Warning: Humor garing krenyes, OOC, Gaje, abstrak, TYPO! Genre berbeda tiap chapter, mungkin.

Genre: Humor/Romance.

Rate: T

Disclamer: Warriors Orochi punya koei

Balesan Review :

RosyMiranto18 : oke,terima kasih tentang penjelasannya #ngangguk-ngangguk terus lier.

Yinping: LEMARI YINPING HANCUR GARA-GARA HANBEI! HUWEEEE!

Suo: jangan nangis lagi, nanti kaka benerin.

Hoho… sebenernya itu kejadian gaje, seperti judul chap kali ini yang entah kenapa makin ga nyambung.

Hmm… tapi Author bingung bikin opening chapternya, agak lupa soalnya sama acara tv satu itu, insiden ya~ hmm… Author makin kesini makin bingung sama ceritanya.

Hiksu… dari pertama main emang ga bisa story modenya :(

Oke disini Takakage jadi guest star ngaco di chap kali ini.

Mirip… lumayan…

Mungkin nanti saja kalau emang saya butuh mereka untuk menjadi guest star :)

Liu Shan The Explorer

Selamat Membaca

Hari ini mungkin hari yang sangat ajaib karena di hari ini ada kejadian kelewat sarap karena cerita ini juga kelewat sarap.

Liu Shan POV

Hari ini kusendiri menatap langit yang cerah hiksu eh ko malah galau sih, hari ini kan aku mau nembak Xingcai-senpai, aku pun bangun dari bench yang biasa aku pakai untuk bertarung.

Entah kenapa tumben aku dijadiin alim dan polos, pake aku-kamu sama Author, tapi gegara Author juga aku dibanting kek barang anti pecah sama ayahku hiks (cucian).

Nah karena Author kurang bisa pake sudut pandang orang pertama maafin kalau ada yang salah.

Kira-kira ka Xingcai di mana ya?

Ayo kita cari.

"Liu Shan!"

"Ada apa Ka Shi?"

"Ikut senpai dulu yu."

"Kemana?"

"Itu ke taman belakang sekolah."

"Tapi senpai, Liu Shan mau nyari Ka Xingcai."

"Ah udah judulnya juga bukan katakan jadian tapi Liu Shan The Explorer."

"Tapi senp-"

"Udah diem, toh sekalian cari Xingcai, daripada dikasih PR kimia sama Om Yi."

Akhirnya aku pasrah ngikut Ka Shi yang narsis + sarap daripada nanti aku dapet banyak PR dari Om Yi apalagi aku bukan anak IPA, nanti lama-lama aku harus les sama Om Liang (lahat) dong.

"Itu liat ada pohon mangga!" Ka Shi nunjuk pohon mangga yang biasa di buat nongkrong sama guru.

"Emang ada apa dengan pohon mangga itu?" tanyaku penasaran.

"Itu buahnya udah pada mateng!" kata Ka Shi girang.

"Ya terus, kenapa ga senpai petik aja?"

"Kalo gitu," Ka Shi langsung ngeliatin aku dengan muka susah dijelaskan (silahkan imaji sendiri). "kamu yang petik, panjat tuh pohon."

"Shan ga bisa manjat pohon."

"Yaudah pokoknya tuh mangga harus bisa dipetik apapun caranya."

"Kalo mau senpai aja yang ambil."

"Kalo kamu ga mau petik tuh mangga, senpai sumpahin kamu ditolak Xingcai!"

"Jangan nyumpahin gitu dong senpai, i-iya deh Shan yang petik."

"Hmhmhm... enak juga ngebabuin kouhai."

Tiba-tiba saat aku mau menendang pohon itu, ajaib! pohon itu misuh-misuh gaje setelah diselikidi ternyata itu Fengzhang yang sedang dihukum sama pamannya yang kelewat absurd, aku kaget setengah mati tapi saat melihat senpai dia cuman senyam-senyum, aku cuman diem terus mengambil sebuah dahan pohon yang jatuh dan saat itu juga aku gebukin Ka Shi pake itu.

Aku sebenernya alim dan hormat sama yang lebih TUA, tapi karena ada naskah dari Author, jadilah aku ngegebukin Ka Shi, parahnya lagi pas lagi enak gebukin Ka Shi, Ka Xingcai senpai lewat.

"Lord Liu Shan, kenapa anda ngegebukin Shi?"

Ditanya begitu aku cuman cengar cengir doang. "Ini disuruh sama naskah, hehe."

"Ada ada aja, yaudah aku mau ngoplos alkohol dulu."

"Tunggu senpai!"

"Ada apa?"

"Ano.. itu.. anu.."

Tak!

Tak!

Tak!

"AAARRGHH!" Ka Shi ngamuk. "kalo mau ngomong aja, kaga usah pake acara ngedupak gua pake nih dahan!"

"Maaf senpai! ga sengaja! Eh? Ka Xingcai tunggu..."

"Tuh kamu sih pake acara gugup ngaburkan tuh si Xingcai haha!"

Tak!

Tak!

Tak!

"Rasain ini!" karena kesal aku gebukin Ka Shi, kesel aku di panas-panasin sama ni senpai satu.

Tak!

Tak!

"Adaw! adaw!" Ka Shi ngelus kepalanya. "stop Shan, maafkan senpaimu yang ganteng ini, berhenti mukulin gue pake dahan pohon."

Tak

Ka Shi ngedeathglare aku.

"Upss, maaf senpai." Aku nyengir.

Ka Shi ngedengus. "Ayo lanjut, kita ke gedung sekolah lama di sebrang."

"Ngapain?"

"Nyari anak ilang."

"Anak siapa yang ilang?"

"Banyak tanya! ayo ah lanjut." Ka Shi nyeret aku tepat kerah baju seragamku.

Sesampainya di dalem gedung sekolah lama, mungkin readers bingung ya kenapa ada sekolah sebrangan sama sekolah lagi, ehem Shan kasih tau readers jadi gedung sekolah yang dimaksud Ka Shi ntu, sekolah yang bangkrut karena ulah satpam sekolah, iya satpam sekolah yang bernama Orochi.

"BO!"

"GYA!" Ka Shi loncat ke belakang.

"Senpai kenapa?" tanyaku ke Ka Shi sambil melihat Ka Shi gemeteran.

"Hmhmhmhm... suka bikin kouhai jadi budak, cuman di kagetin doing gemeteran."

Ka Shi pasang muka masam. "Huasi! berani banget ngagetin gue!"

"Ya abis gue penasaran gitu sama kalian berdua yang diem di depan nih sekolah."

"Ya tadi sempet di mintain tolong sama Mori buat nyari anaknya yang ngilang di sekolah ini."

Oh jadi itu kenapa aku diseret ke sekolah ini dan judul chapter ini kaya judul kartun yang suka Author tonton waktu kecil, aku menggangguk terus senyum ke Shi.

"Senpai ayo cari anaknya Mori-san."

"Kamu nyarinya sama Huasi aja sana!" Ka Shi mendorong Huasi ke arahku berdiri.

"Eh? kenapa gue yang nyari? pan elu yang dimintain tolong!" Ka Huasi sewot. "jangan bilang kamu takut ya~ hm?" Ka Huasi smirk.

"Gua kaga takut ko!"

"Masa? hmhmhm..."

"IYA!" Ka Shi masih merinding.

Aku tersenyum, ternyata muka ganteng itu ga menjamin ya hihihihi. Tapi aku ga ngerti maksudnya 'ga menjamin' itu apa? aku hanya mengucapkan itu karena naskah, jangan tabok aku~

"Heh! Shan ngapain lu senyam senyum."

"Ga itu hanya tuntuntan naskah hehehehe." aku tertawa garing, kan malu kalo bilang apa yang tadi di paragraf atas, bisa ditabok bulak balik aku.

"Bohong!"

"Udah! jangan teriak ga baek buat tenggorokan, biar adil kita bertiga masuk ke ntu sekolah."

Tiba-tiba ada suara anak kecil nangis, otomatis Ka Shi loncat ke Ka Huasi jadi kaya skubi yang digendong sama syegi di kartun skubi du.

"GYAA!"

"Memalukan! bisa gitu ya, gua punya sepupu penakut kaya lo."

Ka Shi nyengir.

Brak!

"Auw! biasa aja kali nuruninya." Ka Shi sewot.

"Salah sendiri, loncat ke aku," Ka Huasi buang muka. "ayo Shan kita masuk."

"WOII JANGAN NINGGALIN!" Shi lari ke arahku.

"AKUUU!"

"Lho? Zhunei kenapa kesini?!"

"Itu kata naskah aku harus ngikut kalian."

"KAGAK PAKE BOLEH ALIAS KAGA BOLEH!"

Karena dibentak sama kakaknya sendiri dengan aura menyeramkan, Zhunei langsung lari lagi balik ke sekolah, katanya sih mau nemenin Fengzhang yang lagi dihukum.

Setelah masuk ke gedung sekolah, rasanya tuh kaya gimana ya di dalem sekolah ini, kaya ada uler berkeliaran, iya kaya Pa Orochi jalan-jalan di dalem sekolah ini.

Blam!

"GYAAAA!" Ka Shi loncat ke belakang 2 kali. astagfirulloh gua di chap ini OOC sangat! selesai chap ini gua kubur tuh OC Author, sebel gua!

Pffftt... rasanya ingin ngakak ngeliat sepupu gua OOC kaya gitu, Ka Huasi nahan tawa.

Aku melihat kebelakang lalu aku kembali menghadap ke depan dan angkat bahu. Aku ga ngerti sama apa yang mereka berdua pikirkan tetapi aku tau pasti mereka mikirin tentang OOC, yang dipikiranku sekarang tidak seperti dua orang di belakangku, iya aku mikirin Ka Xingcai dan anaknya Ka Mori yang hilang di sekolah ini.

Lupakan sama paragraf di atas, sekarang waktunya untuk nyari anak hilang.

"Ka Shi, nama anaknya Ka Mori siapa?"

"Kalau ga salah namanya Takakage."

"Oke, TAKAKAGE!"

TAK!

"Adaw."

"Nyari anak ilang tuh bukan begitu." Ka Shi ngayunin dahan pohon yang ditemuin sama aku tadi.

"Mwahahaha!"

"GYA!" Shi loncat lagi kebelakang.

"Ayo kita ke lantai dua, biarkan sepupu gue yang OOC."

Pada akhirnya tanganku ditarik oleh Ka Huasi menuju lantai dua meninggalkan Ka Shi yang berjalan dengan arah berbeda, bentar sebenernya yang bego tuh naskahnya atau Ka Shi yang ketakutan bikin Ka Shi jalan ke arah yang salah? Hanya Tuhan dan Author yang tahu.

"Tapi itu Ka Huasi, Ka Shi ga ngikutin kita..."

"Biarin, tunggu aja sampe dia teriak dengan 'merdu' dan kocar kacir berakhir dengan dia menemui kita."

"GYAAAAAA!"

Tiba-tiba Ka Shi teriak dari lantai bawah, kayaknya emang bener deh kata Ka Huasi, Ka Shi teriak Ka Shi naik ke lantai dua dengan tidak woles ngancurin lantai kayu sekolah yang emang udah reyot.

"MINGGIRRR ADA ANJING BERKEPALA MANUSIAAAA!"

WUSHHH~

"Emm... Ka Huasi, Ka Shi ngelewatin kita..."

"Biarin nanti dia balik lagi ko."

Brak!

Jduak!

"ARRGGHHHH! ADA KUNTILANAAAKK!"

"EEHH! SIAPA YANG KAMU BILANG KUNTILANAK?!"

"AMPUUUNN TANTE MAAFKAN SHI YANG GANTENG INI PLISS LEPASIN SHI TANTEEE~"

"EMANG KAMU ANAK KURANG DIAJAR! BERANI BANGET BILANG BABEH SENDIRI KUNTILANAK!"

"EH?!"

Karena kami penasaran apa yang terjadi, kami putuskan untuk berjalan menelusuri lorong dan tak disangka, mataku ditutup oleh Ka Huasi jadi ya ga ngeliat apa-apa, hanya mendengar percakapan aneh, seperti "Babeh ngapain disini?!", "Ada anak orang heh! kekerasan terhadap anak ga boleh dipraktekkin!" dan seterusnya sampai mereka diem tutup mulut karena ada suara nangis anak kecil dari ruangan musik.

"Emm... tadi itu bukan imajinasikan? ada suara anak kecil nangis.."

"Alah suara nangis doang, c-cupu lu Shi!"

Kelihatannya Ka Shi kakinya gemeteran, aku hanya bisa tertawa kecil melihat pertengkaran keluarga Sima.

"H-HALAH JANGAN SOK BELAGU LU HUASI LU JUGA KAKI GEMETERAN GITU!"

"G-GUA KAGA GEMETERAN!"

"A-ALAH KAGA NGAKU LU!"

"SETOPH! BERTENGKARNYA DASAR KALIAN BERDUA SAMA AJA! ITU BISA AJA ANAKNYA SI MORI!"

"Yaudah ayo kita ke ruang musik."

"Emm... Shi adik kelas lu urat takutnya udah putus ya?" bisik Ka Huasi ke Ka Shi.

"Mungkin, tanya Bapanya gih."

"Kalian ko diem aja sih?" aku memiringkan kepala (sok imut lo Shan!).

"Cepet Shi maju!"

"W-WOI SELOW AJA!"

"HUWEEEEE!"

Entah kenapa tangisan anak kecil itu semakin keras kaya yang nyolot atau.. karena keluarga Sima ini ganggu acara nangisnya? tau deh ah ga ngurus yang penting anak Mori-san baek-baek dan ketemu ka Xingcai sudah cukup bagiku.

Setelah sampai di depan ruang musik ketiga anggota keluarga Sima ini rusuh dan mengkacang aku yang di belakang mereka, aku hiksu di kacang oleh manusia seperti mereka, lebay ya? tuntutan naskah.

"Cepet masuk!"

"Kamu duluan!"

"Kamu Shi!"

"Kamu! kamu kan yang paling tua!"

Om Yi menengahi. "Udah! jangan saling dorong mending.. Liu Shan aja yang masuk."

Loh?! ko jadi aku sih yang masuk... dasar keluarga ga tau diri! ehm... dan dengan berat hati aku pun membuka pintu sementara keluarga Sima yang dibelakang aku cuman diem ga ikut masuk, walau aku ga percaya hantu tapi aku pernah liat Hanako di toilet laki-laki(?), jadi ya agak serem gitu, baru satu langkah, suara anak kecil terdengar lagi tapi kali ini berteriak seperti memanggil ayahnya.

"Wadaw! selow jangan berebut masuk!"

"Maaf, Shan kamu putih sih... jadi ga keliatan." Ka Shi nyengir.

Nyebelin! baru selangkah masuk eh malah ditabrak sama truk(Om Yi), mobil(Huasi), dan motor tanpa rem(Shi) sampe guling-guling di lantai kayu yang reyot dan berdebu.

"Woi! malah gugulingan lagi, nih bener ternyata si Takakage yang nangis."

"Ya terus? klo itu Takakage gue harus apa?"

Krik

Krik

"Maaf salah naskah!"

"Udah-udah cup-cup jangan nangis, ayo ikut kaka."

"Engga mau, muka kaka kaya antagonis di sinet-sinet.. hiks hiks..."

Shi pundung.

Karena aku dikacang sama mereka, aku hanya menonton saja.

BRAK!

"TAKAKAGE?!"

"AYAH?!"

"TAKAKAGE~"

"AYAH~"

"HUWEEKK!"

nyanyian merdu dari Om dan ponakan terdengar sangat~ 'merdu' karena melihat kejadian saling peluk antara ayah dan anak yang lebaynya selangit.

Daripada sakit mata, aku pergi aja dari sini.

Syuut~

Aku pun pergi dari gedung sekolah lama eh lagi enak-enaknya jalan di bawah pohon yang rindang tapi hawanya seram, aku melihat Ka Xingcai sedang jalan kearahku.

"Lord Liu Shan? kenapa anda disini?"

"Itu.. abis bantu Ka Shi nyari anaknya Ka Mori."

Krik.. krik

"Ano.. Aku suka sama Ka Xingcai!"

Krik.. krik..

Sret

Ga ada angin ga ada hujan, aku di gantung di pohon nangka sama Ka Xingcai.

"He? ko aku di gantung sih? Ka Xingcai!"

"Maaf Lord Liu Shan saya tak mendengar apa yang anda katakan," Ka Xingcai melepaskan earphone dari telinganya. "dan anda menghalangi jalanku."

Tiba-tiba terdengar teriakan nista Ka Shi.

"HAAAA! APAKAN KATA GUE SHAN! ELU DI TOLAK SAMA XINGCAI HAHAHAHA!"

"DIEMMM! KA SHI JAHAT! HUWEEEE!"

Aku pun nangis sampe ada Pa Orochi datang menolong (menurunkan) ku dari pohon.

Ya beginilah nasibku gara-gara sebuah naskah Ka Hikari alias Author, ngeri ya, yang tadinya cakep kek Bapa gue, dan keren ini jadi lebay, cengeng dll.

TBC

AKHIRNYAAA SELESAI! Udahlah koneksi lemot, suka bingung di tengah-tengah hrrr… yang penting ni chapter selesai, aarghhh dan sempet ga bisa buka fanfiction gara-gara koneksi kan kesel, huft jadi updatenya sekarang… maaf kalau telat update.

Terima kasih sudah baca cerita ini~

See you next chapter~