It's because I like something that I do more than necessary, although there are days when I hate it
The heart is pondering is as it's always putting heart into things
Just what is considered important is different to you and I
I'm not saying to blame others, just act like yourself with each other
Kuroko Tetsuya – Kimi ga Hikari de Aru Tame ni
Awal bulan Februari, aku diharuskan untuk mengikuti ujian akhir sekolah. Begitu juga dengan semua murid SMP se-Jepang. Aku sudah menyiapkan segalanya, materi pelajaran dan mental. Sejujurnya aku bersyukur, semua pelajaran yang tertinggal bisa kukejar, walau hasilnya masih kuragukan.
Di hari terakhir, aku memilih untuk mengunjungi Ogiwara-kun di Meikou Chuugakkou yang berada di distrik Higashiibaraki, prefektur Ibaraki.
Aku merasa ini sudah waktunya aku bertemu dan bicara langsung dengannya. Aku juga tak berniat untuk bicara lewat telepon.
Setelah beberapa belas menit menaiki kereta ke prefektur sebelah, akhirnya sampai di Meikou Chuugakkou. Tanpa bertanya, aku langsung mencari gym. Kemungkinan masih ada yang latihan, meski murid kelas tiga ada ujian. Ternyata benar, banyak yang datang ke gym.
"Hmm? Kau... pemain Teikou?"
Seorang laki-laki menyadari keberadaanku. Aku pun berbalik menghadapnya, menunduk sedikit.
"Ke sini untuk bertemu Shige?" tanyanya to the point.
Aku mengangguk. "Ya."
"Aku teman satu timnya, Mochida," kata laki-laki berambut hitam itu, memperkenalkan diri. Alisnya mengkerut sedikit. "...kau tidak ingat? Apa kau tidak ikut bermain?" tanya Mochida-san.
"...tidak. Walau kita belum pernah ngobrol, tapi aku ingat wajahmu," balasku. "Namaku Kuroko," lanjutku, ikut memperkenalkan diri.
Ia mengajakku pergi agak menjauh dari gym. Takut latihan basket adik kelasnya terganggu karena ada pemain tim lawan datang, mungkin. "Turnamen nasional kemarin, benar-benar menyakitkan. Sejujurnya, bicara denganmu sekarang juga terasa aneh bagiku," ungkapnya tanpa menoleh padaku.
Aku juga tak berani menatapnya. "...maaf." Namun mataku meliriknya sebentar untuk beberapa detik. "Boleh aku—"
"—aa, Shige, ya?" Ia memotong ucapanku karena sudah tahu arah pembicaraanku. "Dia pindah sekolah. Dan juga... dia bilang, dia tak mau main basket lagi."
Deg. Jantungku terasa berhenti mendadak.
Napasku tercekat di tenggerokan.
Kedua mataku menatap sosoknya yang melangkah pelan dengan tatapan tidak percaya. Tanpa sadar kakiku berhenti melangkah dan tidak mengikutinya lagi. Tapi pandangan mataku masih memperhatikan gerak-geriknya.
"...huh!?"
Hanya itu yang terucap dari mulutku.
"Awalnya aku penasaran, kenapa dia mau pindah sekolah padahal sudah tahun terakhirnya di sini. Tapi bocah itu memang selalu pindah-pindah karena pekerjaan orang tuanya," cerita Mochida-san.
Walau diceritakan seperti itu, aku tetap tidak percaya. "K-kenapa..."
"Sebenarnya, orang-orang yang bermain di pertandingan itu bilang kalau mereka ingin masuk ke klub yang lain, bukan klub basket di SMA nanti. Secara langsung juga, pertandingan itu... sudah cukup menghancurkan hati kami," tambahnya.
Kulihat ia menunduk, tapi masih berdiri membelakangiku.
"..." Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Aku sudah... terlambat?
Napasku berangsur-angsur kembali normal, walau tidak sepenuhnya. Aku menahan napas saat mendengar cerita selanjutnya dari Mochida-san tentang Ogiwara-kun.
"...termasuk orang yang paling mencintai basket di tim kami. Tidak... mungkin hanya dialah yang paling mencintai basket dengan setulus hati." Kali itu ia berbalik setengah badan ke arahku. "Tidak terkecuali dia," lanjutnya.
Kedua mataku melebar, napasku kembali tersendat.
"Maaf... Apa yang kukatakan tadi pasti menyinggungmu," katanya seraya tersenyum tipis. "Walau begitu, aku harap, kau tidak akan menyerah pada basket."
"...huh?"
Mochida-san berdiri berhadapan denganku seutuhnya.
"Kenapa kau bilang begitu padaku...?" tanyaku.
Ia agak menundukkan kepala. "Aku bisa mengerti dengan sekali lihat. Sekarang matamu terlihat sama seperti mata kami. Tapi terakhir kali Shige dan matamu bertemu, dia melihat sesuatu," jelasnya.
"Shige cerita, sebelum pertandingan final dimulai, Shige bertemu Kapten Teikou. Dia sangat kuat, menakutkan. Matanya juga dingin. Keempat pemain lainnya juga sama. Semua mata Kisedai terlihat dingin. Ketika dia melihatmu, kau juga sama. Tapi tetap saja, kalian berbeda."
Mochida-san menghela napas.
Aku hanya diam, menyimak semuanya dengan serius.
"Walaupun dia masih syok, dia tidak bisa berkata apa-apa selain memanggil namamu."
"Kuroko..."
Suaranya kembali memenuhi gendang telingaku.
"Tapi di matamu, masih ada kehangatan, Kuroko," kata Mochida-san mengakhiri cerita singkat yang sempat diucapkan dari Ogiwara-kun. Ia tersenyum lagi.
Ogiwara-kun...
Mochida-san diam memandangiku sebentar lalu tangan kanannya mencari sesuatu dari dalam tas. "Ini..." Dari dalam sana, ia mengambil sebuah wristband warna hitam dan menyerahkannya padaku. "...wristband Shige yang selalu dipakainya selama latihan. Ini tertinggal di lokernya. Hanya ada satu, tapi warnanya sama. Kalau mau, kau bisa memakainya," jelasnya.
"Kata Shige, dia tidak punya keinginan untuk membalas di depan mata dingin mereka. Tapi dia yakin kau pasti masih bisa berdiri lagi, dan menghancurkan mata itu," lanjut Mochida-san.
Mataku memandang benda yang ada di telapan tangan laki-laki tersebut.
Ragu.
Tapi ada perasaan lega menyelinap masuk ke dalam hatiku.
Aku ragu, apa aku bisa membenarkan apa yang dipercaya oleh Ogiwara-kun. Di satu sisi aku merasa lega, ia masih percaya padaku. Tapi tetap saja, aku masih merasa bersalah atas semua yang terjadi.
Telapak tangan kananku terbuka ke atas. Wristband itu pun berpindah tangan. Mataku terus menatapnya, lalu tanganku mengepal sedikit.
Maaf...
.
Sepulangnya dari Meikou Chuugakkou, aku memilih menghabiskan waktu sampai sore di lapangan yang biasa jadi tempat latihanku dengan Ogiwara-kun dulu. Hanya ada sekelompok laki-laki yang sepertinya duduk di bangku menengah atas tengah bermain basket. Aku duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan mereka.
Tak ada yang menyadari keberadaanku sampai mereka selesai bermain.
Aku mencoba menelpon Ogiwara-kun sekali lagi, tapi tetap tidak aktif.
Dengan ini, aku sudah benar-benar kehilangannya. Sudah dua kali, tapi aku merasa, kali ini aku tak bisa berkomunikasi lagi dengannya. Bertemu pun rasanya tidak mungkin karena aku tidak tahu dimana dia sekarang. Aku juga tidak tahu, dari mana aku harus mulai mencari.
Aku mengeluarkan wristband milik Ogiwara-kun dari saku celana.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Tangan kananku mengepal. Air mata yang sedari tadi kutahan sudah tak terbendung lagi. "Maaf, maaf, maaf... Sampai hari terakhir kita bertemu, aku tidak bercerita apa yang terjadi, Ogiwara-kun. Aku... Bahkan aku pernah membuat seorang gadis menangis. Aku tak bisa menepati janjiku padanya. Aku..."
Kepalaku mendongak. Langit mulai mendung. Pertanda hujan akan turun cepat atau lambat.
"Apa yang harus kulakukan sekarang...?"
Ujian akhir sekolah sudah kujalani. Di hari terakhir, aku memutuskan untuk mengunjungi Ogiwara-kun. Tapi ternyata ia sudah pindah lagi entah kemana dan meninggalkan wristband-nya. Mochida-san menceritakan semuanya padaku. Dia juga memintaku untuk tidak menyerah pada basket.
~ Tetsuya's 21st Paper End ~
Note : Saya gak maksa readers untuk terus mengikuti fanfic ini kalau memang gak suka. Di warning saya bilang format mirip webtoon atau drabble yang tiap chapter pendek. FYI, awalnya juga saya gak bikin fanfic ini dengan 1.000 chapter, tapi cuma 100 dan temanya tetep seribu burung kertas. Baru kali ini saya diminta menghapus fanfic. Tapi berhubung bukan admin FanFiction. Net yang minta atau (menurut saya) tidak menyalahi aturan, saya pilih untuk meneruskannya. Maaf ya, Haters. ^^a
Mulai chapter 31, saya update seminggu sekali karena fanfic ini keliatan nyepam banget di fandom (update dua minggu sekali). Tiap chapter minimal 1k.
Ganba desu. Terima kasih sudah meluangkan membaca fanfic ZPS! #bow
CHAU!
