CHAPTER 21

Place to Return

Hari ini adalah hari terkelam dalam hidupku, sudah seminggu Yunho meninggalkanku namun aku tak merasa tidak akan bertemu dengannya lagi seumur hidupku, aku tetap memasak dengan porsi banyak dan memasak makanan kesukaan Yunho setiap harinya seperti orang bodoh.

"Omma appa tapan pulang?" Tanya moonbin setiap harinya, ia selalu mondar-mandir di depan pintu pada jam biasa yunho pulang dari kantor berharap ayahnya segera pulang, walau hatiku sakit mendengarnya aku masih saja berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa, bahwa ayahnya akan segera pulang.

"Appamu akan pulang telat, kau lebih baik tidur dulu" kataku seraya menyuruhnya untuk pergi ke kamar tapi ia menggeleng kepalanya.

"Appa…Binnie mau ketemu appa" serunya dengan lantang, anak kecil itu tidak bisa tidur sebelum melihat appanya, sudah beberapa hari ia merengek seperti ini dan jawabanku selalu sama setiap harinya.

"Ya sudah kalau begitu kau tunggu disofa saja sambil makan ya" kataku menenangkannya, setelah makan ia pasti akan tertidur pulas dan melupakan kedatangan ayahnya.

"Bin mau makan dengan Appa" katanya kali ini padaku

"Dengar sayang! Kalau kau tidak menurut pada ummamu maka appamu tidak akan datang kesini" kataku sedikit keras terhadapnya, aku tidak berniat menyakitinya namun kepergian yunho dan pertanyaan yang bertubi-tubi dari anak kami sangat menyakitkanku dan anak yang sedang kukandung.

"Iya omma" katanya dengan kepala menunduk, aku ingin memeluknya dan berkata lupakan ayahmu tapi aku tidak bisa, walaupun harapan ayahnya kembali pada kami sangat kecil, aku masih tetap berharap pada sinar sekecil apapun.

Jam dua belas malam aku mengusap lembut rambut binnie yang telah terlelap ditanganku, sedangkan aku terus menatap pada pintu yang sama sekali tidak bergerak. Aku masih berharap ia akan kembali kepelukanku.

.

.

Esoknya dengan harapan yang sama dan tingkah Binnie yang selalu sama setiap harinya aku berusaha melalui hariku dengan gundah.

"Appa tapan pulang?"

Kudengar suara anakku dari ruang tengah, buru-buru kudekati arah suara itu dimana bin sedang memegang telepon rumah dan berbicara dengan seseorang

"Bin!"

"Shhht…omma ini appa" katanya dengan polos padaku lalu ia melanjutkan percakapannya lagi pada seseorang di telepon, karena penasaran aku segera merebut telepon itu dari tangan mungilnya, seketika hatiku langsung bergetar mendengar suara bassnya berkata padaku.

"Binnie sayang ada apa?" Tanya suara dibalik telepon itu

"Ini aku…Jae" kataku mencoba melepaskan suara beratku , sedikit marah namun penuh kerinduan, aku mencoba setegar mungkin mendengarkan suaranya.

"Oh kau jae…moonbin tadi menelepon ke kantor, aku tidak tahu bagaimana ia melakukannya tapi kurasa ia hapal nomor extensi yang sering kugunakan jika menelepon sekretarisku dari sana"

"Oh" kataku pendek, jeda agak lama diantara kami sampai ia kembali berbicara.

"Bagaimana kabarmu dan anak yang kau kandung?"

"Menurutmu?"

"Kalian pasti menderita karenaku"

"Tapi kami masih bisa hidup, terimakasih karena semua uangmu" kataku menyindirnya

"Jae…maafkan aku, aku hanya ingin kalian selalu bahagia"

"Aku selalu memaafkanmu dan kau selalu kembali menyakitiku, kau pikir bahagia menurut versimu bisa benar-benar membahagiakan kami?"

"Jangan maafkan aku kali ini, aku tidak dapat membuat kalian bahagia"

"Aku tidak bisa, kau ayah anak-anakku, moonbin sangat merindukanmu, aku sangat…sangat mencintaimu"

"Jae mari lupakan hubungan kita dan lupakan kita pernah mengenak satu sama lain…jika kita bertemu kembali mari kita berkenalan seperti pertama kali kita bertemu, lupakan semua tentangku dan jadilah jae yang baru"

"Kau ingin melupakan semua kenangan kita?"

"Iya, aku tidak pantas untuk kau maafkan dan aku tidak pantas untuk kembali padamu, maka dari sekarang anggaplah aku sebagai orang asing bagimu dan aku akan menganggapmu demikian juga"

"Lalu anakmu?"

"Biarkan mereka menganggapku sebagai ayahnya setidaknya moonbin, ia belum mengerti apa-apa, aku akan melayaninya jika ia ingin berbicara atau bertemu denganku"

"Kau jahat sekali, memikirkan perasaan anakmu tapi tidak dengan perasaanku"

"Maafkan aku, kumohon lupakan aku dan tegarlah demi anak kita"

Aku menelan ludah dan mengalihkan pembicaraan

"Aku lihat di TV pernikahanmu lusa"

"Iya"

"Selamat kalau begitu" kata jae dengan setengah menangis

"Iya"

"Selamat tinggal Yunho, kuharap kau bahagia dengannya"

"Iya"

Dengan hati tersayat-sayat aku menutup telepon, lalu aku langsung memeluk anakku dan membiarkan airmataku jatuh dipundak kecilnya.

OoO

Siang itu aku baru saja selesai memeriksakan kandunganku ke klinik ditemani sahabatku Changmin yang setia menemaniku check setelah yunho menghilang.

"Bagaimana menurut dokter?" tanyanya padaku, senyumnya manis sekali tapi tidak semanis ayah anak yang kukandung.

"Janinnya tumbuh dengan baik dan kemungkinan ia mempunyai penyakit yang sama dengan kakaknya sangat kecil, jadi aku bisa tenang sekarang" jawabku

"Baguslah kalau begitu…kau mau makan apa hari ini?"

"Yunho bisa ke…" aku seketika langsung menutup mulutku, changmin tersenyum kecil, apakah ia tersinggung dengan ucapanku?

"Ah maaf…aku tidak sengaja" kataku berusaha meluruskan

"Tidak apa-apa wajar kalau kau masih mengingatnya"

"Aku seharusnya melupakannya, ia meninggalkanku dan anak-anaknya, ia sungguh brengsek" ujarku kesal, tangannya langsung ia daratkan diatas tanganku, mungkin ia mencoba menyemangatiku.

"Kau pasti bisa menjalaninya, setelah hari esok berlalu, kau pasti bisa melupakannya"

"Iya, aku juga berharap penikahannya cepat-cepat terselenggara supaya aku cepat melupakannya"

MVROOO!

"Hei bukankah itu mobil yunho?" ujar changmin pada mobil yang tiba-tiba melintasi mobil kami, itu memang mobilnya, tapi untuk apa ia berada didekat sini.

"Mungkin ia hanya kebetulan lewat" ujarku yang tidak ingin merasa penasaran

OoO

Sementara itu di butik tempat fiiting gaun pengantin Taeyoen tengah memutar-mutarkan gaun pengantinnya sambil melihat dirinya dicermin, saat pantulan yunho terlihat dicermin wanita muda itu langsung berhenti berputar dan memeluk pria dibelakangnya.

"Oppa kau dari mana saja?"

"Habis jalan-jalan"

"Ayo coba bajumu"

Taeyoen mengambil jas milik mempelai pria dan ditempelkan di badan yunho

"Kau baru melihat jae oppa kan?" Tanya taeyoun, mata dan tangannya tetap sibuk mencocokan baju dengan tubuh yunho.

"Aku hanya melihatnya sebentar ke rumah sakit" ujar yunho menjelaskan

"Oppa jika kau menjadi suamiku kau harus memperhatikanku saja" ujar taeyoen lagi sambil memakaikan jas ketubuh tegap yunho.

"Baiklah"

"Hmmm….lihatlah kecermin kau sungguh tampan sekali dengan setelah ini" ujar taeyoen sambil menepuk pundak yunho kearah cermin

"Hei tae kau tidak lelah mengurus persiapan pernikahan kita?"

"Memangnya kenapa, aku menyukai kegiatan ini"

"Kenapa tidak menyerahkannya saja langsung ke event organizer, kau sudah cukup berjalan kesana-kemari menyibukkan diri"

"Oppa aku sungguh-sungguh semangat dengan pernikahan ini, kau tidak perlu kuatir padaku, setelah kita menikah aku akan punya banyak waktu untuk istirahat" jawab taeyoen menjelaskan

"Baiklah"

"Oppa lihat gaunku yang lain ya"

Gadis itu masuk ke ruang gantii dan mengganti gaun pengantin yang lain, saat tirai dibuka yunho terpaku pada kecantikan gaun yang dipakai taeyoen, alih-alih terpaku dengan wanita didepannya pikiran yunho malah melayang pada namja cantik yang ia bayangkan memakai gaun itu dihadapannya.

Yunho melihat gadis cantik yang sejak seminggu yang lalu sibuk dengan persiapan pernikahan mereka didepannya dengan tidak fokus, Taeyoen sendiri yang mendesain baru, mencari gedung untuk pernikahan mereka, serta mencari catering dan persiapan lainnya, belum pekerjaan regulernya yang sangat menguras tenaganya, didalam lubuk hatinya yunho merasa bersalah tidak benar-benar memperhatikannya karena selama ini ia diam-diam menguntit Jae dan anaknya karena ia tidak bisa melupakan namja cantik itu begitu saja.

"Hei kenapa kau melamun Oppa?" Tanya taeyoen pada yunho yang kedapatan terdiam saat melihatnya memainkan gaun pernikahannya.

"Tidak apa-apa"

Taeyoen melihat jam tangannya dan ia teringat sesuatu dikepalanya

"Oya oppa siang ini aku ada janji dengan perusahaan travel untuk honeymoon kita"

"Honeymoon, taeyoen aku belum bisa pergi honeymoon, aku sedang sibuk"

"Apa kau menolakku?"

"Bukannya begitu aku…."

"Sudahlah oppa aku hanya bercanda, bagaimanapun kau tidak bisa menghindar dari bulan madu kita, semua sudah dibooking" terang taeyoen tanpa memperhatikan ekspresi wajah yunho yang keberatan dengan rencana honeymoon mereka.

Gadis muda itu tersenyum kecil pada yunho dan memegang tangannya agar mendekat ke cermin

"Oppa aku berdoa semoga pernikahan kita berjalan dengan lancar" katanya dengan riang pada pantulan mereka di cermin yang mengenakan gaun pengantin.

Yunho menghela nafas, ia tidak tahu keputusannya untuk menikah dengan gadis muda ini akan merumitkan hatinya, ia terpaksa menikahinya karena hutang pada ayahnya yang mengharuskannya menikah demi membalas jasa karena ayahnya memberi kehidupan pada moonbin, namun ia sangat menyesal pada taeyoen karena telah membohongi hatinya sendiri dan nampaknya gadis itu juga tahu hati yunho untuk siapa, namun demi rasa cintanya yang tinggi dan baktinya pada orangtua taeyoen tidak keberatan menerima setengah cinta Yunho.

"Iya aku juga berdoa semoga pernikahan kita bisa berjalan dengan lancar" balas yunho sambil tersenyum kecil.

OoO

Hari ini adalah hari dimana pernikahan yunho akan dilangsungkan, aku mematikan semua televisi dirumah

"Omma bin mau nonton" seru binnie dari sofa, aku tidak ingin anakku tiba-tiba melihat berita tentang pernikahan ayahnya.

"Hei bagaimana jika kita jalan-jalan ke tempat kakekmu?"

"Benalkah?! Yaay bin ambil jaket ya…bin ambil jaket" katanya girang sambil melesat menuju kamarnya dan keluar lagi dengan jaket kecil di tangannya

Sesampainya di rumah ayahku aku menitipkan anak kecilku padanya, ayahku yang selalu memperhatikan berita tahu tentang berita pertunangan yunho dan pernikahannya, ia hanya diam tanpa berkata apa-apa padaku. Ia tahu hatiku sakit dan ia tahu aku butuh tempat sendiri saat ini.

.

Mobil merah menyala milik yunho berhenti di lampu merah di distrik Myoengdoeng yang penuh dengan orang berlalu lalang, banyak orang yang menyebrang jalan melirikkan sejenak matanya kearahku, mereka pastinya merasa heran dengan pemandangan yang sangat ironis. Mobil Ferrari merah dengan bak terbuka dan pengemudi yang berurai air mata.

OoO

Iringan pengantin wanita mulai memasuki lobbi hotel, para wartawan berebutan untuk mengambil gambar sang mempelai dari sudut terbaik, taeyoen yang malam itu dengan gaun putih panjang rancangan disainer terkenal menjelma bak putri kerajaan hendak menuju singasana pangerannya, sesekali ia tersenyum dan melambaikan tangannya pada wartawan.

Saat pintu dibuka ia melihat sang pangeran yang sudah menunggunya dengan senyuman lebar terpancar. Dengan dada yang berdegup kencang gadis itu melangkah pelan namun pasti, ia melihat lantai dibawahnya sedikit berputar lalu ia melihat pria jangkung dihadapannya juga berputar lalu melayang, ia merasa sangat ringan sekali, lalu semua gelap.

"Taeyoen!"

OoO

"Hei kau sudah baikan?"

Taeyoen membuka matanya, ia sadar dirinya sedang di kamar hotel yang sangat mewah dan calon suaminya disampingnya.

"Apa yang terjadi padaku oppa?"

"Kau pingsan saat didalam, kata dokter kau terlalu lelah karena terlalu sibuk mengurusi persiapan pernikahan kita"

"Oh begitu ya…lalu acaranya?"

"Kau baru bangun 4 jam setelahnya, semua sudah pulang"

"Oh jadi acaranya batal ya"

"Kita bisa menjadwalkan ulang"

Taeyoen termenung lalu ia memegang tangan yunho

"Oppa apa kau mencintaiku?"

"Apa?"

"Aku tahu kau mencintai Jaejoong oppa karena ia memiliki anak-anakmu namun aku ingin tahu apa kau punya sedikit rasa cinta untukkku?"

"Untuk apa kau mengetahuinya?"

"Itu akan membuat perasaanku sedikit membaik, aku tidak pernah tahu sedikitpun tentang perasaanmu terhadapku, kumohon jujurlah padaku"

"Perasaanmu tidak akan pernah bisa membaik tae, kau tahu bagaimana perasaanku"

"Jadi…kau sama sekali tidak mencintaiku?"

"Tae…aku menyukaimu, namun rasa cintanya berbeda ketika aku bersama Jae"

"Iya aku tahu, kau juga setuju untuk menikah denganku karena tuntutan ayahmu dan aku pun tidak bisa menolaknya karena ayahku juga memaksaku"

"Semuanya memang diluar kemampuan kita namun kita harus mengerti dengan perasaan kita, ada hal yang memang tidak bisa dipaksakan"

"Oppa….apa kau pikir kita harus membatalkan pernikahan kita?"

"Aku takut ini menjadi permasalah di keluarga kita, namun aku hanya bisa memberitahumu bahwa kau akan menerima tubuhku namun tidak hatiku, aku mencintai Jae dan sampai kapanpun cintaku hanya untuknya"

Taeyoen menurunkan kepalanya, ia tahu yunho akan mengatakan ini, hatinya terluka namun ia bisa lega sekarang.

"Aku sudah memutuskannya….lebih baik kita membatalkan pernikahan ini"

"Kau serius tae?"

"Iya, aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri karena kau tidak mencintaiku, aku ingin bahagia dan dicintai, juga aku tidak bisa menyakiti Jaejoong oppa dan moonbin…aku semula berpikir walau kita menikah terpaksa namun kuharap aku juga diberi kesempatan untuk mendapatkan cintamu" ujar taeyoen sedikit terisak, yunho merapatkan tubuhnya untuk membawanya kepelukannya, gadis muda itu mulai menangis dan meminta maaf atas semua kehilafannya, karena keegoisannya sehingga yunho menelantarkan keluarganya.

"Terimakasih Tae"

Yunho menepuk-nepuk pundak gadis itu dengan lembut, ia merasa bersyukur bertemu dengan gadis itu, wanita yang sangat baik dan pengertian terhadapnya, namun ia hanya menyukainya sebatas saudara saja bukan cinta yang selalu ia rasakan selama ini, karena cinta itu sudah terpenjara pada seseorang dan tidak ada seorangpun yang mampu membuka gerbang itu karena ia tahu pemilik hatinya hanya pada mata besar itu, mata yang selalu membuatnya luluh, tatapan lembut yang sanggup menggetarkan hatinya.

OoO

Jae menggas mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi ketika mencapai bukit, sejak beberapa jam yang lalu ia hanya berputar-putar di tempat keramaian, namun kini ia ingin berteriak sekencang-kencangnya diatas bukit, dimana banyak kenangan tercipta bersama Yunho.

Ia melihat jam dan air matanya terus menetes, ia teringat akan cintanya pada yunho yang saat ini pasti telah menjadi suami seseorang dan dia tidak bisa menahan perasaannya ikut hancur berkeping-keping bersamaan dengan berjalannya waktu.

Ia lalu berhenti di atas bukit dimana ia sangat mengenalnya, Yunho sering mengajaknya kemari untuk menikmati malam-malam mereka, jae masih bisa merasakan kehangatan tubuh yunho saat memeluknya, bisikan manis dari pria jangkung itu di telinganya, tubuhnya bergetar karena ia sangat merindukannya, hatinya tersayat karena ia tidak akan bertemu dengan kehangatan seperti itu lagi, ia menangis, menangisi nasib dirinya dan kekasihnya

Ketika berjalan setapak demi setapak melewati rerumputan menuju puncak bukit ia melihat seseorang, seseorang itu sedang duduk sambil melihat gemerlapan lampu kota dihadapannya, kepala pria itu berputar ketika sadar ada seseorang mendekat.

Mata besar Jae menatap pria di hadapannya dengan terkejut, semula ia berpikir ia hanya hantu mantan kekasihnya tapi hatinya berdetak kencang, ia tahu jika itu adalah dia, ayah dari anak-anaknya, satu-satunya pria yang bisa membuatnya gila.

Jae menatap sosok pria didepannya dengan terpaku, ia memutar kepalanya lagi mencoba untuk berbalik namun pria itu berseru padanya.

"Duduklah disini" kata pria jangkung pada pemuda cantik itu, karena tubuhnya yang kelelahan juga ia akhirnya mematuhinya untuk duduk disampingnya.

Jae menggigit bibirnya, berusaha menangkap peristiwa semua ini namun ia tidak bisa mengambil kesimpulan mengapa pria itu ada disini, bukankah malam ini adalah malam pertamanya dengan wanita pilihannya, kenapa sekarang ia ada dihadapannya untuk mengacaukan hatinya lagi.

"Udaranya dingin disini ya…" sahut yunho setelah mereka lama terdiam

Jae menganggukkan kepalanya, matanya selalu tertuju kedepan, ia tidak bisa melihat kearahnya

"Kau mau jaketku?" ujar yunho sambil memberikan jaket tebalnya pada namja disampingnya, namun jae menggeleng kepalanya, ia tidak menginginkan jaket itu.

"Aku Jung Yunho"

Ujar Pria jangkung itu sambil mengulurkan tangannya pada pemuda yang tengah berbadan dua disebelahnya, senyum kecil tersungging di bibirnya.

"Aku Kim Jaejoong" balas jae tanpa menerima uluran tangannya

"Aku tinggal di barat Seoul, kalau kau?"

"Di selatan dekat pasar" jawab jae, ia belum berani menatap pria disampingnya

"Kau sering main kemari?"

"Tidak"

"Lalu kenapa kau kemari?" Tanya yunho lagi

"Aku hanya ingin kemari, apa perlu aku memberitahu pada orang asing sepertimu!" kata jae kesal, yunho yang mendengarkannya hanya tersenyum.

"Apa kau sedang teringat seseorang makanya kau ketempat ini?"

"Bukan urusanmu"

"Kau habis menangis?"

"Kenapa kau banyak bertanya padaku! Aku tidak tahu siapa dirimu, aku orang asing bagimu, begitu juga dirimu!"

Jae bangkit dari kursinya karena ia kesal, saat ia hendak berjalan menjauh yunho menahan tangannya dan membawanya ke pelukannya, Yunho merekatkan pelukannya lagi lebih erat.

Saat itu jae hanya diam tidak melawan, ia sangat membencinya, benar-benar membencinya.

"Maafkan aku Jae"

"Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi…hik"

"Maafkan aku"

Jae mulai menangis di punggung yunho, ia tidak mengerti dengan semua keadaan ini, yang ia tahu walau ia membencinya ia hanya ingin memeluk pria dihadapannya dan tidak ingin membiarkannya pergi lagi.

OoO

Chapter selanjutnya adalah chapter terakhir, so…buat yang suka nyampah ngatain fic ini kaya sinetron yang ngga habis-habis please deh berhenti nge-flame apalagi yang ngga pake ID…you guys really messed up with me. Made my mood getting worst

However enjoy it guys :) Happy nice weekend