Standar Disclaimer Applied

.

.

Short Ficlet SasuSaku © Tsurugi De Lelouch

Bab XXI : Bersyukur

Dedicated for 1000 member S-Savers in Under The Same Of Sky

.

.

.

Sasuke Uchiha & Sakura Haruno

.

.

*Enjoying Reading and Reviewing*

Y*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*Y


.

.

.

.

Hening…

Suasana sunyi menyelimuti di salah satu kediaman teman akademi Sei. Tidak ada tawa riang dan candaan yang terlontar dengan bocah berumur delapan tahun akan tetapi, suara tangisan terlontar dari bibirnya.

Kelas di mana Sei, Kei dan Rei menuntut ilmu dipaksa untuk pulang cepat karena ada berita duka dari Hirei yang Ayahnya meninggal akibat sakit. Kiba Inuzuka—sensei mereka untuk melayat ke kediaman Hirei sekaligus menumbuhkan rasa empati di anak-anak muridnya.

Sekarang sudah dua puluh menit lebih tepatnya, ketiga sahabat itu masih bingung dengan kejadian yang masih belum mereka mengerti. Suara tangisan… pakaian hitam… juga foto yang diletakkan di dekat sebuah peti. Mereka hanya duduk terpaku sembari menoleh kesana kemari dan memasati satu pusat yaitu—Hirei yang menangis kencang di pelukan ibunya.

Otak jenius Rei berpikir keras lalu Kei bergumam dalam hati sedangkan Sei sendiri menatap peti lalu foto berukuran sedang dengan gambar pria yang tersenyum tipis. Ketiga keturunan klan hebat itu masih bingung dan juga posisi duduknya membuat kaki mereka menjadi pegal.

"Kenapa kau diam saja, Sei?"

Suara berat menyentakkan bocah beriris kelam yang melamunkan sesuatu begitu juga dengan Rei dan Kei yang kemudian menoleh ke pemilik suara itu.

"Tou-san…"

"Sasuke-ji…" Rei dan Kei berucap bersamaan dengan nada pelan.

"Kalian tidak mengucapkan sesuatu pada temanmu yang ada disana?" ucap Sasuke menautkan alisnya menatap mereka bertiga.

Sei menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku bingung, Tou-san."

"Doakan untuk kepergian ayah temanmu itu, Sei," tutur Sasuke.

Merasa bingung tapi kemudian Sei menuruti kata Ayahnya dengan menautkan tangannya lalu memejamkan mata dan mengucapkan doa lalu—selesai. Begitu juga dengan kedua sahabatnya yang mungkin sudah tahu—karena mereka lebih lama memejamkan matanya dibandingkan dengan dirinya.

"Doa apa yang kalian ucapkan?" tanya si sulung Sei kepada kedua sahabatnya.

Kei memegang dagunya seperti Ayahnya kalau berpikir. "Aku hanya berucap semoga arwah ayahnya Hirei diterima oleh Kami-sama… itu saja."

Netra kelamnya tidak percaya dan menatap Rei dengan tatapan penuh selidik. "Kalian mengucapkan apa sebernanya?"

"Kau tidak tahu ya, Sei? lalu apa yang kau ucapkan tadi?" pertanyaan balik Rei. Memang kalau bertanya dengan Rei pasti membalikkan pertanyaan.

Sei bergumam kesal dalam hati lalu iris matanya mengarah ke Ayahnya yang sedang berbincang dengan Naruto-ji dan sepertinya tidak bisa diganggu, lalu ia memejamkan mata dengan menyilang kedua tangannya sampai tepukan di bahunya memaksa kelopak matanya membuka.

"Kita pulang, Sei."

Anak sulung Sasuke Uchiha itu mengangguk lalu mengekori dari belakang Ayahnya yang berpamitan dengan keluarga Hirei.

"Kami pamit pulang dulu," ucap Sasuke kepada ibu Hirei.

Mengikuti ucapan sang Ayah. Sei berpamitan dengan Ibunda Hirei lalu ia saling berhadapan dengan Hirei yang masih menghapuskan air matanya. Tanpa ragu Sei tersenyum kemudian memeluk tubuh Hirei dan dengan ucapan. "Yang tabah ya, Hirei."

Sasuke memandang anaknya dengan seulas senyuman sangat tipis kemudian di belakangnya ada kedua sahabatnya tentu bersama anaknya juga pamit sama seperti mereka. Ketua anbu dan Sei segera menyingkir dan keluar dari kediaman sambil menunggu kedua sahabat mereka yang masih berada di dalam.

"Seii…"

Sei menoleh ke belakang mendapati Rei menyilangkan kedua tangan dengan senyum meremehkan. "Tadinya aku ingin menjawab tapi kau kan juga jenius. Mana mungkin tidak tahu apa kuucapkan?" diikuti dengan tepukan sang Ayah—Shikamaru berada di belakangnya.

"Tou-saaan…" teriak kecil Rei mengerucutkan bibirnya.

"Kau persis dengan Ino-basan dengan gaya mengerucutkan bibirmu, Rei!" ucap Kei.

"Dulu kau malu-malu saat masuk ke akademi seperti Hinata-basan, Kei!"

Adu mulut dimulai lagi membuat Sei menghela napasnya. "Hentikan kekonyolan kalian berdua di depan rumah orang yang sedang berduka!" Ucapannya membuat kedua sahabat menjadi diam.

"Tumben Sei berbicara seperti itu, biasanya hanya diam melihat kami bertengkar," ujar Kei.

"Ini di depan kediaman orang yang bersedih. Kalian harusnya paham," tukas Sei.

Naruto mengelus kepalanya Sei. "Bijaksana sekali, Sei. Pasti Ayahmu bersyukur mempunyai anak sepertimu."

"Terima kasih, Naruto-jisan."

Kemudian Naruto dan Kei berpamitan pulang diikuti Shikamaru dan Rei lalu meninggalkan Sasuke dan Sei masih terdiam disana. Tanpa menunggu lama—Sasuke menarik pergelangan anak sulungnya menuju ke rumah.

"Tou-san. Aku ingin bertanya sesuatu, ne boleh?"

"Boleh saja, Sei."

Sei menggaruk kepalanya. "Apakah seperti itu perasaan Tou-san saat Jii-san dan Baa-san meninggal," cicitnya.

"Kurang lebih seperti itu, Sei."

"Tou-san pasti kesepian…" lirih Sei.

Tangan besar Sasuke menepuk kepala putra sulungnya. "Ayah terbiasa hidup sendiri tapi ada Naruto-ji dan Ibumu yang mengisi kekosongan hidup Ayah. Kau mestinya bersyukur masih memiliki orang tua lengkap dan harus menyayanginya."

"Lalu bagaimana kalau salah satu dari mereka meninggal, Tou-san?"

"Tentu saja mendoakan salah satu dari mereka meninggal dan pasti kita akan bersedih tapi kesedihan itu tidak selamanya. Kita harus bangkit, Sei."

"Apakah sikap Sei tadi menghargai perasaan Hieri, Tou-san?"

Sasuke berbalik dan berhadapan dengan Sei. "Tentu, Sei. Hieri pasti senang memiliki teman sepertimu, Jagoan!"

"Ayah juga bersyukur…"

Bocah tampan itu menautkan alisnya. "Bersyukur apa?"

"Bersyukur memiliki kalian dengan ibumu yang cantik lalu kau kemudian dua adikmu yang sudah merangkak di hadapan Ayah—hei, kalian tidak sabar menyambut kami," ucap Sasuke merendahkan tubuhnya di depan pintu dan menangkap tubuh si kembar.

"Astaga, kalian berdua…" pekik Sakura keluar dan mendapati si kembar berada di gendongan sang Ayah diikuti Sei di sampingnya. "Sasuke-kun… Sei.. Okaeri…"

"Si kembar sangat aktif. Mendengar suara kami—mereka merangkak keluar dan teledornya pintu terbuka, Sakura," tukas Sasuke menciumi kepala Shieri.

"Maafkan aku, Sasuke-kun. Tadi aku lupa menutupnya," imbuh Sakura menggaruk kepalanya.

"Lain kali ditutup, Sakura."

Sasuke dan si kembar masuk lalu diikuti Sei—sebelum bocah tampan itu melewati Ibunya—dia bergumam sangat pelan dan ditunjukkan kepada Sakura hingga wanita itu tersenyum tipis.

"Aku bersyukur memiliki kalian… aku mencintai kalian…"

.

.

.

Kita harus bersyukur masih memiliki orang tua lengkap dan sayangi mereka seperti mereka menyayangimu dengan cinta.

.

.

.

.

.

Owari


Tsurugi Notes (Wulanz Aihara)

Come back~~ to bab ke 21. Maaf jika hasilnya begini… bahasanya jadi kaku arghh—sempe bingung dengan cerita #ditendang. Dan terima buat teteh Arlene buat masukkannya, hehehe.. terkadang author satu ini suka lupa.

Juga promosi baca fic REPRESI ya^^b

Dan Selama buat SSL yang sudah mencapai 1000 member.. We loves SasuSaku 3. Keep calm ok!

Terimakasih yang sudah mereview, meng-follow dan meng-favoritekan karyaku ini.

Thanks to Reviewer Bab I sampai Bab XX

Trancy Anafeloz ,FairyLucyka, Cha KriMoFe Doujinshi, Fishy ELF, Kuromi no Sora, iez ashiya,Asakura Ayaka, rura seta, Guest, Aika Yuki-chan ,skyesphantom, Guest, rkarina97, ,poetry-fuwa, Arisa saki, fuchaoife, Lucifionne, Hira-kun, Iez Ashiya, Guest, akasuna no ei-chan, Deshe Lusi, kikihanni, Ayano Futabatei , StrawberryBlossom, Kirito, Asuna FC, uchihana rin, Uchiha Shige, Karasu Uchiha, Sunny Iruzer February,Voila Sophie, Momo Haruyuki, Iez ashiya, Baka Iya SS, mari-chan.41, Karin Shawol, SakuraChiha93 ,gaara's official gf , akasuna no ei-chan , uchihana rin, uchizuki RirinIin, Uchiha Hana Richan,crystallized cherry, ca kun, Air Mata Bebek, Sakakibara mei, Uchiha Shige, Momo Haruyuki, Haru-kun Uchiha, Sami haruchi, uchi, Yoruichi Shihouin Kuchiki, Sami haruchi 2, FuRaHeart, Jian Jiun, Momo Haruyuki, Mikka,crystallized cherry, Kim Na Na Princess Aegyo, nadja violin, Hinagiku-chan 'cumasatu1nya, Arlene Shiranui, Smile Up Sunny - S.B.F, Obsinyx Virderald,

Palembang, 09 Maret 2013

11.55 a.m