Bagi Sehun, Luhan adalah gadis manja dan kekanakan. Namun kenyataannya Luhan lebih kuat dan mandiri dibandingkan apa yang Sehun bayangkan. Dan pada akhirnya, sesuatu menimpa dan penyesalan tidak dapat terelakkan.

~A Chance~

Chapter 20 part 2

"Apa kalian sudah menemukan Luhan?"

"Maaf, Bos. Kami benar-benar kehilangan jejak. Tapi kami akan terus berusaha mencari keberadaan Nona Luhan, karena kemungkinan nona Luhan berada tidak jauh dari lokasi kami."

"Ya. Beritahu aku lokasi kalian. Aku akan ikut mencari Luhan."

"Baik, Bos."

Klik!

"Bagaimana?"

Telepon tertutup dan Sehun lantas diberondongi pertanyaan dari Chanyeol dan Jongin. Ya, Jongin memang juga berada disana. Chanyeol tidak memberitahunya namun firasatnya sebagai seorang sahabat tidak bisa diremehkan. Tanpa tahu apa yang terjadi, Jongin langsung mendatangi kantor Sehun dan ia mendapat jawabannya setelah Chanyeol mengatakan semuanya. Beruntung, Jongin sudah menyelesaikan shiftnya siang ini.

Sehun menggeleng lemah. Perilakunya itu membuat ketiga orang di ruangan yang sama dengannya menghembuskan nafas kasar.

Setidaknya sudah empat jam mereka menunggu, namun sama sekali tidak ada kabar baik meskipun Sehun sudah menambah puluhan orang anak buahnya. Selama empat jam itu, Sehun terus menghubungi anak buahnya, berharap akan ada sebuah info yang mampu mengembalikan nafasnya yang sesak. Sehun juga dilarang sahabatnya untuk pergi, mengingat emosi lelaki itu masih tidak stabil dan bisa menyebabkan kekacauan di jalan nanti. Jongin dan Chanyeol memaksa Sehun untuk menunggu, walaupun keduanya juga menyembunyikan perasaan tidak tenang di hati masing-masing.

Tiba-tiba Sehun berdiri, lalu menyambar kunci mobil di atas meja kaca dan membuat Jongin dan Chanyeol terkejut.

"Kau mau kemana?", tanya Jongin. Meski tanpa bertanya-pun, Jongin dan Chanyeol sudah tahu apa yang akan dilakukan Sehun dengan kunci mobilnya.

"Jangan gegabah, Sehun. Kau tidak boleh menyetir dengan keadaanmu yang-"

"LALU APA AKU HARUS DUDUK DIAM DISINI SEMENTARA AKU TIDAK TAHU APA YANG DILAKUKAN SI BRENGSEK ITU PADA LUHAN?!"

Ucapan Chanyeol langsung terpotong oleh teriakan Sehun yang penuh emosi. Sudah cukup lama Sehun menahan diri untuk tidak tersulut namun berakhir gagal. Ia tidak menemukan cara yang tepat untuk menenangkan hatinya sementara pikiran mengenai keselamatan Luhan terus terbayang di otaknya.

"KAU-" Chanyeol, yang memiliki tingkat temperamen lebih tinggi daripada Sehun, berniat untuk membalas teriakan Sehun dengan emosi yang tercetak jelas di wajahnya yang memerah. Sedetik sebelum itu terjadi, sebuah tangan lebih dulu menahan lengannya, mencoba menahan Chanyeol untuk tidak berbuat sesuatu yang bisa membuat keadaan semakin runyam.

Baekhyun menatap sendu mata Chanyeol yang kini memandangnya. Memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya pelan. Dan Chanyeol mengerti isyarat itu. Ia harus bisa menahan emosinya sendiri.

"Ara. Kau bisa mencari Luhan, tapi biar aku yang menyetir.", ucap Jongin memberikan keputusan. Ia menyambar kunci mobil dari tangan Sehun yang terlihat tidak setuju.

"Jongin-ah,"

Drrt… drrt…

Baru saja Sehun ingin menolak, getaran ponselnya lebih dulu menginterupsi. Panggilan itu membuat Sehun nyaris menggila, berharap bahwa itu adalah anak buahnya yang mengatakan bahwa Luhan berhasil di temukan.

Tapi, nyatanya itu bukan panggilan, melainkan sebuah kiriman video dari nomor tidak dikenal.

"Apa ini?" Jongin, yang berdiri tidak jauh dari Sehun lantas meraih ponsel Sehun dan memutar video itu.

Durasinya hanya satu menit, namun dalam satu menit itu nyatanya mampu mengambil seluruh pasokan udara Sehun hingga dadanya benar-benar sesak. Seolah udara tergantikan oleh uap emosi yang memenuhi setiap sel dalam tubuhnya.

Video yang memperlihatkan Luhan dan kondisinya. Terikat di ruangan gelap, kotor, dan dingin. Dengan mata berlinang air mata dan tubuh lemah bersandar pada tembok berlumut.

Dan diantara itu semua, Sehun juga mendengar sayup-sayup suara sendu yang menyebutkan namanya.

Sehun-ah… tolong aku…

Dan detik itu juga, wajah Sehun memerah, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat. Sehun berusaha keras menahan diri untuk tidak mengacau sekarang. Ia harus menahan diri hingga ia mampu menemukan si keparat itu dan menumpahkan emosinya di sana tanpa terkecuali.

Si keparat yang membuat perempuan yang dicintainya menderita dan menangis ketakutan.

Sehun berharap bisa membunuh keparat itu dengan tangannya sendiri.

"Ya Tuhan…" Baekhyun menutup mulutnya dengan telapak tangan. Meredam tangisnya yang berusaha kembali ke permukaan setelah melihat keadaan Luhan .

Inilah yang kakak dan ayah kandungnya lakukan di luar sana. Menyakiti seseorang yang bahkan tidak pantas untuk disakiti, hanya karena dibutakan oleh sebuah kekuasaan yang belum tentu mereka dapatkan.

Bagaimana mungkin Baekhyun tidak sedih mengetahui kenyataan ini?

Ditambah lagi, Baekhyun tidak bisa menghentikan rencana jahat ayah dan kakaknya. Ia merasa sangat tidak berguna.

Drrt… drrt…

Ponsel Sehun kembali bergetar, membuat pasang mata yang berada disana serempak menghadap Sehun. Melihat ekspresi penuh kemarahan Sehun, mereka tahu tanpa harus membuka mulut untuk bertanya.

"Apa kau sudah menontonnya?",ucap seseorang diseberang telepon, sesaat setelah Sehun mengangkat panggilan itu.

"BRENGSEK! LEPASKAN LUHAN, KEPARAT!" Sehun kehilangan kendali, teriakan kasarnya sungguh menakutkan dan juga menyedihkan di waktu bersamaan. Bagaimana tidak, ia berteriak dengan mata berkaca-kaca dan memerah.

Kesedihan Oh Sehun tidak mampu tertutupi oleh ekspresi kerasnya.

"Tenanglah Oh Sehun, aku hanya meminjam istrimu sebentar. Aku akan mengembalikannya nanti, setelah aku mendapatkan hal yang kuinginkan." Suara diseberang telepon kembali terdengar. Suara yang terdengar sangat santai, berbanding terbalik dengan Sehun yang tersulut emosi.

"CEPAT KATAKAN PADAKU APA YANG KAU INGINKAN DAN BIARKAN LUHAN BEBAS!"

Jongin harus bersikeras untuk meredam emosi Sehun. Lelaki itu menepuk bahu tegang Sehun dengan pelan. Merasakan sentuhan di bahunya, Sehun menoleh dan lantas bertatapan dengan Jongin.

Tenanglah, Oh Sehun. Jongin seolah mengatakan hal itu di tatapan matanya.

Sehun mengangguk paham. Ia menghembuskan nafasnya kasar seraya mensugesti dirinya untuk lebih tenang.

"Ah, tidak tidak. Aku tidak menginginkan apapun darimu, tapi dari istrimu. Jadi, lebih baik kau menunggu di rumah hingga istrimu kembali. Ara?"

"Kau bisa minta kepadaku sebagai gantinya. Tapi lepaskan Luhan."

"Ah, terima kasih atas tawarannya. Tapi aku tidak tertarik. Well, aku terlanjur mencintai Xiao Group."

"Keparat! Kalau kau berani menyakitinya, kau akan mati di tanganku!"

"Oh, maaf. Aku hanya menamparnya sedikit. Itu tidak apa-apa, kan?"

"BRENGSEK! AKU AKAN MENEMUKANMU DAN KAU AKAN TAHU AKIBATNYA, BYUN TAEHYUNG!"

"Hahaha! Ku tutup dulu, oke?"

Klik!

BRAK!

"BRENGSEK! KEPARAT!"

"Sehun! Tenangkan dirimu!" Jongin memegang pundak Sehun dengan cukup erat, mencoba –kembali- menahan Sehun untuk tidak semakin menjadi setelah menggebrak meja dengan sangat keras.

Sehun menghempaskan tubuhnya, sebelum meraih kunci mobilnya dari tangan Jongin dan menatap tajam sahabatnya bergantian.

"Kali ini jangan menahanku lagi!",ucap Sehun seraya beranjak pergi, dengan langkah kaki lebar dan debuman keras dari pintu yang tertutup menjadi bukti kemarahannya tidak bisa ditolerir lagi.

Dan pada akhirnya, Chanyeol dan Jongin membiarkan Sehun berbuat apa yang ia inginkan.

"Sebaiknya kita juga ikut mencari.", usul Chanyeol yang membuat Jongin mengangguk. Namun, atensi Jongin tiba-tiba berlabuh pada seseorang di samping Chanyeol.

Jongin tahu, Baekhyun sangat ketakutan dibalik ekspresi tegarnya.

"Lebih baik kau disini saja, menemani Baekhyun-ssi. Biar aku yang pergi mencari keberadaan Luhan dan Nyonya Li Juan."

"Tapi-"

"Kondisi kekasihmu lebih penting, Park Chanyeol." Jongin menggenggam bahu Chanyeol sebelum memberikan senyum terbaiknya. Menatap Baekhyun sekilas membuat Chanyeol luluh, ia-pun mengangguk dengan tangannya yang menggenggam jemari Baekhyun.

"Baiklah. Hati-hati. Beritahu aku jika sesuatu terjadi. Entah itu baik atau buruk."

"Ara. Aku pergi." Jongin meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun, dengan kaki panjangnya berusaha menyusul Sehun yang mobilnya sudah tidak terlihat di basement. Jongin harus bertindak lebih cepat sebelum kehilangan Sehun.

Daripada berniat membantu pencarian, kenyataannya Jongin lebih khawatir jika Sehun mengalami kecelakaan lalu lintas akibat tidak fokus mengemudikan mobilnya.

Dua jam berlalu. Hari mulai menggelap dan angin berhembus dengan kencang. Rupanya musim gugur telah mengambil alih tugas musim panas akhir-akhir ini.

Ruangan itu semakin sepi setelah ditinggalkan oleh dua orang. Sementara dua orang lainnya, tidak tahu harus melakukan apa di tengah kekacauan di luar sana. Hanya Chanyeol yang beberapa kali menelepon anak buahnya untuk ikut membantu pencarian Luhan dan Li Juan.

Keduanya masih berada di posisi yang sama. Duduk berdampingan di sofa dengan tangan saling bertaut namun pikiran yang melayang di tempat berbeda.

Baekhyun mengkhawatirkan keselamatan Luhan dan Li Juan yang menjadi korban keserakahan ayah dan kakaknya. Bahkan Baekhyun sudah melupakan rasa sakit di punggung ataupun memar di wajahnya.

Sedangkan Chanyeol menjadi pihak yang khawatir terhadap kondisi fisik dan mental Baekhyun. Diam-diam Chanyeol menatap luka sobek di bibir Baekhyun, memeriksa apakah Baekhyun masih kesakitan meskipun Chanyeol sudah mengobatinya dengan cairan antiseptic bebepa menit yang lalu.

"S-sepertinya…"

Suara kecil Baekhyun rupanya mampu mengusik perhatian Chanyeol. Lelaki itu tersadar dari lamunannya, kemudian memberikan tatapan penuh tanda tanya.

"Apa, Baek?", tanya Chanyeol lembut, menyadari bahwa Baekhyun sedang ingin mengatakan sesuatu yang penting.

"Sepertinya… aku tahu dimana tempat itu."

Chanyeol membisu beberapa saat. Ia menatap Baekhyun yang juga tengah menatapnya. Mata puppy Baekhyun menyiratkan keseriusan, tidak ada kebohongan sedikitpun disana.

"K-kau serius?" Chanyeol memang tidak yakin, namun juga tidak menampik jika raut serius Baekhyun meminta untuk dipercayai.

Baekhyun-pun tahu ia tidak boleh mengatakan hal yang belum pasti. Bisa saja itu adalah bangunan yang mirip dengan rumahnya dulu.

Ya, tinggal bertahun-tahun disana sebelum orangtuanya bercerai dan sang Ibu memutuskan untuk kembali ke desa, membuat Baekhyun hafal sisi-sisi rumah itu meskipun tertutup debu dan termakan waktu.

Dan meskipun kebenarannya belum pasti, hati Baekhyun seratus persen yakin jika Seungho memang menyekap Luhan ke rumah itu.

"Aku serius. Tapi aku tidak tahu kebenarannya-"

"Kau masih ingat alamatnya?", sela Chanyeol. Ia tidak menanggapi setitik keraguan yang Baekhyun miliki. Bagi Chanyeol, dengan mengungkapkan isi hatinya, Baekhyun berhasil memberikan sebuah petunjuk penting. Untuk benar atau tidaknya, Chanyeol tidak mempermasalahkan hal itu.

"K-kurasa, ya." Baekhyun mengangguk dan secepat angin tangannya di tarik oleh Chanyeol.

"Kita kesana! Aku akan memberitahu Jongin.", ucap Chanyeol final, melangkah lebar sementara Baekhyun sedikit berlari di belakangnya.

Chanyeol tidak menyadari bahwa Baekhyun meringis di belakangnya. Nyeri di punggungnya kembali terasa sangat menyakitkan. Namun Baekhyun berusaha menahannya, berharap Chanyeol tidak akan menyadari keanehan atau lelaki itu memutuskan untuk tidak jadi pergi.

Itu terdengar sangat buruk. Baekhyun tidak setega itu untuk membuat Luhan semakin menderita seandainya Luhan memang berada disana.

Jongin memelankan laju mobilnya saat mobil di depannya berhenti di tepi laut. Ia tidak berniat keluar dari mobil, meskipun ia melihat dari temaram lampu, Sehun keluar dari mobilnya dengan wajah dan pakaian sama-sama kusut. Ia membiarkan Sehun dengan dunianya sendiri, sibuk dengan ponsel ataupun putus asa yang menguasainya hingga ia berulang kali berteriak. Tidak perduli dengan kombinasi angin pantai dan angin musim gugur yang mampu membuat tubuhnya menggigil kedinginan.

Bukannya Jongin tidak perduli. Lebih tepatnya, Jongin tidak ingin mengganggu Sehun. Mungkin dengan bertindak seperti itu, Sehun mampu menumpahkan emosinya dan bisa lebih tenang.

Sudah dua jam, namun tidak ada petunjuk yang berarti. Tidak untuk anak buah Sehun, ataupun Sehun sendiri yang mengemudikan mobilnya di seluruh penjuru kota Seoul. Tapi nihil. Byun Taehyung dan Byun Seungho sangat rapi menyimpan Luhan dan mungkin Li Juan di suatu tempat yang tidak terendus. Dan juga, nomor ponselnya yang tidak terdaftar sangat sulit untuk di lacak.

Pengamatan Jongin terhadap Sehun harus berakhir tatkala ponselnya berdering dan nama Chanyeol tertera di layar ponselnya. Jongin menegakkan tubuhnya, mempersiapkan diri untuk kemungkinan kabar buruk lain dari Chanyeol, entah apa itu.

"Hallo, Chanyeol-ah?"

"Jongin-ah, apa kau bersama Sehun?"

"Ya. Ia baru saja keluar dari mobil dan mengacau di tepi laut. Aku tidak berani mengganggunya. Ada apa?"

"Datanglah secepatnya ke alamat yang baru ku kirimkan. Kita harus kesana untuk memastikan sesuatu."

Jongin melirik layar ponselnya sekilas dan menemukan symbol pesan yang mungkin itu yang di maksud oleh Chanyeol.

"Alamat apa itu?"

"Aku akan memberitahumu nanti. Sekarang pergilah ke alamat itu bersama Sehun. Aku akan menunggumu."

"Ara-"

Klik!

"Ish!", kesal Jongin karena Chanyeol menutup sambungannya dengan tiba-tiba. Lebih kesal lagi saat ia tidak mengetahui alasan mengapa Chanyeol memintanya dan Sehun untuk pergi ke alamat itu.

"Tunggu!" Jongin seolah menyadari sesuatu yang penting. "Apa Chanyeol sudah mengetahuinya?"

Hanya itu yang mampu Jongin pikirkan. Karena itu, Jongin lantas membuka pintu mobilnya hingga membuat Sehun terkejut. Mungkin dirinya terlalu kalut hingga baru mengetahui jika Jongin mengekorinya sejak tadi.

"Jongin-ah, apa yang kau lakukan-"

"Itu tidak penting. Sekarang, kau ikut denganku!" Jongin menyeret paksa lengan Sehun untuk segera masuk ke mobilnya. Namun, tentunya tidak semudah itu Sehun menuruti perintahnya.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa aku harus ikut denganmu? Aku harus mencari Luhan-"

"Lalu kau hanya akan mencarinya tanpa tujuan?!" Jongin tiba-tiba menyela. Tanpa sadar menaikkan nada suaranya hingga Sehun harus berfikir keras.

"Apa kau sudah tau…"

Jongin tidak menjawab. Hanya tangannya yang bergerak kembali, menyeret lengan Sehun hingga lelaki itu berakhir di bangku samping kemudi dan Jongin duduk di sampingnya.

"Biarkan mobilmu disini. Aku akan mengurusnya besok.", ucap Jongin sebelum mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

"Apa kau benar-benar tahu dimana Luhan?"

"Aku tidak yakin. Tapi tidak ada salahnya untuk memastikan.", gumam Jongin, yang mampu di dengar samar-samar oleh Sehun.

Toh Jongin memang tidak tahu dengan pasti, sebab Chanyeol juga tidak memberitahunya. Ia hanya menuruti instingnya, seperti seorang dokter yang selalu berhasil menebak penyakit pasiennya.

Luhan sudah lelah menangis. Ia kehilangan banyak tenaga untuk menangis dan mencoba melepaskan diri dari ikatan tali yang sangat erat.

Ruangan yang menaunginya semakin menggelap. Jendela kecil di ujung ruangan sama sekali tidak membantu untuk memberi petunjuk Luhan dimana ia berada. Sedangkan ia sendiri, entah kemana Taehyung ataupun Seungho. Mungkin lelaki itu pergi mengingat Luhan sempat mendengar deru mobil dinyalakan dan semakin menghilang.

Itu artinya Luhan benar-benar sendiri di ruangan pengap dan gelap itu.

"Sehun…"

Luhan tidak ingin menangis, namun air matanya seolah menerobos ingin keluar. Hatinya memanggil Sehun, mewakili mulutnya yang tertutup oleh lakban, berharap Sehun akan menolongnya secepat mungkin dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Tanpa harus kehilangan perusahaan Ayahnya, ataupun janinnya.

Mengingat itu Luhan menunduk, menatap perutnya yang masih rata karena sang bayi masih sangat kecil berlindung di rahimnya. Janin yang seolah sudah bisa memahami situasi sang Ibu yang ketakutan. Perutnya akan terasa kram ketika Luhan menangis dan ketakutan, lalu akan membaik ketika Luhan mulai tenang dan mampu mengendalikan dirinya.

"Tunggu sayang, ayah pasti akan datang dan menolong kita." Luhan bermonolog, mencoba berkomunikasi dengan sang bayi yang bahkan belum bernyawa di perutnya.

"Ibu bahkan belum memberitahu ayahmu tentang keberadaanmu. Jadi, kau harus bertahan, oke?", imbuhnya dengan air mata yang tak kunjung berhenti.

Bohong jika Luhan tidak takut. Setegar apapun Luhan, ia tetaplah seorang perempuan lemah yang ketakutan di kondisi seperti ini.

Ya, Luhan mengakui bahwa dirinya memang perempuan lemah. Perempuan lemah yang terlalu congkak untuk menghadapi semua sendirian, berpura-pura memiliki keberanian meskipun nyatanya itu hanya seujung kuku.

Anggap saja Luhan menyesal. Penyesalan yang terus bertambah seiring dengan wajah Sehun yang terlintas di kepalanya tanpa henti.

"Kau mungkin tidak tahu, tapi... ada suatu masalah besar yang harus tidak bisa memikirkan kebahagiaanku sebelum... sebelum aku menyelesaikan masalah itu."

"Bukan masalahmu, tapi masalah 'kita'. Mari kita menyelesaikanya bersama-sama. Kalaupun aku tidak tahu masalah apa itu, tapi aku akan berusaha mencari tahu untuk membantu menyelesaikannya."

Lalu apa yang Luhan lakukan? Bersembunyi dari Sehun, tanpa membiarkan lelaki itu tahu dan tanpa melibatkannya untuk menyelesaikan permasalahan yang semakin pelik.

"Maafkan aku, Sehun."

Untuk kali ini, Luhan menyadari kesalahannya. Ia telah termakan ancaman Taehyung untuk tidak membiarkan siapapun tahu, hingga melupakan bahwa dirinya kini tidaklah sendiri. Ada Sehun, suaminya, yang sedang berusaha amat keras untuk bisa mendapat kepercayaan Luhan bahwa dirinya telah seratus persen berubah akibat kesalahan masa lalu.

Andai saja Luhan bisa berfikir lebih matang dan tidak bertindak gegabah, ia tidak mungkin terjebak pada kesalahan ini. Kesalahan yang membawanya pada malapetaka. Untuk dirinya sendiri, janinnya yang masih amat kecil, Li Juan, dan juga perusahaan milik sang Ayah.

Dan andai saja Luhan bisa jujur kepada Sehun, mungkin lelaki itu bisa menolongnya dengan segala kecerdasan otaknya dan tidak membiarkan Luhan berperang sendiri dengan tangan bergetar di balik tubuhnya.

Luhan berjanji akan meminta maaf pada Sehun jika ia memiliki kesempatan untuk selamat dan bertemu Sehun-

BRAK!

"LUHAN!"

-dan Tuhan memang masih memberinya kesempatan.

Ketika mata rusanya menangkap siluet sosok yang dihafalnya dari jendela, Luhan seolah menemukan oase di padang pasir.

"Sehun…"

Derap langkah kaki itu semakin mendekat, maka semakin berdebar hati Luhan berharap bahwa siluet itu bukanlah angannya semata.

Satu detik terasa bagaikan berjam–jam bagi Luhan. Ia gagal berteriak, hingga harus menendang apapun yang bisa menimbulkan suara untuk menarik perhatian. Sekali lagi berharap agar Sehun atau siapapun itu bisa menemukannya.

Lalu ketika harapannya mulai menunjukkan titik terwujud, Luhan nyaris menjerit. Ia benar–benar bahagia, terlebih itu benar–benar Sehun. Lelaki yang ia harapkan untuk berada disini sekarang. Disampingnya.

"LUHAN/EONNI!"

Teriakan itu membuat Luhan meluncurkan air matanya kembali. Tapi kali ini kebahagiaan–lah yang mengambil alih.

Jongin, dan Chanyeol berlari menghampiri Luhan, lalu bergegas melepaskan ikatan di tangan Luhan dan lakban yang menutupi mulutnya, sementara Baekhyun membantu dengan memberi cahaya dari ponselnya seraya menahan tangis.

Baekhyun lega. sangat lega karenaakhirnya mereka berhasil menemukan keberadaan Luhan. Ia bersyukur memiliki ingatan yang baik, untuk bisa mengingat dengan jelas seluk beluk rumah masa lalunya lengkap dengan alamatnya hingga ia bisa memberitahu Chanyeol dan menemukan Luhan dengan keadaan yang baik–baik saja.

"Eonni baik–baik saja?", tanya Baekhyun, berjongkok dihadapan Luhan yang telah bebas dari ikatan tali yang menyakitkan.

Anggukan adalah jawaban dari pertanyaan Baekhyun. Baekhyun bisa melihat bagaimana kebahagiaan itu tersirat di mata rusa Luhan. Wanita muda itu seolah menemukan dunianya kembali.

Luhan juga terlihat baik–baik saja kecuali bekas darah kering di ujung bibirnya. Sekali lagi Baekhyun bernafas lega. Setidaknya kakak dan ayahnya tidak melakukan tindakan jauh pada Luhan.

"Syukurlah Eonni bisa selamat.", ucap Baekhyun dengan senyum yang sedikit terpaksa.

Tentu saja. Baekhyun tidak bisa tersenyum lega sepenuhnya sebelum Li Juan jugaditemukan seperti Luhan. Itu artinya, Baekhyun harus memikirkan satu tempat lagi, dimana kira–kira dua pria brengsek itu menculik Li Juan.

"Baekhyun benar. Kurasa aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kau menghilang lebih lama lagi. Dia terlihat sangat kacau." Jongin menambahkan, lalu menoleh ke arah Sehun yang terdiam kaku tanpa menghampiri Luhan. Membuatnya dan Chanyeol saling bertukar pandang, mencoba menebak apa yang sedang Sehun lakukan dengan keterdiamannya.

"Sehun–ah, apa yang kau lakukan disana?", tanya Chanyeol, seketika membuat Luhan menoleh ke arah suaminya.

Benar. Sehun belum melangkahkan kakinya untuk menghampiri Luhan seperti yang lainnya lakukan. Lelaki itu berdiri cukup jauh dan tatapan matanya menajam, tepat menembus mata sembab Luhan yang membutuhkan jawaban.

Jadi…

Bukan ini yang Luhan harapkan!

Bukan tatapan dingin atau amarah yang terlihat jelas di mimik wajah Sehun yang Luhan inginkan. Bukan pula keterdiaman lelaki itu hingga ia hanya berdiri dengan jarak yang jauh dari Luhan tanpa berminat menghampiri istrinya.

Luhan seolah kehilangan diri suaminya dan manusia didepannya hanyalah orang lain.

Lalu dimana Oh Sehun yang ia kenal? Luhan sangat menginginkan dekapan hangat dari Sehun, atau setidaknya kata-kata menenangkan yang mampu menghilangkan ketakutannya hingga tak tersisa. "S-sehunah…" –bahkan suara lirih Luhan terdengar seperti memohon.

"Sehun! Apa yang kau lakukan disana?" Chanyeol mengulang pertanyaan yang sama. Membutuhkan jawaban atas keanehan dari sahabatnya itu. Chanyeol dan Jongin tahu benar, Sehun tidak mungkin tidak bahagia dengan keberadaan Luhan yang secara nyata berada di depannya. Lelaki itu sudah mencari berjam–jam lamanya, menyebar banyak anak buah untuk melakukan pencarian, dan mengesampingkan rasa lelahnya.

Lalu apa lagi yang ia ragukan?

"Bawa dia ke mobil. Aku akan mempersiapkan mobilnya."

Dan kalimat singkat itu, berhasil membuat Luhan jatuh dari ketinggian angan-angannya untuk mendapatkan setitik kekhawatiran Sehun. Dadanya seolah terhempas kuat, bersamaan dengan ingatan masa lalu yang menyakitkan memenuhi otaknya.

Sehun juga pernah bersikap yang sama, dulu…

Ketakutan kembali menyergap dada Luhan. Hal yang jauh lebih menakutkan daripada terkurung di ruangan gelap selama beberapa jam adalah ketakutan bahwa Sehun kembali tidak memperdulikannya, mengabaikannya, dan mungkin berniat meninggalkannya.

Hal yang membuat Luhan mendapat setitik kekuatan untuk berdiri di atas tungkai kakinya yang masih bergetar dan lemah, mencoba berdiri dan menggapai punggung Sehun yang sudah berlalu.

"S-sehun… Sehun…"

Lelaki itu hilang tertelan pintu, bersamaan dengan suara Luhan yang tercekat di tenggorokannya.

Bahkan Sehun tidak berbalik meskipun Luhan yakin suaranya cukup terdengar di telinga Sehun.

Detik itu pula, Luhan kembali terjatuh. Rasa sakit di perutnya kembali menyiksa, menjadikan kesakitan Luhan bertambah ribuan kali lipat. Kesakitan yang melibatkan fisik dan hatinya. "Akh…"

"LUHAN-SSI!"

Keterdiamanmu adalah kesakitanku. Punggungmu yang menjauh adalah kesengsaraanku. Jika kau diam dan menjauh, lalu, bagaimana caranya aku untuk bertahan?

TBC