FF ASTERIUM
Chapter 20 ( close to fin)
Catatan : Tinggalkan jejak setelah baca. Ffn error belum bisa dibuka lewat hp.
.
.
.
.
.
HAPPY READING...
Suasana kelam yang terasa begitu suram, petir menyambar tanpa henti, serta angin yang berhembus kencang. Hari yang dinantikan telah tiba, pertarungan Rainbow Knights dengan Marcus.
Sang Putri telah keluar dari tempat yang digunakannya untuk mencari tau sebuah jawaban. Destiny Book menuliskan sebuah ramalan yang berisi : 'Akhir dari segalanya akan memihak pada yang nyaris tenggelam dalam kegelapan. Titik balik membangkitkan si jiwa dari dasar tempat bersemayam lara roh. Satu kali rotasi adalah pergantian, setengah rotasi yang menjadi waktu untuk sebuah kebangkitan.'
Putri Airen bersama Pangeran Aiden memimpin barisan pasukan. Tak jauh dari sana, Marcus juga sudah bersiap dengan pasukannya – yang sejatinya adalah Asternist. Pengendalian pikiran untuk menggalang pasukan. Taktik jitu sebagai jalan pintas untuk mendapatkan pasukan.
"Lawanmu adalah aku." Sang Putri melangkah maju. Wajah cantiknya bagaikan pahatan sempurna, kecantikan sang putri seolah tanpa celah. Bibir semerah darah, rambut yang kini berwarna merah menyala, juga sepasang netra yang berkilat penuh gelora.
Bibir Marcus membentuk sebuah seringai. Aura kelam menyelimuti dirinya. "Dengan senang hati aku akan menghabisimu." Kilatan netra hitam pekatnya begitu kelam bak batu pualam yang langka.
Trang
Trang
Trang
Dentingan pedang menjadi melodi yang mendominasi perperangan. Semua saling menyerang, Asternist berusaha untuk meminimalisir serangan fisik yang akan berakibat fatal.
DraIce dan DraFire juga ikut bertarung mendampingi Rainbow Knights. Sementara burung Carnation berada di sekitar Putri Airen untuk ikut bertarung menyerang Marcus.
"Kau mengacaukan segalanya." Netra merah sang putri mulai berkilat tajam, tangannya bergerak cepat menangkis serangan bertubi dari Marcus.
Senyuman miring terbentuk, Marcus tak berniat untuk menghentikan serangannya. "Terima kasih atas pujian itu. Aku sangat tersanjung." Ucapnya dengan ringan.
"Marcus... Lebih baik kau hentikan semua ini!" Putri Airen semakin panik tatkala banyak dari pasukannya yang kini tumbang. Ia memang memberikan komando agar tidak ada serangan fatal, sebab itu sama saja memusnahkan Asternist yang berada di bawah pengaruh Marcus.
Wussh
Matcus berteleport tanpa diduga, berpindah ke arah belakang tubuh sang putri. "Tidak akan!"
Trang
Beruntung ayunan pedang dari Marcus berhasil ditangkis tepat waktu. Di sinilah kemampuan sang putri sebagai golden rainbow knight mulai terlihat. Pergerakan yang cepat, akurat, dan terlihat santai namun mematikan.
Trang
Sekali lagi gagal. Marcus mulai merasa jengah karena sang Putri benar-benar sulit untuk ditakhlukkan. "Kalian hanya punya 2 pilihan. Pertama, serahkan Kristal Bintang serta Immortal Diamond secara sukarela." Penawaran yang jelas-jelas takkan disanggupi oleh sang putri.
Trang
Dentingan adu pedang yang kesekian kali. "Kedua... Membiarkan pertarungan ini berlangsung hingga seluruh Asternist yang kau segel pikirannya berakhir mati karena saling menyerang dengan pasukanku." Marcus mengeluarkan serangan dengan asap hitam pekat yang membentuk bola-bola berukuran sebesar kepala. Bola-bola asap itu meluncur dengan cepat dan menghantam tubuh sang putri hingga terpelanting.
"Akkh..." Rintihan sang putri berhasil menarik perhatian seluruh Rainbow Knights.
Putri Airen berhasil ditumbangkan. Keadaan berubah dengan cepat, langit Asterium menggelap dengan petir yang menyambar dari berbagai arah.
Kegelapan.
Melawan.
Cahaya.
Jika kegelapan memenangkan pertempuran kali ini dan mendapatkan immortal diamond. Maka kehancuran alam semesta adalah hasil sesungguhnya.
Tap
Tap
Tap
Marcus mengikis jaraknya dengan sang putri yang tengah beringsut bangkit. Tatapannya yang tajam nampak sangat mengerikan.
Pangeran Aiden mulai merasa panik. Ia menerjang banyak pasukan yang menghalangi jalannya untuk menghampiri sang putri kala melihat Marcus mengayunkan pedangnya. Jika sang pemimpin pasukan perang terbunuh, maka kemenangan adalah hal mutlak yang takkan bisa digaanggu gugat.
"Ucapkan selamat tinggal..." Marcus menganyunkan pedangnya dengan cepat. Kemenangan menyambutnya di depan mata. Hanya melenyapkan sang putri bukanlah sesuatu yang sulit.
Putri Airen menutup mata. Ia berusaha melakukan serangan pikiran jika itu memang bisa dilakukan. Tak ada lagi yang mampu dilakukannya setelah terhantam bola-bola asap hitam yang melumpuhkan beberapa kekuatannya.
Trang!
Ayunan pedang Marcus terhalang oleh pedang berwarna hitam yang muncul secara tiba-tiba. Sementara itu, Putri Airen mengerjapkan mata kala menangkap siluet tubuh penolongnya.
"Raja Siwon..." Semuanya terpaku mendengar lirihan sang Putri. Sosok yang dikira telah musnah kini datang dalam sekejap di detik terakhir.
"Hentikan semuanya Marcus!" Raja Siwon menatap tajam putranya. Memerintahkan agar Marcus mengakhiri semuanya.
Buruk.
Keadaan di Asterium terlalu mengerikan saat ini. Aura kelam yang menguar dari dua penguasa tahta Darklier ; berhasil mengundang badai dan petir yang lebih ganas dari tadi. "Aku tidak akan berhenti!" Sungut Marcus tidak terima. Immortal Diamond akan menjadi miliknya sebentar lagi, jadi tak satupun sosok yang boleh menghalau usahanya.
"Kau tidak bisa membunuhku. Darklier tidak bisa mati karena dibunuh oleh sesama Darklier." Raja Siwon sadar sepenuhnya jika kali ini putranya tidak main-main.
Marcus sangat tidak suka jika ada yang menginterupsinya. "Menyingkirlah!" Biar saja ia tak sopan dengan ayahnya sendiri. Semua ini juga disebabkan oleh ayahnya yang terlalu mengungkungnya selama ini.
"Kau bahkan tidak memanggilku dengan sebutan 'daddy' lagi." Baiklah, Raja Siwon sepenuhnya sadar jika ia takkan bisa mengendalikan Marcus untuk saat ini. Pertempuran akan tetap menjadi pertempuran.
Sang Putri yang tadi bersusah payah bangkit, kini telah berdiri tegap. "Putri Airen... Hanya kau yang bisa memutuskan. Kurasa kini kau telah menangkap rahasia masa lalu itu bersamaan dengan kemunculanku." Ucapan Raja Siwon memang benar. Bersamaan dengan kemunculan sang Raja Darkwarium - putri Airen berhasil mengetahui asal muasal penyebab perseteruan runyam yang berdampak luar biasa bagi alam semesta.
Tap
Tap
Tungkai kaki milik sang Putri melangkah dengan perlahan mendekati Marcus. "Ikutlah denganku..." Tangan kanannya terulur ke depan.
Tik
Satu petikan jari dari Raja Siwon berhasil melenyapkan pengaruh pada Asternist yang dijadikan pasukan oleh Marcus. "Untuk apa aku ikut. Kalian pasti menjebakku!" Marcus tidak sebodoh itu untuk menuruti kemauan sang Putri.
Mengerjapkan mata, Putri Airen sadar jika ucapannya takkan ditanggapi semudah itu. "Aku bersumpah demi setiap tetes darahku. Jika aku menjebakmu, maka Immortal Diamond akan berpindah menjadi milikmu." Sadar sepenuhnya bahwa ucapan ini tidak baik. Bahkan Pangeran Aiden terpaku saat mendengarnya.
"Baiklah..." Janji seorang pewaris tahta tentunya mengikat. Jika sang Putri menjebaknya, maka Immortal Diamond akan menjadi miliknya.
Marcus menerima uluran tangan sang Putri. Perlahan muncul sayap berwarna putih yang bercorak kemerahan dengan kilauan emas di punggung sang Putri. Sayap yang selama ini tak jua muncul.
Wushhh
Teleportasi, sang Putri membawa serta Marcus untuk berteleportasi melintasi waktu. Kekuatan pengendali waktu yang hanya bisa dilakukan oleh keturunan murni Golden Clan.
Flash back
Istana megah dengan lampu-lampu yang menggantung, pilar-pilar penyanggah, serta singgahsana yang terletak di ujung bagian tengah ruangan.
"Daddy, ijinkan aku menjelajah galaxi!" Seorang anak kecil –yang dikenal sebagai Pangeran - menatap tajam pada sang Raja Darkwarium.
"Apa? Jangan bercanda Marcus! Kau masih kecil, lagipula untuk apa kau mengembara?" Tidak akan ada ijin untuk mengembara bagi sang pangeran yang masih kecil. Luar angkasa bukanlah tempat yang aman layaknya sebuah taman bermain.
Sosok kecil bernama Marcus, mencebikkan bibir. Netranya berkilat tajam dan tangannya terkepal di sisi tubuh. "Aku ingin mencari pembunuh mommy." Desisnya sengit.
Raja Siwon menghela nafas. Sadar sepenuhnya jika putranya takkan semudah itu menurut. "Marcus, dengarkan daddy. Mommy-mu sudah tenang, jangan mengungkit tentang kematiannya lagi." Beberapa bulan lalu, sang Ratu telah pergi untuk selamanya. Kematian yang tentunya menggoreskan sebuah luka di hati sang Pangeran.
Netra sang Pangeran mulai berkabut. "Kenapa dia berhak pergi, sedangkan aku tidak?" Menyalak dengan lantang.
Sepasang ayah dan anak itu mulai bersitegang, atmosfir di planet Darkwarium mulai kacau. "Apa maksudmu?" Raja Siwon tak sepenuhnya memahami sang Pangeran.
"Daddy mengijinkan dia mengembara sedangkan aku tidak." Terang sang Pangeran sekali lagi. Pembunuh ibundanya harus segera ia dapatkan. Tak perduli apapun yang terjadi, meskipun ia harus menjelajahi setiap planet di jagad raya untuk menemukan sang pembunuh.
"Kau takkan mengerti Marcus." Lirih Raja Siwon.
Bibir mungil itu tertawa tanpa suara, menertawakan diri sendiri yang selalu terkungkung oleh peraturan di istana. "Daddy benar, aku memang tak pernah mengerti."
Muak!
Jengah!
Sang Pangeran mengangkat dagunya, menatap nyalang pada Sang Raja yang terkesiap. Tatapan itu adalsh sebuah tantangan secara tersirat. Si kecil yang akan menjadi pewaris tahta –mulai mengangkat kedua tanganya – bersiap memberikan sebuah serangan pada ayahandanya.
Flash back off
Pudar.
Kilasan masa lalu yang menampakkan perseteruan tadi mulai melebur layaknya pias cahaya yang tertelan kegelapan. "Kau melihat semuanya kan?" Suara lirih dari Putri Airen mengalun memecah keheningan yang sempat melingkupi.
Marcus menatap Putri Airen dengan lekat. "Ya. Itu adalah saat aku menentang Raja Siwon." Ia masih belum faham mengapa ia dibawa ke masa perseteruan tadi.
"Kau salah paham Marcus..." Ucap Putri Airen. Wajah bersemu itu mulai nampak memucat secara perlahan.
"Apa maksudmu?"
Kepala Putri Airen menggeleng pelan. "Ratu Carissa (Ibu Pangeran Marcus) tidak meninggal karena dibunuh." Titik poin yang memupuk rasa dendam di hati sang Pangeran.
Tertawa mencemooh. Marcus takkan percaya semudah itu. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika mommyku dibunuh oleh sosok kakakku yang ternyata adalah Michael. Bagaimana mungkin kau mengatakan jika mommyku tidak dibunuh." Sungutnya tidak sependapat.
Airen memegang pundak Marcus, menatap sepasang obsidian pekat itu sembari mengirimkan penglihatan yang diperolehnya. "Ratu Carissa meninggal karena keracunan, saat kau berusia 4 tahun bukankah kau kabur dari Istana menuju hutan terlarang hanya karena rasa penasaran akan kehidupan di luar Istana. Ratu Carissa tertusuk semak beracun saat mencarimu, tak ada satupun yang memberitahukan jika ibundamu semakin lemah setiap harinya. Michael yang merupakan Destiner disuruh untuk menyembuhkan Ratu Carissa dengan mantra healingnya. Tapi suatu malam ibundamu sekarat, Michael bersikeras menghisap racun dari urat leher Ratu Carissa." Bukanlah hal yang mudah untuk mengirimkan kilasan masa lalu pada Marcus. Tapi Airen tau jika ia berhasil meyakinkan secara perlahan.
Mengerjapkan mata, Airen menepuk pelan pundak Marcus. "Sayangnya Tuhan berkehendak lain, Ratu Carissa meninggal karena racun itu sudah menyebar hingga ke otak dan jantungnya." Fakta yang selama ini ditutup rapat oleh Raja Siwon pada anaknya sendiri. Berharap agar Marcus tak perlu terpuruk karena tenggelam dalam rasa bersalah.
Membisu. Marcus berusaha untuk menyerap kilasan yang memporak-porandakan perasaannya. Bibirnya mengatup rapat dan rahangnya mengeras. "Michael adalah kakak sepupumu, ia adalah anak dari kakak perempuan Raja Siwon. Ayahmu memiliki darah campuran, Raja Tommy menikah dengan Destiner Laura 400 tahun silam. Raja Siwon memiliki ciri fisik sebagai Darklier tapi Putri Venecia (adik Raja Siwon) tidak, ia 100% adalah Krystalier. Putri Venecia menikah dengan panglima perang Darkwarium, mereka memiliki seorang putra yang kau kenal sebagai Michael. Mereka meninggal saat melakukan perjalanan ke Galaxy TIX."
Michael – Destiner Asterium – memang berasal dari Darkwarium.
"Tidak mungkin!" Teriak Marcus dengan kencang. Masih terekam jelas dalam pikirannya jika sang kakak yang sejatinya adalah sepupu.
"Raja Siwon mengijinkan Michael untuk kembali ke Asterium karena tugasnya sebagai Destiner tidak boleh diabaikan. Michael pergi tanpa mengucap pamit padamu karena kau terus mengusirnya, padahal ia ingin menjelaskan kesalahpahaman. Ia tau jika kau melihat kejadian saat menghisap darah Ratu Carissa seperti vampir yang kehausan." Putri Airen menghela nafas, tangan kirinya memegang perutnya yang mulai terasa tidak nyaman. "Alasan mengapa Raja Siwon melarangmu mengembara adalah karena ia takut kau kecewa. Ia takut kau menyesali perbuatanmu yang kabur ke hutan terlarang. Ayahmu tidak tau jika kau melihat Michael menghisap racun saat itu. Ia mengira kau menjadi tempramental karena terpukul atas kematian Ratu Carissa, itulah sebabnya kau disembunyikan dari penduduk Darklier, karena ia ingin kau berubah menjadi penerus tahta yang bijak setelah didikan ketat yang diberikan." Netra sang Putri meredup. Tugasnya telah selesai.
"Jadi semuanya hanyalah kesalah pahaman?" Marcus melihatnya. Kilasan masa lalu yang diperlihatkan oleh Airen sudah diterima oleh otaknya.
Putri Airen mengangguk pelan. Tidak ada yang salah di sini, semuanya hanyalah masa lalu yang berdampak luar biasa. "Ya... Kau salah paham. Lalu adik perempuanmu yang kau kira diculik, ia juga masih hidup. Ia dirawat oleh Master Im namanya Marry. Sehari setelah terkena racun, Ratu Carissa membawa Marry ke Asterium, adikmu tumbuh dengan baik meskipun ia memiliki darah campuran seperti Raja Siwon." Bayi mungil yang dirahasiakan selama ini oleh para Master atas pesan dari Ratu Carissa.
Marcus tau jika semua itu adalah kenyataan. Tidak ada kebohongan apapun yang terselip. "Maafkan aku..." Masihkah pantas ia meminta maaf setelah membuat semuanya kacau balau? Kehancuran dunia nyaris saja terjadi akibat keangkuhannya.
"Tak apa, sekarang genggamlah tanganku! Kita harus kembali." Putri Airen mengulurkan tangannya. Bibirnya membentuk lengkungan senyum tipis yang tampak menawan.
Keduanya berteleportasi menembus dimensi waktu untuk kembali ke Asterium.
Wussh
Brug
Tubuh sang Putri ambruk begitu saja. Teleportasi waktu yang gagal, mereka terhempas tidak pada tempat tujuan.
"Kau terluka..." Marcus tercengang saat melihat rembesan darah yang ada di sekitar perut sang Putri.
Rasa sakit menjalar dengan cepat. Kelelahan fisik membuat energi menguap, cidera mulai terasa nyilu. "Ukkh..." Lenguhan kesakitan meluncur dari bibir sang Putri. Tubuhnya terhuyung kebelakang – membuat Marcus menangkapnya.
"Racun Carnation." Tangan Marcus terkena tetesan darah. Sensasi panas membakar kulitnya, racun mematikan dari hewan legenda di Asterium.
Nafas mulai terasa sesak, sensasi terbakar merambat melewati setiap aliran darah di tubuh. "Mar-marcus... Antar aku mendekati Pangeran A-aiden!" Sang putri mencengkram bahu Marcus, tubuhnya mulai melemah secara perlahan.
"Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" Marcus mendadak panik, tidak tau kapan sang putri mendapatkan luka.
Degup jantung semakin cepat, tetesan peluh semakin banyak. "Kumohon, cepat bantu aku menghampiri kakakku..." Airen merasakan detik-detik kesakitan. Kematian siap mendatanginya kapan saja, racun menyebar dengan cepat, merusak sel-sel di dalam tubuh.
Wusssh
Marcus membawa tubuh Airen berteleportasi menuju wilayah istana. Di sana, terlihat ribuan Asternist yang sedang diobati. Perang selalu menyisakan luka, kehancuran, maupun keckacauan.
Atensi Raja Denis menangkap siluet tubuh Marcus yang sedang menggendong Putri Airen. "Astaga! Apa yang terjadi padamu Airen?" Sebagai seorang ayah, ia tentunya panik ketika mendapati sang putri terlihat tak berdaya.
"A-aku baik-baik saja..." Bahkan lidah Putri Airen mulai terasa kelu tuk mengucapkan beberapa kata.
Perhatian berpindah, ratusan pasang mata bertumpu pada satu poros. Mereka semua menatap tepat ke arah sang Putri dan Marcus. "Ya Tuhan! Red, kau terluka!" Kesatria dengan irish mata berwarna biru berseru panik.
Ratu Victoria mengikis jarak, mengusap kepala Putri Airen dengan lembut. "Mama menyayangimu." Hati bergemuruh, ibu mana yang tidak sedih kalau melihat anaknya seperti itu.
"Green cepat sembuhkan Airen!" Sang Pangeran berteriak, pikirnya sang adik akan sembuh. hanya dengan healing dari kesatria bermata hijau.
Gelengan kepala menolak. "Ja-jangan Green... A-aku tidak apa-apa." Putri Airen sadar jika healing dari Green tidak akan menghasilkan apapun.
Marcus menghela nafas, memindahkan tubuh Putri Airen pada sang Pangeran.
"Oppa... Aiden oppa, boleh aku memanggilmu seperti itu?" Sepasang netra merah mulai kabur saat memandang, hawa dingin menyebar bersamaan dengan rasa sakit.
Anggukan kepala diberikan. Aiden menatap balas wajah sang adik yang kini memucat, semburat kemerahan di pipi tsk lagi nampak, bibir merah itu juga terlihat seputih kapas. "Ne, kau boleh memanggilku apapun selama kau menyukainya." Degup jantung bergemuruh, ketakutan menyergap.
"Bawa aku ke danau cahaya."
Permintaan itu sontak saja membuat yang lainnya tercengang. Pangeran Aiden menolak tegas. "Tidak! Kita harus ke Life House. Kondisimu sangat buruk Airen." Nafasnya menderu, takut jikalau sang adik tak bisa terselamatkan.
"Ayolah op-oppa, aku tidak ingin ber-berdebat." Tertawa tanpa suara, Airen sadar jika waktunya tidak lama lagi. Setengah tubuhnya mulai terasa kebas, suaranya mulai terputus-putus.
"Baiklah..." Aiden membalikkan tubuh, mengembangkan sepasamg sayap putih yang melengkuk ke depan untuk menghangatkan Airen. Berteleportasi dalam satu kali kedipan mata.
Wussh
Tap
Tap
Tap
Tiga langkah maju, Pangeran Aiden sudah tiba di Danau Cahaya. Iris matanya yang bercotak emas mulai berpendar, cahaya keemasan menguar dari telapak tangan. "Aku ingin berada di tepi danau Cahaya." Sekali lagi, sang putri bersuara.
Menganggukkan kepala, sang Pangeran menuruti permintaan adiknya. Tak berapa lama kemudian Raja Denis beserta Ratu Victoria muncul, selang beberapa detik keenam Rainbow Knights menyusul, begitupun Destiner dan beberapa Master.
Air Danau Cahaya masih terlihat jernih, sepoi angin membelai kulit sang Putri yang kini berada di atas pangkuan Pangeran Aiden. Manik mata berwarna merah sesekali mengerjap, tetesan liquid meluncur membentuk aliran sungai kecil. Ya, Putri Airen menangis. Jemari yang mulai terasa kebas – perlahan terangkat lalu menarik kalung yang menggantung di leher.
Srettt
Kalung dengan liontin batu mulia berwarna merah kini terlepas
"Airen, apa yang kau lakukan? Kenapa kau melepaskan liontinmu?" Aiden merasa terkejut, firasatnya mendadak tidak nyaman. Pasalnya, kalung itu tak pernah terlepas dari leher adiknya. Kalung yang berasal dari Galaxi lain.
"Percayalah padaku oppa..." Senyuman tercetak, wajah Airen sudah tampak pucat seluruhnya.
Tangan kanan sang Pangeran terangkat, mengusap pipi Putri Airen yang terasa begitu dingin layaknya salju. "Airen..." Tak ada kata lain yang terangkai, cukup menyebutkan nama indah itu telah sukses menggetarkan hati yang kalut.
Nafas sang Putri mulai samar, pasokan udara tak lagi masuk dengan normal. Bibir pucat itu mulai merangkai kalimat, iris berwarna merah berkilat. "Tuhan. Hari ini ratusan nyawa Krystalier melayang karena pertempuran ini. Selama ini aku hidup sebagai Rainbow Knight yang mengemban tugas."
Semuanya terpaku, tentu mereka mendengar ucapan sang Putri yang lebih mirip sebagai pembukaan suatu upacara.
Pangeran Aiden mulai was-was, ia masih mendekap tubuh adiknya. "Airen, kita harus kembali."
Ucapan sang pangeran tidak digubris, Airen mengulurkan tangan kirinya, obsidiannya menatap salah satu Rainbow Knight yang hanya diam tak bersuara. "Indigo, berikan Krystal Bintang padaku!" Titah terucap, semua mulai memunculkan tanda tanya dalam benak masing-masing.
Indigo mengangguk, menyerahkan Krystal Bintang kepada sang putri. "Ini..."
Senyum tulus terukir, Putri Airen mengalihkan pandangan ke arah Danau Cahaya. Tangan kirinya telah menggenggam Krystal Bintang yang sempat diperebutkan.
"Detik waktu yang terbuang hanya untuk pengabdian. Rainbow Knights diutus untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Misi terselesaikan dengan baik, pertumpahan darah di atas rerumputan hijau adalah sebuah persembahan. Hidup ataupun mati, semuanya adalah kuasa dari Tuhan yang Agung. Krystal Bintang... Kau adalah batu pengabul segala permohonan, aku meminta dua permohonan tak terbantahkan sebagai Putri Kerajaan Asterium 'Airen Delavina'. Pertama kembalikan Planet Darkwarium beserta kehidupan yang ada di dalamnya sebelum kekacauan ini dimulai, Kedua bersembunyilah ke tempat yang aman agar perebutan seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Terakhir aku memberikan immortal diamon ini untuk Xi Yue, jiwa yang dulu ditukar dengan diriku." Rentetan kalimat yang padu adalah bagian dari upacara pengajuan permintaan pada Krystal Bintang.
Byurrr
Dua benda dilemparkan ke dalam danau - Liontin sang putri dan Krystal Bintang.
Singg
Cahaya muncul dari tengah danau, perlahan cahaya itu menyebar menyeluruh. Menjadikan Danau Cahaya berkilauan.
"Airen! Apa yang kau lakukan?" Tanpa sadar, Pangeran Aiden memekik cukup keras.
Sementara yang lain membisu menyaksikan moment antara Putri Airen dan Pangeran Aiden. Mereka dilingkupi perasaan kalut, banyak pertanyaan dalam benak yang tidak mampu terlontarkan.
"Aku melakukan sesuatu yang menjadi sumpahku." Putri Airen masih memandang ke arah Danau. Binar matanya menyiratkan sebuah penantian.
Yellow terperangah saat sinar keemasan dan corak pelangi muncul di tengah danau. "Danau Cahaya –." Perkataan itu terputus saat siluet tubuh seorang gadis terbentuk tepat di atas permukaan danau.
Sosok itu adalah bentuk dewasa dari sang bayi yang dulu ditenggelamkan ke Danau Cahaya. Sosok Xi Yue yang sama persis seperti di Bumi.
"Kemarilah!" Airen melambaikan tangannya, isyarat singkat agar siluet gadis itu mendekatinya.
Angin berhembus lumayan kencang. Dedaunan yang gugur bergerak menuju ke Danau Cahaya.
"Putri Airen..." Master Xi terpaku, tak menyangka jika sang Putri membangkitkan anaknya.
"Ini mustahil!" Nyaris semua yang melihat – menggumamkan kata yang sama. Keterkejutan menyerang mereka, bahkan ketiga Destiner tak pernah menyangka akan hal ini.
Master Xi dan Liu mendekati sosok Xi Yue yang mulai memijakkan kaki di tepi danau.
"Akkkh!" Rintihan keras membuat semuanya tersentak.
Xi Yue berlari menghampiri sang Putri yang kini tampak kesulitan bernafas. "Tidak! Putri Airen tidak boleh pergi! Putri harus bertahan." Ia baru saja dibangkitkan, tapi kenapa ia harus melihat sang Putri yang berada di ambang kehidupan.
"Akhhh... Ma-maaf Xi Yue, aku sudah tidak sanggup lagi." Airen masih berusaha tersenyum, menggelengkan kepala sebagai isyarat jika waktunya takkan lama lagi.
Jawaban yang sungguh tidak ingin untuk didengar. "Tidak! Putri Airen harus bertahan!" Xi Yue makin histeris. Air mata meleleh, membuat kedua manik mata indah itu mengabur.
Tangan kanan yang kebas perlahan terangkat, mencengkram bahu sang Pangeran yang masih saja membiarkan cahaya keemasan berpendar. "Op-oppa... Bawa aku pulang! Aku ingin tidur di atas ranjang kamarku di Istana." Airen merasakan panas membakarnya dari dalam. Mencabik setiap pembuluh darahnya secara perlahan.
Pengeran Aiden mengangguk, mendekap tubuh sang Putri lebih erat.
Wussh
Teleportasi dilakukan dengan cepat. Kamar milik sang Putri yang didominasi warna putih dan merah. Semerbak aroma bunga mawar tercium, kenyamanan ruangan langsung dirasakan begitu netra memandang pada satu titik.
Tap
Tap
Dua langkah ke depan. Pangeran Aiden membaringkan tubuh adiknya ke atas ranjang. Paras tampan itu sarat akan rasa khawatir yang mendominasi. Tak ada lagi kesan jenaka, semuanya tergantikan oleh sebuah tatapan sendu.
Bibir pucat bergerak samar. "Mom, dad..." Menyerukan dua panggilan nonformal untuk Raja dan Ratu. Kini irish berwarna merah nampak kesusahan untuk sekedar terbuka.
"Kami disini Airen." Ratu Victoria mendekat, mengusap kepala Putri Airen dengan lembut. Raja Denis berdiri di belakang istrinya, menatap khawatir melihat kondisi yang memprihatinkan.
Kelopak mata mulai terasa berat tuk sekedar bertahan agar tetap terjaga, rasa kebas telah merata di seluruh tubuh. "Airen mengantuk mom..." Airen berusaha membentuk senyuman tipis, namun bibirnya tak mau bekerja sama dan justru meloloskan sebuah ringisan kecil.
"Hiks, hiks. Airen..." Tak kuasa menahan tangis, Ratu Victoria mengecup dahi Putri Airen.
Sulit, bahkan sekedar mengangkat tangan untuk menghapus air mata di pipi sang Ibunda Ratu. "Mommy tidak boleh menangis!" Jemari lemtik itu akhirnya bisa mencapai cantik sang Ratu. Bergerak perlahan mengusap air mata yang membentuk aliran sungai kecil di pipi bersemu. "Aigoo... Tangan Airen kotor. Wajah mom jadi berlumur darah." Airen baru sadar jika ia malah mengotori kulit sang ibunda, darahnya membuat bercak di sana. Begitu kontras dan itu tampak sangat mengerikan.
"Tak apa sayang, ini masih bisa dibersihkan." Ratu Victoria menggenggam tangan Airen yang berada di pipi kirinya.
Mengerjapkan mata beberapa kali, Putri Airen merasakan nafasnya yang tidak teratur kini semakin menyeakkan. "Dad, aku suka dengan baby Carnation dan Drafire. Mereka sangat lucu... Akkh..." Rintihan kesekian dari bibir sang Putri. Tarikan nafas dalam terlihat jelas, Putri Airen berusaha mengumpulkan pasokan udara lebih banyak untuk menfisi paru-parunya. "Aku lalai hingga baby Carnation menusuk perutku dengan sulur beracunya. Ia tidak salah karena saat itu aku yang teledor, Pangeran Marcus tidak seharusnya mati karena semuanya berawal dari kesalahpahaman. Ia hanya butuh instrokpeksi diri, biarkan Tuhan yang memberikan hukumannya."
Raja Denis mendekat, mengusap pipi Putrinya dengan lembut. "Airen, Green bisa mengobatimu sayang. Kau harus bertahan!" Tak ingin merasakan kehilangan lagi. Cukup selama ini berada dalam kepura-puraan, menitipkan anaknya kepada Master Xi dan membiarkan Airen merasakan didikan lebih keras dari yang lain.
Airen menggelengkan kepala. "Ti-tidak dad! Green bisa mati jika mengobatiku, racun baby Carnation tidak bisa dihilangkan kecuali dengan tetesan air murni." Racun apapun yang berasal dari makhluk legenda di Asterium takkan bisa dihilangkan. Semua itu sudah tertulis di dalam Destiny Book.
"Tetesan air murni itu hanya ada di surga, kita tidak bisa mendapatkannya." Gumam Pangeran Aiden.
Tak kuat lagi. Tangan Putri Airen mulai terkulai, lepas dari genggaman Ratu Victoria. "Dad, mom, oppa. Airen menyayangi kalian..." Mata itu terkatup, nafas tak lagi berhembus, bahkan kulit putih itu juga sudah terasa begitu dingin. Kalimat terakhir bagaikan sebuah lonceng kematian yang berdentang. Seluruh pepohonan serentak menggugurkan sebagian daun mereka. Danau Cahaya menggelap, beberapa hewan di hutan mulai menyalak. Bahkan DraFire dan DraIce meneteskan liquid bening.
"Hiks, Airen... Hiks, kau tidak boleh mati sayang!" Ratu Victoria berteriak, mengguncang tubuh Putri Airen dengan kencang. Ibu mana yang tidak merasa hancur saat melihat buah hatinya merenggang nyawa.
Raja Denis menarik tubuh istrinya, mendekap erat agar sang Ratu tidak histeris. "Vic, biarkan Airen tidur... Ia sudah lelah dan Tuhan memanggilnya untuk beristirahat di surga." Bahkan lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sebuah kenyataan pahit.
Di satu sisi, Pangeran Aiden mengusap pipi adiknya dengan perlahan. "Tidak! Airen, kau tak boleh pergi! Oppa belum memamerkanmu pada Pangeran di seluruh Galaxy, mereka harus melihat kecantikan Putri Airen yang sebenarnya." Kesedihan memenuhi hati sang Pangeran. Duka cita yang kedua kali harus ia rasakan. "Oppa belum mengajakmu ke air terjun Asterium yang terkenal dengan keindahannya. Kita bisa bermain air seharian penuh di sana." Andaikan time controler mampu membuat Airen kembali hidup, Pangeran Aiden akan melakukan itu. Tapi siapapun tau jika sesama pengendali waktu takkan merasakan efek apapun, semuanya tetap sama meski waktu dihentikan.
Di luar istana.
Keenam Rainbow Knight sedang duduk di atas batang kayu. Mereka sedang sibuk merenung, tenaga terkuras habis untuk bertarung.
Tanpa mereka sadari, keadaan Asterium berubah suram. Langit tak lagi menampakkan bintang, gerumul awan hitam mulai terbentuk di langit. Tumbuhan layu dalam hitungan detik.
"Airen pergi..." Irish berwarna nila menatap langit, dua kata terucap lirih bersamaan dengan sengatan pada simbol naga di punggung tangan.
Yellow menangkup wajahnya yang sejak tadi berlinang air mata. "Indigo, kumohon. Jangan mengatakan sesuatu yang membuat kami membencimu!" Suaranya serak, emosi tertahan membuat pikirannya kalut.
"Airen meninggalkan kita." Kini bukan Indigo yang bersuara, melainkan Blue.
"Hiks, Airen... Kenapa harus dia yang mati?" Isakan Yellow menarik perhatian kelima Rainbow Knight, mereka juga merasa kehilangan. Kekosongan hadir di dalam hati mereka secara mendadak.
Purple mendekati sang kesatria bermata kuning. "Yellow, ini adalah takdir. Tuhan telah menggariskan dari awal jika Putri Airen akan berakhir setelah menyelesaikan misi." Berusaha memberikan sebuah pengertian.
Orange merasakan gejolak lain dalam hatinya. Api berkobar dari kefua tangannya yang terkepal erat. "Ini tidak adil! Jika ia ditakdirkan untuk pergi. Mengapa Tuhan juga menakdirkan Putri untuk hidup terasingkan?" Gemuruh berkelut dalam jiwa, Orange membakar tanah yang dipijakinya. Green hanya terdiam, ia tidak sanggup bersuara. Hatinya merasa sakit karena tidak sanggup mengobati sang Putri.
"Kenapa dengan kalian?" Suara lembut mengalun. Sosok bergaun putih berdiri di dekat keenam Rainbow Knight. Ia adalah Xi Yue – jasad yang bangkit kembali karena Krystal Bintang.
Indigo menghela nafas, manik matanya berpendar. "Putri telah pergi..." Menyampaikan kabar duka yang jujur saja tak sanggup ia ucapkan.
Terbelalak. Xi Yue memundurkan langkah, menatap horor pada Indigo yang tadi memberikan kabar padanya. "Tidak mungkin..."
To be continue...
.
.
.
.
.
Tada!
Nunggu lama ya? Kkkk
Mianhae, Krystal sedang sibuk di RL. Nyicil ngetik ff tiap hari 30 menit. Nggak bisa lebih karena terhadang oleh kesibukan.
Update selanjutnya aku usahakan akhir Maret. Tapi bukan Ending ff Asterium, melainkan ff lain yang bergenre brothership – family.
Masih tetap setia nungguin saya kan? #plakkk
Mohon dimaklumin ya. Krystal kerja dan ngurus rumah juga. Apalagi adik mau ujian. Jadinya harus mendidik adik dengan penuh keteraturan.
Mohon doanya agar Krystal bisa segera dapat tempat kerja yang sedang ditargetkan. Dan doakan juga agar adik saya bisa lulus di UN.
Terima kasih sudah menunggu.
Maaf jika ff ini jamuran nggak dilanjutin melulu. #gubraks
Maaf bila ada typo yang nyempil. Ini tanpa koreksi.
