"Luna pakai ini.."
Luna menatap berbinar pada bandul lonceng kecil perak yang diberikan oleh Ivory.
"Untukku?"
"Mmn.. Aku khawatir jika harus meninggalkanmu sendiri, dan lagi tidak mungkin aku membawamu ke Iania. Jadi, gunakan itu. Itu berisi sihirku."
Ivory tersenyum kecil saat melihat anggukan patuh dari Luna. Matanya berkeliling, memastikan tidak ada barang yang ketinggalan.
Tok.. Tok.. Tok..
Ceklek..
"Yo. Sudah mau berangkat?" Sosok Arlo memasuki kamar dengan wajah khas bangun tidur.
"Perbaiki wajahmu saat akan mengunjungiku." Cela Ivory sambil mendengus sebal. Ia dan Luna berjalan keluar melewati Arlo yang mengedikkan bahu dan mengikuti mereka dari belakang.
Di aula, terlihat Harry dan beberapa peri rumah mereka yang sudah menunggu. Membuat Ivory memutar mata kesal.
"Aku hanya akan pulang sebentar, bukannya akan pergi jauh. Apa-apaan proses perpisahan ini."
"Aku ingin membantumu membuka portal. Anggap saja sebagai latihan." Ujar Harry sambil tersenyum cerah. Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi semalam.
Ivory sedikit melirik hingga ia sampai di pintu ganda aula. Dengan berkacak pinggang ia memandang Harry.
"Baik. Sekarang buat portalnya, aku akan lihat."
Harry dengan riang maju, bersejajar dengan Ivory. Ia mengusap kedua tangannya, bibirnya melafalkan sebuah rune kuno yang ia pelajari beberapa malam terakhir. Membuka kedua tangannya, ia lalu mengarahkannya kedepan pintu ganda. Sebuah lubang hitam perlahan terbentuk, didalamnya masih ada kabut putih tebal walau Harry sudah mengerahkan tenaganya hingga berkeringat.
Dari samping, Ivory menatap dengan tenang. Ia sedikit melirik kembarannya dan memberi kode. Paham akan kode, Arlo mengangguk santai.
"Cukup. Dari sini biar aku saja." Ucapan Ivory membuat Harry terduduk lemas, keringatnya mengalir deras, dan ia terengah-engah. Menatap kabut putih tebal di dalam lubang, Harry mengepalkan tangannya. Kekuatannya belum cukup!
Dengan melambai ringan, Ivory memasuki lubang dan segera menghilang dibalik kabut. Lubang hitam juga perlahan mengecil hingga tidak berbekas.
"Bawa Harry kedalam Cipy.."
Cipy mengangguk, ia segera menuju Harry dan membantunya bangun. Dalam sekejap mereka menghilang dibalik bunyi tar. Peri rumah lainnya.juga segera kembali untuk menjalankan tugas mereka. Menyisakan Arlo yang berada diatas tangga dan Luna yang duduk disofa tunggal.
Arlo menatap gadis itu dengan pandangan rumit. Gadis itu sering sekali menghilang didalam renungannya, melamun, atau hanya menatap kosong. Arlo menimbang sejenak sebelum tiba-tiba ia melancarkan kutukan sehalus angin.
"Crucio.."
Tanpa aba-aba, kutukannya terpental saat akan menabrak tubuh gadis itu, membuat Arlo mengerenyit. Biru dan steel blue bertemu. Luna balas menatap pandangan tajam dan dingin milik lelaki itu.
"Kau akan membunuhku?"
Arlo menaikkan sebelah alisnya dan bersandar malas di pagar tangga, "Menurutmu?"
"Ya. Kau ingin membunuhku.. Aku selalu melihat keluhan dan rasa pahit dimatamu saat Ivo berada disekitarku. Dan diam-diam akan menyerangku dengan aura tajammu. Aku tidak mengerti, kenapa?"
Amarah berkobar naik, auranya semakin tajam. Tidak mengerti katanya.. Gadis rendahan ini..
Menggertakkan gigi, Arlo menutup matanya. Berusaha sekuat tenaga menenangkan beast dalam dirinya.
"Menurutmu kenapa?"
Melihat kepala Luna menggeleng, lelaki itu habis kesabaran. Dengan tenang ujung tongkatnya disembunyikan dibalik pagar tangga dan berguman lembut.
"Avada Kedavra.."
Dar!
Saat kabut asal hilang, Arlo tidak melihat siapapun disana. Bersidekap, lelaki itu berpikir sambil mengelus dagu.
"Keh.. Perpindahan ruang? Banyak juga ia belajar dari Ivo.." Decak Arlo remeh.
Lagi pula, tidak mudah untuk keluar masuk diarea kastil. Memangnya gadis itu akan bersembunyi dimana? Paling hanya disayap kiri. Kali ini akan Arlo lepaskan, masih ada enam hari lagi. Tidak perlu buru-buru.
Pandora
A Drarry Fanfiction
Harry Potter belong to J.K Rowling
Pandora belong to Racquel
BL, Typo(s), Dark but not evil
Dragon!Sage!Draco x Dark!Moon Elves!Sub!Harry
Draco Malfoy x Harry Potter
slight Luna Lovegood x OC
DON'T LIKE DON'T READ!!
Enjoying :)
Menghembuskan nafas, ia memijat keningnya pelan.
"Banyak masalah?"
"Arlo.. Dia mulai membuat ulah saat aku baru saja pergi."
"Karena anak itu?"
"Kau pikir karena siapa lagi? Hanya Luna yang bisa membuat Arlo hilang kendali untuk membunuhnya. Lupakan, Luna sudah lebih kuat sekarang. Dimana Hades, Persph?"
"Tidak tau. Kau pikir aku pengasuhnya..?"
Ivory menggelengkan kepalanya, heran dengan tingkah pasangan suami istri ini. Hades angkuh dan kasar, tapi sangat posesif dengan Persephone membuat wanita itu kesal setengah mati.
Setelah memasuki kabut, Ivory menggunakan sihir perpindahan dimensi menuju kerajaan neraka tempat Persephone tinggal. Tidak seperti dalam film yang menggambarkan suasana suram dan berapi-api. Iblis adalah makhluk angkuh yang mencintai kekuasaan dan kemewahan, kerajaan Hades adalah salah satu paling mewah dan paling besar. Penuh benda-benda berharga dengan bangunan yang terbuat dari berlian dan emas. Membuatnya terlihat wow diantara kobaran api.
"Bagaimana keadaan 'dia'?" Tanya Ivory tiba-tiba.
"Masih belum ada perubahan. Para raja neraka yang lain juga masih berusaha memberikan pengorbanan." Jawab Persephone serius.
Kening Ivory berkerut, "Menjengkelkan."
"Kenapa tidak kau serahkan gadis itu secepatnya, mungkin Yang Mulia bisa lebih cepat bangun."
Hening sejenak sebelum, "F*ck! Darimana kau datang, dasar iblis jahanam!!"
"Kau juga istri dari iblis jahanam ini sayangku.." Jawaban bernada datar itu membuat Ivory menggelengkan kepalanya lelah, Persephone pasti meledak.
"Sialan! Kau.. Mmphh.."
"Get a room, please.. Ada yang masih sendiri disini, kalian tau.." Sarkas Ivory saat melihat Hades yang mencium Persephone untuk membungkam omelan wanita itu.
"Gahh.. Menyingkir dariku!" Dengan satu tembakan api, Persephone berjalan menjauh sambil menghentakkan kaki.
"Baik. Aku hanya datang untuk itu.. Kalau begitu aku kembali dulu, your majesty.."
Saat Ivory baru akan menghilang, Hades tiba-tiba membuka mulutnya.
"Kau yakin akan menjaga gadis itu sendiri? Kau bisa memberikannya padaku untuk dilatih Persph nanti."
"Akan kupikirkan."
Iania, sebuah desa peri yang ditutupi kabut putih tebal dan dikelilingi oleh mantra ilusi.
Ivory berjalan santai, membuka tudung jubahnya saat ia melewati jembatan. Taman bunga warna-warni terpampang begitu ia menyibak tirai tanaman rambat ivy. Rambut peraknya bertambah panjang, ujung telinganya menjadi lancip dengan iris mata tetap. Bermacam jenis peri yang berlarian, bernyanyi, terbang, atau bermain membuat Ivory menghembuskan nafas.
Setelah bertukar sapa dengan setiap peri yang berpapasan, gadis itu akhirnya sampai dipondok tempat tinggal mereka. Menggantung jubah, ia lalu duduk bersender dengan lelah di undakan jendela melengkung. Merenung.
Flashback
"IVO!!"
Tubuhnya terasa seperti tersayat, sakit, perih.. Dengan susah payah ia menjulurkan lengan, menangkap tubuh itu lalu melakukan teleportasi.
"Kau gila?! Apa yang kau lakukan dengan melompat ketengah rune dimensi?! Itu belum stabil! Kau dengar aku?!"
"Arlo.. Aku lelah, sungguh.. Bisakah kita bicara nanti?"
Arlo menggertakkan giginya, dengan cemberut ia memeluk kembarannya dan menyalurkan energi pada Ivory. Setelah beberapa saat, pelukan mereka terlepas. Luka akibat sayatan tertutup sempurna, meninggalkan bercak merah digaun gadis itu.
"Apa yang akan kau lakukan pada gadis itu?" Tanya Arlo dingin, memandang tidak suka pada sosok yang tergeletak diatas karpet berbulu mereka.
Ivory bangkit, dengan hati-hati menyeka wajah gadis itu. Menelitinya sebentar sebelum matanya melihat bandul berbentuk buku terbuka di leher gadis itu.
"Dia..."
"Buang saja."
Plak!
"Dia terluka bodoh! Jangan bicara aneh-aneh.." Saut Ivory jengkel. Terkadang Ivory heran, dari mana sifat selengekan dan berandal kembarannya ini. Padahal ibu mereka terkenal lemah lembut dan penyayang.
Jadi curiga, kebanyakan bergaul dengan iblis neraka jadi gini ya.. Kan Arlo sering main tempat Persephone.
"Tsk. Lalu mau kau apakan?" Sungut Arlo, melemparkan tatapan membunuh pada gadis itu.
Ivory menimbang sejenak, gadis ini adalah 'dia'. Hmm.. Jadi punya ide, hehehehe.. Tapi Arlo tidak mungkin setuju, lelaki itu pasti akan memburu gadis ini.
"Yah, kita obati dia dulu."
Dengan enggan dan sangat terpaksa Arlo harus menggendong gadis itu menaiki tempat tidur.. Arlo akan membuang seprainya sekaligus kasurnya begitu gadis ini bangun. Tsk!
"Tumbuk ini, masing-masing tiga helai daun saja. Kau paham?" Cemberut, Arlo menerima kertas berisi tanaman yang perlu ia tumbuk.
Sepeninggal Arlo, Ivory kembali menatap gadis itu. Ia mengunci kamar dan jendela juga memasang mantra penghalang, dengan begini Arlo tidak akan mengganggu.
Cahaya ungu kehitaman keluar dari ujung jari Ivory, ia menggenggam tangan gadis itu dan menyalurkan energinya.
Tiga jam berlalu, wajah cantik Ivory menjadi pucat. Keringat membasahi tubuh. Gedoran dipintu beserta umpatan sudah lama diabaikannya. Menggertakkan gigi, Ivory mengeluarkan sihir terakhirnya sebagai Oracle. Memberikan kemampuannya sebagai Shaman. Tetes darah mengalir keluar disudut bibir. Ia lelah dan mual, tapi ia tidak bisa berhenti atau mereka berdua akan habis.
"Kumohon bangunlah.." Ucap Ivory lirih. Ia mengeluarkan belati dan menggores lengannya.
Dengan susah payah akibat penglihatannya yang semakin kabur, Ivory mengarahkan lengan terlukanya kebibir gadis itu. Hingga ia merasa setengah darahnya terkuras ia baru melihat gerakan kecil dari gadis itu.
Ah, ia hampir menangis. Akhirnya gadis itu melewati masa kritisnya.
"IVO!! BUKA PINTUNYA, SIALAN! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU BEGITU SAJA KAU TAU?!"
Ivory ambruk. Sihirnya pecah, menyebar. Lengannya masih mengalirkan darah.
Brak!!
Arlo memandang marah pada sosok yang kini melambaikan tangannya lemah. Dengan langkah lebar ia mendekat.
Pelan dan lembut, lengan Arlo merengkuh kembarannya. Memeriksanya hati-hati. Melihat nafas pendek dan putus-putus serta wajah pucat separuh jiwanya itu membangkitkan amarahnya.
"Manusia rendahan! Beraninya kau.."
"Jangan.."
Terlambat. Arlo sudah menyambar tubuh gadis itu. Tanpa aba-aba ia melempar keluar gadis itu melalui jendela besar manor. Ia bahkan memanggil demon peliharaannya, menyuruhnya untuk mencabik gadis itu hingga tidak bersisa.
Ivory merasa frustasi. Kembarannya ini tidak punya otak atau bagaimana. Tidak bisakah ia lihat kalau dirinya sudah hampir mati demi menyelamatkan gadis itu..?? Kalau Ivory tidak sedang lemah, ia pasti menjambak rambut kembarannya itu kuat.
"Kau yang sialan. Kau tidak dengar perkataanku? Jangan!!"
"Kau yang jangan membantahku! Siapa yang menyuruhmu menyelamatkannya?"
"Apa?! Setelah ini kau akan memukulku? Memang kenapa, hah! Itu urusanku."
"Itu juga urusanku! Kau setengah hidupku, setengah jiwaku! Setengah kesadaranku itu kau! Apa kau tidak berpikir kalau kau terluka maka aku akan ikut terluka?!"
"Jangan.."
Ivory membeku, matanya menangkap gambaran demon peliharaan Arlo akan segera mencengkram tubuh gadis itu. Menggertakkan gigi, ia segera berteleport kedepan gadis itu.
"JANGAN!! IVO!!"
CRASHH
Arlo gemetar, wajahnya pucat. Dengan terburu ia melompat jendela lantai dua dan berlari menuju tubuh kembarannya. Dengan sekali jentikan jari, demon peliharaannya terbakar api.
"Sial! Sial! KIRKE!!" Raung Arlo frustasi.
"Ivo, please.. Kau dengar aku? Ivo.."
Derap langkah buru-buru terdengar.
"Oh Merlin! Ivory.. Bawa dia masuk Arlo, cepat."
Samar-samar, kesadaran Ivory semakin hilang. Selain wajah panik Kirke dan tangisan Arlo, tidak ada yang diingatnya.
Flashback off
Puk..
"Ivory?"
"Huh?"
Mengerjap, Ivory segera tersadar. Langit berubah gelap. Cukup lama juga Ivory melamun.
"Ah, madam Kirke.."
Kirke tersenyum lembut, duduk didepan gadis itu dengan nyaman.
"Kudengar kalau kamu kembali. Jadi aku kemari.."
"Ah iya.. Aku akan disini seminggu." Jawab Ivory sambil menunduk.
Kirke memandang anak asuhnya intens. Melihat wajah lelah dan gurat khawatir membuat Kirke menghela nafas pelan.
"Ada apa?"
"Aku hanya cemas. Luna sendirian disana, walaupun ada Harry itu tidak menutup kemungkinan Arlo berbuat ulah."
Kirke terkekeh kecil, mengingat sosok kembaran gadis itu membuat hatinya hangat.
"Itu wajar. Bagaimanapun ia hanya merasa bertanggung jawab, kalian kembar kan.."
"Tetap saja. Dia keterlaluan.." Gerutu Ivory sebal menambah lebar senyum Kirke.
Dewi Yunani itu menjentikkan jari, dimeja muncul dua cangkir teh hangat dan sepiring kue.
"Aku ingat dulu bagaimana reaksinya saat kamu kuanalisis tidak lagi bisa menampung kekuatan besar. Dan kemungkinan untukmu beraktivitas berat sangat kecil. Dia menangis Ivory.."
Ivory tertunduk, menggenggam kedua tangannya erat.
"Apa yang terjadi?"
Flashback
"Dia kehilangan kekuatannya, Arlo. Dia mungkin tidak sehebat dulu, tapi dia tetap adikmu. Kau paham.."
Arlo tertegun. Menggigit bibirnya keras lalu mengangguk. Tanpa perduli siapapun, Arlo berlutut disebelah tempat tidur Ivory, menggenggam tangannya lembut.
"Maafkan aku.. Jangan tinggalkan aku 'vory.. Maaf.."
Tanpa suara ia menangis, mengecup telapak tangan kembarannya penuh kasih.
"Kita kembar 'vory.. Karena itu aku melarangmu.. Aku bukan seorang Seer sepertimu, tapi aku tau gadis itu akan menghancurkanmu.. Kita berbagi tempat yang sama dalam rahim ibu, kau kekasih hatiku.. Kenapa tidak menurut padaku.. Aku menjagamu sampai hari ini, kenapa kau menyelamatkannya.. Tidak bisakah kau lihat, kau satu-satunya kesadaranku 'vory.."
Flashback off
"Kalian kembar, kalian berbagi pikirin yang sama. Rasa sakit dirimu dulu masih dirasakannya sampai saat ini, itu wajar. Karena saat itu pertama kalinya ia merasa takut kehilangan. Kalian hanya tinggal berdua, tidak ada yang lain.. Selesaikan baik-baik, beritahu Arlo apa maksudmu menyelamatkan Luna. Dia menyayangimu, karena itu ia bertindak kejam. Jangan kesal."
Melihat Ivory merenung, Kirke tersenyum tipis. Wanita itu bangkit dan menepuk kepala Ivory beberapakali sebelum berjalan pergi.
"Jangan terlalu banyak berpikir.."
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku.. Aku ingin bertemu.. Sebentar saja, aku ingin melihatnya.."
Mata biru menatap sendu punggung rapuh didepannya. Bergetar, putus asa.
"Aku bisa membantumu.."
"Hiks.. Apa?"
"Harry, aku bisa membawamu kesana. Tidak ada yang akan tau jika tidak diberitau kan.."
"Luna.."
Luna tersenyum ceria, memandang suram kilat tak percaya dimata emerald.
"Apa kau tau kelebihan kami para shaman?"
Api berkobar dibawah kaki Luna, membuat Harry melongo.
Dengan senyum dimatanya, "Karena beberapa hal terdesak, kami bisa berteleport dengan mudah."
"Aku..."
End of Part 19
:') Holla~
Sampai jumpa di Part 20 :)
