Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto. But this ff are mine :v
Warn : this chapter are so annoying. It started...Too much imagined, too much crash the real serial...for entire future chapter :v I'm sorry, Kishimoto-sensei! But this is what happened if you had a fan like me, though :v
So many things I wanna tell, but...
Enjoy first!
.
.
.
"Hiraishin?"
Naruto mengernyit bingung. Bocah 7 tahun itu ingat dengan jelas bahwa beberapa gulungan di ruang rahasia Uzushio ini memiliki beragam segel pelindung. Tapi, scroll di hadapannya benar-benar berbeda. Formula segel pelindungnya tampak ditumpuk. Mungkin jika Naruto tidak mengerti dengan pasti arti dari guratan rumit itu, dia tidak akan mudah menyimpulkan ada yang aneh dengan segel itu. Menggigit jempolnya, bocah yang baru saja masuk Academy itu berniat memastikan reaksi fuuin tersebut pada darah. Siapa tahu gulungan tersebut hanya diperuntukkan untuk orang bergaris darah klan Uzumaki, seperti beberapa gulungan yang sudah di bukanya.
Tapi, Naruto tidak juga menempelkan jempolnya pada gulungan itu. Wajahnya tampak dihantui terror.
Ah...tentu saja Naruto masih trauma dengan insiden itu.
"HANYA KARENA BERUBAH GENDER, KAU RAGU MENGUTAK-ATIK FUUIN LAGI? PAYAH!"
"-Diam kau, rubah!-"
Mengabaikan tawa mengejek dari monster berekor yang ada dalam tubuhnya, Naruto memberanikan diri. Ia oleskan sedikit darahnya di atas gulungan itu. Kelopak matanya reflek tertutup, tak lupa ia lempar gulungan itu. Merasa ledakkan yang ditakutkannya tidak terjadi, gadis itu kembali membuka matanya. Merangkak, gadis itu mencoba mencari gulungan tadi. Dia sedikit merutuki dirinya yang lupa membawa senter atau benda penerangan lainnya.
"Sudah gelap. Aku akan membawanya ke apartemen!"
"HOI, GAKI! BERBAHAYA JIKA PAK TUA HOKAGE MELIHAT SCROLL ITU!"
"-Tinggal sembunyikan, simple!-"
Naruto tertawa kecil saat ia melewati portal dan sampai di rumah peninggalan Yondaime Hokage. Tawanya terhenti ketika segel pada gulungan di tangannya tiba-tiba bercahaya. Belum sampai sana, kekagetannya di lanjut dengan sesuatu yang ikut bercahaya dari bawah ranjang lapuk di sana. Matanya membulat horror, dengan keringat dingin yang mulai menuruni pelipisnya.
'Kumohon itu bukan hantu! Kami-sama! Kumohon!'
Dengan mulut komat-kamit, Naruto mendekati ranjang menyeramkan itu, lalu berjongkok. Tangannya terjulur, menyentuh sesuatu yang tertutupi debu dan terasa dingin secara bersamaan. Gadis itu meringis saat ia mencoba menggenggamnya, sesuatu yang tajam menusuk jarinya.
'Kunai?'inner Naruto bersuara. Gadis itu menarik benda tajam yang memang kunai itu. Safirnya membulat. Bukan karena tangannya yang terluka. Melainkan karena...Kunai itu memiliki mata tiga, dan masih tajam walaupun tujuh tahun sudah berlalu. Ditambah...
Aksara fuuin di pegangannya bercahaya, sama persis dengan guratan aksara pada gulungan berlabel Hiraishin yang dibawa Naruto dari Uzushio.
"Whoaaaa... Kau tahu hubungan gulungan ini dengan Yondaime Hokage, Kyuu-chan?"
"BERHENTI MENYEBUTKU DENGAN EMBEL-EMBEL ITU, GAKI!"
Naruto menyeringai kecil mendengar protesan Kyuubi padanya. "Jawab saja!"gadis itu memerintah.
"INGATKAN AKU UNTUK MEMBUNUHMU SAAT KAU MASUK MINDSCAPE! YA, AKU TAHU. HIRAISHIN ADALAH JUTSU ANDALAN YONDAIME SIALAN ITU. KAU MAU APA?"
"Menguasainya, tentu saja!"
"EFEK YANG DIDAPAT SI KUNING ITU SAAT MENCIPTAKANNYA BENAR-BENAR FATAL. KAU PIKIR APA YANG BISA DILAKUKAN OLEHMU, HEH?"
Saat itu Naruto hanya tersenyum lebar, seolah menemukan sebutir permen di jalan. Ia benar-benar tertarik dan merasa tertantang membuka rahasia dari segel rumit itu. Naruto menyadari segel yang dipelajari olehnya adalah formula sekunder. Dan ia sangat yakin Yondaime benar-benar kesulitan dengan formula awalnya.
Tapi ia tak pernah membayangkan...
Hiraishin lebih merepotkan dari yang dibayangkannya...
.
.
.
Even if you saw it sparkling...You'd never be able to guessed...
What the story behind.
Just hope...You had a second chance to change it.
-anonim-
.
.
.
Uzumaki's Prodigy
Chapter 21 : Scars, part one
"Jangan sekalipun kau menyentuh Hiraishin, Naruto."
Naruto masih ingat dengan jelas pesan dari sang ayah ketika mereka bertemu dalam mindscape lima tahun yang lalu. Saat itu ia ingat bagaimana dirinya tertawa dengan penuh kebanggaan bahwa ia berhasil menjabarkan fuuin itu dan dalam perjalanan menciptakan versi baru-nya, agar bisa digunakan ketika menjadi kunaibunshin. Naruto terlalu tenggelam dalam kebahagiaannya bertemu mereka, sehingga ia tidak terlalu menghiraukan respon keduanya. Tapi Naruto masih ingat, bagaimana interaksi mencurigakan dari keduanya.
Ayah dan ibunya itu semula membeku dengan kedua mata membulat. Bibir mereka pun beberapa kali terbuka-tutup secara bergantian. Ayahnya yang pertama memecahkan keheningan. Pria itu tertawa lega, dengan pancaran mata yang penuh dengan kekhawatiran dan...ketakutan. Entah apa yang ingin ayahnya katakan saat itu, tapi ibunya memukul kepala ayahnya dan mengomel dengan suara yang amat kecil. Ia tak bisa mendengarnya dengan jelas. Yang jelas, Minato benar-benar terlihat dihantui sesuatu. Bukan, dia bukan takut pada Kushina, melainkan apa yang diucapkannya. Tapi saat ia bertanya, ibunya malah balik bertanya :
"Kau tahu akselerasi fuuin pemangkas waktu 'kan, Naru-chan?"
Naruto ingat juga, saat itu ia mengangguk. Tentu saja ia ingat! Fuuin itu juga salah satu perakit Formula utuh Hiraishin. Ibunya berpesan, ia tidak boleh sekalipun menjadikannya dasar segel Hiraishin. Walau tak tahu apa maksud ibunya, Naruto menurut saja. Tidak sedikitpun ia jadikan akselerasi itu sebagai inti dari formula dalam percobaannya mengkreasikan Hiraishin. Bahkan tidak juga, untuk fuuinjutsu lain yang berhasil ditemukannya. Dia tidak tahu alasannya dan tetap mengikuti pesan ibunya.
Tapi kali ini, ia tahu.
Berterimakasihlah pada Gaara sebagai utusan Kazekage untuk mengantarkan satu map dokumen lusuh dengan bonus diktat harian—padanya. Dokumen...yang hilang dari data rahasia Hiraishin di tempat penyimpanan rahasia Konoha. Dokumen penjabar segel timpuk-tindih itu. Satu alasan mengapa generasi Konoha tidak bisa meniru Hiraishin.
Sebuah penjabaran dari aksara satu ke aksara lain yang berhasil Naruto lakukan seorang diri.
"Sudah kuduga...otak ayahmu memang terlalu detail!"Tawa Jiraiya membuat Naruto mendengus. Kalau saja pria itu tahu apa yang Naruto lakukan dengan Hiraishin, mungkin ia takkan percaya.
Gadis itu meraih buku berukuran sedang yang datang bersama dokumen—yang sedang dibaca Jiraiya—itu. Matanya mengernyit melihat sebuah segel penyimpanan rumit ada di cover belakangnya. Menguraikan fuuin itu dalam kepala, Naruto berhasil membukanya dalam waktu kurang dari satu menit. Kebingungan semakin dirasakan gadis itu, ketika asap mengepul kecil, menandakan kemunculan secarik kertas.
"Apa ini?"
Membuka kertas itu, Naruto tak bisa menahan keterkejutan yang kini menyerangnya. Kertas putih jernih itu berisikan tulisan tangan dari...Namikaze Minato.
Ayahnya!
Kalau kau berhasil membaca kertas ini, tak ada keraguan bahwa kau berhasil menguasai Hiraishin.
Kumohon, apapun yang terjadi, jangan sekali-kali kau coba uraikan Formula awalnya. Segel itu sudah banyak menimbulkan kekacauan sebelum kusempurnakan.
Aku sudah bermain-main dengan sejarah dan tak bisa memperbaikinya. Jangan biarkan kekacauan muncul lagi!
Tolong jaga dokumen ini, jangan biarkan sampai ke tangan yang salah.
Jangan coba bakar! Aku telah mencobanya, dan kalian takkan suka apa yang terjadi setelahnya.
(N. Minato)
"Kalau prediksiku tidak salah..."Jiraiya berkedip bingung saat Naruto menatapnya. Safir gadis itu terlihat agak...creepy. "...Pasti ada di sana!" Pria itu memekik kaget saat Naruto merebut dokumen yang sedang di bacanya. Tapi Naruto tidak peduli, dan langsung mengacak-acak dokumen lusuh itu di atas ranjang di kamar rawatnya itu.
Poffft!
Jiraiya berdecak takjub saat beberapa gulungan kosong beserta pena muncul dari ketiadaan setelah tangan Naruto membentuk insou. Setelahnya, gadis itu membolak-balik dokumen dan mulai menorehkan berbagai coretan di gulungan-gulungan di sekitarnya. Untuk sesaat, Jiraiya teringat akan Minato. Tingkah laku gadis itu memang benar-benar mirip ayahnya!
"Naruto?"Jiraiya menghela nafas, Naruto sama sekali tidak menghiraukannya. Alis matanya terangkat sebelah, melihat bagaimana gesitnya tangan Naruto menyalin beberapa fuuin dan mengukir fuuin lain—ia tak terlalu mengerti—tanpa banyak berpikir. Ini...jauh lebih mengerikan daripada ayah dan ibunya! "Oi, Naruto—"
"—Bisakah kau diam sebentar?"desisan tajam dari Naruto, Jiraiya tanggapi dengan mengendikkan bahunya. Tidak mau kena hantaman kepalan tangan Naruto untuk yang kedua kalinya, Jiraiya menunggu sampai gadis itu mau menerangkan apa yang ditemukannya.
"...Izanagi, huh?"
Setelah hampir satu jam Naruto diam, akhirnya gadis itu bersuara juga. Jiraiya mengernyit bingung mendengar salah satu jutsu legenda klan Uchiha itu disebutkan. Seolah tahu rasa penasarannya, Naruto beralih pada pertapa kodok itu. Senyumannya benar-benar membuat hati Jiraiya mencelos. Tampak begitu lugu, dan penuh akan kerinduan.
"Kau tahu, ero-sennin?"walau tidak suka dengan panggilan Naruto padanya, Jiraiya tetap mendengarkan gadis itu. "Izanagi adalah konsep dasar pembuatan fuuin ini,"
"...Huh? Apa maksudmu, bocah?"penjelasan ambigu Naruto sama sekali tidak dimengerti oleh Jiraiya.
"Begini..."Naruto tertawa kecil sebelum melanjutkan,"Fuuinjutsu bukan hanya sebuah tekhnik penyegelan. Tekhnik ini merupakan alternatif—"
"—penghematan chakra bagi klan Uzumaki. Yayaya, aku ta—"Jiraiya terdiam menekuni kalimat yang diucapkannya."—hu. Tunggu dulu! Kau tidak bilang kalau...kalau..."
Naruto tertawa kecil. "Ya. Tou-san ingin menciptakan fuuin dengan fungsi sama dengan Izanagi. Perbedaannya, di sini ada unsur permainan waktu. Dan disitulah..."
Jiraiya melihat mata Naruto menggelap.
"...Letak kesalahannya."
"Ini alasan mengapa Minato tak mau bercerita pada siapapun, eh? Padaku saja dia hanya mengaku kalau marga Namikaze itu nama buatannya. Hmm... Sang pahlawan pun memiliki sisi gelap juga ternyata, haha!" Jiraiya menopang dagunya, berpikir.
"Kau berkata seolah tou-san adalah kriminal yang bertaubat!"Naruto protes. Gadis itu menjitak kepala Jiraiya dengan tidak sopannya. Jiraiya yang tidak terima tentu saja menjitak balik.
"Belajarlah sopan, bocah!"
"Belajarlah tidak mengintip, mesum!"
"Belajarlah untuk tidak mengatai orang yang lebih tua darimu, anak muda!"
"Belajarlah untuk tidak mengatai orang yang lebih muda darimu, kakek tua!"
"..."Jiraiya tersenyum kering. Naruto terlalu mirip dengan...Uzumaki Kushina. Sama-sama cerewet dan tak mau kalah dalam perdebatan. Menghela nafas, Jiraiya mencoba untuk kembali ke topik mereka. Hiraishin.
"Jadi...bisa kau jelaskan? Aku memang sempat mempelajari fuuin dari Kushina dan Minato. Tapi kau tahu aku bukan ahli fuuin..."Naruto tersenyum penuh kemenangan.
"Untuk bagian ini dan ini..."Naruto memperlihatkan coretannya tadi ke Jiraiya, menjelaskan apa yang berhasil disimpulkan olehnya."...Sepenuhnya sudah pas dengan tujuan. Fuuin ini dengan ini, tambahan ini, juga ini... Walau aku tak tahu berhasil atau tidak, akselerasi keempat baris itu bisa membawa pergeseran waktu. Kesalahannya adalah...fuuin pemangkas waktu, yang tou-san jadikan dasar fuuin..."
Penjelasan Naruto benar-benar merasuk ke otak Jiraiya. Bagaimana fuuin itu bekerja seharusnya, di mana letak kesalahan sehingga...efek yang Minato dapatkan benar-benar jauh dari harapan.
"Fuuin pemangkas waktu terlalu baku. Aku belum pernah menemukan formula dengan inti fuuin itu. Dan yeah... Efeknya... luar biasa..." Naruto terkekeh agak ngeri. Membayangkan ia mengalami mal-fungsi fuuin saat pembuatan Hiraishin, terlalu menyeramkan. Tidak, terimakasih. Cukup sekali saja ia terkena mal-fungsi. Untung saja Naruto berhasil lolos dari fuuinjutsu merepotkan itu.
"Hm... Jadi pada formula selanjutnya...Minato sengaja memakai konsep jutsu Nidaime Hokage, sehingga Hiraishin hanya menjadi jutsu teleportasi?"Jiraiya menyimpulkan. Kepalanya mengangguk-angguk, mulai mengerti ke arah mana semua teori ini akan berlabuh."Lalu...apa kau juga mengalami mal-fungsi sehingga...err...menjadi...kau tahu?"Jiraiya tertawa gugup saat Naruto menatapnya tajam. Gadis itu paling benci mengingat alasan dirinya menjadi seorang gadis.
"Perlu kau tahu, aku berhasil menguasai dan mengkreasikan Hiraishin tanpa kejadian mal-fungsi. Tapi..."Naruto menghempaskan badannya, kembali berbaring. Tidak peduli dengan dokumen dan hal lain yang masih berserakan di atas ranjangnya."...Kalau soal fuuin pemangkas waktu... Kurasa jawabannya adalah, ya."
Jiraiya melongo. "Tunggu dulu! Maksudmu kau jadi—err maksudku insiden yang menimpamu karena fuuin itu pula?"
"Ya,"Naruto menghela nafas.
"Wah, wah... Bagaimana ceritanya?" Jiraiya tersenyum iseng.
"Ada beberapa fuuinjutsu dengan ikatan insou yang rumit. Kebanyakan fuuinjutsu tingkat A ke atas. Simpulkan sendiri bagaimana,"gadis itu berbalik, lalu menutup wajahnya dengan bantal.
Jiraiya mengekeh. Tak sulit untuk pria itu menyimpulkan maksud dari Naruto.
"Kasus yang menarik... Ternyata insou bisa merubah takdir jenis kelaminmu,"
Naruto mengabaikan Jiraiya yang mulai tertawa—lebih tepatnya : menertawakannya, ia menghela nafas panjang. Mengingat lagi penyebab dirinya berubah gender, Naruto mendengus. Awalnya ia tidak tahu aksara mana yang salah bereaksi dengan insou. Tapi setelah dua minggu lalu ia coba mengorek kembali fuuin mimpi buruknya itu, ia menemukan jawabannya. Ia salah mereaksikan fuuin pemangkas waktu—itu. Semula gubuhan aksara fuuin itu hanya pelengkap dari fuuin lainnya. Naruto tidak tahu, kalau pegaktifan fuuin tersebut malah menjadikannya seorang gadis. Ugh...Memikirkannya hanya membuat Naruto sakit kepala. Bagaimana ia bisa kembali, jika fuuin yang merupakan biang keladi insiden ini adalah fuuin yang ruwet dengan segala kebakuannya?
"Ha—ah..."
"Jadi...Apa kau akan kembali? Kulihat kau cukup menikmati kasih sayang dari Uchiha muda itu," Jiraiya berucap iseng. Ia terkekeh mendengar gerutuan Naruto.
"Berisik."
"Oh? Tapi kau memang menyukainya juga, kan?"
Blush!
"Kakek tua tahu apa?"
Jiraiya menangkap bantal yang Naruto lemparkan. Ia mengedipkan sebelah matanya, sukses membuat gadis itu semakin merona."Kau tahu, Naruto? Kakek tua ini juga pernah muda. Jadi... mau mengaku?"
"Aku memang menyukainya, tapi bukan dalam hal seperti itu!"Naruto manyun.
"Hmmm~! Kau mengakuinya!" Jiraiya mulai meledek Naruto. Bocah itu benar-benar membuatnya merasakan keberadaan murid kebanggaanya. Jujur saja, ia benar-benar menganggap Minato selayaknya seorang anak. Jadi...tak salah kan jika ia menganggap Naruto seperti cucunya?
"Whatever you say! Sana pergi! Lanjutkan saja novelmu!"
Jiraiya tertawa lepas. Pria itu duduk di pinggir ranjang Naruto, lalu mengacak-acak rambut Naruto dengan gemas, mengabaikan teriakkan protes dan ancaman yang mengalir keluar dari mulut Naruto. Merasa hasil pekerjaannya berbuah rambut pirang acak-acakkan, Jiraiya merubahnya menjadi mengusap pelan puncak kepala Naruto.
"Baiklah, bocah. Aku percaya padamu. Lagipula kau masih terlalu kecil untuk memikirkan hal seperti...itu. Hey... Kenapa kau menatapku seperti itu?"Jiraiya mengernyit bingung saat disadari olehnya, Naruto menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Oii! Jangan bilang tangannya terlalu kasar?
"A-aku..."
"Kau tidak suka?" Jiraiya berniat menjauhkan tangannya, tapi Naruto malah menahannya tetap di sana.
"Tanganmu... sama dengan tou-san..."gumaman pelan dari Naruto mengundang sebuah senyum di wajah Jiraiya. Gadis itu...mengingat ayahnya? Walau masih belum tahu pasti kapan dan bagaimana gadis itu bisa bertemu ayahnya, Jiraiya tetap tersenyum maklum. Saat kau teringat seseorang yang sangat berarti bagimu, kau pasti akan merasakan rindu, sendu, atau apapun kalian menyebutnya.
"Sama? Keriputan, maksudmu?"
"B-bukan!"
"Lalu?"
Naruto terdiam. Gadis itu melepas tangan Jiraiya, membuat pria itu semakin bingung dengan tingkahnya. Apalagi saat Naruto tiba-tiba duduk dan menatapnya tajam, Jiraiya tak mengerti ada apa dengan gadis itu.
"Hati-hati dengan Jiraiya-sensei, Naruto. Dia memang seperti yang ibumu bicarakan. Kemesumannya tak perlu ditanyakan. Tapi...dia adalah shinobi hebat yang bisa membuatmu bingung!"
Perkataan ayahnya lima tahun yang lalu membuat Naruto menggigit bibir bawahnya. Lain halnya dengan Jiraiya.
Jiraiya berhasil menyimpulkan satu hal...
Sepertinya Hiruzen dan yang lainnya salah fatal atas tanggapan mereka pada Naruto. Dia memang kuat. Dia memang dewasa. Dia memang cerdik. Tapi di samping itu semua, dia hanyalah seorang bocah 13 tahun yang kesepian menanti sosok keluarga.
"Tapi dia adalah kakek yang baik untukmu, Naru-chan!"
Jiraiya membeku...
Ketika sadar, Naruto tengah memeluknya.
.
.
.
"Berdasarkan laporan dari informanku, selanjutnya kita akan ke sini!"
Naruto menatap datar pada desa kecil yang Jiraiya tunjuk pada peta di antara mereka. Ini adalah desa keempat yang mereka kunjungi. Menatap pria di hadapannya, Naruto berkedut kesal. Pria itu—Jiraiya—memandang map dengan tatapan mesum, wajah merah merona, ditambah cekikikan mengerikan yang sukses membuat Naruto merinding.
"Khekhekhe...Pasti sangat menyenangkan!"
Tak tahan dengan wajah mengerikan yang agak menjurus ke-pedofil-an itu, Naruto menghantamkan bogemnya sampai pria itu tersungkur di lantai kamar penginapan. Gadis itu menyeringai saat Jiraiya menatapnya tajam. Yee! Siapa juga yang menyuruhnya memasang tampang mesum itu?
"...Bocah sialan,"
"...Terimakasih!"
"Aku tidak memujimu, bodoh!"
"Aku tidak merasa bodoh,"
Naruto hanya tertawa dan memasang wajah tanpa dosa-nya ketika Jiraiya mulai mengomel. Gadis itu mengerut pelipisnya, saat Jiraiya pamit keluar untuk mencari informasi. Tak perlu diberitahu, Naruto yakin itu hanya modus Jiraiya untuk bisa bersenang-senang dengan gadis penghibur. Ck! Dasar pertapa genit!
Menghembuskan nafas pasrah, Naruto membaringkan badannya. Seharusnya ia berada di tengah-tengah markas Anbu, berlatih bersama yang lain, untuk mempersiapkan kejadian tak terduga, yang mungkin terjadi di hari H semi-final Ujian Chuunin. Seharusnya juga ia mendapat giliran memasak di rumah, sembari mengajarkan Isobu untuk membuat beberapa jenis masakan. Seharusnya ia memeluk guling tersayang. Seharusnya ia berada di Konoha, bukan mengekori pria tua mesum yang tak jelas asal-usulnya dengan tujuan yang tidak jelas pula!
Masih jelas dalam ingatannya, bagaimana Hiruzen membuatnya terjebak bersama pertapa kodok itu.
Naruto melangkahkan kaki dengan santai ke dalam ruang Hokage. Alis matanya terangkat, melihat sesosok pria yang menjadi korban kepalan tangannya tempo hari. Belum sampai sana, ia juga mendapat tatapan tajam dari Sandaime Hokage.
Apa yang salah?
"Jelaskan, Naruto. Apa yang terjadi di hutan kematian?"Hiruzen melipat tangannya di atas meja. Cukup mendengar 'hutan kematian', Naruto tahu apa—ralat : siapa—yang salah.
"Kau mengadu!" mata Naruto memicing protes pada sosok Jiraiya. Bukannya menuduh, tapi pria itulah yang tanpa sengaja Naruto jadikan tempat curhat semalam. Termasuk dengan fakta, bahwa dirinya terinfeksi racun Orochimaru saat itu.
"Jelaskan!"
"Baiiiiklaaah! Aku terkena racunnya! Dan sampai sekarang efeknya masih terasa, puas?"
Dengan penjelasan singkat padat dan kurang jelasnya itu, Hiruzen menggebrak meja. Nyali Naruto agak menciut melihat ledakkan amarah dalam matanya. Mencoba mencari perlindungan, gadis pirang itu menarik Jiraiya sebagai tembok penghalang untuknya. Rupanya kejadian semalam saat ia menangis dan memeluk pria itu, tanpa sadar membuatnya merasa mendapat perlindungan di dekat Jiraiya.
"Bagaimana mungkin kau tidak memberitahuku, Naruto?! Ini benar-benar berbahaya!"
"A-aku..."
"Kau tahu aku sangat khawatir padamu belakangan ini! Seharusnya kau bilang! Sekarang, Jiraiya..."
"Ya?"
"Kau bawa Naruto, cari Tsunade di luar sana! Bawa Naruto kembali dalam keadaan sehat seutuhnya!"
"Oke, Sarutobi-sensei!"
Saat Jiraiya memanggulnya selayaknya karung beras, Naruto diam tanpa kata. Hatinya mencelos mendengar statement khawatir dari pria yang sudah dianggapnya kakek sendiri itu. Rasa kecewa yang sebelumnya ia rasakan seolah meleleh...digantikan sebuah perasaan hangat yang selalu membuatnya berhasil bertahan dari cercaan penduduk.
Naruto tahu, Hiruzen masih sehangat yang ia ingat...
"Yosh! Kita akan mencari Tsunade-hime~!"ucapan Jiraiya ini menyadarkan Naruto, bahwa mereka sudah melewati gerbang Konoha.
Dan beginilah ia... Mengikuti langkah berbayang dari pria itu. Berpindah dari satu desa ke desa lain, demi mencari sesosok wanita paruh baya bernama Tsunade—yang dikatakan bisa membantunya mencari penawar racun. Naruto menghela nafas. Nama wanita—yang entah bagaimana rupanya—itu terasa begitu familiar di telinganya.
Tsunade. Tiga suku kata. Tiga jenis hiragana. Tiga pelafalan. Tiga...ah...sudahlah!
Masa bodo dengan Jiraiya, maupun Tsunade yang mereka cari, yang penting Naruto mau tidur!
.
.
.
Ketika ia terbangun, lagi-lagi posisinya dalam panggulan Jiraiya. Naruto merengut protes saat pria yang memanggulnya itu terkekeh. Entah sudah berapa kali Jiraiya membawanya dalam posisi awkward ini, yang jelas Naruto benar-benar tidak nyaman.
Ck...Beraninya Jiraiya memanggul Ketua Anbu desa Konoha tanpa persetujuan!—mungkin itu yang terus menggema dalam kepalanya.
"Sekarang kita kemana?"Naruto menguap. Jiraiya menjawabnya dengan sebuah senyum lebar.
"Coba tebak!"
"...Kau sudah menemukannya?"
Jiraiya mengangguk, lalu menurunkan Naruto. Kekehan keluar dari bibirnya saat Naruto berhasil melihat wujud dari desa tujuan mereka secara langsung. Gadis itu langsung memekik protes. Khawatir wajahnya kembali jadi sasaran hantaman bogem mentah, Jiraiya buru-buru mengisyaratkan agar Naruto tenang.
"Apa-apaan kau, membawaku ke desa seperti ini?! Kau mau menjualku, heh?!"Naruto menatap desa di hadapannya dengan horror. Desa itu tergolong desa yang kecil namun cukup terlihat ramai. Yang membuat Naruto protes adalah...Ini, desa, surganya para penjudi dan pemabuk. Bagaimana ia tidak curiga, jika yang membawanya kesini adalah raja mesum seperti Jiraiya? Dengan posisi dipanggul seperti karung beras, pula?!
"Whoaa! Santai, santai! Orang yang kita cari adalah seorang ratu judi, Naruto! Aku tidak berniat aneh-aneh!"
Masih curiga, Naruto menyipitkan matanya. "Sedikit saja aku melihat ada yang tidak beres," Jiraiya meneguk ludahnya gugup."...Kau tahu akibatnya, Jiraiya-san..."
'Apa aku baru saja diancam bocah? Dan merasa takut karenanya? Ugh... image-ku hancur sudah!'Jiraiya membatin nelangsa. Pria itu menarik Naruto untuk berjalan di sampingnya. Mereka berjalan beriringan.
Baru satu langkah melewati gerbang, Naruto tiba-tiba meringis dan jatuh terduduk. Matanya membulat lebar, terkejut. Saat Jiraiya hendak menolongnya, satu nama yang tak ingin didengarnya keluar dari bibir Naruto.
"Orochimaru..." Untuk sesaat, Jiraiya melihat Naruto yang ketakutan. Tapi sesaat setelahnya, gadis itu tampak dipenuhi oleh emosi.
"...Dia menemukanku, ero-sennin..."
"...Huh?"
Perkataan Naruto entah yang keberapa kalinya sukses membuat Jiraiya kembali tersangkut dalam kebingungan. Kalimat yang Naruto ucapkan...benar-benar aneh. Bukankah seharusnya gadis itu bilang dia menemukan Orochimaru? Kenapa malah sebaliknya?
"Kau...tidak salah sebut, kan? Bukankah seharusnya kau bilang kau menemukan Orochimaru?"Jiraiya coba membenarkan. Tapi gadis itu menggeleng pelan. Matanya terlihat benar-benar kosong. Sejak kapan...Naruto punya mimik wajah aneh seperti itu?
"Tidak... Dia menemukanku.
.
.
.
—Orochimaru... menemukanku."
~Bersambung ke Chapter 22~
Omake...
Sasuke menggigit potongan tomatnya dengan tenang. Dengan suara desiran angin, keadaan sunyi-senyap, dan santai yang dirasakannya membuat Sasuke merasa—
"KAU CURANG!"
—tenang... Ah... Sepertinya kali ini Sasuke tak bisa mendapatkan ketenangan yang diinginkannya, eh?
Menghela nafas, bungsu Uchiha itu bangkit dari balkon kamarnya, lalu melangkahkan kakinya menuju lantai bawah. Memutar bola matanya bosan, tak ada yang perlu dikhawatirkan dari keributan yang mengganggu santai sore-nya. Itu hanya suara tak mau kalah dari sesosok Kurama.
"Kalian kenapa lagi?"bertanya malas, yang Sasuke dapatkan adalah pemandangan penuh kekerasan.
"Woi, Kurama! Jauhi tubuhku!"
Isobu—oleh-oleh yang Naruto bawa dari Kirigakure—terus menjerit protes, dengan posisi tengkurap di atas lantai. Jangan lupakan Kurama yang menaikinya dan menjambak rambutnya.
"Kau curang, kura-kura!"
"Tidak!"
"Kau CURANG!"
"Tidaaaak!"
"Ya, akui itu! Seharusnya aku yang menang! Aku! AKU!"
"CK! Sampai kapan kau mau jadi rubah tua yang keras kepala itu?! Akui saja! Dalam tubuh manusia, aku lebih unggul darimu!"
"TIDAK SEMUDAH ITU!"
"Oi! Akui aku yang—"
"—Tidak boleh! Hanya Kurama-sama yang boleh menang!"
Sasuke melongo. Onyx-nya menatap sekitar, mencari penyebab utama bertengkarnya dua makhluk mistis itu. Ketika matanya berhasil menangkap seperangkat alat shogi, Sasuke mengerut pelipisnya. Lupakan apa komentar orang dengan makhluk luar biasa seperti mereka. Lupakan tentang apa yang pernah dan bisa mereka perbuat dengan kekuatan besar mereka. Lupakan, kenapa Sasuke sempat bangga rumahnya dijadikan tempat berlabuh dua makhluk luar biasa seperti mereka.
Lupakan, kalau Sasuke pernah melihat mereka bergulat di atas lantai hingga membuat ruang tamunya berantakan, hanya karena permainan shogi.
Ya, permainan SHOGI!
Sasuke tertawa skeptis dalam hati. Kalau Naruto saja bisa seabsurd itu, apalagi peliharaannya? Yeah... Sepertinya Sasuke tak perlu mengkhawatirkan dua manusia jadi-jadian itu. Dia lebih baik mengkhawatirkan furniture rumahnya, yang terancam lebih kacau, dengan fakta masih ada yang lain dari mereka, yang siap Naruto seret ke rumah ini.
Sebelum memikirkan barang-barang, Sasuke lebih memilih melanjutkan menikmati irisan buah tomat kesayangannya. Ya, itu prioritas utamanya untuk saat ini.
"Ha—ah... I'm going to have a headache..."
Melangkahkan kaki kembali ke kamarnya, Sasuke merasakan ada yang aneh.
Dia tidak salah masuk kamar, dibuktikan dengan eksistensi sebuah boneka tomat lucu di atas ranjangnya. Segala hal yang ada di kamar itu pun tetap pada tempat terakhir Sasuke melihatnya. Pintu balkon tetap terbuka, seperti terakhir kali Sasuke meninggalkannya. Yang hilang adalah...piring irisan tomat, yang menjadi alasannya kembali ke sini.
'Terakhir kali kutinggalkan...ada di sana,'
Curiga, Sasuke buru-buru ke balkon. Kepalanya menoleh ke sana-ke mari, siapa tahu ia menemukan sesosok tupai—atau hewan apalah itu yang biasa berkeliaran di rumahnya, yang merupakan bagian dari percobaan Naruto. Tak menemukan binatang apapun, Sasuke menghela nafas. Mungkin saja...tupai itu sudah kabur dengan sepiring tomat lezatnya.
Berbalik, Sasuke membeku. Tidak seperti sebelumnya saat ia bertahan dengan wajah stoic—walau sempat dibuat sweatdrop, kali ini ia benar-benar shock.
Berdiri sesosok shinobi, yang tak pernah Sasuke kira akan muncul di Konoha.
Di hadapannya...
"Ossashiburi, Sasuke,"
"K-kau...!"
End of Omake...
A/N :
Okay! Chic tahu seberapa kalian ingin memanggang ayam ini. But please, biarkan Chic menjelaskan segala hal sebelum kalian panggang!
Untuk yang benci A/N panjang, Chic sarankan langsung injek tombol review. Karena curcol ini... Sepanjang penantian Chic untuk bisa mengobrol dengan kalian semua hiks hiks...so akan benar-benar panjang(4 page Ms Word. Tapi gak akan mengecewakan untuk yang baca, karena Chic nyisipin spoiler yang mungkin susah disadari. Try find it!).
First... Dengan err... berapa bulan Chic gak update? *gampared by readers*Okay, dengan keleeeeeeeleeeeeetan ini, Chic bawa kabar gembira untuk kita semua.
.
.
.
*drumrolls*
.
.
.
Kulit manggis, kini ada ekstraknya! #plak #basi oyy!
Oke, abaikan yang di atas. Dua-tiga bulan ini Chic nge-press waktu tidur and jadi ayam-ayam malam(?). And voila! Look what can I get? LAPPIE-CHAN!
Yup! Setelah Chic berusaha malak(?) uang dari my lovely boss dengan kerja, Chic berhasil beli sebuah lappie putih yang unyu-unyu+ponsel android(buat modem portable) yang semula cuman ada di mimpi Chic. Semoga ini bisa membayar dosa(?) Chic udah nelantarin ff UP dan reader semua T.T Karena dengan adanya fasilitas pribadi, Chic bisa ngejamin bakal langsung update setelah tiap chapter selesai dibuat. Gak perlu nyita tab temen, gak perlu nyita laptop temen, gak perlu ke warnet dan ketemu Internet Positif. Yeaaaah! Cheer up, man! I'm so happy!
Mudah-mudahan aja Chic gak terlalu sibuk lagi :v
Oke, itu kabar gembira untuk kalian para pembaca setia dan antek-anteknya :D
Sekarang, to more serious topic.
Well... Mungkin ada beberapa dari kalian yang menyadari chapter-chapter terakhir semakin kaku, membingungkan, tidak jelas, de el el. Chic udah coba tetep bikin ff ini seperti yang kalian kenal, suer! Mungkin karena tuntutan plot, atau...Proposal dan laporan anak2 yang belakangan Chic sering pelototin, bikin jari Chic kaku ngetik. Bahkan untuk ngomong aja, Chic bener-bener kaku sekarang ini. Biasanya kadang omongan suka nyeleweng kemana aja, sekarang untuk nyebut PoV sendiri pun susah. No more 'Aku', 'Kamu', even 'Me', etc. It's always been 'Saya', 'Anda', and my name. Argh! I'm stuck! Bahkan 'ane'&'ente' udah jaraaang banget keluar dari mulut Chic. Padahal itu bahasa sehari2 Chic sebelum masuk Highschool.
Ugh... This is serious problem for me. Maaf kalau sewaktu-waktu kalian gak nyaman lagi baca cerita ini. I should handle it, I know! .but...just forget -_-
Dan untuk dialog, narasi, atau apapun yang sering nyelip bahasa Inggris, Chic minta maaf. Kebiasaan buat, baca, and be a beta reader of English Fanfic for this whole time, bener-bener bikin Chic jauuuh lebih kesulitan. Kalian harus tahu, Chic itu paling susah ngobrol lewat lisan maupun tulisan. Kenapa? Bisa lancar ngomong bahasa inggris, arab, and some languanges I known a bit, bikin Chic belepotan waktu pake bahasa kebangsaan. Suka kecampur aduk :v I'm sorry Bung Karno and all our heroes, I can't save myself arround thou global case XD
Dan mungkin untuk kalian yang jeli, terkadang Chic terbalik nyimpen kata. Percayalah, Chic bener-bener gak sadar dengan semua itu! I'm bad in indonesian, for sure. Pengecualian kalau bahasanya campur aduk n gak baku...
Cukup untuk curcol, sekarang kita mulai bahas jalan cerita. Well... Entah kalian sebut ini spoiler atau apa, tapi Chic yakin bagian ini yang penting untuk di baca.
Pertama, Omake chapter ini bisa jadi prolog chapter ke depan.
Siapa yang Sasuke lihat? Chic kasih tahu, chapter 23+ kalian bisa dapet jawabannya.
Untuk Hiraishin stuff, percayalah, itu hanya hasil dari hayalan kelewat ngayal dari otak Chic. Gak ada sangkut pautnya dgn serial Naruto, kecuali bagian 'konsep jutsu teleportasi Nidaime'.
Plus... Struktur cerita baru tanpa summary dan anteknya kecuali Warn&Disclaimer. Bagaimana menurut kalian? Enak dibaca, kah?
Re-review time, Chic think :3
Naruto punya perasaan ke Sasuke?
Uhm... Menurutmu gimana, Nar?
(Naruto : *glare* Who says?!)
To be honest, Naruto can be tsundere sometimes...
(Naruto : OIII!)
Minato kenal Kazekage? Ayahnya Gaara belum mati?
Kenal? Yups! Kazekage adalah sahabat Minato. Ayah Gaara? Mati? Mungkin...belum :v
Update kilatnya kapan?
Kabar gembira, seperti yang Chic bilang. Setelah chapter ini, chapter selanjutnya akan cepat update sesuai dengan selesainya Chic mengetik. Thanks to lappie-chan! :D *hug all reader*
Kenapa cerita tambah rumit?
Chic juga gak tau! *bletak*
Ehehehe... Jujur aja, konflik selanjutnya ada yang jauh lebih rumit. Apalagi saat Naruto mulai berubah sesuka hati. Tapi Chic usahain gak sampe nyerempet Drama, deh! Pasti ada beberapa rest chapter yang bisa bikin kalian lepas dari konflik, kok! Chic juga gak sepinter itu untuk ngutak-atik otak bikin cerita rumit.
Clue masih sedikit?
Ya. Chic gak bisa langsung lepas semua clue gitu aja. Kalau kelepas dengan mudah, cerita bakal lebih cepat selesai. Berhubung Chic mau buat ff ini rada panjang, jadi Chic harus pinter-pinter nahan clue :v Lebih banyak clue setelah shippuden. Biarkan plot yang menjawab~
Lagian kalau kalian jeli, di chapter ini ada beberapa clue penting. What is it?
I'm unable to tell you XD Magicians never reveals their secret!
(Reader : Sejak kapan Chic jadi pesulap? *sweatdrop*)
Sejak...dapet sepaket komik about Phantom Thief dari seseorang, mungkin? XD
Ah... sudahlah!
.
.
.
Cuplikan chapter depan
...Naruto tidak akan pernah lupa, hari dimana ia melihat orang itu...
"Yakin, Naruto?"
"Kau seharusnya sadar posisimu, bocah!"
"Aku yang harusnya bilang seperti itu, Orochimaru..."
"K-KYUUBI?!"
"...Kejutan!"
...Hanya sebuah permulaan...
.
.
.
Yang terakhir, Chic bener-bener minta maaf atas segala keterlambatan update ini.
Terimakasih untuk reader-review-folower-blackmailer(ngancam pula :v)-yang-namanya-tidak-mau-disebutkan, yang mengirimkan pm "Telat update, buka kedok!", Chic terpaksa pasang avatar asli :v Please jangan kaget liat muka absurd Chic kkk~
Thanks for all reviews-supports-alerts-favs-folls-reads-views.
Tinggalkan review, please? Semakin banyak respon kalian, semakin semangat Chic melanjutkan.
Sekian Terimagaji,
Sign Out!
Chic White (not your ordinary Chic-ken)
PS : Chic post sequel dari ff Cypress. Mungkin gak se'menyentuh' Cypress, but try to read Judulnya "Mati Satu, Layu Semua"
Well... Kalian siap memanggang Chic? *pasrah
