I do not own the story!
copyright © 2012 I Couldn't Care Less by fantasy_seoul (AFF)
translated by Xiao Wa (Jan 13, 2014)
Enjoy~
Chapter 20: The Beast
o
o
o
(*Sehun*)
Hari sudah malam, tapi mereka masih berada di taman. Rupanya, di taman mengadakan acara spesial film tengah malam. Sebuah layar besar sudah didirikan di tengah dan orang-orang mulai berkumpul, mencari tempat yang sempurna. Lay dan Tao bersikeras bahwa mereka tinggal untuk menonton juga, dan tentu saja Suho dan Kris setuju.
Sehun mengutuk dua hyung-nya karena menjadi lemah ketika itu datang dari teman sekamarnya masing-masing.
Bicara soal teman sekamar... Sehun memandangi sekeliling untuk kepala dengan rambut coklat madu. Dia menemukan targetnya jauh beberapa kaki darinya.
Luhan sedang sibuk melempar popcorn ke dalam mulut Xiumin. Setiap kali Xiumin berhasil, Luhan akan bersorak dan mencubit pipinya, memanggilnya "Baozi." (Apa pun itu)
Sehun membuat suara tersumbat pada pemandangan dua anak yang lebih tua bermain dalam dunia mereka sendiri.
"Cemburu?" timpal pasangan Baekyeol saat mereka duduk di samping Sehun di atas rumput.
"C-cemburu?! Dari apa?!" Sehun dalam batin menampar dirinya sendiri karena terdengar sangat gugup.
"Xiumin hyung. Luhan hyung ada disana, mencubit pipinya penuh cinta," jawab Baekhyun berdasarkan fakta.
"Bertaruh kau berharap dia mencubit pipimu," tambah Chanyeol dengan tawa nakal.
"Ha. Ha. Sangat lucu," kata Sehun dengan wajah datar. Dia berharap dia mempunyai popcorn untuk diemparnya pada pasangan itu.
Mereka mau berbicara lebih atas topiknya, tapi speaker yang mengelilingi taman menyala –filmnya mulai. Thank goodness.
Sehun bahkan tidak bisa fokus ke dalam film, matanya akan secara acak menusuk ke arah Luhan. Anak yang lebih tua sedang duduk dengan pas di antara Xiumin dan Lay. Sehun membuat ekspresi jijik pada kedekatan mereka. Tidakkah mereka harus memberikannya ruang untuk bernapas?
Sehun menunduk untuk menemukan tangannya mengepal, buku jarinya memutih. Kenapa aku terganggu?
Dia menggelengkan kepalanya dan menoleh ke arah layar besar. Ada adegan berkelahi di antara laki-laki protagonis dan dua laki-laki jahat, tapi bukannya melihat si aktor, Sehun melihat dirinya sendiri memukuli Xiumin dan Lay. Dia memutuskan bahwa filmnya lumayan menghibur.
Ketika daftar kredit muncul di layar dan orang lain mulai bangun dan meregangkan diri, mata Sehun langsung menembak ke arah Luhan, yang sekarang sedang memijat bahu Lay. Sehun memutar matanya kesal. Dia berpaling, menyadari bahwa Suho juga menatap pada mereka berdua. Wajah Suho juga tidak terlihat senang.
"Sehun-ah, kenapa kau sangat diam?" tanya Luhan sambil naik ke tempat tidur. Sehun berpaling ke sisi lain. Dia mendengkur sebagai respon.
"Apa kau masih kesal soal plester Hello Kitty?"
"Mungkin."
Kenyataannya Sehun sudah melupakan semua tentang plesternya. Dia jengkel karena hal yang lain, tapi dia bahkan tidak bisa menjelaskan kenapa dia merasa seperti itu. Semua yang ia tahu bahwa itu ada hubungannya dengan Luhan.
"Apa kau mau membicarakannya?"
"Memangnya kau apa? Seorang psikiater?" ejek Sehun.
"Bukan. Tapi ku pikir kau bisa membagi apa yang mengganggumu."
"Tidak terima kasih. Terakhir kali aku membagi sesuatu, kau langsung tertidur setelahnya –bahkan tidak menceritakan padaku ceritamu."
"Aku hanya belum siap untuk memberitahumu. Masih belum," kata Luhan pelan, hampir menyesal. Sehun mendesah.
"Baik. Kau tidak harus juga jika kau belum siap." Aku membiarkanmu terlalu mudah.
"Terima kasih Sehun-ah."
"Sekarang bisakah aku pergi tidur?"
Luhan terkekeh dan mengacak rambut Sehun, menghiraukan protes dari yang lain. "Apa kau ingin sekali pergi tidur?"
"Yah! Berhenti menggangguku atau.."
"Atau apa?" tanya Luhan dengan tawa.
"Aku akan memesan kantung tidur. Pengiriman ekspress terdengar bagus –"
"Oke oke. Aku akan membiarkanmu tidur."
"Akhirnya." Sehun menarik selimut menutupi ke kepalanya, berharap bisa menutup matanya. Dia sudah kelelahan karena berada di luar sepanjang hari dan tidak menyebutkan dia hampir terbunuh oleh Frisbee.
"Sehun-ah?"
KENAPA DIA TIDAK BISA MEMBIARKANKU TIDUR!?
"Apa!?"
"Malam." Luhan terkikik lalu berguling ke sisi tempat tidurnya, dengan jelas senang sudah membuat si maknae menggelepar dalam frustasi.
AISH! APA YANG SALAH DENGAN KU?! KENAPA AKU MEMBIARKANNYA MEMBUAT RAMBUTKU BERANTAKAN DAN TERJAGA? JIKA ITU ORANG LAIN...
Sehun mengintip ke sisi Luhan, anak yang lain sudah menutup matanya, siap menyelam tertidur.
Beberapa momen sebelumnya, Sehun ingin mencekik teman sekamarnya dalam tidur, tapi sekarang melihat wajah polosnya, Sehun mempunyai dorongan kuat yang sulit dipercaya untuk memainkan jarinya dirambut Luhan yang halus dan –
Aku benar-benar menjadi gila. Ia mengerang dibantalnya.
(*Luhan*)
"Apa kalian tahu apa yang terjadi dengan Sehun? Belakangan dia menjadi..sedikit aneh," tanya Luhan saat memasuki ruang tamu, dimana Lay dan Suho sedang menonton televisi.
"Aneh bagaimana?" tanya Suho, matanya terlihat ingin tahu.
"Nah kapan pun itu hanya tertinggal kami berdua, dia menjadi gugup –seperti aku akan menyerangnya atau apa."
Lay dan Suho bertukar pandangan sekilas. Ada sesuatu.
"Apa itu?"
"Hyung, aku pikir ini sangat normal, mengingat tipe orang seperti apa Sehun itu," jawab Lay sambil mengganti channel.
"Apa maksudmu?"
"Sejauh kami mengenalnya, Sehun selalu menjadi tipe penakut ketika itu datang untuk menunjukan perasaannya," jawab Suho.
Luhan memandangi mereka, kebingungan.
"Dia suka membangun sebuah dinding. Dinding yang sangat rapat. Hampir tidak bisa dimasuki," tambah Lay.
"Hampir. Segera setelah seorang datang dan bisa membuat bahkan sedikit retakan, Sehun mulai –" Suho memulai.
"Panik seperti orang klaustrophobia terjebak dalam elevator," Lay menyelesaikan.
"Kenapa bisa?"
Lay dan Suho saling pandang, nampaknya berharap yang lain tahu jawabannya. "Kami tidak terlalu yakin, tapi aku rasa dia hanya tidak suka menjadi mudah diserang."
"Dan aku pikir ini adalah pertama kalinya dia jatuh –" Suho terpotong oleh langkah kaki yang keras.
"KAMI PULANG!" seru Chanyeol dari lorong. "Oh hai hyung." Dia menyapa trio di ruang tamu, dan diikuti tepat di belakangnya Baekhyun dan Sehun.
Luhan menyadari Sehun menjadi kaku setelah dia masuk ke ruangan dan melihat mereka. Ada apa dengannya?
"Panggil aku ketika makan malam siap." Sehun berjalan ke lantai atas tanpa melihat hyung-nya.
Baekhyun terkekeh sesaat setelah Sehun keluar dari jarak pendengaran. Mereka mengisyaratkan Luhan untuk bergabung di lorong.
"Ada apa? Kenapa kita –"
Pasangan Baekyeol mendorong Luhan ke kamar mandi terdekat. "Yah! A-apa –"
Mereka menguci pintu di belakangnya. Kedua anak laki-laki itu tersenyum lebar padanya. "Hyung, tenanglah. Ini rapat darurat."
"Rapat darurat? Di kamar mandi? Yang benar?" Luhan menaikan satu alisnya.
"Jadi tidak ada orang yang bisa mengganggu kita. Duh." Chanyeol duduk di toilet (yang tertutup) sedangkan Baekhyun melompat ke westafel. Luhan berdiri menatap mereka, punggungnya menghadap pintu.
"Kita disini untuk mendiskusikan keadanmu dengan Sehun." Sehun?
"Ada apa dengannya?" tanya Luhan, mencoba untuk tidak terdengar terlalu tertarik.
"Pernahkah kau mencoba untuk mengaku padanya lagi?"
Luhan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak melihat poinnya. Kami hanya akan tetap menjadi teman sekamar."
"Apa benar itu yang kau mau? Hanya menjadi teman sekamarnya?" tanya Baekhyun sambil memandanginya sungguh-sungguh, seperti dia sudah tahu jawabannya.
"T-tidak," gumam Luhan.
"Tepat. Kau ingin menggenggam tangnnya, tidur saling berpelukan, memanggilnya nama yang lucu, menciumnya kapan pun kau mau –"
Luhan merona akan bayangannya melakukan semua itu kepada Sehun, tapi dia membuat dirinya sendiri berhenti memikirkannya. Itu tidak akan terjadi.
"Itu tidak berarti karena Sehun tidak menyukaiku seperti itu," respon Luhan, suaranya hampir berbisik.
Baekhyung terkekeh sedangkan Chanyeol mempunyai senyum menggelikan. "Jangan begitu yakin. Apa pun bisa terjadi."
"Apa yang kalian berdua maksud?"
"Mari katakan bahwa kau, menjadi hyung yang lucu dan penuh kasih, tanpa tahu mencairkan hati dingin dari maknae kesayangan kami."
"Apa?"
Baekhyun mendesah. "Hyung, cinta bertepuk sebelah tanganmu sudah tidak lagi bertepuk sebelah tangan!"
"Huh?" Tidak lagi bertepuk sebelah tangan?
Chanyeol face palm. "SEHUN JATUH CINTA DENGANMU!"
"..." Luhan menatap mereka, pikirannya tidak sepenuhnya mengerti kalimatnya.
"Kau pada kenyataannya membuatnya gila tanpa mengetahuinya."
Sehun jatuh cinta d-dengan k-ku? Me-membuatnya g-gila? Aku?
"Apa ini bagian dari lelucon?" Luhan nampak skeptis (ragu), walaupun jauh di dalam dia berharap tidak.
Baekyeol memutar mata mereka atas keraguan hyungnya. "Hyung, aku yakin bahkan kau menyadari betapa anehnya tingkah Sehun disekitarmu."
"Uh huh...lanjutkan."
"Dia sangat jelas gugup."
"Gugup? Kenapa?"
"Karena dia tidak tahu bahwa panah cupid sudah menabraknya tepat di dahi!" seru Chanyeol mencontohkan, menggunakan lengan panjangnya untuk memperagakan bagaimana cupid akan menembak anak panah.
"Aku masih tidak berpikir dia jatuh cinta denganku," balas Luhan dengan sabar.
"Percaya pada kami. Dia jatuh cinta."
"Dia hanya belum mengetahuinya," tambah Baekhyun dengan senyum misterius.
Bagaimana bisa dia tidak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak?
"Ini tidak masuk akal. Ada penjelasan lain yang berlogika kenapa dia menghindar untuk sendirian denganku atau kenapa dia gugup kapan pun aku di dekatnya. Pasti ada," balas Luhan.
"Seperti apa?"
"Seperti mungkin dia masih marah padaku karena plester Hello Kitty atau yang lain, dia tidak suka sendirian denganku. Kami cenderung hanya bercekcok kapan pun kami sendirian."
"Bukan. Bukan."
"Lalu apa?" tanya Luhan tidak sabar.
"Dia menghindar unutk barada di sekitamu karena dia tidak bisa mengatur –"
"Mengatur apa?"
"HORMONNYA YANG MENGAMUK!" teriak Chanyeol. Baekhyun menendangnya dari tempatnya di westafel, menyuruhnya untuk diam sebelum orang lain dengar..
"..."
Sehun punya hormon?
Jujur, Luhan tidak berpikir Sehun seperti kebanyakan anak 19 tahun lainnya... Dia selalu bisa mengendalikan diri.
Jika Sehun benar mempunyai "hormon yang mengamuk," maka dia melakukan perkerjaan yang baik dalam menyembunyikannya.
"Jadi kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang'kan?" selip Baekhyun, memotong pikirannya.
"A-apa?"
"Release. The. Beast," kata Baekyeol serentak, menatap Luhan dengan tekad yang mengerikan. Mereka benar-benar tak bisa di percaya. Benar-benar gila.
"Benaaar. Dan bagaimana aku melepaskan kebuasannya?" tanya Luhan sakarstik.
"Hyung, itu mudah. Tinggal lompat saja ke Sehun –lihatlah bagaimana dia mengatasinya." Chanyeol menyeringai. Wow. Hanya wow. Kenapa aku bahkan mendengarkan mereka berdua?
Luhan bertepuk tangan. "Nah terima kasih untuk uh rapat kecil ini, tapi aku tidak berpikir aku bisa melakukan apa ynag baru saja kau sarankan."
"Kenapa tidak?"
"Karena aku masih suka wajahku tetap seperti ini." Sehun pasti akan merobekku menjadi bagian-bagian kecil jika aku melompat padanya. Ya. Sangat pasti.
Luhan berpaling, tapi Baekhyun menggenggam lengannya. "Hyung, kau tidak bisa menyerah. Sehun hanya sedikit bingung tentang perasaannya untukmu, tapi dia akan menyadarinya secepatnya."
"Bagaimana kalian berdua tahu tentang hal ini? Apa dia mengatakannya padamu?"
"Tidaak mungkin. Sehun tidak akan pernah mengatakan pada siapa pun tentang hal-hal seperti ini."
"Lalu bagaimana –"
"Yakinlah hyung. Berikan dia beberapa waktu dan sebelum kau tahu, kalian akan menjadi teman pelukan," saran Chanyeol.
"MAKAN MALAM SIAP," seru Kyungsoo.
Chanyeol berdiri dari duduknya di toilet. "Rapat ditutup!"
Luhan memutar gagang pintu untuk membiarkan mereka keluar, tapi tidak sebelum Baekhyun mengingatkannya bahwa mereka adalah disebelah jika dia butuh lebih banyak saran. Aku pikir aku sudah mempunyai saran yang cukup dari kalian berdua.
Luhan dan pasangan Baekyeol berjalan keluar dari kamar mandi dan ketika mereka sampi di dapur dimana yang lain mulai berkumpul, Chanyeol meletakan tangannya di bahu Luhan.
"Hormon yang mengamuk. Lepaskan kebuasannya," ia berbisik ke telinga Luhan lalu pergi ke tempat duduknya di meja dapur.
Apa yang harus aku la—
"Apa kau hanya akan berdiri disini?" Suara familiar bisa didengar dari belakangnya.
"Uhh uh tidak," gagap Luhan saat Sehun berjalan melewatinya, menggelengkan kepalanya.
Jantung Luhan, seperti waktu sebelumnya ketika Sehun berada di dekatnya, mulai berdetak cepat. Tapi entah bagaimana kali ini terasa berbeda. Apa percaya dengan yang Baekyeol katakan padanya menyebabkan dirinya untuk melihat dan berpikir soal Sehun secara berbeda? Apa rasa sukanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan?
Selama makan malam, lutut Luhan tidak sengaja bersentuhan dengan Sehun di bawah meja. Anak yang lebih muda langsung memundurkan kakinya, melotot pada Luhan.
Itu adalah wajah dari 'the beast' –yang marah.
Pada saat Luhan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, Sehun sudah jatuh tertidur. Luhan mendesah dan naik ke tempat tidur. Ia berbaring disana selama satu atau dua jam, merenungkan apa yang Baekyeol diskusikan dengannya.
Ini menggelikan. Aku gila bahkan berpikir bahwa Sehun bisa kemungkinan menyukaiku –
"Nnghh."
Luhan menolehkan kepalanya. Sehun? Dia terduduk dan mengintip teman sekamarnya yang tertidur.
Sunyi.
Menyimpulkan bahwa dia hanya berimajinasi, Luhan menggelengkan kepalanya. Aku mulai gila.
"Ba."
Mata Luhan melebar pada anak laki-laki di sebelahnya. Oke kali ini dia yakin suara itu berasal dari Sehun. Dia membungkuk mendekat, berharap untuk mendengar apa yang anak itu gumamkan.
"Bam," Sehun bergumam.
Bam? Apa dia berkelahi dengan seorang di mimpinya?
"Bambi."
Luhan membeku. B-Bambi? Bambi? Apa dia...memanggilku?
Matanya memandang pada anak yang teridur, pikiran Luhan mulai berputar dengan Sehun yang memanggilnya Bambi dengan mesra, menggenggam tangannya, berpelukan di tempat tidur yang mereka bagi, dan hal lain yang membuat badannya memanas.
Aku tidak bermimpi kan? Luhan mencubit dirinya sendiri.
"Bambi." Bibir Sehun melengkung menjadi sebuah senyum yang langka sesaat ketika kalimat itu keluar dari mulutnya.
Luhan pikir dia jatuh cinta dengan anak itu lagi.
o
o
o
TBC~
X.W's note:
Terima kasih yang sudah follow/favorite, review dan setia baca fanfic terjemahan ICCL~ and welcome to the new reader(s) :D
Kali ini saya bisa mengabulkan permintaan kalian buat double update... Yay~ Baca chapter ini sama chapter berikutnya sambil dengerin lagu EXO - Let Out The Beast, dan saya ngakak di depan laptop u,u
X.W reviews replay:
Riyoung17: ini sudah dilanjut~
Odult Maniac: yup~ bahkan sekarang double update...
CuteManlydeer: kali ini double update, saya harap juga bisa update cepat terus~
Baekicot: biar rame/? ini sudah dilanjut~
Xiaolu whirlwinds telekinetics: ga masalah kok, yang pasti masih setia baca u,u ini sudah dilanjut~
BluePink EXO-XOXO-COUPLE: /nods/
Happybacon: yup~
Krystal Affxtion L: sippo~
deerpop: review ditiap chapter, thank you /hugh tight, kasih plester hello kitty/
irnaaa90: emmm, dilihat saja nanti, hahaha~
Lu-ie: /nods/ bener...
my lulu: your welcome deer~ yosh, keep reading~
chekaido: peluk sini peluk /peluk Sehun/
IkaIkaHun11: ini sudah dilanjut~ Annyeong,
HunHanCherry1220: ini sudah dilanjut~
HyunRa: kapan-kapan -Luhan. ini sudah dilanjut~
bubblechanbaek: hello there~ sebenarnya kalau dibilang masih panjang, ya, lumayan juga, tapi saya akan update secepatnya untuk menutupi panjangnya cerita u,u semoga nggak bosen~
oxweareonexo: ga papa, take your time, ceritanya nggak akan lari kemana-mana kok,
HunHan Shipper 31: uhh...NC? giliran saya yang nggak tahu harus bilang apa u,u mungkin ada?
Guest: yosh~ tak masalah XD
fangirl-shipper: yosh~ Bambi Bambi...
