Author : #celinguk kanan kiri, terus liat laptop lagi. Etto... Apakah ada yang bisa memukulku?

Yui : Eh? Ke-kenapa, Author-san?!

Author : Habisnya, kok-! #mendadak terpental dan pingsan.

Yuki/Yui : AUTHOR-SAN!

Yuki : Siapa hah, yang beraninya nabokin Author-san?! Ayo ngaku!

Ayato : Hah? Dia sendiri kan yang bilang minta di-! #ditendang Yuki

Yuki : Takoyaki baka! Kalo ada apa – apa ama Author-san, bagaimana hah?! Kalo serial ini nggak bisa lanjut gimana?! Kamu mau tanggung jawab, hah?!

Ayato : Hah?! Takoyaki baka?! Kau ngajak ribut ya, kuso onna?

#Ayato dan Yuki mulai berantem

Azusa : Enaknya... Author-san... Aku juga... ingin... dipukul...

Yui : Po-pokoknya luka Author-san harus segera diobati...

Yuuma : Merepotkan sekali orang ini. Apa boleh buat. Kubawa du- hi!

Author : #mendadak sadar. Loh? Dimana ini? Terus kalian siapa?

#pemain serial EN pucat pasi.

Yui : Kyaa! Author-san amnesia!

Subaru : O-oi, Author! Kau bercanda, kan?!

Reiji : Yare yare, bisa – bisanya amnesia disaat kritis seperti ini.

Ruki : Tidak bisa dipercaya. Untungnya, Author itu sudah meninggalkan catatan berupa balasan review dari reader. Kalau begitu, langsung saja kita bacakan balasan Author.

Yamaras : Makasih Yamaras-san dan amin. Semoga Yamaras-san juga diberkati oleh Tuhan. Sip deh, pokoknya Author akan berusaha biar cepet update dan kelarin nih S2. Lalu untuk request... oh interaksi Yuki-chan, Shuu, dan Reiji? Hum... boleh boleh. Kebetulan lagi kepikiran juga buat cerita mereka bertiga. Tapi, bingung enaknya kayak gimana. Ada spesifikasi nggak ceritanya mau kayak gimana? Biar pas dan kena dihati gitu #cieah omonganmu Thor. Nasib Kanato dan Laito masih sama, terkurung dimansion bersama dengan saudaranya yang lain. Dan maafkan Author kalo bagian mereka kurang hehehe. Yaps, makasih pake banget semangatnya Yamaras-san. Tetep ditunggu aja kelanjutan cerita Yuki-chan dkk.

Aya Haruki : Hehehe, makasih Aya-san. Iya, akhirnya bisa update juga. Dua kali dan cepet pula hehehe #bangga. Makasih juga buat semangatnya dan amin, semoga Aya-san juga sukses selalu. Tetep semangat di Real Life, jangan kayak Author yg sering banget patah semangat ama kehidupan Real Life. Oh, tenang aja. Pastinya akan kuteruskan ampe perjalanan serial EN ini berakhir.

Haruno Bara : Makasih Haruno-san dan amin. Begitu juga dengan Haruno-san, dikasih kemudahan oleh Tuhan. Waduh, jadi nggak enak karena ditungguin terus. Apalagi ampe dicek disela – sela jam kerja Haruno-san. Minta maaf pake banget #sujud. Tapi, tenang. Kan udah diupdate ini, cepet pula hehehe. Jadi langsung aja dibabat abis chapter ini. Jangan senyum – senyum sendiri, nanti malah ditanyain ama orang. Kayak Author, suka senyum sendiri dan dikira orang gila ama temen (padahal mah cuman karena baca fanfic orang yak). Yaps, ping pong! 100 untuk Haruno-san hehehe.

Humu humu humu... Yuki-chan dan Reiji. Kebetulan pake banget. Sebenernya aku juga kepengen banget bikin cerita tentang mereka berdua. Mungkin karena chapter kemarin ngeluarin Reiji. Tau sendiri kan hubungan mereka itu nggak terlalu bagus karena masalah Reiji yang ngehancurin desa Yuuma. Maklum Yuki-chan itu brocon over soalnya #ditinju Yuki. Tapi, aku juga bingung mau bikin cerita kayak gimana. Ada spesifikasi terperinci mau dibuat kayak apa interaksi mereka berdua kayak apa? Biar lebih kena gitu dihati Haruno-san hehehe. Alah, panjang ampe berlembar – lembar juga nggak apa. Author malah seneng banget lagian. Sip, makasih semangatnya dan tetep tunggu kelanjutan petualangan Yuki-chan dkk yak.

HayaaShigure-kun: Yaps, 100 untuk Hayaa-san. Eh? Benarkah? Syukur deh kalo emang tambah seru hehehe. Udah dilanjut Hayaa-san, silahkan langsung dibabat abis chapter ini.

Lighting Shun : Tentu dong. Kalo Yuuma dan Azusa mati, jalan cerita nggak akan jalan dengan serunya, kan hehehe. Author ngerti perasaanmu Light-san! Begitu menderita kalo semua barang online disita #balas peluk. Berarti sekarang udah selesai dong wajib militernya? Otsukaresama Light-san. Hehehe, makasih semuanya. Benar – benar perjuangan berat bisa lulus dari jurusan yang salah itu #mulai curcol. Naoto-san, jangan nyalain bom disini! Kalo tempat ini hancur gimana?! Nyalain kembang api biasa aja. Dan, jangan sembarang nyulik Yuki-chan yak #kasih deathglare. #sweatdrop. Astaga, sejak kapan Noctis-san akrab ama Subaru-kun? Dan kenapa kamu kasih dia jus tomat, Noctis-san?! Pokoknya, Author nggak mau tau loh ya kalo Noctis-san diapa – apain ama Subaru-kun.

Oh, ada pengunjung tambahan. Halo, Elie-san. Hontou? Padahal Author sendiri yang nulis, tapi sama sekali nggak berasa. Yah, sedikit sih. Rasanya kayak bukan tulisan Author sendiri. Apalagi pas dibagian Shuu dan Reiji itu. Reijinya terlihat sedikit OOC. Tapi, syukur deh kalo Noctis-san dan yang lainnya puas. Semoga aja chapter ini juga bikin minna puas hehehe. Pokoknya, tetep tunggu terus aja kelanjutan cerita ini. Soalnya udah masuk klimaks hehehe #kasih bocoran dikit.

Ruki : Begitulah balasan dari Author.

Yui : Masih ada lanjutannya, Ruki-kun. #liat catatan Etto... "Terima kasih pake banget Author ucapkan kepada Haruno Bara0201 yang sudah mau mem-favorite-kan dan mem-follow-kan serial EN bahkan side story nya. Lalu, terima kasih pake amat sangat banget plus pelukan untuk Silent Reader yang masih menunggu dengan setia kelanjutan serial EN. Author berharap kalian terus mendukung untuk menyelesaikan S2 ini."

Laito : Yah... tapi Author-chan mendadak amnesia. Bisakah serial ini selesai?

Kou : Harus bisa selesai dong. Yang kulihat dari catatan kasar Author-chan, udah masuk klimaks loh. Tanggung banget kalo paka acara hiatus. Lagipula, bukannya Author-chan lagi jadi pengangguran?

Ruki : Tepatnya sedang menunggu dipanggil. Waktu kosong yang bertambah harus dipakai untuk menyelesaikan fanfiction ini.

Yuuma : Daripada itu, kenapa kita nggak selesaiin aja sih pembukanya? Capek dan penasaran ama chapter ini. #ngadep kamera. Pokoknya, baca aja terus jangan lupa tulis review. Awas kalian kalo nggak tulis review!

Yui : Yuuma-kun jangan diancem, nanti mereka malah takut. Po-pokoknya, silahkan langsung dibaca aja. Sampai jumpa lagi dichapter berikutnya, mina-san.

.

.

.

Warning dan Disclaimer tetap sama, tidak berubah~


Karma Akan Pengkhianatan Masa Lalu

Tubuhnya kaku. Begitu pula kelopak matanya yang terasa berat karena merasakan rasa kantuk yang luar biasa. Ia bersumpah, entah dimana dirinya berada saat ini, tempat ini begitu dingin. Mungkin lebih dingin dibandingkan kutub utara maupun selatan. Anehnya, ia tak merasakan dingin hingga tubuhnya menggigil hebat. Dingin yang membungkus kulitnya begitu sejuk dan mendukungnya untuk terus terbang ke alam mimpi. Apakah ia sudah mati. Jawabannya pasti adalah ya. Karena tak mungkin, jika ia masih hidup akan merasa damai seperti ini. Selama hidupnya yang selalu mendapatkan siksaan dari Tuhan, walaupun mereka menawarkan kebahagiaan, ia tak pernah merasa damai. Dirinya selalu diliputi rasa cemas dan ketakutan luar biasa. Ya, dirinya pasti sudah mati.

Atau mungkin belum dan hampir mati.

Sinar putih berpendar lembut yang membuat kelopak matanya berdenyut, tertarik untuk terbuka. Ia mengerang pelan karena merasa terganggu. Namun, penasaran mengalahkan semua egonya untuk tetap terlelap. Akhirnya, ia membuka kelopak matanya dan menyadari begitu banyak mawar putih disekelilingnya, melayang dengan bebas. Ketika tangan kanannya terangkat dan menangkap sebuah mawar putih, kegelapan yang ada disekitarnya digantikan oleh sinar putih menyilaukan. Detik kemudian, sinar putih itu menampilkan warna lain diikuti oleh berbagai macam bentuk dan suara. Irisnya melebar dan melihat sekelilingnya dengan awas, ia mengenali apa yang ditampilkan didepan matanya. Bibirnya bergerak membentuk sebuah kalimat, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa menyaksikan dalam diam berbagai macam gambar berganti dengan perlahan seolah menceritakan suatu cerita padanya. Kedua tangannya bergerak menutupi telinganya, berusaha menghalangi suara yang bercampur aduk dan menulikan indera pendengarnya. Sayang, suara itu tak berhenti dan terlihat semakin terdengar. Begitu memilukan dan menyakitkan hingga pandangannya kabur.

Ditengah suara – suara itu, ia berteriak sekuat tenaga.

xxx

Carla tahu waktu mereka tidak banyak untuk bisa membalaskan dendam yang sudah terkubur beratus beribu tahun lamanya. Persetan akan rencananya untuk membuat keturunan baru dan persetan akan dirinya yang begitu lemah saat ini. Ia tak bisa pergi begitu saja jika dalang dibalik kekacauan ini masih berkeliaran sesuka hati. Ia juga tak bisa meninggalkan saudara satu – satunya untuk menanggung semua beban ini. Meskipun ia yakin akan kekuatan yang dimiliki oleh Shin, mental adiknya itu masih diluar kendalinya. Harus ada yang menjaganya agar tetap stabil dan tidak lepas kendali. Semua itu adalah tugasnya sejak dulu. Jika bukan dirinya yang bertindak ketika Shin menantang pemimpin klan ular dulu, adik bodohnya itu pasti sudah berada disisi Tuhan saat ini. Begitu pula ketika ayah mereka tahu kelakuan Shin yang susah sekali diatur dan lebih suka menantang klan bangsawan vampire. Sungguh menguras tenaga hanya untuk menjaga satu orang.

Mengabaikan kelakuan Shin yang memang liar, Carla harus mengatasi penyakit yang sudah menggerogoti tubuhnya sejak dulu. Sejak awal, ia sudah tahu jika dirinya tak akan bisa bertahan lama sampai mendapatkan hak miliknya pada gadis yang kini berada dalam kurungannya. Ia akan memberikan tahtanya sebagai pemimpin First Blood kepada Shin. Penyerangan klan ular memang sudah diprediksi olehnya karena Shin tak sempat membunuh calon pemimpin klan tersebut. Sungguh kesalahan besar dari adik bodohnya itu. Nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya bisa memerintahkan Shin untuk mengambil alih penyerangan yang diterima dengan senang hati olehnya.

Akan tetapi, penyusupan yang dilakukan oleh vampire sialan itu diluar perkiraannya. Ia terlalu naif mengambil tindakan yang diakibatkan oleh keputusan gadis tahanan mereka. Gadis itu menyerahkan diri begitu Shin menghancurkan semangat hidupnya dengan memerlihatkan bukti saudaranya sudah mati. Melihat kehampaan dalam manik biru gadis itu, ia tersenyum penuh kemenangan. Satu langkah besar menuju rencananya. Tak disangka, vampire yang mengaku sebagai saudara gadis itu, mengambil tindakan diluar perintah Karl Heinz. Bahkan mendapatkan bala bantuan dari anak Karl Heinz sendiri. Astaga, ia sudah meremehkan mereka.

Ia bisa merasakan dadanya yang sesak hingga kesulitan bernafas diikuti oleh batuk keras. Rasa besi memenuhi mulutnya dan sungguh beruntung dirinya selalu melilitkan syal untuk menutupi mulutnya. Ia mendudukkan dirinya diatas sofa sebelum menatap Shin yang sejak tadi berdiri didepannya, menunggu perintah berikutnya. "Aku ingin kau melenyapkan tikus yang berkeliaran disini," ucap Carla dingin.

"Bagaimana dengan cewek itu?" tanya Shin. "Apa aku juga harus membunuhnya?"

Carla terdiam sejenak. Jika mereka membunuh gadis itu, tak ada waktu lagi untuk menyucikan gadis satunya lagi yang kini berada dibawah perlindungan khusus Karl Heinz. Membangkitkan keturunan First Blood merupakan salah satu rencana mereka selain membalaskan dendam pada pemimpin sekaligus raja Dunia Bawah. Akan tetapi, ia merasakan firasat aneh melihat kepasrahan gadis bersurai hitam pendek itu. Kehampaan dan kekosongan yang terlukis dalam manik biru tua itu mengundang perasaan tak menyenangkan yang akan berujung fatal bagi mereka berdua.

Shin melihat kakaknya dengan aneh, tak biasanya ia terlihat bingung akan keputusannya sendiri. Tidak, mungkin terlihat sedikit wajar dimatanya saat ini. Setelah mengetahui penyakit yang menggerogoti tubuh kakaknya, ia semakin waswas akan rencana mereka berdua. Mereka berdua tahu waktu sedang tak ada dipihaknya saat ini. Begitu juga dengan penyusup kurang ajar diluar sana yang dengan berani masuk kedalam istana First Blood. Shin ingin kembali membuka mulutnya ketika aroma darah menusuk indera penciumannya. Nampaknya Carla juga menyadarinya, dilihat dari raut wajahnya yang sedikit terkejut.

"Nii-san, cewek itu..." ucap Shin pelan. Ia mengeram pelan dan bersumpah akan membunuh vampire sialan tersebut.

"Tidak. Jangan kau bunuh gadis itu," Carla memberikan keputusan terakhir. "Kita tak memiliki waktu banyak untuk menyucikan gadis bodoh ditangan Sakamaki. Jika hanya sekali dua kali gigit saja, aroma gadis itu tak akan berubah."

Shin mendengus. Ia menepuk pelan pedang dipundaknya. "Berarti, aku hanya perlu membunuh tikus – tikus itu dan mengambil cewek itu saja, kan?"

"Aa."

"Wakatta," sahut Shin singkat dan pergi meninggalkan Carla sendirian. Tanpa ada yang bisa membantunya dan tak peduli jika Shin dapat mendengarnya, Carla kembali terbatuk hingga darah keluar dari mulutnya yang mengotori sarung tangan putihnya. Ia bisa merasakan jika tenaganya semakin hari semakin melemah. Terkadang, ia berpikir jika penyakit ini adalah hukuman untuknya karena telah membunuh ayahnya sendiri. Akan tetapi, dirinya sama sekali tak menyesal sedikit pun akan keputusannya. Ia tahu, jika tidak menghentikan kegilaan ayahnya akan kekuasaan, merasa bahwa First Blood adalah ras paling agung, Dunia Bawah saat ini pasti sudah dilanda kemalangan besar. Walaupun pada akhirnya, First Blood harus menerima kekalahan dalam perang antar ras dengan Karl Heinz. Penyesalannya hanya kepada Karl Heinz yang lebih mengurung ia dan adiknya dibandingkan membunuh mereka berdua. Carla berani bertaruh jika Karl Heinz mengetahui akan penyakitnya tersebut. Penyesalan yang berubah menjadi dendam.

Alam bawah sadar Carla berbisik jika semua rencana yang mereka buat ini hanya akan berujung kegagalan. Bukan hanya karena waktu yang tak berpihak kepada mereka, tapi sesuatu mengerikan diluar sana, seolah semua ini sudah diperhitungkan oleh seseorang. Jawaban dari spekulasinya berada pada seseorang yang sampai saat ini belum terpecahkan. Carla bangkit dari sofanya dan berjalan kearah jendela, menatap bulan merah yang menggantung dilangit malam. Jika dirinya tak bisa, setidaknya Shin harus berhasil mencapai tujuan mereka.

xxx

Ingatkan Yuuma mengapa dirinya berada ditempat ini. Oh, mencari adik kurang ajar yang sekarang menjadi tahanan leluhur narsis sialan itu. Terima kasih pada kekuatan gerhana bulan, kelima inderanya tak berfungsi dengan baik sehingga ia harus mencari keberadaan Yuki melalui instingnya. Entah sudah berapa lama dirinya memutari istana kelewat luas ini dan hasilnya tetap nihil. Kalimat sumpah serapah yang ia tahu keluar begitu saja dari mulutnya. Dinding dikedua sisinya terlihat menggoda untuk dihancurkan, melampiaskan rasa frustasinya yang tak kunjung reda. Jika dirinya berhasil mendapatkan Yuki kembali, membiarkan adiknya bekerja rodi terasa kurang. Setidaknya, memikirkan hukuman apa yang pantas membuat Yuuma sedikit lebih tenang.

Ia kembali memasuki koridor panjang yang terlihat mewah dan disitulah ketika langkah kakinya berhenti. Manik cokelatnya melebar tatkala melihat Shuu yang berada diujung koridor, menatap sama terkejutnya. Geraman halus terdengar dari Yuuma. "Apa yang kau lakukan disini, NEET?" tuntutnya. "Jangan bilang, kau sekarang membantu leluhur narsis sialan itu."

"Jaga mulutmu," ancam Shuu. Iris birunya berkilat tajam, seolah siap jika Yuuma mendadak menyerangnya. "Aku kesini untuk mencari adikmu itu."

Alis Yuuma bertaut. "Untuk apa kau mencari Yuki?" tanyanya. "Kau bukan siapa – siapanya."

Shuu diam. Sama halnya dengan Yuuma yang mengunci mulutnya. Ada banyak pertanyaan untuk Shuu perihal mimpi yang ia lihat selama ini, tepat ketika kebangkitan Komori Yui terjadi. Didalam pecahan mimpi yang samar – samar itu, ia melihat sosok Shuu muda, tersenyum bahkan tertawa bersamanya. Tak lupa dengan kebakaran sebuah desa yang tak ia kenal. Kesempatan tak akan datang kedua kalinya, itulah yang Yuki katakan dulu sekali. Entah gadis itu mengerti apa yang diucapkannya, karena saat itu mereka masih berada di penjara dunia. Nampaknya, ucapan adiknya itu benar. Sekarang saatnya ia mendapatkan kebenaran dari mulut sulung Sakamaki.

"Jelaskan padaku apa yang kau tahu tentang diriku dan desaku." Satu pernyataan jelas yang dilemparkan oleh Yuuma. "Aku yakin kau tahu apa yang terjadi sebenarnya," lanjutnya.

Shuu menghela nafas panjang dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Walau begitu, aku tak punya alasan untuk menceritakannya padamu. Kau pun tidak perlu tahu hal yang sebenarnya terjadi."

Yuuma menggigit bibirnya, mencengkram kuat kepalan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Aku tahu itu. Ingatanku pun masih samar – samar dan tak yakin apakah itu mimpi atau kenyataan," ucapnya. "Tapi, aku ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa bisa terjadi."

Shuu tetap diam.

"Aku tidak memintamu sebagai Mukami Yuuma, tapi sebagai Edgar," sahut Yuuma tegas. "Edgar... sahabat baikmu, kan?"

Ekspresi Shuu masih datar. Berbeda dengan iris birunya yang menampilkan konflik batinnya saat ini. Kebenaran, sesakit apapun itu, pasti akan terungkap dan inilah saatnya Mukami Yuuma, Edgar, tahu kebenarannya. "Kebakaran itu dan hilangnya ingatanmu... adalah salahku," ungkapnya. Sebelum Yuuma menanggapi, Shuu melanjutkan. "Kejadian itu... sama saja seperti aku yang melakukannya sendiri."

Alis Yuuma bertaut. "Apa maksudmu? Apa orang lain yang melakukannya?" tanyanya tak mengerti.

Shuu mendesah panjang. Haruskah ia mengatakan kebenaran ini. Ia tahu, harus mengatakannya kepada Yuuma, tidak kepada Edgar kebenaran yang selalu ia tutupi itu. Terlebih lagi kesungguhan yang terpantul dalam iris cokelat Yuuma, terlihat memaksanya. Shuu kembali menghela nafas, seolah ingin menenangkan hatinya dan meyakinkan bahwa ini adalah jalan yang tepat. "Ya dan pelakunya adalah Reiji," gumamnya pelan.

"Reiji melakukan hal itu karena kau terlibat denganku. Keluarga dan teman – temanmu menjadi korban karena kau berteman denganku," lanjut Shuu menjelaskan. "Aku sempat mencegahmu agar kau selamat. Tapi, kau bersikeras dan tetap pergi meskipun terlambat. Aku tidak tau tepatnya bagaimana ingatanmu bisa hilang. Hanya saja, aku menganggap dirimu sebagai manusia, sebagai Edgar mati dalam kebarakan itu."

"Apa – apaan itu?" tanya Yuuma, mengeratkan kepalan tangannya. "Hanya karena aku berteman denganmu? Fuzakenna!"

"Sayangnya, itu kebenarannya," tukas Shuu.

"Apa itu maksudmu dengan sama saja kau yang melakukannya?"

Shuu menganggukkan kepalanya. Ia memandang keluar jendela disebelah kirinya, memutarbalikkan kenangan dalam benaknya. "Memang Reiji yang melakukan hal itu terhadap desamu. Jika saja, aku lebih memerhatikan dia dan menjadi kakak yang tepat baginya, mungkin kebakaran itu tak akan pernah terjadi," ucapnya. Ia kembali menatap Yuuma yang masih berdiri diam ditempat, tak bergerak selangkah pun. "Kau pun... masih hidup sebagai manusia tanpa perlu terlibat dengan semua mimpi buruk ini."

"Ini semua salahku," rutuk Shuu pelan yang lebih kepada dirinya sendiri.

Hening menyesakkan kembali menyelimuti mereka berdua. Keduanya sibuk akan pikirannya masing – masing, terlebih Yuuma. Memelajari kebenaran yang hampir saja terlupakan dan bermaksud Shuu bawa sampai kuburnya. Yuuma tidak tahu harus marah ataukah sedih saat ini. Jikapun marah, kepada siapa ia harus melampiaskannya. Baginya, baik Shuu dan Reiji sama – sama bersalah. Reiji pelaku sebenarnya dan Shuu yang menutupi kebenarannya. Kebenaran itu memang pahit dan Yuuma paham sekali. Tak mengherankan jika semua orang lebih memilih mendengarkan kebohongan yang manis dibandingkan kebenaran yang pahit dan terkadang amat kejam. Yuuma membuka mulutnya, namun kembali menutupnya. Ia tak tahu harus berkata apa. Haruskah ia memaafkan perbuatan Shuu. Atau justru memaafkan Reiji. Tapi, untuk apa.

Saat itulah, perhatian mereka berdua teralihkan oleh sesuatu yang menyerang indera penciumannya. Aroma itu begitu manis, lebih manis dibandingkan madu dan sangat menggoda. Sungguh aneh karena mereka berdua menciumnya dengan sangat jelas, mengabaikan bahwa sekarang masih gerhana bulan. Tanpa dikomando, Shuu dan Yuuma melangkahkan kaki mereka menuju aroma itu berasal.

xxx

Subaru benar – benar hilang kendali dan tak memedulikan jika darah gadis didalam cengkaramannya ini mengering lalu pergi ketempat Sang Pencipta. Jiwanya memerintahkan hanya untuk menghilangkan rasa hausnya. Tak peduli dengan Mukami bersaudara yang masih sibuk mencari gadis ini ataupun pertempuran klan ular dengan First Blood diluar. Begitu pun dengan kemungkinan gadis itu berubah menjadi vampire. Siapa peduli. Ah, tapi ia ingat pembicaraan Reiji mengenai gadis ini yang merupakan keturunan First Blood. Maka dari itu, ia diculik oleh Tsukinami bersaudara.

Lagi... lagi... lagi... hisap terus!

Ia melepaskan taringnya, puas dengan rasa haus yang perlahan mulai hilang. Manik merah darahnya memerhatikan setiap detil wajah gadis itu. Mungkin akibat darah yang terlalu banyak ia minum, wajah gadis itu nampak lebih pucat dari biasanya. Iris biru gelapnya terlihat kosong dan seolah siap menenggalamkan siapa saja yang menatapnya. Bentuk hidungnya yang kecil dan manjung, garis matanya yang terlihat tajam, dan jangan lupakan dengan bibir berwarna pink pucat. Gadis yang ia tahu memiliki nama Mukami Yuki itu memang tak terlihat secantik dengan Komori Yui. Sifatnya pun berbanding terbalik, sangat tomboy dan tak terlihat sekali sisi wanitanya. Namun, jika dilihat dari dekat seperti ini, ada sesuatu yang membuat Mukami Yuki cantik dengan caranya sendiri.

Subaru yakin, dirinya melakukan ini karena gerhana bulan yang masih saja menguasai kekuatan penghuni Dunia Bawah. Pikirannya berkabut akan rasa haus dan aroma manis darah gadis didepannya. Ia akan berbicara jujur, mengingat dirinya hampir tak pernah jujur dalam mengungkapkan perasaannya sendiri. Aroma darah Yuki benar – benar manis dan wangi, membuatnya teringat dengan mawar putih ditaman mansion yang sering ia kunjungi. Begitu lembut hingga dirinya terbuai oleh kenikmatan dunia fana ditengah kekacauan ini. Ketika ia sadar akan perbuatannya sendiri, Subaru segera melemparkan Yuki sehingga gadis itu jatuh terduduk diatas jalan batu. Wajahnya panas begitu pula tubuhnya.

"Aduh, apa yang kau lakukan sih?" protes Yuki.

Subaru sama sekali tak memedulikan protesan dan keluhan Yuki karena sibuk mengusap bibirnya. Ia bahkan tak menyadari akan semburat merah dipipi gadis itu, terlalu sibuk akan tindakan gilanya barusan.

"Hei? Kau mendengarku tidak?" tukas Yuki sebal. Ia sudah berdiri didepan Subaru, sangat dekat. Subaru terkesiap dan langsung mengambil langkah mundur untuk menjauhkan wajah Yuki darinya. Alis Yuki bertaut diikuti oleh mulutnya yang mengerucut kedepan. "Ada apa denganmu? Wajahmu merah."

"U-urusse!" sembur Subaru. "La-lagipula apa yang kau lakukan disini sendirian, hah?!"

"Hah? Harusnya itu kalimatku," dengus Yuki. "Lalu, apa maksudmu barusan?! Tiba – tiba saja menghisap darahku! Dan siapa kau, moyashi?!"

"Mo-moyashi da to?! Fuzakenna!" seru Subaru. Ia terdiam, menyadari apa yang baru saja dikatakan oleh gadis itu. "Kau... tidak mengenalku?"

Alis Yuki semakin mengerut, sama sekali tak mengerti dengan cowok berambut putih didepannya. "Aku tak akan bertanya kalau mengenalmu, baka," tandasnya.

"Aduh, pasangan kekasih harusnya jangan saling bertengkar," ejek seseorang.

Iris merah darah Subaru melebar ketika melihat Tsukinami Shin tengah menyeringai pada mereka berdua. Pedang siap ditangannya dan ditepukkan pelan dipundak. Spontan, Subaru segera menarik Yuki kebalik punggungnya, menyembunyikan gadis itu dari musuh mereka. Seringaian Shin semakin melebar melihat tindakan manis Subaru yang berusaha melindungi gadis bersurai pendek tersebut. Meskipun tidak dapat melihat wajahnya, Subaru dapat merasakan saat tubuh Yuki mendadak tegang. Suara langkah kaki dan aroma yang amat Subaru kenal datang. Kemudian diikuti oleh langkah tiga orang lainnya dari belakang.

Shin bersiul, senang melihat semua tikus yang harus ia basmi sudah berkumpul. "Baguslah. Aku tak perlu membuang tenagaku untuk mencari dan membunuh kalian semua."

"Seenaknya saja," geram Yuuma. "Aku lah yang akan membunuhmu!"

"Yu-chan, daijobu?" tanya Kou lembut, mendekati Yuki yang masih tak bergeming dari balik punggung Subaru.

"Yu-chan... ada... apa?" sambung Azusa.

"Nee, aku punya penawaran untukmu," ucap Shin tiba – tiba. Iris kuning emasnya tertuju pada Yuki, mengabaikan keenam vampire yang siap kapan saja menyerang dirinya. Senyumnya mengembang dan ia berjalan mendekat, cukup dekat untuk melihat Yuki yang hanya diam menundukkan kepalanya. "Kau tahu, aku bisa saja melakukannya lagi. Kali ini, kupastikan mereka akan mati ditanganku."

Yuuma maju diikuti oleh Subaru yang siap menyerang. Kou menjaga Yuki untuk tetap dibelakangnya, aman tak tersentuh oleh leluhur narsis didepan mereka yang menyeringai bagaikan orang haus pertempuran. Sama sekali tidak ada yang membuka mulut, hanya menunggu waktu untuk menyerang satu sama lain. Entah sudah berapa lama waktu berjalan dalam keheningan menengangkan, bahkan suara angin pun tak terdengar sama sekali.

Kebisuan itu dipecahkan oleh ketukan sepatu diatas jalan bebatuan. Semuanya menoleh pada sumber suara tersebut. Subaru yakin wajah Mukami bersaudara sudah pucat pasi layaknya mayat ketika melihat Yuki menyambut tangan Shin. Yuuma yang pertama kali membuka suara, menelan semua rasa terkejutnya dan sakit hatinya. "Apa yang kau lakukan, baka?! Cepat kembali kesini!" serunya.

Yuki menoleh pada keenam vampire dibelakangnya. Tatapannya begitu kosong dan dingin, seolah sosok Mukami Yuki tak pernah ada disana. "Aku tak pernah mengenal kalian," ucapnya dingin.

Shin menyeringai lebar akan kemenangannya. Ia pun melingkarkan tangannya dipinggang Yuki dan memberikan kecupan lembut pada surai hitam pendek gadis itu. Kemudian, Shin menuntun Yuki pergi dari keenam, tidak keempat vampire yang masih terdiam karena ucapan saudara mereka, adik perempuan mereka satu - satunya. Begitu pula dengan Shin dan Yuki yang mengabaikan raungan Yuuma akan sumpah serapah dibelakang, ditujukan pada pengkhianat Mukami. Meski samar, isak tangis ikut terdengar ditengah teriakan Yuuma.

"YUKI!"


Fuzakenna : Jangan bercanda.

Urusse : Diam (dari kata Urusai)

Moyashi : Toge

Moyashi da to : Toge, katamu


Author : #sembunyi dilemari, nyalain senter, dan ngadep kamera. Hehehe, gimana? Pasti pada nggak nyangka ya Yuki-chan lebih milih Shin dibandingkan Mukami bersaudara, apalagi Yuuma, secara dia masih hidup dan ternyata gertakan Shin itu bohong. Tenang, pastinya akan Author jelaskan kenapa Yuki-chan milih bersama dengan Tsukinami bersaudara. Ada sedikit hubungannya dengan masalah utama dari serial EN ini. Apapun itu masalahnya, tetep ditunggu aja hehehe. Sengaja Author bikin penasaran. Tolong jangan bilang yang lain Author ada disini. Author lagi sembunyi gara – gara pura amnesia.

Oh iya, karena sudah masuk bulan suci Author beserta pemain serial EN mengucapkan; "Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga puasa tahun ini diberikan berkah melimpah oleh Yang Maha Penguasa. Amin." Okeh, sekian aja nih dari Author. Sampai jumpa dichapter selanjutnya~

PS. : Apa minna tau apa yang Subaru-kun lakukan pada Yuki-chan? Selain ngisep darahnya loh ya hehehe