Kedua mata Haku mengerjap pelan. Ia terdiam, tapi matanya terus tertuju pada sebuah bingkai yang berada persis di dinding. Bingkai tersebut sangat besar, dan diberi frame hitam polos yang elegan. Dan di dalamnya, terdapat sebuah foto seorang pria.
Tampan, gagah dan cukup berwibawa.
Namikaze Menma.
Seorang anak semata wayang dari keluarga Namikaze, Minato Namikaze dan Shizune Namikaze.
Tubuh Haku melemas.
Orang di foto itulah yang akan di nikahinya.
Melihat Haku yang membeku tanpa berkedip, seorang wanita berambut pirang yang di ikat berhenti, mengernyitkan dahi dan mulai mendekat.
"Tenang saja, walaupun sifatnya yang seperti itu. Dia cukup baik" ucap wanita tersebut dengan lembut.
Iris amethyst miliknya yang masih menatap foto itu pun melayu, perlahan Haku mengalihkan pandangannya ke mata sang wanita. "Apakah semua ini adalah kesalahan, Tsunade-shisou"
"Hm… kita memiliki beberapa pandangan akan hal itu. Di matamu mungkin akan sangat merasa bersalah karena di hatimu masih ada sosok Uzumaki Naruto." Tutur wanita muda tersebut, namun tidak mengubah fakta kalau dirinya tidak suka akan hal ini. "Aku pun juga tak suka jika kau menikah dengannya, apalagi Naruto adalah penyelamatku. Tentunya aku ingin yang terbaik untuk kalian"
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Be-benarkah…?" Dengan lancar, linangan air mata mulai membuat sungai sendiri di masing-masing pipi mulusnya.
"Ya."
Gadis berambut hitam panjang itu berdiri, ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya dan menggigit bibir bawahnya keras-keras. Setelah bertahan setengah menit dalam posisi tersebut, dengan cepat gadis itu menabrak dada Tsunade dan memeluknya erat-sambil diselingi oleh isakan kecil.
Sedangkan si rambut pirang-atau yang lebih mudah dipanggil Tsunade-langsung prihatin dengan keadaan muridnya. Ia menduga, pasti Haku tidak mau di nikahkan bersama anak dari Hokage. Lagipula… ia tak suka jika ada sesuatu yang membuat anak didiknya itu menangis.
"Terimakasih…"
Desclaimer © Masashi Kishimoto
.
.
.
Uzumaki Rinnegan © Draco
.
.
.
Warning : Smart!Naru, Gaje, Abal, Suram, Typo, Ooc, Strong!Naru, Over!Powered, Arc!Shippuden, etc
.
.
.
Genre : Adventure, Friendship, Romance, etc
.
.
.
Rating : M
.
.
.
Peringatan Keras!
-Jika tidak suka tidak usah dibaca, OK!
.
.
.
Dahulu kala ada seorang petapa..
Yang menyegel pemimpin dari para Youkai..
Memiliki kekuatan mata atau Doujutsu..
Yang dikenal dengan..
RINNEGAN
.
.
Draco, in!
.
.
Selamat membaca~
~•~
(Kebangkitan)
-Ini hanyalah sebuah masalah-
Chapter 21
Hari ini adalah hari yang berbahagia. Bahagia menurut keluarga Namikaze.
Tirai berwarna putih, tembok gedung putih dan lantai pun juga putih. Bukan hanya itu, ratusan hiasan berwarna putih merajai dekorasi terpajang. Mereka memang memilih warna putih sebagai warna tema, karena bagi keluarga Namikaze, putih memancarkan sinar yang suci.
Sedangkan di ruang rias pengantin pria, Menma duduk di kursinya dengan wajah tertekuk plus kedua tangan yang menyilang di dada. Tak ada satupun yang berani memuji kalau hari ini dia sedang sangat bahagia, bahkan ia sampai tak sabaran untuk melihat calon istrinya.
Haku, Yuki Haku-calon istri yang akan melaksanakan upacara sumpah setia bersamanya-wajah manis, rambut panjang, badannya yang proporsional, kulit bersih tak bernoda, juga sifat yang lemah lembut membuat Menma kalang kabut tak kepalang untuk cepat-cepat menjadikannya istri sah nya.
Cklek!
Pintu terbuka.
"Rupanya kau benar-benar tidak sabaran, ya?" Jiraiya masuk ke dalam ruangan dengan pakaian yang terlihat elegan di banding dengan pakaian kesehariannya.
"Yah…" Menma menghela nafas malas dan memutar matanya. "Kenapa aku harus menunggu selama lima jam untuk hal ini?"
Kemudian Menma mendengus, lalu berjalan keluar ruangan tata rias.
Sepeninggal Menma, Jiraiya menatap kosong kearah cermin yang besar tepat di hadapannya. Dan tanpa sadar muncul sebuah bayangan, sebuah siluet berwarna hitam yang selalu di kata-katakan oleh Tetua Katak. Sosok yang akan membawa sebuah perkara lebih sulit dari semua perkara di dunia ini.
'White'
.
.
.
.
.
Mungkin bagi orang lain, hari ini adalah hari berbahagianya. Tapi itu tidak, untuk gadis yang satu ini… Haku sebenarnya hanya ingin dirinya tidak di jodohkan seperti ini, ia ingin memilih siapa yang ingin dinikahinya. Lagipula dia sudah jatuh hati pada Uzumaki Naruto, laki-laki yang telah membuatnya berubah sampai saat ini.
Ketika Yondaime Hokage mendatanginya dan memintanya untuk bertunangan oleh Menma, ia ingin menolak… tapi ia tidak bisa mengatakan sesuatu untuk menyergahnya, hanya diam yang dianggap sebuah jawaban 'iya' bagi Kage termuda tersebut. Dan Haku hanya berharap ada seseorang yang muncul hari ini dan menyelamatkannya layaknya seorang ksatria, tapi sayangnya itu hanya sebuah harapan.
"Sayang… sekarang sudah waktunya" Haku kembali ke dunianya saat dirinya mendengar suara lembut dari calon Kaa-sannya. Haku segera bangun dari duduknya mendengar itu dan berjalan kearah wanita tersebut.
Shizune hanya bisa tersenyum sedih melihatnya, dia tahu kalau Haku tidak menginginkan perjodohan ini, tapi dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk hal tersebut. Karena yang meminta untuk menjodohkan dengan Haku adalah Menma sendiri, dan ia hanya bisa menuruti kemauan anak semata wayangnya.
"Maaf Haku-chan… aku tidak bisa membantumu" Shizune hanya bisa memeluk gadis tersebut. Setelahnya mereka berdua mulai berjalan untuk menuju ke tempat pernikahan dimana Menma sudah menunggu.
~•~
Haku sampai diruangan dimana acara pesta pernikahan akan berlangsung. Dia bisa melihat beberapa shinobi yang terkagum dan terpesona akan kecantikan dan keanggunan yang dipancarkannya, gaun dengan warna seputih salju dan beberapa ukiran bunga di pinggirnya.
Haku hanya bisa menghela nafas sebentar sebelum akhirnya mulai berjalan ke arah Menma yang sudah menunggunya sambil menyeringai. Sepertinya ini adalah akhir bagi dirinya, dia yakin dia tidak akan bisa menemukan kebahagiaan lagi setelah menikah dengan Menma.
Tepat saat Haku sudah setengah jalan menuju kearah Menma, di luar ruangan terjadi keributan. Sontak hal tersebut membuat semua shinobi yang di dalam ruangan tersebut mengalihkan perhatiannya menuju kearah luar pintu yang terbuka lebar. Dan benar saja ketika semua shinobi memfokuskan pandangannya untuk melihat apa yang terjadi, mereka tiba-tiba saja melihat sebuah gelombang pasir dengan tinggi belasan meter telah berlari menuju kearah tempat ini.
"Ada apa ini?!" Kiba dengan wajah marahnya mencoba untuk memegang sisi dinding untuk menahan getaran yang diakibatkan oleh jurus tersebut.
"Satu-satunya pengendali pasir yang bisa melakukan ini adalah…" Shikamaru mendongakkan kepalanya, nampaklah seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan para Rookie dengan rambut merah dan bola mata jade, para shinobi disana terlihat terkejut tidak terkecuali Yondaime dan istrinya. "…Sabaku no Gaara"
Pemuda tersebut terlihat memandang para shinobi di dalam ruangan tersebut dengan datar, dan jika dilihat dibelakang pemuda tersebut beberapa shinobi yang bertugas menjaga pintu masuk terlihat terkapar dengan beberapa luka benturan di sekujur tubuhnya. Pemuda tersebut kemudian turun dari gumpalan pasir terbangnya dan berjalan dengan pelan memasuki ruangan tersebut masih tetap dengan wajah datarnya, sesaat kemudian pemuda tersebut berhenti berjalan kemudian menatap kearah Menma.
"Aku disini ingin menantang Namikaze Menma untuk bertarung…" pemuda itu mengucapkan hal tersebut dengan nada tenang tapi tegas, Menma yang mendengar itu hanya mengangkat sebelah alisnya bingung. "…dan jika aku menang, pernikahan ini harus segera dibatalkan"
"Kenapa aku harus menyetujui tantangan dari monster sepertimu, hah?! Aku lebih kuat darimu, ingat itu!" Menma yang masih berdiri di tempatnya menjawab dengan nada angkuh miliknya.
Pemuda tersebut yang mendengar itu hanya menjulurkan tangannya kearah Menma dengan wajah datarnya, dan tiba-tiba saja gumpalan pasir menerjang kearah Menma dengan intensitas yang sangat besar.
Blar!
Sebuah ledakan terjadi ketika gumpalan pasir itu meledak tepat dimana Menma berdiri, tapi butuh beberapa detik untuk melihat pasir-pasir itu berjatuhan yang kini nampak sebuah armor tengah menghalangi serangan tersebut.
"Sasuke… Uchiha"
Sasuke tidak memberikan reaksi lebih untuk ucapan itu, hanya menyarungkan kembali pedang pendek miliknya. Dia menatap Gaara dengan dingin.
"Aku tahu alasan kenapa kau datang kemari… Sabaku no Gaara" dia bicara tanpa keraguan.
Mendengar respon bernada sangsi dari Sasuke itu, Gaara hanya balas menatapnya dengan satu alis terangkat. "Kau adalah sahabat dari Naruto. Teman semasa di akademi, tapi… " Tiba-tiba ekspresinya menggelap. "KENAPA KAU TIDAK MENCOBA UNTUK MEMBATALKAN PERNIKAHAN SAMPAH SEMACAM INI!"
Sasuke mengangguk paham. "Aku mengerti, tapi sebagai seorang Kapten ANBU aku tak bisa melakukan hal yang berlandaskan masalah pribadi. Dan juga, untuk Shinobi berpangkat Kage sepertimu, kau harus bisa menahan emosimu untuk memikirkan semua ini"
"Cih, kau tidak ada bedanya dengan sampah itu!" Gaara kembali menjulurkan tangannya kedepan, membuat pasir-pasir menyelimuti seluruh ruangan ini bahkan sampai menyelimuti area luar. Hanya satu kata yang terdengar berupa bisikan namun meluas sampai se antero ruangan. "Sabaku…Shoso!"
Duar!
Sebuah ledakan dengan intensitas yang luar biasa itu menghancurkan tempat pernikahan tersebut, pemakai jurus itu sendiri kini berdiri menjulang di hadapan para shinobi yang selamat dari serangan tersebut. Sorotan matanya yang tajam dan kosong tanpa menyimpan perasaan sama sekali tidak menunjukkan gentar walau lawan di hadapannya terbilang sangat banyak dan… kuat.
"Kazekage! Hentikan atau kau akan memicu perang saat ini!"
Tidak ada satupun orang yang mampu mengeluarkan suara. Mereka hanya sempat melihat selarik kilatan sinar kuning sebelum tubuh Gaara tiba-tiba saja terpental dengan kecepatan tinggi dan meremukkan dinding perumahan. Tapi Gaara tetap bangun dan mulai mengerahkan jurusnya…
"Sabaku Kyo…"
Minato yang awalnya ingin kembali menyerang harus dihentikan ketika mendengar bisikan dari mulut Kazekage di hadapannya, niat untuk menghentikan Gaara terpancar dari warna biru langit yang kini telah bercahaya.
"KYYAAA!"
Para pasang mata mengalihkan tatapannya pada tubuh Haku yang mulai diselimuti oleh pasir, pemandangan yang membuat mereka tertegun. Butuh waktu beberapa detik untuk Gaara mengangkat jutaan parikel pasir dengan intensitas banyak di udara dan membentuknya seperti ribuan tombak lancip.
"Rendan Suna Shigure"
Pria pirang itu menggeram garang seperti binatang buas sembari mengobarkan energi yang dia jadikan sebagai sumber tenaga untuk setidaknya menghancurkan ribuan tombak tersebut dalam satu kedipan mata, dan ketika sosok Minato kembali muncul dalam pandangan, Gaara telah terpental dan terkapar di tanah dengan luka di perutnya.
"Keparat! Apa maumu sialan!"
Minato melihat Gaara menegakkan posisi tanpa menyahut, matanya yang berwarna sebiru langit mengamati dengan tatapan membunuh ke arah Gaara yang menggigit jarinya. Sebuah perubahan tercipta dan tiba-tiba saja chakra merah yang tak ketahuan datangnya dari mana tercipta dan tiba-tiba saja Gaara telah sampai di hadapan Minato dan menghantamkan pukulan telak di pipi Minato, membuat pria pirang tersebut terpental.
Dengan wajah penuh akan niat membunuh, Gaara memutuskan untuk menyerang sang wanita yang kini tengah berada dalam gendongan Sasuke Uchiha. Terlihat jelas kalau wanita itu tengah menahan rasa sakit atas perbuatan yang telah ia lakukan, Gaara melesat dan untuk pertama kalinya mendesis. "MATI! MATI! MATI!"
Sasuke yang belum sempat selesai mengamati sekitarnya karena harus teralih pada sang mempelai wanita, dan saat ia mendongak, sosok Gaara telah berada di hadapannya dengan sebuah pukulan yang mengarah pada gadis di dalam gendongannya.
"Sial! Tidak sempat!"
"Menghindar, Sasuke!"
Ketika Gaara tengah menyeringai penuh kebuasan, dan siap untuk menghancurkan gadis itu dalam satu pukulan. Entah kenapa ia mendengar sebuah suara yang hanya berupa bisikan datar dan pelan, namun entah mengapa bisa terdengar di seantero wilayah ini.
"Cukup…"
Susunan kerangka pun bergerak membentuk sebuah perisai, membesar dari arah mana mata memandang, tercipta dari aura berwarna putih yang ada di sekeliling Sasuke. Minato, Shizune, Sasuke, dan para Rookie yang melihat itu melebar dan pupilnya mengalami dilatasi total saat tubuh Gaara berhenti bergerak dengan tangan yang di cengkeram oleh sebuah tangan dengan kulit putih.
"Cukup… kau membuatku tidak bisa pergi dengan tenang, Gaara"
Pupil mata Gaara bergetar, menatap kearah sosok dengan jubah panjang berwarna hitam dengan beberapa aksen corak api berwarna kuning yang menyebar dan kerah yang menutupi sebagian wajahnya. Sosok itu mulai berjalan maju dengan langkah-langkah yang terlihat santai namun pasti. "Tak perlu melakukan hal semacam ini, lebih baik kau hargai kehidupanmu. Melihatmu yang malah akan memicu perang, malah membuatku kecewa"
"…N-naruto…"
~•~
Naruto hanya tersenyum sambil mengangkat satu tangannya dan melambaikannya. "Kembalilah… untuk masalah perpecahan itu takkan terjadi. Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku, bertindak sejauh ini hanya untukku adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Arigato…"
Gaara hanya mampu membeku di tempatnya, ia melihat Naruto yang berjalan melewatinya dan terus menapak di antara pasir yang berkecipak, perhatian Gaara yang selama lima menit terakhir terus terfokus pada sang pemuda akhirnya teralih ketika sebuah sinar keemasan telah muncul di hadapannya dan melihat bahwa Minato telah membawa bola spiral yang memiliki kepadatan chakra sangat tinggi hingga membuat sebuah desingan telah diarahkan ke arah wajahnya.
"Rasen-" belum sempat kata itu terselesaikan, sebuah kilatan berwarna putih yang tak kalah cepat dengannya muncul dan membawa sebuah genggaman tangan kearah punggungnya.
BRAKH!
"Hokage-sama!" teriak para shinobi dengan tatapan khawatir ketika melihat Kage mereka telah menghantam permukaan tanah, membuat debu mengepul hingga menghalangi pandangan dalam beberapa saat. Namun tatapan itu bergeser menatap kearah pelaku yang berani melakukan hal seperti itu.
"Kalau kau ingin membunuh, silahkan bunuh aku. Tapi jangan kau coba-coba menyerang temanku…" Gaara sama sekali tak menyadari kapan Naruto telah bergerak, namun tiba-tiba saja laki-laki itu telah berdiri di hadapannya.
"Apa maksud dari semua ini, Naruto?!" Sasuke berseru dengan nada garang. "Kenapa… kau…!"
Naruto tidak menjawab, hanya menolehkan kepalanya kearah Sasuke yang tengah menatapnya dengan sharingan menyala. Dengan satu tatapan itu, Sasuke tersadar apa arti posisi dua teman di hadapannya.
"…aku tak peduli apa yang kulakukan adalah sebuah kesalahan, Gaara adalah temanku… Teman selalu melindungi satu sama lain," Naruto berucap dengan suara yang terdengar tak menyimpan emosi, di tatapnya sharingan itu dari balik mata Rinnegan miliknya. "Aku kembali hidup… karena ini adalah dramaku, dan akulah yang menentukan akhirnya."
Sasuke langsung terdiam menerima jawaban dari sahabatnya tersebut. Meskipun ia tidak terima apa yang dilakukan Naruto, tapi ia tidak ingin memperburuk kondisi hanya untuk berdebat dengan makhluk yang menyebalkan ini jika harus menghadapinya satu lawan satu. Karena hanya satu jawaban jika itu terjadi… yaitu babak belur.
"Hanya itu?" Minato bertanya dengan nada datarnya. Tatapan masih ke mata Naruto serasa mencari sesuatu yang berbeda dari apa yang dikatakan oleh pemuda ini. dan ia tidak menemukan apa-apa, tidak ada maksud lain yang tersembunyi. Cuman mata kusam yang hanya memiliki satu pengertian mengapa ia melakukan hal tadi.
"Maksudmu apa lagi?" Naruto memiringkan kepalanya dengan bingung. "Aku tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan, aku tidak peduli jika kalian marah akan hal ini. Tapi Gaara adalah temanku, ia bertindak atas ego yang ia miliki. Aku akan melindunginya dari orang yang berani menyerangnya"
Tiba-tiba sebuah aura berwarna putih telah menyelimuti tubuh Naruto, aura kekuatan yang mendominasi udara di sekelilingnya. Satu lirikan tajam diberikan kepada Minato, dengan sedikit dorongan… mungkin mereka akan menyerang satu sama lain.
…dan pembicaraan mereka harus terinterupsi oleh ribuan shinobi yang tiba-tiba saja mengelilingi tempat ini. Begitu juga radiasi kekuatan yang dipancarkan masing-masing shinobi tersebut.
"Dia…?"
"…Uzumaki…Naruto?!"
Ketegangan terjadi dalam waktu singkat, Naruto menangkap kaki yang menuju ke wajahnya. Memegang dengan erat untuk menahan serangan mendadak itu. Melirikkan matanya, Naruto ditemukan dengan wajah Gai.
"Siapa kau?!"
Naruto memejamkan kedua mata dengan erat, menghela nafas panjang lolos dari bibir guna meringankan beban yang dia pikul. Mengeratkan genggaman pada kaki Gai, shinobi yang selalu tersenyum layaknya mentari itu melompat mundur untuk menghindari sebuah terjangan benda tajam yang hampir memotong kakinya.
"Apa itu?" Mengalihkan pertanyaannya, Gai menatap tak percaya pada luka melintang yang tiba-tiba saja membekas di betisnya. Namun tak perlu menunggu waktu lagi, Gai melesat maju sembari meloloskan tendangannya kearah wajah Naruto. "Konoha Daisenkô"
Naruto memutar kakinya, menundukkan badannya sesaat. Tatapannya mengikuti semua gerakan yang dilakukan oleh lawan di depannya. Tendangan melesat menciptakan hembusan angin yang melewati kepalanya, ia kemudian melompat sesaat dan melakukan gerakan memutar dengan tumit sebagai penumpu.
Dua tangan menahan tendangan tekanan itu, menyebabkan Gai terdorong sejauh beberapa meter, pemuda berambut perak itu kemudian berlari dengan kecepatan tinggi dan melakukan tendangan ke dada lawannya, lalu mendarat dengan sempurna di jarak lima meter.
Menarik nafas yang panjang…
Kedua shinobi itu menghilang dalam sekejap mata, menyisakan suara benturan satu sama lain yang berdengung keras di area terbuka tersebut. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Jual beli serangan berlangsung cukup lama karena kedua shinobi itu melakukan penyerangan dan pertahanan secara bersamaan.
BRAKH!
Maito Gai jatuh tersungkur ketika mendapati sebuah bogeman mentah di perut, tak hanya itu luka lebam sudah terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Tapi dengan cepat ia berdiri, menghiraukan rasa sakit yang ia terima dan hanya tersenyum lebar sambil mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. "Dia memang Uzumaki Naruto, bukan sebuah ilusi ataupun boneka"
Pemuda bermarga Uzumaki itu menarik nafas dalam dang mengeluarkannya secara perlahan. "Maaf, aku terbawa emosi."
"Tak perlu, lagipula ini hanya untuk mempercayai muridku sendiri…"
Naruto membalikkan badannya, berjalan keluar. Namun sebuah pernyataan membuatnya terhenti sesaat.
"KAU! KENAPA KAU ADA DISINI, BRENGSEK!" Suara keras dan serius dari Menma langsung memasuki telinga Naruto, ketika pemuda yang akan melangsungkan pernikahan itu melihat siapa yang berhasil menghentikan kekacauan ini.
"Menma, tenangkan dirimu," Shizune menyambung dengan nada menenangkan, meskipun ia juga cukup terkejut dengan kedatangan sosok yang sudah dianggap meninggal tersebut. "Kau tidak boleh terlalu ambil emosi. Mungkin ayahmu bisa mengalahkan Naruto-kun, tapi kalau kamu mungkin tidak."
Sedangkan Putra Uzukage yang dikatakan hanya menarik nafasnya dengan dalam. "Aku tak menyangkal pendapatmu tentangku, Shizune-san. Mungkin saja Yondaime mampu mengalahkanku, namun hanya dengan persentase terkecil yakni 40%. Tapi kalau Menma yang melawanku, persentase akan jatuh hingga mendekati nol."
"Apa katamu?!" Menma berteriak tidak terima. "Kita bisa membuktikannya sekarang, brengsek!"
Namun suara itu hanya dia anggap angin yang berhembus, Naruto sudah melangkah menyusuri jalan yang akan membawanya menuju Lembah Kematian. Gaara mengekor di belakangnya tanpa hambatan ketika para Shinobi memilih untuk membuka jalan untuk mereka, karena mereka tahu kalau sosok yang ada di hadapannya adalah yang berhasil mengusir Akatsuki Baru dari Konoha.
Gaara melangkah dalam sunyi, mengikuti seorang sosok yang berjalan di depannya dengan langkah-langkah tanpa keraguan. Orang itu, orang yang ia kenal sangat baik itu, mengenakan celana hitam panjang, jubah hitam berkerah tinggi yang bercorak api berwarna kuning pada pinggirannya. Namun yang paling mencolok dari penampilan pemuda itu adalah iris mata yang mencerminkan kekuasannya, Rinnegan.
Diskusi singkat yang mereka lakukan ketika berada di pesta itu membuat Gaara tahu bahwa jalan setapak yang mereka jalani adalah satu-satunya jalan untuk menuju Lembah Kematian. Gaara tidak tahu alasan apa yang membuat Naruto menuju ke tempat ini, jika memang ingin bertarung dengan Menma kenapa tidak dari tadi? Bukankah Naruto jauh lebih kuat daripada Menma? Bisa saja sahabatnya ini menghabisi Menma dalam kurun waktu 15 menit.
Perjalanan mereka terasa singkat, dan sekarang lambat laun mereka sudah hampir mencapai akhir jalan. Berbagai pikiran berseliweran dalam kepala Gaara ketika menyadari apa yang di pikirkan Naruto hingga datang ke tempat ini.
Hampir 15 menit kemudian, setelah Naruto tiba di Lembah Kematian. Naruto tak membuang waktu dan segera duduk dengan satu kaki terangkat, di tangan kanannya sudah terdapat Shakujo sementara tangan kirinya sibuk merapikan rambutnya yang meliuk riang di terpa angin.
Tapi belum sempat ahli waris Klan Uzumaki itu merenggangkan ototnya dengan tenang, sebuah kilatan cahaya berwarna kuning yang menjadi penanda sihir teleportasi telah muncul.
Dan ratusan shinobi sudah berdiri di atas patung Hashirama Senju dengan ekspresi yang beragam, beberapa di antara mereka yang memang sudah mengenal betul tentang Naruto hanya mampu terdiam. Tak tahu harus memberikan reaksi apa ketika mengetahui sosok yang amat mereka kagumi itu masihlah hidup dan kini berada di hadapan mereka.
Naruto meluruskan matanya ke depan. Menatap dengan serius ratusan musuh yang merupakan Kelas A dalam sistem Ninja. Memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan sama sekali, kecuali sosok yang bernama Menma tersebut. Naruto tidak terlalu peduli dengan Menma yang mengkhianatinya itu, bukan karena kemampuannya yang lemah tetapi tindakannya yang pengecut ketika ia sedang tidak ada. Meskipun begitu, Naruto tetap melepaskan hawa intimidasi untuk membuat mereka sadar kalau ini bukanlah pertarungan yang main-main.
"Mokuton : Dai Jerun!"
Dengan teriakan dari Menma, Naruto kemudian berdiri sambil mengayunkan Shakujo, menghantamkan puluhan kayu yang datang dari tangan Menma. Membelah setengah bagian kayu tersebut hingga menyisakan potongan yang dalam. Sebelum akhirnya ia kembali ke tempatnya semula.
"Naruto! Kau ingin menjadi Nuke-nin Konoha?!" Dengan suara keras, Kakashi memerintahkan Naruto untuk menyerah. Disaat yang bersamaan membuka penutup matanya, membawa Sharingan untuk melihat sekelilingnya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?-maksudku kenapa kau ingin sekali aku mengalah dengan desa sialan seperti Konoha? Dan tentu saja aku takkan menyerah, kau tahu?" Senyuman Naruto kini telah mengembang dan memiliki makna lain, membuat orang lain gemetaran sendiri.
"Jadi kau benar-benar ingin memicu perang dengan Konoha, Uzumaki Naruto?" seru Minato dengan wajah memerah karena marah.
Bahasa tubuh Naruto tetap kokoh ketika memberi respon. "Kalau itu yang aku mau, kenapa tidak?"
"Aku tak menyangka akan mendapati sifatmu yang satu ini. Kau memang bukanlah ninja ingusan dan selamat dari Tragedi, tetapi kau adalah ninja yang penuh akan pengalaman. Lagipula kau tidak berpikir aku mau diam berlama-lama tanpa membalas pukulanmu kan, Naruto?" Di balik jubah putih dengan api merah miliknya, sebuah senyuman sinis terbentuk di wajah Kage yang dipanggil Naruto dengan nama Yondaime.
"Itu terserah kau," sahut Naruto tandas sebelum mengalihkan matanya ke sosok yang berdiri di sebelah Sasuke. "Jadi, kamu baik-baik saja. Hime?"
Kushina tak memberikan respon apapun ketika tubuhnya yang tengah di rundung ketegangan, air mata sudah mengalir dari pelupuk matanya sedari tadi. Kushina sudah siap membuka mulutnya ketika sebuah tangan kekar tiba-tiba merangkul bahunya.
"Lepaskan! Aku tak butuh belas kasihan seperti itu!" teriak Kushina mengibaskan tangan Sasuke yang berusaha menenangkannya. Semua orang di tempat itu tertegun mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kushina. Kesunyian sejenak yang mengisi udara segera berakhir, digantikan oleh suara lompatan kaki Kushina yang menuju kearah Naruto.
Dia sudah hampir mencapai tempat Naruto berada ketika tersisa jarak sejauh empat meter yang memisahkannya. Naruto menatap ke dalam iris violet itu sembari merentangkan kedua tangannya. Memeluk dan merengkuhnya dengan erat. Dan andaikan waktu saja dapat melihat, waktu pasti akan berhenti hanya untuk membiarkan kedua sepasang kekasih itu merasakan kerinduan yang telah lama hilang.
"Aku disini… Hime." Suara lembut itu menggelitik telinga Kushina, memaksa gadis itu menengadah untuk menatap wajah Naruto yang tersenyum, tersenyum untuknya dan akan terus tersenyum untuknya dan juga senyuman yang selama ini membuatnya tegar dengan apa yang diberikannya.
Yang bisa Kushina lakukan saat ini, hanya menyandarkan kepalanya di dada bidang Naruto demi melepas bebannya, dan menangis dalam lirih di pelukan Naruto yang juga cuma diam, karena dia tahu, kalau saat ini Kushina butuh menangis. Naruto tahu, gadis di dekapannya saat ini selalu merasakan kesedihan, dan entah sejak kapan Naruto berjanji untuk selalu menjahanya.
"Menangislah… karena mungkin itulah yang terbaik untukmu. Aku akan selalu ada di dekatmu, meskipun raga ini telah pergi sekalipun, aku tetap ada di sisimu."
…Entah kenapa, mereka berdua seperti menguasai suasana dalam waktu yang cukup lama. Sampai Naruto mendengar sebuah dengkuran halus yang bergetar melalui dadanya. Perlahan Naruto merenggangkan pelukannya, di tatapnya kelopak mata yang tertutup dan nampak sembab akibat terlalu banyak menangis tersebut. Ya, Naruto tahu kalau inilah yang terbaik bagi Kushina… tidak tapi bagi mereka.
Menutup matanya dalam waktu beberapa saat disertai hembusan napas yang keluar pelan dari mulutnya, Naruto pun membuka matanya. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke arah Minato tengah berdiri di atas patung Hashirama Senju bersama dengan seratus shinobi sedang menanti pergerakan dirinya.
Dan yang ia rasakan, belasan chakra tiba-tiba muncul ketika ia melepas hawa keberadaannya yang selalu ia tekan tersebut. Naruto langsung mengangkat tangan kanannya begitu telah merasakan kalau belasan chakra tersebut telah berada di belakang Naruto yang berdiri di sebelah Gaara.
"Jangan… menyerang." Ucap Naruto, mendapat perhatian dari orang-orang dibelakangnya yang hanya mengangkat satu alisnya dan Gaara yang ekspresinya menjadi terkejut.
"Aku sudah menduga, kau takkan mati semudah itu."
Mendengar suara yang ditujukan kepadanya, Naruto hanya bisa terkekeh pelan tanpa mengalihkan tatapannya dari Minato yang tetap memasang pose siaga. "Begitulah, Hidan."
Bersamaan dengan munculnya Akatsuki yang berdiri di belakang Naruto, shinobi Konoha pun langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing dan bersiap untuk menyerang. Melihat hal itu, Naruto pun mengangkat dan memberikan tubuh Kushina kepada Sachi-nee sebelum ia memandang datar kearah Minato tanpa bersuara sembari memutar Shakujo di tangan kanannya.
"Kalau begini jadinya, bukankah lebih baik aku membiarkan para Kage mati pada waktu itu?" ujar Naruto yang mengambil langkah maju dan berdiri di atas segel tangan patung Madara.
"Cih, sombong sekali kau!" Menma tanpa aba-aba pun melompat maju, Naruto tiba-tiba saja secara insting melompat untuk menyaksikan sebuah kayu berukuran segenggaman tangan melesat dari bawah tanah menuju arah Naruto. "Matilah-" belum sempat menyelesaikan teriakannya, Menma tiba-tiba saja menarik kembali jurusnya hanya untuk menyaksikan sebuah sabit dengan tiga bilah tajam menancap dan berbenturan dengan jurus miliknya.
"Hidan…" geram Menma saat mengetahui bahwa Hidan adalah orang yang mencegah jurusnya untuk mengenai Naruto.
Tanpa menunjukkan reaksi apapun atas kemarahan Menma pada anggotanya, Naruto menatap lurus-lurus Menma dengan tangan bersidekap. Hanya mengangkat satu jarinya, dengan segera chakra hitam kelam meledak dari tubuh Naruto, membanjiri daerah sekitarnya dan membawa beberapa Shinobi jatuh tersungkur dengan ekspresi shock dan ketakutan yang sangat jarang di tampakkannya.
Sedetik kemudian, Naruto kembali menarik seluruh chakranya ke dalam tubuhnya sebelum akhirnya ia mengangkat sebelah tangannya dan menancapkan Shakujo di atas patung.
"Kalau kau tak mampu menahan betapa pedihnya Chakra kelam itu, bagaimana bisa kau menakhlukkan Kyuubi di dalam tubuhmu?" Ujar Naruto sambil melihat sosok Menma yang jatuh tersungkur dan diam terkapar sambil bergetar ketakutan.
Mengabaikan pertanyaan yang menusuk hatinya, Menma terus mencoba untuk menenangkan tubuhnya dan mencoba untuk bangkit. Beberapa detik berlalu sebelum Menma tiba-tiba saja menjerit kesakitan dan jatuh terduduk dengan memegangi perutnya.
"Arrgghh!"
"Menma!" Minato dengan cepat langsung membungkuk dan membuka jas putih Menma untuk melihat bahwa segel tersebut masihlah sedia kala. Namun mata Minato dibuat melebar ketika segel itu tiba-tiba saja berubah menjadi warna merah dan beberapa beberapa ukiran tiba-tiba saja muncul di sekitar segel. Satu detik kemudian, tiba-tiba saja tubuh Menma diselimuti oleh chakra merah yang perlahan membentuk lima buah ekor dan telinga sebelum akhirnya membentuk sebuah kerangka tulang pada bagian kaki, punggung dan kepala.
"E-ekor lima langsung?!"
Para ANBU dan Hokage, melihat kejadian ini langsung membawa tubuh Menma dan menghilang dari balik kepulan asap. Beberapa shinobi pun memasang segel pengaman untuk mencegah kalau musuh akan memanfaatkan situasi seperti ini untuk menghancurkan mereka.
Masih dalam pose yang sama seperti sebelumnya. Naruto hanya memalingkan wajahnya untuk melihat langsung ke arah Tsunade muda dengan pandangan masam. "Bukankah dunia shinobi itu rumit? Ketika kita memberikan ikan, maka kau harus memberikan air. Tapi Konoha malah memberikanku tulangnya…"
"Aku mengerti apa maksudmu, dan kami pun sudah tahu siapakah yang salah dan siapakah yang benar disini."
Melihat ke sekitarnya, Naruto menyadari bahwa saat ini hanya tersisa lima puluh shinobi yang berdiri di belakang Tsunade. "Jika di lihat dari sudut pandang orang-orang Konoha, maka akulah yang paling salah di sini. Namun dari kebenaran dan kenyataan yang kalian peroleh, mungkin akulah yang benar."
"Lantas, apa yang ingin kau lakukan saat ini?"
"Sebenarnya aku sudah memikirkan sesuatu," seserius apapun Tsunade saat ia mendengar kalimat itu, tetap saja sang Sannin berambut kuning itu merasa harus menahan hasrat untuk tersenyum selebar-lebarnya karena mengetahui bahwa pahlawan yang menyelamatkannya itu masihlah hidup. "Aku ingin kembali ke Uzushiogakure dan membangun ketentraman disana…"
Sasuke menatap sahabatnya yang masih diam di tempatnya untuk beberapa saat, sebelum seluruh tubuhnya mengeras dan ia mulai melangkah. "Kau… apakah kau lupa kalau kau akan memberikan kebenarannya kepadaku?! Dan kini kau mau pergi begitu saja?"
"Aku sudah dari dulu sekali mencoba untuk memberitahumu, tapi yang namanya 'mencari' takkan ada jalan pintasnya. Kau pasti harus berusaha untuk menemukannya, begitu pula ketika kau menyembunyikannya maka kau harus mengorbankan nyawamu agar itu tetap menjadi rahasia," Naruto mendengus halus saat melihat mata Sasuke yang sedikit melebar. "Sudah berapa lama sejak saat kau bersamaku? Apakah kau tidak menyadari betapa sulitnya aku untuk mencari keberadaan keluargaku dan mencari kebenarannya?"
Sasuke baru saja ingin menyahut namun harus menelannya kembali ketika Naruto lebih dahulu menyahut. "Di dunia shinobi tidak ada jalan pintas, itulah yang kami lakukan. Seperti hal nya aku dan Itachi… aku mencoba untuk mencari kebenaran dan Itachi mencoba untuk mempertahankan rahasia dari kebenaran itu sendiri."
Hidan mendekatinya dari arah kiri. "Kuakui aku sangsi saat mendengar cerita mencari kebenaranmu, tapi bisakah kita pergi untuk sejenak? Kupikir tempat ini sudah tidak nyaman."
"Baiklah, kumpulkan beberapa orang yang ingin ikut bersamaku… kita akan ke Uzushiogakure." Ujar Naruto sambil memutar tubuhnya. "Kalau bisa, utamakan mereka yang begitu percaya kepadaku. Aku tidak membutuhkan mereka yang cuma ingin memanfaatkan keadaan ini."
"Tidak perlu repot-repot mencari, Naruto-sama. Kami akan selalu setia kepada anda!"
Mendapat balasan seperti itu dari anggota Klan Fuma, Naruto hanya bisa tersenyum tipis. Dia kemudian menatap kearah Hidan dengan satu anggukan kecil. "Hidan, tetap pada tugasmu. Sasori dan Itachi akan membawa peralatan kita yang berada di Konoha, sedangkan aku dan sisanya akan mensterilkan perjalanan. Sebelumnya bawalah Trisula ini" Menyodorkan trisula yang biasa ia bawa. "Kalau kalian sudah selesai, maka goyangkanlah dan aku akan datang."
"Ah," Naruto menepuk dahinya. "Anggota Klan Fuma, sebaiknya kalian tidak perlu membawa barang-barang kalian. Kita akan memulai semuanya dari awal ketika berada di Uzushiogakure."
"Naruto-kun, apakah kita benar-benar akan berperang dengan Konoha?" tanya Sera khawatir dengan kondisi anaknya nanti.
Melihat raut khawatir itu, mau tak mau Naruto pun mengulas senyuman. "Kaa-chan tenang saja, Naru akan melakukan semuanya dengan baik kok," Naruto meraih tangan lembut itu dan mengangkatnya. "Naru tidak akan melakukan hal yang sama pada Uzushio untuk yang kedua kalinya, jadi Kaa-chan tidak perlu khawatir."
Berdiri dengan cepat dan berbalik menghadap Akatsuki yang kini melihatnya dengan pandangan kagum, Naruto tanpa basa-basi memulai tujuan utamanya selama ini.
"Dalam jeda beberapa bulan ini, mengingat kita akan menjadi Nuke-nin setelah apa yang kulakukan pada Yondaime, aku akan melatih kalian (Klan Fuuma) dalam beberapa aspek yang kuketahui ketika telah sampai di Uzushiogakure. Mungkin disana sedang dijaga oleh beberapa Shinobi dari desa lain, tapi kalian tak perlu khawatir… aku akan melindungi kalian." Membuat satu segel tangan, sebuah letusan asap muncul di samping Naruto dan menampakkan bunshin Naruto yang membawa Trisula di tangan kanannya. "Bunshinku akan berjaga di sini, anggap saja sebagai pusat pertemuan kalian."
"Ha'i" seru Itachi, Hidan dan Sasori. Dengan begitu mereka menghilang dalam kepulan asap, dan dengan itu Naruto bersama dengan lainnya berlari menuju sisi lain jalan yang menuju ke arah Uzushiogakure.
"Kita akan mulai semuanya dari awal," pernyataan bagaikan sebuah deklarasi itu bergema dalam sebuah air terjun, dan menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya. "Kenapa tidak kita coba cari jawabannya, Kumo-Kiri-Iwa-Konoha?!"
To be Continued…
A/N: Cuma ingin memberikan informasi, Gaara akan menjadi aliansi Naruto nantinya. Dia tidak ikut ke Uzushiogakure melainkan kembali ke desanya, Sunagakure. Untuk kedepannya mungkin akan menceritakan beberapa konflik negara atau pertempuran dengan Akatsuki yang baru. Jika kalian bertanya apakah sifat Naruto menjadi Evil atau Dark? Jawabannya adalah dark, karena Naruto itu dark (gelap) bukan evil (jahat)… Dan kenapa ia bersikap seperti itu? Maka readers ingatlah kembali bahwa siapa sih yang tidak marah kalau desa kelahirannya dihancurin?
• Ada yang mau usul nama baru dari Akatsuki yang lama?
Terimakasih dan Salam Ez-Life
"Hidup itu mudah, jangan dibuat sulit"
Terimakasih sebanyak-banyaknya sudah membaca!
Draco, out!
