Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin – XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang(Flashback) mengenang kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia. Dan sebenernya cast nya tetep kok, cuma disetiap chapter akan muncul cast baru, itu bukan pemain(?) tetap. Yeah istilahnya cameo gitu. Hehe.

.

-e)(o-

.

Back in Time.

Harta, Tahta dan Kasta.

Cerita ini akan membawamu keawal, bagian paling awal sebelum semua kesalahan, masalah dan kekacauan terjadi, ini akan bercerita tentang kehidupan rumit yang menyakitkan, menyakitimu, dia, bahkan mereka.

.

.

Ratu Yang Tak Bertahta.

.

.

Untuk sebuah kesalahan, kau harus di hukum. Tapi, apa sebenarnya salahku? Sehingga kau menghukumku demikian.

Kau terlahir untuk menjadi seorang pangeran. Dari ayah yang merupakan seorang raja dan ibu seorang ratu. Namun ini hanyalah perumpamaan, perumpamaan tentang dirimu.

Kau memang seorang pangeran, pria tampan, tinggi berkulit putih, berkarisma, dan terkesan dingin. Yeah begitulah dirimu. Jika kau pangeran maka ayahmu adalah raja. Memang begitu. Ayahmu berkuasa, berada di tempat tinggi dan di hormati. Namun kau seperti musuh baginya. Selalu dirimu tersenyum sinis jika mendengar tentang ayah. Bagimu dia bukanlah seorang ayah, melainkan musuh, lelaki [aling kejam yang pernah ada.

Hari ini aku milikmu. Kalimat itu seakan adalah kalimat yang setiap hari diimpikannya, wanita bertubuh mungil dengan rambut terurai bebas. Dia sangat cantik, teramat sangat cantik jika kau ingin tahu. Dan jika di deskripsikan belum tentu kecantikannya akan mengena pada hati. Yang jelas, dia cantik dengan rambut panjang berwarna hitam, pekat sekali.

Matanya indah, bening dan tajam serupa dengan mata kucing. Apakah dia wanitanya raja? Atau permaisuri? Tidak, dia melahirkan sang pangeran, putera mahkota yang akan mewarisi tahta, hidup dalam istana bersama sang raja. Namun dia bukan permaisuri atau ratu bukan juga selir. Dia hanya wanita simpanan. Haha, lucu sekalikan, raja mempunyai simpanan? Memang aneh kan, bukankah jika raja menginginkan wanita lagi dalam hidupnya, dia tinggal mengajukan petisi dan menunjuk siapa saja untuk dijadikan selir, sesuai hati dan kriterianya? Namun dia malah memiliki simpanan.

Simpanan artinya dia yang selalu disimpan, tidak ada yang boleh melihatnya selain raja itu sendiri. Karena inilah kau begitu membenci ayahmu. Raja jika kau benci menyebutnya ayah.

.

.

EXO Fanfiction

By

Moonbabee

.

.

Pada akhirnya sang Pangeran turun dari kamarnya, Naga Biru keluar dari singgasana. Karena sang raja bernama Naga Merah maka sang pangeran bernama Naga Biru. Dengan gaya yang sangat khas Naga Biru duduk ditempat yang selalu keluarga? Ah berhentilah menyebut mereka sebagai keluarga, nyatanya mereka hanya sekumpulan manusia yang memeiliki alamat sama. Mereka bukan keluarga, bagi Naga Biru keluarganya hanya satu, wanita malang yang terkurung dalam ruangan indah di samping istana.

Dia benci, setengah mati dia benci, kenyataan bahwa dia hanya seorang anak dari wanita simpanan, lelaki bernama Naga Merah adalah lelaki paling kejam seantero dunia, demi tuhan. Naga Merah adalah raja, tapi bisa-bisanya dia menyimpan seorang wanita tanpa memperkenalkan pada khalayak, akan lebih terhormat jika ibunya adalah selir. Dia tidak terima, bukan pada ibunya tapi pada sikap Naga Merah, mimpi jika kau ingin mendengar kata ayah dari Naga Biru pada Naga Merah.

"Kau tidak habiskan sarapanmu? Kenapa hanya ditatap seperti itu Pangeran?" Naga Merah bertanya, menghentikan acara sarapannya saat melihat Naga Biru hanya memandang makanan yang tersaji.

"Aku tidak bisa menelan apapun?" jawabnya tanpa menoleh dan masih memandangi makanannya. Wajah ibunya yang malang terkenang. Dia makan bersama, dengan raja dan ratu tapi ibunya sendiri, diruang makan yang besar dia seorang diri. Yang bersama-sama saja terasa sepi, apalagi sendiri.

"Apa kau sakit? Sudah memeriksakan diri?" Naga Biru tersenyum sinis, sakit? Ya, dia sakit seumur hidupnya. "Ayahmu bertanya Pangeran, kau sakit? Sudah memriksakan diri?" kali ini sang ratu yang buka suara, menghentikan sarapannya dan menjalin jemari, menatap Naga Biru dengan tatapan tegas.

Perlahan Naga Biru mengangkat kepala, pandangannya bergulir dari raja kemudian pada sang ratu, untuk beberapa detik dia hanya diam, dia ingin menentang menyerukan sebuah kesakitan dalam hati kepada raja, mereka ayah dan anak kan, jika dia mengutarakan akan didengarkan? Apalagi jika dia mau membumbuinya sedikit dengan tangisan.

Tapi tidak, dia tidak boleh menangis. Harga dirinya akan jatuh. Seketika dia bangkit dari duduknya, membalikan badan supaya derai air mata tak terlihat. "Tidak ada tabib manapun yang bisa menyembuhkan sakitku, luka hati tak ada obatnya. Bahkan meski itu adalah orang yang menyebabkan kepatahan."

Naga Merah tertegun. Yang sedang dibicarakan anaknya adalah tentang Raja, Pangeran dan wanita yang telah melahirkan Pangeran. "Berhenti dari langkahmu, kembali dan habiskan sarapanmu dengan benar. Ini perintah" kata Naga Merah berkata, matanya tajam terarah pada punggung Naga Biru yang kini berhenti tepat diambang pintu.

Suasana ruang makan diistana tegang, maka beda dengan ruang makan yang terdaat di pavilion tempat sang simpanan berada. Diwaktu yang sama dia juga sedang sarapan, menghabiskan makanan yang lezat tapi terasa hambar dilidahnya, tapi apa yang bisa dilakukan sang simpanan selain menghabiskannya dengan tenang? Tidak ada.

"Aku sudah selesai" katanya, lalu dengan anggun bangkit dari duduknya, berjalan kembali menuju kamarnya, hal yang selalu dia lakukan setiap hari, bangun tidur, makan lalu kembali kekamar, melamun lalu tidur lagi. Sebatas inilah dunianya, pavilion indah ini adalah dunianya.

Atap pavilion adalah langit baginya. Tapi itu tidak masalah, selama anaknya bisa melihat langit secara nyata dan menikmati dunia yang luas, ia sudah bersyukur, tahukan siapa anaknya?

Ya benar, Pangeran Naga Biru.

"Naga Biru yang malang, hidupnya tidak lepas dari perintah. Selamat makan" Naga Biru berucap, tentu saja dia menuruti perintah Naga Merah, memang dia bisa menentang? Tidak bisa.

Lalu gebrakan meja menumpahkan makanan yang siap masuk kemulutnya yang otomatis mengotori pakaianya. Ketika dia mengangkat kepalanya dia langsung bertemu tatap dengan Naga Merah, kemarahan berkumpul dimatanya. "Ah, pakaianku kotor. Hari ini aku merepotkan para tukang cuci, kuharap tuhan mengampuniku"

"Kau adalah anakku, tapi aku sungguh sangat memukul wajahmu, bisakah kau makan dengan tenang"

"Akan lebih baik jika aku dipukul, setidaknya aku akan merasakan sakit yang nyata, aku seperti orang gila yang selalu datang ke klinik, mengeluh sakit tapi mereka menyatakan aku sehat, jadi siapa yang salah?"

Naga Merah menarik baju bagian depan Naga Biru. "Pukul aku, aku akan lari setelah ini untuk menemui ibuku, aku akan menunjukan kalau dia mencintai lelaki yang salah. Dan sebuah kebodohan mau menjadi wanita simpanan. Demi tuhan, cinta yang bodoh."

"Hentikan" sang ratu menyela. Menarik suaminya untuk menjauhi Naga Biru. "Pergilah, bersihkan dirimu sebelum pergi belajar."

"Malam ini aku milikmu" malam rasanya cepat datangnya, ketika Naga Merah mendatangi wanita simpanannya. Wanita mungil itu tadinya sedang duduk didepan meja rias. Malam ini? Ah dia ingat ini malam akhir pekan. Haruskah dia senang? Entahlah, hati Naga Merah untuk wanita lain, bukan untuknya, ia hanya mengangguk kecil, milikmu? Setiap kali ia mendengar kata milikmu rasanya benar-benar mengoyak hati, hanya dua malam. Satu-satunya lelaki yang kenali saat ini nyatanya adalah suaminya. Tapi hanya untuk dua malam mereka menghabiskan waktu berdua, dia marah? Tentu.

Naga Merah duduk pada tepian ranjang, menunggu simpanannya datang padanya. Wanita mungil itu, wanita yang selalu membuatnya berdebat dengan sang putera. Tapi mau bagaimana, memang sejak ratu datang kembali ke istana Naga Biru selalu menghakiminya, mengatakan kalau dia adalah lelaki brengsek.

Sayangnya dia malah semakin marah ketika si mungil mengatakan kalau ia hanya wanita simpanan, mau menerima tawaran raja untuk menjadi wanitanya dan melahirkan sang pangeran, karena itulah dia selalu mengatakan kalau cinta mu benar-benar cinta yang bodoh.

"Apa harimu menyenangkan?" si mungil menggerakan matanya, menatap sebentar tuannya lalu mengangguk pelan, kebohongan yang luarbiasa. Naga Merah merengkuh simungil kedalam pelukannya, menekannya sedalam yang ia bisa kedalam dada, untuk dia mendengarkan betapa detak jantungnya menggila jika bersama.

"Sedikit saja, tidakkah kau ingin mengeluh padaku? Kau berbohong jika mengatakan harimu menyenangkan-dan sebuah kebodohan menanyakan harimu"

"Jeonha" ia memanggil lirih, tanpa membalas pelukan itu. "Katakan"

"Bogoshipo"

"Apa keluhanmu hanya kau merindukan aku?" dirasakkan anggukan kecil didadanya. Pantas Naga Biru selalu menyebutnya cinta yang bodoh, dia memang bodoh, jatuh cinta kepadanya, kepada lelaki yang bahkan tidak bisa menentukan pilihan hati.

"Pabboya" katanya lirih.

"Maafkan aku"

"Untuk?"

"Tidak sepantasnya wanita rendahan sepertiku mengatakan hal itu, aku memang bodoh"

Naga Merah mengatupkan bibirnya, perkataan yang sudah siap keluar seakan tertahan pada tenggorokan, tertelan kembali bersama saliva. Bukan itu maksudnya, dan bisakah kau berhenti menyebutmu wanita rendahan? Kau adalah wanitaku. Batin Naga Merah menjerit, ada semacam sakit yang tidak bisa dijelaskan.

Ceritanya berakhir disini, sepenggal kisah keluarga kerajaan dan seorang raja yang memiliki simpanan, cerita yang aneh, namun dari yang aku dengar, dia bercerita dengan wajah yang sangat serius, nyaris membuat aku berfikir kalau itu nyata. Tapi dia hanya murid TK terkenal, kurasa dia terlalu banyak diceritai buku dongeng sehingga imajinasinya sangat tinggi.

Si mungil simpanan raja tengah berjalan disekitar taman pavilion ketika sang pangeran datang. seperti para pelayan lain dia juga membungkuk dalam, memberikan hormat atas kedatangan calon raja berikutnya.

Aku selalu muak dengan itu, seharusnya aku yang menghormat padamu, bukan sebaliknya. "Aku ingin berenang, bisakah kau siapkan peralatannya."

"Ye jeoha" si mungil hendak beranjak namun segera terhenti karena Naga Biru menghentikannya. "Bukan kau, tapi mereka" ia menunjuk barisan pelayan berseragam yang berdiri masih membungkuk dibelakang si mungil. "Aku ingin-

"Mari berjalan bertiga, taman pavilion adalah yang terindah di istana" suara Naga Biru terhenti saat mendengar suara lain yang lebih berat, Naga Merah datang seorang diri tanpa rombongannya, untuk apa? Lalu yang selanjutnya terjadi adalah Naga Merah menggenggam jemari si mungil, menuntun dua manusia lain yang kini mematung.

"Jeonha-

"Bukankah teratai buatan itu sangat cantik, itu aku yang mendesign" Naga Merah sepertinya tidak ingin mendengar bantahan, Naga Biru hanya diam dibelakang sambil memperhatikan. Ini jarang terjadi, Naga Merah tampak manusiawi.

Seorang pelayan datang dari arah samping, memberikan penghormatan lalu berkata. "Semua yang dibutuhka seja jeoha sudah di siapkan"

"Aku akan kesana" Naga Biru mengambil tangan si mungil yang bebas dan segera menariknya, membawanya setengah berlari meninggalkan Naga Merah.

Sampai di kolam renang, ia mengambil pakaian renang yang telah disiapkan, sudah lama dia tidak olahraga air satu ini. Dia sangat suka berenang, mungkin karena itu dia bertubuh tinggi, sekarang saja dia sudah mengalahkan tinggi Naga Merah.

Si mungil duduk kursi yang ada ditepian kolam, melihat apa saja yang disiapkan oleh pelayan, ah mainan? Dia menyentuh mainan berbentuk bulat panjang warna kuning dan merah(larva). Naga Biru masih mandi dengan itu? Dia ingat dulu ketika kecil, ketika Naga Biru sulit mandi, dia akan memberikan mainan itu untuk anaknya, agar dia bermain selama mandi dan cukup berhasil, dia mandi dengan tenang bersama mainan itu.

"Ini membuatku nyaman ketika mandi" sebuah suara datang bersama tangan mengambil mainan karet ditangannya. Naga Biru dengan pakaian renangnya yang menunjukan otot ditubuhnya, belum terbentuk tapi cukup untuk menggoda iman.

Setelah mengatakannya dia melemparkan mainan itu ketengah kolam dan melompat masuk, masuk dengan cara melompat tentu saja menyebabkan air merebah kemana-mana dan mencipret pada gaun putih panjang yang dikenakan si mungil.

"Eomma, turunlah" Naga Biru muncul dari dasar air dan mencipratkan air pada ibunya. "Aku tidak bisa berenang"

"Aku akan membantumu"

"Kakinya pendek, dan jangan menjadi pemaksa"

"Ya" dia berteriak ketika ditembak denga air dari arah atas.

Naga Merah datang dan langsung menyerangnya, menyerang menggunakan tembakan mainan dengan air sebagai plurunya, entah dapat dari mana dan itu cukup mengagetkannya.

Secuil dari kisah bahagia, percaya atau tidak, pangeran yang bercerita.

Cuz. Naga Merah menembak simungil dengan senapan airnya, mengagetkan wanita itu sehingga dia melompat, hampir terjatuh ke kolam seandainya tangannya tidak ditarik olehnya.

"Kau bisa jatuh"

"Cih" Naga Biru mendecih, menyimpratkan air lagi pada kedua orang tuanya yang sedang lengah, sehingga mereka langsung kuyup. "Ah 1:1:0"

"Dasar curang, menyerang ketika lawan sedang lengah"

"Itu namanya trik" Naga Biru mengedipkan sebelah matanya lalu menyelam kedalam kolam.

"Jja, pakai ini. Ketika dia muncul tembak dia, arrachi?"

"Ye?" Tentu saja si mungil merasa keberatan. Menembak? Bagaimana kalau Naga Biru terluka?

"Dia tidak akan terluka, plurunya kan air" tepat saat itu tubuh Naga Biru keluar dari air, Naga Merah menarik pelatuknya dan cuz. "Kita seri" teriak simungil senang ketika tembakannya mengenai tepat kepala Naga Biru.

"Ah, siapa yang memulai, permainan ini permainan anak kecil" ia menendang air. Berenang kepinggiran lalu mengambil pistol mainan yang ada disana, menggunakan kedua tangan dia menembak ayah dan ibunya, ia sungguh lihai menggunakan mainan sampai tubuh ayah dan ibunya basah.

Ibunya tidak punya senjata, namun dia pandai. Kepandaian yang tidak terduga karena dia mengambil kran, langsung menembak suami dan anaknya dengan kran itu. "Itu curang, kau menggunakan kran dan tidak perlu mengisi pluru, sedangkan kami harus mengisinya."

Simungil mengerutkan keningnya, sampai senyuman lebar mengembang dibibirnya. "Itu namanya trik" Naga Merah terbahak, oh jawaban yang sangat pintar. Chu. Dia mencuri satu ciuman.

Itu hanya sepenggal dari pembukaan buku.

Seoul, Korea Selatan – Sehun Birthday 7th.

"Kenapa eomma belum datang? Abeoji berjanji akan membawa eomma datang" Sehun kecil mendongakan kepalanya melihat pada sang ayah setelah mengajukan pertanyaan. Matanya sudah sembab karena menangis, merindukan ibu yang sudah beberapa hari tidak bertemu.

"Eomma sedang dalam perjalanan kemari, tunggu saja."

"Eomma tinggal di rumah besar disamping rumah ini, kenapa lama sekali, Hunnie jemput eomma saja ya. Takut tersesat, eomma tidak pernah keluar rumah"

"Tidak, tunggu saja dia sampai, dia sedang dalam perjalanan kemari"

Sampai kemudian seorang wanita menggunakan gaun warna biru datang, membawa kotak besar yang ia yakini ditujukan padanya. Mama, wanita yang katanya adalah isteri ayahnya, wanita yang kemudian ia panggil mama, wanita bernama Byun Baekhyun.

"Nah, eommamu datang. Sekarang kita turun, tamu sudah menunggu" tidak dia bukan ibuku. "Shireo, aku mau Minseok eomma, ibuku yang punya pipi bulat, bukan wanita itu dia bukan ibuku"

"Sehun" Luhan menggeram, menunjukan mata tajamnya yang berkilat marah, tangannya mencengkram tangan berlapis tuxedo. "Berapa kali abeoji katakan, mulai sekarang dia adalah ibumu, Minseok adalah pelayanmu"

Sehun menggeleng histeris, tidak mau, dia tidak mau menganggap Minseok adalah pelayannya, wanita itu ibunya, ibu yang mencurahi kasih sayang padanya dan yang melahirkannya. "Jangan berteriak, atau aku akan mengusir Minseok dari pavilion dan menjauhkannya darimu sejauh mungkin"

"Sehun benci abeoji, abeoji kejam" tidak peduli rontaan itu, ia membawa Sehun turun setelah menghapus air mata yang menggenang membasahi wajah anaknya.

Sebuah layar besar menampakan sang bintang utama dalam bopongan Luhan, Sehun tampak menebar senyum, anaknya sangat tampan. Dengan balutan tuxedo warna hitam dia tampak seperti pangeran dari negeri dongeng.

"Acaranya akan segera dimulai"

"Bisakah kau mengambil gambar itu" Minseok mendongak pada lelaki bernama Jaehyo yang sedang mengoprasikan CCTV, Minseok ingin menyimpan gambar itu, gambar Sehun dan Luhan yang terlihat begitu tampan. "Apa nona ingin mencetaknya?" ia mengangguk. "Baiklah, itu bukan hal yang sulit" dengan kecepatan jarinya Jaehyo telah selesai mengambil gambar, lalu menekan beberapa tombol hasil gambar itu sudah terkirim pada tempat percetakan foto, besok dia tinggal mengambil setelah dicetak dan dibingkai.

"Itu tuxedo pilihan nona, sangat pas pada tubuh seja jeoha"

Dia yang memilihnya, kemarin setelah Jaehyo membawa beberapa contoh gambar dari beberapa designer terkenal, ia memilihkan yang paling terlihat sederhana namun sentuhan elegannya kena.

Hari ini adalah 12 April, anaknya ulang tahu yang ke tujuh, tidak seperti ulang tahun pada tahun sebelumnya kali ini Minseok tidak bisa ikut merayakan, ia hanya bisa melihat, disebuah ruangan ukuran sedang dan dari layar besar.

Hari ini malam hari, dan karena rumah utama mengadakan sebuah acara, Minseok disembunyikan, diruang bawah tanah yang diberikan pencahayaan cukup.

Malam setelah pesta ulangtahun Sehun.

Minseok memasuki rumah utama, ia diringi empat orang penjaga yang salah satunya adalah tangan kanan Luhan – Ahn Jaehyo. Sehun mengacaukan kamarnya, membanting semua barang yang menimbulkan kerusakan, Byun Baekhyun marah besar, tapi untuk mendekati Sehun dengan menerjang kedalam dia sedikit merasa takut. Bayi albino itu memegang sebuah pot berbahan kaca yang sudah dipecahkan, ia mengancam siapa saja yang berani mendekatinya akan dilemparkan benda kaca itu, yang tidak sadar jika dengan memegangnya juga membuatnya terluka, tangannya berdarah sampai menetes meninggalkan jejak kemerahan dilantai.

"Tidak, nona tidak boleh masuk" Jaehyo menarik Minseok menjauhi pintu, salah-salah Sehun akan melemparkannya pada Minseok dan akan melukai ibunya sendiri, "Dia anakku kan Jaehyo?" Minseok bertanya dengan mata berkabut, Jaehyo melayani Minseok sudah tujuh tahun, dia tahu arti tatapan itu. Minseok mencoba mengatakan dalam sorotnya kalau dia bisa menghadapi Sehun.

"Baiklah, melangkahlah dibelakangku. Seja jeoha sangat brutal jika sedang marah" Jaehyo teringat pernah ditendang perutnya ketika ia terlambat menjemput Sehun dari TK dan dia kesusahan memanjat kursi ketika menemui seorang gadis, itu adalah kejadian lucu yang menyakitkan. Lucu karena Sehun mengatakan tentang seorang gadis dan menyakitkan karena sampai dua hari ia mengalami nyeri lambung.

Tangan kanan selalu berguna, sekalipun dia kidal. Jaehyo tahu bagaimana caranya melindungi Minseok, dibanding Luhan yang hanya bisa memijit keningnya tanpa tahu harus melakukan apa, Jaehyo maju menggunakan dirinya sebagai tembok pertahanan bagi Minseok "Argh" engerang terdengar sebelum bunyi prang dan pekikan. Jas Jaehyo robek dibagian lengan dan melukai lengannya. Minseok memekik karena Sehun melemparkan benda tajam itu padahal Jaehyo telah bersuara.

Sehun dekat dengan Jaehyo meski dia selalu memarahi lelaki Ahn itu. Lalu pekikan kedua karena Sehun jatuh terduduk setelah menyadari kalau yang terkena amukannya adalah Jaehyo. Kakinya menginjak pecahan kaca, anehnya dia tidak menangis, dia bungkam seakan tidak merasakan sakit, matanya menatap lurus pada luka menganga dilengan Jaehyo.

"Ja-Jaehyo"

"Gwaenchana. Aku tidak sakit, jeoha jangan bergerak. Aku akan mengangkatmu dan jangan mengamuk, banyak luka ditubuhmu jika kau banyak bergerak besok bisa demam"

Sehun menuruti perkataan itu. Mengiris hati Luhan yang notabenenya adalah ayah kandungnya. Dengan telaten Jaehyo memembersihkan tubuh Sehun dari darah kemudian membubukan obat merah sebelum dibalut dengan kasa, ada empat luka, di kaki sebelah kanan kedua telapak tangan dan di lengan kanannya.

Tidak terlalu besar, tapi bagi ukuran bocah tujuh tahun, pasti akan membuat tubuhnya meradang dan demam. Sehun menurutinya, mendengarkan dirinya namun dia sama sekali tidak melihat pada Minseok yang tampak sangat ingin menggantikan Jaehyo mengobati luka Sehun.

Ia harus keluar, dia baru saja membuat kesalahan, dengan memasuki ruangan Naga Biru bersama sang ibu, jelas ini adalah hinaan bagi Luhan, benar saja, lelaki Lu itu berdiri memandang kedalam dimana kini Minseok duduk berjauhan dengan Sehun, anak itu menghindari Minseok sebagai bentuk kemarahan. Sudah sejak kapan Luhan disana? Sejak Minseok memasuki kamar anak mereka bersama Jaehhyo.

Ia menghormat pada Luhan sembilan puluh derajat, bentuk permohonan maaf lalu pergi dari sana.

"Tuan muda" Minseok memanggil lagi, mendekat dan duduk dilantai berlutut pada Sehun. Memohon diampuni anaknya dan jangan didiamkan Minseok paling tidak bisa jika marahan dengan Sehun. "Cheoseunghamnida." Minseok menundukan kepalanya, berharap dengan begitu Sehun mau memaafkannya. Anak itu perlahan turun mendekati ibunya yang kemudian mendongak menatap wajahnya. Dia memukul.

Pertama Sehun memukul Minseok tangannya. "Eomma jahat" ia berteriak sambil terus memukul. "Kenapa tidak datang pada acara ulang tahunku, eomma bodoh, kenapa membiarkan bibi mama yang menemaniku, aku tidak suka padanya, kenapa bukan eomma yang menemaniku disana" Sehun semakin gencar memukuli tubuh Minseok sebagai bentuk meluapkan kekesalannya karena ibunya tidak datang. Minseok tidak mencoba menghentikan, dia membiarkan. Membiarkan anaknya memukulinya membabi buta.

Biarlah, jika itu bisa menghapuskan kemarahan Sehun maka tidak masalah kalau dia dipukul, dipukul sampai matipun tidak masalah.

"Abeoji bilang kalau eomma bukan ibuku tapi aku tidak percaya. Tapi kenapa eomma tidak datang keacara ulang tahunku" semakin kesal, Sehun semakin kesal ketika ibunya terus menunduk, dia menarik wajah ibunya agar menatapnya, sayangnya dia memejamkan mata sehingga mereka tidak bertatapan, akhirnya Sehun memukul wajah Minseok, menjambak habis rambut Minseok yang teruai sampai banyak sekali helaiannya tersangkut dijemari mungilnya.

"Sehun benci eomma"

Luhan membalikan badanya, tidak kuasa melihat amukan Sehun terhadap Minseok, anak itu mengacak-acak keadaan Minseok, memukul, menjambak, menampar juga memaki. Sehun belajar dari Luhan. Ketika sedang Minseok sedang hamil itulah yang Luhan lakukan pada Minseok. Prilaku orang tua berpengaruh terhadap anak. Dan prilaku Luhan menurun pada anaknya.

"Mianhae" Minseok berbisik selirih mungkin sambil mengusapi kening Sehun, setelah puas mengamuknya dia kelelahan dan tidur, Minseok tidak ingin menganggu tidur anaknya, karena bahkan ketika dia tertidur dia masih seselaki menyengguk. Dia masih menangis dalam tidurnya.

"Saya memang bodoh tuan muda" satu dua tiga air mata bergulir hingga akhirnya menderas seperti hujan, Minseok menangis untuk mengambil kesedihan Sehun. Supaya anaknya tenang dalam tidurnya, biarlah dia menangis yang penting anaknya tenang.

"Saya sangat bodoh, bahkan untuk menolong anaknya sendiri." Minseok membekap mulutnya, tangisnya tidak boleh menjadi keras, Sehun tidak boleh terbangun.

Luhan membekap mulutnya untuk mencegah isakan keluar dari mulutnya, teganya. Dia benar-benar tega. Wanita itu adalah Minseok, wanita yang hidupnya hancur dan sekarang menjadi sangat menderita. Demi apa, dia adalah bocah yang seharusnya masih bermain dan menikmati masa muda ditengah keluarganya yang bahagia. Tapi yang terjadi?

Luhan menyaksikan bagaimana Minseok mendapat siksaan dari anaknya, dulu ketika Minseok dalam posisi terpuruk dalam hidupnya yang menyiksanya adalah Luhan, kini siksaan digantikan oleh anak mereka, dan sebagai lelaki sekaligus suaminya, dia hanya bisa melihat, mengamati dan menemani menangis dari kejauhan.

"Kau berbohong ya?" gadis kecil bermata panda menoleh pada bocah yang sedang memeluk gelas bubble tea ukuran jumbo sambil sesekali menyesapnya. Sehun namanya, dia berhenti setelah cerita yang cukup panjang, sepertinya kehausan, lihat minumannya terkurang banyak.

"Anak itu pasti gila ya nuna"

"Nugu?"

"Yang memukuli ibunya itu?"

Zitao menghela nafas, melihat ujung sepatunya yang kini ia ayunkan. "Molla" gelengnya pelan. "Karena aku juga pernah melakukannya"

Sehun mengerjapkan matanya lucu dengan kepala dimiringkan. "Ish, nuna sudah besar tapi suka mengambuk. Nuna juga gila"

Minseok berbaring biring miring diatas tempat tidurnya, kepalanya nyeri akibat jambakan Sehun tempo hari. Tapi bukan karena itu dia berbaring seharian, ini karena Luhan mengingkari janjinya. "Aku akan membawa Sehun besok ke pavilion, kau bisa menghabiskan waktu bersamanya selama akhir pekan" katanya saat Minseok hendak kembali ke pavilion malam itu.

Namun, dia tidak menepati janjinya, malah berita yang ia dengar dari Jaehyo, keluarga Lu sedang pergi ke sebuah pulau di Amerika Selatan untuk menghadiri acara pernikahan teman Baekhyun.

Sehun adalah salah satu undangan katanya, dan juga kehadiran Sehun adalah sesuatu yang diharuskan oleh Baekhyun, maka mengabaikan Minseok adalah yang dilakukan Luhan.

"Nona belum makan sejak pagi, jja, nona bisa sakit" bahkan bujukan tegas Jaehyo tidak ditanggapi Minseok, biasanya hanya Jaehyo yang mampu membuat Minseok menurut, namun kali ini ia mengabaiknya begitu saja.

Zitao dan Sehun kecil saling berpandangan sekali lagi. Sehun kecil menitihkan air mata lalu menjatuhkan wajahnya dipaha Zitao. Menangis disana atas apa yang telah ia katakan, rasakan, dan terpendam sejak lama.

Sementara disisi lain Zitao termenung seraya mengusap kepaLA Sehun yang ada dipahanya. Kenapa? Kenapa terasa seakan cerita itu nyata. Seperti bukan dongeng yang selalu dibacakan guru di TK.

Pada akhirnya kesakitan yang nyata tertimpa pada mereka si pemilik cinta, seperti kata sang pangeran, cinta yang bodoh. Hal yang paling mengerikan didunia ini adalah cinta. Dan selama cinta masih ada maka kebodohan mengikuti selamanya.

Selesai.