hello, maaf ya kalau updatenya terlalu lama. saya bener-bener lagi tidak ada mood buat nulis, kesibukan saya awal. untungnya setelah nonton Beauty and the beast dan melihat emma lagi dalam peran yang lain, bikin refresh lagi.
k1ller : we on the same boat
lililala2499: ya memang sahabat seperti itu, tapi saya menyinggung begitu cepatnya mereka berbaikan, gpp lah ya. tanpa drama mereka berbaikan. hehe
Riska662, aL: jawabanya ada di chapter ini
Ido Nakemi: ini semakin ruwet kayaknya
ayuniejung: hem... gimana yaa
jm: kau masih bisa berharap
mmalfoy: maaf mengecewakanmu
Guest: hem...
ochi ochi, aL, VeeQueenAir: udah update
Love and Pride
Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Chapter 21. Plan
30 September 2005, Nott Estate
Harry tidak pernah merasa seasing itu berada di suatu tempat. Kalau bukan saja karena sahabatnya, sahabat yang baru saja berbaikan dengannya, Hermione. Dia tidak akan berada di tempat ini sekarang. Kalau saja bukan karena temannya itu makan dia tidak akan pernah mau berdiri di tempat ini.
Pemakaman adalah acara yang paling tidak ingin dia kunjungi. Dia tidak ingat dan yakin tidak menghadiri pemakaman kedua orang tuanya. Juga tidak ada upacara pemakaman untuk Sirius, ayah baptisnya. Satu-satunya upacara pemakaman yang dia hadiri adalah pemakaman Dumbledore dan juga orang tua sahabatnya yang yatim piatu itu.
Tapi kecanggung yang dia rasakan, dan mungkin juga Ron yang selalu bersamanya, tidak lebih canggung ketika dia berada di tempat ini sekarang. Pertama kali dia berada pada suatu situasi dimana pihak kementerian membacakan warisan yang dia dan kedua sahabatnya dapatkan dari Dumbledore dia merasa asing dan tidak menduga hal itu akan terjadi. Begitu juga saat ini, dia tidak menduga bahwa dia di undang untuk mendengarkan wasiat yang di tinggalkan dari almarhum suami sahabatnya.
Ron duduk disebelahnya dengan gelisah, Hermione duduk di sisinya yang lain menatap hampa cangkir teh di pangkuannya. Yang membuat Harry agak takjub adalah Alexander yang duduk di sisi Hermione yang lain, ekspresinya yang datar membuat Harry menyadari betapa mirip Alexander dengan ayah kandungnya, Draco Malfoy.
Jenna ada di sebelah Alexander menggendong Louise yang tertidur. Harry merasa sedih melihat anak malang yang sekarang menjadi yatim itu, Dia tidak lebih baik dari pada Harry ketika kehilangan sosok ayahnya. Louise belum mengerti apa yang terjadi.
Mereka sedang berada di ruang keluarga di mansion Nott estate. Mereka berkumpul di sana untuk mengdengarkan pembacaan surat wasiat pada keluarga almarhum. Harry dan Ron datang karena Hermione meminta, Celline dan suaminya Jose Lerman juga datang ke pertemuan ini, Harry tidak tau kenapa mereka datang namun tidak berani untuk bertanya. Hermione juga tampaknya tidak mengerti kenapa mereka juga diundang, namun tersenyum lembut pada mereka.
Namun yang membuat Harry, Ron dan Hermione, juga semua orang yang berada di sana amat terkejut adalah kedatangan Draco Malfoy dan juga ayahnya Lucius dan ibunya Narcissa. Harry memperhatikan bahwa Hermione menjadi resah di tempat duduknya. Harry merasa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi, entah apa itu. Draco hanya mengangguk sopan, hampir tidak terlihat dan mengambil tempat duduk di sofa paling pojok dan paling jauh dari mereka.
Kemudian juga datang Daphne Greengrass dan seorang pria paruh baya yang tampaknya adalah ayahnya, mereka memiliki rambut pirang dan mata hijau yang sama. Untuk hal ini Hermione tampak sekali terlihat terkejut. Harry mengambil tanggan sahabatnya itu dan memberikan gengaman yang menenangkan.
Alexander bahkan tampaknya mengetahui kekhawatiran yang dirasakan ibunya. Xander memeluk sisi lengan Hermione, Hermione memeluk putranya itu dengan erat seakan hal itulah yang dapat menghilangkan kekhawatiran yang sedang dia rasakan.
Tentu saja hal ini menarik perhatian ketiga Malfoy, mereka memperhatikan kasih sayang antara ibu dan anak ini. Namun semua bisa melihat perbedaan diantara ketiganya. Lucius tersenyum puas hampir menyerigai kemenangan. Narcissa tersenyum secara sembunyi-sembunyi dan hati-hati. Sedangkan Draco memandang penuh kerinduan seakan dia ingin ikut ke dalam pelukan itu.
Tidak lama pengacara keluarga Nott, James Shafiq datang bersama dengan salah satu pegawai kementerian, Hermione tau dari jubbah yang dikenakannya, jubah departemen hukum sihir, tapi Hermione mengetahui siapa dia, salah satu temannya di Hogwarts Padma Patil.
"Madam," sapa James hangat.
Hermione mengangguk menjawab sapaan.
"Baiklah kita mulai saja. Hadirin yang ada di sini, kita sekarang berkumpul di sini untuk mendengarkan pengaturan ahli waris untuk semua urusan yang ditinggalkan oleh Mr. Nott yang meninggal seminggu yang lalu," kata james.
"Pengaturan ahli waris? Bukan wasiat?" Tanya Jenna lantang, yang membuat semua orang yang ada di sana menyadari keberadaannya.
"Jenna," kata Narcissa tampak terkejut dan baru menyadari keberadaan wanita itu, tapi wajah Lucius bahkan lebih hebat dibandingkan hanya terkejut.
"Hello Narcissa," jawab Jenna lembut.
"Ya. Mrs. Berman. Pengaturan ahli waris. Sangat disayangkan bahwa Mr. Nott tidak meninggalkan surat wasiat kepada kita semua. Sehingga peninggalan alhmarhum diatur berdasarkan hukum sihir. Itu kenapa Mrs. Goldstein ada di sini," kata james mengarahkan pandangannya pada Padma Patil, atau mungkin sekarang adalah Mrs. Goldstein.
Semua yang ada di sana saling berpandangan. Hermione tidak mengerti apa perbedaanya namun dia tidak suka dengan reaksi Lucius malfoy, bahkan Draco juga tampak terganggu. Harry juga tampak bingung, namun Ron jadi lebih awas seperti yang lain.
"Mrs. Goldstein bisa anda bacakan pengaturan ahli waris dari Mr. Nott," kata James.
Padma mengangguk singkat dan memberikan senyum sedih kepada Hermione. Membuka perkamennya dan mulai membacakan teks di dalamnya.
"Berdasarkan hukum sihir tentang pengaturan ahli waris untuk keturunan penyihir anggota Sacred Twenty-Eight maka pengaturan ahli waris untuk kekayaan berupa property, asset berjalan maupun hutang diberikan kepada ahli warisnya yang sah yaitu anak pertama dari Mr. Nott, Louise Hugo Nott."
Harry merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Namun karena sang pewaris masih di bawah umur maka, pengelolaannya akan jatuh pada pengasuhnya atau dalam hal ini adalah perwaliannya sampai Louise mencapai usia baliq, pemanfaatan asset ini akan dibahas kemudian kepada perwaliannya berdasakan undang-undang No.5 kementerian sihir. Sekian dan terima kasih," kata Padma menutup perkamen.
Semua menjadi diam.
"Hanya itu?" Tanya Harry binggung. Kalau memang semua harta milik Theo diberikan kepada Louise kenapa mereka diundang dalam acara pembacaan ini? Tapi Harry yakin tidak hanya ini, dan dari ekspresi Hermione yang dia, Harry yakin dalam kepala sahabatnya itu sedang bekerja dan mencari-cari.
"Dan siapa walinya?" Tanya Hermione tegas, namun suaranya cukup bergetar.
"Hal itu bisa berubah tergantung situasinya, namun kalau kau bertanya padaku untuk saat ini maka perwalian Louise jatuh kepada ayah baptis Louise, Mr. Greengrass," jawab padma.
"Apa? Tapi kami orang tua walinya," jawab Celline berdiri. "Maksudku, bukan maksud kami untuk memengang perwalian ataupun semua kekayaan Nott. Tapi kami, aku dan suamiku orang tua baptis Louise.
"sayangnya nama anda ataupun suami anda tidak termasuk ke dalam penyihir Sacred Twenty-Eight," jawab james.
"Apa bedanya? Kami sama-sama penyihir," jawab Celline terhina.
"Tentu berbeda," jawab Lucius congkak. "Kami Sacred Twenty-Eight, adalah pendiri komunitas sihir. Penyihir berdarah murni tua. Kami memiliki aturan kami untuk menjaga harta kami dari keturunan-ke-"
"Father," potong Draco mengeram.
"Dan kenapa ayahku yang menjadi walinya?" Tanya Daphne bingung.
"Mr. Nott dan Mr. Greengrass pernah menandatangani kontrak untuk menikahkan putra-putri mereka. Kontrak itu belum pernah di perbaiki. Sehingga secara hukum almarhum Mr Nott dan Ms Daphne Greengrass masih memiliki komitmen, hal itu menjadikan kau sebagai wali dari Theodore , namun karena kau belum menikah makan walinya menjadi ayahmu," jawab James.
"Tapi aku bertunangan dengan Blaise," jawab Daphne.
"Ya. Sebenarnya, Mr Nott sedang mengurus pemutusan kontrak itu, namun ajal sudah memanggilnya sebelum urusan itu selesai. Mengenai pertunanganmu dengan Blaise Zabini tidak ada kontrak yang tertangani karena beliau bukan anggota Sacred Twenty-Eight," jawab Padma.
"aku tidak-"
"Apa aku harus merawat anak itu, Louise?" Tanya Mr. Greengrass.
"No!" teriak Hermione marah. "Langkahi dulu mayatku," kata Hermione mengacukan tongkat sihirnya.
Harry meregut Alexander yang ketakutan sedangkan Ron mencoba menengkan Hermione.
"Mohon tenang, Mrs Nott," kata james, namun Hermione meliriknya penuh waspada.
"Silly girl, Tapi akulah walinya, dan perlu aku ingatkan dimana kita berada sekarang di rumah keluarga Nott dimana perlu aku ingatkan bahwa saat ini akulah yang-"
"Kau lanjutkan ucapanmu dan kau akan menghampiri Theo dengan cepat," kata Draco berdesis dan ikut berdiri dan mengacukan tongkatnya. "Aku tidak akan menyesal membusuk di Azakaban jika gantinya kau mati ditanganku."
"Draco," kata Narcissa menarik lengan Draco. "No dear, Please don't do that. Mr. Shafiq, aku rasa kau perlu menjelaskan lebih jauh agar kegelapan yang menyelimuti kita bisa sedikit berkurang."
"Ehm…"
Semua ikut duduk kembali namun tensi yang dirasakan sebelumnya masih belum hilang.
"Louise Nott akan di asuh oleh walinya, untuk saat ini adalah Mr Greengrass, namun," kata James cepat-cepat. "Karena Louise masih memiliki ibu kandungnya, hak pengasuhan bisa diberikan pada ibu kandungnya dengan izin wali yang telah ditentukan sebelumnya."
Mr Greengrass tersenyum penuh kemenangan, namun Hermione melihat bahwa Jenna memberinya tatapan menyakinkan, bahwa masih ada jalan keluar dari masalah ini.
"Apa aku harus membawanya sekarang dan mereka bisa meninggalkan tempat ini sekarang," Tanya Mr Greengrass dengan sombong.
"Sayangnya hal itu harus dibicarakan lebih lanjut dan perlu ada berkas-berkas yang ditanda tangani. Kami akan mengurusnya paling lambat 31 hari setelah kematian almarhum," jawab James.
"Baiklah apakah semua sudah semuanya?" tanyanya lagi.
"Sayangnya masih ada urusan yang lainnya," jawab James menengok Mr Malfoy. "Namun kepentingan anda saat ini sudah tidak diperlukan."
"Baiklah. Hubungi aku segera Mr Sahafiq. Daphne.." kata Mr Greengrass mengajak putrinya pulang.
Semua dia membisu dengan kepergian Mr Greengrass. Namun tampaknya James memang menginginkan bahwa Mr Greengrass untuk segera pergi dan tidak mendengarkan diskusi ini lebih jauh. Hermione percaya dengan James maka dia mengikuti rencana James.
"Sebelum kalian berbicara dan mulai berdebat, bisa aku tanyakan kenapa kami juga di undang untuk mendengarkan semua ini?" Tanya Lucius Malfoy menyerigai.
"Ehm. Saya lanjutkan," kata James membuka perkamennya. "Mr Nott juga memiliki perwalian terhadap anak baptisnya Alexander Leon Malfoy. Oleh karena meninggalnya Mr Nott maka hak perwalian Alexander kembali ke tangan ayah kandungnya, Draco Lucius Malfoy," kata James.
Lucius tersenyum miring yang membuat harry dan Ron ingin sekali mencakar wajahnya. Narcissa tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Tapi mata mereka bertemu dan Draco tau apa yang diinginkan wanita yang paling di cintai di dunia, dan tentang janji yang pernah dia ucapkan padanya.
"Aku mendapatkan perwalian atas Alexander, apakah hal yang sama pada Mr Greengrass juga berlaku untukku?" Tanya Draco pelan, namun semua orang bisa mendengarnya.
"Ya," jawab James singkat.
"Jadi aku bisa memberikan hak asuh kepada ibu kandungnya?" Tanya Draco melirik James dengan masih sama tenangnya. Lucius melihatnya seakan kepala Draco sudah berubah bentuk. Narcissa memberikan elusan di tangan Draco.
"Ya, kau bisa," jawab James.
"I will. Aku memberikan hak asuh kepada Mr. Hermione Granger. -That's her name, right? Is not Nott anymore?- pengasuhan terhadap putraku Alexander Leon Malfoy," kata Draco menatap Hermione, ada air mata yang menetes di pipi Hermione, ucapan terima kasih yang tak tersampaikan. "Dengan catatan, bahwa aku bisa menemui putraku, tentunya dengan izinmu."
Hermione mengangguk.
Dan dengan itu Draco keluar dari ruangan yang disusul dengan kedua orang tuanya.
.
.
Hermione tergelatak di atas ranjangnya tak berdaya. Dia teringat ketika sedang berbincang dalam reuni antara dirinya dan kedua sahabatnya tiba-tiba dia mendapatkan panggilan dari St Mungo. Sesampainya di St Mungo, Hermione tidak bisa berpikir dengan jernih. Sebagai seorang penyembuh, Hermione amat mengerti bagaimana kondisi Theo,
Tapi membayangkan dengan mengalami amatlah berbeda. Ketika dia melihat Theo terbaring tak berdaya kesakitan kemudian meninggalkan mereka. Hermione tak pernah merasakan kehilangan seperti itu. Dia tidak secara langsung melihat kedua orang tuanya meregang nyawa. Dan menyaksikan secara langsung ketika Theo meninggal.
Untuk beberapa saat Hermione hanya terdiam mematung di depan jenazah Theo. Bahkan dia tak sadar Harry membawanya keluar ruangan dan barulah Hermione menangis kecang, Bagaimana bisa Theo meninggalkannya. Theo sudah berjanji akan selalu menjaganya. Tapi kenapa dia meninggalkannya juga, sama seperti kedua orang tuanya.
Bahkan lebih dari itu setelah mendengarkan pengaturan hak waris, Hermione rasa saat ini dia beci pada Theo yang telah meninggalkannya. Hermione akan kehilangan Louise oleh pria jahat tak berperasaan, Mr Greengrass dan itu semua karena Theo meninggalkannya, meninggalkan mereka.
Dia hampir saja kehilangan Alexander, untungnya Draco berbaik hati menepati janjinya dan memberikan hak asuk Xander padanya. Tapi setelah mereka pergi, pembicaraan dengan James membuatnya berpikir keras cara mengambil hak asuh Louise dari Mr Greengrass.
Tapi rencana itu jelas membuatnya merasa tidak memiliki harga diri lagi
"Kau bisa bicara James," kata Jenna membuka suara. Lucius, Narcissa, dan Draco sudah meninggalkan Nott Estate 15 menit yang lalu. Celline dan Jose juga mengundurkan diri setelahnya dengan celline yang terus menerus mengucapkan maaf karena tak bisa membantu Hermione.
Hermione tidak ingin bersikap kasar tapi saat ini dia tak bisa berlemah lembut dan mengatakan baik-baik saja. Anaknya akan di ambil oleh Mr Greengrass, dan Hermione tidak tau apakah dia bisa melawan hukum ini. Harry dan Jenna membawa Louise dan Alexander ke atas untuk menidurkan mereka. Alexander mengecup Hermione sebelum mengambil langkah mengikuti Jenna.
"Apa aku memiliki kesempatan untuk merebut hak asuh putraku?" jawab Hermione. Dia tidak memikirkan tentang harta. Greengrass boleh mengambilnya tapi di pisahkan dengan Louise dia tak bisa membayangkan.
"Ada beberapa cara yang kita bisa lakukan sebelum 31 hari kematian Theodore," jawab james.
"Katakan kalau begitu," kata Ron tak sabar. "Kecuali mengenai Greengrass memberikan hak asuh. Aku berani sumpah demi pantat merlin, lelaki tua itu buruk sekali. Dan dia tidak mungkin memberikan hak asuhnya kepada Hermione."
"Ya opsi pertama tampaknya mustahil," jawab Hermione.
"Ada dua kondisi lain yang pertama apabila dia tidak mampu menjadi wali dari Louise," kata James.
"Tentu kita tidak akan membunuhnya," kata Harry. Kata-katanya membuat semua orang yang ada di ruangan itu bergidik. "He's not worthed."
"Yeah."
"Kondisi ini juga berlaku kalau kita bisa membuktikan dia tidak layak menjadi wali Louise, misalnya dia gil, tapi hal ini akan sulit di lakukan," kata James.
"sangat sulit. Kemungkinan kita akan bertemu dengannya lagi adalah saat 31 hari kematian Theo dan itu sudah amat terlambat," kata Harry.
"Dan kemungkin hak asuh malah jatuh ketangan Daphne putrinya juga amat besar, karena putrinyalah yang memiliki kontrak dengan Theodore," kata james.
"Aku tidak yakin akan tiba waktunya dimana aku merasa tidak beruntung di lahirkan bukan dari keluarga berdarah murni," kata Hermione sedih.
"Tapia da satu cara lagi," kata Jenna saling pandang dengan James.
"Apa itu?" Tanya Hermione ragu-ragu. Dia punya perasaan bahwa dia tak ingin mendengar jawabannya.
"Kau harus mengantikan perwaliannya," jawab Jenna.
"Apa maksudnya itu?" Tanya Ron bingung.
"Kau harus menikah lagi Hermione," kata James.
"Bagaimana hal itu bisa membuat berbeda?" Tanya Harry bingung.
"Dengan Hermione menikah lagi maka, si ibu mempercayakan pria itu terhadap hidupnya. ini seperti kondisi Hermione yang dulu. Dia menikah dengan Theodore dan menjadikannya ayah baptisnya, dan ini memberikan Theo hak asuh terhadap Alexander," kata James menjelaskan.
"Lalu kenapa Hermione tidak mengubah ayah baptis Louise saja? Tanpa menikahi pria itu?" Tanya Harry kritis, tapi Hermione yang menjawab.
"Karena itu tidak diperbolehkan dalam masa berkabung," jawab Hermione, sesaat Harry merasa berada dalam kelas lagi.
"Benar. Kalau Hermione-pun bisa mengantinya, maka kementerian tidak akan mengindahkan hal tersebut. Dalam Sacred Twenty-Eight pernikahan adalah hal yang sacral. Tidak pernah terjadi perceraian dalam pernikahan anggota Sacred Twenty-Eight. Dan esensi dari hukum ini, adalah melindungi kekayaan keluarga Sacred Twenty-Eight," jawab James.
"Jadi maksudnya kalau Aku menganti ayah baptis Louise maka itu adalah unsur kesengajaan agar perwalian yang sah tidak mendapatkannya. Namun jika menikah, itu adalah hal yang suci dan karena tidak ada perceraian, maka itu dianggap sebagai hal yang sacral?" Tanya Hermione memastikan hipotesisnya.
"benar," jawab James singkat.
"Masalahnya dengan siapa Hermione akan menikah?" Tanya Ron serius.
"Ron!"
"Hermione, kau tidak bisa menikah dengan sembarangan orang, kau dengar kau tidak bisa bercerai," kata Ron. "Harry! Harry kau belum menikah!"
"Apa? Apa! Apa! Aku?"
"Tentu saja! kita tidak bisa membiarkan Hermione menikahi lelaki sembarangan, kau cukup tampan dan kaya," kata Ron.
Harry memerah dikatakan tampan oleh Ron tapi sebelum dia bisa membalas, James menolak usul Ron.
"Tidak bisa, Potter bukan Sacred Twenty-Eight."
"Apakah harus?" Tanya Ron.
"Ron! Kalau tidak, kita tidak sepusing ini. Celline dan Jose adalah ayah baptis Louise dan mereka tidak mengakuinya," kata Hermione kesal.
"Oke. Neville?"
"What?" Tanya Hermione bingung
"Dia sudah menikah dengan Hanna. Ernie? Harry Ernie belum menikah bukan?"
"Dia akan menikah bulan depan, aku sudah mendapat undangannya," jawab Harry.
"Shacklebolt? Ugh" kata Ron tiba-tiba merasa jijik.
"Hei dia menteri sihir. Lagi pula dia duda dan anaknya masih baru berumur 16 tahun, jadi-"
"au.." kata Harry dan Ron berbarengan ketika Hermione memukul kepala mereka dengan batal karena kesal.
"Bisakah kalian berhenti!" kata Hermione marah.
"Kami mencoba membantu," kata Ron.
"Bukankah kita sudah tau siapa orang yang cocok!" kata Jenna.
"Siapa?" Tanya Ron bingung namun kemudian matanya membulat dan membentuk huruf O besar. "Malfoy?"
"What? Kenapa bukan yang lain tapi masih anggota Sacred Twenty-Eight, Charlie?" Tanya Harry.
James menggeleng.
"Tujuan dari peraturan ini adalah untuk menjaga kekayaan dari keluarga itu. Dulu sebelum menjadi komunitas sihir mereka membentuk semacam kelompok untuk bertahan hidup. kelompok mereka, Sacred Twenty-Eight adalah pimpinan dari kelompok-kelompok tersebut. Malfoy adalah pilihan terbaik. Dia adalah keturunan terkaya diantara anggota Sacred Twenty-Eight dan yang paling sedikit memiliki sanak saudara. Tidak bermaksud untuk merendahkan, namun klan Weasley terkenal memiliki banyak keturunan dan kelompok mereka terpecah belah dalam memihak pada masyarakat sihir. Itu hal yang bagus, tapi tidak dari sudut pandang masalah ini," kata james meneruskan.
"Dan mengingat masa lalunya dengan Hermione dengan Draco, pernikahan mereka tidak akan terlalu di permasalahkan," kata Jenna.
"Aku tidak yakin dengan rencana ini!" kata Hermione merenung.
"Aku juga tidak. Tapi aku melihat dia berubah. Tidak terlalu banyak tapi setidaknya dia mencoba, Hermione. But if you must. You can't lose your pride and dignity."
.
.
30 September 2005, Malfoy Manor
Draco menegak wiski api dicangkirnya. Dan mengelus gambar Alexander. Orang akan berpikir bahwa sekarang dia sudah gila. Tapi apa yang bisa dia lakukan sekarang ada maju ke depan. Dia tau apa yang dia inginkan dan dia mendekati itu.
Dia ingin Alexander, dia ingin Hermione dan selangkah lagi dia mendapatkannya. Tapi satu hal yang dia ingin pastikan bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahannya dan tidak melanggar janjinya pada Hermione.
Narcissa mendatangi kamarnya dan duduk di sebelahnya menatapnya menilai. Lucius langsung pergi entah kemana ketika mereka sampai di Manor. Berkicau bahwa sekarang Draco menjadi pria lembek dan takut untuk mengambil Alexander. Lucius kehilangan kendali karena progress mendapatkan cucunya hilang seketika di depan matanya dan dia tak bisa berbuat apa-apa.
Tapi Narcissa berbeda, apakah Draco pernah mengatakan bahwa ibunya lebih Slytherin dibandingkan dengannya ataupun ayahnya? Ibunya tidak memberikan komentar apapun terhadap keputusan yang dia ambil. Ibunya bahkan tersenyum.
"Aku yakin kau tau kenapa aku melakukannya bukan?" Tanya Draco.
"Tentu. Dengan situasinya saat ini jalan terbaik adalah menikah lagi, dan pilihan terbaik adalah dirimu."
"Apakah menurutmu aku berlaku egois? Aku mengingkan Alexander, tapi aku juga menginginkannya," kata Draco.
Narcissa menggeleng
"Dimataku kau menunjukan bahwa kau tumbuh dewasa Draco," kata Narcissa.
"Tapi aku masih licik bukan. Aku merelakan hak asuh pada Hermione, agar dia merasa bahwa aku tulus membantunya, bahwa aku tidak ingin melanggar janjiku padanya. Dan agar dia merasa simpati bahwa aku sudah berubah, tapi kenyataannya aku masih menginginkan dia."
"Tidak, dear. Kau berjanji tidak akan memisahkan mereka, dan menepatinya. Masalah kau masih mengingkannya, itu adalah jiwa Slytherin yang tidak akan pudar, kita selalu seperti itu, menjaga apa yang menjadi milik kita, tapi yang perlu kau ingat, bahwa kau melakukannya dengan pertimbangan yang matang," kata Narcissa mengelus pipi Draco.
"Kau setuju dengan rencanaku?" Tanya Draco masih ragu.
"Aku bangga padamu, son!"
