12/06/2010 5:01 PM, gue mulai nulis.
Hm! Hm! Ini bener-bener gak biasa! Gue kok mau-maunya mikirin ini fic ampe lebai bgt!
Bayangin! Gue pup ajah, plot Palace Story masiiih aja kebawa-bawa!
Dari sekian banyak temen yang gue kumpulin dari awal sampe sekarang, yang bertahan jadi temen gue hanya si 'Teme' dan Ichi (yg lagi sibuk ujian, gomeeen! Udah ganggu kemaren!). Sisanya? Entahlah... Mungkin mereka jengah dengan keegoisan gue *duile*
Tapi satu hal lagi, yang gue tau pasti, kalo bukan karena dukungan dari review kalian semua, gue gak akan sampai ke titik ini. Titik di mana, gue udah punya style nulis sendiri, dan sedikit kepercayaan diri. XDDD
MAKASIH MINNA-SAMA! *bow*
-IYAH! Gue tau kok kalo kalian mencintai gue MUAHAHAHA *plak* well, i love you too~ *monyongin bibir* gue ngerasa tersandung... eh, tersanjung. = / = buat yang rela review, gue kasih ciuman jarak jauh nih. XD kalian bikin gue bahagiaaaaa... KYAA... karena saat ini, hiksu... hiksu, gue sedang dilupakan oleh temen2 yang dulu ngakunya akrab ama gue. *iyeh! Gue dicampakan! Cuih pret! Curcol* btw buat yang gak berani review silakan euy, review! Gue mah ngerasa gimanaaaa gitu, kalo direview kalian... Spesial gituuu... Dan yang gak punya account, kan bisa review doank. Cukup kasih sembarang kata-kata, aja! Ayo dong... Ayo dong. XDD
Btw, lu tau kenapa gue bisa update secepet ini? Karena kuliah gue tinggal dikit! Dan awal Januari gue mau ulangan, hmm... kayaknya bakalan vakum tuh. XP doain gue bisa nyontek dengan mulus ya!
Gomen sedikit telat! Flashdisk sempet ilang, gue ga bisa submit chap ini, padahal udah selesei tepat waktu.
.
.
Disclaimer:: Kalo gue punya Naruto, gue pasti udah bikin Sasu ama Naru yaoian sejak mereka masih chibi! Sayangnya nggak 'kan? Huhu. Damn you Kusomoto!
Berdasarkan Serial TV 'Princess Hours' dan,
Manga Korea berjudul 'Goong' by Park, So Hee.
Warning:: Angst, Angst, Angst, lot of angst, ooh... I LOVE ANGST! Ufufufu
-Ai_Shirohime-Presenta-
-Palace_Story-
.
Round 16. –Otanjoubi Omedetou, ore wa koibito—
.
.
Saat ia bangun, baik waktu, nama, posisi dan kegiatan sebelumnya, semua hal itu sangat kabur dan sulit sekali untuk diingat.
"Uhh..." pelan-pelan, ingatannya bangkit dari kegelapan, entah berapa lama ia tertidur, tetapi, sungguh, terasa berat di semua sendi, sampai susah bergerak. Walau hanya untuk bangkit dan menggapai air minum di samping ranjang.
PRANGG!
"Naruto-sama! Anda sudah bangun?"
Ia memecahkan gelas berisi air putih itu ke atas lantai, ia sudah begitu yakin bahwa ia menggenggamnya erat-erat. Namun, pada ingatan yang sontak kembali dalam hitungan detik, gemetar dan keringat, hal itu mengacaukan pergerakannya. Membuat persendiannya semakin melemah, dan kabut memasuki mata.
Tanpa alasan jelas, ia tiba-tiba merasa ingin menangis.
Apa yang sedang terjadi pada hidupnya?
Hidup, yang sebelumnya begitu indah dan berkilauan.
.
"Temujin, apa menurutmu, mereka akan membiarkan aku tinggal kalau aku bilang, sedang sakit?"
"Berbohong itu tidak baik, Naruto-sama..."
"Aku tidak ingin pergi..."
"Ini acara ulang tahun Sasuke Ouji-sama, anda 'kan pasangan Yang Mulia, bagaimana bisa, anda tidak menghadirinya?"
"Aku tidak peduli... Sekarang... Sekarang, aku tidak bisa melihat wajahnya, tanpa mempunyai keinginan untuk memukul."
"Saya... Akan menemani anda, Naruto-sama... Anda-... anda, bisa memukul saya, jika anda mau.."
"Oh, Please... Sungguhkah kau akan melakukan apa saja, agar aku datang?"
"Jika itu memang diperlukan."
Pembicaraan ini malah semakin membuat pikirannya kalut, sama sekali tidak memberikan penerangan. Ia tidak ingin peduli pada apapun selain, cara keluar dari Istana ini, keluar dari kurungan emas ini, dari tempat yang sudah menorehkan trauma mendalam. Ia benar-benar, tidak ingin pergi ke acara sialan itu! Ia sama sekali tidak ingin menemui Sasuke, atau siapapun!
Kenapa, Tuhan, suka bermain-main dengan hidupnya seperti ini?
Sebab sama sekali tidak lucu!
"-sama? Naruto-sama?"
Temujin, kau... Pria yang sangat baik, kasim sempurna yang diinginkan bangsawan manapun untuk melayani mereka, kau pintar menjaga rahasia, juga bertanggung jawab atas pekerjaanmu. Tetapi, bukan kau yang ia butuhkan sekarang, ia lebih membutuhkan sosok yang mengerti isi hati dari pada isi kepalanya.
"Aku ingin sendirian sekarang..."
Dan Temujin hilang dalam kedipan mata, kamar luas ini terasa lebih kosong dari pada sebelumnya. Kekosongan, merajutkan kelambu tebal, membuatnya betul-betul hampa, dan takut pada suara sendiri.
Bahkan, ia sendiri meragukan hatinya, kenapa bagian terdalam dan biasanya terjujur itu, menginginkan Sasuke? Seseorang yang sudah benar-benar melukainya, baik jasmani dan rohani?
Nuraninya tenggelam dalam kegelapan, bersama lautan air mata bercampur darah.
Pada arah yang mana ia harus berjalan?
Meraih telepon genggam di meja lampu dekat ranjang, Naruto segera menekan nomer dial-4, "Halo? Gaara-denka?"
"Apa, kau bisa datang ke kamarku? Ku mohon?"
Ia gemetar, kaki terasa dingin, namun perutnya terasa panas? Apa karena, ada sesuatu yang tumbuh di sana? Kira-kira, akan seperti apa anak ini nanti? Semoga, saja... Tidak seperti klan Uchiha, tidak punya rambut ataupun mata yang hitam. Jangan sampai...
Kalau hal itu terjadi, ia tidak akan pernah bisa melupakan Sasuke selamanya.
Ia belum memberitahukan kabar ini dengan siapa pun, entah sampai kapan... Ia ingin merahasiakannya. Bukan karena malu atau apa, namun... Bagaimana bisa? Seorang anak itu bisa hidup oleh cinta 2 orang manusia, mereka tumbuh karena adanya kasih sayang...
Apa yang harus ia lakukan jika, hanya ia sendiri yang bisa memberikan cinta dan kasih sayang itu?
.
"Hei." Suaranya masih terdengar lembut, tanpa bertanya, Gaara segera mengambil tempat di pinggir ranjang si Blonde. Wajahnya memancarkan kekhawatiran, sama sekali tidak menyangka, sosok si Blonde semakin menyedihkan tiap hari.
"Hei." Sementara suara Naruto terdengar parau, kering dan kasar, ia bahkan merasa malu dengan suaranya sendiri.
Tangan Gaara menggapai lengan Naruto yang sedikit terlihat di atas selimut tebal, "Apa kabar?"
"Seperti yang kau lihat." Senyumnya sama sekali tidak alami, seolah-olah, ia sudah lupa cara tersenyum. Entah karena bibir itu pecah-pecah atau apa, Gaara yang memandangi senyuman itu, merasakan kesedihan, menohok hatinya.
"Buruk?"
"Hahahah... begitulah." Ia mencoba tertawa, atau yah, itulah yang ingin ia lakukan, tertawa.
Setelah diam cukup lama, Naruto yang sedari tadi tidak mampu membawa diri untuk menatap si Red-head, sontak kaget saat merasakan sentuhan pelan di pipi kanannya. "Kau mau makan Ramen, Naru-sama?" hangat, baik suara dan sentuhan ini terasa begitu hangat. Apakah suhu di ruangan ini begitu dingin? Rasanya ia sedang seperti menikmati sinar matahari.
"Uhmm... Tidak, tidak sekarang, mungkin nanti." Tolak si Blonde, selain tidak ingin diganggu saat sedang merasakan sentuhan Gaara, ia memang benar tidak bernafsu makan. Apa ini yang disebut 'penyakit hamil'? Ia sulit sekali menelan makanan, karena mual dan semua makanan di mulut terasa hambar.
"Roti? Sandwich atau apa saja? Paling tidak, kau harus makan dengan benar... Naru-sama, kau benar-benar membuatku khawatir." Masih berusaha menawarkan makanan, ia tidak memindahkan tangannya dari pipi Naruto, yang kini pucat dan sedikit dingin.
Tidak lagi memancarkan kehidupan.
Si Blonde, meraih tangan Gaara di pipinya, lalu menekan tangan itu pelan sembari melukiskan senyum kecil, "Maaf sudah membuatmu khawatir, -denka... Tetapi, aku sedang tidak mood untuk makan." Tolak Naruto, ia tidak mau luluh oleh wajah tampan ini, oleh kelembutan yang seolah-olah berusaha melelehkan kebekuan di dalam hati.
Alis yang juga berwarna merah milik sepupu Sasuke itu, mengernyit, berdekatan seperti ingin berciuman, "Makan itu aturan sehari-hari manusia bukan tergantung mood, ayolah... Kau pasti lapar, 'kan? Bubur? Atau kau mau Sup?" ia tidak bisa mengerti, kenapa kekhawatiran berlebihan ini, membuatnya tenang, ia semakin tenang, saat memandangi wajah si crown princess, yang menyerah di bawah tatapannya. Pada mata biru yang kini mulai memancarkan kehidupan itu, ia melemah, semua sendi-sendi kakunya, semua pikiran yang menumpuk, sirna, hilang tak berbekas, meninggalkan satu hal, ia menyukai sosok ini, ia hanya ingin fokus pada pria ini. Seorang Naruto, yang mempesonanya di tengah kegelapan kerajaan.
"Gaara-denka..." Naruto sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak, ia sudah tidak kuat berada di bawah tatapan tajam mata hijau emerald itu.
"Mau, ya?" Gaara menekan sekali lagi,
"Baiklah... Aku setuju karena kau memasang puppy eyes yang lebih imut dari milikku." Ia mencoba bercanda, tetapi hei! Memang itu fakta, sejenak mata Gaara terlihat seperti anak anjing chihuahua di pet shop kota.
Memanggil Temujin yang berjaga di luar kamar, Gaara membisikkan sesuatu sebelum kasim itu pergi. Bercakap-cakap sebentar, Temujin kembali membawa dayang-dayang, di tangan mereka terdapat peralatan makanan, mangkuk besar, panci tanah liat, gelas dan entah apa lagi.
Para dayang-dayang menyiapkan 'sarapan' untuk si Blonde, di atas tempat tidurnya, mereka meletakkan semangkuk Sup ayam jagung, roti dan segelas jus jeruk, sisanya berupa air putih, air teh dan mangkuk air cuci tangan di meja lain.
"Tinggalkan kami," kata Gaara pelan, tanpa menolehkan kepalanya, ia masih fokus pada mata biru itu. "Ayo makan." Ia berbisik, pada sosok yang kini sekarang dalam posisi duduk dan tidak membalas tatapannya, wajah sosok itu merah, entah karena demam atau apa.
"Suapinlah." Gurau Naruto, ia tidak terlalu berharap, namun saat sendok makan yang tadinya akan ia genggam sudah berada di tangan si Red-head, mau tidak mau ia mengembangkan senyuman juga.
Sebuah tangan hangat mengacak-acak rambut pirangnya, begitu menyejukkan, ia menyukai semua sentuhan ini, sungguh-sungguh murni, penuh kepedulian dan kasih sayang. "Manja sekali ya, Naru-sama ini..."
"Hehehe." Ia benar-benar tertawa kali ini.
Mendekatkan badannya pada Naruto, ia meraih satu sendok penuh sup ayam jagung, meniupkan makanan itu dan menunggu sampai si Blonde selesai mengunyah segigit roti.
"Ayo, buka mulutmu." Ia menyodorkan sendok ke depan bibir Naruto, yang kini sudah kembali ke warna aslinya. Bibir itu membuka, dan sendok penuh sup masuk ke dalamnya, "Enak?" tanya si Red-head, jawaban Naruto hanya berupa anggukan pelan.
Baik dari Gaara atau Sup, kehangatan memenuhi perutnya, membuat ia merasa mengantuk dan nyaman.
"Fuuh... Tidak panas, 'kan?" si Red-Head, kembali mengeduk sup ke sendok, mengulangi kegiatan yang sama seperti sebelumnya.
"Tidak." Masih tidak mampu menatap Gaara, Naruto hanya tersenyum dengan tangan sedikit gemetar.
"Sedikit lagi, Naru-sama... Ayo, habiskan satu mangkok saja." Ia layaknya seorang ayah yang sedang mengurusi anak tunggalnya, ia tidak mengerti, namun perasaannya untuk sosok ini, melebihi rasa menyayangi milik orang tua. Ia lebih merasakan, rasa ingin memonopoli, memiliki perhatian itu hanya untuknya.
"Ueh... Aku beneran kenyang! Ugh..." Naruto menutup mulutnya dengan tangan, ia sungguh-sungguh kenyang, entah kenapa, padahal sebelum ini, ia bisa menghabiskan 1-2 mangkuk dalam setengah jam.
"Satu suap lagi!" tekan si Red-head, ia menarik tangan Naruto dari depan mulut yang menghalangi sendok sup masuk, ia meremas tangan itu, menghantarkan aliran listrik. Memaksa mata biru Naruto bertemu dengan matanya, ia tidak menyangka pipi itu sekarang lebih merah dari yang tadi.
"Ump... Iyah-iyah." Membuang pandangan ke arah samping, Naruto baru sekali ini kalah dalam pertandingan puppy eyes, "Nah, gitu dong." Tanpa pikir panjang, Gaara menyodorkan sendok masuk kembali ke dalam mulut si Blonde.
Waktu di sekitar mereka seakan berhenti, hanya menyisakan ruang untuk berdua. Entah berapa lama keakraban ini terjadi, namun semakin lama, keduanya makin tidak ingin berpisah. Di antara kegalauan dan kesedihan, bagi Naruto, inilah oasis yang mampu menjahit lukanya, meski hanya sedikit.
.
Tangannya masih terasa ngilu akibat memukul dinding tadi, bercak biru, merah bercampur di kulit tangan. Entah ada tulang retak atau tidak, ia tidak terlalu peduli.
Ia masih saja, tidak bisa menghilangkan perasaan ingin memukul ini! Padahal dari tadi, ia sama sekali tidak memandang pria itu! Ya, Sasuke! Bahkan saat melihat ujung sepatunya, ia sudah ingin memukul dan muntah di depan wajah si pangeran!
Kenapa ia harus datang? Kenapa!
Matanya masih terlalu sakit untuk kembali menangis, sungguh... Jika menangis sekali lagi, yang keluar mungkin adalah darah. Ia lelah menghitung, berapa kali, ia sudah menangis, meraung dan menumpahkan kekesalannya pada kehampaan.
Dan sekarang, ia masih harus dihadapkan ke acara pointless, meaningless, yang hanya membuang-buang uang rakyat. Semacam acara ulang tahun, kenapa harus diadakan di Atami? Kenapa harus di tempat yang mahal? Apa tidak cukup di Istana saja?
Oh, iya ia lupa. Sasuke 'kan Pangeran, semua yang berkaitan dengannya haruslah high-class, mewah dan menawan.
"Oi, dobe. Aku tidak peduli kau sakit atau apa, kau harus memperlihatkan wajahmu di pesta ini. Jaga martabat bangsawanmu itu, paling tidak sedikit saja."
"A-apa!"
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar alasan lagi, ikuti saja kemauanku." Itulah percakapan singkatnya dengan Sasuke di jet pribadi kerajaan tadi, mengingat nada bicara itu saja, sudah membuat Naruto kesal setengah mati.
Ia muak! Geram rasanya melihat betapa tinggi sosok itu berada sekarang!
Semakin lama, ia makin tidak mengerti, pada perubahan sikap si Raven, apa yang sebenarnya pria ini lakukan?
Apa ia mencoba membuat Naruto membencinya?
Atau ia memang sungguh-sungguh jahat dari lubuk hati, dan semua kebaikan itu hanyalah tameng, agar membuat Naruto jatuh hati lalu kemudian membantingnya ke tanah?
Apakah mungkin, Sasuke sudah betul-betul mencintai Naruto, sampai takut sakit hati?
Jadi Sasuke mencoba menjauhkan diri, dan mencari kebenaran dalam hatinya?
"Tidak mungkin..."
Mana mungkin, gunung kokoh dan sombong seperti Sasuke menunduk pada Naruto, seseorang yang tidak bisa memberikan apapun padanya, kecuali sepotong hati berisikan cinta. Perbedaan di antara mereka terlalu besar, garis yang dulu membentang, hanya berupa garis tipis, namun sekarang, melebar, mendalam dan menghitam. Bagai jurang yang timbul akibat gempa besar.
Mungkin, yang Sasuke lihat, hanyalah ketakutan akan terjatuh.
Jatuh sampai ia tidak bisa lagi bangkit.
Menutup matanya pelan-pelan, mencoba mengiramakan kembali nafas yang tadi tersengal-sengal. Ia menemukan sedikit ketenangan di sini, di sudut sepi di luar bangunan pesta. Merasakan dinding lembab di kening, ia semakin ingin menyandarkannya di sana, mendinginkan kepala yang sempat memanas.
Ia masih ingin bertanya, apa kemewahan wajar dan patut ditukar dengan kebebasan?
"Hah..." seandainya saja ia membawa rokok sekarang, ia tidak akan sekacau ini.
Melepaskan jas yang dikenakan, ia berjongkok sembari melonggarkan dasi di leher, panas masih saja hinggap. Kenapa pula Sasuke harus menggelar pesta taman di cuaca sepanas ini? Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran si Raven. Punggungnya menyentuh permukaan dinding yang dingin, dalam diam, ia mencoba menatap langit, namun segera menyerah, akibat terlalu terang dan menusuk retina.
Rambut si Blonde bahkan tidak tertiup angin akibat terlalu basah oleh keringat sendiri, memegangi dahi, ia mencoba menghalau air keringat yang mencoba masuk ke dalam mata. "Che..."
Dengan tangan ngilu, kepanasan, haus dan lapar, entah derita apa lagi, yang harus ia alami.
Mungkin melihat Sasuke tersenyum bersama Karin, tidak akan terlalu membuatnya sakit hati...
Atau, itulah yang ia paksa rasakan.
.
Entah bagaimana, Temujin bisa menemukannya di tempat persembunyian itu, dan memaksa ia kembali ke pesta. Benar-benar menyebalkan!
Ia tidak suka pesta, keramaian, dan percakapan alot! Ia tidak bisa berbaur, tidak dapat menyatu, rasanya seperti dikucilkan. Ini bukan dunia tempatnya dapat bernafas, seperti ikan laut bebas yang tiba-tiba dicelupkan ke dalam akuarium. Mana bisa ia hidup dalam kotak kaca?
"Ah, Naruto-sama." Ia merasakan tepukan dibahunya, mau tidak mau, ia menolehkan kepala, untuk menemui wajah Sai. Yang masih saja menakutkan sejak terakhir keduanya bertemu, "Ya?"
"Tidak minum?" Dengan etika sempurna, ia menyodorkan segelas air, entah air apa, pada si Blonde.
"Tidak, terima kasih" Menyentuh batang hidung, mencoba menenangkan diri, Naruto menyandarkan tubuh ke sofa besar, ia sama sekali tidak menyangka, ada orang yang menyadari kehadirannya. "Well? Tampaknya anda tidak bisa menikmati pesta."
Ia ingin menghentikan cara bicara Sai yang mencoba sopan itu! Ia tidak suka! Mengintimidasi, meninggalkan kesan mendalam padanya, ia benar-benar takut, sampai tidak mampu menatap mata Sai.
"Ya, aku tidak suka pesta." Cepat pergi sana! Ia menggertak Sai di bawah nafasnya. Mata hitam itu sedikit terbelalak, dengan gaya terkejut yang palsu, si Fake-Smile-Maker, berkata dengan nada sedikit menyindir, "Heeh? Sungguhkah? Bukankah anda seorang bangsawan?"
Ia tidak ingin menjawab, ia akan menutup mulut selama mungkin sampai hama mengganggu ini menjauhinya, namun pada satu pertanyaan ia terhentak, "Apa anda tidak khawatir?"
"Khawatir untuk apa?" Mau, tidak mau, ia menjawab, Naruto merasa alisnya sedikit mengernyit, dan tanpa sadar ia menggigit bibir bagian bawah, atas kecemasan yang tiba-tiba menghantui. Angin dingin bertiup entah dari mana, membuat bulu tengkuk berdiri, Sai yang tadinya sendiri, kini sudah ditemani oleh keroco-keroconya. Inuzuka dan Hoshizuki, remaja high-class, orang-orang yang tidak akan menjadi teman Naruto, selamanya.
"Karin datang lho, barusan aku melihatnya bersama Sasuke di luar." Kiba membuka suara, matanya menunjukkan kesombongan, membuat Naruto kalah dalam pertandingan glare, sekejab saja. Ketiga sekawan ini berdiri dihadapan si Blonde, membatasi ruang gerak, membuatnya tidak bisa melarikan diri, ia terpojok, ia merinding. Namun ia tidak mau menunjukkan itu pada mereka.
"Hah? Ja-jadi kenapa? Mereka 'kan hanya berteman." Kenapa suaranya terbata? Ia bertanya, pada kehampaan yang tidak mungkin akan menjawab. Padahal ia memang sudah melihat Karin dan Sasuke bersama tadi, lalu kenapa, karena ucapan orang-orang ini, ia seketika menjadi panik? Oh, tidak... Rasanya ia, ingin menangis sekarang.
"Siapa bilang 'hanya berteman'?" Suigetsu menyeringai, sungguh menakutkan, saat senyuman itu tidaklah friendly, dan memperlihatkan keangkuhan. Dan Kiba di samping si gigi hiu, dengan melipat kedua tangan di depan dada, bibirnya mengerucut, sembari berkata, "Iya, siapa bilang?"
Mengambil nafas dalam, ia mengumpulkan sisa keberanian di dasar hati, ia berbisik, "Aku?"
Tawa membludak di antara ketiga sekawan ini, Naruto menciut di bawah tekanan mereka, dalam pandangannya, tiga pria ini berubah menjadi harimau yang siap menerkam. Sai, tiba-tiba berhenti tertawa, ia melirihkan kata dengan suara rendah, "Ah, anda? Apakah anda berbicara atas dasar kebenaran?"
"Bagaimana kalau kalian berhenti berbelit-belit, dan katakan saja, apa mau kalian? Aku benar-benar tidak ingin diganggu sekarang." Membuang pandangan ke arah sembarang, Naruto masih mempertahankan harga diri, ia tidak akan menyerah di bawah tekanan macam ini, ia pernah melalui yang lebih berat.
"Hah? Oh, please. Anda pasti tahu apa kemauan kami." Sambut Kiba.
"Kalian tidak mengatakannya, mana bisa aku tahu."
"Baiklah, dari pada memperpanjang obrolan ini. Kami ingin anda melakukan sesuatu." Sai menjorokkan badannya ke arah si Blonde,
"Apa?" ia tahu suaranya bergetar, tetapi, who's give the damn? Siapa peduli! Meraih rambut di dekat pipi, ia menariknya ke belakang telinga, tanpa disadari, rambut keemasan itu, sudah panjang sekarang.
"Anda cukup memperhatikan bagaimana Sasuke dan Karin berbicara, dan rasakan... Cukup lihat, lalu rasakan. Tidak sulit 'kan?" ujar Sai pelan, lalu meminum habis air dalam gelasnya, dan menjauh, bersama Kiba dan Suigetsu.
Haruskah ia menarik nafas lega atau malah menangis ketakutan?
.
Karin membetulkan letak kacamatanya, dalam diam ia menyusun tindakan licik untuk menggoda sang Putra Mahkota. Ia yakin, bahwa si Raven masih mencintainya, dan dengan cara apapun, ia akan mendapatkan Sasuke kembali.
"Uhm, ini hadiah dariku, Sasuke-kun."
Ia menyodorkan kotak kecil berhiaskan pita biru, dan kertas pembungkus sederhana berwarna senada. Menyajikan senyuman simpul, ia menjorokkan bibirnya ke telinga Sasuke, "Semoga kau suka..." ia berbisik lembut.
Saat ini, sang Pangeran sedang membuka satu-satu hadiah yang ia terima. Duduk di sofa merah yang begitu mewah, ia tetap tampak paling berkilau di antara teman-teman high-classnya. "Terima kasih, Karin.." ia hanya tersenyum tipis, sembari memperhatikan isi hadiah dari si Meganekko, yang ternyata i-pad black. Ia memang menginginkan barang ini, namun selalu tidak punya kesempatan untuk membelinya.
Di belakang kerumunan itu, Naruto dengan perasaan takut-takut meremas bungkusan di tangannya. Ia sama sekali tidak percaya diri dengan hadiah yang dibawa, meski enggan, mau tidak mau, ia harus peduli juga akan acara ini.
Sasuke sudah berusia 20 tahun sekarang, makin lama, sosok itu semakin terlihat tampan dan mempesona. Ia memang masih menyimpan kemarahan, namun oleh ilusi si Raven, ia tunduk dan melemah.
Dari dulu, ia memang tidak bisa marah berlama-lama.
Lalu, hadiah demi hadiah mewah, bergeletakan di kanan kiri Sasuke. Ia sungguh-sungguh terlihat seperti royal prince, yang bersinar dan semakin membuat si Blonde ingin mengurungkan niatnya memberikan hadiah.
Mengambil langkah seribu, Naruto menghilang ke luar ruangan pesta dan sambil memeluk bungkusan hadiahnya di dada. Dengan nafas naik turun, ia menggigit ujung kukunya pelan, "Sasuke..."
"Halo."
Ia nyaris melompat.
"Naruto-sama sedang apa di sini? Apa anda tidak memberikan hadiah untuk Sasuke-kun?"
Karin! Wanita ini sungguh-sungguh Karin! Naruto mengerjabkan matanya, lalu merasa ada ketakutan yang besar merambat naik dari ujung kaki. Menelan ludahnya, dengan tenggorokan kering, ia mencoba menjawab, "Uhm... Na-nanti saja... Aku berikan nanti saja."
Rambut hitam Karin digelung rapi membentuk bulatan indah di atas kepalanya, meski mengenakan hiasan sederhana, tatanan rambut si Meganekko, sungguh terlihat menawan. Ia mengenakan dress cokelat pucat, yang memperlihatkan lekuk tubuh balerina profesional, tidak lupa untuk menutupi bahu, ia membawa syal bulu tebal berwarna senada. Naruto terintimidasi oleh kecantikan ini, membandingkan dirinya yang hanya memakai tuxedo hitam tanpa hiasan khusus, ia dan Karin terlihat bagaikan the beauty and the worst. The worst costume ever!
"Eh? Kenapa begitu... Sekarang saja..." suaranya begitu terdengar manis di telinga Naruto, namun dalam hati, nadanya begitu menusuk dan menyeramkan. Dengan pandangan takut-takut, ia membalas glare Karin, yang menantangnya dari tadi.
"Aku, akan menyerahkannya sendiri nanti." Ia sungguh takut, tidak tahu kenapa, yang pasti ia takut pada sosok ini! Ia ingin segera menghilang dari sini.
"Heee... Bagaimana kalau aku saja yang memberikan hadiah anda kepada Sasuke-kun." Karin menggapai bungkusan dipelukan si Blonde.
Ugh... Jangan memanggilnya begitu, lirih Naruto, ia tidak suka dengan nada bicara Karin saat menyebut nama Sasuke. Begitu halus dan menggoda, seakan-akan mereka masih bersama saja!
"Ah!" Karin berhasil merebut bungkusan hadiah Naruto dari rangkulannya, si Blonde langsung mencoba meraih benda itu kembali.
Kenapa wanita begitu menyebalkan?
"Sasuke-kun, ini hadiah Naruto-sama, tampaknya Yang Mulia Putri Mahkota tidak berani menyerahkannya sendiri."
Sebelum barang itu sampai ke tangan Sasuke yang sudah siap menyambut, Naruto meraihnya dengan cepat. Mukanya merah oleh rasa malu dan kemarahan, ia melemparkan pandangan kesal pada Karin, yang tampak sama sekali tidak berpengaruh.
"Sini hadiahnya." Sasuke memanjangkan tangannya ke arah sosok Naruto, yang memeluk bungkusan hadiah seperti anak sendiri.
"Eh..." Naruto lupa dengan segala kemarahannya, yang ia ingat sekarang hanyalah, bagaimana cara untuk keluar dari keadaan ini. Ia tidak mau memberikan Sasuke hadiah ini, yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Isinya barang yang ia desain, rancang sendiri, di setiap bordirannya ia selipkan cinta dan harapan.
Ia belum mau memaafkan si Raven.
Ia tidak siap, dan tidak mau membiarkan hatinya disakiti. Lagi.
"Dobe..." Sasuke berdiri dan berjalan mendekatinya, sementara Naruto mengambil langkah mundur.
"Kau mau mempermalukan aku sampai mana, hah? Berikan benda sialan itu sekarang!" bisik sang Pangeran kasar, ia hampir tidak punya muka oleh kelakuan istrinya ini, yang sudah membuat para undangan berbisik curiga.
Menggertakkan gigi untuk meredam kekesalan, ia membuang pandangan ke arah samping, dan mendorong bungkusan itu ke dada Sasuke. Ia tidak peduli lagi sekarang, kalau saja sekarang mereka hanya berdua tanpa ada keramaian ini. Ia pasti sudah mendaratkan tinjunya lagi ke muka si royal prince.
SREK. SREK.
Sasuke tidak peduli dengan kertas pembungkus hadiah itu, ia mengoyaknya hingga terlihatlah bentuk sesungguhnya dari barang pemberian Naruto. "Happi?"
Tawa membahana, memantul-mantul, mulai dari Karin, Sai, Kiba dan semuanya. Mereka tertawa, atas hadiah murahan milik Yang Mulia Naruto-sama, bangsawan terhormat, ternyata hanya memberikan Happi untuk Sasuke.
Ia sudah siap berlari meninggalkan ruangan itu, untuk menyelamatkan harga diri yang tersisa, namun ia masih sempat menatap wajah Sang Putra Mahkota.
Sasuke tidak tertawa.
Sesungguhnya ia ingin memberikan maaf pada pria ini, walau ia sudah begitu banyak disakiti.
Namun, pada situasi yang memaksa semua ini terjadi, ia tunduk, dan berlari dari kerumunan high-class itu.
Juga dari Sasuke.
Ia tidak bisa mengartikan ekspressi Sasuke tadi. Ia masih merabai perutnya yang sedikit sakit, dengan perasaan penuh tanda tanya, ia melangkahkan kaki ke meja makanan di luar ruangan.
Cukup lama ia termenung tanpa berpikir, sampai saat sebuah suara mengejutkannya.
"Hei." Tangan Gaara melambai, ia berjalan pelan mendekati letak Naruto berada. Ia mengenakan jas berwarna hijau lembut, yang tampak sesuai dengan suasana pesta taman.
"Gaara-denka? Ternyata kau datang!" Naruto melepaskan rabaannya di perut dan mencoba mengembangkan seulas senyuman. Meski pipinya terasa kaku, dan sulit untuk tersenyum.
"Ya, aku 'kan sudah janji padamu, Naru-sama." Olok si Red-head, ia tidak mampu membendung keinginannya untuk mengelus-elus kepala Naruto. Ia sudah menyangka, pasti si Blonde tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan pesta yang serba mewah.
"Kamu mau makan, Naru-sama?" tanyanya pelan, Naruto hanya menggeleng cepat, "Aku tidak bisa makan masakan barat..."
"Wah, kebetulan! Aku punya hadiah untukmu. Sebentar, aku ambilkan ya! Jangan kemana-mana."
"Eeeeh? Gaara-denka! Tunggu dulu!"
Sebelum Naruto mencegah, Gaara sudah menghilang, pergi entah kemana. Padahal ia ingin berlindung dengan sosok itu, penyelamatnya dari kegaluan.
Ia sendiri lagi.
Merasa bosan, ia ingin berputar-putar sebentar, sembari menunggu Gaara kembali.
Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah percakapan.
"Aku sudah membatalkan beasiswaku!"
"Terserah, itu keputusanmu."
"Sasuke-kun! Dengarkan aku, dulu!"
"Apa yang harus aku dengar lagi, Karin?"
"Kau bisa menjadikan aku selirmu!"
"Hah? Apa kau gila,hmpp-!"
Naruto berhenti bernafas untuk beberapa saat, ia mencoba membaca situasi yang ia sedang saksikan.
Suaminya sendiri, yang ia nikahi bulan April kemarin, dengan acara pernikahan super besar, sekarang tengah mencium wanita lain...
Ia, pada cinta bertepuk sebelah tangan miliknya, berkata, bahwa Sasuke bukanlah milik ia seorang.
Ialah tokoh antagonis di sini.
Ialah yang memisahkan mereka.
Ialah, sosok yang harus segera hilang dari skenario pernikahan ini.
Pernikahan yang sejak awal, tidak pernah terjadi.
Mereka mengecup bibir satu sama lain, dengan sentuhan lembut, yang begitu manis dan penuh cinta.
Ia merasakan, semua kemarahannya sirna, berganti dengan rasa bersalah.
Kenapa, Tuhan harus melibatkannya dalam kisah ini?
Di mana, ia, hanya akan menjadi pihak yang tersakiti.
Ia mengerti apa, yang coba Sai katakan padanya tadi.
Ia, sadar, betapa dua sosok ini begitu cocok, saling membutuhkan.
Seperti Manusia yang membutuhkan Oksigen.
Dan ia hanya jadi karbondioksida, yang seharusnya menghilang.
.
Gaara menyentuh pundak Neji yang tampak terhanyut dalam lamunan, "Ah, maafkan saya, Gaara-sama..." Sang Kasim terkejut bukan kepalang, wajahnya memerah sesaat. Si Red-head, tersenyum simpul dan tidak terlalu ambil pusing, toh, kasim juga manusia.
"Apa kau melihat Naru-sama? Padahal tadi ia, aku suruh tunggu di sini." Tanya Gaara pelan, di tangan kanan, terlihat ia sedang memegang sebungkus kotak di lapisi kain bercorak. Neji yang dari tadi ingin menanyakan benda apakah itu, kini teralihkan oleh pertanyaan si bangsawan muda. "Naru-sama?"
"Maksudku, Naruto-sama." Jelas Gaara, ia tidak sadar, bahwa selama ini ia lebih nyaman memanggil si Blonde dengan sebutan itu.
"Oh. Uhm... Saya tidak melihatnya sejak ia meninggalkan taman. Mungkin saya bisa menghubungi sekuriti, dan menanyakan keberadaaan Yang Mulia Naruto-sama. Uhm... Mohon anda menunggu sebentar."
"Baiklah. Terima kasih, ya."
Mata giok hijaunya, menatap sekeliling, ia merasakan perasaan getir entah kenapa. Instingnya mengatakan, bahwa si Blonde sedang bersedih di suatu tempat.
Dan ia sangat ingin menghibur sosok itu, membuat sosok itu tersenyum lagi. Membebaskannya dari semua masalah, lalu memberikan hidup bebas yang sosok itu dambakan.
"Naru... ada di mana, kau?" ia melirih pada kekosongan.
Setelah menunggu beberapa saat, ia melihat Neji berlari ke arahnya, dengan senyuman di wajah, ia menyambut si kasim ramah. Dan jawaban Neji, sudah sangat membantunya, untuk menemukan sosok itu.
Langkahnya pertama-tama, lambat dan stabil, namun saat kepanikan menyergap lalu membuatnya merasa tidak aman, ia berlari dengan nafas terengah.
Ia sampai pada tujuannya, pada sosok bak matahari itu. Yang kini sedang duduk termangu di dalam bak super besar, pemandian air panas. Ruangan ini begitu panas, membuat Gaara ingin melepaskan pakaian.
"Naru-sama?"
Benar 'kan... insting dan intuisinya mengatakan kejujuran, ia berusaha mengatur nafas, agar berjalan satu-satu. Lalu dengan hati-hati, ia menyusun kata dan tindakan, untuk menyentuh sosok itu.
"Gaara-denka..."
Rambut pirangnya menutupi wajah, membingkai, dan memperlihatkan keindahan mata biru yang berusaha ia lenyapkan di bawah helaian rambut. Wajah sendu itu, mungkin akan membuat siapa saja ikut menangis dengannya. Namun sosok ini tidak sedang menangis, sebab mungkin air mata tidak lagi keluar dari kelenjar air matanya.
Yang kering dan rusak.
"Kenapa... Kenapa setiap aku melihatmu, aku selalu mendapati kau bersedih..."
Ia melupakan segala kata yang ia coba susun tadi, Gaara melangkahkan kaki masuk ke dalam bak, sebelum itu ia meletakkan bungkusan bawaannya ke tempat aman dan melepaskan jas dan sepatu. Ia tidak peduli, betapa tidak nyamannya membasahi diri dalam baju lengkap, dan air panas yang menyengat permukaan kulit. Ia hanya ingin sosok itu, berada di dalam pelukannya sekarang.
"G-gomen..."
Ia lega, saat si Blonde tidak menolak sentuhannya, malah sosok ini terlihat haus akan pelukan. Tangannya yang kurus meraih erat-erat, kemeja Gaara yang sudah basah, dan sebisa mungkin memasukkan wajah di dalam sela leher si Red-head.
"Kau boleh meluapkan semua kesedihanmu padaku, sesekali kau perlu bertumpu pada orang lain, Naru-sama..."
Entah berapa lama, keduanya berendam, tidak melepaskan pelukan, namun saat Gaara sudah mencapai titik didih. Ia mengajak Naruto keluar, berkata bahwa berendam terlalu lama tidak baik untuk tubuh, dan jawaban si Blonde hanya tawa kecil serta permintaan maaf. Mereka keluar dari bak super besar itu, dengan badan melepuh dan dingin yang tiba-tiba menyerang.
Keduanya tersenyum, lalu Gaara meraih bungkusan yang ia bawa tadi, sembari berkata, bahwa ini masakan khas Jepang buatannya sendiri. Naruto tertawa kecil, ia ingin sekali makan makanan buatan tangan si Red-head, ia mengenakan yukata cepat yang ia mampu. Di sebuah ruangan lain, masih di bangunan pemandian air panas, mereka membuka kain pembungkus kotak makanan bersama-sama.
Gaara pun mengenakan yukata sederhana, yang dipinjamkan oleh petugas pemandian.
"Enak?" Si Red-head, merasakan kebahagiaan saat melihat Naruto makan dengan lahap, masakan buatannya. Ia berpikir, akan lebih sering membuatkan makanan ini untuk sang bangsawan.
"Huah... Enak banget! Masakanmu lebih enak daripada buatan ibu..." Naruto berusaha tersenyum dengan mulut penuh, ia memang lebih menyukai makanan khas rakyat jelata daripada masakan mewah a la istana.
"Terima kasih."
"Ah, aku beneran kenyang..."
"Eh, ada nasi di pipimu."
Ia meraih sebutir nasi putih di pipi Naruto yang berwarna cokelat pucat, namun ia kaget saat ada sealir air mata, membasahi tangannya.
"Kenapa... Aku masih saja memikirkan si brengsek itu..." lirih Naruto, ia tidak berusaha menyembunyikan tangisannya.
Bibirnya bergetar-getar, dengan tubuh yang sedikit lemah, ia menumpahkan sedikit dari kesedihan pada Gaara.
Namun, Gaara, tidak berkata apa pun, dan membiarkannya menangis beberapa saat.
Lalu ia menyentuh dagu si Blonde, membuat Naruto yang menangis dalam diam menatap mata hijaunya, ia berkata serius, "Apa yang harus kulakukan agar kau melupakannya?"
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
-Happi, hadiah dari Naruto itu, adalah jubah atau jaket a la jepang yang sering dipake pas festival, namun sering juga jadi penghangat di musim dingin. Kalo versi Princess Hours, itu sepatu 'kan? XD
Wow! 4469 words! Kemajuan! XDDDD
-bacaan gue beberapa hari belakangan ini, manga politik, Kunimitsu! XD seru banget dah.
-Playlist gue, lagu-lagu lama, yang ngingetin gue, waktu nulis lemon di komputer tua gue. OST. Tsubasa Reservoir chro. OST. The Law of Ueki. OST. Naruto Shippuden. OST. Eyeshield 21. OST. Bleach.
Balez REVIEW
== Iyaaah! Junjou Romantica emang the beeeessst! XD~ sampe gemes sendiri kalo baca ini manga! Pengen tereak-tereak kalo ketemu adegan 'wow'nya. *gue sering ngerasa pengen mimisan, tapi gak keluar* Tapi lamaaa bener updatenya! Btw, ada yang tau Uraboku gak? (kepanjangan dari uragiri boku namaewa shiteru bla-bla) baik manga, anime, 2-2nya bikin kesel! Nangguuuung! Mau shou-ai gajuga, yaoi apalagi! ARGH! Kenapa shou-ai terkenal macem loveless, 07-ghost, selalu bikin pembaca gregetan! Dibilang saling suka/cinta, tapi gajuga... Tapi, mereka gajadian ama cewe... GAJEEEEE! *kesel sendiri*
== Ufufufu. Buat Sasuke menderita? HAHAHA! Opkors! Dia akan menderita beberapa chapter lagi! Gue akan buat dia jatuh ke lubang penyesalan, gue bejek-bejek dan gue suruh makan tanah! *lebai* pokoknya menderita lebih dari Naruto! Sampe harga dirinya gak ada lagi! Gue bikin separaaaah mungkinlah~!
== Bener kok! FastFoward! Cari ajah authornya, pasti ketemu banyak fic multichap bikinan dia yang sensasional itu!
Di fandom sasunaru ini gue punya banyak author fav, apa kalian kenal? Mulai dari DarkAlbino, NavyBlueWings, Myfailsave, Camunki, H. K. Keiji, michelerene, Sabaku no Koneko, Juura99, Hitoko-sama, dan banyaaak lagi, XDDD~
Gue kasih spoiler buat round 17, bakalan ada RAPE! R-A-P-E! Vape! Eh Rape! LEMON! Nyehehe LEMOOOON... Mwahahaha... Gue kejam? Emang!
Jangan lupa REVIEW! Tulis soal anda suka gak dng gue, eh fic gue... ato saran dan masukan *walau jarang gue ikutin* XDDDD~ Love you FOOL! Nyekeke. Semoga bisa jadi 400 review! Amiiinn... XDDD
