PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung

WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul

THE PROPOSITION

(The Propotition #1)

By

KATIE ASHLEY …

ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..

YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !


Bab 20

Yunho memandang gugup ke ayahnya. Dia menelan ludah dengan susah payah saat Ji-hon menatap tubuh Jaejoong dari belakang. Suara pintu kamar mandi terbanting. Ji-hon menaikkan alis karena curiga.

Pikirannya berputar-putar tentang bagaimana ia akan menjelaskan perilaku Jaejoong dan menjaga rahasia mereka. Akhirnya dia tersenyum meminta maaf. "Aku seharusnya memberitahu kalau dia seorang vegetarian, dan bau daging membuatnya sakit."

"Jangan membodohi aku."

"Maaf?" Pinta Yunho, sambil mencondongkan tubuh ke depan kursinya. Tentu saja itu bukan respon yang dia harapkan.

Kebohongannya tampak cukup masuk akal baginya. Well, kecuali untuk sedikit fakta bahwa Jaejoong dengan senang hati menerima undangan makan siang pie daging sepuluh menit yang lalu.

Ji-hon menggeleng. "Dia hamil, kan?"

Perut Yunho bergejolak, dan ia menahan diri karena ingin lari dari meja seperti Jaejoong. "Apa yg menyebabkan kau berpikir demikian?"

Katanya dengan suara parau. Dia yakin sekali Jaejoong tidak menyebutkan sesuatu kepada Ji-hon saat mereka melihat mawar.

Jika ada orang yang mau menjatuhkan bom tentang sesuatu mengenai dirinya akan menjadi seorang ayah, itu pasti dia.

"Pengalaman dari ibumu. Dia tidak bisa berdiri di ruangan sama yang ada bau daging saat dia masih hamil kamu. Bahkan bau daging samar-samar saja telah mengirimnya ke kamar mandi. Yang terburuk, saat kami berada di kota besar dan melewati stand hotdog."

Ji-hon tersenyum sedih. "Aku belum pernah melihat seseorang yang memiliki semacam reaksi seperti itu selain dirinya, bahkan saudaramu tidak seperti itu."

Yunho mengalihkan pandangannya menyusuri lorong. "Kehamilan Jaejoong baru enam minggu. Morning sickness-nya atau kurasa aku harus mengatakan itu mual-mual, benar-benar membuatnya begitu menderita."

"Aku berasumsi itu anakmu?"

"Tentu saja," geram Yunho.

"Kau pasti bisa melihat mengapa aku mempertanyakanmu. Setelah semuanya, kau mengenalkan sebagai seorang teman di tempat kerjamu dan sekarang kau bilang dia hamil anakmu."

"Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan itu padamu."

"Apakah kau berencana untuk menikahinya."

"Tidak sesederhana itu."

Alis Ji-hon melengkung karena kaget. "Tidak? Aku kira ketika kau bersama seorang wanita dan dia hamil anakmu, kau akan melakukan hal yang terhormat dan menawarkan untuk menikahinya. Lalu mengapa kau tidur dengannya jika kau tidak mencintainya dan melihat masa depan bersamanya? Atau kau masih sialan cenderung menjadi laki-laki brengsek yang suka memperalat wanita untuk kepentingan pribadimu sendiri?"

Yunho menyipitkan mata dan mencengkeram pinggiran taplak meja berenda. "Ya Tuhan, Pop, jangan menyembunyikan sesuatu lagi.

Katakan saja bagaimana perasaanmu yang sebenarnya!"

"Maafkan aku, tapi umurmu sudah tiga puluh dua tahun sekarang.

Kau belum memiliki hubungan jangka panjang sejak kau putus dengan Uee." Ji-hon menggeleng sedih. "Jika aku mau jujur, aku bisa mengatakan bahwa Uee dan Jaejoong mengingatkan aku akan banyaknya kesamaan satu sama lain. Tentu saja aku tidak ingin melihat Jaejoong terluka seperti Uee, terlebih jika dia sedang mengandung cucuku."

"Dengar, berhentilah menganggapku seperti seorang bajingan. Jaejoong menginginkan bayi, jadi aku setuju untuk membantunya."

Ji-hon membuka dan menutup mulutnya seperti ikan keluar dari air untuk mengambil udara. Begitu ia punya waktu untuk menyesuaikan diri dengan berita ini, senyum geli melengkung di bibirnya. "Ah, kau seperti seekor kuda pejantan atau sesuatu yang lain?"

"Tidak lucu."

"Maaf, Nak. Aku tidak bisa menahan diri." Dia menepuk lengan Yunho." Abaikan semua gurauanku, aku hanya ingin kau berpikir panjang dan keras tentang apa yang kau lakukan. Aku bisa melihat kau sangat peduli pada Jaejoong, dan dia juga melakukannya padamu."

Yunho bergeser di kursinya dan menatap tangannya. "Aku tidak tahu bagaimana perasaanku."

"Kau tahu apa yang dikatakan ibumu, kan?"

Dia langsung tahu ia berada dalam kesulitan yang sangat besarsaat mendengar kata-kata ayahnya, Yunho bangkit dari kursi dan ingin menuangkan minuman untuk dirinya sendiri. Dia mengambil Scotch dari kabinet. "Jangan membawa dia ke dalam persoalan ini. Dia sendiri sudah cukup mendesakku. Selalu bertanya-tanya mengapa aku menyakiti hati Uee, atau mengapa aku tidak berumah tangga, menikah dengan gadis baik-baik dari gereja, dan memiliki banyak anak." Dengan mudah ia meninggalkan bagian saat menjelang ajalnya, ibunya membuat Yunho berjanji untuk memiliki anak suatu hari nanti.

"Apakah kamu tidak menyadari nak bahwaibumu tahu apa sebenarnya yang akan membuatmu bahagia."

Yunho merengut. "Tapi dia tidak pernah melihat diriku yang sebenarnya - dia hanya percaya bagian yang baik-baik saja. Jika dia benar-benar berhenti berpikir tentang hal ini, ia akan menyadari kalau aku tidak pernah ingin terikat atau terjebak dengan wanita yang sama hari demi hari."

Luka terpancar di mata Ji-hon. "Apakah itu yang kau pikirkan selama empat puluh lima tahun aku memiliki ibumu?"

Yunho mendongakkan kepalanya dan menatap noda air di langit- langit ruang makan. Dia berharap tidak pernah mengangkat telpon atau setuju untuk datang kemari. Sebagian besar dari semua ini, dia berharap dia tidak pernah berpikir bahwa mengajak Jaejoong menjadi ide yang bagus. Jaejoong benar ketika itu dia sudah mengantipasi kehadirannya akan menimbulkan banyak pertanyaan. Yunho

mendesah dan memandang ayahnya. "Tidak Pop, bukan itu yang aku pikirkan. Tapi kita orang yang berbeda."

"Jaejoong bisa menjadi hal terbaik yang pernah terjadi padamu."

Suara dengusan keluar dari bibir Yunho. "Bagaimana sih kau bias tahu itu? Kau bersama dia baru satu jam!"

"Aku mungkin sudah tua, tapi aku tidak buta. Dia seorang wanita yang sempurna, nak. Dia begitu cantik luar dalam. Bagaimana bias kau tidak merasa kagum dengan seorang wanita istimewa seperti dia? Seandainya aku seusiamu, aku akan melakukan dengan sekuat tenaga untuk membuat dia menjadi milikku - apalagi jika dia mengandung anakku."

Yunho membuka mulut untuk berdebat, tapi suara pintu kamar mandi berderit, dia menutup mulutnya lagi. "Jangan bicara sepatah katapun," dia berbisik kepada ayahnya. Ketika Jaejoong muncul, wajahnya benar-benar terlihat mengerikan kecuali rona memerah karena malu tampak di pipinya. Dia pelan-pelan duduk di kursinya dan ragu-ragu melirik Yunho di seberang mejanya.

"Apakah kau baik-baik saja?" Tanyanya.

Jaejoong tersenyum melemah. "Aku baik-baik." Kemudian dia beralih ke Ji-hon. "Mr. Jung, aku sangat menyesal telah merusak makan siang Anda seperti itu."

Dia mengangkat jari telunjuknya untuk menyuruhnya diam. "Kau tidak melakukan hal seperti itu." Dia mengulurkan tangannya ke seberang meja untuk meremas tangan Jaejoong. "Selain itu, hati orangtua ini sangat senang mendengar akan menjadi seorang kakek lagi."

"Sial, Pop, aku kan bilang jangan berbicara sepatah katapun!" Yunho berseru ketika mata Jaejoong melebar sebesar tatakan gelas.

"Kau bilang padanya?" Tanyanya.

Ji-hon menggelengkan kepalanya. "Sekarang jangan marah dengannya. Aku orang yang bisa menebak. Ketika mendiang istriku sedang mengandung Yunho, dia menderita 'morning sickness'—well, sambil bercanda kami menyebutnya 'all day sickness' karena mualnya tidak hanya pagi hari saja. Dan gangguan indera penciumannya sangat mengerikan."

Jaejoong mencengkeram perutnya. "Benar, sangat mengerikan."

"Jika aku seorang penjudi, aku akan bertaruh dengan uangku bahwa kau mengandung anak laki-laki. Bagaimanapun juga istriku hanya mengalami hal itu dengan Yunho."

Jaejoong tersenyum sambil termenung. "Sangat luar biasa jika bayi ini anak laki-laki, tapi aku juga bahagia jika ini perempuan – yang terpenting asalkan dia sehat."

Ji-hon menepuk tangan Jaejoong. "Oh, tetapi kau membutuhkan anak laki-laki. Dengan begitu ada yang meneruskan nama keluarga Jung." Dia berpaling ke Yunho. "Kau berencana untuk memberikan nama belakangmu pada bayi itu, kan?"

"Ya Tuhan, Pop! Jangan terlalu serius."

"Aku seorang Katolik Irlandia yg setia nak, aku tidak akan menyerah pada legitimasi cucuku."

Yunho merasakan darah mengalir dari wajahnya. Dia segera meraih gelasnya dan menuangkan kembali sisa Scotch-nya. Ayahnya terus mengawasinya, dia bergeser di kursinya. "Well, Jaejoong dan aku belum membicarakannya."

"Tidakkah kau ingin meneruskan nama keluarga kita?" Ji-hon mengalihkan pandangannya dengan intens pada Jaejoong. "Aku satu-satunya anak laki-laki dari orang tuaku, dan aku hanya memiliki seorang anak laki-laki. Aku memiliki lima cucu dan cicit, namun nama kami akan punah jika Yunho tidak memberikan namanya."

"Oh, ayolah, Pop, ini bukan seperti aku akan menjadi Jung yang terakhir. Kakek Fitz memiliki tujuh saudara!" Bantah Yunho.

Ji-hon menyilangkan lengan di dadanya dengan marah. "Baiklah. Jika kau tidak ingin memberikan namamu pada bayi ini, aku yang akan memberikan namaku pada bayi ini!"

Ketika Jaejoong menjerit kecil di depannya, Yunho tahu dia kesal karena jelas melihat ketegangan antara dua orang keras kepala yang saling berhadapan. "Tolong bisakah kau hentikan ini? Kau membuat Jae panik."

Ekspresi Ji-hon segera melunak. "Jaejoong, aku sangat menyesal jika aku menyinggung atau membuatmu marah. Aku sangat melindungi keluarga, dan setelah mengetahui kau mengandung cucuku,sekarang kau bagian dari kami."

Yunho menyaksikan ekspresi Jaejoong berubah dari ketakutan menjadi benar-benar terlihat berseri-seri. "Sangat manis melihat anda yang begitu peduli. Bayiku sangat beruntung memilikimu sebagai seorang kakek." Dia menarik napas. "Tapi sebelum aku hamil, Yunho dan aku mengatur parameter yang sangat jelas tentang apa peranannya."

"Jadi, kau keberatan bayi ini memiliki namanya?" desak Ji-hon.

"Well, tidak ... Maksudku, aku tidak keberatan." Sebelum Yunho bias menghentikan dirinya sendiri, dia melotot padaJaejoong di seberang meja. Jaejoong cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Tapi aku tidak ingin menekan apapun pada Yunho. Jangan tersinggung, Ji-hon, tapi kau seperti memaksa Yunho untuk mengambil keputusan yang sulit.

Aku tidak ingin Yunho merasa tidak nyaman."

Ji-hon mendengus dan bersandar ke kursinya. "Baiklah. Aku hanya orang kuno, kurang pengetahuan, tua bangka!"

Jaejoong tertawa. "Aw, tidak kau tidak seperti itu. Sebenarnya, kau banyak mengingatkan aku pada kakekku. Dia benar-benar lebih dari sosok ayah bagiku setelah ayahku meninggal. Granddaddy sangat tradisional dan kuno. Dan orang yang santai asal kau tidak mengacaukan keluarganya."

"Dia terdengar mirip denganku."

"Aku pikir kalian berdua bisa bergaul dengan baik. Dia juga menanyakan hal yang sama dan khawatir ketika mendengar aku belum menikah dan hamil." Jaejoong memutar serbet di pangkuannya.

"Sebenarnya, dia agak berhati-hati mengatakan itu padaku."

Yunho merasakan sengataningin melindungi Jaejoong atas ketidaknyamanannya. "Kau tidak mengatakan itu padaku."

"Semuanya baik-baik saja sekarang. Bahkan, dia benar-benar kreatif bila berhubungan dengan kerajinan kayu, dan dia sedang memahat kayu untuk membuatkuda goyang mainan bayi."

"Itu cara yang bagus untuk membuat perubahan," renung Ji-hon.

Jaejoong tersenyum. "Ya, benar."

Ji-hon tampak bijaksana. Lalu dia berdiri. "Ayo, Jaejoong, ada sesuatu yang sepertinya kau dan bayi ini harus memilikinya."

Dia mengulurkan tangannya, Jaejoongpun tersenyum dan menyelipkan tangannya pada Ji-hon. Yunho menyaksikan bagaimanaayahnya menarik Jaejoong keluar dari kursi di ruang makan dan membawanya menyusuri lorong. Dia duduk tertegun, masih tidak percaya pengaruh Jaejoong pada ayahnya. Yunho tidak pernah melihat dia begitu bersemangat dalam beberapa bulan. Rasanya Jaejoong seperti membawa potongan dari diri ayahnya yang telah mati menjadi hidup kembali-sesuatu yang bahkan dia atau saudara-saudara perempuannya tidak pernah bisa melakukan itu.

Rasa ingintahunya menyebabkan dia bangkit dari kursinya dan mencari mereka. Ia menemukan mereka di kamar tidur orang tuanya.

Jaejoong berdiri di tengah ruangan, mengintip dengan saksamake lemari pakaian. Suara gesekan datang dari dalam, dan Yunho mendengar makian pelan dari ayahnya. Akhirnya, Ji-hon muncul dengan membawa kotak kuning yang sudah memudar dengan berjalannya waktu, senyum berseri-seri di wajahnya. "Untuk cucuku," katanya, menyerahkan kotak ke Jaejoong.

Jaejoong menggosokkan tangan yang bebas ke pinggulnya dan menantang, "Dan bagaimana jika bayinya perempuan?"

"Percayalah padaku akan hal ini." Ketika Jaejoong mendengus sebagai bentuk protes, Ji-hon tertawa. "Baik, baiklah. Ini akan sesuai untuk cucu perempuanku juga."

Jaejoong membuka tutup kotak itu. Yunho mencondongkan tubuh ke depan saat ia dengan lembut menarik kertas tisu. Teriakan pelanlolos dari bibirnya. Dengan lembut, dia mengeluarkan baju bayi putih dengan renda yang rumit dan ada mutiaranya. "Sangat indah."

"Ini adalah baju pembaptisan Yunho," kata Ji-hon.

Yunho menarik napas. Kata-kata ayahnya ditambah dengan Jaejoong yang sedang memegang sebagian dari masa lalunya membuat dia merasa terganggu. Jika ada keraguan tentang bagaimana perasaan ayahnya terhadap Jaejoong dan anak mereka, keraguan itu langsung musnahdenganmelihat baju kecil di tangannya. Yunho sepenuhnyayakin belum siap untuk ketingkat yang melibatkan banyak emosi dan komitmen. "Dad, Jaejoong bahkan bukan seorang Katolik," protes Yunho.

Tanpa mengalihkan tatapannya dari Jaejoong, Ji-hon menggelengkan kepalanya. "Dia mungkin akan menghiburku meskipun dengan memiliki bayi yang di Baptis."

Jaejoong menggigiti bibir bawahnya. "Sebenarnya aku di Baptis."

Melihat Ji-hon menarik napas dengan keras, Jaejoong mengangkat tangannya. "Tapi mengingat kau dan Yunho Katolik bayi ini akan menjadi setengah Katolik, aku kira aku akan melakukannya. Jika itu berarti banyak bagimu."

Senyum lebar terbentuk di wajah Ji-hon. "Tentu saja."

"Aku merasa terhormat."

"Terima kasih, Sayang," Ji-hon memeluk Jaejoong, sambil meremasnya erat-erat. "Terima kasih atas semuanya, kau seperti cahaya yang indah di dunia ... serta di dalam kehidupan anakku."

Yunho menatap ayahnya dengan ngeri. Apakah dia telah kehilangan pikirannya? Jaejoong bukanlah cahaya dalam kehidupannya ...

benarkah? Dia mencoba mengabaikan air mata yang berkilauan di mata hijau Jaejoong saat dia lepas dari lengan Ji-hon. Jaejoong mencium dengan lembut di pipinya. "Terima kasih karena mau menjadi bagian dari kehidupan bayiku."

Pertukaran emosi terus berlanjut antara ayahnya dan Jaejoong membuat dia merasa seperti semua udara di dalam ruangan tersedot keluar. Hanya menarik napas masuk dan keluar membuat dadanya merasa seperti ada seorang pegulat Sumo yang sedang menekannya sampai ke bawah. 'Sebuah cahaya yang indah dalam kehidupan anakku' terus diulang lagi dan lagi dalam pikirannya.

Jauh di dalam dirinya, ada suara kecil yang setuju dengan ayahnya. Jaejoong membuat gairahnya menyala semenit dan selanjutnya tertawa. Cara dia berinteraksi dengan Taepoong dan keponakannya telah mempesonanya. Jaejoong adalah tipe wanita jika dia sakit secara fisik, Jaejoong akan berada di sana untuk merawatnya dan melewatinya bersama, dan jika dia tertimpa masa-masa sulit secara emosional, Jaejoong akan memberinya kekuatan.

Bagaimana dia begitu buta?

Tatapan Yunho menjelajah mengamati seluruh ruangan. Tidak, dia hanya butuh keluar dari kamar tidur orang tuanya, keluar dari rumah ayahnya, kemudian mungkin dia bisa berpikir.

Dia berdeham. "Aku benci menjadi perusak pesta, tapi kami benar- benar harus pergi. Aku punya banyak pekerjaan setelah kepergianku bulan lalu."

Ji-hon mengangguk." Aku mengerti, Nak. Aku sangat senang kau datang." Dia tersenyum pada Jaejoong. "Maksudku kalian berdua datang."

Yunho membutuhkan beberapa saat sebelum ia bisa berkata, "Aku juga."

Jaejoong mencengkeram baju pembaptisan ke dadanya saat ia mengikuti Ji-hon keluar dari kamar tidur. Yunho langsung mengikuti dibelakangnya. "Sekarang kita sudah berkenalan, tidak ada alas an bagimu untuk menjadi orang asing. Kau tahu di mana tempat tinggalku, jadi kau tidak harus bergantung pada Yunho untuk membawamu kemari."

Ya Tuhan, dua jam dengan gadis ini, dan ayahnya sudah memberikan Jaejoong akses penuh untuk datang kapanpun dia mau. Dia tahu, ayahnya akan menurunkan semua album foto keluarga atau dengan buku tahunan SMA-nya yang lama untuk menghibur Jaejoong. Benar-benar mimpi buruk.

Ji-hon memberi Jaejoong pelukan terakhir sebelum beralih ke Yunho.

"Jangan menjadi orang asing."

"Aku akan mencoba."

Setelah Jaejoong mulai menuruni tangga beranda, Ji-hon meraih lengan Yunho. "Maukah kau setidaknya mencoba untuk mempertimbangkan beberapa hal yang kita bicarakan tadi?"

Tanyanya, dengan bisikan yang pelan.

"Aku akan mencoba, Pop. Aku benar-benar akan melakukannya."

Ji-hon tersenyum. "Bagus. Aku senang mendengarnya."

Jaejoong masuk ke kursi penumpang ketika Yunho berlari menuruni jalanan depan rumah. Ketika dia masuk ke dalam mobil, dia menghela napas panjang, napasnyangos-ngosan. Jaejoong berbalik dan memberinya senyum ragu-ragu. "Itu...menarik."

"Kau bisa mengatakan demikian," jawabnya sambil menggerakkan persnelling.

Setelah ia keluar dari jalanan masuk rumah, ia melirik dan melihat Jaejoong sedang menjalankan jari-jarinya di atas kain baju pembaptisan. "Aku yakin kau terlihat menggemaskan mengenakan ini," komentar Jaejoong.

"Tidak, aku sudah melihat fotonya. Aku terlihat seperti banci gendut saat mengenakan baju itu."

"Kau tidak tampak seperti banci," godanya.

Yunho mendengus sebagai jawaban. Menatap ke depan, ia mencengkeram setir dengan erat, berusaha keras untuk tetap mengontrol perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Mereka tidak berbicara selama beberapa menit.

Ketika Jaejoong akhirnya mulai berbicara, suaranya tegang. "Aku minta maaf untuk hari ini."

Yunho mengalihkan pandangan dari jalan untuk menatapnya. "Apa yang kau bicarakan?"

"Bertemu dengan ayahmu. Terlalu banyak tekanan dan komitmen untukmu. Aku bisa melihatnya."

"Bukan, bukan itu."

"Ayolah. kau hampir sesak napas karena tertekan ketika kita berada di kamar tidur orangtuamu."Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Aku serius merasa khawatir kau akan mengalami stroke atau sesuatu."

"Tidak seburuk itu."

Kulit pipinya seperti terbakar karena sorotan Jaejoong yang sedang menatapnya. "Setidaknya jujurlah tentang situasi ini, Yunho."

Sebuah geraman rendah muncul dari belakang tenggorokannya.

"Baiklah. Benar-benar mengacaukan pikiranku, oke?"

"Itu lebih baik."

"Ya, benar."

"Aku serius. Aku selalu ingin kau jujur padaku, terutama tentang perasaanmu."

"Wanita selalu berkata seperti itu, tapi kemudian saat kau memberitahu mereka tentang bagaimana keadaan yang sebenarnya, kau mendapatkan kata-kata kasar atau tamparan sebagai seorang jalang."

Suara hening di dalam mobil selama beberapa menit. Akhirnya, Jaejoong berbicara. "Dengar, aku tidak harus menyimpan baju ini. Kau dapat mengembalikannya kepada Ji-hon dan menjelaskan kepadanya bahwa kau hanya setuju untuk memberikan DNA-mu, bukan dirimu."

Dia memukul kepalan tangannya ke kemudi. "Sialan, Jae, itu bukan apa yang aku inginkan!"

Memotong dua jalur, dia menujuke tempat parkir supermarket.

Setelah suara berdecit berhenti, ia mematikan mesin. Ketika Yunho berbalik untuk menghadapinya, mataJaejoong melebar, dan ia menekan dirinya pada pintu sejauh mungkin dariYunho. "Saat aku mengatakan hari ini pikiranku kacau, itu adalah lebih dari satu arti. Melihatmu dengan ayahku - cara dia bereaksi terhadapmu - itu membuatku tersentuh. Tapi itu tidak sepertiyang ada dalam pikiranmu."

"Oh?"

Yunho menggelengkan kepalanya. "Ketika aku bertemu denganmu, kehidupanku persis seperti yang kuinginkan selama ini. Aku hanya berpikir menggunakan kemaluanku saat aku mengiraaku bias membuatmu hamil dan langsung meninggalkanmu. Dan sekarang...semuanya begitu sialan rumit…aku tidak tahu lagi cara mengatasi ini."

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menimbulkan masalah bagimu atau membebanimu."

Yunho memutar matanya. "Ya Tuhan, Jae, bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?"

Alisnya berkerut. "Karena katamu-"

Dengan mendengus frustrasi, tangannya meraup rambutnya sendiri.

"Sialan, aku tidak pandai dalam hal ini. Aku mengatakan dan melakukan sesuatu yang salah."

"Aku tidak mengerti," gumamnya.

"Jauh di lubuk hati, aku masih orang yang sama ketika kita pertama kali memulai semua ini- tidak ada pernikahan, tidak ada komitmen besar, tidak ada hubungan jangka panjang." Yunho menghela napas.

"Tapi...Aku ingin mencoba untuk memiliki hubungan 'lebih' denganmu."

Jaejoong tersentak. "Benarkah?"

Dia menatap Jaejoong dengan saksama. "Meskipun aku benci mengakuinya, aku benar-benar merindukanmu saat aku pergi."

"Apakah kau yakin itu bukan hanya merindukan seks?"

Yunho merengut padanya. "Ya, aku yakin."

Jaejoongtersenyum ragu-ragu. "Itu sangat menyanjungku."

"Sial, aku tidak berpikir kau akan membuatku sulit melakukan ini."

"Maaf?"

"Aku pikir..." Dia menggelengkan kepalanya. "Kupikir kau ingin

hubungan kita 'lebih' dari yang kulakukan."

"Ya," jawabnya lirih.

"Kau memiliki cara untuk menunjukkan hal itu."

Jaejoong memelototinya. "Well, kau sebenarnya tidak bermain dengan adil. Kamu baik dan perhatian, jika tidak benar-benar peduli, sepanjang waktu kita mencoba untuk membuatku hamil, namun kau terus-menerus membuat adanya jarak. Setiap kali aku berpikir kau mungkin benar-benar tertarik padaku, Kau menutupnya. Dan sekarang menunggu munculnya faktabahwa kau mungkin menginginkan 'lebih' saat hormonkumembuat emosionalku menjadi hancur."

"Apa bedanya?"

"Semuanya!" Jaejoong menunjuk kaca depan ke seorang *bag boy remaja yang sedang mengumpulkan troli. "Aku sangat letih mengendalikan hormonku sekarang jika anak itu memintaku untuk menikah dengannya, aku akan mengatakan ya."

"Itu sangat kacau." renung Yunho.

"Ya, itulah yang disebut estrogen, dan itu sudah melebihi batas sekarang. Jika kau ingin tahu seperti apa rasanya, itu seperti semacam takaran besar bahan bakar dari testosteronmuyang memompa sampai ujung kepala bagian bawah pinggangmu, dan itu akan mendorong sebagian besar keputusan."

Yunho menyentakkan kepalanya ke belakang dan tertawa. "Apakah kau mencoba untuk mengatakan aku hanya berpikir dengan penisku?"

"Aku tidak berpikir akan hamil sekarang jika kau tidak melakukannya," kata Jaejoong lirih.

Ekspresi Yunho suram. "Apakah aku bisa mengasumsikan kalau estrogen yang berbicara atau kau hanya mencoba untuk menghentikanku?"

Jaejoong menundukkan kepalanya. "Ya dan tidak. Hanya saja semuanya menjadi lebih emosional saat ini. Bertemu Ji-hon hari ini ..."Dia menggigit bibir bawahnya kemudian menatap ke luar jendela mobil. "Aku tahu kami hanya bersama-sama dalam waktu yang singkat, tapi saat bertemu dengannya aku merasa hamper seperti terhubungan ke sesuatu yang sudah tidak kumiliki sangat, sangat lama - cinta seorang ayah. Perasaan ini sebelumnya hanya dengan kakekku, dan dia sedarah denganku."

Dada Yunho terasa sesak melihat kesedihan Jaejoong. Dia mengulurkan tangan dan menggenggamnya. "Jae-"

Jaejoong berbalik kembali kepadanya dengan mata berkaca-kaca. "Kau berpikir kau mencoba untuk melindungimu diri sendiri? Well, begitupun juga aku. Sama banyaknya aku ingin mengatakan ya padamu Yunho, aku harus melindungi diriku sendiri dan bayi ini."

"Bayi? Apakah kau benar-benar berpikir aku akan melakukan sesuatu untuk menyakitinya?"

"Mungkin tanpa sengaja. Tapi aku tidak bisa membiarkan dirimu masuk ke dalam hidup kami, apakah kau bisa menjamin ketika ada beberapa wanita dengan rok pendek dan berpayudara besar tidak merubah pikiranmu."

"Itu sangat meremehkan," geramnya.

Jaejoong mengusap matanya. "Maafkan aku, tapi kau tahu pada beberapa hal yang mendasar itu benar. Kau sendiri yang mengatakan sejuta kali bahwa kau tidak melakukan hubungan jangka panjang."

"Yeah, well, kau tahu orang bisa berubah."

"Kau tidak bisa membayangkan betapa aku ingin mempercayainya," bisiknya.

Yunho mendesah, mengetuk-ngetukkan jarinya di setir. "Dengar, ada panggilan telepon dari kantordimana aku harus terbang ke DC pada hari Selasa. Aku akan pergi selama beberapa hari. Maukah kau berpikir tentang hal ini sementara aku pergi?"

"Aku bersedia jika kau mau."

"Apa maksudnya itu?"

"Itu berarti aku ingin kamu memastikan bahwa kau benar-benar mengerti apa yang kau minta dariku dan dirimu sendiri. Dan aku ingin kau memiliki gambaran yang cukup jelas tentang apa arti

'lebih' bagimu."

"Baik." Yunho menatap Jaejoong dengan tajam. "Aku bersedia jika kau mau."

Sudut mulut Jaejoong melengkung naik menjadi senyuman. "Sepakat."

-...-

Bag boy: petugas super market yang menempatkan belanjaan ke kantung belanja kemudianmemasukkan ke troli