri di belakangnya. "Bolehkan, ma?"
Masih dalam keadaan bingung Seokjin refleks menangguk lagi. Menatap bergantian pada anaknya dan Yoongi yang senyumnya semakin membentang lebar. Seokjin masih tidak percaya tentang semua kemudahan menjalin hubungan antara ia dan Taehyung dengan keluarga kecilnya Namjoon dan Yoongi.
"Hallo, Taehyungie, kita duduk disana? Taehyung pasti masih lelah."
Taehyung nyengir sambil mengangguk berkali-kali, meraih tangan yoongi yang terulur untuk digenggam erat dan menuntunnya menuju kursi tunggu yang menempel di dekat dinding bergambar tokoh Felonius Gru. Sebelum memutar badan meninggalkan Seokjin dan Jaehwan, Yoongi sempat berbisik "Bicaralah, tak perlu mengkhawatirkan kami."
.
Yoongi membantu Taehyung duduk di bangku besi beralas empuk yang banyak berjejer di sepanjang lorong. Lalu mengambil tempatnya di samping Taehyung setelah memastikan sang bocah nyaman dalam duduknya.
"Taehyung suka Minion?"
"Minion itu apa?" Dipenuhi rasa penasaran, pandangannya mengikuti Yoongi yang sedang menatap gambar-gambar pada dinding.
Yoongi menoleh pada Taehyung dan tersenyum, "PR untukmu. Tanyakan pada Kookie saat kalian bertemu nanti."
Dulu sekali, saat agensinya mengadakan kegiatan sosial ke sebuah panti asuhan, Hoseok selalu meledek situasi canggung yang tercipta jika Yoongi dan salah satu anak disana di tinggalkan hanya berdua. Untungnya kehadiran Jungkook enam tahun lalu telah merubah total kecanggungannya pada anak-anak, Yoongi bahkan pernah menemukan dirinya mengobrol berjam-jam dengan anak tetangganya yang datang untuk memberikan kue beras sebagai salam perkenalan.
Taehyung benci PR. Di sekolah dulu ia selalu dihukum karena semua PR-nya salah, itu karena tidak ada yang mau menemaninya belajar saat di rumah. Akan tetapi PR yang sekarang jelas berbeda. Taehyung punya mama dan Kookie untuk ditanyakan, atau mungkin ia juga bisa bertanya pada Paman Kim. Jadi ia menerima PR dari eomma-nya Kookie ini.
Aneh sekali. Satu menit yang lalu Taehyung masih menangis di pundak mama, kesal dan takut saat tahu mama tidak ada di depan selama ia dan Dokter Lee dalam ruangan. Sekarang ia justru tidak bisa berhenti tersenyum saat mama mengenalkannya pada orang baru yang ikut datang.
Cukup sudah. Taehyung tidak tahan lagi. Ia melompat turun dari kursinya, berdiri di hadapan eomma-nya Kookie yang hanya mengedip-ngedipkan mata kebingungan. Taehyung menunjukkan cengiran lebarnya membuat pola kotak unik tercetak di bibirnya. Sudah menjadi rahasia umum saat di rumah sakit kalau Taehyung itu suka sekali membuat orang-orang kebingungan dengan tingkah dan ocehannya. Dengan gerakan tangan, Taehyung memintanya menunduk, dan tanpa ragu langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher eomma Kookie.
"Jungkookie eomma."
Wajah Taehyung tersembunyi disana. Senyum lebarnya masih belum hilang yang dapat dengan mudah dirasakan oleh sosok yang ia peluk. Taehyung tidak bisa menolak rasa rindu pada eomma-nya yang mendadak datang, walaupun ia tak pernah berhasil mengingat bagaimana wajah eomma dulu. Memeluk erat eomma Kookie hari ini Taehyung harap dapat membantu menyalurkan kerinduannya pada eomma di atas sana. Dan dalam hati harapannya bertambah menjadi doa, agar Kookie tidak akan pernah kehilangan eomma-nya seperti Taehyung dulu, kalau perlu Taehyung bersedia menolong Kookie buat menjaga sang eomma. Lalu taehyung juga akan meminta bantuan Kookie buat jagain mama Taehyung yang sekarang.
Awalnya Yoongi selalu menolak dan menolak keinginan naluriahnya terhadap panggilan-panggilan yang menurutnya menimbulkan kesan feminim. Tapi ia tidak bisa mencegah rasa hangat yang nyaman menjalari setiap inci tubuhnya saat telinganya mendengar sendiri bagaimana Taehyung memanggil Seokjin, walaupun faktanya tak ada hubungan darah langsung di antara keduanya. Yoongi jadi membayangkan akan sehangat apa tubuhnya kalau panggilan itu keluar dari mulut darah dagingnya sendiri. Ia balas memeluk Taehyung sama eratnya dengan yang sang bocah lakukan. Sekarang Yoongi dibuat sadar bahwa panggilan 'ibu' tidak pernah mengarah pada jenis kelamin tertentu, melainkan pada seseorang yang dianugrahi kemampuan memberikan separuh bahkan seluruh nafasnya untuk anak-anak yang mereka lahirkan.
.
.
.
.
Mendengar suara-suara dari sofa di belakangnya, Namjoon melirik jam pada layar komputernya, pukul tiga sore lewat dua belas menit adalah saat Jungkook akhirnya bangun dari tidur siangnya di studio milik Namjoon. Ia datang siang tadi bersama Jimin yang menjemputnya dari sekolah karena Namjoon punya meeting mendadak. Jimin sendiri tidak langsung pergi setelahnya, menemani Jungkook bermain dalam studio sampai sang bocah kelinci terkantuk-kantuk. Dan saat Namjoon tiba, keduanya tertidur sambil berpelukan di atas sofa lebar disana. Memancing senyum Namjoon dengan pemandangan yang sebenarnya bukan hal baru. Setelah itu ia lanjut mengerjakan satu lagu yang sedikit lagi rampung.
"Kookie sudah bangun hmm?"
Namjoon suka rela meninggalkan meja kerjanya, berjalan mendekati sang bocah yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Jimin bangun lebih dulu satu jam yang lalu dan sekarang sedang pergi ke toilet sekaligus membeli camilan untuknya dan Jungkook saat bangun nanti. Dia bilang tak ada jadwal latihan penting sore ini, baru nanti malam ia akan memulai latihan rutinnya bersama anak-anak didiknya.
"Daddy, gendong."
"Aigoo~"
Perintah absolut itu dengan senang hati Namjoon jalankan. Mengangkat tubuh kecil Jungkook dari sofa ke dalam dekapannya, membuat selimut biru dan Bun-Bun sebagai teman tidur sang anak terabaikan di lantai. "Mana Jiminie?"
"Membeli makanan untuk Kookie yang lapar."
Jungkook terkekeh kecil, menyembunyikan wajah di bahu daddy-nya saat merasakan perutnya bergejolak dan menimbulkan suara.
"Terus appa?"
Jungkook terlalu mengantuk untuk bisa langsung sadar kalau minggu ini adalah gilirannya bersama sang daddy yang juga berarti ia dan Yoongi tidak akan sesering minggu lalu bertemu. Lagipula otak Namjoon juga belum serusak itu menjawab Jungkook dengan kenyataan menyebalkan dalam keluarga mereka.
"Appa bertemu Dokter Kim dan belum pulang. Kita bisa menelepon appa kalau Kookie mau."
Keantusiasan Jungkook meningkat drastis mendengar satu nama tambahan dalam percakapan mereka. Bahkan rela meninggalkan posisi bersandarnya di bahu Namjoon agar bisa memamerkan matanya yang bulat dan berkilauan pada sang daddy. "Bertemu Taetae hyung juga?!"
Namjoon menghela nafas, menekan kecemburan bodohnya pada Taehyung yang jelas-jelas sangat sukses mencuri perhatian anaknya. Konyol sekali. Namjoon belum mau membayangkan bagaimana rasanya nanti saat Jungkook dewasa dan mengenalkannya pada sosok yang berhasil memiliki hatinya seutuhnya. Semoga saja waktu bisa berjalan sedikit lebih lambat agar Namjoon juga bisa menikmati kepolosan bocah kelincinya lebih lama lagi.
"Mungkin iya."
"Pasti! Dokter Kim dan Taetae hyung kan selalu bersama."
Obrolan sederhana ayah dan anak tersebut harus terhenti paksa oleh kehadiran dua orang tambahan yang memasuki studio dengan tergesa-gesa. Yoongi melangkah cepat ke arah mereka, selanjutnya, dalam satu kedipan mata tubuhnya sudah berhambur memeluk Namjoon yang dipaksa sedikit menunduk dan Kookie yang masih di gendongannya. Namjoon hanya dibuat kebingungan setengah mati oleh situasi super mendadak yang Yoongi buat. Tak lama, pandangannya menatap Jimin yang selesai menutup pintu, langsung berjalan tanpa beban menuju sofa untuk menaruh bungkusan plastik belanjaannya. Membalas tatapan meminta penjelasan dari Namjoon dengan sebatas mengedikan bahu, sepenuhnya menyerahkan pada Yoongi untuk menjelaskan langsung.
"Yah, hyung, jangan memelukku seperti ini di depan tunanganmu."
"Appa, Kookie terjepiiiiittttt."
Dua orang yang merengek, Yoongi abaikan. Ia terus memeluk erat leher Namjoon (nyaris mencekiknya) tanpa berniat merespon keduanya dengan apapun lagi. Namjoon pasrah. Jimin, di sofa sana yang malah asik makan es krim, pasrah. Bahkan Jungkook yang paling anti mengalah pun pasrah. Memberi waktu sebanyak yang Yoongi butuhkan untuk menenangkan diri dan memulai penjelasannya.
Sampai tiba akhirnya, Yoongi menyerah pada kemisteriusan arti pelukannya. Ia melepaskan Namjoon yang mengeluh sakit pada pinggangnya karena membungkuk lumayan lama. Yoongi mengelap asal wajahnya yang dibasahi air mata, meloloskan satu isakan terakhir, sebelum nenarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Namjoon kira Yoongi akan mulai bicara, tapi malah menarik paksa Jungkook dari gendongan Namjoon dan memberikannya pada Jimin yang duduk nyaman di sofa bersama eskrimnya. Memerintahkan tunangannya itu menutup telinga bocah kelinci mereka selama ia bicara nanti.
Namjoon dibuat merinding luar biasa oleh aura yang Yoongi keluarkan, tak lama disusul sebuah ancaman paling bengis yang pernah di dengar siapapun.
"Dengar Kim Namjoon, aku hanya mengatakan ini satu kali, jadi tolong dengarkan baik-baik. Jika setelah bersama Seokjin nanti kau kembali menjadi Namjoon yang dulu kukenal, menyakitinya seperti kau menyakitiku, maka aku bersumpah demi Tuhan dan segala dewa-dewa yang manusia percayai, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, mengulitimu sampai hanya tersisa daging segar, lalu aku akan melemparmu setengah hidup ke dalam kandang dua puluh buaya kelaparan. Ingat itu."
.
.
.
.
.
Continued
.
.
.
.
.
Side story 1: daddy's look like ...
A Giraffe
Hari minggu di musim panas, Namjoon sudah pergi pagi-pagi sekali ke studio, katanya Jackson yang semalam mabuk tidak sengaja menghapus file penting di komputernya, alhasil pagi ini dihiasi umpatan demi umpatan Namjoon yang terburu-buru berangkat setelah Yoongi selesai memasak nasi goreng kimchi sebagai bekalnya. Menyisakan Yoongi dan Jungkook untuk menikmati hembusan dingin AC yang sudah pasti tidak akan mereka dapatkan jika memilih bermain di taman seperti hari-hari biasanya.
"Appa!"
Sang bocah kelinci menghampirinya dengan langkah-langkah kecil yang semakin stabil di usianya yang ketiga. Yoongi sedang dalam perjalanan menuju tempat mencuci di belakang rumah, menghentikan langkahnya, sedikit kesulitan melihat Jungkook di bawah sana karena keranjang pakaian kotor yang sedang berada dalam pelukannya. Maka Yoongi meletakkan sejenak keranjangnya untuk berjongkok menyejajarkan tingginya dengan sang bocah super imut efek baju kodok warna hijau dan kaos putih yang Yoongi pakaikan sehabis mandi tadi.
"Ya, Kook?" Yoongi tidak bisa menahan tangannya agar tidak terangkat dan mencubit kecil pipi anaknya yang semakin bulat.
" 'iat!" (Lihat!)
Dengan cengiran lebar ia menunjukkan salah satu halaman dari buku mewarnai yang Yoongi berikan untuk membuatnya sibuk di ruang tengah sementara Yoongi pergi mencuci. Seekor jerapah yang sedang memakan dedaunan di pohon menjadi gambar disana. Jungkook mewarnai jerapahnya dengan crayon merah tua super tebal sampai corak bulat-bulat di badan sang jerapah nyaris tak terlihat lagi, lalu batang pohon ia warnai kuning dan satu-satunya pemilihan warna yang benar ada pada daun-daun yang diwarnai hijau.
"Dia milip daddy kan?! Tinggiiiiiii cekaliiiiiii."
Ocehan cadel Jungkook membawa tawa Yoongi yang langsung memeluk tubuhnya erat saking gemasnya. Sejak hari itu sampai sekitar beberapa bulan ke depan, Yoongi selalu memanggil Namjoon dengan sebutan 'tuan jerapah'. Dan Namjoon sama sekali tidak tahu darimana Yoongi mendadak dapat ide memberi nama panggilan seperti itu.
.
A coconut tree
Liburan musim panas kali ini appa mengajak Jungkook berlibur ke pantai di pulau Jeju yang sangat jauh dari rumah sampai-sampai harus terbang naik pesawat.
Sepanjang perlajanan Jungkook hanya tertidur karena ia merasa bosan dan saat appa membangunkannya, mereka sudah tiba di pantai, dimana di hadapan mobil mereka membentang pasir sangat luas yang Jungkook tidak tahu dimana ujungnya, bersebelahan dengan air yang terlihat seperti mengamuk tapi appa bilang itu namanya ombak. Angin lembut berkali-kali menyapa wajah Jungkook yang masih mengantuk dan semakin kesulitan membuka lebar matanya. Tapi saat ia berhasil membuka mata lebar-lebar, detik itu juga Jungkook memutuskan kalau ia menyukai pantai seperti ia menyukai kecupan selamat malam appa, atau pelukan erat daddy, atau teropong bintangnya Jiminie, atau senyuman paman Hoseok.
"Ah, kenapa panas sekali!"
Semangat Jungkook yang sudah begitu menggebu untuk bisa segera menceburkan diri ke dalam air seketika sirna saat appa yang menggendongnya justru bergerak semakin menjauhi air di depan sana. Jungkook sudah siap ngambek dan memasang ekspresi cemberut andalannya, tapi appa kembali berkata, "Appa kepanasan, Kookie-ah. Kita meneduh sebentar disini ya? Nyaman kan?"
Jungkook tahu dirinya tidak punya pilihan lagi saat appa sudah menggunakan nada menyebalkannya, itu artinya ia harus menurut dan menunggu sampai lelahnya appa berkurang. Mereka bersandar pada sebuah pohon yang batangnya aneh karena tidak seperti pohon yang berada di halaman depan rumah Jungkook. Dan saat mencari dimana daun-daunnya, Jungkook menemukan mereka jauh di atas sana.
"Appa, kenapa pohonnya tinggi sekali sih?" Katanya heran, pandangannya beralih sejenak pada Appa yang mulai terkekeh. Jungkook ikut senang. Ia tahu kalau appa sudah bisa tertawa artinya rasa lelahnya mulai berkurang dan itu juga berarti ia semakin dekat dengan air di depan sana.
"Ini pohon kelapa, sayang, dia tinggi karena tugasnya melindungi pantai agar tidak terlalu panas."
Bibir Jungkook membulat sempurna seiring dengan bunyi 'oh' panjang yang ia suarakan. "Seperti daddy ya? Daddy tinggi dan tugasnya melindungi kita kan?"
Tapi memikirkan daddy secara otomatis bibirnya berubah menjadi lengkungan lebar, gigi-giginya yang mirip kelinci muncul, lalu appa menghujani wajahnya dengan senyuman serta pelukan pada tubuhnya semakin erat. Di mulai dari senin kemarin sampai sekarang hari juma'at memang jadi minggunya Jungkook bersama appa, tapi rasanya ia sudah sangat merindukan daddy. Lalu ia berpikir kalau seandainya daddy juga ikut berlibur bersama mereka, mungkin Jungkook akan dua kali lipat lebih menyukai pantai.
.
Felonius Gru from Despicable Me
Ketika tiba gilirannya menjaga Jungkook, malam sabtu telah Namjoon patenkan sebagai malamnya menonton film bersama. Ia akan membiarkan sang bocah kelinci memilih film yang akan mereka tonton, walaupun terkadang mereka harus menonton film yang sama dengan minggu sebelumnya hanya karena Jungkook ingin melihat lagi tokoh favoritnya. Seperti yang terjadi pada malam ini. Namjoon hanya bisa menghela nafas pasrah saat lagi-lagi Jungkook memilih Despicable Me untuk yang ketiga kalinya.
Setelah selesai memasang dvd pada player, Namjoon kembali ke sofa dimana Jungkook menyambutnya dengan cengiran lebar. Tubuh kecilnya yang memeluk erat Bun-Bun nyaris tenggelam dalam tumpukan bantal, guling, serta selimut yang mereka bawa dari kamar tidur. Membuat siapapun ingin ikut bergabung disana dan saling berpelukan erat. Namjoon melompat, duduk di sampingnya dan memindahkan tubuh sang bocah ke pangkuannya, menghirup dalam-dalam wangi shampoo yang ia pakai saat mandi sore tadi.
Film dimulai. Tawa sesekali terdengar sebagai respon adegan konyol para Minion, bahkan Namjoon masih menemukan dirinya tertawa walaupun sudah kesekian kalinya menonton. Sementara Jungkook tidak pernah menahan ocehannya saat adegan-adegan favoritnya muncul.
"Apa daddy juga berharap Kookie tidak akan pernah jadi besar?" Pertanyaan spontan dari Jungkook, setelah adegan dimana Gru memberikan kecupan selamat malam pada Agnes dan berbisik di akhir tentang harapannya pada Agnes agar tidak tumbuh dewasa.
Ia mendongak, bertemu pandang dengan Namjoon yang berhasil dibuat terkejut. "Mmm.. ya, kalau Kookie jadi dewasa tidak bisa dad peluk seperti ini."
Si kecil mendengus, kembali fokus pada layar tv dimana sekarang sedang menayangkan adegan Gru yang mencoba percobaan produk jelly terbaru Dr. Nefario.
"Berarti benar. Dad mirip Gru, tinggi dan tidak mau Kookie jadi besar."
Namjoon hanya bisa tertawa, memeluk Jungkook semakin erat hingga tubuh kecilnya ikut berguncang-guncang karena tawa. Well, Namjoon tak pernah sesetuju ini pada pendapat polos anaknya.
.
.
.
.
.
.
.
Fun fact: Aku ga pernah nonton Despicable Me sebelumnya, jadi harus harus nonton dulu sebelum nulis adegan terakhir.
P.s: I love you and see you next chapter!
