Miku tersenyum lebar saat mengamati kepergian motor sport putih itu dari depan rumahnya. Sang pengendara yang sekarang sudah menyatakan segala kebenaran sempat tersenyum padanya sebelum dia pergi menuju rumahnya sendiri. Gadis itu merasa senang, sungguh. Ada rasa hangat di hatinya ketika Len berada di sekitarnya. Ada debaran halus yang terdengar di hatinya ketika Len bicara dengannya. Dan mendadak segalanya terasa membahagiakan.
Dia ingin tersenyum tanpa sadar ketika mengingat semua kejadian yang dia lalui bersama Len. Sejak dulu hingga sekarang, dia memang tidak pernah memahami setiap tindakan pemuda itu. Terkadang, dia terlihat baik, namun tingkah menyebalkan sama sekali tidak pernah hilang, selalu melingkupinya, menyamarkan segala tindakan baiknya.
Ada rasa malu yang terselip di benak Miku ketika dia mengingat seluruh tindakannya terhadap Len. Dia selalu membuat pemuda itu mengerutkan dahinya, membuat pemuda itu merasa sebal setengah mati.
Ada rasa haru yang terasa di diri Miku ketika dia menyadari bahwa Len tidak pernah meninggalkannya. Meskipun Miku membentaknya, meskipun Miku mencacinya, pemuda itu berada di sampingnya (dengan wajah kesal tentu saja) dan semua terasa indah.
Miku kembali tersenyum. Len memang selalu memberi warna-warni di hidupnya—yah, walaupun terkadang hanya terlihat warna merah amarah sebenarnya—tapi toh tetap saja itu merupakan warna.
Namun, lagi-lagi Miku tersadar bahwa warna-warni hidupnya semata-mata bukan berasal dari Len. Dia tidak pernah menyukai orang sebelumnya—salahkan Mikuo yang terlalu overprotective padanya—hanya satu yang pertama, pemuda pecinta es krim sahabat karibnya.
Miku menatap rumah di hadapannya. Rumah Kaito, dengan lampu yang mati pertanda tidak adanya sang pemilik disana. Gadis itu menghela napas dan mengangkat pergelangan tangannya. Friends forever. Kata itu melekat baginya, mengutuk seluruh kehidupannya.
Sorot matanya meredup. Kaito memang begitu baik padanya, wajar jika dia menyukainya. Miku yang salah karena baru menyadari perasaannya ketika Kaito sudah tidak lagi bisa digapainya.
Semuanya sudah berakhir. Entah apakah Miku masih bersahabat dengan Kaito atau tidak setelah semuanya terjadi.
Gadis itu kembali menghela napas panjang. "Kenapa kamu menghilang sebelum drama berlangsung, Kaito?" tanyanya pada udara dingin malam.
Tidak biasanya pemuda itu kabur dari masalah begitu saja. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Kaito langsung meninggalkan amanat Rin begitu saja bahkan tanpa mengucapkan apapun.
"Apakah Megurine Luka sepenting itu sampai kamu bahkan kabur tanpa mengatakan apapun?" Yang Miku tahu, rasa sakit di hatinya terasa semakin parah.
.
.
.
special thanks
Momochi Rui, Mizuki Akase, Aisaki Sakura, Hel Hazelnut, Aoru Kashiwabara, sonedinda2, arandomperson, mucchiseryo, Hikari Nohanayami, Aisaki Sakura, Everly De Mavis, VermieHans, Bubble Ghost, rini desu, hermeownie, 18, Forene, , Nakazawa Ayumu, Kurotori Rei, sHinkaChuu, ErzaScarlet-47, kira-Bellachan
dia, sahabatku 'yang jauh' (24 Februari 2013, aku pengen nangis ketika menyadari hubungan kita berdua mungkin akan sepenuhnya berakhir disini. Kamu, aku—nggak akan pernah bisa jadi kita)
dan kamu yang tentunya udah buka halaman ini!
warning
bab yang punya nomor sendok lebih besar bukan berarti menjelaskan sesuatu dalam durasi yang lebih lama dibandingkan nomor sendok yang lebih kecil ;p
berry blue
(sendok keduapuluhsatu)
Ponselnya kembali berbunyi. Layar LCD-nya menampilkan foto pemuda berambut ungu panjang yang sedang tersenyum dan terlihat sangat tampan. Sayangnya, justru senyuman tampan itu ingin membuat Gumi membanting ponselnya.
"Nggak diangkat?" Suara rendah milik pemuda berambut biru di sebelahnya terdengar khawatir. "Kojima-san, kupikir lebih baik kau—"
Iris hijau daun Gumi segera menatapnya tajam. "Oh, diamlah, Shion-san! Kenyatannya aku sedang tidak ingin bertemu dengannya terutama setelah melihat drama bodoh tadi! Dan jangan coba-coba mengaturku mengenai apa yang harus dan yang tidak harus kulakukan!"
Tidak mengerti? Oke. Lebih baik kita tarik mundur garis plot cerita ke belakang—kira-kira setengah jam yang lalu Gumi diamanatkan untuk memberi pensuasanaan untuk hubungan Miku dan Len. Setelah meninggalkan mereka berdua dengan atmosfir yang cukup tenang dan beraura pink, gadis berambut hijau yang masih memakai kostum penyihir itu segera keluar dari aula, berniat untuk ganti baju saat itu juga.
Sialnya, di koridor yang mengarah ke kelasnya, Gumi harus melihat sebuah pertengkaran yang sebenarnya tidak ingin dilihatnya. Pertengkaran cinta segitiga antara teman sekelasnya, cinta pertama teman sebangkunya, dan juga... kakak tirinya.
Gumi sama sekali tidak punya ide bagaimana Kamui Gakupo, mahasiswa tingkat empat Institut Teknologi Crypton di Tokyo bisa-bisanya ikut campur dalam hubungan percintaan anak SMA.
Atau justru cinta pertama dari teman sebangkunya Gumi yang sebenarnya ikut campur dalam hubungan percintaan jarak jauh antara anak SMA cantik dan mahasiswa pintar?
Dia tidak peduli, Gumi sebenarnya tidak begitu peduli. Oke, dia memang penasaran, tapi dia tidak penasaran sampai harus mengancam Gakupo untuk menjelaskan keadaannya.
Namun, begitu ingat ucapan Gakupo padanya di pagi hari festifal seni itu berlangsung, segalanya berubah. Dia justru merasa sangat-sangat kesal. Benar-benar kesal.
Kamui Gakupo, orang yang selama hampir dua tahun mengisi hari-hari Gumi dan sebulan yang lalu kemudian menjadi kakak tirinya. Selama mengenalnya, Gumi tahu bahwa Gakupo adalah pemuda yang luar biasa tampan dan mampu membuat jantungnya berdebar lima kali lebih cepat. Namun, sikap baik hati Gakupo tidak pernah mampu meluluhkan perlindungan hati Gumi untuk dapat menerimanya sebagai bagian dari anggota keluarga. Karena, Gumi tahu, apapun yang dilakukan Gakupo semata-mata agar orangtua mereka yang baru menikah merasa tenang (dilema masalah orangtua yang menikah kembali setelah memiliki anak).
Akan tetapi, perlahan, terutama semenjak Gakupo banyak menghabiskan waktu di rumah Gumi, gadis berambut hijau itu mulai menerimanya dan merasakan bahwa kebaikan Gakupo memang ditujukan kepadanya.
Karena itulah, ketika di pagi hari sebelum festifal drama dimulai, lebih detilnya lagi ketika Gakupo mengantarkan Gumi ke sekolah, Gakupo berkata padanya: "aku mau melihatmu main di drama, Gumi! Kebanggaan bagi seorang kakak untuk melihat adiknya pentas! Aku ingin merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan setiap kakak di dunia ini!" semua kalimat manis itu mengugah hatinya, melunakkan perasaannya, membuat sebersit rasa senang timbul di dalam dirinya.
Karakter Gumi yang sedikit tidak ingin mengatakan segalanya secara langsung—dia sungguh punya kepribadian yang sedikit menyulitkan—tetap melarang Gakupo untuk datang walaupun sejujurnya dia sangat ingin Gakupo datang. Sedikit bertolak belakang, tapi itulah Kojima Gumi—tsundere.
Namun, ketika dia mendapati pertengkaran cinta segitiga itu, Gumi mengerti kalau apa yang dikatakan Gakupo hanya kalimat manis bohongan. Pemuda ungu itu ingin menemui kekasihnya—atau mantan kekasihnya, terserahlah.
"Telepon dari kakakmu, Kojima-san?" Suara si pemuda biru, salah satu tersangka dari perebutan cinta segitiga itu kembali bersuara. "Sebaiknya kau mengangkatnya agar dia nggak perlu khawatir."
"Oh, persetan dengannya, Shion-san!" tukas Gumi cepat.
Kaito tertawa. "Kurasa kau memang cocok sekali berteman dengan Miku. Sifat kalian mirip."
Gumi memperhatikan bagaimana pemuda biru itu tertawa dan kelihatannya tidak ada sorot kesedihan di matanya ataukah dia terlalu pintar untuk menyembunyikan segalanya dari kejeniusan Gumi?
Kenyataannya, setelah mendengarkan pertengkaran segitiga itu dan berakhir dengan gadis jalang—sebutan kasar Gumi untuk Megurine Luka yang memiliki dua cowok di waktu yang bersamaan—pingsan (kenapa cewek yang diperebutkan dua cowok bisa begitu lemahnya sih?!) dan dibopong oleh Gakupo, Kaito langsung pergi begitu saja menuju mobilnya.
Didorong rasa penasaran, Gumi segera mengikutinya dan melompat saat mobil sedan biru Kaito distarter untuk jalan. Setelah itu, dengan setengah memaksa, Gumi minta Kaito untuk mengantarkannya pulang karena pertama, dia tidak ingin diantar Gakupo, kedua naik bis sama sekali tidak bisa membantu karena dia tidak ingin ditertawakan dalam kostum penyihirnya, dan ketiga jika dia ganti baju dulu, besar kemungkinannya dia akan bertemu Gakupo dan pada akhirnya situasi yang sangatsangatsangat tidak mengenakkan pun terjadi.
"Dengar, aku memang memintamu mengantarkanku pulang, Shion-san, tapi ada alasan lain kenapa aku berada di dalam mobil sedanmu, duduk tepat di sampingmu yang sedang menyetir ke arah rumahku."
"Kau marah padaku karena menganggu hubungan percintaan kakakmu dengan Luka-chan?" Kaito langsung bertanya sambil tersenyum. Dia melirik sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan raya di hadapannya. "Aku minta maaf, aku—"
"Bukankah seharusnya kau marah pada Gakupo dan Si Jalang itu?"
Kaito terkekeh. "Jangan memanggil Luka-chan dengan sebutan itu. Kenapa aku harus marah? Aku yang ada disana sebagai orang ketiga kan? Dan orang ketiga merupakan pemicu masalah..."
"Atau bisa juga sebagai penyelesai masalah." Gumi menghela napas panjang. "Dan jangan memaksakan diri tersenyum, Shion-san. Kalau kau mau menangis, menangis saja."
"Tapi bukan itu kan tujuan kau mencegatku dan memaksa untuk menemaniku sekarang? Untuk melihatku menangis? Bukan kan?"
Gumi menggeleng cepat. "Tapi aku juga bukan gadis yang tega menanyakan berbagai macam hal pada orang yang baru saja patah hati."
"Aku baik-baik saja." Lagi, senyuman yang sama. "Aku akan makan es krim dan segalanya akan terasa baik kemudian."
"Kau butuh Miku saat ini?" Sebenarnya, kalimat Gumi barusan lebih terdengar sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
Pemuda biru itu terhenyak, jeda lama seolah dia memikirkannya kemudian pemuda itu baru menggeleng pelan. "Walaupun aku membutuhkannya, kenyataan bahwa aku sudah tidak bisa lagi dengan bebas berada di sampingnya jelas menjelaskan segalanya."
Gumi mengangguk-anggukan kepalanya, bersikap seolah dia yang paling tahu segalanya. "Yeah, bocah Kagamine itu menyatakannya di depan semua orang. Tidak mungkin kau tidak tahu."
"Sejujurnya, aku melihat kejadiannya secara langsung!" Kaito memasang wajah kecewa sambil memukul pelan stirnya. "Pernyataan cintanya sungguh romantis! Seharusnya aku melakukan hal itu saat menyatakan perasaanku pada Luka-chan! Yaah, kau tahu, Kojima-san," Kaito mengedipkan sebelah matanya, "mungkin dengan begitu dia akan jatuh cinta sepenuh hati padaku dan melupakan kakakmu. Oh! No offense tetap. Aku tidak ingin menjelek-jelekkan kakakmu!"
Gumi mengamati perubahan ekspresi pemuda berambut biru itu. Orang ini berpura-purakah atau ini memang ekspresi aslinya?
"Kau... tidak patah hati, Shion-san? Maksudku, saat ini kau baru saja dibohongi oleh orang yang paling kau sukai. Tidakkah kau bersedih?"
"Patah hati kok. Ini aku yang sedang bersedih." Kaito tersenyum.
"Hemm... Kalau begitu caranya, kukira cuma Miku yang bisa memahaminya."
Mendadak, amat sangat mendadak, Kaito mengerem mobilnya terlalu cepat. Membuat Gumi yang tidak memasang sabuk pengaman hampir menabrak dashboard. Gadis berambut hijau itu segera menatap Kaito berang, bersiap mencacimakinya mengenai alasan kenapa pemuda itu bisa-bisanya berhenti mendadak seperti itu. Dan begitu melihat Kaito yang mengerjap seolah baru menyadari sesuatu, Gumi memang tahu bahwa pemuda itu berada di dalam kesedihan.
"Apa maksudmu dengan hanya Miku yang bisa memahamiku?"
"Kenyataannya, kalian berdua memang saling memahami satu sama lain kan? Kupikir kalian sebenarnya saling menyukai, tapi saling tidak mau mengakui. Menurutmu gimana, Shion-san?"
Kaito menurunkan gigi mobil dan sedan pun kembali berjalan. Pemuda biru itu sama sekali tidak berniat memberi komentar maupun jawaban pada pernyataan serta pertanyaan Gumi barusan. Akhirnya, gadis berambut hijau itu mengambil kesimpulan bahwa topik harus diganti.
"Kau sedih, Shion-san?"
"Tentu saja, Kojima-san," jawab Kaito cepat.
Gumi menyandarkan tubuhnya ke kursi dan sekarang mulai memakai sabuk pengaman. Dia tidak mau mati konyol hanya karena si supir mobil itu mendadak menyadari sesuatu.
"Luka-chan memang sangat cantik, kau tahu. Dia sangat luar biasa dan aku menyukainya sejak pertama kali ngobrol dengannya."
Gumi memutar bola matanya. Dia sama sekali tidak peduli seperti apa Megurine Luka di mata Shion Kaito. Bukan disana letak poin yang ingin diamati Gumi.
"Banyak yang bilang kalau dia punya pacar, jadi kau tahu, Kojima-san, aku sempat bertanya padanya dulu..."
Dan pasti dijawab dengan dusta.
"Dia... dia tidak terlihat berbohong..."
Ada sebersit rasa sedih di suara Kaito barusan. Gumi menghela napas panjang dan melirik ke luar jendela. "Padahal, kau tahu, Shion-san, Si Jalang itu cuma ingin memanfaatkan kebaikanmu."
"Tidak, tidak, Kojima-san. Aku tidak bisa bilang kalau Luka-chan ingin memanfaatkanku, aku yang membiarkannya melakukannya. Maksudku..." Suaranya hilang sejenak, "aku sudah tahu sejak awal kalau Luka-chan memang tidak menyukaiku."
"Poinnya, Shion-san, dia memanfaatkanmu!"
"Dia hanya tidak ingin melukaiku."
"Ya ampun!" teriak Gumi kesal. "Kau ini buta banget sih?!"
Kaito tertawa. "Itu juga yang dikatakan Miku padaku. Dia memanfaatkanku sendainya aku nggak tahu semuanya kan?" Kaito bersikeras. "Yah, aku memang tidak tahu semuanya, tapi kurasa aku juga memanfaatkannya. Aku berharap bisa menjadi pacarnya apapun yang terjadi." Kaito tersenyum. "Aku yang jahat. Aku tahu perasaannya, tapi aku justru memanfaatkannya."
"Kamu baik banget sih?! Aku nggak tahu apa yang dilakukan Megurine-san sampai membuatmu seperti ini, tapi seriusan deh!" geram Gumi. "Dia memanfaatkanmu! Tipikal cewek yang 'siapapun boleh asal bisa menghiburku'! Aku heran kenapa kalian semua cowok sangat mudah tertipu dengan yang beginian!"
Kaito hanya tertawa. "Yah, cinta itu bisa membutakan."
Gumi hanya memutar bola matanya. Kalau beneran cinta sih nggak apa-apa.
"Karena itulah, Kojima-san, aku nggak terlalu kaget. Maksudku, Luka-chan berhak memilih. Aku nggak punya masalah kalau dia dulu cuma memanfaatkanku karena aku juga memanfaatkan dia. Ini sama seperti hubungan timbal balik."
"Yap. Aku nggak akan memanggilnya cewek jalang, Shion-san." Gumi mengangguk menyetujui, "setidaknya tidak di depanmu."
Kaito tertawa.
"Jadi, Shion-san, aku boleh menyimpulkan bahwa kau nggak terlalu kaget dengan hubungan cinta segitiga yang kau alami?" Gumi melirik dan pemuda biru itu mengangguk pelan. "Kalau gitu, kau nggak sedih dong?"
"Aku cukup sedih kok, Kojima-san. Kenapa obrolan kita jadi berputar-putar sih?"
"Hemm," gadis berambut hijau itu meletakkan jari di bawah dagunya, mencoba terlihat berpikir walaupun sebenarnya analisis yang telah dia lakukan dulu sebenarnya tidak perlu di uji coba lagi. "Kau bilang kau sedih, tapi kau juga bilang kalau kau sudah memperkirakan kejadian dengan Gakupo ini?"
"Yap. Memperkirakan sih iya, tapi nggak nyangka bakalan benar-benar terjadi."
"Sesuatu yang sudah diprediksi sebelumnya nggak akan memberi efek kejutan, Shion-san. Itu ilmu psikologi." Gumi mengetuk-ketukan jemarinya di atas pangkuannya. "Atau... mungkin ada sesuatu yang jauh lebih megejutkanmu dan membuatmu sedih daripada masalah kakakku dan Megurine-san, Shion-san. Apa yang terjadi padamu hari ini?"
"Hari ini aku..." Ucapan pemuda itu langsung terhenti begitu saja. Dia hanya terdiam, menatap jalan di hadapannya, tapi Gumi tahu ekspresinya hampa.
Untuk membantunya, Gumi kemudian mengatakan kalimat lainnya. Sebuah teori yang dikembangkannya sendiri. "Kau tahu, karena kejeniusanku, aku berhasil menyimpulkan teori hubungan relasi manusia. Kusebut sebagai teori gelembung cair."
Kaito kembali menatapnya. "Apa?"
"Teori gelembung cair menjelaskan hubungan yang teramat dekat antara perasaan sesama manusia."
"Hee... kau benar-benar pintar, Kojima-san," sahut Kaito tidak tertarik.
Gumi tidak begitu peduli dan terus melanjutkan. "Teori pertama mengatakan batas rasa benci dengan rasa cinta hanya sekitar 0,00001 mili, setebal lapisan gelembung cair."
Kaito hanya diam, tidak menyahut.
Lantas, Gumi kembali melanjutkan. "Batasan kedua hal itu terlihat dengan jelas karena yah, teori bahwa benci sama dengan cinta itu sudah diketahui oleh orang banyak. Memikirkan seseorang yang kau benci sama saja dengan—"
"Kenapa kita harus membahas hal ini, Kojima-san?" Kaito menatap jalan di hadapannya dengan ekspresi datar. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Tentang Kagamine-san yang sebenarnya menyukai Miku walaupun selama ini mereka selalu bertengkar?"
Gumi hanya melirik jalan. Dia tidak mau menjawabnya dan lagipula, dia punya firasat bahwa Kaito sebenarnya tidak membutuhkan jawabannya.
"Mau kulanjutkan ke teori yang kedua?"
Kaito tidak menyahut, namun Gumi menangkap itu merupakan sinyal baginya untuk tetap melanjutkan pembahasan teorinya.
"Teori kedua mengatakan bahwa batasan antara kekaguman dengan rasa cinta hanya setebal 0,00001 mili."
Kaito mengangguk menyetujuinya. "Aku tahu itu," dia tersenyum sekilas.
"Batasan kedua hal itu selalu terlihat kabur, tidak pernah jelas apakah rasa kagum itu memang sudah berkembang ke arah cinta atau belum."
Senyum Kaito menghilang saat itu juga. "Apa maksudmu, Kojima-san?"
Gumi mengangkat bahunya. "Hanya ingin memastikan apakah kau dan Megurine-san sudah melanggar batas itu atau belum..."
"Tentu saja—" Tapi suara Kaito menghilang dan kalimat penuh rasa yakin itu mendadak jadi sia-sia begitu saja. Gumi mengangguk pelan.
"Di depan belok kanan dan berhenti di rumah bercat coklat itu," sahut Gumi kemudian.
Ketika akhirnya mobil berhenti, kembali Gumi bertanya. "Masih ada teori yang ketiga, Shion-san. Kau mau tahu apa isinya?"
Kaito tidak menjawab. Teori kedua yang disampaikan Gumi terus menerus melekat dalam pikirannya. Awalnya, dia memang kagum pada Luka bukan? Dan rasa itu, rasa yang membuat dia ingin pacaran dengan Luka, rasa yang membuat dia ingin bersama Luka, itu adalah rasa cinta kan?
Karena itulah, Luka selalu memasang wajah seperti itu saat berada bersama Kaito bukan? Karena Luka tidak sepenuhnya bisa menyukai Kaito walaupun Kaito sangat-sangat menyukai Luka? Atau jangan-jangan... Luka memasang wajah seperti itu karena—
"Teori ketiga menyatakan batas persahabatan dengan cinta setebal 0,00001 mili, setebal lapisan gelembung cair," dia bisa mendengar Gumi berkata.
Mendadak, segalanya terlihat terang dan nyata.
"Kamu penasaran, Kaito-kun? Aku tunggu disini deh ya! Kamu lihat kesana, terus nanti ceritain ke aku!"
—Luka tahu bahwa Kaito tidak menyukainya sepenuhnya?
Gumi melirik lawan bicaranya. Dia dengan sukses telah membuat keraguan muncul di hati Kaito. "Ada penekanan di teori ketiga ini, Shion-san. Kau mau tahu?"
Kaito menatapnya.
Gumi tersenyum tipis. "Batasan persahabatan dengan rasa cinta bahkan tidak pernah terlihat. Dia ada, tapi tidak terlihat sehingga sangat sulit untuk membedakannya."
Kaito hanya diam. Namun, iris matanya berubah. Pandangannya berubah.
"Kau patah hati kan hari ini, Shion-san?"
Kaito masih diam.
"Kau sedih kan hari ini, Shion-san?"
Pemuda biru itu masih tetap diam.
Gumi tersenyum tipis. "Lalu, bisakah sekarang kau tanya pada dirimu sendiri?"
"Apa?"
"Alasan kau patah hati dan merasa sedih hari ini." Gumi tersenyum. "Yang mana yang membuatmu patah hari dan merasa sedih?"
Kaito menatap iris hijau daun di hadapannya.
"Hubungan antara kakakku dengan Megurine-san yang sudah bisa kau prediksi sebelumnya... ataukah..." Gumi menatap iris biru laut di hadapannya. Rasa takut terpancar jelas di hadapannya. Wajar saja, mengingat hubungan Len dan Miku sudah berjalan dengan baik hingga sekarang ini. Gumi bahkan tidak terkejut ketika mendapati Miku mungkin benar-benar menembus batas gelembung cair lainnya.
Pemuda biru gelap itu hanya menatapnya lama hingga akhirnya Gumi mengangguk pelan dan melepas sabuk pengamannya. "Terima kasih untuk tumpangannya, Shion-san," sahutnya pelan dan dia membuka pintu mobil. "Semoga kau bisa menjawab pertanyaanku tadi." Gumi kembali tersenyum. "Hati-hati di jalan ya, Shion-san."
.
.
.
.
Kaito memejamkan mata, menyesapi napas yang dia hirup dari hidungnya. Kemudian, dia membuka matanya. Pandangan laut gelap terpampang di hadapannya. Dia bisa merasakan angin yang membawa bau garam dari jendela mobilnya yang terbuka. Tangannya diangkat hingga menyentuh kemudi stirnya dan dia menghela napas panjang.
Sesungguhnya, hari ini adalah hari terburuk baginya.
Dan Gumi benar. Dia memang tidak mengerti bagian mana kejadian hari ini yang membuatnya merasa seperti laki-laki paling menyedihkan yang pernah ada di dunia ini.
Kaito menarik napas panjang dan mengeluarkan ponselnya. Dia baru menyadari bahwa benda itu tersimpan dalam kantungnya dalam keadaan mati. Dia tersenyum dan menyalakannya. Ketika menyala, ponsel itu segera menunjukkan foto dirinya dan Luka yang tersenyum lebar di kencan pertama. Rasanya itu baru saja terjadi kemarin.
Kaito memaksakan diri tersenyum dan segera ingin mengganti foto itu dengan foto lainnya. Ketika dia sedang memilih foto mana yang ingin dijadikan wallpaper, ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
Ada lima belas pesan. Enam dari lima belas berasal dari ketua kelasnya, tiga dari mantan kekasihnya, dua dari nomor yang tidak dikenalnya, dan empat berasal dari Miku. Sesungguhnya, Kaito tidak peduli pada pesan lainnya, dia hanya peduli pada empat pesan yang datang terakhir.
Pesan pertama dari Miku berbunyi: Kau dimana? Rin mencarimu! Hubungi aku secepatnya!
Pesan kedua dikirim sekitar satu jam sesudah pesan pertama: Seriusan deh, kamu pulang duluan?! Kamu kemana sih, Kaito?! Hubungi aku secepatnya!
Pesan ketiga dikirim sekitar dua jam setelah pesan pertama: Kamu nggak sedang asyik kencan dengan Megurine-san kan? Kalian menghilang bersamaan. Seriusan deh, yang ada di kepalamu cuma cewek itu doang ya?! Kalian seenaknya bersenang-senang sementara yang lain... Aargh! Aku nggak nyangka kamu beneran lari dari tanggung jawab!
Kaito menghela napas. Perkiraan Miku jelas bertolak belakang dengan kenyataan!
Dia tersenyum miris dan membuka pesan terakhir yang masuk dikirim setengah jam yang lalu: Semua baik-baik saja kan, Kaito?
Kaito terpaku. Hanya satu kalimat dan segalanya seolah terasa berbeda.
Jemarinya mengecek seluruh pesan yang tersimpan di dalam ponselnya. Hanya pesan dari Miku yang tidak pernah dihapusnya—hanya dihapus ketika memori ponselnya sudah penuh, awalnya itu gara-gara perimintaan Mikuo dulu, tapi Kaito telah terbiasa.
Senyuman mulai terbentuk di bibir Kaito ketika menyadari bahwa mereka sama-sama bertukar pesan tidak penting, saling mengejek satu sama lain, saling—
Sekarang sudah tidak lagi.
Kaito menghela napas. Kalau memang karma itu ada, mungkin apa yang dia alami hari ini adalah karma. Dia sudah berjanji untuk terus bersama Miku dan kenyataan bahwa dia meninggalkan gadis itu karena sibuk mengejar malaikat, pantas untuk mendapatkan balasan yang setimpal bahkan lebih berat.
Karena tahukah kau Kaito, kau telah membuat gadis itu menangis seorang diri.
Dia mengenggam ponselnya erat-erat. Detik berikutnya, napasnya serasa ditarik paksa keluar. Dia terpaku melihat nama Miku tertulis di ponselnya. Gadis itu menghubunginya. Gadis itu mencarinya.
—bahkan setelah semua yang dilakukan Kaito padanya.
Hati Kaito menghangat.
Gumi benar. Hanya Miku yang dibutuhkannya saat ini. Hanya Miku yang bisa menghapus rasa kesedihan yang dialaminya malam ini. Hanya Miku yang bisa. Hanya Miku...
"Halo."
"Aah..." Kelihatannya si penelepon tidak menyangka bahwa Kaito akan menjawab teleponnya. "Kaito... kau dimana?"
"Di suatu tempat." Ketenangan melingkupi hatinya.
"Seriusan deh!"
Kaito tertawa. "Kau sendiri dimana?"
"Rumah. Kau lagi nggak di rumah kan? Lampunya mati soalnya." Hening sejenak. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ada beberapa hal yang terjadi." Kaito tersenyum simpul sambil memandang ombak di hadapannya. "Ada beberapa hal yang terjadi yang membuat segalanya tampak berbeda."
"Ada hubungannya dengan Megurine-san?"
"Ya." Kaito mengangguk pelan. "Ada hubungannya dengan Luka-chan."
"Kau... kabur dari pentas seni sekolah hanya karena Megurine Luka?"
Kilasan kejadian dimana Gakupo mengatakan segala kebenaran kepadanya kembali muncul di kepalanya. Pemuda biru itu menatap hamparan laut di hadapannya kemudian tersenyum sendu. "Ya. Konyol yah?" Kemudian dia memaksakan diri tertawa, mencoba melupakan kenyataan bahwa dia bahkan sama sekali tidak pernah menjadi orang penting bagi Luka.
"Bukan konyol lagi tahu! Bego itu namanya!" Dan kemudian, sambungan telepon terputus.
Kaito menghela napas panjang dan kembali menyandarkan kepalanya di kursi. Memangnya dia salah bicara apa barusan? Dia memang kabur dari pentas seni karena kenyataan bahwa Megurine Luka, gadis serupa malaikat yang dipujanya ternyata justru menganggap dirinya sebagai pilihan kedua—atau bahkan tidak termasuk ke dalam pilihan?
Jemari pemuda itu sudah akan menekan tombol untuk menghubungi Miku lagi. Namun, gerakannya terhenti ketika ponselnya berdering. Dia menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Tidak biasanya nama itu muncul. Bahkan, dari semua waktu yang ada di dunia ini, kenapa orang itu harus meneleponnya sekarang?
Tidak mungkin orang itu bisa mengetahui apa yang terjadi bermil-mil jauhnya dari Institut Teknologi Crypton kan?
"Halo, Mikuo -niichan, apa yang—"
"Tuhan! Akhirnya ada juga yang menjawab teleponku!" potong suara nyaring di seberang sana.
"Kenapa kau menelepon—"
"Aku ada di kereta sekarang!"
"Hah?!"
"Aku akan datang besok pagi! Jemput aku di stasiun jam tujuh pagi! Kalau kau terlambat, aku bersumpah akan membunuhmu!"
Kaito mengerjap pelan. Tampaknya semuanya akan terasa ramai besok. Tentu saja, orang paling konyol yang pernah Kaito kenal di dunia ini akan datang besok entah karena alasan apa. Setidaknya, Kaito mencium ada hal yang tidak baik akan terjadi nantinya.
.
.
.bersambung
a.n.
buat yang request cerita, nanti yah dibuatnya, ditampung dulu permintaannya ;)
dulu juga pernah ada yang request cerita dan sampai sekarang belum pernah kebuat hehe
semua pendapat diterima ;)
:2005-2013:
