- Potongan adegan part 46 dari Namjin AU, Mi Padre -

- MATURE CONTENT. Read at your own risk -

.

.

.

.

.

Keluar dari kamar mandi, Seokjin berjingkat pelan ke atas tempat tidur, merangkak ke bagian tengah dan menyandarkan punggung ke dada Namjoon—yang langsung melingkarkan lengan di sekeliling pinggangnya. Harum sabun lavender yang dibeli Seokjin dari supermarket sore tadi menyapa indera penciumannya, dan Namjoon beringsut menyusupkan hidungnya di sela-sela rambut pria itu.

"Kamu pakai shampooku?" endusnya, mengenali aroma yang tak asing, "Bukan tidak boleh, tapi apa wanginya cocok?"

"Tamu tak boleh banyak protes, lagipula aku cukup suka, sangat maskulin," komentar Seokjin, menggulung sedikit bagian bawah pakaiannya dengan cengir miris, "Kukira tinggi kita tak banyak berbeda, ternyata aku salah. Kakimu terlalu panjang, dan ini adalah ukuran paling sesuai yang bisa kutemukan dari tumpukan di lemari."

Ucapannya disambut kekeh rendah nan merdu, "Aku juga tidak paham, seharusnya satu sentimeter tak berjarak sejauh itu."

"Mungkin karena itu mereka berkali-kali menggunakan jasamu sebagai model katalog, posturmu bagus," puji Seokjin, mengacungkan tanda oke di sisi pipi, "Pasti penggemarmu begitu banyak sampai Daehyun-sshi mengeluh tentang timbunan surat dan kado yang dialamatkan ke studio."

"Apa kau juga tertarik padaku karena hal itu?"

"Oh, tidak, maaf saja," tolak Seokjin, membusung bangga, gigi-gigi putihnya berderet jumawa, "Aku menyukai lesung pipimu lebih dari segalanya, meski harus kuakui bahwa Ayahnya Jimin punya sisi manusiawi yang menggemaskan."

Menggeleng geli, Namjoon mencubit pipi tembam pria tersebut sembari mengangkat alis, "Oh ya, Jimin dimana? Katanya mau cuddling bertiga."

"Langsung kabur ke kamarnya waktu kutanya apakah mau belajar bersama," Seokjin memainkan ujung piyamanya yang dipinjam dari lemari Namjoon, memang sedikit terlalu panjang di bagian lengan, tapi sangat pas membungkus bahunya yang bidang. Pemilik aslinya beralih menunduk, mengecup bahu Seokjin dari luar kain, "Namjoon-sshi?"

"Hm?"

"Mengantuk?"

"Belum. Buat aku lelah dulu."

Seokjin mendengus serta menggulirkan matanya malas. Namjoon mengintip dari helaian rambut, kini menarik sedikit piyama Seokjin supaya bisa mengecupi kulit di balik kerahnya. Satu, dua kali. Niatnya hanya menggoda, namun wangi yang menguar dari area tersebut menggugah seleranya untuk semakin rakus. Mulut dan hidung Namjoon bergantian menyentuh garis pundak dan lipatan leher Seokjin yang jenjang. Kulitnya pun lembab dan halus. Melirik ke atas, Namjoon mengamati bagaimana bibir Seokjin terlihat begitu merah meski tanpa polesan apapun. Tebal, mengundang untuk dipagut.

Entah darimana keinginannya datang. Namjoon perlahan bergerak rebah, membawa Seokjin dalam rengkuhan sampai pria itu berbaring nyaman di atasnya. Mata besar Seokjin yang cantik berkedip pelan dan sambil tersenyum kecil, Namjoon mengusap pipinya menggunakan ibu jari, "...kamu indah sekali."

Seokjin terbahak samar, beringsut agak ke atas untuk mengecup bibir Namjoon sekilas, "So do you, padre."

"Tahu darimana panggilan itu?"

"Jimin menunjukkan chatnya padaku selama makan malam tadi, dan dia memberi label kolom milikmu dengan bahasa Spanyol," jelas Seokjin, menikmati irama napas Namjoon beserta detak jantungnya yang berdentum pelan. Rasanya benar-benar nyaman dan Seokjin tak berniat pergi. Dia rindu saat-saat dimana gelenyar sinyal menyenangkan ini memenuhi kepalanya, menghangatkan dada, dan menerbangkan kupu-kupu dalam perutnya. Sesuatu yang menyalakan kembali hasrat dalam naluri Seokjin.

Namjoon menggenggam tangannya, membawa ke dekat bibir dan menciumi tiap buku jari Seokjin dengan sayang. Pria itu mendongak, tergelak tanpa suara, kemudian sedikit beringsut. Sorotnya meredup selagi mendaratkan jemari di kancing piyama Namjoon, melepas sebuah kaitan, lantas menahan napas saat yang bersangkutan menjumput dagunya, memaksa Seokjin menengadah.

"Yakin?"

"Hm—mm."

.

.

.

.

Namjoon mendesah rendah kala merasakan pendingin udara menyapa tubuh atasnya, terdiam mengagumi bagaimana sensualnya Seokjin menanggalkan pakaiannya sendiri tanpa menyisakan apapun, kemudian beralih melucuti bawahan dan menyibak piyama Namjoon. Dilemparnya celana dalam pria itu ke seberang ruangan, sukses menerbitkan tawa kencang dari yang bersangkutan.

"Bersemangat sekali, Seokjin-ah?"

"Shush."

Diciuminya sekali lagi jari-jari Seokjin—sebelum melepas dan membiarkan sang tamu mendaratkan kecupan-kecupan kecil di dada dan perutnya. Rangsangan yang sejatinya jarang dialami Namjoon, mengingat frekuensi kencan buta yang mampu dihitung sepuluh jari. Namun entah mengapa, sentuhan Seokjin tak membuatnya menggeram gelisah atau menghindar karena risih. Namjoon menyukai ini. Seokjin yang mencumbu lebih dulu bukanlah suatu kejutan yang harus dicemaskan. Dia tak mau ambil pusing tentang siapa yang harus memulai, sebab insting merekalah yang akan mengendalikan semuanya.

Ujung-ujung rambut Seokjin menggelitik perut bawahnya dan Namjoon menggeliat, napasnya mulai berat seiring dengan kepala Seokjin yang bergerak makin ke bawah. Organ intimnya berdenyut-denyut oleh segala stimulan yang dilakukan Seokjin. Pelakunya beringsut sedikit, agak bersemu mendapati kejantanan Namjoon menegang dan mengeluarkan sedikit cairan akibat ulahnya.

Seokjin mengangkat tubuh untuk mencium Namjoon sejenak, memberinya gigitan kecil di sekitar dagu, lalu turun menuju tulang selangka. Diendusnya lipatan leher Namjoon, seraya menjalarkan jilatan panjang ke arah tengkuk dan mengatup lembut daun telinganya.

Namjoon menggeram lagi saat Seokjin kembali menggapai perut bawah dan mulai memanjakannya di bawah sana. Jemarinya diselipkan diantara helaian rambut gelap Seokjin, menekan perlahan agar pria itu tahu dimana Namjoon suka disentuh. Dirinya memang berusia lebih matang, namun untuk hal-hal seperti aktivitas seksual, Namjoon tak keberatan bila pasangannya bersikap agresif. Terkesan lebih menantang dan seksi.

Lagipula, siapa yang sanggup menolak Seokjin? Namjoon bahkan tak kuasa memejamkan mata karena pemandangan di hadapannya benar-benar menghancurkan kewarasan dan membuatnya hampir mimisan. Tak ada yang sanggup menggantikan sensasi adrenalin—detik ketika Namjoon menyaksikan kejantanannya dikulum oleh Seokjin, mengamati bagaimana bibir kemerahan itu melahap inci demi inci, diiringi sekaan serta jilatan yang menggairahkan. Lidah Seokjin tak tinggal diam, terjulur maksimum, menjilat lapar dari pangkal hingga ujung. Kepalanya bergerak naik turun dengan cepat, mengisap kuat dalam tempo yang memaksa Namjoon menggerung buas.

Tak sabar, Namjoon bergegas mengangkat tangannya, menghentak lengan Seokjin dengan keras dan detik berikutnya, pria itu sudah berbaring tengkurap dengan berat badan Namjoon menindih punggung. Seokjin menoleh, hanya untuk disambut oleh Namjoon yang menciumnya dalam-dalam, meluluhkan pertahanannya yang hendak merebut kontrol permainan.

Ayah dari muridnya itu sungguh pencium yang hebat. Seokjin menemukan dirinya mengerang tertahan diantara lidah dan bibir yang basah, lantas melenguh menerima pijatan lembut di sisi tubuhnya. Setengah tersadar, pendengarannya menangkap bunyi benda dirobek, disusul decak gusar dari Namjoon yang sibuk memasang kondom.

Seokjin terbahak lemah, "Perlu bantuan?"

"Yep," seringai Namjoon, melengos angkuh, "Menjeritlah dengan keras."

Insecure sepanjang siang, intimidatif di atas ranjang, batin Seokjin, mencatat perbedaan pribadi yang baru saja diamati. Namun lamunannya tak berlangsung lama, terutama saat merasakan ujung kejantanan Namjoon menyentuh jalan masuk tubuhnya.

Seokjin mengernyit ngilu, membenamkan muka di gundukan bantal. Punggungnya dielus penuh perhatian oleh telapak tangan Namjoon yang besar, meminta ijin serta memintanya lebih rileks. Anggukan Seokjin menyusul setelahnya, tahu bila ini akan sakit. Jemarinya mengait erat di sela jari-jari Namjoon sembari mengangkat pinggul dengan sukarela.

Dan gerakan tersebut cukup memberi isyarat pada Namjoon untuk menyerbu masuk dalam satu dorongan.

"Kh!"

Napas Seokjin sontak tercekat, bibirnya digigit kuat-kuat. Namjoon tak buang waktu untuk lekas bergerak dan menghunjam berkali-kali. Dicengkeramnya sisi-sisi pinggang Seokjin yang ramping, memaju-mundurkan tubuhnya diiringi desis memburu. Sekejap saja—lenguhan panjang, erangan nyaring, bunyi hentakan pinggul, juga derit tempat tidur memenuhi atmostif kamar besar tersebut. Mesin pendingin seolah tak berguna mengingat intensitas gerak Namjoon yang sama sekali tak melambat. Pelipisnya berpeluh hebat, kendati tak mengurangi keinginan untuk terus melampiaskan hasrat.

Namjoon mencondongkan wajah di samping telinga Seokjin, berusaha melirik ekspresi lelakinya di tengah pandangan berkabut yang tak menentu. Kelopak mata Seokjin yang memejam pun terbuka lebar, seakan sadar sedang diperhatikan. Sepasang mata kecokelatannya mengerjap, melirik susah payah dengan napas tersengal, membaca gestur bibir Namjoon yang mengeja kalimat cinta, lalu spontan berteriak tatkala titik sensitifnya dihunjam keras.

Namjoon mengulum tiap inci kulit bahunya penuh napsu, beringsut mencari sudut dorongan yang tepat untuk memberi kenikmatan berkali-kali lipat pada Seokjin, mengirim sensasi memabukkan yang dengan cepat membawa mereka menuju klimaks.

Seokjin menggelinjang di bawah dadanya, menyebut nama Namjoon untuk kesekian kali sebelum mengejang, hampir tersedak. Namjoon mengumpat, meremas kaitan jemari dan menjatuhkan diri di atas punggung pria tersebut. Kendali lepas seutuhnya dalam tubuh Seokjin, tersapu kilatan putih dari orgasme mereka.

Butuh sekitar setengah menit sampai kesadaran kembali menghinggapi pikiran Namjoon. Masih terengah, Seokjin berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. Tulang-tulangnya seperti leleh terbuai rasa nikmat dari pergumulan barusan, sementara berat badan Namjoon di atasnya sama sekali tak membantu. Dengan sisa-sisa tenaga bercampur keinginan membebaskan diri, Seokjin berpaling untuk mengecup pipi Namjoon.

"Sesak?"

"Uh, huh."

Namjoon tergelak ringan, menepikan kehendak egoisnya yang masih belum berniat menjauh dari Seokjin, tapi sosok indah itu tampak kelelahan dan dia tak mau membebani lebih lama. Desisnya kembali terlontar ketika tautan tubuh mereka terlepas dan Seokjin mengerang lirih, memergoki Namjoon yang kini berbaring miring di sebelah dengan satu lengan terentang, mengundangnya untuk dipeluk.

Tak sanggup merespon memakai suara, Seokjin beringsut merapat dalam dekapan, merengkuh rahang Namjoon yang masih berkeringat, lalu memagut sekilas bibirnya diiringi kerjap perlahan.

"Ada urusan besok pagi?" tanyanya serak sembari mengusap lembut bibir bawah Namjoon yang bagus, jari-jari memainkan helai poni Seokjin diikuti lengan yang melingkari pinggang.

"Bersepeda."

"Eh?"

"Bersepeda, berdua," ulang Namjoon, bergumam rendah, "Akan kuperlihatkan keindahan danau dan bukit yang sering kulewati bersama Jimin."

"Bukan bertiga?"

"Jimin masih harus ikut ulangan. Aku sudah memberitahu, kuatir jika dia mengira akan ditinggal, tapi anak itu malah mengangguk dengan antusias," tukasnya, menghela napas. Ditariknya selimut menutupi keduanya lantas merangkul Seokjin seraya berdecak puas, sorot matanya masih terlihat gelap dan hal itu membuat bulu kuduk Seokjin meremang.

"Sudah lama sekali sejak terakhir kali bercinta dengan seseorang," bisik Namjoon, menggulirkan lidah di dinding mulut dan mengerling saat dadanya didorong ketus oleh Seokjin, "...aku akan berusaha agar tak kalah stamina denganmu."

"Bapak tua mesum."

"Kau mencintaiku."

Seokjin memilih bungkam, mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata meski sambil menahan senyum.

.

.

.