THE BOY BESIDE ME
(Chapter 21)
KYUMIN FANFICTION
Rated : M (because adult content)
Main Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin (KyuMin)
Author : Cat13 (LeeJunRa1001/past)
Genre : Romance / Drama
Warn! : YAOI Fanfiction. OOC. AU. Typo(s). Bad EYD
.
.
.
.
.
enJOY reading!
"Jadi.. apa Ibu menyetujuinya?"
Sungmin meremas cangkirnya kalut, menatap seorang wanita paruh baya yang duduk disebrangnya.
"Minnie.." Nyonya Lee tersenyum maklum, kemudian menarik pergelangan tangan putranya dan meremasnya lembut, memberi kekuatan yang membuat Sungmin terlepas dari ketakutan. "Jika itu keputusanmu, dan kau bahagia. Eomma pasti menyetujuinya."
Hazelnya berbinar perlahan, menatap Nyonya Lee tak percaya. "Be-benarkah?"
"Benar, Sungmin-ah." Nyonya Lee bahkan ingin memeluk Sungmin, namun tidak bisa karena meja yang menghalangi. "Eomma juga sadar, kau ini sudah besar dan memiliki jalan sendiri. Pernikahanmu dengan Sawako juga tidak berjalan lancar, itu semua karena kami yang memaksamu sehingga kau tidak bisa bahagia."
Hati Sungmin terenyuh, ia pikir Ibunya tidak menerima pernyataannya ini.
Jika kalian tahu, sebelumnya Sungmin sudah tiba di Jepang dan langsung menemui Nyonya Lee untuk mengutarakan bahwa dirinya coming out dan sudah memiliki kekasih yang seorang pria.
"Seharusnya orangtua membuat anaknya bahagia, tetapi cara kami salah untuk menjodohkanmu dengan wanita lain." senyum Nyonya Lee terkulum lembut.
"Ibu.. terimakasih." tak kuasa airmata Sungmin turun begitu saja, ia begitu terharu dan sangat bahagia. "Terimakasih.. terimakasih banyak.."
Nyonya Lee bahkan sudah berlinang, namun ia harus tegar di depan putranya. "Untuk kebahagianmu, Sungminnie.."
"Oh ya, kalau Ibu boleh tahu. Siapa kekasihmu hm?"
Sungmin mengusap airmatanya pelan, lalu tersenyum menatap sang Ibu. "Dia Cho Kyuhyun, apa Ibu tahu?"
Hazel Nyonya Lee mengerjab pelan, "Ah, jinjja? Dia ketua tim di kantormu, bukan?"
"Ya." Sungmin mengangguk setuju.
"Boleh eomma mengetahui rupanya?"
Sungmin mengambil ponsel dan menjulurkannya kepada Nyonya Lee, memperlihatkan foto Kyuhyun dengan dirinya saat berlibur, pemandangan pulau Jeju memberi kesan hangat dan mesra kepada pasangan yang terlihat sangat bahagia itu.
"Ya ampun.. dia tampan sekali, Sungmin-ah." Nyonya Lee tersenyum gemas menatap putra sulungnya yang tersipu malu, "Pantas saja dia bisa mencuri hati Sungminnie yang manis ini."
"I-Ibu.." godaan Nyonya Lee membuat wajah Sungmin semakin memerah.
Nyonya Lee mengembalikan ponsel milik Sungmin, "Ibu jadi tidak sabar ingin bertemu langsung dengannya. Selain tampan dia pasti seorang lelaki yang sangat menyayangimu, bagaimana dengan kabarnya sekarang?"
"Ah.." rona wajah Sungmin langsung meredup, Nyonya Lee tampak khawatir melihat perubahan raut wajahnya. "Dia sedang terbaring koma di rumah sakit.."
"Kenapa bisa?" kini Nyonya Lee tampak terkejut.
"Dia juga ikut terlibat kecelakaan bersamaku.." Sungmin menghela napas berat, "Dia mengalami luka yang parah."
"Astaga, jadi dia yang itu?"
Sungmin hanya dapat bergumam. Nyonya Lee semakin mengeratkan genggamannya pada sang anak, "Kalian mengalami cobaan yang berat. Kalian pasti bisa melewatinya, Ibu yakin."
Beribu-ribu ucapan terimakasih Sungmin ucapkan kepada Ibunya, Nyonya Lee begitu pengertian. Ia sangat menyayangi sosok Ibunya satu ini.
Waktu semakin larut, langit kota Tokyo mulai menggelap. Banyak perbincangan yang mereka lalui, Sungmin harus segera pamit untuk mempersiapkan dirinya besok.
"Minnie-ah, tidak menginap dirumah?"
Sungmin menggeleng pelan, "Tidak, Bu. Aku membutuhkan waktu sendiri untuk menghadapi Ayah besok."
Nyonya Lee tampak terkejut dan cemas, "Sendirian? Tidak apa?"
"Ya. Aku yakin bisa."
Nyonya Lee masih terlihat ketakutan, Ia tahu jelas bagaimana sifat suaminya. "Apa perlu Ibu bantu? Kau tahu kan Ayahmu itu seperti apa?"
"Tenang saja.." Sungmin mengelus pundak sang Ibu, membuatnya tenang. "Aku siap dengan segala risiko yang Ayah berikan, aku harus bisa membuat beliau yakin dan setuju dengan keputusanku. Aku juga harus membalas budi Kyuhyun yang sudah berani menghadapi Ayah sendirian, Bu."
"Jadi Kyuhyun sudah pernah?"
"Ya, bahkan Ayah berani mencelakainya. Aku harus membuatnya berhenti melakukan itu dan menerima hubungan kami. Aku tidak mau Kyuhyun terus menderita karena perlakuan Ayah."
"Ya Tuhan.. Sayang, Ibu tidak tahu bahwa Ayahmu bisa melakukan hal sekeji itu kepada kalian. Kami benar-benar meminta maaf, Sungminnie. Ibu benar-benar tidak tahu tentang itu, jika Ayah sudah mengetahuinya terlebih dahulu."
"Tak apa. Asalkan Ibu sudah setuju, keberanianku bertambah untuk menghadapinya." tatapan Sungmin meyakinkan sang Ibu untuk tidak khawatir, "Doakan saja untuk kelancarannya besok."
"Pasti, pasti Ibu doakan."
.
.
.
.
Tuan Lee menatap langit Tokyo yang tampak mendung, posisinya kini sedang berada di gedung kantor pusat Purezento.
Sejak aksi nekatnya waktu itu, perasaannya semakin tidak menentu. Ia merasa tak enak, ada sesuatu yang mengincarnya selama ini. Seakan menuduh bahwa pelakunya adalah dirinya.
"Sialan sekali orang itu tidak mati dan membawa serta anakku! Sialan kau!" geram Tuan Lee disela raut kecemasannya.
Bunyi dering telepon menyadarkan Tuan Lee dari lamunan, langsung mengangkat benda komunikasi itu tanpa pertimbangan. "Ada apa?" sahutnya tanpa berbasa-basi.
.."Tuan, bagaimana ini? Tuan Muda datang dan bersikeras untuk menemui anda."..
"Sungmin? Datang?" Tuan Lee terkejut, tangannya mengepal erat. "Bilang saja aku tidak ada di kantor!"
.."Ta-tapi, Tuan. Dia sudah pergi menuju ruangan anda, saya sudah berusaha untuk menghalanginya namun tak bisa."..
"APA?!" mata Tuan Lee terbelak dua kali lipat, "Kau ini benar-benar ceroboh! Panggil penjaga untuk menghalangi jalannya menuju ruangan! Sekarang juga!"
.."Ba-baik!"..
Sambungan telepon langsung terputus, Tuan Lee membanting keras gagang telepon hingga menimbulkan suara kencang. Napas pria paruh baya itu tersengal hebat, matanya menatap pintu ruangannya dengan awas.
"Anak itu.. apa dia sudah tahu semuanya?"
BRAK!
Pintu terbanting dan terbuka lebar. Tuan Lee menatap tajam siapa yang datang, ternyata hal yang tidak diharapkannya dapat lolos dan masuk begitu saja. Hazel dihadapannya terlihat menantang dan siap berperang, tatapan yang biasanya menurut itu kini berani.
"Aku tahu Ayah pasti ada disini." ucap Sungmin dan berjalan memasuki ruangan, terus menatap Tuan Lee tepat dimata. "Kenapa Ayah mencoba bersembunyi? Apa Ayah takut?"
"Ayah sedang sibuk, Sungmin-ah. Takut apa maksudmu? Kau ini ada-ada saja." Tuan Lee tertawa hambar, mencoba melunakkan suasana. "Kenapa kau tidak memberitahu Ayah jika berada di Jepang? Kau menerima keputusan Ayah?"
Sungmin masih terlihat awas, lalu mendudukkan dirinya di kursi sebrang Tuan Lee. "Ayah tak usah pura-pura tidak tahu."
"Sungmin, apa maksudmu, Nak?" Tuan Lee mencoba tampak tenang, menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Ayah yang menyebabkan kecelakaan itukan?"
Tuan Lee bersikap tenang, kemudian tertawa keras. "Kecelakaan? Astaga, Nak. Yang kau bicarakan saja Ayah tidak mengerti."
Sungmin menghela napas berat, tubuhnya menegak tatapannya lurus kedepan. "Tolong.. aku benar-benar meminta kejujuranmu. Aku tahu dibalik itu semua, apa Ayah mau jika aku akan mengungkapkan itu semua di depan publik?"
"K-kau?!"
Sungmin tersenyum miring, "Sekarang kita berbicara dengan cara pria, bukan seperti Ayah dan Anak." satu alisnya terangkat.
Kedua tangan Tuan Lee terkepal erat, jantungnya berdegup lebih cepat. "Jadi apa maksud kedatanganmu kesini, Tuan Sungmin? Kenapa kau benar-benar meminta kejujuranku?"
"Karena aku ingin Ayah segera menyelesaikan ini semua." Sungmin menarik kursinya mendekat, "Kupikir Ayah sudah terlalu jauh untuk mencampuri urusanku, apa Ayah tetap tidak mengerti? Kau benar-benar tidak mengerti kebahagianku?"
"Tsk, kebahagian katamu?" Tuan Lee mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja, "Kebahagian dengan berhubungan sesama jenis? Kau yang tidak mengerti bagaimana nantinya perusahaan kita, bisa malu jika publik mengetahui bahwa penerus Purezento-group adalah seorang gay!"
Sungmin sedikit terbelak, rupanya benar apa yang dilakukan Ayahnya itu. "Tunggu.. apa Ayah lupa perkataan yang dulu? Kehidupan pribadi harus dipisahkan dengan karir? Kau sendiri yang bilang seperti itu, tetapi rupanya kau mengaitkan itu dengan masalah ini."
"Ini berbeda!" bentak Tuan Lee, wajahnya semakin menegang. "Kau akan membuat malu kita, Sungmin!"
"Itu semua aku yang tanggung, Ayah tak perlu cemas!" napas Sungmin tersengal, "Aku bisa mengatasi ini sendirian tanpa campur tangan Ayah. Aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri, percuma saja jika aku bisa membanggakan Ayah tetapi diriku tidak bisa dibanggakan oleh diri sendiri!"
"Su-sungmin.."
"Tolong Ayah.. selama menjadi anakmu yang penurut dan terus mengikuti arahanmu kemana saja, untuk saat ini tolong penuhi permintaanku. Hanya permintaan kecil yang tidak memerlukan harta atau tahta dari Ayah."
"Kau benar-benar ingin bersamanya, Sungmin?" mata Tuan Lee menyipit tajam, tubuhnya bergetar.
Sungmin mengangguk mantap, "Aku hanya ingin bersama Kyuhyun, dan hidup bahagia seperti pasangan lainnya. Kami saling mencintai, asal Ayah tahu. Dan aku juga memohon kepada Ayah untuk meminta maaf kepadanya dan berhenti untuk mencelakainya."
PLAK!
Tuan Lee melayangkan tamparannya kearah Sungmin. Mati-matian Sungmin menahan rasa nyeri dipipinya, ia tahu benar risiko seperti ini.
"Kau pikir Ayah akan menyanggupinya? Jadi begini sikapmu sekarang? Berhubungan dengannya sekarang kau menjadi berani melawan?!"
Sungmin jatuh berlutut, tangannya mengepal keras. "Aku hanya menginginkan kebahagiaan. Bahagiaku hanya dengannya, hanya Kyuhyun yang mampu."
Tuan Lee mendekat, memainkan ujung sepatunya di paha Sungmin. "Kalian semua menjijikan! Kau seorang putra yang tidak bisa diandalkan!"
Berkali-kali Tuan Lee menendang paha dan perut Sungmin, dan Sungmin hanya bisa menahan rasa sakit. "Aku tahu ini mengecewakan.. tapi kumohon kali ini Ayah.. aku hanya ingin bersama Kyuhyun!"
"Ayah tidak tahu bagaimana perjuangannya. Kyuhyun mengalami banyak hal berat selama kehilangan diriku, dan Ayah mencoba untuk menumbangkannya tetapi ia masih bisa bertahan!"
"Brengsek!"
BRUGH!
"Ma-maka dari itu aku ingin Ayah menyudahi ini semua. Aku tidak mau Kyuhyun terus menderita, ia seharusnya patut mendapatkanku. Semua perjuangannya harus terbalaskan, tolong Ayah jangan semakin memberatkannya."
"Jangan sebut lagi, Sungmin!"
DUAK!
Kemudian Sungmin jatuh tersungkur, menatap Ayahnya pias. "Lakukan saja semau Ayah kepadaku. Tetapi aku tetap tidak akan menyerah agar Ayah bisa merestui hubungan kami."
"Aku tahu, Ayah pasti dalang dibalik kecelakaan Kyuhyun. Kenapa Ayah melakukan hal sekeji itu? Apa Ayah tidak memiliki rasa kemanusiaan? Dia hanya seorang pria biasa yang mengharapkan balasan cintanya."
"BERHENTI!"
Tendangan terakhir Tuan Lee berikan, pria paruh baya itu menatap nyalang sang putra yang tersungkur dihadapannya, masih segar untuk menantang walau keadannya babak belur.
Sungmin tertawa keras, namun terdengar pilu. "Kalau Ayah masih tidak mengerti, aku akan memberi Ayah pilihan. Pertama, restui hubunganku dengan Kyuhyun dan akhiri semua permainan Ayah. Atau yang kedua, akan kulaporkan Ayah kepada polisi bahwa Ayah yang menyebabkan kecelakaan dan perusahaan mengalami kesulitan karena ulah Ayah sendiri?"
Tuan Lee menggeram keras, berjongkok disamping Sungmin. Mendesis dengan tajam, "Tolong jangan laporkan ini kepada polisi, dan Ayah meminta maaf."
Sungmin tersenyum puas, wajahnya menampilkan raut kebahagiaan.
"Tapi jangan senang dulu, Tuan Sungmin." Tuan Lee menyeringai, membuat rona Sungmin kembali meredup. "Ada syarat yang harus kau penuhi sebelum mendapatkan keinginanmu."
.
.
.
.
Pintu lift terbuka, Sungmin keluar sambil menggeret kopernya. Ia baru saja tiba di Korea dan sampai di apartemennya, selangkah demi langkah ia melewati lorong ini menuju letak pintu kamarnya berada.
Hazel itu menelusuri sudut demi sudut, mencoba merekam tiap memorinya sebelum hal itu datang.
Sampailah di depan pintu, Sungmin menekan tombol kunci dan mengetik sandinya, tak lama pintu terbuka dan iapun masuk. Sudah seminggu mungkin Sungmin meninggalkan tempat ini, dan ia sangat merindukannya.
Sungmin merongoh saku jaketnya, ponselnya bergetar hebat mendapati panggilan masuk dari seseorang.
Shim Changmin
Calling..
"Yeoboseoyo, Changmin-ah?" langsung saja Sungmin merespon. "Ada apa?"
.."Astaga, hyung! Kemana saja kau?".. terdengar suara Changmin yang panik.
"Mian, aku baru saja tiba. Kenapa kau panik sekali?"
.."Kyuhyun, hyung! Kyuhyun!"..
Hazel itu melebar dua kali lipat, jantungnya berdegup kencang. "Ke-kenapa dengannya?"
.."Dia sudah sadar sejak dua hari yang lalu! Kau tahu, hyung? Dia langsung panik begitu mendengar kabarmu pergi dan mencari-carimu kemana saja! Kau sangat sulit dihubungi, dan ia terus mengamuk kesetiap orang!"..
"Be-benarkah?" Sungmin merasa senang namun bersalah sekaligus. "Se-sekarang dia ada dimana?"
.."Dia sudah pulang dan ada di apartemennya, tolong segera menghampirinya. Bisa-bisa dia mengamuk lagi seperti orang gila yang panik mencari-cari sesuatu yang amat penting. Kyuhyun pasti menunggu kedatanganmu."..
"Kalau begitu terimakasih, Changmin-ah. Aku segera kesana." Sungmin langsung memutus sambungan dan berlari keluar, menuju kamar yang ada disebelahnya.
Dengan gugup, Sungmin menekan tombol bel di samping intercom. Menunggu sang penghuni didalam untuk keluar, jantungnya berdegup kencang dua kali lipat dari biasanya.
"Kyuhyun-ah, kau harus segera mendengar kabar baik ini!"
Pintu hitam kecokelatan itu akhirnya terbuka perlahan, menampilkan sosok yang selama ini dinantikannya, awalnya wajah itu terlihat kusut dan muram namun begitu tatapan mereka bertemu, pancaran sarat akan rindu membuncah diantara keduanya.
"Astaga, Sungmin! Kemana saja kau?!"
Dengan cepat ia langsung menerjang Sungmin, memeluknya sangat erat seakan tidak mau kehilangan sosoknya lagi. Tak peduli bahwa dirinya kini bertelanjang dada dan masih dililit perban, ia sangat merindukan lelaki manis yang merangkap menjadi kekasihnya ini.
"Kupikir kau tidak akan kembali, aku benar-benar takut seperti waktu itu, Ming!"
Sungmin mengusap halus punggung tegap yang memeluknya, matanya terpejam perlahan, airmata jatuh mengalir begitu saja dari sudut matanya.
"Tidak, Kyu. Aku pasti kembali. Aku pasti memenuhi janjiku. Aku ingin bahagia bersamamu, selamanya."
.
.
.
.
"Aaahh.. hhh.. Kyuuh.."
Kedua tubuh mahluk adam itu saling menyatu, menyalurkan hasrat gairah dari keduanya. Sungmin berada diposisi atas, memacu milik Kyuhyun yang ada di dalamnya. Keringat membasahi tubuh keduanya, aroma seks menguar di dalam ruang kamar bernuansa gelap ini.
Kyuhyun melihat Sungmin mulai limbung, kedua tangan kekarnya ia letakkan dipinggul pemuda manis itu. Membantu sang terkasih memacu tubuhnya, sekaligus mempercepat akhir dari permainan yang sudah mereka lakukan selama dua kali dari awal.
Penis besar Kyuhyun menumbuk telak titik nikmat milik Sungmin, semakin mengerang menuju kenikmatan tertinggi. "Nggh.. Kyuuhh.. se-sebentar lagihh-AAKHH!"
Jeritan Sungmin diikuti oleh klimaks pemuda kelahiran Januari itu, semen kentalnya keluar dengan deras membasahi perut sang penggagah malam ini. Kyuhyun tersenyum senang, memberi kecupan bertubi-tubi diwajah dan bibir merah Sungmin.
Mengganti posisi dari uke on top menjadi Kyuhyun yang diatasnya, merenggangkan paha Sungmin dan memacu penisnya lagi. Sungmin dibuat mengejang nikmat, kunang-kunang menghiasi pandangannya.
Tinggal beberapa tumbukan lagi Kyuhyun akan menuju klimaksnya, "OH!" sambil menggeram pria tampan itu mengeluarkan miliknya sangat deras di dalam Sungmin, kemudian ambruk sambil memeluk tubuh ringkih yang sudah dikerjainya dua jam yang lalu.
"Saranghae.." ucap Kyuhyun setengah berbisik, napas keduanya terdengar berat akibat aktivitas panas yang mereka lakukan.
"Nado saranghae, Kyuh.." Sungmin tersenyum amat cantik, membuat Kyuhyun tak kuasa untuk menciumnya lagi, lebih dalam dan lebih intim, menyalurkan rasa cinta yang memabukkan.
Obsidian dan hazel itu saling memandang, jari-jari Kyuhyun menyelusup dan memainkan anak rambut Sungmin yang berantakan dan basah keringat. "Kau kemana saja, Ming? Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?"
Sungmin menarik selimut dan menutupi tubuh telanjang keduanya, "Aku baru saja menghadapi Ayahku."
"Apa?!" hampir saja Kyuhyun terbangun dari posisinya, "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pergi bersamaku, Sungmin?!"
Sungmin mendekap wajah pucat tampan kekasihnya, menenangkan pria yang lebih muda tiga tahun darinya itu. "Aku meminta restu kepadanya. Kau masih tidak sadar, Kyu. Lagipula aku sudah bisa mengatasinya sendiri."
"Sayang.." napas Kyuhyun terdengar berat, "Itu pasti membahayakan bagimu. Kau bisa menungguku dulu, lalu menghadapinya bersama. Jangan egois"
"Aku ingin membalas budimu, Kyu."
"Huh? Maksudmu?"
Kedua lengan Sungmin kini merangkul leher sang kekasih, "Kau sudah menghadapi ini sendirian, justru kau lah yang egois dihubungan ini. Bukannya sudah kubilang jika kita melakukannya bersama-sama? Tetapi kau malah berjalan sendiri dan mengambil segala risiko."
Kyuhyun terdiam, hanya mengamati mata Sungmin yang begitu menghipnotis.
"Maka dari itu, aku ingin berjuang seperti yang kau lakukan. Deritamu adalah deritaku juga, mengerti?"
"Ahahaha.." Kyuhyun tertawa pelan seraya mengacak surai kehitaman Sungmin, "Aku mengerti.. aku mengerti.. kau manis sekali, Ming."
Pipi gembul itu mengembung dan menampilkan rona merah muda yang sangat menggemaskan, "Kau ini meremehkanku? Aku menyelesaikan masalah ini dengan cara pria tahu!"
Ciuman kilat mendarat tepat dipermukaan bibir berlengkung m itu, "Tidak.. tidak.. justru aku sangat berterimakasih, kau benar-benar seorang pahlawan dihubungan kita."
"Kau juga seorang pahlawan ah bahkan mungkin seorang ksatria." balas Sungmin.
"Bukannya itu sama saja?"
Suara tawa menghiasi kehangatan malam ini, Kyuhyun dan Sungmin merasa bahagia dan lega. Tak ada hal yang membahayakan hubungan mereka lagi. Sungguh, malam ini mereka tak akan melupakannya, akhir dimana perjuangan mereka mendapatkan buah hasil yang memuaskan. Mereka sangat mensyukuri itu.
"Kyu.."
"Ya?"
Sungmin semakin merapat, Kyuhyun dengan sukarela mendekapnya erat. "Aku tahu.. Ayahku banyak salah denganmu, beliau berani melakukan banyak hal yang menyulitkanmu selama ini. Tapi.. apa kau memaafkannya? Apa kau akan memaafkan segala perlakuan beliau terhadapmu, Kyu?"
"Kalau itu.." Kyuhyun menarik lembut dagu Sungmin, "Aku akan memaafkannya jika kau menciumku sebagai perwakilannya."
Sungmin tertawa gemas, kemudian memberikan ciuman mesra tanpa gigitan di bibir tebal Kyuhyun. "Sudah. Jadi bagaimana?"
"Tanpa kau menciumku, aku sudah memaafkannya kok."
Senyum menggoda Kyuhyun membuat Sungmin tak ayal memukul dada pemuda tampan itu, "Aish! Kau ini hanya mencari kesempatan saja!"
Bugh! Bugh!
"Ouch, Ming! Ini sakit, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Aw!"
Sungmin panik dan menghentikan pukulannya, "Ma-maafkan aku, sakit kah?"
"Ya, sakit sekali.." wajah Kyuhyun terlihat memelas kemudian tangannya menarik tangan Sungmin, "Apalagi disini, Ming. Saakiiiittt sekali." dan mengarahkan tangan tersebut ke kejantanannya yang kembali menegang.
Wajah manis itu memerah hebat seperti tomat, "Ya! Cho Kyuhyun! Kau benar-benar mesum!"
Sehingga terjadi lagi penyatuan itu, terhitung ini yang keempat kalinya di malam ini. Sungmin begitu pasrah ketika Kyuhyun kembali mencumbu tubuhnya, memberi tanda-tanda kepemilikan disekitar.
"Nghh! Tu-tungguh dulu Kyuuh!"
Cumbuan Kyuhyun terhenti diperut Sungmin, menatap sang kekasih yang menghentikannya. "Kenapa lagi hm?"
"Aku lupa menyampaikan hal penting kepadamu."
Alis tebal Kyuhyun menyatu bingung, "Penting? Apa itu? Apa perencanaan pernikahan kita?"
"Hampir berhubungan sih.." jawab Sungmin sedikit mendesis. "Tapi dengarkan aku dulu."
Kyuhyun kembali mensejajarkan dirinya dengan Sungmin, walau tangannya bergeriliya nakal ditubuh sintal milik si pemuda manis. "Ya.. ya.. langsung bicarakan saja, aku benar-benar tidak sabar."
"Ayahku memang memberikan restu hubungan kita, kita bisa melangsungkan pernikahan. Tetapi ada satu syarat yang harus kupenuhi." Sungmin menahan tangan Kyuhyun yang nakal menekan penis mungilnya, ia harus mencoba serius. "Aku harus hengkang dari Masi dan segera diangkat menjadi direktur utama Purezento."
"Ja-jadi?" obsidian Kyuhyun melotot tak percaya, "Kau juga akan mengundurkan diri dari Sapphire Team?"
Sungmin mengangguk pelan, "Benar. Secepatnya aku akan menduduki Purezento untuk menggantikan Ayahku. Jadi aku membutuhkan waktu sebentar untuk mengurusi ini di Jepang. Setelah itu, kita bisa membicarakan bagaimana hubungan kita selanjutnya bahkan untuk pernikahan."
Kyuhyun dilanda bimbang, ia merasa keberatan dengan keputusan Sungmin. Disisi lain hubungan mereka direstui, disisi lain juga Sungmin harus berpisah dari Masi dengan kata lain ia tidak dapat berjumpa dengannya dalam beberapa kurun waktu.
"Aku pasti sangat merindukanmu, Ming.."
"Hey, tenanglah.." Sungmin mengusap wajah Kyuhyun yang terlihat muram. "Kita masih bisa berkomunikasi, jika kau memiliki waktu lenggang ataupun aku kita bisa bertemu diantara Jepang atau Korea. Bagaimana?"
Sedikit menghela napas, Kyuhyun mengangguk setuju. "Baiklah, tapi ini ujian yang terakhir kan?"
"Ya, untuk yang terakhir. Setelah itu kita bisa bebas."
"Kapan kau akan pindah?"
"Hm.." Sungmin berpikir sejenak, "Mulai besok, aku harus segera berkemas dikantor."
"Secepat itu?!" lagi-lagi Kyuhyun dibuat terkejut. "Ming, kau sepertinya senang sekali membuat orang kaget. Kau menghilang lalu datang kemudian pamit secepat itu, kau tidak mengerti bagaimana sifat orang-orang dikantor?"
"Mau bagaimana lagi?" Sungmin mengalihkan kekesalan Kyuhyun dengan pijatan halus disekitar kejantanan besar si pemuda bermarga Cho itu.
"Argghh! Minghh!"
Sungmin terkekeh nakal, pijatannya kini berubah menjadi remasan keras membuat sang empunya mengerang nikmat. "Lanjutkan?"
"Akan kuhukum kau! Dasar nakal!"
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
DON'T FORGET LEAVE A REVIEW FOR THIS FANFICTION.
WE NEED YOUR PARTICIPATE :)
KEEP CALM AND SUPPORT KYUMIN
.
A/N : sorry for late post
daaan berbahagialah yang merindukan NC kyumin
