"Ohayou, teme," ucap Naruto sambil tersenyum dan mengangkat tangannya. Ia bersandar di kursi Sasuke dan menekan alas duduk kursi itu.
"Oh, kursi CEO memang berbeda. Empuk sekali," Naruto mengakhiri kalimatnya dengan terkekeh.
Iris onyx Sasuke membulat seketika. Ia beruntung karena tidak memiliki penyakit jantung. Kalau ia memilikinya, ia pasti sudah terkena serangan jantung sekarang.
"D-dobe, bagaimana kau bisa masuk ke dalam ruanganku?" tanya Sasuke dengan heran.
"Kau lupa mengunci pintumu, tahu. Kebetulan aku lewat dan berpikir ingin mengunjungi ruanganmu. Tapi pintunya malah terbuka dan kau tidak ada di dalam. Jadi aku tunggu saja disini."
Sasuke mengepalkan tangan erat-erat, merasa jengkel pada dirinya sendiri. Padahal biasanya ia selalu mengecek pintu setelah mengunci nya sebelum pulang. Kemarin ia bahkan lupa mengunci pintu karena menggendong Sakura di punggungnya. Ia ingin segera menuju mobil dan menurunkan wanita itu. Dan ia juga lupa menggunakan kartu wanita itu untuk tap out dari gerbang karena data tap out secara otomatis terdaftar di sistem sebagai waktu kehadiran sehingga tadi wanita itu terpaksa menggunakan kartu di bagian keluar dan berdiri di tengah sensor serta berpura-pura keluar dan kembali masuk gerbang otomatis dengan men-tap kartu. Setelah ini Sasuke harus membantu Sakura dengan memberi penjelasan pada bagian keuangan yang membayar gaji dan personalia.
"Aku lupa."
Kini giliran Naruto yang terkejut. Matanya membulat hingga terlihat seolah akan melompat keluar dari rongga matanya.
"Eh? Kenapa kau jadi seceroboh ini, teme? Biasanya kau bahkan mengecek ulang apapun yang baru kau lakukan untuk memastikan kalau apa yang kau lakukan sudah benar."
"Kemarin aku terburu-buru."
Naruto merasa heran. Ia tak mengerti apa yang membuat Sasuke terburu-buru di malam hari. Namun ia tidak mau bertanya pada lelaki itu.
"Omong-omong, aku datang kesini karena ingin memberikan hadiah untukmu. Sebentar lagi natal, kan? Jadi anggap saja ini hadiah natal," kata Naruto sambil menyerahkan sebuah tas kertas dengan sebuah buku baru yang masih tersegel dan terbungkus kertas kado.
Sasuke mengernyitkan dahi. Padahal ia dan teman-temannya tak memiliki kebiasaan merayakan natal hingga memberikan kado. Di keluarga nya juga tidak ada kebiasaan semacam itu. Paling-paling mereka hanya makan bersama karena orang-orang juga merayakannya dengan makan bersama seperti penduduk Jepang lainnya yang rata-rata tidak memeluk suatu agama secara spesifik meski setiap tahun pergi ke kuil.
Sasuke menatap isi kantung kertas itu yang bahkan dibungkus kado dengan sederhana. Ia menyentuh kado itu dan meraba nya. Tampaknya itu adalah sebuah buku.
Sasuke segera menyentuh kado yang dilpat sederhana namun cukup rapi itu. Ia membuka selapis kertas kado dan merasa heran karena ada kertas kado lainnya yang membungkus kertas kado itu.
Sasuek tahu kalau Naruto bermaksud jahil, dan ia segera membuka kertas kado yang kedua. Ia mendapati kertas kado lain yang membungkus kado itu dan ia menatap Naruto.
Menyadari tatapan Sasuke, Naruto segera berkata, "Ini kertas kado yang terakhir, kok."
Sasuke tak menjawab dan ia segera membuka kertas kado yang terakhir. Dan matanya langsung membulat ketika ia melihat isinya. Mulutnya bahkan terbuka tanpa dikatupkan begitu saja karena terkejut.
Di buku itu terdapat gambar pria dan wanita dengan wajah penuh gairah. Namun judul bukunya membuatnya terkejut. Buku itu berjudul 'Bagaimana Cara Melakukan Seks Untuk Pertama Kali?' dan di bagian bawah buku itu terdapat tulisan kecil 'Dengan Rekomendasi Variasi Gaya Bercinta serta Tips Cara Membuat Wanita Cepat Orgasme dan Agar Ereksi Bertahan Lama'.
Wajah Sasuke memerah karena malu meski ia hanya membaca judul bukunya. Ia bahkan sampai terdiam dan tak sempat menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Rasanya Naruto ingin mengabadikan ekspresi wajah Sasuke sekarang juga. Ia pikir Sasuke adalah aseksual. Habisnya setiap kali ia membahas hal-hal porno, Sasuke hanya diam saja atau berkata 'Hentikan pikiran kotormu itu.' Namun ternyata Sasuke pun bisa bereaksi seperti ini.
"Hadiah dariku bagus, kan? Kau harus mempelajarinya untuk melakukannya bersama kekasihmu nanti."
Membayangkan seks membuat Sasuke teringat dengan masa lalunya. Namun ia berusaha menepis ingatan itu. Ketika ia melakukan seks lagi, ia ingin melakukan bersama istrinya, bukan dengan siapapun.
"Otakku tidak cabul sepertimu, dobe. Aku akan menunggu hingga hari pernikahanku."
Naruto terkejut karena ini pertama kainya Sasuke menanggapi dengan memberikan pandangan pribadinya mengenai seks. Dan dugaannya memang benar, Sasuke adalah tipe pria yang menunggu.
"Ya ampun, kau tidak bosan membuangnya terus menerus di kamar mandi?"
Sasuke tak menjawab. Selama ini ia tak pernah bergairah karena obat yang dikonsumsinya. Bahkan ketika mimpi basah pun ia hanya tertidur tanpa mimpi seperti umumnya. Dan ketika ia bangun di pagi hari, tiba-tiba saja celananya sudah basah dan ia sangat kaget.
"Atau kau tidak bosan menunggu hingga malam pertama? Jangan-jangan kau hanya akan melakukannya bersama istrimu nanti."
"Dobe," Sasuke menatap Naruto dengan raut wajah yang terlihat sangat serius. "Tubuhku terlalu berharga jika kugunakan untuk tidur dengan sembarang orang. Toh aku juga tidak akan mati tanpa seks. Lagipula egois sekali kalau aku melakukan dengan orang lain ketika istriku hanya menjaga tubuhnya untukku. Bisa-bisa aku menularinya dengan penyakit dan aku akan merasa sangat bersalah."
Ucapan Sasuke membuat Naruto terkejut. Di jaman modern seperti ini, bagaimana bisa ada lelaki yang berpikiran seperti ni? Jangan-jangan Sasuke berpikir begini karena masih polos.
Naruto sendiri juga sebetulnya tak pernah melakukannya. Ketika muda, ia tak begitu tertarik dengan seks meski beberapa temannya mengatakan seks begitu nikmat hingga mereka ketagihan. Ia pikir, ia harus menunggu hingga ia dewasa.
Namun ketika Naruto sudah dewasa, ia terlanjur jatuh cinta pada Hinata dan tak berpikir mau melakukannya dengan perempuan lain. Dan ia tak bisa membayangkan Hinata dengan cara yang mesum karena ia terlalu mencintai perempuan itu dan ingin menghormatinya, baik secara fisik maupun dalam pikiran.
"Yah, setidaknya simpan saja kadoku. Siapa tahu kau butuh sesudah menikah," Naruto mengakhiri kalimatnya dengan senyum.
Entah kenapa, saat mendengar kata 'menikah', Sasuke malah membayangkan dirinya menikah dengan Sakura. Sasuke merasa heran sendiri. Rasanya ia benar-benar aneh.
.
.
Psikiater paruh baya itu menatap pasiennya dengan heran. Ia merasa heran karena wajah Sasuke tampak lebih cerah dan berseri-seri meski lelaki itu katanya menurunkan dosis obatnya.
Sebetulnya wajah Sasuke tak berubah sama sekali. Kulitnya pun masih tetap mulus seperti biasa. Namun ia bisa merasakan kalau lelaki itu tampak lebih bahagia dibanding biasanya.
"Bagaimana konsumsi obatmu sekarang? Kau meminumnya sesuai yang kuanjurkan, kan?"
"Aku mencoba mengurangi setengah dari yang kau anjurkan. Sekarang aku hanya minum setengah butir sehari."
"Lalu apa yang terjadi denganmu? Apakah ada masalah?"
"Sebetulnya belakangan ini aku agak aneh."
"Kenapa? Bisa kau ceritakan padaku?"
Sasuke menganggukan kepala, "Belakangan ini aku tidak terlalu memikirkan traumaku. Namun rasanya aneh. Belakangan aku jadi lebih sering tersenyum meski beberapa jam sudah berlalu sejak aku minum obat, dan seharusnya efek sampingnya sudah berakhir. Terkadang nafasku sesak dan jantungku berdebar saat berada di dekat orang tertentu. Lalu entah kenapa aku jadi lebih sering memikirkan seseorang ketimbang trauma yang selama ini selalu terpikir tanpa sadar."
Psikiater itu merasa kalau itu sangat bagus jika sang pasien mulai berhenti teringat akan traumanya. Padahal belum tiga bulan berlalu sejak lelaki itu mencoba bunuh diri dan ia sampai harus mengunjungi kamarnya serta mendapati lelaki itu menangis. Namun kini perubahan lelaki itu sangat drastis. Meskipun demikian, ia harus tetap mengamatinya karena bisa jadi lelaki itu mengembangkan gangguan jiwa yang lain.
"Siapa yang sering kau pikirkan?"
Sasuke hampir menyunggingkan senyum ketika ia mengingat Sakura. Namun ia cepat-cepat mengulum sudut bibirnya dan berkata, "Seorang wanita. Dia bahkan sudah mengetahui keadaanku dan tetap mendukungku. Kupikir aku aneh karena aku bahkan bisa tersenyum hanya memikirkannya. Apakah aku terkena gangguan jiwa?"
Psikiater itu tersenyum dan ia menahan diri agar ia tidak tertawa. Perutnya bahkan sudah sakit dan bahunya berguncang, membuat Sasuke menatapnya dengan heran.
"Maaf, saya hampir cegukan mendadak" ucap psikiater itu dengan perasaan tidak enak. Ia tahu kalau apa yang ia lakukan melanggar kode etik profesinya sehingga ia terpaksa sedikit berbohong. Sebagai dokter ia tak boleh menertawakan pasien, namun ia tidak bisa menahan diri karena ucapan pasiennya begitu lucu. Apalagi jika hal itu diucapkan oleh seorang lelaki dewasa berumur dua puluh tujuh tahun.
"Tenang saja. Kau tidak terkena gangguan jiwa, Sasuke," ucap psikiater itu dengan lembut sambil tersenyum. Ia merasa senang karena pasiennya kini membaik dan bahkan bisa jatuh cinta seperti orang normal pada umumnya. Sebelumnya ia sempat khawatir dan kasihan karena lelaki muda yang seharusnya memiliki masa depan yang cerah harus hidup dengan terbelenggu pada trauma di masa lalu.
Tatapan Sasuke menunjukkan tanda tanya yang besar. Dan psikiater itu tersenyum, "Sepertinya kau sudah bertemu orang yang tepat dalam hidupmu, Sasuke. Dan kurasa kau jatuh cinta padanya."
Sasuke terlihat sangat terkejut. Dia jatuh cinta? Bagaimana bisa? Padahal ia pikir ia tak akan pernah merasakannya. Dan ia kini merasa takut karena ia mulai berpikir ingin menjadi kekasih Sakura, atau bahkan menjadi suaminya dan membangun keluarga bersamanya. Ia menginginkan itu meski secara logika ia tahu kalau ia mungkin tak sanggup menjadi ayah dan seorang suami. Terlebih lagi ia dibesarkan oleh seorang ayah yang cenderung dingin terhadapnya.
"Apakah perasaan semacam ini bisa dihilangkan?"
"Kenapa kau ingin menghilangkannya?" tanya psikiater itu. Ia tahu kalau sebetulnya sebagai psikiater ia hanya bertanggung jawab pada kondisi pasien dengan memberikan obat. Namun ia juga memiliki gelar psikolog sehingga bisa memberikan konsultasi.
"Kurasa aku tak seharusnya memiliki perasaan seperti ini padanya. Aku mulai berpikir ingin memiliki masa depan bersamanya. Namun kurasa aku tak bisa menjadi seorang suami dan ayah. Kondisiku seperti ini, dan ayahku-" Sasuke memutus ucapannya dan berkata, "-mungkin bukan sosok ayah yang akan kujadikan sebagai contoh."
Sasuke mulai menyadarinya saat ia berkunjung ke rumah Naruto dan Sakura. Dulu ia pikir semua ayah adalah orang yang dingin pada anak-anaknya. Namun ia pergi ke rumah Naruto suatu kali dan bertemu ayahnya yang bersikap sangat ramah padanya. Lelaki itu bahkan memperlakukannya seperti anak sendiri dengan mengajaknya pergi bertiga bersama Naruto dan memberinya banyak nasihat. Ayah Sakura juga cukup ramah padanya dan tampaknya adalah orang yang hangat pada anaknya. Ia ingin menjadi sosok yang hangat pada anak-anaknya seperti ayah Naruto dan Sakura.
"Kenapa tidak? Bukankah wanita itu sudah tahu masa lalumu dan menerimamu? Lagipula kondisimu juga sudah lebih stabil menurutku. Percayalah padaku, kau juga bisa hidup normal karena ada beberapa pasienku yang juga berhasil hidup normal."
Tatapan Sasuke terlihat berbinar untuk sesaat. Psikiaternya adalah orang yang paling ia percayai untuk urusan seperti ini. Karena itulah ia juga tak segan bercerita panjang lebar mengenai apapun yang ia pikirkan dan rasakan. Dan ia memutuskan untuk percaya pada psikiater itu.
.
.
Sore ini Sakura kembali melakukan kegiatan sebagai relawan di panti asuhan lain, Hinata dan beberapa orang lainnya. Kali ini mereka akan menemani anak-anak itu bermain dan memberikan donasi serta berniat mengajak semua penghuni panti ke salah satu restoran all you can eat yang dimiliki Sasuke secara pribadi untuk makan malam bersama.
Sakura bersyukur karena semua penghuni panti adalah anak laki-laki berusia enam hingga delapan belas tahun. Setidaknya ia tidak perlu berurusan dengan bayi, hal yang membuatnya kurang nyaman.
Sakura berpencar dengan Sasuke yang tampak dengan mudah langsung berbaur dengan anak-anak itu. Dan beberapa anak yang masih berusia enam atau tujuh tahun langsung mendekat pada para relawan, membuat Sakura agak bingung. Ia menyadari kalau tatapan anak-anak itu terlihat haus akan sentuhan dan kasih sayang dan ia langsung mengusap kepala anak-anak itu dan memeluk mereka sebelum mengajaknya berbicara.
Sasuke sudah pernah beberapa kali berkunjung ke panti asuhan ini, baik bersama organisasi maupun secara pribadi untuk memberikan donasi. Anak-anak di panti asuhan itu bahkan sudah mengenalinya meski ia tak mengenali semua anak disana karena ia juga pernah pergi ke beberapa panti asuhan lainnya.
Tatapan Sasuke tertuju pada seorang anak yang seingatnya tak pernah ia lihat sebelumnya. Ketika anak lain terlihat ceria, anak itu malah duduk di pojok sambil menundukkan kepala dan melipat kakinya. Anak itu terlihat suram, namun justru Sasuke malah ingin mendekat.
Sasuke mendadak teringat akan dirinya sendiri saat melihat anak itu. Ia teringat kalau ia adalah orang yang suram saat pertama kali masuk ke sekolah baru. Namun Naruto adalah orang pertama yang mau tersenyum dan mengulurkan tangan padanya. Dan kini, ia tak lagi suram seperti dulu. Setidaknya ia masih bisa bertemu banyak orang dan memiliki beberapa teman. Maka ia berpikir kalau ia harus mengulurkan tangan pada anak yang bahkan tak ia ketahui siapa namanya dan seperti apa wajahnya.
Sasuke memutuskan mendekati anak itu dan berjongkok dihadapannya sambil menyapa anak itu.
Anak itu menatapnya dengan tatapan yang tidak nyaman. Anak itu bahkan secara refleks menjauh ketika ia berusaha mendekatinya.
Sasuke belum pernah bertemu anak seperti ini selama ia berkunjung ke panti asuhan. Biasanya anak-anak di panti asuhan merasa senang akan kunjungan orang lain, terutama anak-anak yang masih seusia sekolah dasar. Mereka semua membutuhkan kasih sayang yang tak bisa mereka dapatkan dari orang tua mereka, dan beberapa bahkan ada yang menginginkan sentuhan lembut.
Sasuke memutuskan untuk mendekat. Ia bertanya, "Kau baik-baik saja?"
Anak itu terlihat hampir menangis dan ia merentangkan tangan di depan tubuhnya agar Sasuke tak mendekat.
"PERGI!" teriak anak itu dengan sangat keras hingga semua orang menoleh.
Sasuke benar-benar terkejut dan ia langsung meninggalkan anak itu yang kini menangis. Ia menyadari tatapan keheranan relawan lain dan ia langsung mengendikkan bahunya. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa anak itu bereaksi seperti itu. Padahal Sasuke tidak bermaksud buruk.
Sebetulnya Sasuke merasa agak kesal karena seseorang menolak keberadaannya. Itu adalah perasaan yang manusiawi. Namun ia berusaha menepisnya dengan berusaha tidak memikirkannya.
Seorang remaja laki-laki menepuk pundak Sasuke dengan pelan dan membuat Sasuke menoleh. Remaja laki-laki itu berkata, "Maaf ya. Dia memang seperti itu pada semua laki-laki dewasa, termasuk pada penghuni panti yang seusiaku."
Anak itu semakin mengingatkannya pada dirinya sendiri. Ia juga pernah mengalami hal yang sama, namun ia beruntung karena ia langsung dibawa ke psikiater sehingga hal itu tak berlangsung lama. Anak itu tidak mungkin mengalami hal yang sama sepertinya, kan?
"Dia kenapa?"
Konohamaru tampak ragu. Ia menatap sekeliling dan berbicara dengan suara pelan, "Umm.. aku tak tahu ini boleh diceritakan atau tidak, sih. Tapi aku tidak enak mengatakannya disini."
Sasuke segera meninggalkan ruangan dan menatap remaja lelaki itu serta memberikan gesture untuk mengajak Konohamaru menjauh. Dan Konohamaru segera mengikuti Sasuke dan mengajaknya pergi ke tempat yang sepi.
Mereka berdua duduk di sisi taman yang sepi. Dari tempat mereka, terlihat beberapa anak yang sedang bermain. Namun mereka tak memedulikannya.
Sasuke mengenali Konohamaru yang pertama kali ditemuinya di panti. Remaja lelaki itu saat ini berusia tujuh belas tahun dan tahun depan akan segera lulus. Ia juga merupakan anak yang paling lama berada di panti sehingga bertugas sebagai 'ketua' untuk membantu menjaga dan mengawasi anak-anak disana. Dan Sasuke berencana menawarkan anak itu untuk melanjutkan pendidikan ke universitas tahun depan.
"Anak itu baru masuk ke panti dua minggu yang lalu," Konohamaru memulai pembicaraannya dan menatap Sasuke dengan ragu, "Omong-omong, Sasuke-nii tidak akan bilang pada siapapun kalau aku bercerita begini, kan?"
Sasuke menganggukan kepala. Tentu saja ia akan menjaga rahasia.
"Sebetulnya anak itu dititipkan disini oleh pihak kepolisian sejak dua minggu yang lalu. Kudengar anak itu ditemukan di jalanan dalam kondisi terlantar setelah disodomi. Pelakunya ternyata adalah pamannya sendiri yang tidak menikah, sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal sehingga anak itu dititipkan pada pamannya."
Sasuke langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan saat mendengar kata 'sodomi'. Ia masih mengingat bagaimana rasanya dan ia merasa ngeri. Wajahnya bahkan langsung pucat.
"Eh? Sasuke-nii baik-baik saja? Wajahmu pucat."
Sasuke menganggukan kepala dan menyunggingkan senyum tipis. Setidaknya ia masih bisa mengendalikan diri dan pikirannya tidak sampai berlarut-larut berkat meditasi yang belakangan ini ia jalani atas saran psikiater itu.
"Aku baik-baik saja," ucap Sasuke dan ia menatap Konohamaru. "Kau tahu siapa namanya, Maru?"
Konohamaru mengangguk, "Namanya Mitsuki."
Sasuke merasa kasihan pada Mitsuki. Anak itu pasti mengalami trauma yang lebih buruk karena tak memiliki keluarga yang mendukungnya. Bahkan yang lebih gila, pamannya sendiri yang melakukan perbuatan laknat itu.
Mendadak Sasuke terpikir untuk mengadopsi Mitsuki dan membesarkannya tanpa peduli meski ia masih memiliki keraguan soal membesarkan anak. Setidaknya, ia akan membayar jasa psikiater dan mengajak anak laki-laki itu untuk menemui psikiater untuk saat ini. Ia tak ingin anak itu tumbuh besar dengan trauma seperti dirinya. Dan ia merasa harus melakukan sesuatu untuk anak itu.
-TBC-
Author's Note :
Ide ku untuk fanfict ini lagi lancar banget. Chapter ini bahkan selesai kurang dari tiga jam.
Maaf kalau chapter ini ga ada momen romantis SasuSaku kayak di chapter kemarin. Tapi disini perasaan Sasuke nya udah bener-bener jelas.
Jadi di chapter berikutnya bakal lebih fokus ke perasaan Sakura nya.
Oh ya, kemungkinan chapter selanjutnya juga bakal update lebih cepat.
