Minho membuka pintu kamar Suho, melongokkan kepalanya kedalam. Matanya menelusuri ruangan itu. Pintunya lalu ia tutup kembali. Suho tidak ada.

Adiknya termakan omongannya, lebih tepatnya dirinya yang menghasut. Dia tidak bisa lagi membiarkan ayahnya tidur berdua dengan Kyuhyun. Dia masih mengingat mereka yang pulang pagi-pagi dengan leher Kyuhyun penuh kissmark. Bukan salahnya jika dia memikirkan hal yang negatif. Dia juga tidak mempercayai apapun yang dikatakan ayahnya ketika buktinya sudah terpampang nyata didepan matanya.

Minho berhenti didepan pintu kamar Siwon. Hanya diam menatap pintu kayu itu, tidak berniat mengetuk ataupun masuk. Samar-samar telinganya sekilas menangkap jeritan Suho dari dalam lalu berubah menjadi tawa riang.

Tangannya terulur, menapak ke permukaan pintu lalu mengepal. "Kau yang harus pergi." Desisnya.

.

.

.

"Tidak tidak. Kau harus menggerakkannya kesini Suho. Lalu tekan yang ini." Kyuhyun menggenggam tangan kecil Suho, membimbingnya agar bisa melewati game level 7 itu.

"Ah Suho tidak mau lagi. Ibu jari Suho sudah sakit." Keluhnya sambil mendorong PSP menjauh darinya. Mulutnya lalu meniup kedua ibu jarinya yang sedikit memerah karena terlalu lama menekan tombol PSP.

"Nah lihat. Rasakan sendiri. Daddy melarangmu bukan tanpa sebab." Omel Siwon yang berada disamping Kyuhyun. Dia tidak mengalihkan pandangannya, lebih ingin menikmati acara menonton berita berbahasa Inggris di ipadnya.

"Daddy~~ Ini sakit." Suho menjulurkan tangannya, mencoba menunjukkan ibu jarinya yang memerah. Berharap Siwon mau membantu menyembuhkannya. Tapi ayahnya tidak memperdulikannya. Membuat kerucut membentuk dibibirnya.

"Minta saja pada Kyuhyun hyung-mu itu." Ucap Siwon sedikit ketus. Dia kesal, anak manisnya yang penurut mulai membangkang. Dia tidak menyalahkan Kyuhyun atau siapapun. Bagaimanapun anak sekecil Suho masih membutuhkan hiburan. Siwon tidak mengekang putranya itu agar terus belajar. Dia hanya ingin Suho bisa membagi waktu. PSP tidak baik untuk kesehatan mata.

"Berikan tanganmu." Ujar Kyuhyun setelah menyimpan PSPnya. Ia meniup kedua ibu jari itu sembari mengusap-usapnya.

"Woaa terima kasih hyung. Hyung baik sekali." Suho memandang jarinya yang sudah kembali seperti semula. "Tidak seperti Daddy." Cibirnya.

Siwon mendecak. Lidah putra bungsunya semakin tajam semenjak ada Kyuhyun. "Sudah malam. Ayo tidur." Siwon menarik Suho agar berbaring.

"Tunggu tunggu. Suho ingin bertanya." Teriaknya menghentikan Siwon yang ingin mematikan lampu. Ia kembali duduk diikuti Kyuhyun.

"Suho, besok kau sekolah."

"Tidak hyung. Ini tidak akan lama." Suho menunduk, memainkan jarinya dan mendengung. Matanya melirik kedua orang dewasa yang mengapitnya. "Playboy itu apa Dad?" Tanyanya pelan, nyaris tak terdengar hingga Kyuhyun hanya mengerutkan keningnya.

"Darimana kau mengetahui kata itu?" Tanya Siwon dengan tatapan penuh selidik. Ia mengabaikan pandangan bertanya dari Kyuhyun.

"Jongin. Dia bilang aku tidak boleh terlalu dekat dengan Keriseu karena Keriseu itu playboy."

Siwon menghela nafas panjang. Sebenarnya seperti apa teman-teman sekolah putranya ini? Terutama yang bernama Jongin ini. Pertama mengenai kehamilan sekarang playboy. Astaga. Dia dulu saat seumur putranya hanya tahu yang namanya bermain, bersenang-senang. Apa perubahan jaman seekstrim ini?

Siwon menatap Kyuhyun dan mengedikkan dagunya, menyuruhnya agar menjelaskan pada Suho. Ia sendiri bingung bagaimana harus menjelaskannya. Kyuhyun hanya memutar bola matanya. Hal mudah seperti itu saja pria berumur 35 tahun didepannya menyerah. Ini hanya soal bagaimana memainkan kata.

"Suho sudah belajar bahasa Inggris kan?"

Anak itu mengangguk. "Eum. Daddy juga mengajarkannya."

"Play artinya apa?"

"Bermain."

"Boy?"

"Eunngg laki-laki?" Jawabnya sedikit ragu. Kyuhyun mengangguk membenarkan. "Jadi, Keriseu suka bermain laki-laki? Apa maksudnya?"

Kyuhyun menutup wajahnya, sedangkan Siwon berusaha menahan tawanya. Tidak ingin turun tangan karena dia ingin tahu bagaimana Kyuhyun akan menjelaskan.

"Bukan itu. Maksudnya Kris itu laki-laki yang suka bermain." Jelas Kyuhyun.

"Bermain wanita." Ucap Siwon dengan suara yang pelan dan tidak jelas. Dia mendapat pelototan dari Kyuhyun karena hal itu.

"Jadi Keriseu bukan anak yang baik? Kalau suka bermain berarti tidak belajar? Eh tapi dia bisa berhitung sampai lima puluh."

"Yang perlu Suho ingat. Jangan dengarkan kata-kata aneh dari Jongin." Sahut Siwon memutuskan monolog Suho. "Sudah. Ayo tidur. Matamu sudah memerah."

"Dad, apa Suho tidak boleh berteman dengan Keriseu?"

"Boleh saja. Tapi hanya sekedar bermain dan belajar disekolah." Siwon tidak bisa melarang hal itu walaupun ingin. Dia masih ingat tentang bunga plastik aishiteru.

Setelah memastikan Suho tertidur, Siwon menggesernya kepinggir lalu pergi kesisi kasur lainnya. Berbaring, melingkarkan lengannya kepinggang Kyuhyun dari belakang.

Kyuhyun yang belum benar-benar tertidur merasa terusik. "Apa yang kau lakukan disini?" Kepalanya ia tolehkan kebelakang.

"Tidur dan memelukmu seperti biasa." Ucap Siwon tanpa membuka matanya. Menikmati harum yang menguar dari rambut kekasihnya.

"Pindah sana. Bagaimana kalau Suho terguling kelantai?"

"Tidak akan. Dia sudah terbiasa tidur dikasur sendiri." Telapak tangannya bergerak naik turun diperut Kyuhyun, mengusap. Kebiasaannya baru-baru ini yang sangat menyinggung Kyuhyun.

"Pindah hyung."

Oke. Siwon menyerah bila kekasih kecilnya sudah memberikan tatapan sangat tajam. Jadi dia beranjak lalu menyelip diantara Kyuhyun dan Suho.

"Bukan disini tapi disisi lainnya." Kyuhyun berekspresi malas ketika Siwon hanya tersenyum lebar.

Siwon memutar badannya memunggungi Kyuhyun. Ia meraih tangan Kyuhyun, memposisikan agar melingkar dipinggangnya. "Kau memelukku dan aku akan memeluk Suho. Aman kan?" Siwon menoleh untuk mendaratkan tiga kecupan dibibir yang sangat membuatnya candu itu. Merasa tidak akan ada protes lagi, ia mulai memejamkan mata.

"Kau lupa bagaimana aku tidur?" Tanya Kyuhyun dengan nada datar. Siwon pikir dia akan percaya dengan omongannya? Dia berani mempertaruhkan semua PSPnya jika pagi harinya Siwon tetap memeluk Suho dan tidur memunggunginya.

Akhirnya Siwon membuka mata dan mencebik. Dia tidak ingin melewatkan pelukan Kyuhyun satu malampun. Kebiasaan Kyuhyun menendang saat tidur memang belum hilang sepenuhnya. Pernah sekali ia mendapati Kyuhyun terguling dari kasur, padahal hanya ia tinggal kekamar mandi sebentar. Ketika ia pulang malampun sama saja, posisi tidurnya sangat berantakan. Kyuhyun akan tidur normal jika berada dalam pelukannya.

Siwon mencuri satu kecupan lagi dibibir Kyuhyun sebelum bangkit dan pindah ketempatnya semula. "Kau menyebalkan Suho. Kau merusak kesenangan yang Daddy dapatkan tiap malam. Kenapa kau tiba-tiba meminta tidur bertiga? Daddy belum berencana membuatkanmu adik dalam waktu dekat jika itu yang kau takutkan. Yah Daddy sih ingin cepat sebenarnya. Tapi kau-" Lemparan guling diwajahnya menghentikan racauannya.

"Diam dan tidurlah hyung!" Hardik Kyuhyun dengan suara pelan tapi tajam. Kyuhyun tidak menyangka jika Siwon sebegitu cemburunya pada Suho hanya karena satu malam tak bisa menyentuhnya. Bagaimana jika nantinya mereka memiliki bayi yang pastinya akan selalu menempel padanya? Kyuhyun tidak ingin membayangkan apa yang akan dilakukan Siwon.

.

.

.

Minho merapikan rambutnya dihadapan cermin yang terpasang disalah satu sudut toko pakaian. Rasanya sangat bosan kalau harus menunggu Kyuhyun selesai belanja tanpa melakukan apapun. Ini termasuk perintah Siwon, tak boleh membiarkan Kyuhyun pergi sendirian apalagi ketika tahu Minho sedang menganggur.

Gerakan tangan dirambutnya berhenti. Dari cermin dia melihat seseorang sedang membidikkan kamera kearahnya. Minho melirik kesamping, tidak berani menoleh karena bisa saja wajahnya terlihat dan mendapati Kyuhyun berada disampingnya. Dia tidak bisa memperkirakan sudah berapa lama orang yang ia asumsikan paparazi itu mengikuti mereka. Tapi bisa dipastikan orang itu mengenali Kyuhyun.

Minho menoleh kebelakang. Orang itu tampak gelagapan lalu bersembunyi. Minho memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil barang yang dibawa Kyuhyun kesembarang tempat lalu menariknya.

"Yah! Minho! Apa yang kau lakukan?!" Kyuhyun tidak mengerti kenapa Minho terlihat waspada dengan keadaan sekitarnya dan menariknya kebelakang rak baju-baju.

"Ikuti saja aku. Ada paparazi disini yang mengincarmu." Minho melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Kyuhyun.

"Ap-apa?" Kyuhyun tergagap dan segera menundukkan badannya. Dia tidak perlu ssperti ini jika saja publik tahu Minho adalah anak Choi Siwon.

"Ayo!" Minho berlari cepat ke pintu masuk toko dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Mengamati situasi didalam mall. "Pakai masker ini." Minho memakai topinya dengan sedikit menurunkannya.

Kyuhyun segera memasang masker hitam yang disodorkan Minho sambil berdecak. Apa mereka harus bertindak seperti buronan sampai ke basement? Yang benar saja! Mereka berada dilantai empat dan harus berputar jika ingin turun menggunakan eskalator. Dia juga belum sempat membeli satupun barang.

"Apa sebaiknya kita berpencar saja?" Saran Kyuhyun. Dia merasa risih dipandang setiap orang yang masuk maupun keluar toko.

"Bisa saja jika kau ingat dimana aku memarkirkan motorku dan kau berlari tepat waktu." Sindir Minho. Kyuhyun sangat payah mengingat tempat dan jalan.

"Bersikaplah biasa saja. Kurasa dia belum terlalu banyak mengambil foto." Kesempatan bagus untuk melarikan diri menurut Minho karena mall cukup ramai. "Menyeliplah diantara orang-orang. Ayo jalan."

Kyuhyun menyusul Minho yang berjalan lebih dulu. Dia cukup kesulitan karena Minho berjalan lebih cepat darinya dan berkaki panjang.

"Sial!" Umpat Minho. Dia menarik Kyuhyun untuk lari berlawanan arah. Paparazi itu sangat pandai karena menunggunya didekat eskalator. Beruntung belum sempat mengambil foto mereka walaupun sudah menyadari keberadaan mereka. Masa bodoh dengan orang-orang yang ditabrak dan meninggalkan umpatan untuknya. Yang ada diotaknya hanyalah memikirkan untuk kabur.

Minho menarik Kyuhyun kebalik tembok. Bersandar kedinding dengan nafas terengah-engah. Ini lebih menegangkan daripada yang dipikirkannya. Setelah sedikit tenang, ia melangkah melewati Kyuhyun yang masih bersandar dan berusaha menormalkan nafasnya.

"Setelah kupikir, kenapa kita harus kabur? Jika ada berita keluar abaikan saja. Atau bisa juga kan mengatakan kau temanku?" Ucap Kyuhyun.

"Ucapanmu tidak berguna karena dia sudah melihat kita kabur. Pasti dia sudah berspekulasi kita mempunyai hubungan yang-ya kau tahulah."

"Kau bodoh Minho! Kau sangat gegabah! Pikir dulu sebelum bertindak! Dan tentunya kita tidak akan kesulitan seperti ini!" Teriak Kyuhyun.

"Pelankan suaramu." Desis Minho. "Jika kau merasa pintar, kenapa kau mengikuti hah?"

"Karena aku panik."

"Begitu juga denganku. Jadi lebih baik diam dan sudahi perdebatan tidak penting ini." Minho melangkah, mengintip dari balik tembok untuk mencari keberadaan si paparazi.

"Apa kau melihatnya?" Tanya Kyuhyun. Badan Minho yang berada dihadapannya tidak membantunya sama sekali agar bernafas normal kembali. Hawa panas badan Minho semakin membuatnya panas dan berkeringat. Dia ingin mendorongnya tapi itu akan mengganggu Minho yang sedang melakukan pengamatan.

"Tidak. Mungkin sudah pergi." Minho menoleh dan ingin kembali keposisinya. Tapi sial. Wajah Kyuhyun tepat dihadapannya, dengan mata terpejam dan bibir yang sedikit terbuka.

Minho tidak segera menjauh melainkan menatap intens wajah yang bisa dibilang cantik itu. Wajah yang langsung disukainya ketika pertama kali Siwon mengirimkan fotonya. Wajah itu semakin cantik ketika kelopak mata yang memiliki bulu mata lentik itu terbuka memperlihatkan bola mata yang besar sehitam arang, seperti boneka. Minho melihat kepanikan disana ketika wajahnya semakin maju. Masing-masing tangannya ia letakkan disamping kepala dan bahu Kyuhyun, seolah memenjarakan Kyuhyun. Dia bisa merasakan dorongan tangan didadanya tapi Kyuhyun tak bersuara sedikitpun hingga bibirnya mendarat disudut bibir tebal itu.

"Kau masih ingat ucapanku saat di airport?" Bisik Minho tepat ditelinga kanan Kyuhyun. Sudut bibirnya terangkat sembari perlahan mengangkat kepalanya agar bisa melihat reaksi Kyuhyun.

Mata boneka Kyuhyun membesar. Ucapan itu sudah ia buang jauh-jauh kebagian paling belakang otaknya. Ekspresi Minho yang terbilang datar saat ini walaupun ada seringai tersemat tidak mampu dibacanya. Ucapan yang diulang itu, mau tidak mau membuatnya hanya memikirkan satu spekulasi. Spekulasi yang sangat ia takuti. Penyangkalannya tidak berguna ditambah kecupan yang diberikan Minho.

"Apa maksudmu?" Kyuhyun harus menyelesaikan permasalahannya dengan Minho.

"Aku tahu kau tidak bodoh." Kembali Minho menyampaikannya dengan bisikan.

"Apa yang kau inginkan? Kau membenciku?" Kyuhyun merasa semakin kesulitan menarik nafas. Bukan karena Minho yang tak kunjung berubah posisi melainkan ketakutan akan jawaban Minho mulai menggerogotinya.

"Sudah kubilang tidak." Minho sengaja menghembuskan nafas dileher Kyuhyun.

"Lalu?"

"Johahaesseoyo."

Kekagetan tetap melingkupi Kyuhyun. Jawaban yang paling tidak diharapkannya. Paling dibencinya.

"Aku membenci hubunganmu dengan Daddy."

Rasa lega yang sempat menyelip dihati Kyuhyun hilang. Celah yang diharapkannya bisa ia masuki agar bisa tetap bersama Siwon tertutup sebelum ujung jarinya bahkan menyentuhnya. Kunci utama menolak untuk memasuki lubang kunci.

"Kenapa?" Lirih Kyuhyun. Sebisa mungkin ia menahan air matanya yang sudah terkumpul. Jika terjatuh satu bulir saja Minho akan menganggapnya lemah. Mungkin saja ini hanya permainan Minho kan? Menguji seberapa besar ia menginginkan Siwon.

Minho menjauhkan kepalanya juga lengannya ia biarkan berada disamping tubuhnya. Tawa pendek -meremehkan- ia lontarkan diakhiri dengan decihan. "Kau pikir ayahku benar-benar menyukaimu? Kau? Anak SMA? Apa tidak terbesit dipikiranmu jika ayahku mendekatimu karena dia merindukan putra sulungnya yang seumuran dengamu?" Minho mendengus kasar. "Dia hanya menganggapmu sebagai penggantiku." Minho menekankan setiap katanya.

"Dia tetap mempertahankanku." Tatapan Kyuhyun lurus kedepan. Tidak mau menatap mata Minho hanya karena ingin memastikan kesungguhan. Lebih tepatnya dia tidak mau goyah, terpengaruhi.

"Ayahku orang baik yang tidak mampu untuk membuangmu begitu saja. Dia ingin mempertahankan reputasinya. Dia aktor yang hebat." Senyum kemenangan tercetak dibibir Minho kala melihat air mata Kyuhyun menuruni pipinya.

"Kau tidak tahu apapun!" Sergah Kyuhyun dengan nada tinggi. Matanya nyalang menatap Minho. Minho membunyikan genderang perang dan telah meluncurkan satu bom kepadanya. Tentunya Kyuhyun tidak akan diam, tapi tidak akan membalas dengan melemparkan bom ataupun nuklir. Pengkhianatan lebih kejam daripada apapun.

"Aku hanya memperingatkanmu." Minho berlalu pergi setelah melemparkan senyum separonya. Tidak peduli lagi dengan perintah Siwon atau apapun. Dia sudah cukup puas untuk hari ini.

.

.

.

Kyuhyun merebahkan kepalanya diatas meja ruang tamu. Rasa bosan melanda. Semua tugasnya sudah selesai ia kerjakan. Dia tidak ada pekerjaan apapun. Suho seperti biasa masih dirumah Leeteuk. Sedangkan Minho, dia sudah tidak peduli dengan anak itu sejak bendera perang berkibar diantara mereka. Kyuhyun sudah bertekad untuk menang, ini perang satu lawan satu. Tidak akan melibatkan orang lain sekalipun itu Siwon yang menjadi masalah utama ataupun mencari bala bantuan secara diam-diam. Mereka berdua mencoba bersikap biasa tapi tidak pernah berhasil. Pernah Siwon mengadakan sidang tentang hal ini, dan mereka hanya memberikan alasan konyol yang hanya membuat Siwon mengurut pelipisnya. Sidang berakhir dengan perdebatan tidak penting Minho dan Kyuhyun seperti biasa. Jangan harap hal ini terjadi jika hanya ada mereka berdua, saling melemparkan wajah kesamping adalah wajib hukumnya.

Yang membuat Kyuhyun menaikkan alis, Minho sama sekali tidak berusaha menjauhkannya dari Siwon. Dia pikir Minho akan membicarakan tentang ketidak setujuannya itu atau melakukan apapun agar mereka putus hubungan. Nyatanya tidak. Sedangkan Kyuhyun sendiri juga tidak berusaha bersikap lebih manis pada Siwon guna meningkatkan rasa cinta pria itu padanya lebih besar. Oh man, it's not his style. Menanyakan hal yang dikatakan Minho pada Siwon? Big no. Itu hanya akan memperparah keadaan walaupun itu akan menjelaskan semua masalah. Akan timbul masalah yang lebih besar antara ayah dan anak karena dirinya. Dia tidak suka perseteruan. Dan sialnya dia terlibat hal itu saat ini.

"Hah..." Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Tangan kirinya menyangga dagu sementara tangan satunya memainkan scroll keatas dan kebawah. Dia mengunggah fotonya untuk yang pertama kali ke SNS. Foto dengan bibir bawahnya yang maju lengkap dengan ekspresi bosan. Komentar banyak yang masuk, semua berasal dari fansnya. Meneriakkan keterkejutan atau memuji betapa imutnya dia ditambah emotikon yang baginya sangat menggelikan. Muak, akhirnya dia hapus. Padahal dia menunggu kalau saja Siwon juga akan mengirimkan komentar untuknya melalui akun SNS pribadinya yang lain.

Iseng, jemarinya mengetik dikolom pencarian SNS dengan kata kunci namanya dan Siwon. Bukannya besar kepala, tapi dia mengencani pria super tampan dan paling diinginkan. Bisa saja kan namanya mendadak terkenal?

Tulisan paling atas dan populer adalah sebuah artikel dari media online. Tanpa pikir panjang ia membuka link yang dicantumkan. Isinya video dan memutuskan untuk menontonnya.

Jantungnya rasanya akan keluar tepat dimenit pertama. Itu video mereka berdua ketika di sauna beberapa waktu yang lalu. Bagaimana bisa tersebar? Itu sudah sangat lama sekali.

Kyuhyun memeriksa tanggal kapan berita itu keluar. Kemarin. Kenapa si tukang gosip Eunhyuk tidak memberitahunya sama sekali?

Selama ini Kyuhyun selalu tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentangnya. Tapi hari ini rasa penasarannya muncul, membuatnya membaca setiap komentar yang tertulis. Sudah jelas isinya pro dan kontra. Dia berhenti di satu komentar dan membacanya dengan suara pelan.

'B*tch! Lihat tingkah anak kecil itu! Wajahnya saja yang polos tapi kelakuannya tidak! Disini sudah jelas bahwa sialan itu menggoda Siwon kita. Memeluknya dari belakang lalu naik ke pangkuan Siwon oppa. Mencerminkan sikap seorang p*lacur! Dan kudengar dari temanku yang menjadi trainee di agensi Siwon oppa, si sialan itu juga menjalani training disitu. Menjadi aktor musikal. Dia hanya memanfaatkan Siwon oppa agar mendongkrak popularitasnya juga mendapat jalan mudah untuk debut. Sungguh tidak dipercaya! Kau tidak pantas untuknya bocah! Apa kau tidak mendapat pendidikan yang layak?! Aku sangat menyayangkan Siwon oppa harus bercerai dengan Soojung eonni dan sekarang malah memilih bocah tidak tahu diri itu'

"Memang kau siapa hah?! Kau tidak tahu apapun tentangku! Beraninya kau menghakimiku seperti itu! Kau bahkan lebih buruk dariku!" Kyuhyun berteriak kesal sembari menunjuk-nunjuk layar laptopnya.

Kyuhyun kembali merebahkan kepalanya kemeja dengan kasar, masih bersungut-sungut. Kalau saja dia tahu siapa itu, pasti mulutnya sudah ia robek. Sayangnya dia tidak bisa melakukan apapun untuk membela diri. Namanya dibenci, apapun yang akan ia lakukan sekalipun itu baik dan benar akan tetap terlihat salah dimata orang tersebut. Hatinya sakit mendapat tuduhan seperti itu. Mungkin Siwonpun tidak bisa membelanya, karena Kyuhyun tahu persis bagaimana menjalankan bisnis. Dan dia benci hal itu. Kalah oleh uang. Seakan Siwon lebih mencintai uang daripada dirinya.

Tanpa sadar air mata membasahi pipi Kyuhyun. Siwon tidak seperti itu. Ia percaya akan hal itu. Pria itu punya tanggung jawab terhadap masa depan puluhan artis dan ratusan pekerja. Rasanya Kyuhyun ingin agar Siwon cepat-cepat menikahinya untuk membungkam mulut orang-orang yang meragukan cinta mereka.

"Choi Siwon." Melafalkan nama pria itu membuat Kyuhyun tiba-tiba merindukannya.

.

.

.

Siwon melangkahkan kakinya memasuki rumah sambil melonggarkan dasinya. Dia berhenti sejenak ketika matanya menangkap Kyuhyun yang tertidur dimeja ruang tamu. Kepalanya ia gelengkan, saking pulasnya Kyuhyun bahkan tidak terbangun oleh suara teriakan salamnya.

Siwon berjongkok menghadap Kyuhyun dengan senyum terkembang. Mengelus pipinya sebentar lalu memberikan satu kecupan dibibir. Sepertinya dia harus menggendong kekasih kecilnya ini kekamar agar lebih nyaman.

Jemarinya berhenti, membatalkan niat mematikan laptop yang masih menampilkan artikel yang berisi video tadi, lebih tepatnya di kolom komentar. Siwon menoleh, menatap Kyuhyun yang mulai mengeluarkan dengkuran halus. Siwon tidak tahu mengapa Kyuhyun yang hampir tidak peduli pada apapun membaca hal yang menurutnya tidak penting. Suasana hati Kyuhyun pastinya sedang buruk, artikel itu mempengaruhinya. Terlihat ada komentar yang belum selesai diketik dan dikirim dengan username Game addicted. Komentar khas Kyuhyun, tajam dan menusuk.

"Maafkan aku." Ucap Siwon dengan pelan sembari mengelus pipi Kyuhyun. Dirinya yang dengan tegas mengklaim kekasih Kyuhyun, tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan hujatan yang tiap harinya dilayangkan pada Kyuhyun. Dirinya merasa sama sekali tidak berguna. Terlihat menutup mata dengan apa yang menimpa Kyuhyun. Tidak bisa menjaga orang yang dicintainya dengan baik. Semakin hari rasa bersalah itu semakin memenuhi hatinya.

Siwon tersenyum miris melihat dua jari Kyuhyun terbalut plester yang masih baru. Bahkan kekasihnya mencoba untuk menjadi lebih baik, belajar memasak padahal sudah lama dirinya berkata tidak usah. Sementara dirinya hanya jalan ditempat.

"Maukah kau bertahan sebentar lagi?" Cepat atau lambat Siwon harus membuat keputusan.

.

.

.

Siwon menyandarkan kepalanya kesandaran kursi CEO-nya. Yongsun -manager artisnya- yang mengoceh tentang jadwalnya ia abaikan. Toh setiap hari ia juga akan bertanya sendiri apa jadwalnya.

"Jangan terima tawaran apapun setelah itu." Ucap Siwon.

"Kau yakin? Ada proyek drama yang diprediksikan akan mendapat rating tinggi menunggumu."

"Tolak saja. Aku sudah memutuskan akan berada dibelakang meja ini saja. Kau akan bertanggung jawab mengurusi grup yang akan debut setelah semua jadwal artisku selesai." Cukup berat sebenarnya mengambil keputusan ini bagi Siwon. Akting sudah menjadi bagian lebih dari separuh hidupnya.

Yongsun tidak bisa mengatakan apapun. Itu keputusan bosnya, sudah sepatutnya ia menghormatinya. Lagipula pasti ada alasan dibaliknya. "Apa ini berhubungan dengan kekasihmu?" Tanyanya hati-hati.

"Keluargaku lebih tepatnya." Jawabnya singkat. Siwon bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah pribadi, bahkan dengan Leeteuk. Menurutnya itu masalahnya, dia bisa mengatasinya tanpa melibatkan orang.

"Ah ya, saya mengerti."

"Apa kau juga terganggu? Kau akhir-akhir ini juga populer dikalangan fans." Siwon membereskan beberapa dokumen yang berserakan diatas meja. Setelah ini dia ada jadwal syuting iklan di Daegu.

Yongsun mengusap tengkuknya. "Tidak juga. Bagaimanapun prioritas mereka adalah para idol."

"Baguslah." Siwon berdiri lalu mengambil jas yang ia sampirkan dibelakang kursi. "Jam berapa kita berangkat?"

Yongsun dengan gelagapan membuka buku agendanya. "Mulai syuting jam 11.30 am." Dia lalu melihat arlojinya. "Sebaiknya kita berangkat sekarang."

.

.

.

Kyuhyun berlari disepanjang lorong rumah sakit. Sesekali mengusap air matanya kasar menggunakan punggung tangannya. Dia sangat panik mendapat telepon hampir tengah malam seperti ini. Tidak dipedulikannya tentang betapa bencinya ia dengan rumah sakit atau dirinya yang hanya memakai piyama dan sandal rumah ditengah cuaca yang mulai memasuki musim dingin.

Setelah berbelok dan berlari melewati dua kamar ia berhenti didepan kamar VVIP no. 705. Tanpa menormalkan nafas, ia langsung masuk dengan brutal.

Semua orang yang berada dikamar itu serempak menoleh kearah pintu. Tak terkecuali pria yang duduk dipinggir ranjang. "Kyu~~"

Kyuhyun melangkah dengan mantap kearah ranjang. Bukannya menanyakan tentang keadaan orang itu, ia malah melayangkan geplakan dikepala.

"Apa yang kuucapkan tadi pagi?! Kubilang pakai mobil bukan kereta sialan itu! Kenapa kau mengabaikannya hah?!" Dada Kyuhyun naik turun dengan jelas akibat perasaannya yang campur aduk.

Kyuhyun mengibaskan tangannya kasar ketika Siwon mencoba meraih lengannya. Empat orang lainnya keluar tanpa disuruh. Ini masalah 'rumah tangga' yang tidak seharusnya mereka ikut.

"Ini kecelakaan."

"Kau bilang diserang seseorang itu kecelakaan?! Dia mencoba membunuhmu Choi Siwon!" Air matanya kembali turun dengan deras. Luka dilengan Siwon cukup panjang dan dalam hingga harus dijahit. Betapa sakitnya itu.

Siwon menarik Kyuhyun agar duduk disampingnya setelah emosinya mulai mereda. "Aku tidak apa-apa baby."

"Tapi kau terluka hyung." Kyuhyun melingkarkan lengannya kepinggang Siwon dan menyembunyikan wajahnya dibahu pria itu. Tidak berani menatap luka Siwon ataupun wajahnya yang lebam dan tertempel satu perban.

Siwon diserang seseorang ketika tiba di stasiun Seoul. Begitu keluar dari kereta dan hendak menuju pintu keluar tiba-tiba seorang laki-laki menerjangnya, memukul wajahnya hingga ia jatuh tersungkur. Belum sempat ia membalas, laki-laki itu sudah bersiap menghunuskan pisau lipat kearah lehernya. Beruntung gerak refleknya bagus jadi ia bisa menangkisnya meskipun lengannya yang menjadi korban. Meninggalkan luka sayatan sepanjang 15 cm. Setelah itu staff keamanan datang untuk menangkapnya. Laki-laki itu tidak menunjukkan wajah bersalah sedikitpun, melainkan wajah puas seolah rencana yang disusunnya sejak lama akhirnya terlaksana. Saat digiringpun dia menyempatkan menoleh kearahnya hanya untuk melemparkan seringaian sembari menjilat bibirnya. Menggerakkan bibirnya tanpa suara, 'ini belum selesai'.

"Aku masih hidup, sayang." Siwon mengusap-usap punggung Kyuhyun dengan tangan kirinya yang tidak terluka. Isakan-isakan kecil masih terdengar. "Kau sendiri kesini?"

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya. Ia tadi melompat dari ranjang begitu Yongsun menelpon, menggedor pintu kamar Minho, berbicara cepat pada anak yang telihat mengantuk itu untuk menjaga Suho tanpa menyebutkan hal yang menimpa Siwon. Bak kerasukan setan berlari sampai kejalan raya untuk mencari taksi. Dan terima kasih pada otaknya yang masih sempat memikirkan tentang uang.

"Siapa orang brengsek itu?"

"Aku tidak tahu. Biarkan kepolisian yang mengurus." Bohongnya. "Mungkin seperti biasa. Haters." Siwon masih sangat ingat wajah itu walaupun dulu tidak terlalu memperhatikan.

"Kuharap dia mati membusuk dipenjara."

"Ssshhhh sudahlah." Jauh dalam lubuk hatinya, Siwon juga mengharapkan hal itu. Bisa saja orang itu juga akan menyakiti Kyuhyun.

Kyuhyun menjauhkan diri. Wajahnya memerah terutama hidungnya karena menangis disepanjang jalan. "Bagaimana bisa begitu?! Kau tidak tahu bagaimana kakiku terus bergetar. Kepalaku terus saja memikirkan bagaimana jika kau- jika kau-" Tenggorokannya tercekat, tak mampu mengucapkan kata paling mengerikan itu.

"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian." Jemari Siwon mengusap air mata dipipi Kyuhyun. "Apa kau ingin pulang? Aku akan menyuruh Teddy untuk mengantarmu." Siwon sangat mengerti keadaan Kyuhyun. Tidak masalah jika dirinya harus sendirian di rumah sakit. Anak itu selalu melirik kantung infus dan lengannya yang terluka dengan meringis ngeri.

Kyuhyun mencekal tangan Siwon yang sudah ingin menghubungi managernya yang lain. Pria itu tidak mungkin berteriak apalagi keluar kamar untuk memanggil Teddy dengan keadaannya yang sekarang. Dokter menyarankan agar tinggal dirumah sakit paling tidak sampai besok siang.

Kyuhyun memberikan gelengan kepala. "Aku akan tidur disini saja."

"Kau yakin?"

Kyuhyun mengangguk. "Ya. Disini tidak terlalu bau obat-obatan yang membuatku mual." Dia lalu beranjak mengambil baju rumah sakit diatas meja samping ranjang. "Pelayanan rumah sakit ini sangat tidak memuaskan. Bagaimana bisa mereka membiarkan pasien hanya mengenakan singlet?!" Omelnya. Wajahnya mulai bersemu melihat lengan berotot Siwon, terlihat sangat kokoh.

Siwon melihat tubuhnya, bahkan dirinya tidak menyadari hal itu. Bajunya dirobek begitu saja oleh perawat. Lalu dia ingat Kyuhyun yang menerobos masuk ketika dokter baru saja selesai merawat luka-lukanya.

"Pelan-pelan." Ucap Kyuhyun saat membantu tangan terluka Siwon masuk ke lengan baju yang sudah ia gulung sebelumnya lalu mengancing bajunya. Siwon terlihat sangat kesulitan menggerakkan tangan kanannya. Pasti kaku dan rasanya sangat sakit.

"Tidurlah dulu disini. Aku akan menelpon eomma agar kerumah besok pagi."

"Aku tidur disofa saja. Jangan membantahku kali ini. Aku takut melakukan hal yang bisa membuat lukamu makin parah." Kyuhyun sangat tahu diri. "Tapi apa itu tidak menganggu eomma? Ini sudah malam. Lagipula aku bisa pulang pagi-pagi sekali besok."

"Kau yakin bisa bangun pagi?" Tanya Siwon sambil mencari nomor telepon ibunya diponsel.

Kyuhyun menggembungkan pipinya karena pria itu meragukannya dan dia juga merasa tidak bisa melakukannya.

"Bawa selimut itu jika sudah ingin tidur."

Kyuhyun hendak protes tapi Siwon sudah terlanjur berbicara dengan Leeteuk. Daripada menganggu akhirnya dia keluar untuk mencari selimutnya sendiri.

"Aku baik-baik saja eomma." Ucap Siwon berusaha menenangkan ibunya yang terdengar sangat panik. "Ada Kyuhyun yang menemaniku."

"Bagaimana dengan Suho?"

"Kurasa Kyuhyun tidak mengatakan pada anak itu. Jika iya sudah pasti dia berada disini." Siwon tertawa kecil mengingat putra bungsunya yang akan langsung menangis jika melihat seseorang terluka. Bahkan hanya karena terbentur meja tidak terlalu keras.

"Ah menantuku itu sangat tahu bagaimana mengatasi Suho."

"Ya begitulah. Terkadang aku sangat iri melihat Suho lebih suka menempel pada Kyuhyun daripada denganku." Keluh Siwon.

Leeteuk tertawa. "Bukankah itu bagus? Kau jadi-"

Siwon tidak mendengar lagi apa yang dikatakan selanjutnya oleh ibunya. Kyuhyun mengecup singkat bibirnya secara tiba-tiba. Sudah berapa lama anak itu tidak melakukan hal itu padanya?

Siwon tertawa kecil yang membuat Leeteuk menaikkan alis. Seingatnya dia tidak mengatakan hal yang lucu. "Apa yang kau tertawakan?"

"Bukan apa-apa eomma. Ada sesuatu yang membuatku ingin menarik kedua sudut bibirku keatas." Siwon menatap lagi Kyuhyun yang tidur memunggunginya, lebih memilih menghadap sofa. Seluruh tubuhnya termasuk kepala tertutup selimut. Pasti Kyuhyun merasa malu dan sedang merutuki tindakannya itu saat ini. Anak itu masih saja belum berubah.

.

.

.

Siwon dengan tidak rela memutuskan pandangannya pada Kyuhyun yang masih tertidur disofa. Betapapun dirinya ingin memindahkan Kyuhyun keatas ranjang agar lebih nyaman, dia tidak bisa melakukannya dikarenakan kondisinya. Menyuruh orang lain? Siwon tidak akan membiarkan orang lain menyentuh miliknya.

Siwon meraih ponselnya yang bergetar diatas meja. Dia berjalan menjauh dari Kyuhyun begitu melihat nama si penelpon.

"Ya Yongsun. Bagaimana? Apa dia juga yang menyebarkan video itu?" Tanya Siwon tidak sabar.

"Bukan. Bukan Lee Jinki."

Siwon menghembuskan nafas kasar. "Bagaimana dengan aksi teror yang dilakukan pada Kyuhyun?"

"Bukan dia juga. Dia hanya berkata ingin melukai sajangnim."

Sedari awal Siwon sudah menduga hal ini. Lee Jinki menyukai Kyuhyun, tidak mungkin dia melakukan hal dapat menyakiti Kyuhyun. Sudah lama dia ingin cepat menangkap pelaku itu, tapi sangat sulit. Heechul juga belum mengabarinya tentang perkembangan kasus ini.

"Baiklah. Terima kasih. Pastikan juga Lee Jinki mendapat ganjaran yang setimpal."

Siwon menatap pemandangan kota Seoul dari jendela kamar rumah sakit. Memikirkan berbagai macam cara cepat untuk bisa menangkap peneror itu. Semakin lama membiarkannya berkeliaran, bukan tidak mungkin orang itu akan melakukan hal yang sama dilakukan Lee Jinki pada Kyuhyun.

Siwon menempelkan ponselnya kembali ketelinganya. "Noona."

.

.

.

sssssssssssssssssssssssssssssssassssssssssssssssssssssssssssss

Note : Johahaesseoyo artinya aku menyukaimu (past tense)

Jadi bisa menyimpulkan sendiri dong gimana perasaan Minho.

Eh bisa juga sih jadi Saranghae ya sekarang. *digeplak TaemTaem*

Sebenernya kangen sih sama trio EunHaeWook, tapi bingung mau dimasukin scene mana. Hehehe

Ini juga harus aku cut soalnya takut kepanjangan.

Nah jadi Siwon sama Heechul selama ini kerja sama gitu buat nangkep si peneror. Tapi ya gak tahu kenapa sampe sekarang gak ketangkep. Mungkin orang suruhannya kabur bawa uang banyak. #loh

...

Jadi, apa Minho akan berhasil memisahkan Siwon dan Kyuhyun? Apa yang akan dilakukannya? Apa Minho sendiri sebenarnya bekerja sama dengan si peneror agar tidak ada yang mencurigainya?

Silahkan kencangkan sabuk pengaman anda. Hahahaha

THANKS ALL

1-4-3

CU~~~

.

.

.