Wait For You
Chapter 21
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Comfort and Hurt/Romance
Pairing : SasuSaku
Chapter 21 : Perfect Day
Warning: Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Typo(s), alurnya ngalur-ngidul, dan kejelekan lainnya.
Happy Reading!^^
"Boleh aku jujur?" tanya Sakura pelan dengan menatap langit senja. Warna langit masih berwarna jingga senada dengan warna sang pemimpin tata surya, dipadukan dengan awan yang masih menari-nari menunjukkan betapa putih dirinya.
"Aku muak melihat kau bertingkah seperti ini," lanjutnya tanpa melihat apa respons dari Sasuke. Kening Sasuke berkerut bingung.
"Maksudmu... "
"Aku tidak suka kau yang seperti ini. Aku lebih suka kau yang bersikap dingin," potong Sakura dengan tegas.
"Memangnya... "
"Maaf. Mungkin keinginanku lain daripada yang lain. Aku minta berhentilah bersikap manis padaku. Aku hanya takut semua kata-kata manismu menjadi racun dan seberkah harapan yang sulit dijangkau. Aku hanya tidak mau perlakuanmu pada hari ini, akan berubah menjadi seperti semula. Sejujurnya, aku lebih suka kau yang natural saja," lagi-lagi Sakura memotong kalimat Sasuke dengan nada yang lebih tegas. Sasuke menyingkirkan kepala Sakura dari dadanya dengan pelan.
"Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Apa yang membuatmu mengatakan hal sekejam itu?" tanya Sasuke. Sakura hanya bungkam.
"Aku tidak tahu. Tetapi, feeling-ku mengatakan bahwa sikapmu yang seperti ini malah akan membuatku hancur," jawab Sakura dengan ekspresi takut. Sasuke bingung. Ia makin tak mengerti jalan pikiran Sakura saat ini. Bukankah dengan seperti ini, biasanya para gadis akan berteriak kegirangan dan mengatakan bahwa hari ini adalah hari yang sempurna dan hari yang terbaik dalam hidupnya?
"Sakura, kau ini kenapa? Apa ada salah satu roh di sini yang merasukimu sehingga kau meragukanku seperti ini?" Sakura menggeleng sembari menyingkirkan tangan Sasuke yang hinggap di keningnya.
"Aku tidak kerasukan! Aku hanya tidak suka kau bersikap OUT OF YOUR CHARACTER!" teriak Sakura pada akhirnya. Kini Sasuke mengerti. Sakura tidak ingin dia menjadi orang sok romantis seperti hari ini. Dia hanya ingin Sasuke menjadi orang yang seperti biasanya. Orang yang stay cool dan datar ekspresinya, tanpa menunjukkan tindakan afeksi apapun.
"Kau tidak mengerti juga? Aku benci kau berpura-pura seperti ini. Jadilah dirimu sendiri. Jangan menjadi orang lain. Aku benci melihatnya," sambung Sakura dengan sorot mata sinis. Sasuke menghela nafas panjang.
"Kau mau aku bersikap seperti itu? Kenapa? Apa alasannya?" tanya Sasuke bertubi-tubi. Cukup bingung ia memahami bagaimana jalan pikiran gadis di sebelahnya ini. Sebenarnya, kalaupun dia benci dengan sikapnya yang seperti ini, kenapa tidak bicara di awal saja? Kenapa harus sekarang, saat dimana sunset sedang mendukung latar suasana yang ada? Apakah mungkin Sakura menahan asumsinya sejak tadi dan baru mau mengeluarkannya sekarang? Tetapi, kenapa ia terlihat bahwa ia berbahagia saat mereka berdua dan dia tidak terlihat menyembunyikan suatu hal darinya. Sasuke sungguh bingung.
"Aku sudah mengatakannya. Sudahlah, mungkin kau tetap tidak mengerti," jawab Sakura dengan bangkit berdiri. Tetapi dengan cepatnya Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura sehingga Sakura kembali duduk di sampingnya.
"Dengar nona cerdas, kalau kau mau aku berpenampilan seperti itu. Akan kulakukan, aku akan membuat semuanya kembali seperti semula. Sama seperti pertama kali kita berhubungan, kita akan jarang bicara. Sesuai dengan apa yang kau minta," ujar Sasuke dengan dingin dan sorot matanya mengatakan bahwa saat ini dia sedang benci sekali melihat Sakura. Gadis bermata emerald itu tersenyum puas.
"Kau sudah melakukannya, terima kasih," balas Sakura tak kala dinginnya. Beberapa detik kemudian, Sasuke melepaskan tangan Sakura. Sasuke membuang mukanya untuk menghindari kontak mata dengan Sasuke. Sungguh, di dalam hatinya, ia mau membentak Sakura dengan keras agar amarah dalam dirinya terpuaskan. Tetapi, ia tahan semuanya. Tak berapa lama ia mengumpat dalam hatinya, terdengar suara cekikian yang lama-lama menjadi semakin besar dan jelas di telinganya. Akhirnya Sasuke melihat Sakura, yang ternyata sedang tertawa puas dengan kepala tertunduk sambil memegangi perutnya. Sasuke sedikit panik. Jangan-jangan Sakura benar-benar kemasukan roh penunggu tempat ini.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke dengan nada yang datar yang menunjukkan seolah-olah dia tak peduli dengan Sakura, padahal dalam hati dia sudah mati ketakutan karena ia takut terjadi sesuatu yang mengerikan pada Sakura. Sakura tidak menjawab, melainkan ia memperbesar tawanya.
"Kau kenapa, sih?!" ulang Sasuke dengan nada tidak suka karena sudah merasa risih. Karena sudah tidak tahan lagi, ia pun menyentuh bahu Sakura berharap Sakura akan sadar.
"Jawab aku! Kau kenapa?!" seru Sasuke panik. Akhirnya ia mengguncang kedua bahu Sakura dengan keras. Sakura terus saja tertawa.
"Aw! Sakit.. Hahaha.. Perutku sakit sekali," Sakura angkat bicara. Pada wajah Sakura, air mata sudah turun dari pelupuk matanya.
"Kau kenapa sih? Jangan membuatku khawatir," Sakura melepaskan kedua tangan Sasuke dari bahunya.
"Aku ini tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku hanya mengerjaimu!" Sasuke makin bingung. Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran Sakura? Apa rencananya hari ini? Mengerjainya? Maksudnya apa? Berbagai pertanyaan yang memusingkan kepala berseliweran di dalam kepalanya untuk menanti jawaban.
"Mengerjai? Kau pasti sakit karena terlalu lelah," balas Sasuke. Sakura berhenti tertawa karena perutnya sudah sakit sekali. Ia mengelap cairan bening yang jatuh dari pelupuk matanya dengan satu usapan sekilas.
"Aku hanya mengerjaimu. Aku hanya mencoba untuk menguji emosimu. Aku hanya mau melihat, apakah kau akan marah jika aku berlaku seperti itu? Tetapi, kau sudah lulus! Kau tidak marah padaku. Selamat!" jawab Sakura dengan senyuman lebar. Sasuke terbengong.
"Jadi masalah feeling itu tidak serius? Masalah sikapku yang out of character itu juga hanya main-main? Pokoknya, semua, apa yang kau katakan tadi hanyalah hal yang kau gunakan untuk mengujiku? Dan bagimu, semua itu hanyalah lelucon untukmu?" tanya Sasuke dengan menghela nafas sebelumnya. Sakura mengangguk dengan santainya. Tanpa menyangka bahwa akan ada lonjakan amarah.
"Kau hanya main-main denganku tadi? Kau tahu bagaimana perasaanku tadi?! Kau sudah gila?! Aku sudah menganggap semua kelakuan anehmu itu benar-benar karena perubahan tingkahku! Aku menganggapku kau seperti ini karenaku! Aku mengira kau akan marah padaku! Ternyata sekarang sebaliknya! Kenapa kau seperti ini, Sakura?! Aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan membuatku naik darah seperti ini!" Sakura membulatkan matanya. Ia tak menyangka bahwa Sasuke akan marah seperti ini. Ia berpikir bahwa Sasuke hanya akan tertawa dan tidak menganggap ini sebuah hal yang serius. Namun, perkiraan otaknya salah besar. "Terima kasih, otak cerdas," batin Sakura menyesal. Sakura ingin menyatakan permintaan maaf, namun Sasuke kembali ingin membuka mulutnya. Maka dari itu, ia mengurungkan niatnya.
"Kenapa kau bertingkah semakin childish, Sakura? Apakah ini karena kedatangan si laki-laki pirang yang sangat kau sayangi itu? Dia kan yang memintamu untuk bertingkah? Itukah alasannya, Sakura?" ucap Sasuke dengan nada yang menusuk. Hati Sakura berdenyut sakit mendengar itu. Namun, luapan emosi menguap dari hatinya. Dia sangat tidak suka bila Temujin dijelek-jelekan. Lagipula, Temujin tidak ada hubungannya dengan masalah mereka pada kali ini. Kenapa Temujin harus disangkut-sangkut kan?
"Dengarkan aku! Aku minta maaf karena sudah membuatmu naik darah. Aku tahu, tingkahku kembali menjadi kekanak-kanakan. Aku tahu, aku minta maaf soal itu. Tapi, jangan bawa-bawa nama Temujin. Dia tidak bersalah. Aku hanya mengikuti apa keinginan hati kecilku. Temujin mengajarkanku tentang semua hal yang baik. Tetapi dia hanya rindu pada kelakukanku yang biasanya manja padanya! Dia tidak merubahku. Tetapi aku yang mau berubah. Lagipula kenapa membahas Temujin di tengah-tengah masalah kita? Bukannya katamu, kau tidak suka bila Temujin terpaut di dalam masalah kita berdua?" balas Sakura dengan berani. Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia tersenyum sinis.
"Aku membawanya pada masalah kita, karena penyebab perubahan sikapmu adalah dia! Kau berubah seperti ini karena kau termakan omongannya! Kau memang selalu menuruti apa yang dia mau, begitu kan? Aku pusing melihatmu. Sepertinya kau lebih cocok dengan Temujin daripada denganku. Lagipula kau juga terlihat lebih dekat dengannya. Kalau boleh kuakui, kalian memang pasangan yang cocok," Sakura merasa sangat tersinggung.
"Jangan berbelit-belit Sasuke! Kau bicara saja apa maumu yang sebenarnya! Kau mau apa?! Kau mau kita putus?! Aku heran. Kenapa masalah kita selalu membawa nama Temujin? Apakah menurutmu dia benar-benar penghancur hubungan kita? Apakah kau ada dendam dengan Temujin sebelumnya? Katakan saja Sasuke!" Sasuke mendengus.
"Aku tidak punya dendam dengannya. Aku hanya benci melihat kedekatan kalian. Aku benci ketika kalian mempunyai momen yang selalu dipergunakan dengan sangat baik!" jawab Sasuke dengan seruan.
"Sudahlah. Kau memang sudah terlanjur benci dengan Temujin. Apakah kau tidak bisa melihat? Temujin itu baik! Dia adalah pahlawanku yang kedua sewaktu kami kecil dulu! Dia pernah menolongku mengerjakan tugas, dia adalah teman baikku. Dia adalah temanku mengisi kekosongan waktu. Pokoknya dia baik!" Telinga Sasuke terasa panas, sama dengan hatinya yang seperti di bakar oleh ribuan kayu api yang membara.
"Kau sengaja ingin membuatku bertambah benci dengannya?" tanya Sasuke dengan ekspresi yang mendukung serta nada sinisnya.
"Ya. Memang itu tujuanku. Karena semua ada batasnya. Bila batas bencimu pada Temujin sudah penuh, bahkan lebih. Rasa benci itu akan musnah dengan sendirinya. Itu tujuanku, jadi lebih baik aku memanas-manasimu sampai batas benci itu terlampaui. Sama saja dengan gelas. Jika diisi penuh pastilah akan tumpah," jawab Sakura dengan lancar. Sasuke mangut-mangut mengerti.
"Hm.. Kekasih yang sangat baik," sindir Sasuke dengan sinis dan dingin. Sakura tersenyum tipis.
"Terima kasih," balasnya dengan nada yang tak kalah sinisnya. Dari sindiran itu, mereka tak lagi bicara. Keadaan langit semakin mendukung saja. Langit sudah mulai berwarna gelap ditemani dengan bintang-bintang. Suhu udara menurun menjadi lebih dingin dari yang sebelumnya. Karena masih memikirkan bagaimana fisik Sakura nantinya, Sasuke berinsiatif untuk mengajak Sakura pulang.
"Ayo, pulang. Sudah malam," ajak Sasuke dengan datar dan menarik tangan Sakura tanpa membersihkan apa yang ia persiapkan sebelumnya. Sakura hanya ikut saja. Mereka pun sampai di mobil. Sasuke langsung menghidupkan mesin mobil dan berlalu dari tempat indah itu.
Ya, tidak seperti saat rute perjalanan saat mereka datang yang dipenuhi dengan tawa ria. Sekarang, seperti pertama kali bertemu, seperti kuburan lama yang sudah tidak mau dirawat oleh orang lagi. Tetapi, ini kan yang diminta oleh Sakura? Bagi Sasuke ini bukanlah suatu perkara. Ini bukan masalah baginya, dia kan sudah terbiasa seperti ini. Diam dengan berjuta pikiran di dalam otaknya. Tetapi, selama Sakura senang, ia akan melakukannya. Sementara Sakura berdiam diri untuk menghilangkan stress yang melanda dirinya karena lelucon garing yang telah dibuatnya.
"Aku pulang," kata Sasuke dan Sakura bersamaan saat Sakura membuka pintu lebar-lebar. Di sana ada teman-teman mereka, Temujin, dan juga kedua orang tua mereka. Tanpa ada kabar sedikit pun, ternyata kedua orang tua mereka sudah duduk dengan pakaian santai ditemani dengan teh hangat. Sasuke yang pertama kali melihat Temujin, langsung memanas. Sedangkan Sakura bertahan dengaan ekspresi datarnya.
"Ah, Sasuke, Sakura. Kalian baru pulang, ya?" Kedua orang itu mengangguk kompak. Sakura langsung mengambil tempat duduk di bawah Sasori, karena sofa yang tersedia sudah diduduki masing-masing orang. Sasuke pun bernasib sama.
"Jadi.. Darimana kalian berdua?" tanya Mikoto dengan rasa penasaran tinggi.
"Dari taman alam," jawab Sasuke pendek. Fugaku dan Kizaki langsung menautkan kedua alisnya.
"Taman alam? Dimana itu?" tanya Mebuki yang sama penasarannya.
"Sudahlah, Kaa-san. Jangan ditanyakan letaknya dimana, itu tempat rahasia Sasuke dan Sakura," sahut Itachi. Sakura merotasikan bola matanya, sedangkan Sasuke menatap tajam Itachi.
"Ah! Sekarang Kaa-san mengerti!" seru Mikoto heboh. Ia menatap Sasuke dan Sakura dengan pandangan penuh curiga. Namun sepasang kekasih itu cuek saja.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Hitung-hitung sebagai perayaan kepulangan kami," usul Kizaki.
"Boleh juga. Sekalian mencoba gaun yang dibawa Kaa-san," jawab Karin dengan kedua tangan yang saling menyatu di depan dada.
"Ide bagus, Tou-san. Aku setuju," timpal Sasori dengan senyuman tipis. Pandangan Sasori juga tertuju pada Temujin yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana kalau Temujin juga ikut? Sudah lama kan dia tidak menikmati makan malam bersama keluarga kita?" tawar Sasori.
"Tentu. Temujin, kau ikut makan malam bersama kami, ya?" tanya Sasori. Temujin tersenyum tipis.
"Sebaiknya tidak usah. Saya merasa bahwa itu hal yang merepotkan," tolak Temujin secara halus yang ditemani oleh senyum tipis.
"Ayolah, Temujin. Kau kan teman masa kecilnya Sakura, Sakura pasti ingin makan malam bersamamu. Lagipula kami tidak merasa direpotkan kok," bantah Kizaki. Temujin kembali tersenyum.
"Kalau memang begitu, saya tidak punya alasan untuk menolak lagi," jawab Temujin yang akhirnya terbujuk.
"Baiklah. Berarti, semuanya ikut. Semuanya, berkemaslah," putus Fugaku dengan suara beratnya. Karin dan Sakura langsung menuju kamar Karin. begitu pula dengan kedua orang tua pasangan kita. Sementara Team 7, Sasori, Itachi dan Temujin tetap duduk sambil menikmati acara televisi yang ada. Mikoto yang tak sengaja lewat melihat Sasuke yang duduk selonjoran langsung mengahampiri Sasuke.
"Sasuke! Kenapa kamu masih di sini? Ayo, mandi dan ganti baju!" ujar Mikoto dengan berkacak pinggang.
"Tapi... "
"Jangan membantah Kaa-san! Cepat! Coba kau bandingkan pakaianmu dengan pakaian Temujin!" potong Mikoto.
Sasuke langsung melihat Temujin. Dia memakai baju kaos putih polos yang dibalut dengan kemeja kotak-kotak berwarna hitam keabu-abuan dengan celana jeans sebagai bawahan. Sangat beda dengan dirinya yang memakai baju yang memang sudah kotor dan lusuh. Tidak mau menanggung malu lebih berat lagi, Sasuke langsung masuk ke kamarnya untuk segera mandi.
Beda dengan permasalahan Sasuke yang mau mudah saja. Karin malah ingin rumit, sudah beberapa baju yang ada di kantung belanjaan yang baru dibawakan Ibunya ia hamburkan di tempat tidur. Sementara itu Sakura telah selesai mandi. Ia telah memakai pakaian yang dipilihnya. Sederhana saja, hanya sekedar baju tangan panjang berwarna putih dan bercorak-corak bunga di bagian atas dada dan rok ungu simple. Ia melihat Karin yang sedang bingung memilih baju mana yang akan dipakainya.
"Sebenarnya kau mau pakai yang mana Karin?" tanya Sakura sembari membenahi baju-baju yang dikeluarkan oleh Karin. Karin cemberut dan menggeleng tidak tahu.
"Memangnya kau mau menarik perhatian siapa, sih?" tanya Sakura lagi dengan melipati baju itu.
"Gaara.. " jawab Karin dengan pelan. Sakura tersenyum mengerti.
"Gaara, ya? Kalau begitu kau pakai saja pakaian yang sederhana. Dia suka pada gadis yang tampilnya sederhana," Karin langsung berdiri dengan tegapnya.
"Serius?!" tanya Karin dengan tatapan penuh harapan. Sakura mengangguk.
Karin segera mengganti pakaiannya. Ia memilih kemeja ungu yang kerahnya melengkung berwarna hitam yang dipadukan dengan rok lipit hitam yang berenda-renda. Kemudian ia memakai sepatu converse ungu yang pendek. Sedangkan Sakura memakai sepatu all star yang menjadi sepatu kesayangannya. Kemudian mereka berdua mematut diri di kaca.
"Kau terlihat sederhana," komentar Sakura. Karin cemberut.
"Kau lebih terlihat sederhana daripada aku," balas Karin.
"Jangan begitu. Ini kan baru awal saja. Jangan pesimis Karin," kata Sakura dengan menepuk pundak Karin.
"Ya sudahlah. Ayo, keluar," ajak Karin dengan mengambil tas kecil Channel berwarna hitam dari meja riasnya lalu mereka keluar. Sedangkan Sakura hanya menggengam erat smartphone mahalnya.
Sudah banyak yang siap. Tentu saja itu adalah para kaum adam yang ada di rumah ini. Mikoto dan Mebuki belum muncul juga, mungkin masih berdandan. Sakura dan Karin duduk di sofa bergabung dengan teman-teman yang lain. Dengan sengaja Karin mengambil tempat di sebelah Gaara, sedangkan Sakura duduk di sebelah Temujin dan Naruto. Benar saja saran Sakura, Gaara melihat Karin, seperti curi-curi pandang. Karin merasa bahwa ponsel di tasnya bergetar. Karin segera mengambil ponselnya di tas dan langsung mengecek ponselnya. Ternyata ada satu pesan baru yang masuk dan itu dari Gaara! Betapa senang hatinya. Karin langsung membuka pesan itu.
From : The Swagger!
Kau cantik kalau simple seperti ini
Hati Karin langsung dipenuhi oleh bunga-bunga karena Gaara mengatakannya cantik hari ini. Tips Sakura berhasil. Karin langsung membalasnya dengan kalimat "Terima kasih. Aku hanya ingin merubah penampilan," Gaara langsung mengetik sesuatu di ponselnya. "Baguslah. Seleramu dalam fashion bagus. Tasmu saja channel," Karin tersipu. Kalau masalah fashion dia memang nomor satu. Dia kan shopaholic nomor satu di rumah ini. Dan kedua insan manusia itu terus melanjutkan obrolan mereka lewat ponsel. Padahal mereka duduk bersebelahan, sungguh aneh cara mereka dekat. Lain dengan Sasuke yang hanya bisa memandangi Sakura yang sedang asyik bicara dengan Temujin.
"Teme! Kenapa kau diam saja?!" tanya Naruto dengan suara cemprengnya yang merusak kerja gendang telinga. Sasuke langsung menjitak kepala Naruto sehingga Naruto diam. Dia sudah hafal segala gerak-gerik tingkah Sasuke, jika ia dipukul tanpa jawaban, pastilah manusia arogan itu memintanya untuk diam. Ya, sebagai sahabat yang baik, Naruto menurut saja. Ia kasihan saja melihat teman baiknya yang sedang terbakar api cemburu karena melihat kekasihnya mengobrol akrab dengan orang lain, laki-laki pula.
"Kami siap. Ayo, pergi," ujar Mebuki yang memecah konsentrasi Sasuke yang berfokus pada Sakura. Sasori mematikan televisi.
"Sasori, Itachi, kalian ikut dengan kami," putus Mikoto. Itachi dan Sasori langsung lemas, mereka sudah tahu mengapa harus satu mobil dengan orang tua tercinta, pastilah mereka mau dintrograsi tentang hubungan kedua adik mereka. Dengan sangat terpaksa, Sasori dan Itachi mengikuti kedua orang tua mereka yang sudah terlebih dahulu berjalan.
"Ya, sudah jelas. Karin ikut mobil kita," ujar Naruto yang memegang kunci mobil.
"Boleh aku ikut bersama kalian?" tanya Sakura. Neji mengerutkan alisnya.
"Tidak. Kau sudah memiliki pasangan. Kau bersama Sasuke," tolak Neji.
"Ayo, nanti kita tersesat. Kita kan tidak tahu dimana lokasi restorannya," sahut Sai dengan senyum palsunya. Naruto langsung membuka mulutnya.
"Sai benar! Ayo, pergi! Nanti kita ketinggalan!" seru Naruto dengan panik. Gaara hanya menghela nafas melihat tingkah dari teman-temannya.
Sakura hanya diam saat permintaannya ditolak oleh Neji. Dengan sangat terpaksa ia harus kembali satu mobil bersama Sasuke. Padahal niatnya ia mau menghindari Sasuke. Tadinya, ia kira ia akan diajak orang tuanya satu mobil. Tetapi, perlu diingat. Memangnya siapa dia? Dia hanyalah anak bungsu yang dianggap seperti anak angkat. Sakura tersenyum pahit. Pikirannya segera ia hapuskan. Setidaknya mulai dari sekarang, orang tuanya sudah lebih perhatian dengannya. Jadi, pikirannya yang menganggp dirinya tak diperlukan, harus dihapuskan. Akibat dari keasyikan melamun, Sakura tak menyadari kalau hanya ada Sasuke dan dirinya. Sasuke tetap berdiri di belakang Sakura yang sedang melamun, ia tidak mau menggangu gadisnya yang sedang berpikir. Tetapi, sampai kapan ia harus menunggu seperti ini?
"Sakura?" panggil Sasuke dengan sangat pelan. Walaupun suara Sasuke pelan, ia masih mendengarnya karena suasananya sangat hening dan tenang. Saat lamunannya terpecah, ia mengalikan pandangannya ke segala penjuru. Matanya terbelalak tajam, tetapi ujung-ujungnya Sakura menatap Sasuke.
"Dimana semua orang?!" Sakura bertanya dengan nada panik.
"Sudah pergi duluan," Sasuke menjawab dengan santai. Itu membuat Sakura kesal. Kenapa dia tidak disadarkan dari tadi? Dasar pencari kesempatan dalam kesempitan! Sakura terus saja memaki-maki Sasuke dalam hati. Namun, jika diingat-ingat lagi, mereka kan sedang musuhan, jadi wajar saja kalau Sasuke menyadarkannya sedikit lama. Mungkin dia merasa segan menegor Sakura, bisa saja, kan?
"Kau mau ikut? Aku mau pergi sekarang," Sakura berdiam diri. Mereka berdua berpandangan dengan lama, tetapi Sakura tak kunjung memberi jawabannya. Karena sudah terlalu lama, Sasuke mengalihkan pandangannya, dan mulai berjalan ke arah pintu. Sakura masih mempertimbangkan ajakan Sasuke. Yang ia permasalahkan adalah, jika ia menerima tawaran Sasuke, misinya untuk menjauhi Sasuke akan gagal, lagipula mereka sedang musuhan. Di sisi lain, Sakura takut untuk tinggal sendirian di rumah, kalau ada Sasori atau Temujin, atau ada teman bicara, dia mau tinggal sendirian.
Sakura mendengar jelas bahwa Sasuke sudah menyalakan mesin mobilnya. Itu berarti, sebentar lagi Sasuke akan segera meninggalkan halaman rumahnya. Tak mau ditinggal karena takut, Sakura berlari menuju pintu lalu menguncinya dan menghampiri mobil Sasuke. Mobil Sasuke yang tadinya mau membelok keluar dari rumah menjadi berhenti. Laki-laki itu pun membuka pintu kaca mobilnya.
"Cepatlah naik, kita sudah terlambat," oceh Sasuke. Dengan raut wajah yang kusut dan ekspresi cemberut karena kesal dan didukung oleh perasaan terpaksa, Sakura masuk ke dalam mobil Sasuke. Pandangannya langsung ia arahkan ke kaca mobil di sampingnya. Sasuke hanya tersenyum tipis, lalu ia menginjak pedal gas. Setelah mobil itu keluar dari arena rumah Sakura, mobil melaju kencang menyusuri jalanan malam yang lumayan sepi.
Karena sudah mendapat lokasi restorannya dari Itachi, mereka cepat sampai. Ternyata mereka mau makan di hotel yang pemiliknya adalah Ayah Gaara. Hotel ini mewah dan menampilkan kesan "Classy" karena hotel ini adalah salah satu hotel terbaik di sini. Sesudah memarkirkan mobilnya, Sasuke dan Sakura pun turun. Tangan mereka tak bertautan tetapi jarak mereka berdekatan. Sasuke memimpin jalan mereka. Sesampainya di lobby hotel, Sasuke langsung menuju ke arah lift. Sakura ikut saja kemana Sasuke membawanya, walaupun lokasinya agak aneh menurutnya. Kenapa tidak di restoran lain saja? Tetapi ia percaya bahwa Sasuke orang baik-baik. Jadi tak ada sedikit pun perangsaka bahwa Sasuke akan berbuat sesuatu yang tak baik padanya.
Ting!
Pintu besi itu terbuka karena Sasuke menekan tombol anak panah ke atas. Tak ada orang selain mereka yang sekarang sudah berada di dalam lift. Sasuke menekan tombol yang menggambarkan angka sepuluh. Setelah itu, mereka hanya berdiri. Hening masih saja melingkupi keadaan sekarang. Ego di hati masing-masing tak dapat dikalahkan. Entah kenapa, lift ini terasa lama sekali bergerak.
Ting!
Pintu lift terbuka. Sakura langsung melihat bagian atas lift, angkanya bukan sepuluh, melainkan tujuh. Dan segerombolan orang masuk sehingga Sakura harus merapat pada Sasuke dan ruangan sempit ini menjadi bertambah sempit dan sesak. Sakura semakin risih saja. Rasanya ia mau cepat-cepat keluar dari lift ini. Dia merasa kalau udara di lift ini kurang banyak. Karena memang penghuni lain di ruangan ini berbadan dengan ukuran jumbo. Terlihat perut mereka yang maju ke depan seakan mau keluar dari sempitnya kemeja yang dipakai. Sakura hanya bisa menggeleng-geleng sembari menyabarkan diri. Sasuke yang tahu Sakura merasa sangat tak nyaman, hanya bisa sabar juga.
"Sabar," gumam Sasuke pelan. Karena jarak mereka dekat, Sakura mendengarnya. Sakura memandang Sasuke dengan tatapan sinisnya, ia tersenyum sinis.
"Sok care!" balas Sakura ketus. Sasuke hanya mengangkat bahunya sekilas sebagai jawaban, entah apa maksudnya, tetapi Sakura tak peduli. Ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu memasang wajah yang ditekuk.
Ting!
Pintu lift kembali terbuka. Bola mata emerald Sakura langsung jelalatan melihat angka di sana. Ternyata angka sepuluh! Hati Sakura senang tak terkira, akhirnya ia bisa lepas dari belenggu sesak nafas yang melanda dirinya. Begitu para pria dengan perut seperti ibu hamil itu keluar dari lift, Sasuke dan Sakura lekas keluar. Sakura langsung mengambil nafas banyak-banyak layaknya ikan yang kekurangan air. Sasuke tidak menunggu Sakura untuk menyelesaikan acaranya yang bertingkah seperti orang kampung, ia malah melanjutkan langkahnya menuju restoran tempat keluarganya berkumpul. Sakura yang ditinggal Sasuke, berlari cepat agar tidak tersesat dan salah arah maupun jalan.
Mata tajam Sasuke melihat dimana rombongan keluarganya sedang berkumpul. Tepat di meja ujung dimana mereka bersebelahan dengan kaca jendela yang mengkilap bersih dan besar. Sasori yang mengetahui keberadaan mereka langsung memanggil mereka untuk bergabung. Sakura berjalan mendahului Sasuke dan segera duduk di samping Sasori. Sasuke menyusul dengan duduk di antara kedua orang tuanya.
"Kalian lama sekali," komentar Mebuki sambil memangku wajahnya dengan tangannya. Sasuke dan Sakura hanya tersenyum paksa lalu menangguk.
"Maaf," balas mereka berdua dengan kompak. Kedua Ibu yang ada di situ tersenyum penuh arti. Sedangkan kedua anak mereka memalingkan wajah masing-masing.
"Sudahlah. Kalian ini memang cocok untuk ditunangkan," ungkap Mikoto dengan senyum lebar. Kedua bola mata Sakura langsung membelalak tak percaya.
"Tu-tunangan?" ulang Sakura dengan gagap karena tak percaya. Kedua perempuan paruh baya itu langsung mengangguk semangat.
"Kami ini baru anak yang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tak mungkin kalau kami ditunangkan!" protes Sakura yang memang tidak terima. Sasuke hanya diam saja. Toh, itu adalah kemauannya sendiri. Untuk apa ia menolak? Dia juga sudah tahu bagaimana karakteristik kedua orang tuanya. Setiap rencana yang telah mereka susun tidak bisa dibatalkan karena mereka berdua sama-sama orang yang keras kepala.
"Tenang saja, Sakura. Kalian hanya bertunangan, tidak melakukan pernikahan. Kami tahu. Kami telah memikirkannya matang-matang," balas Kizaki dengan raut wajah meyakinkan. Sakura menghela nafas.
"Astaga! Kenapa hidupku sama seperti drama yang sering ditayangkan?!"racau Sakura dengan nada frustasinya. Bukannya merasa iba, ibunya dan Ibu Sasuke malah tertawa kecil. Sakura yang tadi menundukkan kepalanya kini mendongkakkan kepalanya.
"Apa yang lucu?" ketus Sakura.
"Kamu kan sudah pacaran dengan Sasuke. Kalian saling mencintai. Ibu tahu, mata-mata kami yang mengatakannya. Ya, kan? Sasori, Itachi?" ujar Mikoto dengan menatap Sasori dan Itachi secara bergantian. Sasori keringat dingin karena tatapan tajam Sakura. Lain dengan Itachi yang santai-santai saja. Ia terkesan bangga karena sudah dikatakan mata-mata. Sakura pun merapatkan tempat duduknya ke Sasori sampai tak ada batas antara tempat duduk mereka.
"Tunggu saja hari pembalasanku, Sasori-nii. Lihatlah, pasti akan lebih pedih dan sadis!" bisik Sakura yang membuat Sasori bergidik ngeri. Ia tersenyum sarkastik. Sasori meneguk ludahnya. "Matilah aku. Kenapa kau harus jujur, Bu?" batin Sasori menyesal.
"Halo, Fugaku," sapa seorang wanita yang memakai setelan formal pegawai kantor. Tetapi setelan itu pastinya lebih mahal daripada setelan biasa karena perempuan ini juga melengkapi penampilannya dengan perhiasan yang dibilang mahal. Dan wajahnya mirip sekali dengan Gaara. Sasuke ingat siapa perempuan ini. Dia adalah Karura, Ibunya Gaara.
"Kau datang juga rupanya Karura," Fugaku menjawab. Karura tersenyum mengejek.
"Hotel ini milik suamiku. Wajar saja kalau aku datang ke sini. Lagipula, aku ingin melihat berlangsungnya acara pertunangan anak bungsumu," Fugaku tersenyum, Karura juga balas tersenyum. Sakura menatap Karura dengan pandangan tak percaya. "Tuhan! Jadi, rencana pertunangan itu akan dilaksanakan hari ini? Astaga! Apakah ini sebuah mimpi buruk darimu?!" batin Sakura dengan frustasi
"Ah, salah satu kolega terbaikku datang. Kau membuatku tersanjung," balas Fugaku.
"Biasa saja. Aku bukan kolega terbaikmu. Bagaimana kabarmu, Sasuke, Itachi?" Karura kembali memasang senyum manisnya. Sasuke dan Itachi membalasnya dengan senyum tipis.
"Kami baik, nyonya Karura," balas Itachi. Sakura berdiri dari tempatnya lalu menghampiri Sasuke yang masih duduk manis di bangkunya karena dia tidak tahan mendengar semua percakapan antara pebisnis yang membuat kepalanya pusing.
"Kurasa aku dan Sasuke harus bicara empat mata," ungkap Sakura dengan menarik lengan baju Sasuke, karena ditarik-tarik Sasuke pun berdiri. Melihat gerakan Sasuke yang sepertinya terpaksa, Sakura hanya menampilkan senyum terpaksanya. Kelima insan manusia berusia uzur itu pun mengangguk pertanda setuju.
"Mungkin bisa ditambah dengan empat mata lagi," celetuk Itachi yang direspons Sakura dengan tatapan paling tajam darinya.
Tak mau banyak basa-basi lagi, Sakura dan Sasuke langsung undur diri dari hadapan para kerabat. Sasuke ikut saja walaupun dia tidak tahu kemana akan dibawa. Sakura menarik lengan Sasuke sampai ke balkon. Sesampainya di balkon, Sakura melepaskan tarikannya.
"Kau mau bicara tentang apa?" tanya Sasuke langsung. Sakura mendengus keras. Dia sungguh tidak suka dengan nada bicara Sasuke yang dingin dan datar. Sok cool! Padahal dia kan pria yang penuh dengan romantika tadinya.
"Kau tidak perlu sok begitu. Aku ingin membicarakan masalah pertunangan itu!" jawab Sakura dengan ketus dan muka yang ditekuk.
"Kenapa bicara padaku. Bukankah kita sedang musuhan?" Dada Sakura terasa panas. Ternyata Sasuke melakukan pembalasan padanya. Sialan! Kalau begini dia tidak terima! Dia harus membalasnya juga!
"Cih! Kau angkuh sekali, ya! Ya, sudah! Pembicaraan kita berakhir sampai di sini saja!" ketus Sakura dengan wajah memerah karena marah. Sakura pun berbalik badan dan melangkah pergi, tetapi Sasuke dengan cepat menarik pergelangan tangan Sakura.
"Kau mau apa, sih?! Lepaskan tanganmu ini!" bentak Sakura tak terima. Sasuke hanya tersenyum tipis yang membuat Sakura bingung tak mengerti.
"Aku hanya bermain-main saja. Wajar saja kan, supaya score kita satu sama," Sakura menghentakkan tangannya dengan kasar. Mereka berdua pun kembali bertengger di balkon menikmati indahnya langit malam.
"Kau tahu masalah pertunangan ini?" tanya Sakura lagi. Sasuke terkekeh pelan.
"Tentu saja," balas Sasuke dengan senyum tipis. Mulut Sakura terbuka lebar dengan mata membulat seakan mau melompat keluar.
"Ka-kau... Kenapa kau tidak memberitahunya padaku?!" Lagi-lagi Sasuke terkekeh pelan. Lalu tangannya melayang ke kening lebar Sakura.
"Kau saja yang pelupa. Bukankah aku dan Itachi menginap di rumahmu karena itu adalah salah satu usaha keluarga kita untuk mendekatkan kita? Ingat? Sebelumnya kita memang sudah direncanakan untuk bertunangan," jelas Sasuke panjang kali lebar. "Hahaha aku memang lupa," Sakura tertawa pelan.
"Memangnya kenapa? Kau tidak suka? Kau tidak mau bertunangan denganku?" Sakura menggeleng pelan.
"Tidak. Hanya saja, aku rasa hidupku sudah persis dengan drama yang ditayangkan di televisi. Kita masih terlalu dini," Sakura mengeluarkan opininya sembari menidurkan kepalanya di kedua lipatan tangannya.
"Kalau kau tidak mau bertunangan, tidak apa. Aku hanya ingin semuanya berdasarkan perasaan, bukan paksaan," balas Sasuke yang menenangkan hati Sakura. Sakura mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang yang bersinar kepada Sasuke yang menerawang langit.
"Pengertian. Tapi, tak masalah juga. Pertunangan ini sebagai lambang kalau kita saling memiliki dan terikat, kan? Aku mau melakukannya,"
Mereka berdua saling memandang. Sakura menengakkan kepalanya dan menatap Sasuke lebih dalam. Tanpa sadar, jarak di antara mereka semakin menyempit saja. Kening mereka pun bertemu, lalu hidung mereka bersentuhan. Bibir mereka telah berhadapan namun tak sedikit pun bertemu. Sasuke mengerjapkan matanya. Dia sadar diri dan menjauhkan diri dari Sakura dengan mundur beberapa langkah.
"Maaf. Aku lepas kendali," gumam Sasuke. Sakura mengangguk mengerti.
"Acara pertunangannya mungkin sebentar lagi akan mulai. Kau masih mau di sini?" Sakura kembali mengangguk. Sakura mengambil tangan Sasuke dan tangan mereka berpegangan erat satu sama lain. Setelah itu Sakura meletakkan kepalanya di bahu Sasuke. Mereka berbicara dengan pelan sambil menunjuk bintang yang bersinar terang.
Tanpa mereka sadari, dua orang manusia yang sejenis tengah melakukan kegiatan rutinnya. Siapa lagi mereka kalau bukan pasangan kita, Sasori dan Itachi. Para detektif yang disewa orang tua masing-masing itu tengah menguntit Sasuke dan Sakura. Diam-diam, Itachi mempotret beberap adegan yang menurutnya bagus.
"Hey, itu sudah cukup," ujar Sasori dengan menghalangi Itachi untuk mengambil gambar Sasuke dan Sakura. Namun, laki-laki itu bandel. Dia masih saja memotret pasangan serasi itu.
"Ini bukti kepada Kaa-san supaya dia percaya kalau Sakura mau bertunangan dengan adikku," balas Itachi yang masih asyik memotret. Sasori menghela nafas panjang.
"Sudahlah. Terserah kau saja, aku mau kembali ke meja makan saja," Sasori pun berjalan kembali menuju meja makan. Itachi yang melihat partnernya pergi begitu saja langsung menghentikan acara potretnya.
"Dia memang bukan partner yang baik," gerutu Itachi dengan menyusul Sasori yang sudah di depannya.
Anehnya, pasangan yang sedang berpacaran di balkon itu tidak mendengar apapun. Mereka tetap hanyut dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri. Tangan mereka semakin erat saja terpaut. Senyum manis terukir manis di raut wajah masing-masing.
"Ini baru namanya ending," kata Sakura dengan senyum. Sasuke balas tersenyum sampai kedua matanya menyipit. Sasuke pun mengacak-acak rambut Sakura.
"Kau ini bertingkah menggemaskan membuat aku ingin memelukmu," Sasuke pun membuat Sakura jatuh ke dalam pelukannya yang hangat, Sakura pun balas memeluk Sasuke. Mereka berdua kembali tersenyum.
To Be Continue
HALLLOOOO! Maafkan saya! Penyakit lama update saya kumat. Saya tidak bermaksud untuk mengecewakan. Tetapi mau bagaimana lagi? Hari-hari saya masih dipenuhi dengan hafalan, tugas, ulangan, dan sudah diming-imingi dengan ujian nasional nanti. Jadi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kali ini saya harus telat update lagi. Dan satu alasan yang biasa sekali menghambat saya untuk update, yaitu kuota modem yang habis karena dimainkan oleh adik-adik saya untuk hal-hal yang kurang berguna. Untuk itu, saya mohon maaf sekali lagi. Sekian dari saya, sekarang lebih baik kita mulai acara membalas review yang datang ke chapter kemarin.
Ballinkris : Hahaha.. Iya dongg. Siapa dulu dong yang buat? Gue gitu lohh #songongkumat Terserah deh mau manggil nama, as long as it was my name #elehhh Aku tahu kenapa anda tidak setuju masalah penjelasan letak cium dari laki-laki, secara anda kan mesum tingkat dewa. Jadi saya wajarkan. Sering kali main ke ff kau. Makanya jangan cuman on twitter doang, sono check. Ada new comment pasti. Btw, thansk so much udah nyempetin ngasih review. Yang selanjutnya ditunggu, makasih yoo^^
39 : Oke-oke, ini sudah dilanjutkan. Kamu to the point banget, ya? Saya suka! Review selanjutnya saya tunggu. Untuk review kali ini terima kasih^^
1 : Wkwkwk iya nih. Sebagai warning aja nih ya, nambah lama Sasuke nambah ooc. Karena apa? Karena di next chap, mereka sudah mau menunjukkan karakter asli masing-masing. Hehehe... Syukur deh kalau kamu suka, saya turut bersukacita. Amin deh, amin. Semoga penyakit saya yang satu itu dapat disembuhkan. Makasih ya udah mau ngasih review. Post yang selanjutnya dong^^
Suket alang alang : Penname kamu lucu sekali. Unik deh. Hahaha... Madara nggak usah bangkit deh, seram nanti. Biarinlah Sasuke jadi alay, yang penting hubungan mereka tetep ada, langgenglah pokoknya. Makasih loh udah mau review. Lagi boleh?^^
Azizaaanr : Holaaaa! Memang di sini Sasuke ooc. Mulai dari sini sih sebenernya. Kamu newbie? Sama. Saya juga kok hehehe.. Nggak papa, terserah kamu kok. Yang mana yang nyamannya ajalah. Ini lanjutannya yaa. Oh ya, makasih udah ngereview. Review selanjutnya saya nantikan^^
