Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Maaf saya tak bisa memberikan apresiasi lebih.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak diskontinu.

A/N: Maaf, saya baru bisa balik sekarang.

Lagi-lagi ada mood nulis fic akibat UTS bahasa Indonesia—wow, efek bahasa memang hebat ya? Bukan hanya UTS aja sih, mungkin gara-gara baca beberapa fanfic saya jadi bertangan gatel ria mau melanjutkan apapun, dan saya nulis beberapa bagian ini pas lagi UTS hari ketiga (gila memang). Yap, langsung saja!


.

Aku melihat, aku membacanya,

Setelah aku kehilangan dia, aku menemukan diriku jatuh. Kutemukan diriku bingung dengan bayanganku sendiri, semua makin berubah setelah kulepas dia. Aku mulai meratapi sebuah soal diriku sendiri yang tak terjawab darinya, yaitu apa arti hidupku sebenarnya. Berhari-hari, bahkan dengan berjalan sedikit menyusuri kota, aku tidak menemukan apa-apa, sampai hari itu—

Ketika aku tengah sendiri di elevator, mataku menangkap sesuatu di pelataran itu—sesuatu milik Master. Tumpukan buku, ya, dari bacaannya bisa tergambar isinya, Compendium.Banyak sekali catatan yang ternyata ditulis oleh Master sebelum ia merekrutku untuk membantu dia. Cerita yang bahkan lebih dahsyat dari datangnya Nyx—Sumaru Pleiades dan juga DVA System—bentuk keserakahan manusia terhadap masa depan, dan selalu saja ada yang berani menghentikan mereka. Walau lebih rumit, sama seperti Nyx dan pengikut-pengikut bodohnya.

Semua cerita itu bermuara pada pengorbanan yang tidak sedikit, sama seperti yang ia lakukan.

Menutup buku, aku mulai memperkirakan apa tujuanku. Aku harus menemuinya, aku harus membebaskannya, aku harus menemukan jawabanku.

Aku membawa seluruh buku Master, mencapai tempat yang dijanjikan dia.

Sayang, ia sudah membeku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa.

(Singkatnya, pertanyaanku tak terjawab?)


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


.

Ptolomea, Judecca, Empyrean

Kanji datang dengan wajah tegak, walau ia melihat semua orang yang menjenguknya terlihat kalap. Tidak ada jam besuk pasti, setidaknya untuk penjara sementara milik Inaba Police Department sekarang ini. Disana bahkan hanya ada Shirogane Naoto yang nampak aktif seperti setrika yang tidak berhenti mondar-mandir sambil membawa berkas.

"Kalian...?" Kanji menaikkan alisnya yang nyaris tak terlihat. Tamu yang tampak dimatanya seakan dianggapnya sebagai sebuah hiperbola. Rise, Yukiko dan Adachi ada disana, tak lupa juga muka Margaret yang tak familiar. "...Ngapain disini?"

"Kanji-kun kau—" Yukiko berdehem. "—Ingat soal...kematian Souji-kun?"

"...Ah, ya. Kurang lebih." Masih menjaga integritasnya, Kanji menjawab. Matanya sedikit menyipit mendengar kalimat tersebut dari mulut senpainya. Sebenarnya ap ayan gterjadi?

"Kanji-kun, bagaimana kalau kau—"

Kanji kembali memotong, "Kau ingin bantuanku kan, Amagi-senpai? Apa kau bisa jelaskan apa yang telah terjadi?"

Yang Yukiko tahu hanyalah—di saat yang lain dikumpulkan oleh seseorang bernama Elizabeth itu yang menjelaskan bahwa mereka dapat menyelamatkan Souji bila mereka melakukan—entahlah—itu bagian yang ia tidak tahu. Soal Great Seal dan Nyx, semuanya terpotong. Dan juga mengenai masa depan mereka yang kosong bagai kertas oleh Philemon, apa yang dapat menyatukan kedua hal ini, sebuah yang terjadi di masa lalu dan juga masa depan?

"...Jadi ini masa depan? Tapi kok ini tahun 2011, senpai?"

"Kita juga tidak tahu, Kanji-kun." Rise menggeleng. "Cuma itu yang bisa kita kumpulkan."

"Ya...sudahlah. Mau digimanakan lagi?" tersirat nada kekalahan dari Kanji—sungguh tidak biasa. "Senpai tidak ada, dan kalian bingung? Lalu kita mau apa lagi, hah?"

BRAK, mendadak Rise berdiri dengan tidak menghiraukan kakinya menabrak meja dengan keras.

"Senpai—Shadows!" ucapnya lantang. "Aku merasakan Shadows akan menuju kemari...tunggu...ada Yosuke-senpai, Chie-senpai dan Kuma juga...?"

Kanji menekuk alis, "Shadows? Benda brengsek itu masih berkeliaran, ya?"

"Kalian membicarakan apa sih? Benda irrasional tempo hari itu?" Naoto melipat tangan. "Ada apa? Mereka ingin kemari?"

BRAK, BRUK, BRAK!

"—Terlambat, Naoto-kun. Tamu kita sudah datang." dengus Rise. Kembali menarik kacamata ber-frame merah muda miliknya, Rise tampil dalam battle mode-nya. "Kalian semua, bersiaplah! Mereka berdua tidak bisa men-summon Persona dan juga Teddie sedang panik!"

Adachi hanya menggaruk kepala, seraya menempatkan posisi bidik pistolnya. "Ya, ya, selalu saja ada urusan menyebalkan..." mulai mengisi amunisi, "Aku hanya menembak saja ya, aku malas~"

Kanji sesegera mungkin melipat kursi yang ada di dekatnya. Yukiko tampak pasif di sebelahnya.

"...Senpai, kau pemimpinnya kan? Apa perintahmu?"

"Eh?"

"Kudengar dari Rise saat kalian cerita kalau kau yang punya Izanagi."

Yukiko memutar bola matanya, "Itu..."

"Ayolah senpai, jangan bimbang." Naoto menepuknya dari belakang. "Aku tidak mengerti kalian ini siapa atau apa, tetapi intuisiku selalu berkata kalian dapat kupercaya—sebagai teman."

"H-Hmph." Kanji memalingkan muka. "Gimana, senpai?"

"Aku akan ada di depan," gadis berbando itu menelan ludah. "Kalian bantu aku dari belakang."

.

"Sa-Satonaka, ke kiri! Robot terbang itu mulai melayang kemari!"

DRAP

"H-Hei, Hanamura! A-Apa kita tidak salah berlari ke kantor polisi seperti ini!"

"Tu-Tunggu aku kumaaaaaaa!"

DRAP, DRAP

"Aku melihat ada pintu di ujung lorong ini! Ayo cepat, Hanamura!"

"Kalian tidak akan kemana-mana, pendosa!"

DRAP, DRAP, DRAP

"Cih! Andai saja kita punya Persona yang kau bilang, Ted!"

"Kalian punya! Kalian itu Persona-user! Hidungku tak pernah salah, kuma!"

.

"Mereka datang, senpai!" pekik Rise. "Shadow itu adalah—tunggu—Shadow milik Naoto-kun?"

Memecah kartunya, Yukiko diselubungi cahaya biru terang yang berlomba-lomba menembus udara, "Izanagi!"


.

To be continued.