"Baek?"

"Ada apa Yeol?" Chanyeol mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas roda kemudi, matanya memang fokus pada jalanan, namun fikirannya sedang berkecamuk. Dia terus kepikiran tentang hal ini, bahkan saat dia menghabiskan waktu bersama Baekhyun tadi. Dia ingin memberi tahu pada Baekhyun apa yang terjadi, namun haruskah? Lagipula itu bukan urusannya, dia dan Kai juga tidak berteman akrab, tapi..

"Ada yang ingin aku sampaikan, tapi berjanjilah tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa." Baekhyun mengernyitkan alisnya bingung, namun akhirnya dia mengangguk. Chanyeol menghela nafas sejenak, lalu mulai menceritakan saat dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Sehun dan Kai, serta tentang taruhan yang tidak Kyungsoo sekalipun ketahui. Baekhyun terkejut, sangat terkejut. Lelaki imut itu bahkan sampai menutup mulutnya kaget.

"Ja–jadi, Kyungsoo dijadikan bahan taruhan?"

Chanyeol mengangguk dan Baekhyun mulai cemas dikursinya. Kai tadi kalah, dan itu artinya Kyungsoo harus diserahkan pada Ravi? Baekhyun tak tahu seluk beluk atau apapun tentang Kai dan pria bernama Ravi tersebut, namun dia sangat menghawatirkan Kyungsoo saat ini, sangat.

"Baek? Kau sudah berjanji, tolong jangan katakan pada Kyungsoo ya."

"Tapi Yeol–"

"Kau sudah berjanji sayang. Lagipula, kita tidak berhak ikut campur, biar mereka menyelesaikan urusan mereka. Oke?" Baekhyun terpaksa mengangguk mengiyakan, membuat Chanyeol tersenyum dan mengusap kepalanya pelan. Mobil menepi didekat rumah Baekhyun dan lelaki imut itu bersiap turun.

"Mau mampir Yeol?"

"Tidak terimakasih, masuklah." Baekhyun mengangguk, dia lalu keluar dan berdiri didepan pagar rendah rumahnya.

"Byee Chanyeol." Mobil Chanyeol melaju pergi meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri dengan pandangan kosong. Dia lantas masuk kedalam rumah, menuju kamarnya dan duduk disisi ranjang. Fikirannya berkecamuk, dia risau. Kyungsoo sahabatnya sedang dalam masalah, tapi disisi lain dia sudah berjanji pada Chanyeol. Baekhyun juga tipe orang yang menepati janjinya. Tapi..tapii, ini menyangkut hal serius. Kyungsoo harus tahu atau keadaan akan semakin buruk. Dengan tekad kuat, Baekyun lantas mengambil ponselnya. Selagi menunggu panggilannya diangkat, lelaki imut itu terus berdo'a dalam hati meminta maaf pada Tuhan karna dia sudah berbohong.

"Hallo Baekki?"

Baekhyun menarik nafas kuat. Tidak apa-apa berbohong demi kebaikan kan?

"Kyungsoo.."

.

.

.

Sehun sedang berada dirumah Luhan, menemani bayi rusa besarnya yang sedang sendiriian dirumah. Orang tuanya sedang pulang kampung karna neneknya di Beijing sana sedang sakit.

"Lu, kau tidak tidur?"

"Sebentar lagi."

Sehun mendengus, ingin rasanya dia menendang televisi didepannya tersebut sampai hancur. Bagaimana tidak? Sehun menemaninya disini, tapi Luhan malah asik menonton pertandingan bola kesukaannya. Katanya MU sedang bertanding melawan Barcelona, dan sebagai fans setia MU, Luhan wajib melihat pertandingan tersebut tanpa kelewatan sedetik pun.

"Sial!" Sehun mendengus parah, meneguk sisa sodanya dan membuka bungkus potato. Jika dia pergi tidur duluan, Luhan akan marah. Ah sial, lelaki manja ini sangat menyulitkan, namun bagaimanapun Sehun sangat mencintainya.

Drrt!

Ponselnya bergetar diatas meja, Sehun meliriknya dan menemukan nama Kai tertera disana. Ada apa Kai menelfonnya? Atau jangan-jangan… Sehun segera meraih ponselnya dan menggeser tobol hijau.

"Hal–"

"…"

"Apa? Kau sudah gila hah?"

"…..."

"Kai dengar, kita masih bisa menyelesaikan ini dengan baik-baik." Ucapnya, namun sedetik kemudian Sehun menjauhkan ponsel dari telinganya karna sosok Kai disebrang sana tengah berteriak keras sebelum memutuskan sambungan sepihak. Sehun menghela nafas, menatap Luhan yang kebetulan menatapnya penuh tanda tanya.

"Ada apa?"

"Lu, sepertinya aku harus pergi."

"Pergi? Kemana? Apa yang terjadi?" Luhan mengabaikan pertandingannya, dia lalu berdiri mencoba menahan Sehun yang sibuk memakai jaket dan mencari kunci motornya.

"Sehun, apa yang terjadi?" Namun pria pucat itu mengabaikan pertanyaannya. Sehun memegang kedua bahunya, menatapnya tajam membuat Luhan semakin bingung dibuatnya. Apa apa sebenarnya? Siapa yang menelfon Sehun?

"Kau tetaplah disini. Jangan pergi oke? Aku harus pergi."

"Iya. Tapi ada ap–"

"Akan aku jelaskan nanti." Sehun mengecupnya lalu bergegas pergi meninggalkan Luhan dengan sejuta pertanyaannya. Luhan terduduk dilantai dengan lemas. Apa yang terjadi? Kenapa setelah menerima telfon tadi Sehun jadi gelisah dan bergegas pergi? Luhan sudah tak memiliki selera untuk melihat pertandingan itu lagi. Dia lalu bangkit, berniat mengunci pintu sebelum matanya harus terbelalak menemukan Kyungsoo keluar dari taxi dengan keadaan kacau.

"Kyungsoo!"

"Lulu."

"Hei apa yang–"

"Apa kau tahu kemana Sehun pergi?" Lelaki rusa itu membuka mulutnya. Hei, kenapa Kyungsoo tahu Sehun pergi? Dan apa ini? Kyungsoo hanya memakai piyama dan sedang menangis?

"Kyung, sebenarnya ada apa?"

Kyungsoo menggelang sambil terisak, memegang kedua tangan Luhan erat.

"Tolong bawa aku ketempat Sehun dan Kai."

"Apa?"

"Tolong bawa aku kesana. Hiks, kumohon." Luhan mengedip, seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Nyatanya memang begitu. Dia tak tahu apa yang tengah terjadi saat ini. Sehun pergi dan tiba-tiba Kyungsoo datang sambil memangis meminta ingin bertemu Sehun? Apa kepergian Sehun tadi untuk bertemu Kai?

Namun Luhan tak mau menambah buruk keadaan, dia lalu langsung mengunci pintu dan masuk ke taxi yang tadi ditumpangi Kyungsoo, mengabaikan jika dia hanya memakai celana pendek serta kaos kebesaran warna pinknya. Dia terus memeluk Kyungsoo yang menangis saat taxi membawa mereka menuju Studio. Ya, Luhan fikir pasti Sehun ada disana. Dia juga tak banyak bertanya pada Kyungsoo, dia akan tahu nanti. Yang jelas, pasti adalah masalah besar saat ini. Mereka mencapai studio dan keadaan disana kosong, kecuali sosok Zelo yang tengah bertengkar dengan pria seusianya.

"Zelo!"

"Eoh! Noona?" Luhan mengabaikan panggilan konyol tersebut, dia menggenggam erat tangan Kyungsoo dan mendekati dua pria yang sama-sama terkejut menatapnya.

"Dimana Sehun dan Kai?" Zelo membuka mulut, melirik Kyungsoo yang menangis. Pria itu nampak ragu ingin mengatakan sesuatu sementara Luhan terus mendesak.

"Mereka ada markas Ravi, tawuran." Sahut pria disebelah Zelo, dengan tiba-tiba. Zelo menatapnya lalu mendelik. Sial! Kenapa mulut Hyuk ini ember sekali sih? Kai hyung kan memintanya berjaga disini jika kemungkinan Kyungsoo datang dan mengawalnya pulang, agar dia tak mengetahui yang sebenarnya. Sial!

"Eh! I–itu. Hyuk sialan. Apa sih yang kau katakan?" Zelo memukul kepalanya keras, membuat Hyuk mengaduh dan mengusap kepalanya dengan ekspresi kesal.

"Aku kan hanya bicara jujur!"

"Tapi perintah Kai hyung agar Kyungsoo tidak tahu."

"Itukan perintah untukmu. Perintah untukku adalah, jika Kyungsoo datang maka bawa dia pergi."

"Kau gila ya? Kai hyung bisa menggantungku tau!"

"Ravi hyung juga bisa mengulitiku hidup-hidup!"

"Dasar sialan!"

"Kau yang sialan!"

"Kau yang–"

"CUKUP!" Kyungsoo berteriak, membuat tiga orang disana menatap kaget kearahnya. Kyungsoo yang penuh air mata nampak jengah, menatap kesal pada dua pria tinggi tapi berisik didepannya itu.

"Bawa aku ketempat Ravi dan Kai, sekarang!"

"Ta–tapi."

"Aku sudah tau! Aku tau apa yang sedang terjadi. Kai dan Ravi menjadikanku taruhan kan?"

Hyuk satu-satunya yang tak terlalu terkejut disini, Zelo terkejut karna tak menyangka Kyungsoo bisa tahu hal itu sementara Luhan? Dia juga terkejut bukan main. Kyungsoo dijadikan bahan taruhan? Bagaimana bisa? Sehun pasti tahu hal ini, tapi kenapa dia tidak mengatakan itu padanya? Luhan menatap Kyungsoo, dan seketika merasa kasihan.

"Zelo, cepat bawa kami kesana." Perintahnya.

"Ta–tapi Luhan noo–"

"CEPAT!"

Zelo dan Hyuk saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Meski mereka diperintah oleh dua orang yang berbeda, namun mereka satu tujuan saat ini, yaitu membawa Kyungsoo dengan selamat. Mereka berempat lalu menaiki mobil milik Hyuk menuju tempat kejadian. Sepanjang perjalanan, Luhan tidak tega melihat wajah Kyungsoo yang basah dan tatapan mata memancarkan perasaan sakit. Dia memeluknya erat.

"Kyungsoo."

"Lulu hyung, bagaimana bisa dia setega itu padaku? Padahal aku sangat mencintainya, hiks."

"Dia pasti punya alasan Kyung."

"Hiks, alasan? Alasan apa lagi? Hiks, ini menyakitkan sekali." Kyungsoo menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan keras, membuat Luhan berusaha menahan tangannya atau Kyungsoo bisa melukai dirinya sendiri.

"Kyungsoo, kumohon." Luhan ikut menangis, sungguh dia tidak tega melihat keadaan Kyungsoo seperti ini. Kenapa semua orang tega menyembunyikan hal ini? Bahkan Sehun juga tak mengatakannya. Apa mereka semua bersekongkol?


Author : Miss Galaxy

Title : Truth or Dare? ( Chap 21 )

Cast :

Kim Jong In a.k.a Kai

Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo

And Other Cast

Rated : T

Genre : Yaoi/Shounan-ai, Romance, School life

.

.

.

.

KazekageLaxy present;

Karna saya seorang Kazekage, jadi semua cerita adalah milik saya secara SAH! XDD

DON'T READ IF YOU DON'T LIKE!

WARNING TYHPO! And,

.

.

.

Happy Reading ^^

.

.

.

.

.


Pupil mata Kai melebar, rasa sakit seketika menggerogoti seluruh tubuhnya, membuatnya kesakitan. Semuanya seolah menjadi sangat gelap gulita. Ada sebuah teriakan nyaring disekelilingnya. Apa beginikah akhirnya?

"K–kyungsoo," Lirihnya.

Dia sakit, dia merasa mati saat Kyungsoo yang sudah dia sakiti berlari, berdiri didepannya dan mengorbankan diri, menggantikan tubuhnya untuk ditusuk.

"KYUNGSOO!" Itu teriakan Luhan, yang seketika jatuh berlutut, hampir pingsan jika Sehun tak segera menahan tubuhnya.

"Kyungsoo?" Ravi berguman, matanya membelalak lebar. Dia mundur selangkah, menatap wajah Kyungsoo yang kesakitan sebelum menatap tangannya sendiri yang kotor oleh darah lelaki manis tersebut.

Bruk!

Kai menahan tubuh Kyungsoo yang ambruk. Tangannya bergetar, matanya menatap nanar Kyungsoo yang terpejam dengan pisau tertancap diperutnya. Piyama bergambar pinguinnya basah, merah oleh darahnya sendiri.

"Tidak..tidakk." Kai berguman, mengangkat tubuh Kyungsoo dikedua lengannya.

"Tidak. Kyungsoo..Kyungsoo, apa yang kau lakukan? TIDAK! TIDAAAAKKKK!" Kai berteriak, sangat nyaring dan putus asa. Dia menatap benci kearah Ravi sebelum berlari membawa Kyungsoo kerumah sakit.

Ravi terjatuh, menatap nanar kedua tangannya sendiri sebelum menangis. Kenapa? Kenapa harus Kyungsoo? Sungguh, dia tidak berniat menusuk lelaki itu. Dia ingin menusuk Kai, iya Kai. Orang yang paling dia benci selama hidupnya. Da ingin melenyapkan Kai. Tapi kenapa Kyungsoo malah mengorbankan diri dengan menggantikannya?

Apa karna Kyungsoo sangat mencintainya?

Pria itu terus menunduk, menangis dengan penuh penyesalan. Sementara orang-orang yang masih berada disana menatap pilu kearahnya, termasuk Sehun. Pria pucat itu lalu menggendong Luhan yang lemas, pergi dari sana meninggalkan Ravi dengan beribu penyelasannya.

Sementara itu Kai kerumah sakit menaiki Jaguar milik Jongdae, mengemudikannya dengan kesetanan hingga tak butuh waktu lama untuknya sampai. Dia menggendong tubuh Kyungsoo yang terus mengeluarkan darah, berteriak pada suster yang segera membawanya menuju ruang UGD.

Kai bersandar didinding dengan kepala menunduk, air matanya terus turun dengan deras. Dia sakit, sangat sakit melihat Kyungsoo seperti itu. Rasanya seperti mati. Kenapa Kyungsoo melakukannya? Kenapa Kyungsoo mengorbankan dirinya? Setelah apa yang dia lakukan, kenapa lelaki manis itu tetap melindunginya? Kai jatuh merosot, menutup kedua wajahnya. Mengabaikan tangannya yang kotor oleh darah Kyungsoo.

Dia merasa buruk, dan tak pantas. Dia menyakiti Kyungsoo terlalu jauh.

"Argh!" Kai mengacak rambutnya frustasi. Dia teringat Ravi dan seketika amarahnya membuncah keluar, tanpa bisa ditahan. Kepalanya meledak oleh emosi. Jika Ravi ingin membalas dendam, seharusnya dengan dirinya, tidak melibatkan Kyungsoo. Matanya memerah karna marah. Tapi, dia juga bersalah disini.

Jika terjadi sesuatu pada Kyungsoo, maka seumur hidup, bahkan sampai matipun, Kai tak akan pernah memaafkannya.

Tidak akan pernah.

.

.

.

Kyungsoo berada disebuah tanah berumput, sangat luas dan tak ada apapun selain awan-awan yang bergumul diatas langit serta hembusan angin yang menerbangkan anak rambutnya. Lelaki manis itu menatap sekitar dan bertanya-tanya dimana dia saat ini? Dia harus pulang! Kakinya melangkah, berusaha mencari jalan keluar, namun tak ada apapun disana.

Kyungsoo kelelahan, namun dia terus melangkah sampai akhirnya dia memekik senang saat menemukan sebuah jembatan kayu tua diatas sungai. Dia lalu menyebrang dengan perlahan, tangannya menggenggam erat sisi jembatan sementara matanya memandang takjub air sungai yang berwarna hijau jernih dengan ikan-ikan kecil yang melompat-lompat. Dia selesai menyebrang dan menemukan dua buah pintu kayu. Sama-sama berwarna coklat namun dengan posisi yang berbeda. Pintu sebelah kanan terbuka dan sebelah kiri tertutup. Kyungsoo berfikir sejenak, namun dia melangkah mendekati pintu yang terbuka, dan masuk kedalam sana dengan ceria.

Deg!

Kyungsoo membuka mata dan dunianya seolah berputar. Kepalanya seperti pecah dan tubuhnya remuk redam. Dia meringsi kecil namun tersadar sepenuhnya. Masker oksigen menutupi mulut dan hidungnya, membantunya bernafas. Lelaki manis itu menatap sekitar, mengamati dinding-dinding putih khas rumah sakit.

"Oh, kau sudah sadar?" Seorang perawat bertanya dengan halus, tersenyum dibalik maskernya dan mengamati selang infusnya sebelum memberi centang pada catatan yang dia bawa. Dia lalu pergi dan datang dengan seorang dokter tua, pria itu memeriksanya lalu samar-samar Kyungsoo mendengarnya berkata dengan lega.

"Kau selamat nak."

Sesuatu disuntikkan kekantung infusnya, pelan-pelan memasuki nadinya dan seketika Kyungsoo mengantuk, dia terpejam dan kembali tidur.

.

.

.

Kyungsoo kembali terbangun dan kali ini dia menemukan wajah Ibunya yang tersenyum sedih kearahnya.

"Sayang, kau sudah bangun?" Wanita itu mengusap sisa air matanya lalu mencium Kyungsoo dengan lembut sementara Ayah, Suho dan istrinya berada didekatnya. Wajah mereka memancarkan kelegaan luar biasa, seolah-olah dirinya akan mati saja.

Mati?

Tunggu! Dia ada dirumah sakit bukan? Jika tak salah, karna tusukan pisau dari Ravi. Berapa lama dia tidur? Apakah ada hal penting yang dia lewatkan?

"I–ibu.." Kyungsoo berguman lemah dan Ibunya kembali menangis, kali ini memeluknya erat.

"Kukira kami akan kehilangan dirimu sayang." Kyungsoo menggelang kecil lalu menatap Ayahnya yang lebih tegar. Matanya melirik sekeliling. Dimana Kai?

"Ibu, K–kai. Dimana Kai?" Ibunya terdiam, sepertinya dia terkejut mendengar pertanyaan Kyungsoo. Namun Lay menyela, dia menggenggam tangan Kyungsoo dan berucap.

"Dia tidak kemana-mana sayang, jangan khawatir. Sekarang kau istirahat ya?"

"Di–dimana?"

"Ada beberapa hal yang harus dia urus. Kau istirahat saja oke? Nanti dia juga datang kok." Kyungsoo akhirnya mengangguk mengiyakan, percaya dengan perkataan Lay. Dia akan menunggu sampai Kai datang, memastikan apakah pria itu baik-baik saja.

Namun sampai seminggu lamanya, sampai keadaannya jauh membaik, Kai juga tak kunjung muncul. Dia tidak datang menjenguknya. Ada apa dengannya? Apa pria itu marah padanya? Hei, seharusnya disini Kyungsoo yang berhak marah. Kai sudah membohonginya, dan itu mengecewakan. Apalagi, dia dijadikan bahan taruhan.

Klek!

"KYUNGIE!" Pintu terbuka dan sosok Luhan datang berhambur memeluk Kyungsoo erat-erat. Dibelakangnya juga meyusul Baekhyun, Chanyeol dan juga Sehun yang menjinjing dua buah papper bag. Kyungsoo melirik Sehun yang meletakkan bawaannya diatas nakas, pasti dia tahu dimana Kai sekarang.

"Aku sangat merindukanmu, kau tahu? Aku kesepian disekolah tanpamu." Cerita Luhan dengan bibir mengerucut. Membuat Kyungsoo mau tak mau tersenyum, sekedar tak ingin mengecewakan sahabatnya ini.

"Kau merasa baik?" Baekhyun duduk disisi ranjang dan menggenggam tangannya.

"Ya."

"Aku membawa kue kesukaanmu."

"Terimakasih." Ketiganya lalu larut dalam obrolan seru, sebenarnya hanya Luhan yang banyak bicara sementara Baekhyun dan Kyungsoo hanya mendengarkan dan sesekali tertawa jika menurut mereka itu lucu. Sehun dan Chanyeol duduk disofa tak jauh dari sana. Mereka disini menemani pacar mereka, tentu saja.

"Aku mau bertanya sesuatu."

"Tentang?"

"Sehun!" Yang dipanggil mengalihkan pandangan bosan dari arah Televisi dan menatap Kyungsoo.

"Ya?"

"Dimana Kai?"

Sehun terdiam, semua orang yang ada disana juga terdiam. Luhan dan Baekhyun saling melempar pandang dan menunduk, sebenarnya mereka tahu, namun sengaja tak bicara. Kyungsoo memandang semua orang, merasa mereka tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku kan? Dimana Kai?" Tanyanya kesal, meremat ujung selimutnya sendiri marah. Dia ingin bertemu Kai. meskipun dia marah pada lelaki itu, tapi Kyungsoo tetap mencintainya. Jika tidak, kenapa dia mau mengorbankan dirinya untuk ditusuk?

"Katakan!"

"Kyungsoo–"

"Dimana Kai?"

"Dia tak mau bertemu denganmu, dia pergi, entah kemana." Jawaban Sehun membuat Kyungsoo memuka mulut, dia mengedip, menatap tak mengerti kearah Sehun yang berwajah datar.

"Dia menghilang. Aku, bahkan orang tuanya pun tak tahu dimana dia."

"Ta–tapi, kenapa?"

"Kurasa dia merasa bersalah padamu." Sehun menarik nafas, melipat kedua tangannya didada. "Ini berat baginya, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri."

"Tapi, dia akan kembali kan?" Volume suara Kyungsoo mengecil, lelaki manis itupun menunduk, perlahan-lahan meneteskan air matanya. Luhan dan Baekhyun sontak memeluknya.

"Kyung?"

"Di–dia akan kembali kan? Hiks, dia tak mungkin meninggalkanku."

"Dia akan kembali, percayalah kyung."

"Hiks..Hiks.."

.

.

.

Keadaan fisik Kyungsoo mungkin sudah membaik, luka tusukan diperutnya juga mulai sembuh. Tapi hatinya sakit, terluka karna Kai pergi dan tak kunjung datang. Kyungsoo kembali menunggu, namun pria itu tak kunjung datang. Dia berusaha menghubungi ponselnya, menanyakan kepada semua orang, namun tak ada satupun orang yang tahu dimana keberadaannya. Dia menghilang, begitu saja, seperti tertelan bumi.

Apa Kai sudah tak mencintainya lagi?

Pintu terbuka, membuat Kyungsoo mengusap air matanya dan membenarkan posisi duduknya. Seseorang muncul, dia fikir itu suster atau dokter, tapi seketika Kyungsoo tercengang.

"Hai bocah kecil."

Ravi masuk, dengan satu papper bag besar serta satu buket bunga. Pria itu tersenyum lemah, ada plester yang menutupi luka serta memar kebiruan ditulang pipinya, dia juga memotong rambutnya dan mewarnainya menjadi hitam.

"Bagaimana keadaanmu?" Kyungsoo terdiam, dia masih tak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini. Hei, orang yang menusukmu dan nyaris membuatmu sekarat sekarang berada didepanmu, menyodorkan sebuket bunga.

"Aku baik, terimakasih." Kyungsoo akhirnya menjawab, menerima bunga pemberian Ravi dan menciumnya pelan. Dia mengalah, meski rasanya dia ingin membenci pria ini, dia tak bisa, apalagi setelah melihat tatapan lemah dan putus asanya, Kyungsoo tak bisa. Lagipula, jika dia marah pada Ravi saat ini, keadaan akan berubah? Tidak.

"Kau pasti berfikir, bagaimana penjahat sepertiku masih memiliki muka untuk bertemu denganmu." Ravi duduk dikursi dekat ranjangnya, menatapnya dengan raut wajah menyedihkan.

"Tidak, aku tidak berfikir begitu."

"Kyungsoo, kau pasti membenciku. Untuk semua yang terjadi, tolong maafkan aku." Pria itu menunduk, sangat dalam, seolah dia sangat menyesali semuanya. Kyungsoo tak tahu harus bicara apa, memang pada dasarnya hatinya sangat lembut, dia tak bisa membenci lelaki ini meski nyatanya dia hampir mati ditangannya.

"Aku memang salah, aku keterlaluan. Apa aku jahat?" Ravi mendongak dan Kyungsoo bisa menemukan sepasang matanya yang memerah sayu, seperti mau menangis. Kyungsoo buru-buru menggelang.

"Aku tidak membencimu, hanya sedikit kesal."

"Kau pantas membenciku."

"Kenapa harus?"

"Aku jahat padamu."

"Berhenti bicara seperti itu. Setiap orang memiliki alasan melakukan sesuatu, aku juga yakin kau memiliki alasan tersebut." Ravi meraih sebelah tangannya, menggenggamnya erat.

"Ya, ada alasan. Kau punya waktu untuk mendengarkanku?"

"Aku punya banyak waktu." Ravi tersenyum, menggenggam kuat tangan mungil Kyungsoo dan mulai bercerita. Semuanya, tanpa terkecuali. Kenangan saat pertama kali dia bertemu Kai, masa sekolah mereka, kebenciannya, pertengkaran mereka, perpisahan, dan perasaannya.

"Aku sangat membencinya Kyung. Dia selalu mendapat apa yang aku inginkan, kenapa aku yang selalu kalah darinya?" Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, tak tahu harus berkomentar apa. Setelah dia mendengar cerita Ravi, dia mulai memahami semuanya. Ravi dan Kai dulunya adalah sahabat, namun karna sebuah masalah, persahabatan mereka putus dan berbalik menjadi musuk bebuyutan. Jadi, rahasia inilah yang selama ini Kai sembunyikan. Kyungsoo masih ingat saat dia makan malam dirumah Kai, pria itu menjadi marah saat ibunya menyinggung kejadian tiga tahun yang lalu di Jepang. Lalu saat Kyungsoo ingin agar Kai bercerita, dia menolak. Kyungsoo sudah tahu sekarang, karna Ravi baru saja menceritakan semuanya.

Ya Tuhan!

Bagaimana bisa hal seperti itu merusak persahabatan mereka?

Disatu sisi, Kyungsoo merasa kesal karna Ravi yang egois, tapi disisi lain dia juga kesal karna Kai memacari Jennie diam-diam lima bulan lamanya. Oke, itu mungkin hanya masa lalu, tapi tetap saja Kyungsoo merasa cemburu. Kai pasti sangat mencintai Jennie.

"Aku tidak paham dengan diriku saat itu, aku merasa marah. Nayeon lebih memilihnya, dan dia mengencani sepupuku diam-diam. Padahal aku selalu berkata padanya bahwa aku tak suka jika Jennie berkencan dengan pria lain tanpa sepengetahuanku, aku sangat menyayangi sepupuku Kyung. Tapi dialah yang pertama kali membuat semuanya kacau." Ravi menunduk, nafasnya tersenggal. Pasti sulit baginya mengorek masa lalu menyakitkan tersebut.

"Aku seperti buta Kyung, kebencian membuatku dengan tega memukulnya sampai sekarat tiga tahun lalu. Perasaan yang sama saat aku mengayunkan pisau padanya, tapi aku malah menusukmu."

"Lalu, saat Kai dikeroyok dan masuk rumah sakit waktu itu–"

"Ya. Aku pelakunya."

Kyungsoo tertohok, tanpa sadar dia balas meremas genggaman tangan Ravi.

"Apa kau masih ingat pesan email berisi foto Kai memeluk gadis lain? Atau hal-hal lain yang membuat kalian bertengkar hm? Aku, akulah pelakunya."

Deg!

Kyungsoo membeku, seketika dia kembali teringat semua pertengkarannya dengan Kai. Lelaki itu selalu mengatakan bahwa Ravi itu brengsek dan Kyungsoo kuekueh menyangkal, tapi… semuanya ternyata benar.

"Taruhan itu, aku juga yang mengusulkan itu. Dan dia menyetujuinya." Kyungsoo menghela nafas, menekan semua perasaan kesalnya dalam-dalam, matanya terpejam untuk mengatur nafas yang memburu. Saat dia rasa bisa mengendalikan diri, matanya terbuka, memandang Ravi yang meneteskan air mata disebelah matanya. Kyungsoo kesal, dia marah. Namun begitu, ada satu hal yang masih menjanggal dihati Kyungsoo.

"Kenapa, kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau menjadikanku taruhanmu?"

"Karna aku jatuh cinta padamu Kyungsoo."

Oke, ini mengejutkan.

"Awalnya aku berniat mendekatimu hanya untuk balas dendam pada Kai. Tapi semakin lama, aku jatuh hati padamu dan semakin mencintaimu. Membuatku ingin merebutmu dari Kai dan memilikimu."

"Ravi–"

"Aku tahu aku salah. Kau tak pantas memaafkanku."

"Ya." Ravi membawa kepalanya jatuh diatas tangan Kyungsoo, kali ini dia benar-benar menangis, membuat Kyungsoo tak tega. Ravi sangat tulus untuk meminta maaf.

"Aku akan menyerahkan diri ke polisi."

"A–apa?" Kyungsoo membelalak kaget. "Apa yang kau lakukan?"

"Aku sudah jahat padamu, aku juga menusukmu Kyung. Aku pantas mendapat hukuman. Polisi sudah mengajukan gugatan."

"Tidak Ravi, jangan."

"Tidak apa."

"Aku akan menarik gugatan itu." Ravi mendongak, menatap kaget pada Kyungsoo yang menatapnya marah.

"Tapi–"

"Itu hanya sebuah kecelakaan. Demi Tuhan! Jangan berlebihan Ravi. Kau masih bisa memperbaiki diri dengan cara lain. Bukan dengan cara menjebloskan diri ke penjara, itu pilihan buruk. Kau juga masih sekolah."

"Tapi–tapi Kyung. Harus bagaimana lagi aku menebus kesalahanku padamu?"

"Kau bersungguh-sungguh ingin menebus kesalahanmu?"

"Ya."

"Jika begitu, temukan Kai dan berbaikan dengannya."

"A–apa?"

Ravi mengedip, sorotnya memandang Kyungsoo ragu. Lelaki itu bicara samar, namun Kyungsoo bisa menangkap gurat kagetnya.

"Kau tidak mau?"

"Bu–bukan begitu. Aku hanya.."

"Jika begitu, carilah Kai dan berdamai dengannya, dia menghilang." Suara Kyungsoo memelan diakhir kalimat. Lelaki kecil itu lantas menunduk. Keduanya terdiam, larut dalam fikiran masing-masing.

"Akan kucoba." Ravi menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, matanya memandang Kyungsoo takjub dan penuh terimakasih.

"Aku semakin mencintaimu Kyung."

"Eh?"

"Boleh aku menciummu?"

"A–apa?"

Chup~

Kyungsoo membulatkan matanya lebar-lebar, memandang sosok Ravi yang tersenyum garing dengan wajah kaget. Lelaki ini, benar-benar menciumnya?

Di pipi?

Ravi! Kau mencari mati ya? Coba saja Kai disini dan melihatnya, sudah pasti nyawamu akan melayang dijalan nanti.

"Hehe, anggap saja ini ciuman persahabatan. Aku tidak akan mengambil asset milik Kai kok." Dagunya mengedik kearah bibir Kyungsoo, membuat lelaki kecil itu merona dan menunduk malu-malu. Astaga, pria ini.

"Ka–kau! Aku bahkan belum mengatakan iya padamu." Kyungsoo berkata pura-pura kesal, pasalnya dia sedang malu. Suasana seketika berubah, sorot mata Ravi yang tadinya putus asa, kini bersinar seperti biasanya. Dia banyak mengeluarkan candaan, membuat Kyungsoo banyak tertawa, melupakan sejenak kesedihannya tentang Kai.

.

.

.

Kyungsoo sudah pulih dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit hari ini. Ada total tiga buket bunga yang dia bawa pulang. Setelah dua hari yang lalu Ravi membawakan satu untuknya, tanpa disangka tadi pagi sosok Jennie datang menjenguknya. Tentu saja itu membuat semua orang kaget, karna idol yang sedang naik daun itu mengenal Kyungsoo. Tapi selepas dari itu, Jennie meminta maaf atas apa yang terjadi. Reaksi Kyungsoo? Dia tahu Kai sudah lama putus dengan gadis ini, tapi tetap saja, ada sedikit rasa cemburu yang hinggap dihatinya, namun karna tak mau mengecewakan Jennie yang sudah susah payah datang, lelaki kecil itu menyambutnya dengan senyuman manis.

Lalu buket bunga terakhir adalah dari orang tua Kai. Mereka ikut mengantarnya pulang, bahkan sedang minum teh diruang tamu bersama keluarganya. Kyungsoo masih ingat, saat Ibu Kai memeluknya sambil menahan tangis tadi.

"Kau baik-baik saja sayang?"

"Ya." Kyungsoo menjawab lemah, menatap wanita itu dengan senyum manis terpaksanya.

"Bibi?"

"Ya sayang?"

"Dimana Kai?" Dan sesuai prediksinya, wanita itu malah menangis dan kembali memeluknya erat.

"Aku tidak tahu Kyungsoo, dia menghilang entah kemana."

Lelaki kecil itu menghela nafas, menekan rasa sesak yang menghantam telak dadanya. Semua orang tidak tahu dimana Kai, lalu Kyungsoo harus bertanya pada siapa?

Dia bersandar pada sandaran ranjang, memeluk erat boneka pororo besarnya sementara selimut menutupi tubuhnya sebatas dada. Dia memandang keluar jendela, menatap langit senja yang menyakitkan. Dia lalu menatap si pororo, lalu berguman sedih.

"Kau dimana sih Manusia kutub?" Gumannya membayangkan sosok pororo besar disisi tubuhnya itu adalah Kai.

"Aku merindukanmu, hiks. Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun padaku? Kenapa? Apa salahku? Aku bahkan menyelamatkan dirimu, aku bahkan rela ditusuk demi dirimu, hiks. Jahat! Jahat! Jahat!" Kyungsoo terisak, memukul-mukul si pororo dengan kesal, melampiaskan kesedihannya pada boneka malang tersebut. Tak lama, lelaki kecil itu kelelahan sendiri, dia meringis sambil menyentuh luka basah diperutnya yang masih terbalut perban.

Aw!

Ponsel diatas nakasnya berbunyi. Kyungsoo mendudukkan diri disisi ranjang lantas meraih ponselnya.

Manusia Kutub is calling!

God!

"KAI KE–"

"Simpan kemarahanmu itu sayang, kau masih sakit." Kyungsoo terdiam, merasakan air mata kembali menuruni pipinya yang gembil. Dia rindu, sangat rindu suara ini. Kemana saja dia? Kyungsoo ingin bertemu dengannya, tidak hanya sekedar mendengar suaranya, Kyungsoo ingin memeluknya.

"Kai..kau dimana?" Isaknya pelan, tak ada jawaban langsung sampai beberapa detik.

"Aku selalu bersamamu sayang."

"Aku merindukanmu, hiks."

"Aku juga,"

"Lalu kenapa kau pergi?"

"Karna aku harus,"

"Hiks, Kai.."

"Hm, jangan menangis. Aku selalu memperhatikanmu sayang, jangan khawatir."

Kyungsoo memaksakan diri untuk bangun, sambil menahan perih, dia berjalan menuju kearah jendela yang terbuka lebar, mencari-cari kesetiap penjuru tempat yang bisa dia pandang, berharap menemukan Kai tengah bersembunyi disuatu tempat, namun dia tak menemukan siapapun, Kyungsoo menangis.

"Hiks, kau dimana? Aku merindukanmu, datanglah Kai..Kumohon."

"Tidak sekarang sayang,"

"Tapi kenapa?"

"Kuharap kau memahaminya, aku mencintaimu Soo, sangat mencintaimu. Semoga cepat sembuh, selamat tinggal."

"K–kai.. apa yang–"

Tutt! Tutt! Tutt!

Sambungan terputus secara sepihak, lelaki kecil itu lalu berusaha menghubungi Kai, namun nomornya tak aktif. Kyungsoo menangis, jatuh merosot dengan air matanya.

Tidak! Kai…kau dimana?


.

.

.

.

Ending~

.

.

.

.

.

Serius banget! Just kidding!

.

.

.

Q : fanfict ini kok sama kayak fanfict sebelah. Fanfict sebelah cast Minkyung dan Sehun.

A : Fanfict sebelah yang mana? Judulnya apa? Apa sama pake banget? Selama aku nulis ini, aku nggak pernah terinspirasi dari fanfict manapun selain fanfict 'Magnifico' punya Author Jae –itupun cuma adegan Kyungsoo yang marah karna Kai Merokok, kalo nggak salah di chap 7 T.T