EPILOG
::
Penonton sangat ramai memenuhi seluruh tempat duduk elegan yang tersedia. Semua kursi penuh dan seluruh barisan orkestra telah menempati posisi masing-masing.
Donghae dan Hyukjae berada di ruang ganti. Donghae mengenakan tuxedonya dan menatap Hyukjae dengan lembut, "Gugup?" tanyanya penuh sayang, dalam sebulan ini mereka telah menjadi kekasih yang sedemikian dekat dan saling mencintai.
Benar-benar seperti menemukan pasangan jiwa yang telah terpisah sedemikian lama. Tidak seperti sikap dingin Donghae sebelumnya, lelaki itu ternyata bisa menjadi begitu hangat kepada Hyukjae. Dia mudah menyatakan cinta berkali-kali dan melimpahi Hyukjae dengan penuh kasih sayang. Hyukjae sama sekali tidak menyangka, pertemuannya dengan Donghae yang berlanjut dengan berbagai permainan biola mereka bersama dan kemudian sambung menyambung oleh berbagai peristiwa akan berakhir menjadikan mereka sepasang kekasih.
Walaupun begitu, Hyukjae sungguh berbahagia, cara Donghae memperlakukannya, seolah dia adalah kekasih yang paling sempurna di dunia, seolah dia adalah satu-satunya yang berharga bagi Donghae, membuatnya merasa sangat berbahagia. Mereka berdua sungguh saling melengkapi baik dalam bermain biola maupun dalam hubungan percintaan mereka.
Hyukjae menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak merasa gugup. Asal kau ada di sampingku." Donghae tersenyum dan mengecup dahi Hyukjae.
"Kurasa akulah yang merasa gugup, aku belum pernah melakukan konser dengan tangan kiri sebelumnya."
"Kau pasti bisa." Hyukjae tersenyum lembut, dengan penuh sayang. Dia merapikan dasi Donghae, "Ingat, kau adalah seorang maestro pemain biola yang sangat jenius." Dia lalu mengerutkan keningnya dan menatap Donghae dengan tatapan mata menggoda, "Sayangnya aku tidak punya jepit rambut kupu-kupu berlian seperti yang dimiliki ibumu untuk meredakan rasa gugupmu."
Donghae tertawa lalu memeluk Hyukjae dengan sayang, "Aku tidak butuh jepit rambut itu, aku sudah memiliki yang paling berharga di dalam genggaman tanganku, bukan?" Pipi Hyukjae memerah,
"Terimakasih karena mencintaiku, Donghae." Mata Donghae meredup.
"Dan akupun demikian adanya, Hyukjae, terima kasih karena telah bersedia mencintaiku."
*** Embrace The Chord ***
"Nanti setelah konser kau culik Hyukjae di sini, dia akan keluar dari sisi panggung sebelah sini." Arlene berbisik kepada Andrew yang menyamar, berpakaian sebagai salah seorang kru.
Arlene tentu saja sudah berdandan cantik sekali karena dia sudah mempersiapkan diri untuk berdandan secantik mungkin sebagai pasangan Donghae di pesta nanti. Mereka berdua sedang berdiri di sisi panggung, berbisik-bisik mencurigakan.
Andrew menganggukkan kepalanya, "Oke, jadi nanti setelah Hyukjae keluar panggung, aku akan membiusnya dengan obat bius dan membawanya pergi dari sini. Lalu apa yang harus kulakukan kepadanya?"
Arlene terkekeh jahat, "Kau bisa melakukan apapun kepadanya. Kau bisa menjualnya atau bahkan membunuhnya, aku tidak peduli, yang pasti Hyukjae harus menyingkir dari sisi Donghae!" Sebelum Andrew sempat berkata-kata, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari ujung samping panggung. Arlene menoleh dengan terkejut, tetapi langsung tersenyum lebar ketika menyadari bahwa yang bertepuk tangan adalah Donghae.
"Donghae! Sayangku!" Arlene setengah melompat ingin menghampiri Donghae, tetapi kemudian langkahnya terhenti ketika dari sisi lain ada banyak polisi yang muncul, dengan posisi melingkar, mengepungnya dan Andrew. Wajah Arlene langsung pucat pasi, dia menatap Donghae kebingungan.
"Donghae? Apa-apaan ini?" dia bertanya suaranya tercekat di tenggorokannya, ketakutan karena polisi yang mengepungnya.
Donghae hanya terdiam, berdiri dan menatap Arlene tanpa ekspresi. Lalu lelaki itu mengeluarkan perekam dari balik saku jasnya.
Suara perekam itu sungguh lantang, mengulang kembali semua percakapan Arlene dengan Andrew sebelumnya yang berencana melukai Hyukjae.
"... Kau bisa melakukan apapun kepadanya, kau bisa menjualnya atau bahkan membunuhnya, aku tidak peduli, yang pasti Hyukjae harus menyingkir dari sisi Donghae!" Segera setelah rekaman itu berakhir, polisi bergerak maju dan meringkus Arlene bersama Andrew, Arlene meronta-ronta, menatap Donghae dengan tidak percaya, benar-benar tidak percaya bahwa Donghae akan melakukan hal ini kepadanya.
"Kenapa kau melakukan hal ini Donghae? Kenapa kau tega melakukannya kepadaku? Aku mencintaimu Donghae... Aku mencintaimu!" Arlene berteriak-teriak seperti orang gila, berusaha meronta-ronta ketika polisi meringkusnya dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah Arlene dan Andrew menghilang dibawa polisi, Hyukjae muncul di sebelah Donghae. "Kurasa kita bisa tenang sekarang."
Donghae tersenyum. "Ya, kita bisa tenang sekarang." Diraihnya jemari Hyukjae dan dikecupnya, "Ayo, penonton sudah menunggu, mari kita berikan konser terindah kita."
Donghae dan Hyukjae dengan membawa biola masing-masing, berjalan melangkah menuju panggung yang terbuka. Suara penonton langsung riuh menyambut kedatangan mereka, pasangan duet sempurna yang telah lama dinanti-nanti, apalagi kondisi Donghae yang sudah vakum hampir sebulan bermain biola karena lukanya, membuat perasaan antisipasi penonton semakin dalam.
Suara applause semakin riuh rendah dan beberapa penonton bahkan berdiri, padahal Donghae dan Hyukjae belum mulai bermain biola. Hyukjae menatap penonton yang begitu banyaknya mememenuhi kursi penonton, dia menghela napas panjang dan menatap ke arah Donghae, lelaki itu tersenyum kepadanya, memberinya senyuman menguatkan.
'I Love U' Donghae menggerakkan mulutnya tanpa suara, memberikan Hyukjae ketenangan dan perasaan bahagia yang luar biasa. Dia meletakkan biola itu di pundaknya, dan kemudian menghela napas panjang, menunggu Donghae menggesekkan nada awal musik mereka, dan menyusulnya dengan permainan biolanya sendiri yang tak kalah indahnya.
Suara musik yang begitu sempurna, penuh dengan nada simponi yang mempesona, memenuhi gedung orkestra yang sangat besar itu, membuat seluruh penonton terpana. Suara musik yang indah juga mengalir di benak Donghae dan Hyukjae, benak dua orang yang diprsatukan oleh nada, dipeluk oleh nada hingga kemudian saling mencintai satu sama lain.
*** END ***
Alhamdulillah selesai juga ff remake ini. maaf sudah membuat kalian menunggu lama *bagi yang masih setia :D *. Thanks udah review ff ini dan terimakasih juga sudah memfollow dan memfavoritkan ff ini. sekali lagi terima kasih.
Dan MUNGKIN ini akan menjadi ff terakhir yang saya publish di ffn. Saya akan mulai mempublish ff di akun wattpad ( hanryeong411) tapi tidak sering-sering. Dan untuk ff remake dengan Cast Sibum diusahakan saya seelsaikan. Tapi tak janji okee..
Sekali lagi thanks for review guys.. ^^
