Green Rain
T
MultiChapter
Drama, School Life (Junior High School), Bullying
Park Chanyeol, Byun Baek Hyun, Exo Member and The Others
Yaoi/Friendship
Warning: Don't Like, Don't Read
I don't hate silent reader, but please give me some review ^^
.
.
.
Semua murid kelas akhir tengah berkumpul di depan majalah dinding melihat pengumuman yang baru ditempel beberapa menit yang lalu oleh Lee sonsaengnim. Suasana begitu sesak dan ribut akibat para murid berebut untuk melihat ruang kelas ujian mereka. Ya, kertas yang baru ditempel berisi pengumuman pembagian kelas untuk ujian akhir minggu depan. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun lalu dimana biasanya ujian diadakan di aula sehingga semua murid tahun terakhir akan berkumpul dan mengerjakan disana bersama-sama. Namun, tahun ini sistem telah diubah dan dibagi menjadi beberapa kelas untuk mempermudah pengawasan. Joonmyun yang berhasil menembus keramaian berusaha mencari namanya dengan matanya. Sebenarnya dia ingin menggunakan telunjuknya untuk menyusuri kertas itu untuk mempermudah pencariannya namun mengingat kondisi yang tidak mendukung rasanya tidak mungkin.
"Dapat!" gumam Joonmyun.
Raut wajahnya berubah murung saat melihat ruang kelas ujiannya. Di lantai 3 dan ruangan yang akan ia tempati adalah ruangan yang sering mengalami kerusakan AC. Joonmyun berbalik dan berjalan menembus keramaian, kali ini lebih mudah karena ia hendak keluar bukan masuk dan dengan cepat posisinya direbut oleh murid lain.
Di belakang Jongdae, Minseok, Yixing, dan Sehun sudah menunggunya sambil bersandar di tepi jendela. Jongdae menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya 'bagaimana'?. Joonmyun tersenyum pahit dan berhenti tepat didepan Jongdae, membuat yang lain memandangnya dengan penasaran.
"Kelas yang kudapat adalah kelas buruk itu" Joonmyun menghela napasnya diujung kalimatnya.
Jongdae memutar bola matanya dan kembali memandang Joonmyun. "Bukan itu yang kumaksud!"
Joonmyun menunjukkan ekspresi bingung karena bukan itu jawaban dari pertanyaan isyarat Jongdae. Joonmyun membuka mulutnya dan bertanya.
"Jadi?"
"Aku bertanya soal dimana ruang kami. Kau lupa?" ucap Jongdae.
Joonmyun menepuk dahinya dan menyengir kuda. "Hehe, mian..aku lupa melihat ruangan kalian"
Secara bersamaan ke-empat orang itu memejamkan mata mereka dan menghela napas keras.
"Kalau tahu begitu biar Yixing saja yang melihatnya tadi" omel Sehun.
Yixing menjentikkan jarinya didepan wajah Joonmyun membuat Joonmyun menoleh padanya."Tsk, kau tidak bisa diandalkan Joonmyun-ah" komentar Yixing.
Joonmyun hanya bisa tersenyum canggung dan berdiri diam karena ia sendiri tidak tahu mau berbuat apa. Dirinya juga tidak mau kalau harus kembali berdesak-desakkan seperti tadi. Jongdae menoleh pada Minseok. Minseok yang merasa dilihat oleh Jongdae dengan segera menolak karena ia sudah tahu apa yang akan Jongdae katakan.
"Aku tidak mau" tolak Minseok. "Aku tidak mau kalau harus berdesakkan dengan mereka" ucapnya dengan sedikit bumbu aegyeo.
Jongdae beralih pada Yixing. "Yixing-ah, kita harus segera masuk kelas masing-masing untuk mendengarkan pengarahan untuk ujian jadi kalau kau–
"Arraseo, arraseo" potong Yixing dan tanpa mau mendengarkan apa-apa lagi Yixing melangkah dan menerobos kerumunan orang yang juga ingin melakukan hal yang sama dengannya.
Jongdae dan yang lain hanya tersenyum melihat anak paling penurut di kelompok mereka melakukan hal yang paling mereka hindari dengan suka rela.
"Tahu begitu, lebih baik dari awal Yixing saja yang melihat" gumam Joonmyun karena ia merasa yang ia lakukan tadi percuma jika ujung-ujungnya bisa memakai bantuan temannya.
.
.
.
Chanyeol, Baekhyun, Luhan, dan Kyungsoo berjalan bersamaan hendak menuju kelas mereka namun mereka berhenti saat melihat kerumunan orang di depan majalah dinding. Baekhyun menarik kotak susunya menjauhi mulutnya dan memfokuskan pada objek yang berada kurang lebih 10 meter darinya.
"Apa yang mereka lihat? Aish, akan susah lewat kalau mereka menutupi hampir seluruh badan jalan" komentar Baekhyun.
Kyungsoo melirik jam tangannya. "Pengumuman pembagian kelas sudah ditempel rupanya, pantas saja ramai" ucap Kyungsoo.
Mereka bertiga menoleh ke Kyungsoo. Merasa bingung bagaimana Kyungsoo bisa tahu tentang itu, namun belum sempat mereka bertanya Kyungsoo sudah kembali melangkah.
"Kajja! Kalian tidak mau melihat dimana kelas kalian?" tanya Kyungsoo.
Mereka berhenti tepat di barisan paling belakang dan sesekali mereka harus menghindar saat ada anak yang mau lewat karena sudah selesai melihat. Baekhyun mencoba menjinjit untuk melihat pengumuman yang tertempel namun begitu sulit karena sangat ramai. Luhan menoleh pada Chanyeol yang berdiri di sampingnya dan ia tersenyum manis membuat Chanyeol curiga.
"Apa?" tanya Chanyeol.
Luhan menahan tangan Kyungsoo dan Baekhyun yang tengah menjinjitkan kaki-kaki mereka membuat keduanya menoleh pada Luhan dan memasang ekspresi 'apa?'.
"Kenapa tidak biarkan Chanyeol yang lihat saja? Dia kan yang paling tinggi diantara kita jadi kemungkinan untuk melihat akan lebih besar dan aku yakin dia tidak akan keberatan, iya kan?" Luhan tersenyum pada Chanyeol seolah-olah memaksa Chanyeol untuk menjawab 'iya'.
Dengan keberatan Chanyeol mengganggukkan kepalanya dan membiarkan ketiga temannya menunggunya di sisi kiri dari majalah dinding. Sementara dirinya harus mengucapkan permisi berulang kali. Menyusahkan.
Beberapa menit berikutnya Chanyeol kembali. Ketiganya langsung menegakkan posisi berdiri mereka. Baekhyun adalah orang pertama yang menanyai Chanyeol.
"Aku dikelas mana?" tanya Baekhyun.
"Satu kelas dengan Joonmyun di kelas yang pendingin ruangannya sering rusak" jawab Chanyeol dengan setengah meledek.
Baekhyun mendecih.
"Dan kita sekelas Kyungsoo-ya" Chanyeol tersenyum simpul. "Dan Luhan sekelas dengan Baekhyun" lanjut Chanyeol.
Ekspresi Baekhyun berubah drastis, dari yang semula kecut menjadi ceria saat mendengar dirinya akan sekelas dengan Luhan. Baekhyun merangkul bahu Luhan dan mengguncangnya.
"Wahhh, kita sekelas Luhan-ah!" ucap Baekhyun dengan semangat.
Luhan hanya mengangguk dan berusaha menahan gerakan Baekhyun karena ia mulai merasa canggung diperhatikan oleh sekitar. Sementara Chanyeol dan Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya, heran dengan tingkah Baekhyun.
"Ayo kita masuk kelas! Sebelum Lee sonsaengnim masuk duluan" ajak Kyungsoo dan hanya Chanyeol yang mengiyakan, sementara Luhan dan Baekhyun mengekor dari belakang sambil membicarakan kelas ujian yang bermasalah dengan pendingin ruangan.
.
.
.
Dentang jam sekolah terdengar begitu keras hingga ke seluruh penjuru sekolah. Cuaca hari ini tidak begitu baik, mendung menyelimuti Seoul sejak kemarin sore. Anak-anak murid tahun terakhir datang satu per satu bersama orang tua atau wali mereka. Hari ini, hari terakhir mereka memakai seragam sekolah karena hari ini adalah hari kelulusan. Beberapa dari mereka masuk sambil menggandeng ibunya yang memakai pakaian-pakaian dan tas-tas bermerk, sebagian yang lain datang bersama ayah mereka dan berjalan berdampingan. Namun, ada beberapa yang meninggalkan orang tua mereka begitu bertemu dengan teman-temannya.
"Sehun-ah!"
Sehun menoleh saat merasa namanya dipanggil. Nyonya dan Baekhyun juga ikut berhenti begitu mendengar nama Sehun dipanggil. Baekhyun tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.
"Luhan-ah! Annyeong!"
Luhan yang setengah berlari berhenti didepan Nyonya Oh dan tersenyum kemudian membungkuk.
"Annyeong-haseyo ahjumma, Xi Lu Han imnida" sapa Luhan dengan sopan.
"Annyeong-haseyo Luhanie" Nyonya Oh tersenyum hangat pada Luhan kemudian menoleh ke Sehun.
"Temanmu sangat manis Sehun-ah, seandainya kau lebih banyak tersenyum seperti dia" goda Nyonya Oh sambil mencubit pipi kiri Sehun yang menimbulkan decakkan dari Sehun.
Sehun menepis tangan ibunya dan menjauhkan pipinya dengan ekspresi wajah tidak suka "Jangan mencubit pipiku eomma, aku bukan anak kecil".
Luhan melirik Baekhyun, sadar dengan lirikan Luhan, Baekhyun tersenyum kecil kemudian semakin lebar dan mengulurkan tangannya untuk mencubit kedua pipi Sehun.
"YA Oh Se Hun! Kau bertingkah sok dewasa disini padahal di rumah kau masih meminta ibu untuk membuatkan susu untukmu" ucap Baekhyun.
"Sudah, sudah jangan bertingkah seperti ini di sekolah" Nyonya Oh menjauhkan tangan Baekhyun dari pipi Sehun dan memisahkan keduanya. Nyonya Oh tersenyum pada Luhan dan mendorong Sehun dari belakang kearah Luhan.
"Sehun-ah, kau jalan-jalan dulu dengan Luhan. Ibu mau ke ruang guru sebentar untuk mengurus beberapa hal disana" bibi Oh tersenyum dan menoleh pada Baekhyun. "Kau juga Baekhyun, pergilah bersama Luhan dan Sehun tapi nanti kalian langsung pergi ke aula saja, kita bertemu disana, arraseo?"
"Ne.." jawab Sehun dan Baekhyun bersamaan.
Nyonya Oh berjalan menjauh dan hanya menampakkan punggungnya saja, high heels putihnya membawanya menjauh dari lapangan sekolah hingga seluruh tubuhnya hilang ke dalam gedung sekolah mewah itu.
"Luhan-ah, kau datang dengan siapa?"
Baekhyun menoleh begitu mendengar pertanyaan Sehun.
"Dengan ibuku" jawab Luhan.
"Mana ibumu?" tanya Baekhyun.
"Pergi mengurus beberapa hal seperti ibumu" Luhan tersenyum.
Sehun melirik jam tangannya dan merangkul Luhan. "Masih satu jam sebelum acara perpisahan dimulai, jadi kurasa kita tidak perlu terburu-buru untuk masuk ke aula, iyakan?" Sehun tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya.
Luhan tersenyum dan mengangguk. "Jadi kita mau kemana?" tanya Luhan sambil mendongakkan kepalanya melihat Sehun yang notabene lebih tinggi darinya.
"Kantin?" usul Sehun.
"Oke! Kantin!" jawab Luhan.
Sehun tersenyum dan langsung menyeret Luhan. Luhan yang terkejut langsung memegang lengan kiri Sehun yang tengah melingkar di sekitar lehernya. Sehun tertawa.
Baekhyun masih berdiri diam di tempatnya saat kedua temannya sudah pergi meninggalkannya. Dia merasa terlupakan dan tidak ada niat juga untuk mengikuti Sehun dan Luhan karena sepertinya keberadaannya tidak begitu dibutuhkan. Baekhyun menghela napasnya dan membalikkan tubuhnya bermaksud untuk kembali ke gerbang sekolah. Menunggu Kyungsoo.
Bruk!
Wajah Baekhyun menghantam tubuh seseorang hingga membuat kaki kanannya mundur ke belakang. Baekhyun hampir mengumpat tapi tidak jadi setelah ia mendongakkan kepalanya dan melihat Chanyeol berdiri di depannya.
"Ya Byun Baek Hyun! Apa gedung sekolah sudah berpindah tempat?" tanya Chanyeol dengan wajah tanpa ekspresi.
"Huh?" Baekhyun melongo mendengar pertanyaan Chanyeol.
Chanyeol memegang kedua sisi bahu Baekhyun dan membalikkan tubuh Baekhyun dengan cukup kuat membuat Baekhyun berubah arah seketika.
"Gedung sekolahnya masih disana, lantas kau mau kemana?" tanya Chanyeol.
"Ya! Lepaskan!" Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol dari bahunya dan memandang Chanyeol dengan galak.
"Mwo?" tantang Chanyeol.
"Ssshh, berterima kasihlah dengan tubuhmu yang tinggi jadi aku tidak bisa langsung memukul wajahmu yang menyebalkan itu!" Baekhyun mendecih dan berjalan meninggalkan Chanyeol.
Tap.
Tap.
Tap.
"Ya! Baekhyun-ah!"
Baekhyun berhenti.
"Ada yang salah dengan otakmu kurasa!" hardik Chanyeol.
Baekhyun diam. Baekhyun menghela napasnya dan kembali berjalan meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri di tempatnya.
Tap.
Tap.
Tap.
Chanyeol menatap punggung Baekhyun yang semakin menjauh darinya. Chanyeol menelan ludahnya kasar dan mengacak rambutnya. Tidak mengerti dengan tingkah Baekhyun yang tidak bersahabat dengannya hari ini.
"Aneh."
.
.
.
Baekhyun duduk bersila di tepi lapangan sepak bola yang luas milik sekolahnya. Semilir angin datang dan berhembus mengenai wajahnya. Netra Baekhyun menerawang ke rerumputan hijau rapi yang menutupi seluruh lapangan. Setiap jam olahraga pasti lapangan ini akan ramai dan dirinya duduk disini mengawasi teman-temannya yang bermain sepak bola bersama anak-anak perempuan kelasnya yang duduk di sebelahnya sambil bergosip ria.
Baekhyun mengangkat sudut bibirnya. Tersenyum kecil, mengingat ini semua akan segera berakhir. Semua akan berakhir di hari ini. Semuanya akan sangat berbeda mulai sekarang. Lapangan, gedung sekolah, kelas, teman-temannya, dan Chanyeol.
Bruk.
Baekhyun menoleh saat merasa ada yang duduk di sebelahnya.
"Ya, apa yang kau lakukan disini?"
"Kau sendiri?" tanya Baekhyun balik.
Chanyeol tersenyum kecil dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya dibelakang.
"Menemanimu. Aku melihatmu saat akan ke aula tadi. Kau tidak merasa panas?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menggeleng. "Ani. Ini masih cukup pagi dan mendung, jadi kenapa aku harus merasa panas?"
"Tsk, kenapa kau ketus sekali hari ini?" Chanyeol berdecak dan mendorong kepala Baekhyun dengan jari telunjuk dan tengahnya.
Plak.
Baekhyun memukul kembali kepala Chanyeol dengan keras membuat Chanyeol meringis dan mendecih. Baekhyun terkekeh dan kembali melempar pandangannya ke depan.
"Baekhyun-ah.."
"Hm?"
"Hari ini setelah kelulusan, aku akan langsung berangkat ke Changwon."
Baekhyun tersentak dan melihat Chanyeol dengan pandangan horor.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Baekhyun.
"Karena kami masih harus membenahi rumah ayah yang ada disana. Rumah itu sudah sangat lama tidak ditempati jadi butuh perhatian ekstra sebelum ditinggali lagi" Chanyeol tersenyum sambil tetap memandang lurus ke depan.
"Ah.."
Chanyeol menolehkan kepalanya, mempertemukan matanya dengan Baekhyun.
"Kenapa?" tanya Chanyeol.
"Aku.." Baekhyun berhenti sejenak. "Aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal."
"Ucapkan sekarang" tantang Chanyeol.
Baekhyun tercekat. Rasanya sulit bahkan hanya untuk mengucapkan 'selamat tinggal Park Chan Yeol'. Baekhyun mengalihkan pandangan kearah lapangan yang luas.
"Aku.."
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya menunggu kelanjutan kalimat Baekhyun. Baekhyun menatap Chanyeol dan tersenyum.
"Aku sangat berterima kasih padamu Park Chan Yeol. Terima kasih untuk selama ini" Baekhyun tersenyum "Kau bukan orang yang buruk ternyata hehehe" Baekhyun meninju pelan lengan Chanyeol dan terkekeh.
Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan dan memutar bola matanya.
"Park Chan Yeol. Nama ini terdengar begitu nyaman saat diucapkan, tidak asing lagi seperti 3 tahun lalu saat aku memanggilmu untuk pertama kalinya di kantin sekolah" Baekhyun tersenyum pada Chanyeol.
Chanyeol tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mendorong wajah Baekhyun ke samping kiri. "Ya! Waktu itu kau meneriakkan namaku hanya untuk mencegahku mengambil sendok terakhir yang tersisa dan itu membuatku ditampar oleh banyak pasang mata disana. Babo!" Chanyeol mendesis diujung kalimat saat menyebut Baekhyun 'Babo'.
Baekhyun terkekeh. "Kau masih ingat saat pertama kali bertemu denganku?" Baekhyun melirik Chanyeol dan menyenggol lengan Chanyeol dengan sikunya.
Chanyeol memasang pose berpikir dan melihat Baekhyun dengan wajah 'tanpa ide'.
"Kau tidak ingat?" Baekhyun memandang Chanyeol tidak percaya. "Ya Stupid! Minggir!" ucap Baekhyun. "Aku mengucapkannya saat aku mau membuka lokerku yang ada diatas lokermu, kau ingat?" Baekhyun menaik turunkan alisnya.
Chanyeol berpikir sebentar, berusaha mengingat kejadian 3 tahun yang lalu.
.
.
.
"Ya! Stupid! Minggir!"
Chanyeol menoleh dan mendongakkan kepalanya saat mendengar seseorang berkata demikian padanya dan Chanyeol mendapati seorang anak bersurai brunette tengah menatapnya dengan ekspresi sombong.
"Kau tuli?" ucap anak itu.
Chanyeol mengerutkan dahinya dan berdiri dari posisi jongkoknya. Dia berdiri tepat di depan anak yang lebih pendek darinya itu. Anak itu berdecak dan mendorong Chanyeol ke samping. Anak itu mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka loker yang berada diatas loker Chanyeol, mengeluarkan beberapa buku dari dalam loker kemudian ia menutup pintu lokernya dan menguncinya.
Baekhyun melirik sinis ke Chanyeol sebelum mengangkat kaki dari tempatnya. Beberapa langkah setelah Baekhyun pergi, Chanyeol mendengus. Tak percaya dirinya yang pintar dipanggil 'stupid' oleh anak berulah seperti Baekhyun.
.
.
.
Chanyeol mendorong kepala Baekhyun saat mengingat kejadian 3 tahun yang lalu itu. Baru dua hari pertama di sekolah menengah pertama ia sudah dipanggil stupid oleh anak yang bahkan di hari pertama sudah datang terlambat.
"Ya! Kau berani sekali memanggilku stupid, he?"
Baekhyun terkekeh. "Wae? Itu cocok untukmu, stupid" ulang Baekhyun.
Chanyeol menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Tapi aku sedikit berterima kasih karena itu" ucap Chanyeol.
Baekhyun menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"
"Karena itu, kita bisa menceritakannya hari ini dan itu terdengar berkesan" Chanyeol menunduk kemudian tersenyum.
Baekhyun terdiam saat melihat Chanyeol tersenyum seperti itu. Perasaan sedih seketika menyergap Baekhyun. Ya, kejadian itu adalah 3 tahun yang lalu dan hari ini adalah hari terakhir di sekolah ini yang tandanya semuanya akan segera berakhir dan tidak ada Chanyeol lagi.
Chanyeol yang merasa Baekhyun tidak menanggapi ucapannya menoleh dan melihat ekspresi wajah Baekhyun. Chanyeol memajukan kepalanya dan mencondongkan kepalanya.
"Wae?" tanya Chanyeol.
Baekhyun tersenyum getir. "Aku hanya menyesal" ucap Baekhyun.
"Untuk?" tanya Chanyeol.
"Untuk dua tahun tidak berbicara denganmu. Rasanya begitu singkat. Lihat, beberapa jam lagi kita akan berpisah dan bayangkan saja kalau dari tahun pertama kita sudah dekat, pasti tidak akan terasa sesingkat ini" Baekhyun menatap Chanyeol.
"Ya! Kita masih bisa berkomunikasi lewat ponsel, kan?" Chanyeol menyengir.
"Ya, kau benar. Tapi, apa kau yakin itu akan bertahan untuk waktu yang lama?" tanya Baekhyun. "Sehari sekali akan berubah menjadi beberapa hari sekali, lalu menjadi seminggu sekali, beberapa minggu sekali, sebulan sekali, dan beberapa bulan sekali kemudian tidak ada kontak sama sekali" lanjut Baekhyun.
Chanyeol terdiam.
"Aku bertanya-tanya apa semuanya akan berubah drastis setelah kita semua meninggalkan sekolah ini? Karena beberapa teman lama tidak akan sedekat ini lagi jika sudah bertemu teman baru. Ataupun jika satu sekolah, ketika kita berbeda kelas, kita akan mencari teman baru dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman baru kita. Kita hanya akan saling menyapa jika bertemu. Lama kelamaan jarak menjadi semakin jauh dan kita kembali menjadi tidak saling kenal. Menurutmu apa itu akan terjadi?" tanya Baekhyun.
Chanyeol diam.
Baekhyun merasa bersalah melihat Chanyeol diam. Baekhyun mengatupkan kedua bibirnya, mungkin dirinya hanya terlalu berlebihan menanggapi hal ini. Ketakutannya dengan orang-orang baru yang akan ditemuinya, ketakutannya dengan kesendirian. Ini semua hanya rasa takutnya sendiri.
Chanyeol tersenyum tipis.
"Aku.."
"Aku tidak bisa menjanjikanmu kalau semua hal akan tetap seperti ini atau kita akan tetap sedekat ini. Karena, hari demi hari kita akan semakin bertambah dewasa dan hari demi hari akan ada perubahan pada diri kita. Mungkin saja, 3 tahun dari sekarang saat bertemu denganmu aku akan menjadi sosok yang dingin atau lebih hangat dari sekarang. Kita sama-sama tidak tahu." Chanyeol menggelengkan kepalanya dan merubah posisi duduknya yang tadinya bersampingan dengan Baekhyun menjadi berhadapan dengan Baekhyun.
"3 tahun dari sekarang, mungkin saja kau akan berubah juga. Sifatmu, penampilanmu, sikapmu terhadapku, kita tidak akan pernah tahu kan? Wajar saja kalau kau mengkhawatirkan itu semua karena jujur saja aku juga begitu. Aku takut suatu hari nanti saat aku bertemu Minho, Sulli, Luhan, Luna, Jongdae, Minseok, atau siapapun dari kelas 9-3, aku khawatir kami tidak akan sedekat sekarang lagi. Yang terpenting, aku khawatir tidak akan sedekat ini lagi denganmu Byun Baek Hyun."
Baekhyun membulatkan matanya.
Chanyeol tersenyum dan menepuk kedua pundak Baekhyun.
"Jangan khawatir. Biarkan semuanya berjalan seperti yang seharusnya" ucap Chanyeol.
"Baekhyun-ah!"
Baekhyun dan Chanyeol serempak menoleh ke sumber suara dan mendapati Kyungsoo tengah berdiri diujung tangga diatas sana sambil melambaikan tangannya. Baekhyun berdiri dari posisi duduknya dan menepuk-nepuk celananya.
Kyungsoo menuruni satu demi satu anak tangga yang terbuat dari semen dan terbentang sepanjang sisi kiri lapangan. Baekhyun mengambil tasnya dan memapahnya.
"Kajja! Acara akan dimulai sepuluh menit lagi" ajak Kyungsoo.
Baekhyun mengangguk "Kajja!"
Kyungsoo dan Baekhyun berjalan didepan sementara Chanyeol mengekori dari belakang sambil memperhatikan punggung kecil Baekhyun yang ada di depannya.
.
.
.
Suasana riuh langsung menghampiri mereka bertiga saat masuk ke aula. Ibu-ibu yang saling berbicara, sesama murid, dan guru-guru yang ada diatas panggung sana juga sibuk mempersiapkan hal-hal disana. Mata Baekhyun mencari-cari tempat duduk untuknya namun senggolan Kyungsoo berhasil menarik perhatiannya.
"Kita duduk disana" tunjuk Kyungsoo pada deret ketiga dari depan.
Chanyeol dan Baekhyun mengikuti Kyungsoo. Luhan dan Sehun sudah berada disana, Kyungsoo tersenyum dan mengambil tempat disamping Luhan sementara Chanyeol dan Baekhyun duduk berdampingan. Baekhyun melambaikan tangannya pada Luhan dan mereka tersenyum satu sama lain. Chanyeol melihat ke sekeliling, Baekhyun yang melihatnya menyenggol lengan Chanyeol.
"Cari siapa?" tanya Baekhyun.
"Ibuku" jawab Chanyeol.
Chanyeol kembali melihat ke sekeliling dan menemukan ibunya duduk di barisan sebelah murid bersama para orang tua dan duduk disamping Nyonya Oh. Chanyeol merasa lega karena pada akhirnya ibunya datang. Chanyeol memperbaiki ujung seragamnya. Baekhyun sibuk mengobrol dengan Kyungsoo. Semuanya riuh hingga bunyi mic yang diketuk terdengar dan semuanya menaruh perhatian pada Jung Sonsaengnim yang berdiri diatas panggung.
"Selamat pagi semuanya. Hari ini adalah hari spesial karena hari ini merupakan hari kelulusan untuk siswa-siswi tingkat akhir. Kami dengan bangga akan melepas mereka dan kami percaya kedepannya mereka akan menjadi orang-orang yang hebat. Perjalanan panjang selama tiga tahun sudah mencapai akhirnya pada hari ini dan setelah ini mereka akan masuk dalam babak baru yang akan mendidik mereka menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi. Saya selaku guru bidang kesiswaan dengan resmi membuka acara kita pada hari ini" ucap Jung Sonsaengnim.
Tepuk tangan riuh memenuhi seluruh aula saat Jung Sonsaengnim mengakhiri salam singkatnya. Satu per satu wali kelas menyampaikan kesan dan pesan bagi anak murid mereka. Begitu juga kepala sekolah Kang yang menyampaikan pidato panjangnya selama 20 menit. Akhirnya, satu per satu nama murid dipanggil mulai dari kelas 9-1. Sebuket bunga dan sebuah piagam diberikan oleh kepala sekolah kepada setiap murid yang maju. Hingga sampai pada kelas 9-3.
"Choi Jin Ri" sebut Lee Sonsaengnim.
Gadis manis itu bangun dari duduknya dan berjalan dengan anggun keatas panggung. Sebuket bunga dan piagam ia terima. Kepala sekolah tersenyum dan menyalaminya.
"Kau sudah bekerja keras. Selamat" ucap Kepala Sekolah Kang.
Tepuk tangan riuh terdengar setiap saat Kepala Sekolah Kang menyalami para murid.
"Seo Joo Hyun."
"Choi Min Ho."
"Park Ji Yeon."
"Kim Min Seok."
MinSeok bangkit dari kursinya dan menyambut setiap tangan yang diulurkan sahabat-sahabatnya. Dengan senyum lebar ia maju dan Nyonya Kim menatap anaknya dengan bangga saat melihat anaknya menerima piagam dari Kepala Sekolah Kang.
"Kim Jong Dae."
JoonMyun dan Yixing yang duduk di sebelah kanan kiri JongDae menepuk-nepuk punggung JongDae dan mendorongnya maju karena memang mereka duduk di deretan paling depan. JongDae sempat menoleh dan dengan langkah yang besar ia maju dengan bangga.
"Kim Joon Myun."
"Xi Lu Han."
Baekhyun, Kyungsoo, Chanyeol serempak menoleh pada Luhan dan bertepuk tangan sementara Sehun merangkul Luhan dan memberikannya beberapa tepukkan di lengannya. Luhan berdiri dan maju sambil tersenyum.
"Do Kyung Soo."
"Oh Se Hun."
Nyonya Oh tersenyum melihat putranya berdiri diatas panggung sana dan bertepuk tangan saat Sehun menyalami Kepala Sekolah Kang.
"Park Chan Yeol."
Baekhyun bertepuk tangan riuh. Chanyeol maju dan seperti yang lainnya dia menerima bunga dan piagam. Kepala Sekolah Kang menyalami Chanyeol dan menepuk lengan kirinya.
"Kau anak yang berbakat Park Chan Yeol. Aku yakin kau akan menjadi orang yang sukses nantinya" ucap Kepala Sekolah Kang.
Chanyeol tersenyum dan membungkuk. "Kamsahamnida" ucapnya.
Chanyeol turun dari panggung dan kembali ke tempat duduknya. Baekhyun menatapnya dengan serius dengan senyum lebar, Chanyeol meletakkan bunga dan piagamnya diatas pangkuannya kemudian menoleh pada Baekhyun.
"Jung Soo Jung."
"Wae?"
Baekhyun menggeleng "Ani."
"Park Soo Young."
"Byun Baek Hyun."
Baekhyun langsung berdiri saat mendengar namanya disebutkan. Kyungsoo tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya. Baekhyun maju dengan mantab. Senyum lebar terpasang diwajahnya hingga seperti dari telinga ke telinga. Baekhyun tersenyum saat menerima sebuket bunga dan sebuah piagam dari Kepala Sekolah Kang.
"Kau sudah bekerja keras. Kurangi kenakalanmu Byun Baek Hyun" ucap Kepala Sekolah Kang.
Baekhyun mengangguk "Ne, saya mengerti. Kamsahamnida" jawab Baekhyun.
.
.
.
Halaman depan sekolah yang luas tampak sempit saat ini karena hampir semua murid memenuhi tempat tersebut. Berbicara dengan satu sama lain. Berpelukkan. Bahkan tidak sedikit yang menangis. Para orangtua sebagian besar sudah pulang terlebih dahulu karena mereka tahu anak-anak mereka butuh perpisahan yang lebih panjang.
"Aigo, uljima." Soo Jung mengusap-usap kepala Jinri yang sudah menangis sesenggukkan, padahal matanya sendiri sudah memerah.
SooYoung mengusap-usap punggung Jinri. Jinri masih menangis sambil sesekali menghapus air matanya. Jinri merentangkan tangannya, memeluk kedua sahabatnya.
"A-aku akan sangat merindukan kalian" ucap Jinri terbata-bata.
"Kami juga. Jaga dirimu disana. Pastikan kau pulang saat musim panas, ne?" ucap SooJung dengan air mata yang mulai mengalir.
Jinri mengangguk dan menyelipkan kepalanya diantara tengkuk kedua sahabatnya.
"Ayo kita berfoto dulu!" ajak Jongdae pada teman-temannya. "Jakkaman! Kita butuh seorang fotografer" lanjut Jongdae dan matanya melihat Minho yang sedang berbicara dengan Taeyong.
"Choi Min Ho!" panggil Jongdae.
Minho yang merasa namanya dipanggil menoleh dan bertanya "Ada apa?"
"Bisa fotokan kami sebentar? Hanya satu atau dua foto?"
Minho mengangguk dan menerima ponsel Jongdae. Memfoto gerombolan anak lelaki dengan berbagai macam gaya itu. Dari satu atau dua foto menjadi lima belas foto. Minho tersenyum dan mengembalikan ponsel putih itu pada Jongdae.
"Gomawo!" ucap Jongdae.
"Habis ini kita mau kemana?" tanya Joonmyun.
Jongdae yang asik menggeser layar ponselnya melihat foto-foto mereka tadi melirik Joonmyun sebentar sebelum beralih ke ponselnya lagi.
"Mereka mau kemana?" tanya Jongdae.
"Starbucks?" saran Yixing.
Jongdae memasukkan ponselnya kembali dan mengangguk setuju. "Oke starbucks! Setuju?" tunjuk Jongdae ke Joonmyun.
"Setuju!"
"Setuju!" ucap Minseok.
"Setuju!" ucap Yixing.
.
.
.
"Ya, hari ini, khusus untuk hari ini aku membawa kamera polaroid" ucap Kyungsoo.
Baekhyun tersenyum senang "Jeongmal?" tanyanya.
Kyungsoo mengangguk.
"Cepat dikeluarkan! Jadi kita bisa berfoto hehehe" Baekhyun menyenggol lengan Kyungsoo.
Kyungsoo membalikkan tasnya menjadi kedepan, membuka resletingnya dan mengeluarkan sebuah kamera polaroid berwarna coklat dari dalam kemudian ia kembali menutup tasnya dan memapahnya.
"Ini." Kyungsoo memberikan kameranya pada Baekhyun.
Baekhyun menimang-nimang kamera itu dan melihatnya dari segala arah. Mengangkatnya keatas dan melihatnya dengan teliti.
"Wah. Daebak" gumam Baekhyun. "Ini kamera yang sekali kita foto langsung keluar hasilnya, kan?" tanya Baekhyun.
Chanyeol mendesis dan mendelik kearah Baekhyun.
Kyungsoo mengangguk. Baekhyun tersenyum lebih lebar.
"Daebak! Sekarang, ayo kita foto sama-sama. Lima kali."
Kyungsoo membulatkan matanya. "Lima kali?"
Baekhyun mengangguk. "Dengan pose yang sama" Baekhyun menyengir.
"Wae?" tanya Luhan.
"Supaya masing-masing dari kita bisa menyimpannya, otte?"
Sehun mengangguk. "Ide yang bagus. Panggil seseorang untuk menjadi relawan" ucap Sehun.
Baekhyun melihat ke sekeliling. Matanya menangkap seorang anak yang tengah berjalan menuju ke sebuah rombongan. Baekhyun tersenyum dan menghampiri anak tersebut.
"Seo Joo Hyun!" panggil Baekhyun.
Gadis itu menoleh dan menghentikan langkahnya. Seohyun menaikkan sebelah alisnya.
"Mwo?" tanyanya.
"Bisa minta tolong?"
.
.
.
"Hana..Dul..Set!"
Cklik.
"Dul..Set!"
Cklik.
Mereka berlima akhirnya berfoto bersama di bawah pohon ara tua yang dulu sering dinaiki Baekhyun. Posisinya adalah Chanyeol, Kyungsoo, Baekhyun, Luhan dan Sehun. Mereka saling merangkul satu sama lain dan dengan senyum lebar di wajah mereka. Itu adalah pose pertama. Pose kedua mereka berdiri sambil memegangi piagam dan buket bunga yang mereka dengan berdiri kaku dan tersenyum simpul. Pose ketiga mereka mengangkat piagam mereka dengan tangan kiri keatas kepala mereka dan memegangi bunga mereka di tangan kanan. Mereka saling melirik satu sama lain. Chanyeol melihat kearah kamera, Kyungsoo ke Baekhyun, Luhan ke Sehun. Posisi ke empat. Chanyeol menggendong Kyungsoo di punggungnya dan Kyungsoo mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara memasang pose peace. Sehun melakukan pose yang sama. Sementara Baekhyun yang berdiri di tengah sendiri memasang pose peace dan tersenyum lebar.
"Hana..Dul..Set!"
Cklik.
Pose terakhir. Mereka berdiri sejajar dan memasukkan tangan mereka ke saku celana dan memasang pose serius ke kamera. Seohyun hampir tertawa saat mengambil foto mereka berlima. Total 25 foto diambil oleh gadis itu. Seohyun melangkah maju dan menyerahkan kameranya pada Kyungsoo.
"Ternyata ini cukup memakan waktu" komentar Seohyun.
Kyungsoo menyengir. "Gomawo" ucapnya.
Seohyun mengangguk dan melambaikan tangannya sebelum meninggalkan mereka berlima untuk bergabung dengan teman-temannya yanga asyik berfoto di tengah lapangan.
"Ini" Kyungsoo menyodorkan satu per satu foto mereka kepada Chanyeol, Sehun, Baekhyun dan Luhan. "Jaga baik-baik" ucapnya.
Baekhyun tersenyum. "Tentu saja."
Luhan, Sehun, dan Chanyeol sibuk memperhatikan satu per satu foto tersebut.
"Terutama kau Baekhyun-ah, kau kan ceroboh" komentar Kyungsoo.
"Ah!" Baekhyun menjentikkan jarinya.
"Wae?"
"Tolong foto aku dengan Chanyeol" pinta Baekhyun.
"Ne?" Chanyeol mendongakkan kepalanya dan menoleh ke Baekhyun.
"Kajja! Kita berfoto berdua! Kyungsoo-ya, tolong ambil gambar kami" Baekhyun tersenyum dan berdiri sejajar dengan Chanyeol memperlihatkan perbedaan tinggi mereka yang cukup kentara.
Kyungsoo mengangguk.
Baekhyun tersenyum dan memasukkan tangannya ke saku celana. Begitu juga Chanyeol. Mereka tersenyum lebar kearah kamera bahkan hingga eyesmile terbentuk di wajah Baekhyun.
"Hana, dul, set!"
Cklik.
Cklik.
.
.
.
Baekhyun dan Chanyeol berdiri di gerbang sekolah. Menghadap satu sama lain. Masing-masing dari mereka sudah memasukkan piagamnya ke dalam ransel hingga mereka hanya memegang sebuket bunga di tangan.
Chanyeol tersenyum simpul dan menjulurkan tangannya pada Baekhyun. Sekolah sudah mulai sepi karena satu per satu murid sudah meninggalkan halaman sekolah. Baekhyun melihat kearah tangan Chanyeol lalu ke mata Chanyeol.
Chanyeol mengangguk.
Baekhyun menyambut tangan Chanyeol. Menjabatnya dengan erat.
"Annyeong Byun Baek Hyun" ucap Chanyeol.
Baekhyun diam untuk beberapa detik. Sebelum ia memaksa menarik bibirnya melengkung keatas.
"Jaga dirimu disana Park Chan Yeol!" ucap Baekhyun.
Chanyeol mengangguk dan melepaskan jabatan tangan mereka.
"Ya! Byun Baek Hyun!" tegur Chanyeol. "Jangan memasang muka seperti itu, kau membuatku merasa tidak tenang" Chanyeol tersenyum dan menepuk bahu Baekhyun dua kali.
Baekhyun mendecih.
"Kau akan baik-baik saja kan?" tanya Chanyeol.
"Kenapa? Kau takut aku tidak akan baik-baik saja disini?" tanya Baekhyun.
Chanyeol mengangguk.
Baekhyun tersenyum dan memukul dada Chanyeol dengan bunga di tangannya.
"Aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir" ucap Baekhyun.
"Ah! Aku punya sesuatu!"
Chanyeol melepas ranselnya dan membuka resleting ranselnya. Dia mengeluarkan sebuah buku bersampul hijau dengan tebal kira-kira 300 halaman. Chanyeol kembali memapah tasnya dan menyodorkan buku itu pada Baekhyun.
Baekhyun mengangkat sebelah alisnya.
"Apa ini?"
"Buku favoritku."
"Kenapa kau berikan padaku?"
"Anggap saja sebagai kenang-kenangan" Chanyeol tersenyum dan menyodorkan bukunya lebih dekat. "Ambilah!"
Baekhyun mengulurkan tangannya dan menerima buku itu. Baekhyun membalikkan buku itu dan melihat sampul buku tersebut.
"Gomawo" ucap Baekhyun.
Chanyeol mengangguk.
"Hm."
"Aku tidak tahu kalau kita ada sesi memberi hadiah perpisahan" Baekhyun terkekeh. "Maaf, aku tidak menyiapkan apapun untukmu" sesal Baekhyun.
"Ahh..itu bukan masalah besar."
"Tapi, aku tetap akan memberikanmu sesuatu."
"Apa?"
Baekhyun memegang kancing seragam bagian luarnya dan berusaha melepas kancing terbawah yang ada di jas seragamnya. Dengan tarikan yang keras, kancing itu berhasil terlepas. Chanyeol menatap Baekhyun dengan takjub, tidak menyangka Baekhyun sekuat itu. Baekhyun menyodorkan kancing seragamnya yang berwarna biru gelap.
"Ambil!"
Chanyeol menjulurkan telapak tangan kanannya dan Baekhyun meletakkan kancingnya disana.
"Jaga ini baik-baik!" perintah Baekhyun.
Chanyeol mengangguk dan tersenyum. "Pasti akan kujaga."
"Saat kita bertemu lagi," ucap Chanyeol menggantung.
Baekhyun menunggu perkataan Chanyeol selanjutnya.
"Semoga kita tetap berteman seperti ini, sedekat ini."
Chinguraneun ireum eoneusae, miwojin ireum.
(Status teman adalah yang kubenci)
Gamchudeon gamjeongeun jigeumdo apeun bimilui gieokil bbun.
(Perasaaan yang ku pendam masih tersimpan sebagai kenangan yang memilukan)
Baekhyun tersentak. Baekhyun menarik bibirnya perlahan, membentuk sebuah senyum simpul dan ia menganggukkan kepalanya.
Keduanya diam. Bingung mau berkata apa lagi. Chanyeol mengangkat tangannya untuk melihat jam tangannya. Sudah pukul 13.45. Baekhyun melihat Chanyeol. Chanyeol menghela napasnya.
"Aku harus pulang dan bersiap-siap sekarang Baekhyun-ah. Aku pulang."
Uri sain jeongri halsu eobsneun sajin, Bomyeon gaseum arin Story.
(Foto yang tidak bisa menyatakan hubungan kita adalah cerita yang memilukan hati)
I'm sorry,
(Aku minta maaf.)
Yeoreuma ijen, Goodbye yay-yeah.
(Sekarang, selamat tinggal musim panas)
Baekhyun mengangguk namun entah kenapa ia merasa tenggorokannya tercekat. Berat sekali rasanya. Chanyeol menoleh ke belakang melihat apa busnya telah tiba atau tidak mengingat bus akan datang pukul 13.50.
Bus hijau tampak dari kejauhan dan Chanyeol melangkah lebih maju ke trotoar. Baekhyun menatap punggungnya dalam diam. Baekhyun menarik napas dalam dan tersenyum.
"Park Chan Yeol!"
Chanyeol menoleh.
"Jaga dirimu baik-baik! Annyeong Park Chan Yeol."
Chanyeol tersenyum dan mengangguk.
"Kau juga. Tetaplah sehat sampai kita bertemu lagi. Annyeong Byun Baek Hyun."
What do I say?
(Apa yang harus ku katakan?)
We didn't have to play no games.
(Kita tidak punya permainan untuk dimainkan)
I should've took that chance, I should've asked for you to stay
(Aku seharusnya mengambil kesempatan itu dan memintamu untuk tetap tinggal)
Bus hijau itu berhenti di depan Chanyeol. Pintu bus itu terbuka dan Chanyeol masuk ke dalamnya. Hati Chanyeol terasa berat saat melihat Baekhyun dari dalam bus. Chanyeol mendudukkan dirinya di bagian kiri bus barisan ke empat. Senyum Chanyeol dan Baekhyun perlahan menghilang. Mereka melihat satu sama lain dari tempat yang berbeda.
And it gets me down.
(Dan itu membuatku terpuruk)
The unsaid words that still remain.
(Kata-kata tak terucap yang masih teringat)
Sijak hajido anhgo ggeut nabeorin iyagi.
(Cerita berakhir bahkan sebelum dimulai)
Supir bus menginjak pedal gas dan mulai menjalankan busnya. Mata Chanyeol dan Baekhyun bertemu, Chanyeol bahkan menoleh dan berusaha melihat ke belakang saat busnya sudah melewati Baekhyun cukup jauh.
Chinguraneun ireum eoneusae, miwojin ireum.
(Status teman adalah yang ku benci)
Ireum bumyeon gaseum arin Story,
(Cerita yang memilukan hati,)
Baekhyun berdiri diam di trotoar, matanya menatap lekat bus yang mulai menjauh dari jangkauannya. Dia tidak mau menangis. Karena dia bukan anak perempuan lemah. Atau mengejar busnya sambil meneriakkan nama Chanyeol? Tentu tidak. Itu hanya ada dalam drama. Atau Baekhyun berharap bus itu berhenti dan Chanyeol keluar dari bus berlari kearahnya dan memeluknya? Tentu tidak akan terjadi. Ini bukan drama yang biasa ditonton ibunya.
Baekhyun hanya berdiri diam dan membiarkan bus itu semakin jauh dari pandangan.
I'm sorry,
(Maafkan aku,)
Yeoreuma ijen, Goodbye yay-yeah..
(Sekarang, selamat tinggal musim panas..)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hallo! Hallo! Ini pasti sudah lama banget sejak terakhir Green Rain diupdate!
Maaf semuanya untuk update-an yang super lama ini! . *bow*
Soalnya lagi ga ada waktu dan ide pada ga ada, entah kabur kemana T.T
Terima kasih sebesar-besarnya buat yang masih nunggu Green Rain *bow*
Terima kasih yang udah ninggalin beberapa jejak di kotak review ^^
itu benar-benar mood booster buat saya! ^.^ *make a heart sign*
Maaf kalau semakin ke sini semakin ga seru seperti diawal. Tapi, saya tetap berterima kasih buat yang masih nunggu dan pengen baca kelanjutan Green Rain! *bow*
Dannnnn TARRRRAAA! Baekhyun dkk udah pada tamat nih! Hehehehehehe, apa ini udah ending? Sebenarnya udah...tapi nanti saya mau buat satu chapter lagi hehehe ^^ *nyengir*
Lagu Green Rain itu dari SHINee, dan ff ini memang saya buat setelah nonton Queen's Classroom jadi ff ini terinspirasi dari drama itu ^^
Lagu yang saya selipin itu Goodbye Summer punyanya f(x) feat D.O ^^
Semoga pada suka dengan chapter ini. Chapter paling cheesy diantara chapter Green Rain lainnya hehehehe..
Dan saya baca ada yang tahu ff ini dari rekomendasi blog dan google. Saya senang dan berterima kasih sekali karena ada yang mau rekomendasikan ff ini ^.^
Terima kasih sebanyak-banyaknya buat yang udah ngefav/follow Green Rain. *bow* ^^
Terima kasih sebanyak-banyaknya juga buat yang udah meninggalkan jejak di kotak review. *bow* ^^
Sekali lagi semoga kalian suka dengan chapter ini dan saya tunggu kritik dan sarannya ^.^/
Salam kecup :*
Big Thanks To:
KT CB, Princes 23, byunyeolliexo, neli amelia, parkbaekyoda92, Sniaanggrn, Krasivyybaek, librapw5, Lala Maqfira, anaknya cabe, dianahyorie1, littlechanbaek, Call Me L, habyunnie25, reiasia95, Fitri MY, Jung Hyejin, hunniehan, JoannaLiu Aquamarine, Ami Zhang, Refaldy Ahmad, BabyWolf Jonginnie'Kim, Jnonknonk, Syahidaayu10, Babies BYUN, Guest1, Guest2, Alviana, Ooh, Winter Park Chanchan, baekfrappe, narsih556, Byun Cherry, ryanryu, ShinaCn, Sehunhan, ChanBaekLuv, Rnine21, meliarisky7, Guest3, ChaneesByun, Achkaxo12, Byunbaekphy, entik hale, Vita Williona Venus, Mell's, nragogi, xoxoxo, ki23, MooN, PrinceOh, puja amora
