Judul : The legend of prince wind

Chapter 20:

Author : KyuuGa C'orangan SaWaH

Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^

Rate : T+

Genre : fantasy, adventure, hurt and romance.

Pair : NaruHina, SasuSaku

ooOoo

Bulan berteger dengn utuhnya, memperlihatkan kekuasaannya di langit malam. Memberikan sedikit kegelapan dalam hutan terlarang yang lebat, menyisahkan kesunyian dalam detik waktu menanti kehancurannya.

Suara gemersik, dahan-dahan yang patah terdengar sahut menyahut mengisi keheningan hutan terlarang. Samar-samar dari balik pepohonan terlihat seonggok tubuh yang berasap berjalan tertatih diantara semak-semak, tak peduli itu batu, dahan, pohon tumbang, sosok itu terus berjalan menuju sinaran cahaya bulan yang menyisip disela-sela pepohonan.

Tubuhnya yang berasap jatuh bersimpuh di bawah sinaran bulan, menengadahkan wajahnya ke langit malam tanpa bintang. Perlahan dia membbuka matanya memperlihatkan sepasang iris onyx yang lembab, pipinya yang terkena noda hitam perlahan menghilang terbawa arus deraian air matanya.

Iris onyx itu sekali lagi melihat langit malam yang tak berbintang, mungkin dia mencoba menghibur dirinya dengan melihat bintang. Tubuh yang terlihat kelelahan itu kini perlahan jatuh terkapar di atas rerumputan yang basah, sakit seluruh tubuhnya terasa sakit.

Akankah dia segera mati? Mati di tempat sesunyi ini? Mati dengan cara seperti ini? Sungguh kisah hidup yang menyedihkan, dia adalah seorang putra bangsawan terkemuka di Konoha city, dia adalah seorang elf murni, dia adalah seorang pewaris elemen api.

Tapi kenapa hidupnya berakhir seperti ini?

Sirna sudah semua kebanggaannya, hilang sudah semua mimpi-mimpinya. Semuanya harus berakhir disini, dengan cara seperti ini, sungguh ironis.

Di saat-saat terakhir seperti ini semuanya mulai terlihat jelas, tentang untuk apa dia lahir, untuk apa dia hidup, untuk apa dia bertemu mereka?

Hanya untuk menyaksikan dia mati di tempat seperi ini, dengan cara seperti ini.

"Selamat tinggal semuanya, selamat tinggal. Aku akan pergi menemui nii-san dan okaa-sanku," yah, tak apalah jika dia sedikit manja di saat terakhirnya ini.

Perlahan iris onyx itu menutup, melihat langit malam untuk terakhir kalinya.

Hiks, hiks, hiks.

Degh!

Ada apa ini? Kenapa ada suara tangis yang terdengar? Apa ada orang yang bersedih atas kematiannya? Apa ada orang yang menemukannya terkapar sendirian ditengah hutan dan merasa iba padanya?

Berhentilah mengangis, bocah uchiha itu tidak akan sudi ditangisi seperti itu.

Hiks, hiks, hiks.

Tapi, kenapa suara tangisan itu terdengar dari kejauhan?

Iris onyx yang tadinya akan tertup kini terbelak saat mendengar suara tangisan dari kejauhan, dengan susah payah dia bergerak berdiri, menompa tubuhnya yang kesakitan dengan kakinya yang lemas.

Angin malam yang berhembus kembali menerbangkan dedaunan, mengggoyangkan dahan-dahan pohon, menciptakan irama tersendiri di tengah kesunyian hutan. Dalam samar-samar penglihatannya, di bawah penerangan bulan yang tak begitu terang, iris onyxnya menagkap seulet bayangan di bawah pohon raksasa.

Mungkinkah itu malaikat yang datang untuk mencabut nyawanya?

Meski langkah kakinya terasa berat dan sakit, dia tetap memaksanya untuk mendekati sang malaikat, dia ingin menemui sang malaikat itu sendiri dan meminta untuk segera mengakhiri hidupnya yang tak berarti ini.

Srek, srek, srek.

Suara kaki yang diseret sepertinya mengagetkan sang malaikat, karena sontak sang malaikat berdiri begitu melihatnya mendekat.

Seulas senyum pasrah tergambar di wajah kusut miliknya menemukan kenyataan bahwa ternyata malaikat itu tak memiliki sayap seperti dalam cerita-cerita. Malaikat ini terlihat seperti seorang bidadari dengan surai yang uniknya.

Pink.

Pink? Kenapa malaikat itu mengingatkannya dengan sang gadis kecil itu? kenapa di saat dia akan mati gadis kecil itu malah terbayang dalam ingatannya, oh tidak! Di tidak ingin akhir dari hidupnya makin menyedihkan lagi dengan bayangan gadis kecil itu.

"Sasuke-kun!"

Bahkan suara sang malaikat itu pun terdengar sama dengan suara gadis kecil, apa dia sedang berhalusinasi? Mungkin dia terlalu membayangkan si gadis kecil itu hingga terbawa seperti ini?

Tap, tap, tap.

Iris onyx itu mencoba melihat dalam keremangan cahaya bulan, dan pandangan yang mengabur untuk bisa menangkap sosok yang kini tengah berlari menghampirinya. Oh, tidak. Sepertinya tubuh sang uchiha ini mulai goyah, dan tak mampu menompang beratnya. Dan,—.

Sreett!

Pengangan sang uchiha bungsu ini pun terlepas dari sandarannya, jatuh menimpa tanah yang bisa saja merebut nyawanya dalam sekali hentakan.

Hap!

Degh!

Sentuhan ini? Apa ini? Sebuah tangan yang indah dan wangi? Inikah sentuhan tangan malaikat itu? apa dia akan segera mencabut nyawa sang uchiha ini?

"Sasuke-kun, bertahanlah!"

Suara itu lagi, kenapa terdengar begitu familiar di kuping sang uchiha? Mata yang terasa berat itu mencoba membuka, melihat dan memastikan jika yang memeluknya ini adalah malaikat bukannya si gadis kecil itu.

Surai pink sebahu yang dihhiasi mahkota dedaunan bertahta tiara, iris emeraldnya yang berkaca-kaca namun tetap terlihat indah.

"Indah? Apa aku baru saja bilang indah?" inner sang uchiha menyadari ucapan batinnya. Malaikat ini benar-benar mengingatkannya pada gadis kecil itu, mereka sangat mirip. Iris emerlad mereka mampu membuatnya tenang,

"Sasuke-kun, ini aku sakura! Bertahanlah, aku akan mencari bantuan!"

Sakura? Mengapa melaikat ini ingin berpura-pura menjadi sakura? Apa dia ingin membuat akhir hidup dari sang uchiha ini menjadi lebih menyedihkan.

Sasuke mencoba menggenggam tangan sang malaikatnya, dia menggenggam dengan erat. Mempertajam penglihatannya yang mulai meredup, mencoba menyadarkan sang malaikat jika dia tak akan tertipu.

"Ji, jika kau ingin mengambil nyawaku. Ambil saja, tak perlu kau mengaku sebagai sakura," dengan terbata-bata sasuke ingin mendamprat sang malaikat itu, tapi dia pun tak mampu.

Sang malaikat, bukan. Dia bukan malaikat yang akan mencabut nyawa sang uchiha ini, tapi dia seorang elf. Si elf tumbuhan, aka Sakura.

Sang elf cantik terhentak dari kesedihannya saat mendengar kata-kata sasuke yang bagai tak ada harapan, perlahan dia mengangkat tubuh sasuke ke dalam dekapannya. Memeluknya, memberikannya persaan yang selama ini ingin dia berikan.

"Apa yang kau katakan, sasuke. Aku tidak akan membiarkan mu mati," deraian air mata yang tak sanggup ditahan akhirnya tumpah ruah membasahi dada bidang sasuke.

Hangat, pelukan ini? Sepertinya sasuke pernah meresakannya, kehangatan ini? Sepertinya dia juga pernah merasakan ini. Dan, perasaan ini? Semuanya sama dengan saat itu.

"Sakura," suara berat sasuke terdengar pelan dalam selaput gendang sakura.

"Yah, ini aku sasuke-kun," kata sang elf cantik itu.

"Benarkah ini dirimu?" tanya sasuke meragukan perasaannya.

"Yah, ini aku sakura. Aku sakura, sasuke-kun," ulang sakura demi meyakini sasuke jika ini adalah dirinya.

"Tapi, kenapa kau terlihat berbeda?" meski terlihat kepayahan, sasuke mencoba untuk bertanya.

"Ini wujud ku yang sebenarnya, lihatlah. Lihatlah mataku ini, kau bisa mengenali ku dari mata ku ini," ucap sakura menunjukan wajahnya pada sasuke.

Sasuke hanya membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan, iris onyxnya terlihat makin memucat. Perlahan kelopak matanya bergerak menutup menyembunyikan keindahan mata yang hampir hilang itu.

"Sasuke-kun!" ratap sakura makin menjadi saat dia melihat sasuke memejamkan matanya. "Aku mohon, bertahanlah. Jangan mati, jangan tinggalkan aku!" ratap sakura memecah mengisi udara dalam hutan terlarang.

Hening, hanya ada suara isakan pelan dari sakura, dan suara desiran angin yang mempermainkan dedaunan.

Srek, perlahan suara tangis sakura berhenti, dia terlihat binggung mendapatkan kepala sasuke bergerak pelan merapat ke tubuhnya.

"Sasuke-kun?" sakura telihat bingung, apalagi tangan sasuke bergerak memeluk tubuhnya.

"Ternyata dadamu tidak begitu rata," gumam sasuke dengan senyum usil, mengingat saat mereka pertama kali bertemu. Dasar dada rata!

Semburat mereha seketika hinggap di pipi sakura mendengar ocehan sasuke, dia pun kembali terngiang panggilan sasuke padanyaa saat mereka masih di Konoha city. Dada rata?

"Sasuke-kun!" balas sakura tersipu malu seraya memeluk kepala sasuke dengan lembut.

"Tetap seperti ini sampai aku tertidur," lanjut sasuke yang makin merapatkan pelukannya.

Sakura hanya tersenyum bahagia melihat sasuke yang mulai tenang. Sasuke, apapun, apa-pun itu akan sakura lakukan agar dia bisa melihat mu bahagia. Senyum bahagia sakura makin melebar saat dia mendengar suara dengkuran lembut sasuke yang terlelap dalam leltihnya.

Suasana hening kembali mengisi udara kosong hutan terlarang, suara dengkuran sasuke terdengar sayup-sayup di tengah hutan yang dingin dan gelap itu. sepasang elf itu terlihat begitu damai dan bahagia dalam keheningan malam, menikmati waktu berdua sendirian di tengah hutan. Menikmati momen-momen yang bisa kapan saja berakhir tanpa komando.

Dalam keheningan, dan kabahagian yang mereka rasakan. Mereka tak menyadari jika kutukan itu kini telah di mulai, meminta tumbal untuk membangkitkan sang terkutuk.

ooOoo

gelap, itulah hal pertama yang sasuke lihat saat pertama kali membuka matanya. Berkali-kali dia mengerjapkan matanya untuk mengembalikan penglihatannya, namun itu tak pernah behasil, karena yang ada hanya kegelapan sejauh mata memandang.

Tak ada lagi sang elf bersurai pirang dengan pelukan hangatnya, tak ada lagi sentuhan lembut itu. yang ada hanya kegelapan. Tempat apa ini, dia berada di mana ini?

Tidak ada yang tahu.

Samar-samar dari kejauhan, dari titik kegelapan yang tak berujung terdengar suara tawa menggema hingga menggetarkan isi kepalanya. Sebuah pusaran di udara tiba-tiba terlihat memperlihatkan sebuah aura berwarna biru, membentuk sosok asing dengan iris merahnya.

Sasuke terbelak kaget saat dia melihat mata sosok itu, mata itu mengingatkannya pada nii-sannya. Dia juga memiliki mata yang hampir mirip seperti itu.

"Siapa kamu?" tanya sasuke pada sosok itu.

"Aku adalah Madara, akulah yang bersemayam dalam dirimu selama ini," kata sosok itu dengan seringan lebarnya.

"Madara? jadi kau yang selama ini di segel dalam tubuhku?" tanya sasuke.

"Yah, inilah saatnya, sasuke."

"Saatnya? Saatnya untuk apa?"

"Saatnya untuk menyerahkan tubuhmu," setelah mengatakan itu, sosok itu perlahan melayang mendekati sasuke.

"Tubuhku?" sasuke tampak tak percaya medengar ucapan madara.

"Tubuh asli ku telah hancur, aku butuh tubuh baru untuk bangkit," lanjut madara makin mendekat pada sasuke.

Sementara sasuke mendengar itu bergerak mundur.

"Inilah takdir mu sasuke, kau tak bisa menghindarinya."

"Takdir? Takdir adalah segala sesuatu yang telah terjadi, ini bukanlah takdirku!" dengan tegasnya sasuke menolak menyerahkan tubuhnya.

"Kau menolak takdirmu? Kau tak akan bisa, sasuke!" suara sosok itu mulai terdengar geram.

"Kita lihat saja!" balas sasuke menyiapkan kuda-kuda.

"Kau tak akan bisa mengalahkan ku di dunia ku sendiri, payah!" kata madara melihat reaksi sasuke yang menantangnya, dia pun segera mengarahkan tangannya ke arah sasuke.

Melihat itu, sasuke sedikit bingung. "Apa yang akan dia lakukan?" batin sasuke menyiapkan segala kemungkinan terburuk.

"Apa kau takut?" tanya madara.

Sasuke menyerngit kaget, sebuah pusaran angin bergerak keluar cepat dari telapak tangan madara.

Iris onyx sasuke berubah mode, tanpa melakukan segel tangan, sasuke mengeluarkan api merah dari telapak tangannya. Bersiap mengahadapi serangan madara.

Namun, sasuke kembali di buat terkejut, pusaran angin kini berubah menjadi air. Pusaran air bergerak cepat begitu dilepaskan madara, tak tinggal diam sasuke pun melepaskan serangannya.

Dhuuuaaarrr!

Ledakan besar terjadi, namun tempat gelap itu tetap terlihat gelap.

Kepulan asap seketika menutupi pandangan, sasuke tak bisa melihat dimana dan sedang apa madara. dia hanya mempertajam penglihatannya, dan menerka-nerka ada dimana madara sekarang.

Syut, syut, syut.

Sasuke terbelak kaget, kerikil-kerikil batu dengan cepat melayang menembus kabut asap dan mengenai tubuhnya yang tak menyangka akan diserang seperti itu, dia bahkan tak bisa bergerak menghindar dari serangan itu.

Bruk! Sasuke terjatuh dengan luka di sekujur tubunya. Kini kabut asap itu menghilang tertiup angin, dan madara melangkah mendekat padanya.

"Kau bisa menggunakan elemen angin dan tanah?" tanya sasuke tak percaya melihat madara bisa menggunakan dua elemen yang bukan elemennya.

"Aku pernah menyerap kekuatan keempat elemen itu, meski tak sekuat saat kyuubi bersamaku. Kau tak akan mampu melawan ku dengan kemampuan mu seperti itu, sasuke. Sebaiknya kau serahkan tubuhmu," ucap madara seraya mengerahkan tangannya untuk menyentuh sasuke.

"Tidak!" madara dibuat tertahan karena sasuke masih saja mencoba menghindar. "Aku, aku tidak akan menyerahkan tubuh ku!"

"Kau!" geram madara makin muak, iris merahnya kini berubah mode, dengan cepat dia membentuk sebuah segel yang rumit. beberapa phytogram bermunculan mengelilingi sasuke, dan hanya dalam sekejap sasuke yang tak tahu apa-apa kini mematung.

"Sekarang kau dalam pengaruhku, tetaplah disini untuk selamanya!" kata madara dengan tawa yang menggelegar karena dia berhasil mendapatkan sasuke, dan saat-saat yang paling dia nantikan akan segera terwujud.

Madara, mendekati tubuh sasuke yang mematung. Dia menyentuh segel di pundak sasuke, dengan begitu tubuhnya yang berupa kumpulan energi tersedot kedalamnya.

Sementara itu di dalam diri sasuke.

"Brengsek kau! Keluar kau dari tubuhku!" teriak sasuke mencoba meronta melepaskan dirinya dari sihir madara.

"Tidak, di luar sana ada sakura!" sasuke teringat pada sakura yang berada dekat dengan tubuh aslinya.

"Sakura! Sadarlah, pergi dari sini! Aku mohon, sakura. Pergilah! Aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu!"

Namun sayang, suara sasuke hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Dia hanya bisa melihat sakura yang terlelap tidur sambil memangku kepalanya.

ooOoo

angin pagi bertiup dengan lembut membelai surai pink dan raven yang kini tengah terlelap di tengah hutan terlarang, langit cerah dan udara yang hangat perlahan menyadarkan sakura dari tidurnya.

Sakura tersenyum bahagia saat dia menemukan sepasang iris onyx menatapnya dari pangkuannya, iris onyx yang menggelap, mengandung kegelapan.

Perlahan sasuke mencoba bangun, dan di bantu sakura. Kini mereka duduk berhadapan, saling menatap iris masing-masing. Senyum manis masih terus terukir di wajah manis sakura membuat sasuke semakin sedih.

Sasuke kini mencoba berdiri dengan kaki-kakinya yang masih lemas, menlihat itu sakura mencoba menolongnya, namun dengan cepat di tepis sasuke. Hal itu spontan membuat sakura terkejut, dia tak mengerti kenapa sasuke tiba-tiba bersikap kasar padanya.

Sasuke tahu, sakura pasti heran melihatnya bersikap seperti itu. tapi dia memang harus melakukan itu, dia harus membuat sakura menjauh darinya. Tanpa peduli pada ekspresi sakura yang kecewa sekaligus sedih melihatnya, sasuke kini berpaling dan melangkah tertatih menjauhi sakura.

"Sasuke-kun!" panggil sakura mencoba menahan sasuke, namun sasuke tetap tak memperdulikannya.

"Pergilah sakura," inner sasuke. Tubuhnya yang lemas itu kini makin bergetar, keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.

Sakura tak tahan, dia tak tega melihat kondisi sasuke seperti itu. tanpa peduli pada sikap sasuke yang telah berubah padanya, sakura berlari mendekati sasuke dan memapahnya.

"A, apa yang kau lakukan sakura?" tanya sasuke terkejut melihat sakura memapahnya.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, akan ku bawa kau ke negeri tersembunyi," kata sakura.

Sasuke terbelak kaget, spontan dia mendorong sakura menjauhinya.

"Kau kenapa, sasuke? Izin kan aku merawat mu!"

Tiba-tiba tubuh sasuke makin bergetar hebat, tanda segel kutukan mulai berasap dan menjalari sebagian pundaknya. Begitu merasakan perubahan itu, sasuke menatap ketakutan pada sakura.

"Sakura, pergilah," dengan suara bergetar sasuke mencoba mengatakannya pada sakura.

"Tidak, aku tidak akan meninggalkan mu!" tegas sakura sambil mendekati sasuke, namun sasuke kembali bergerak mundur menjauh dari sakura.

"Jangan mendekat," pinta sasuke katakutan.

Sakura makin sedih melihat ketakutan dan kesedihan di mata sasuke, membuatnya semakin tak bisa meninggalkan sasuke.

"Aku sudah bilang, aku tidak akan meninggalkan mu! Aku tidak akan takut jika akan mati ditangan mu," kata sakura makin mendekat pada sasuke.

"Ukh!" sasuke seketika merintih kesakitan, tubuhnya jatuh kesakitan, rasa sakit di pundaknya makin terasa neyeri.

"Sasuke-kun!" teriak sakura ketakutan seraya berlari mendapati tubuh sasuke, dia dekap tubuh sasuke yang menghangat itu ke dalam pelukannya.

"Sa, sakura. Maafkan aku, jika aku selalu membuatmu berada dalam kesulitan," ucap sasuke tersendat-sendat menahan rasa nyeri di pundaknya, dia mendorng pelan tubuh sakura menjauh darinya.

"Tidak, sasuke-kun."

"Maafkan aku, tapi kau harus pergi. Pergi tinggalkan aku sendiri," sakura menatap sedih pada sasuke yang kini menatap sedih padanya.

"Karena aku tak bisa menahannya lagi, pergilah," kata sasuke dengan nada momohon seraya merebahkan kepalanya untuk terakhir kalinya ke pundak sakura.

"Sasuke?"

"Terima kasih!" kata sasuke seraya mendorong keras tubuh sakura hingga terpental menjauhinya.

"Sasuke-kuuunn!" teriak sakura saat dia melayang menjauh akibat dorongan sasuke.

Tepat saat itu langit pagi perlahan menggelap, tanda segel kutukan itu siap untuk beraksi. Sebagai tanda kutukan yang selama ini menunggu dalam kegelapan siap bertamu diterang hari, siap memberikan ketakutan dan kegelapan.

"Aaaaakkkkkhhhhh!" teriak sasuke.

Sakura begitu shock melihat tubuh sasuke perlahan di penuhi tanda kutukan, suara teriakannya menggema di seisi hutan terlarang hingga ke kota Konoha yang telah sunyi.

Sakura jatuh terduduk dengan lemas, dia menatap tak percaya pada sasuke yang kini tampak berbeda. Surai ravennya perlahan bergerak memanjang, tubuhnya pun meninggi, iris onyxnya berubah merah dengan tanda yang berbeda.

"Sa-sasuke-kun," tak percaya, tapi inilah yang terjadi. Sasuke telah berubah menjadi madara.

ooOoo

Di Konoha city.

Suasana kota yang telah sunyi itu kini perlahan menggelap dalam gerhana matahari, seluruh penduduk bersembunyi dalam rumah masing-masing. Mereka terlihat ketakutan saat mendengar suara teriakan dari dalam tengah hutan telarang, sang terkutuk telah datang membawa kegelapan dan kehancuran.

Di negeri tersembuyi.

Para elf memandang langit yang menghitam, dan matahari yang terutup sempurna. Kini ketakutan mereka telah terjadi, apalagi dengan suara teriakan di tengah hutan. Mereka saling pandang, saling bertanya itukah sang terkutuk? Apakah dia telah bangkit?

Tampak diantara mereka ada naruto berdiri bersama hinata menatap langit siang yang menggelap.

"Inikah saat itu?" tanya naruto.

"Yah, naruto-kun. Dia telah bangkit," jawab hinata mengalihkan pandangannya dari langit ke tengah hutan telarang.

"Aku akan kesana, aku akan menolong sasuke!" kata naruto kemudian menghilang.

Sret! Hinata yang tak menyangka naruto akan melakukan itu terkejut saat dia tidak menemukan naruto di sampingnya.

"Naruto-kun!" panggil hinata, namun percuma naruto sudah tak terlihat.

ooOoo

Sementara itu di tengah hutan terlarang, tepatnya di puri markas akatsuki.

"Akhirnya, saat yang di tunggu-tunggu oleh elf api murni telah tiba," gumam obito dengan senangnya.

"Yah, inilah saat kita. Saat gerhana matahari selesai kekuatan kita sebagai elf api murni akan bangkit," tambah fugaku yang masih terlihat sedih.

"Kau tak perlu sedih, untuk mencapai suatu tujuan harus ada yang dikorbankan."

Fugaku menatap sedih pada konan, sementara Pain tetap fokus pada gerhana matahari. zetsu yang sedari tadi diam kini angkat bicara, dia menunjuka ke sisi hutan terlarang.

"Aku melihat sasuke disana, dia telah berubah menjadi madara."

Smua yang mendengar itu terbelak kaget.

"Sasuke adalah reingkarnasi dari madara," tambah zetsu membuat fugaku makin terkejut.

Kita kembali lagi ke negeri tersembunyi.

Diantara kegelapan yang menyelimuti negeri tersembunyi hinata berlari mencari kakashi diantara kerumunan para elf prajurit yang disiapkan untuk melawan madara. setelah menemukan kakashi, hinata mulai menceritakan apa yang terjadi.

"Dia terlalu ceroboh," ucap shikamaru yang saat itu juga berada di dekat kakashi.

"Kita harus segera menolongnya!" pinta hinata.

"Itu memang yang harus kita lakukan, Shikamaru kau dan yang lainnya tetap berjaga disini, aku akan pergi menyusul naruto," perintah kakashi.

"Aku ikut," kata hinata.

ooOoo

Sakura melihat langit yang telah menggelap serta matahari yang utuh tertutup, kini dia telah bangkit.

Kembali sakura melihat sosok yang berdiri dengan napas yang memburu di depannya, memastikan untuk terakhir kalinya.

"Sa-sasuke-kun!"

Sebuah seringai jahat terukir di wajah yang menghitam itu, memperlihatkan kegelapan di dalamnya. Kini. Tidak ada lagi ketakutan dan kesedihan di tatapan itu, yang ada hanya kegelapan. Tidak ada lagi wajah yang dingin itu, kini wajah itu berganti menjadi arogan.

"Ha, hahahahahaha! Akhirnya aku bangkit, akhirnya! Ahahahahaha!" suara tawa sosok itu terdengar membahana.

Sakura terdiam, rasa takut perlahan merayapi hatinya melihat sosok yang jelas-jelas tidak memperlihatkan jati diri sasuke yang dia kenal.

"Apakah kau madara?"

Degh!

Sosok itu, menghentikan tawanya dan menatap heran pada sakura. Kemudian dia melayang mendekati sakura, melihat itu mau tak mau membuat sakura makin ketakutan dan begerak mundur tanpa diperintah.

"Ahahahaha! Yah, aku adalah madara," jawab sosok itu dengan tatapan jahatnya menatap ingin membunuh sakura.

"Me, mengapa kau menggunakan tubuh sasuke?!" dengan keberanian yang susah payah sakura kumpul, dia mencoba bertanya.

"Aku terlahir bersama anak ini, sejak kecil aku selalu bersamanya. Di setiap geranaha matahari segel yang mengurungku akan melemah, dengan begitu aku bisa bebas," madara berhenti sejenak, dia melihat tangannya yang menghitam dengan kuku-kuku yang panjang.

"Dengan kata lain, anak ini adalah reingkarnasiku, ahahahahaha!" lanjutnya dengan tawa yang kembali menggelegar.

Sakura tampak tak percaya, dia pikir selema ini tubuh madara disegel dan sasuke yang akan membukanya. Dia sama sekali tak menyangka jika sasukelah madara itu sendiri.

"Kau tampak tak percaya? Kau ingin aku membuktikannya?"

Sakura terbelak kaget karena madara tiba-tiba saja mengarahkan tangannya ke arahnya dan pusaran api keluar dengan cepat.

Tidak, ini terlalu cepat. Dia bahkan tak melakukan segel tangan untuk mengeluarkan sihir, sementara sakura yang terdesak tak sempat untuk membentuk segel, sedangkan serangan madara siap dilancarkan padanya.

"Tidak, sasuke-kun. Jika kau masih berada di dalam, bisakah kau mendengarkan suara ku?" batin sakura berharap dari sisi tergelap madara masih ada sasuke yang mendengar suaranya.

"Jika saat ini aku mati, aku rela. Aku rela, sasuke-kun," lanjutnya seraya memejamkan matanya, pasrah menerima serangan madara.

Syuuuutttt! Bola api itu bergerak cepat ke arah sakura, dan—.

Dhuuaaaarrrr!

Ledakan besar pun terjadi.

ooOoo

jauh, di dalam diri madara yang gelap. Di kegelapan yang menyesakan mata, kegelapan yang perlahan mengikis hati yang ketakutan.

Tampak sasuke yang masih mematung dalam pengaruh sihir madara, dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang madara lakukan. Dia bisa melihat dengan jelas elf pink itu, dia bisa melihat dengan jelas gadis kecilnya menatap ketakutan padanya. Tatapan yang membuat hatinya yang sesak makin menyesakan.

"Sakura," sasuke begitu kaget melihat sihir madara yang dia arahlan pada sakura, membuat ketakutannya makin menggila.

"Hentikan!" teriak sasuke entah pada siapa. "Aku bilang hentikan, aku tak akan memaafkan mu jika kau berani melukainya!" teriak sasuke yang ditujukan pada madara.

Namun sepertinya suara sasuke yang menggelegar itu tak mampu menghentikan keinginan madara. perlahan sasuke melihat dengan jelas bola api itu melayang dengan cepat ke arah sakura, dan—.

Dhuuuuuaarrr!

"TIDAK!" teriak sasuke saat bola api meledak membakar apa yang ada di depannya.

"Aku tidak akan memaafkanmu!" teriak sasuke penuh amarah. Namun sekali lagi, dia tetap tak berdaya dalam segel madara.

"Aaaaaakkkhhhh!" teriaknya menyadari kelemahannya, melampiaskan kemarahannya yang tak bisa menolong sakura, menyalahkan dirinya yang hanya bisa melihat kobaran api di depannya.

"Sakura, maafkan aku!"

ooOoo

TBC.

Akhirnya, satu chap ini khusus SasuSaku jadi juga. Gomen ne, SSL kalo aku ga begitu pandai mendeskripsikan SasuSakunya... dan aku sendiri ga tahu kenapa jdi begini, semoga kalian suka...

Oke, sekarang saatnya balas Review...

uchiha drac: oke!

reyvanrifqi: Oke!

Saladin no jutsu: Yosh!

Namikaze Yuli: ehehehe, jangan mati, nanti reader ku berkurang... ^_^v (just kidding)

Ahaya Uzunami: ehehehe, sangkyuu #blush!

Baca juga fic Prince shadow yah... kok, ga review... #pundung dibawah cpu.

AoiKishi: ahahaha, :D percakapannya lucu,.. saya suka, saya suka.

Hm, ide yang bagus buat kolaborasi anginkyuubi... sangkyuu ne!

Jims001: Yosh!

bala-san dewa hikikomori: yosh!

imahkakoeni: Neji bukan pewaris elemen, yang punya itu Hinata, dan Gaara. Nah, dichap ini mereka udah ketemu kan?

Hm, mungkin 30an kali yah. Soalnya adegan pertempurannya terlalu banyak, dan lagian aku ingin membuat suasana lebih dramatis... hohohoho...

Uzumaki LOVE Hyuga: Yosh, sangkyuu ne!

tataruka: gimana, sasisakunya? Maaf low kurang greget.

Murasaki Nabilah: kenapa nabila-chan minta maaf, nabila ga ada salah kok. Aku juga lebih suka buka FF di HP, lebih asyik.

Hyuuga hikari: yosh!

Guest: Oke!

Meme Chua: panggil kyuuga ato kyuu juga bisa,

Makashi yah udah suka fic saya, .. sampe chapter berapa aku sendiri belum bisa nentuin, soalnya adegan actionnya yang biking banyak...

Sasuke? Dia akan selamat.

Akan ku usahakan yah, soalnya pair utamanya NH. Tapi SS juga pasti ada,..

Nih, aku udah update, jangan lupa reviewnya yah...

Sama-sama!

: Oke!

: wah, jadi kamu sikat dari chap 1-20 ? hebaaattt!

Hayati JeWon: Okeeee!

: iya, gaara emang masih hidup. Cuma di beberapa chap dia ga muncul.

iya, pastinya berpengaruh pada pertempurannya nanti. Dia bisa mati kapan saja, karena kehilangan enerhi kehidupannya.

Oke, sekian dulu balas reviewnya. Arigatou minna!