Mei : o.o/ halo... akhirnya saya bisa update T^T di hari Idul Adha ini saya berhasil meng-update ff saya yang udah berapa bulan ga di-update-update... ini semua karena tugas sekolah saya yang ga ada hentinya! (/OAO)/
Mungkin karena saya penjurusannya di awal semester 2 ya...
Karena itu mohon maafkan saya karena saya telat update ya TT^TT *bow*
Yaudah, daripada banyak bacot langsung baca aja ya! XD
Love Magic!
Present by IchigoMei-Chan
Disclaimer : Vocaloid bukan milik saya, tapi fic ini beserta OC milik saya.
Rate : T
Genre : Fantasy, Drama, Romance, Humor/Comedy
Caution : AU, OC(s)
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 21 : Behind the Past
Previous Chapter :
"Aku menunggumu masuk terlebih dahulu, sudah aku duga kalau kau akan datang kesini dan membuka pintunya, hahaha…"-Opalnaria
"Bo-Bohong…"-Amoretta
Rasa tidak percaya dan takut berkumpul dan bercampur aduk menjadi satu dalam diri Amoretta. Bagaimana hal sepele seperti itu tak terpikirkan olehnya?!
Dan kini yang ada di pikiran Amoretta adalah betapa bodoh dan cerobohnya dirinya. Sambil menggigit bibir bawahnya, ditahannya perasaan takut itu. Siapa yang menebar maka dia yang menuai… Dia harus bertanggung jawab, dengan menjaga Philosopher Stone dengan tangannya sendiri.
Kedamaian dunia sihir berada di tangannya sekarang.
Segenap keberanian pun dikumpulkannya, tanpa sadar kini dia sudah berdiri di depan Philosopher Stone, untuk melindunginya.
"Hm, apa yang kau lakukan disitu bocah? Menyingkirlah dan aku akan melepaskanmu," ucap sang sensei dengan senyum liciknya.
"Urusai! Sampai kapan pun tidak akan kubiarkan Philosopher Stone diambil oleh orang jahat sepertimu!" bentak Amoretta pada Opalnaria yang kini berdiri hanya beberapa meter di depannya.
"Omoshiroi na…" sebuah suara manis pun terdengar, semua yang ada diruangan pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis seumuran Amoretta sedang tersenyum manis.
"A-Anata wa…" suara yang terlontar dari mulut Amoretta terhenti karena tak sanggup lagi untuk meneruskannya. Gadis itu, yang mungkin sekilas akan terhilat seperti dirinya, namun sangat berbeda, sedang berdiri dan tersenyum dengan manisnya.
"Lama tidak jumpa, nee-chan," ucap gadis itu. Jantungnya seakan berhenti, mendengar kata 'nee-chan' dari gadis itu sudah lama sekali rasanya ia ta mendengarnya.
"…Tahlea… sejak kapan kau…" tanpa disadarinya, butiran-butiran bening mengalir dari pelupuk matanya. Rindu, itu yang dirasakannya.
"Naze? Naze anata naiteru no?" suara mungil gadis yang bernama Tahlea itu pun kembali muncul, dan sebuah senyuman terukir di wajahnya. Tidak, bukan sebuah senyuman manis, melainkan sebuah senyuman jahat nan licik.
Tidak, itu bukan Tahlea yang ia kenal. Tahlea yang kini berhadapan dengannya adalah… orang lain!
Tersadar dari lamunanya, Amoretta pun menjernihkan kembali pikirannya dan berusaha untuk tenang.
"Siapa kau sebenarnya?" Pernyataan itu pun terlontar dari mulut Amoretta, yang disertai dengan tatapan tajam kepada Tahlea.
Senyuman licik nan mengerikan itu pun kembali terukir dari wajah Tahlea. Seakan ada aura mencekam yang begitu kuat muncul dari dalam dirinya, ruangan itu kini diselimuti dengan aura yang begitu pekat.
"Ah~ kau menyadarinya ya? Kalau aku bukanlah gadis bodoh itu, kau memang pintar dear…" ucap gadis itu (Tahlea).
"Kau… Lu jei kan?" Tanya Amoretta lagi, dan kini tatapan matanya semakin sinis pada gadis itu.
"Hm~ Baru menyadarinya?"
"Cih, aku tertipu penampilanmu…" Decak Amoretta. "Sebagai alter kau memang licik," tambahnya.
"Hmm… bagaimana ya? Mungkin iya mungkin tidak," balasnya dengan logat seorang gadis kecil.
"Berhenti menggunakan gaya adikku, sama sekali tidak cocok untukmu yang sudah berumur ratusan tahun," ucap Amoretta.
"Ha? Padahal kukira kau akan menyukainya dear, ah sudahlah… Opalnaria-san, kau tau tugasmu…" balas gadis itu (Tahlea) sambil tersenyum manis namun terkesan licik.
"Baiklah nona," jawan Opalnaria yang sedari tadi hanya diam. Amoretta yang mendengar itu pun mulai bersiaga, pertarungan ini akan lebih sulit dari yang biasa dihadapinya.
Dikeluarkannya tongkat sihirnya yang sedari tadi disimpannya di balik lengan bajunya. Ujung tongkat itu pun mulai bercahaya dengan warna merah muda.
Sementara Tahlea a.k.a Lu jei, hanya melihat dari kejauhan dengan seringai liciknya. Lemah? Tidak, Lu jei tidak lemah. Kenapa tidak dia saja yang menyerang Amoretta? Itu akan membuang energi, begitu yang dipikirkannya.
.
.
.
Yang dihadapanku kini adalah musuhku, tidak peduli kalau dia adalah guruku sendiri. Ada beberapa alasan kenapa aku melakukan ini.
Yang pertama, aku adalah putri dari seorang Legendary Wizard, otomatis aku harus melindungi dunia sihir, sama seperti ayahku.
Yang kedua, aku benci wanita itu. Yap, Opalnaria. Kenapa? Well, kalau kau diajar oleh seorang guru yang bahkan tidak pernah tersenyum sekalipun siapa yang tidak kesal?
Yang ketiga, aku melakukan ini demi Tahlea. Bukan, bukan Tahlea yang sekarang ini dikendalikan oleh Lu jei. Tapi Tahlea yang dulu, karena kecerobohan dan kelalaianku, kini tubuh adikku dikendalikan olehnya. Kesal, sedih, kecewa, dan perasaan bersalah lainnya selalu menghantuiku sejak tragedi 2 tahun yang lalu itu.
Ah, sudahlah, kalau aku memikirkannya bisa-bisa aku yang jenius ini dikalahkan oleh wanita penghianat ini lagi.
Sombong? Tidak juga, kenyataannya memang begitu. Aku menguasai 5 jenis rune sihir sekaligus di umurku yang masih remaja ini, bagi orang biasa mungkin memerlukan waktu sampai umur mereka mencapai 25 tahun, tapi tidak untukku, hohoho! Ok, lupakan yang barusan.
"Menyingkirlah sayang, dan kau tidak akan aku lukai…" Suara sang nenek sihir itu pun berhasil memecah keheningan di ruangan ini.
"Hmp, aku bukan gadis kecil yang manja, sensei!" Jawabku dengan memberi penekanan pada sensei, heh, dia kira aku ini penakut apa? Dia salah besar kalau beranggapan seperti itu.
"Heh, terlalu percaya diri…"
"Glamour! Open Gate!" seruku, dan seketika itu juga lingkaran rune berwarna hijau muncul, menampakkan ukiran-ukirannya yang berputar mengelilingi rune.
Akan kubuktikan kalau aku bukan anak kecil!
.
.
"Itu adalah saat…aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku…"
.
.
Tiba-tiba, sekilas matanya berubah warna menjadi merah. Seperti melihat cahaya kilat yang terang. Kedua bola matanya pun membulat dengan sempurna.
Tes…
"Ti-Tidak…." Air mata pun menetes perlahan dari kedua pelupuk matanya. Seakan mengingat masa lalu itu adalah hal yang paling menyedihkan baginya saat ini. Dan dia menangis…Amoretta…
"He-Hei! Kenapa? Ada apa?!" tanya Bartido penuh kecemasan. Perlahan diangkatnya tangan kanannya, lalu dihapusnya air mata yang mengalir dari pipi Amoretta dengan ibu jarinya.
"A-Aku…. Mengingat saat-saat itu…aku… Kumohon jangan pergi…" ucap Amoretta dengan suara yang lirih sambil menggenggam ujung bajunya sendiri.
"Bodoh…" Sebuah dekapan hangat penuh arti pun mulai menyelimuti.
"E-eh?!" sebuah suara pun terucap dari mulutnya. Rasa hangat pun seolah menyebar ke seluruh tubuhnya. Terasa nyaman dan menenangkan.
Ini… Pelukan ini… Sora-kun... Aku merindukanmu…
~Sementara itu~
Sepasang orang itu masih tetap duduk diam di kursi meja makan. Keduanya sama-sama menundukkan wajah, menyembunyikan semburat merah yang mulai menyebar ke seluruh permukaan wajah mereka.
Atmosfer terasa lebih panas dari sebelumnya. Padahal matahari belum bersinar begitu terang dan saat itu angin berhembus pelan.
"Ne…Rin…" Suara Len pun akhirnya memecahkan keheningan yang ada. Rin pun mengangkat wajahnya pelan dan menunjukkan semburat merah, sama seperti Len.
"Na-nani…Len…-kun?" Tanya Rin dengan gugup. Kedua matanya berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Len, meskipun sedikit.
"Besok….kita masih libur kan…. Jadi….aku….um…." Ucap Len dengan terputus-putus, wajahnya terasa makin panas.
'Ayolah Len… ini kesempatan emasmu!' teriaknya dalam hati.
"Iya?" Tanya Rin. Nada bicaranya seolah menunjukkan bahwa ia ingin mendengar kata-kata Len berikutnya.
'Len… apa yang ingin dia katakan? Apa mungkin…. Ti-tidak mungkin kan?!'
'Deg, deg deg…'
Bunyi detak jantung mereka terdengar keras dan berdetak bersamaan. Menunjukkan kalau mereka sama-sama gugup dan diliputi rasa tak karuan yang sama.
"Aku ingin….. m-m-me-menggajakmu….. k-ke….. Taman Bermain…..besok….." Ucap Len lagi dengan terputus-putus. Wajahnya kini sepenuhnya berwarna merah seperti tomat. Kedua matanya pun menutup dengan paksa dan menunduk seolah ingin menyembunyikan semburat merah itu.
"…"
"…"
"…"
"…"
"….Apa?" Tanya Rin dengan wajah yang terkesan tak percaya. "Kau bilang apa tadi Len-kun?" Diulanginya lagi pertanyaannya.
"Aku…. Um…." Ucap Len dengan suara pelan. "Apa? Aku apa Len-kun?" Tanya Rin lagi dengan pandangan yang tak terlepas dari wajah Len.
'Ukh… aku malu!' Teriak Len lagi dalam hatinya.
'Tolong katakan yang tadi itu sungguhan! Kami-sama onegaii!' Batin Rin pun ikut berteriak.
"Aku…. AKU MENGAJAKMU UNTUK PERGI KE TAMAN BERMAIN BESOK!" Ucap Len yang kedengaran seperti berteriak, sambil berdiri dan menghentakkan kedua tangannya di atas meja.
Rin yang mendengarnya hanya bisa cengo. Kedua matanya memandangi wajah Len yang sudah merah sepenuhnya dengan tatapan tak percaya dan kaget.
Len yang baru menyadari bahwa ia baru saja berteriak langsung duduk dan menundukkan kepalanya dengan wajah yang semakin merah dan panas. "Jadi… kau mau….Rin?"
Tersadar dari lamunannya karena pertanyaan Len, wajah Rin pun kembali memerah. Ia pun mengangguk pelan dan tersenyum. "Iya! Aku mau!" Ucapnya dengan lantang.
Dan tanpa sadar… mereka berdua tersenyum bersama.
.
.
.
Namun siapa yang tahu, pada saat itu ada seekor burung hantu yang seputih salju yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Dan begitu percakapan antara Rin dan Len selesai, burung hantu itu terbang dan meninggalkan mansion itu.
Terbang menuju dimensi yang lain, lalu hinggap di sebuah cermin raksasa. Dan dihadapan cermin itu, berdiri seorang gadis yang sedang memandangi bayangannya yang terpantul dicermin itu.
"Arigatou, Louise-kun… kau membawakan sebuah berita yang sangat menarik sekali…. Hm… Kencan ya?" ucap gadis itu sambil tersenyum licik.
.
.
.
~To be Continued~
Mei : yup, cuman segitu buat chapter 21 kali ini...
Rin : aku...aku...aku...ke-kencan...kencan... *pingsan*
Mei : *sweatdrop* yosh minna-san... jangan lupa buat reviewnya ya ^^v satu review berearti banyak buat saya... Jadi silent reader setia sayapun ga apa-apa juga sih XD
Yosh, sampai jumpa di chapter berikutnya! ^o^/
