"Iih Naruto-kun benar benar" Hinata memukul lengan Naruto karena merasa malu dengan kelakuan Naruto.

Saat ini mereka telah selesai menonton film. Semua orang yang keluar dari ruang teater bioskop itu menatap Naruto dengan pandangan sinis dan kesal.

"Ma-maaf Hinata hehe" ujar Naruto dengan cengirannya.

"Bagaimana kalau kita pergi makan? Ayo ya hehe" ajak Naruto agar Hinata tidak kesal lagi dengannya.

"Hmm..yasudah ayo Naruto-kun" Hinata menggandeng tangan Naruto dengan senyuman.

Mereka pun pergi menuju kesebuah reataurant. Dan tempat tujuan mereka makan yaitu kedai ramen yang terkenal enak dikota itu.

Setelah makan, mereka pun kembali melanjutkan acara kencan mereka, pergi ke festival akhir pekan yang diadakan ditengah kota. Mereka lebih memilih jalan kaki daripada naik mobil, agar bisa menikmati waktu kencan mereka berdua.

Tak pernah lepas tautan tangan mereka yang terus bergandengan disepanjang jalan. Dengan candaan dan tawaan bahagia selalu terpancar dipasangan itu. Sudah tidak ada lagi yang namanya canggung dikeduanya. Mereka benar benar menikmati waktu berdua yang tidak pernah mereka lakukan.

"Naruto-kun ayo kita makan ice cream" Hinata menunjuk kedai Ice cream yang sedang diantri oleh beberapa pelanggan yang hendak membeli ice cream.

"Kau ingin ice cream? Baiklah. Ayo" Narutopun menggandeng tangan Hinata menuju kedai ice cream itu.

"Pak ice creamnya dua ya ?" ucap Naruto pada sipenjual ice cream.

"Anda mau rasa apa tuan ?" ujar sipenjual ice cream dengan sangat ramah.

"Ice cream rasa jeruk satu dan..hmm Hinata kau mau rasa apa ?"

"Aku..rasa vanila"

"Baiklah. Pak ice cream jeruk satu dan vanila satu" ucap Naruto yang memesan ice cream.

"Silahkan tuan. Ini ice creamnya" ucap sang pembeli yang memberikan dua ice cream.

"Berapa semuanya pak ?" ujar Naruto sambil hendak mengeluarkan uang dari sakunya.

"Tidak usah tuan. Ini gratis untuk anda" penjual itu menolak untuk dibayar.

"Loh kenapa ?" Naruto mengerutkam kedua alisnya bingun. Dan Hinata juga bingung.

"Hehe iya. Saya senang melihat anda dan pasangan anda. Kalian terlihat sangat serasi tuan" kata sipenjual dengan tersenyum melihat kedua pasangan didepannya.

Wajah Naruto dan Hinata menjadi merona karena penuturan dari sipenjual ice cream itu.

"Apa kalian suami istri?" tanya sipenjual ice cream.

"Hehe kami masih calon pak. Lihat" jawab Naruto menunjukkan cincin pertunangannya dan juga mengangkat tangan Hinata sembari menunjukkan cincin mereka yang terlihat sama.

Hinata tidak bisa bergeming. Benar benar Naruto membuat Hinata sangat malu, namun juga terkesan sangat senang, karena Naruto mengakui dia tunangannya Hinata. Hinata lebih memilih menunduk dengan tangannya yang diangkat Naruto.

"Waah aku turut senang tuan hehe. Ini ice creamnya. Selamat menikmati" ucap penjual itu dan memberikan ice creamnya ke Naruto.

Naruto mengambil kedua ice cream itu dengan tersenyum.

"Terima kasih ya pak" ujar Naruto dan dibalas dengan anggukan dari sipenjual ice cream..

Sembari memakan ice cream yang mereka dapatkan secara cuma cuma itu. Naruto dan Hinata berjalan menyusuri festival akhir pekan masih terus bergandengan dengan tangan yang satu menggandeng pasangan masing masing dan satunya lagi memegang ice cream.

"Hinata. Kurasa perkataan penjual ice cream itu ada benarnya" ucap Naruto.

"Eeh. Perkataan yang mana Naruto-kun?" tanya Hinata yang terpekik.

"Yang dia mengatakan bahwa kita ini pasangan yang serasi. Sampai dia mengira kalau kita sudah menikah" jelas Naruto.

"Oh. Hehe. Iya aku rasa juga begitu" tanpa sadar Hinata mengatakan hal itu dengan tersenyum.

"Kau merasa begitu juga Hinata"

"Eh. Bu-bukan begitu. Hehe a-aku..."

"Hehe. Sudahlah ayo kita pergi ketaman" ucap Naruto yang memotong perkataan Hinata dan merangkul bahu Hinata dan pergi ke taman.

"Dengan cara ini aku akan mendapatkanya. Haha" seringai jahat yang terukir dibibir seorang lelaki berambut merah itu.

Iya dia adalah Gaara. Dia yang dulunya partner kerja dari perusahaan Naruto tapi sekarang sudah tidak lagi. Dikarenakan ulahnya yang hendak merebut sekretaris milik Naruto atau sekarang bisa disebut calon istri Naruto.

Gaara yang terkenal dengan sifatnya yang arogan. Dan juga suka melakukan sesukanya dengan para wanita lalu mencampakkan wanita wanita itu tanpa perduli lagi dengan kehidupan para wanita yang selalu dia sakiti. Dia lelaki yang sangat licik. Dengan uangnya dia bisa menggait para wanita wanita. Setelah puas dengan wanita wanita itu Gaara dengan teganya mencampakkan wanita wanita itu seperti sampah.

Namun tidak bagi Hinata. Ntah apa yang terjadi. Gaara seakan ingin memiliki Hinata sepenuhnya. Berbeda dengan wanita wanita lain. Gaara terlalu terobsesi dengan Hinata. Sampai sebuah rencana jahat ingin ia lakukan agar bisa mendapatkan Hinata.

Sudah tiga bulan belakangan ini semenjak kejadian perkelahin antara dirinya dan Naruto karena memperebutkan Hinata. Gaara memikirkan segala cara agar bisa mendapatkan Hinata sang pujaan hatinya. Ntah apa yang ada dipikiran Gaara. Kenapa bisa merasakan perasaan yang sangat sangat ingin memiliki Hinata. Sampai sampai Gaara mengoleksi semua foto Hinata pada sebuah ruangan yang khusus untuk meletakkan foto foto Hinata.

Sama seperti Toneri. Gaara juga memata matai pergerakkan Hinata. Segala macam kegiatan Hinata tak luput dari pantauannya. Dengan bantuan orang terpecayanya, Gaara memerintahkan agar memfoto Hinata. Dan hasil dari foto itu disimpan dan ditempel disetiap dinding sebuah kamar yang dikhususkan untuk Hinata.

Saat Gaara tau kalau Hinata sudah bertunangan dengan mantan partnernya. Emosi Gaara memuncak. Dengan ancamannya Gaara mengutuk Naruto yang telah mendapatkan Hinata.

"Tunggu saja Namikaze Naruto. Aku akan mendapatkannya. Sesuai janjiku hahahaha" ucap Gaara dengan tawa jahatnya dalam kesendiriannya diruang gelap tanpa cahaya yang masuk didalam ruangan itu.

Ditaman

Naruto dan Hinata duduk disebuah bangku taman yang berhadapan dengan air pancur. Dengan sinar lampu warna warni dari dalam air pancur itu menjadi latar yang sangat indah untuk acara kencan mereka.

Dengan tautan tangan yang masih saja terus bergandeng. Dan senyuman yang terus terukir di bibir mereka. Naruto dan Hinata seakan merasakan bahwa tempat itu hanya ada mereka berdua tanpa memikirkan orang orang yang juga sama halnya dengan mereka menikmati pemamdangan air pancur dengan lampu warna warni.

"Haahh. Hinata kau tau. Aku sangat senang jika terus begini bersamamu" ucap Naruto yang tersenyum dengan melihat air pancur didepan mereka yang menari nari seperti pertunjukkan.

"Hihi. Aku juga senang Naruto-kun" jawab Hinata yang bergelut manja dibahu Naruto.

Naruto pun menghadapkan dirinya ke Hinata dan menangkup kedua pipi Hinata yang chubby.

"Hinata. Aku mencintaimu. Aku sangat sangat mencintaimu. Berjanjilah kau akan terus bersamaku" ucap Naruto yang secara tiba tiba mengatakan perasaanya.

Cairan bening pun mulai muncul dipelupuk mata Hinata. Bukan hendak menangis karena tersakiti tapi ini adalah tangisan yang sungguh sungguh sangat membuat hati Hinata bahagia.

"Naruto-kun" ucap Hinata lirih.

Naruto yang tau bahwa Hinata menangis bahagia itu langsung memeluk Hinata. Menenggelamkan Hinata dalam pelukannya. Sama sama merasakan kehangatan tubuh dari pasangan.

"Aku juga mencintaimu Naruto-kun. Dan aku akan selalu bersamamu" ucap Hinata didalam dekapan hangat Naruto.

Mereka melepaskan pelukan mereka masing. Dan mulai mendekatkan wajah mereka. Sampai jarak antara wajah mereka semakin dekat dan akhirnya mereka berciuman mesra dengan latar belakang air pancur yang warna warni dengan sinar lampu.

Pagi harinya

Setelah acara kencan mereka kemarin. Hinata menjadi sangat bersemangat dipagi hari ini. Dia sengaja bangun pagi pagi untuk menyiapkan bekal buat Naruto makan siang.

Setelah selesai itu Hinata pun bergegas untuk menuju kantor dengan membawa bekal buatnny itu. Namun disaat Hinata hendak keluar dari gedung apartemen. Sebuah mobil Hitam berhenti tepat didepannya yang hendak pergi itu.

Mobil Hitam itu membuat Hinata terhenti dengan wajah bingungnya. Dua orang berbadan besar dengan sigap membukakan pintu mobil itu. Dan pintu mobil itu terbuka lalu memperlihatkan sesosok pria berambut merah.

"Sa-Sabaku-sama"

"Ohayou Hinata" ucap seseorang itu dengan senyuman dan yang diyakini itu adalah Gaara.

"Sa-sabaku-sama. Kenapa anda ada disini?" tanya Hinata yang bingung.

"Kebetulan aku lewat. Aku melihatmu. Jadi tidak ada salahnya bukan kalau aku menyapamu" jawab Gaara masih dengan senyuman yang sulit untuk diartikan oleh Hinata.

Hinata merasa sangat aneh dengan senyuman dari Gaara itu. Perasaan Hinata mulai tidak enak dengan kehadiran Gaara yang tiba tiba begini.

'Dia aneh. Ada apa dengannya?' batin Hinata.

"Kau mau pergi kemana ?" tanya Gaara.

"E-eh i-itu itu. Aku mau pergi kekantor. Sabaku-sama" ucap Hinata yang tergagap.

"Begitu ya. Mari aku antar" ujar Gaara yang menawarkan Hinata agar mau diantarnya.

"Ti-tidak usah Sabaku-sama. Saya bisa naik bis. Sa-saya permisi dulu" jawab Hinata dan langsung pergi. Hinata memang seperti merasakan hal yang aneh dari pertemuannya dengan Gaara saat ini. Jadi Hinata bergegas untuk segera meninggalkan Gaara.

Gaara tidaj bergeming setelah Hinata yang menolak tawarannya untuk mengantarnya. Ntah setan apa yang masuk dipikiran Gaara. Gaara memberi isyarat kepada kedua bodyguardnya untuk menyekap Hinata yang sudah terburu buru pergi itu.

Dengan isyarat dari Gaara yang sudah dimengerti para bodyguard. Dua orang berbadan besar itu langsung mengejar Hinata yang sudah semakin jauh.

"Haah untung saja. Aku sangat takut dengannya" ucap Hinata yang sudah sedikit jauh dari Gaara.

Dan tanpa Hinata sadari dua orang berbadan besar itu mengikuti Hinata dari belakang. Dengan pergerakan cepat kedua bodyguard itu menyekap mulut dan hidung Hinata dengan sapu tangan yang sudah dicampur dengan cairan agar membuat Hinata pingsan.

"Mmmmpppttt" Hinata memberontak saat tangan bodyguard itu menyekap mulut dab hidungnya. Dan bekal makanan yang dia bawa tadi jatuh terburai di trotoar jalanan.

Hinata pun pingsan dengan sekapan kedua bodyguard itu. Dan dengan pergerakan cepat penjaga itu menggendong tubuh Hinata yang sudah pingsan itu lalu membawanya ke mobil Gaara.

"Kerja bagus" ucap Gaara menyeringai kpada kedua bodyguard itu yang telah berhasil membawa Hinata.

Gaara pun memerintahkan supirnya untuk segera melaju ke Manshionnya. Menikamti waktu berdua dengan Hinata sang pujaan Hatinya.

TBC