PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung

WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul

Fairish

Esti Kinasih

ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..

YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA

YANG MAU BACA SILAKAN

...


...

Saat Yunho tiba di tempat yang sudah bisikan Siwon padanya, Siwon telah menunggu.

Cowok itu bersandar di pintu Land Rover-nya. Kemeja putih seragamnya telah berganti kaus tanpa lengan. Urat-Urat yang menegang di kedua lengannya, katupan keras di kedua rahangnya, juga sinar datar namun berbahaya di sepasang matanya sudah cukup membuat Yunho tahu apa yang akan segera menyambutnya.

Dan itu tepat ternyata. Hanya beberapa saat setelah dia menjejak gelombang rumput di depannya, Siwon langsung menerjang. Menerkamnya seperti singa terluka, lalu menghujaninya dengan pukulan dan tendangan membabi buta.

Teriakkannya menusuk telinga, seribu makian berhamburan dari mulutnya.

Yunho, yang memang tak ingin melawan, terhuyung dan jatuh terjerembab dengan tubuh penuh memar, muka lebam dan bibir pecah yang mengalirkan darah.

Matanya berkunang hebat, membuatnya terpaksa memejamkan mata rapat-rapat.

Tapi di kegelapan, semuanya justru jadi terbayang jelas. Kota kecil tempat dia lahir dan tumbuh besar. Masa kanak-kanaknya yang menyenangkan, juga... gadis cinta pertamanya yang di antarnya ke haribaan Tuhan!

Sampai saat ini keluarga Jihyun masih menganggapnya penyebab utama kematian gadis itu. Mama Jihyun bahkan memanggil Yunho "si pembunuh" dan memperingatkan semua orangtua untuk menjauhkan anak gadis mereka darinya.

Padahal saat itu, saat Yunho tahu Jihyun koma, dia benar-benar menyesal dan berdoa sungguh-sungguh. Minta agar tempat mereka di tukar. Juga ketika kemudian Jihyun meninggal tanpa pernah sadar. Penyesalan itu menyiksanya tanpa jeda. Menekannya di saat sadar, dan membayangi di saat gelap.

Seakan itu belum cukup, semua orang lalu seperti berlomba untuk membuatnya makin terpuruk. Kota itu terlalu kecil. Jarak antara sudutnya terlalu dekat, sehingga berita dengan mudah dan begitu cepatnya menyebar. Sementara untuk menguap hilang, terlupakan... begitu lambat!

Pintu-pintu kemudian di banting di depan wajahnya. Mata-mata lalu menatapnya dingin, seperti tak kenal. Sementara mulut-mulut hanya bicara seperlunya. Dan setelah peristiwa itu, tak seorang pun teman yang tersisa dan mau tinggal di sebelah Yunho.

Tak seorang pun!

Keputusasaan kemudian membuatnya mengambil jalan pintas. Setelah dua kali sayatan pisau di pergelangan tangan tak mampu menerbangkan satu-satunya nyawa yang dimilikinya, Yunho mencari jalan lain.

Bukan bermaksud untuk mendramatisir suasana, atau menciptakan versi indonesia drama roman Shakespeare, kemudian dia menerbangkan diri bersama motornya di tempat yang sama Jihyun menjemput ajal.

Hampir berhasil. Sama sepeti Jihyun, Yunho koma dan masuk UGD. Sayangnya, hari itu memang belum takdirnya untuk mati. Matanya terbuka sesaat setelah kesadarannya kembali.

Setiap peristiwa mengandung hikmah. Begitu ibunya yang sabar memeluknya sambil menangis, kalimat pertama yang dibisikkan ke telinga Yunho membawa berkah. Setidaknya, sekarang anak itu tak lagi ugal-ugalan di jalan. Tahu menghargai nyawa, dan terutama, kecemasan orangtua.

Untuk mengubur peristiwa itu, ayahnya lalu minta dimutasi ke Jakarta. Dan pindahlah mereka sekeluarga, di kota ini. Berharap hiruk pikuk dan kesibukan super dinamisnya mempu mengikis luka.

Mata Yunho terbuka saat sesuatu yang hangat menetes di pelipisnya. Dia tertegun.

Siwon, yang berlutut dan membungkuk di atasnya, menangis tanpa suara. Ketika Siwon bicara, getar lirih suaranya semakin menyayat perasaan bersalah Yunho.

"Dia sepupu kesayangan gue, Yun. Gue yang jaga dia dari kecil. Setiap hari kami berangkat dan pulang sekolah bareng... Setiap hari! Gue yang dia cari setiap dia ketakutan. Gue yang dia cari setiap dia sedih. Dan tiba-tiba gue dapet kabar... dia meninggal!"

Yunho menelan ludah yang bercampur darah. Kalimat yang terakhir itu menikamnya. Perih.

"Gue nggak sengaja, Won," desisnya dengan suara tersangkut ditenggorokan.

"Oh ya?" mata berkabut Siwon menyipit. Kedua tangannya yang bertumpu atas rumput dan mengurung Yunho dengan rentangan, terangkat dan mencengkeram kedua bahu Yunho. Menekannya kuat-kuat hingga Yunho menyeringai menahan sakit manakala batu-batu di permukaan tanah yang tertutup rumput itu menusuk kulit.

Dan dia semakin menyeringai lagi saat satu lutut Siwon menekan dadanya kuat-kuat.

"Apa maksud lo?" lanjut Siwon sambil menundukkan kepala. "Nggak sengaja ngebut? Nggak sengaja selip? Elo tau waktu itu ujan, kan? Elo tau kalo jalan licin, kan? Elo tau dimana-mana orang yang diboncengin selalu punya kesempatan celaka lebih gede daripada yang nyopir, kan? Tau? Lagian, kenapa harus dia?

Kenapa harus sepupu gue? Kenapa bukan yang laen? Cewek lo kan banyak!"

Rentetan kalimat itu diteriakkan Siwon cuma dalam jarak sepuluh senti dari wajah Yunho.

Yunho ini, meskipun baru jadi pembalap jalanan dan lebih sering menjengkelkan daripada menyenangkan, cewek-cewek yang mengelilinginya bejibun seolah dia itu bintangnya Formula One.

Dan Siwon bukan cowok idiot, yang percaya begitu saja saat Jihyun bercerita di telepon bahwa biarpun banyak yang ngerubungin, Yunho itu bukan playboy.

Playboy emang bukan. Tipu bajingan, Iya!

Dan Siwon langsung menyayangkan begitu tahu siapa cewek Yunho sekarang. Begitu mungil dan manis.

"Dia yang pertama buat gue," Yunho tiba-tiba berkata.

"Heh!" seketika Siwon menampar pipi Yunho. Cowok itu menyeringai menahan sakit.

"Elo lagi ngomong sama gue, Yun. Bukan sama cewek! Yang pertama dibabak kedua? Satu babak berapa orang? Dua puluh?"

"Won, gue lagi berusaha berubah!"

"Oh ya? Jadi berapa sekarang? Tiga puluh?"

" Won, gue..."

"Jangan banyak ngomong!" Siwon meninju tubuh babak belur yang terbaring dibawah tekanan lutut dan dua lengannya itu. "Ini bukan lagi giliran lo bikin pembelaan, tau!"

Yunho terbatuk. Napasnya terengah. Rasa sakit dan tekanan lutut Siwon di dadanya membuatnya sulit bernapas.

Kemudian dua pasang manik hitam itu saling tatap. Menghunjam lurus. Siwon, dengan kemarahan dan kesedihannya, dan Yunho, dengan penyesalan dan permohonan maafnya.

"Gue nggak sengaja, Won, " bisik Yunho dengan suara parau. "Gue nggak sengaja.

Tapi kalo elo merasa itu nggak tertebus...," susah payah dia merogoh kantong celana panjangnya dan mengeluarkan sesuatu lalu meletakan benda itu di atas dada, "terserah elo."

Mata Siwon bergerak turun perlahan. Sebilah pisau lipat. Dia sudah mendengar cerita itu, bahwa setelah kematian Jihyun, Yunho melakukan tiga kali usaha bunuh diri. Usaha yang ketiga hampir fatal. Membuatnya terpaksa masuk UGD.

Yunho sendiri pernah berpesan pada ibunya, bahwa bila suatu saat nanti ada seseorang yang ingin membunuhnya, biarkan saja. Tidak usah dicari tahu, tak perlu dipermasalahkan. Biarkan saja.

Dia katakan itu sehari setelah Joon-Gi, kakak tertua Jihyun, berteriak kalap di depannya. Bersumpah akan membunuhnya!

Jadi sekarang Yunho tidak peduli siapa Siwon ini. Sepupu atau bukan, mungkin dia yang terpilih.

"Gue nyesel, Won... Gue bener-bener nyesel."

Suara seraknya begitu lirih, hampir hilang. Sepasang mata itu lalu terpejam mengalirkan air. Siwon menatap sampai tetes-tetes itu hilang di antara hijaunya rerumputan.

Kemarahan ini ditekannya berbulan-bulan. Keinginan balas dendam itu terbawa sampai ke alam bawa sadar. Tapi Siwon juga tahu ia takkan pernah bisa mengembalikan yang telah hilang. "Elo nyesel, terus berusaha bunuh diri, terus lari ke sini. Tapi kenyataannya? Elo langsung punya pacar! Begitu lo bilang menyesal?" Siwon semakin merunduk. Kembali Yunho menyeringai menahan sakit.

"Gue emang nggak pernah liat lagi lo bawa motor. Tapi apa lo kira dengan mobil, cewek lo itu terus nggak bisa mati?"

Yunho terdiam. Pertanyaan ini yang paling tidak ingin dijawabnya.

"Jangan mati dulu, jawab pertanyaan gue!" lutut Siwon semakin menekan dada Yunho.

Yunho mengerang.

"Won, sakit..."

"Oh! Lo mau nggak sakit? Jawab pertanyaan gue! Jaejoong bisa jadi mati meskipun bukan lagi duduk di atas motor!"

"Nggak akan!"

"Kenapa lo bisa yakin?"

"Karena gue mau berubah!"

"Begitu?" Siwon mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Kalo mau berubah itu awalnya harus jujur, Yun. Banyak yang lo mesti ubah. Dan yang pertama..," Siwon menepuk pipi lebam Yunho, "bukan cewek, tau? Cara lo berubah asyik bener? Mulai sama yang baru, sementara yang lama elo kubur di bawah tanah!"

Yunho terpuruk. Kalimat terakhir Siwon membuat isi dadanya bergolak. Yunho tak tahan lagi. Dengan paksa Siwon telah mengembalikannya ke masa peling hitam dalam hidupnya. Meruntuhkan semua kerja keras Jaejoong yang telah menuntunnya keluar selama ini.

"GUE NGGAK SENGAJA!" teriak Yunho menggelegar. Memantulkan gemuruh gema. Putus asa. Dicengkeramnya kedua pergelangan tangan yang selama ini menekan bahunya, dan di dorongnya cowok itu sekuat tenaga.

"GUE NGGAK SENGAJA! GUE NGGAK SENGAJA! GUE NGGAK SENGAJA!" teriaknya kalap. Dipukulnya Siwon bertubi-tubi, dan baru berhenti setelah cowok itu terkapar di atas rumput. Kemudian Yunho menghampirinya perlahan, tubuhnya menghalangi teriknya sinar matahari yang menyorot wajah Siwon.

"Gue nggak sengaja, Won," ucap Yunho lirih.

Siwon menatapnya. Tetes air mata bercampur darah itu jatuh tepat di atas dadanya.

Perlahan Siwon bangkit berdiri. Lalu mendekatkan diri hingga jaraknya dengan Yunho tinggal beberapa senti.

"Nggak sengaja? Okelah itu nggak sengaja. Gue cincang elo juga nggak ada gunanya sekarang, Yun. Cuma yang gue nggak ngerti, begini cara lo berubah? Ke mana-mana berdua Jaejoong, hampir nggak pernah lepas. Lo peluk cewek lo di depan banyak orang. Lo gandeng ke sana kemari. Mesin ke kantin berdua, ke perpus berdua, ngerjain tugas berdua. Satunya latihan basket, satunya setia nungguin.

Satunya sibuk di PMR, satunya juga tidak mau ketinggalan. Sampe begitu! Gue rasa lo berdua bakalan langsung kawin begitu kelar SMU!"

"Begitu, elo ngeliatnya?"

"Iya! Meskipun gue lihat Jaejoong NGGAK begitu happy di sebelah elo. Kenapa? Dia tahu elo brengsek?"

Diam-diam Yunho jadi kaget. Ternyata Siwon bisa melihat. Dan Siwon menyambung kalimatnya begitu Yunho tidak bersuara.

"Yun..," lanjut Siwon lirih tapi tajam. "Elo tau kalo tante gue, nyokapnya Jihyun-ie, masih sering nangis sampe sekarang? Elo tau kalo omm gue sampe nyumbangin baju, sepatu, tas, semua barang-barang Jihyun-ie? Dibagiin ke sembarang orang supaya istrinya bisa cepet lupa! Elo tau kan kalo Jihyun-ie murid kesayangan Bu Uee, guru matematikanya? Dan sampe dia bulan dia meninggal, Bu Uee masih juga susah percaya dan tanpa sadar dia terus mengabsen padahal bangku itu udah kosong! Dan kalo Joon-Gi nggak dihalangin, elo udah jadi mayat, Yun! Mereka sampe begitu, sementara elo di sini katanya menyesal, tapi nggak pernah lepas dari cewek lo!"

Yunho mengatupkan gerahamnya rapat-rapat. Emosinya kembali naik dan dadanya sakit ditikam kalimat panjang Siwon itu.

"Dia... bukan cewek gue!" desisnya patah.

Akhirnya, dia katakan juga yang sebenarnya! Dan ada yang seketika terlepas. Dia telah membiarkan terbang, satu-satunya orang yang terdekat dengannya saat ini.

"Apa maksud lo?"

Yunho menarik napas panjang-panjang dan memalingkan mukanya ke arah lain.

"Jaejoong bukan cewek gue. Kami nggak ada hubungan apa-apa."

Dahi Siwon makin mengerut.

"Terus, selama ini... elo sama dia ke mana-mana...?"

"Cuma pura-pura..! Sandiwara!"

Siwon terperangah.

"Kenapa?"

Sekali lagi Yunho menghela napas. Wajahnya semakin muram. Ini kali kedua, dia kehilangan gadis yang disayanginya. Berterus terang ke Siwon sama saja seperti menyerahkan Jaejoong ke tangannya.

"Karena gue mau berubah. Dan untuk itu, gue perlu sendirian. Dan untuk bisa sendirian gue perlu temen. Jelas?

Siwon ternganga. Ya Tuhan!

"Jadi elo manfaatin dia!?" serunya seketika.

"Nggak juga. Dia udah tau. Gue cerita semuanya. Gur bilang gue butuh bantuan."

"Dan dia bersedia? Gue nggak percaya!"

"Nggak juga sebenarnya."

"Terus... lo paksa dia?"

Yunho tidak menjawab.

Siwon geleng kepala. "Elo emang bener-bener bajingan! Tega banget lo, sama cewek kayak Jaejoong! Kenapa lo nggak pacarin aja si Youchun, atau Beom-Soo! Atau... si Geun-sub sekalian! Dengan predikat hombreng, lo lebih cepat dijauhi cewek!"

"Gue nggak ada pikiran ke situ."

"Terus kenapa Jaejoong? Kenapa nggak yang laen? Apa karena dia kecil? Jadi lebih gampang lo ancem kalo dia berani nolak?"

Yunho bungkam. Siwon balik badan. Menatap ke lain arah masih sambil geleng-geleng kepala.

"Cuma sandiwara!?" desisnya. Betul-betul di luar perkiraannya. Dan dia jelas saja tidak percaya.

Yunho ini playboy di kotanya. Meskipun dia pernah bilang berkali-kali bahwa Jihyun-lah cinta pertamanya, siapa yang mau percaya? Siwon bahkan yakin si pembunuh ini sudah mengenal cinta pertamanya waktu masih di TK, atau bahkan sebelum itu. Dan cewek imut-manis, lagi-model Jaejoong mana mungkin dibiarkan Yunho begitu saja!

Pantas saja, Jaejoong selalu mengelak setiap kali topik pembicaraan dia belokan ke arah Yunho. Karena ternyata, cewek itu memang tidak tahu apa-apa dan tidak punya kepentingan apa-apa.

Siwon memang sudah merasa ada yang nggak beres dalam hubungan Jaejoong dan Yunho.

Berkali-kali kalo dia sedang iseng, lewat di depan rumah Jaejoong waktu malam minggu atau minggu pagi-siang-sore-malam, dia lihat Jaejoong selalu ada di rumah.

Dan dia yakin seribu persen pertemuan mereka di trotoar waktu itu adalah bukan kali pertama Jaejoong jalan sendirian.

Makanya Siwon sempat mengira, Jaejoong pasti sudah kepincut wajah gantengannya Yunho, sama seperti cewek-ceweknya yang dulu, dan menyerah tanpa syarat seperti yang selama ini selalu terjadi. Makanya cewek itu pasrah saja menerima perlakuan apa pun juga.

Siwon juga mengira Yunho cuma memanfaatkan Jaejoong untuk melupakan masa lalunya.

Cuma bagian yang tergelap pastinya. Sementara sisanya pasti akan diulangi!

Karena itu, untuk bisa mewujudkan rencananya, jelas saja Siwon harus merebut Jaejoong lebih dulu. Cinta soal belakang, karena memang bukan Jaejoong sasarannya. Dia perlakukan si mungil itu dengan begitu baik, memanjakannya dengan mewujudkan semua keinginannya, menjaganya sungguh-sungguh setiap kalu mereka bersama, lebih tadinya dia mengira akan memberikan kesedihan yang dalam pada saat dia menghancurkan Yunho demi kematian sepupu yang paling di sayanginya.

Tapi ternyata, sekarang mantan jagoan ini jadi begitu rapuhnya sampai perlu bantuan seorang cewek untuk melindunginya.

"Jaejoong buat gue! Gimana?" tanya Siwon tiba-tiba. Yunho tersentak.

"Buat elo? Apa sih maksud lo?"

"Udah cukup, Yun, elo ngumpet di belakang punggungnya!"

"Sayangnya... nggak bisa!"

"Kenapa!?" tanya Siwon dengan suara mendadak tajam.

"Gue sayang dia!"

"Katanya dia cuma temeng! Elo gimana sih?"

"Tapi bukan berarti bisa seenaknya elo minta!"

Siwon berdecak. Lagu lama! Ditatapnya sekujur tubuh Yunho yang penuh lebam.

"Mana yang paling sakit?" tanyanya. Kening Yunho mengerut. Dan meskipun dia heran dengan pertanyaan itu, tanpa curiga dia menunjuk dada kanannya. Siwon tersenyum tipis.

"Kalo begitu... sori!" Dihantamnya dada Yunho dengan pukulan keras. Tak ayal, Yunho terjerembab dengan suara erangan yang tersedak di kerongkongan.

"Butuh temeng, cuma sandiwara, tapi sayang! Elo bener-bener nggak bisa dipercaya! Jaejoong buat gue. Titik!"

"Won!" Yunho buru-buru mencekal pergelangan kaki Siwon waktu cowok itu bersiap pergi. "Gue nggak mau liat nyokap gue nangis lagi!"

Siwon tertegun. Kalimat itu menyiratkan kesungguhan Yunho untuk benar-benar berubah. Tapi sedetik kemudian dia tidak peduli.

"Itu urusan elo! Oke? Sekarang gue mau pergi ke rumah calon cewek gue. Elo tidur aja di sini!" Ditepuknya pipi Yunho. "Ntar gue panggilan ambulans!"

Siwon pergi. Meninggalkan Yunho terkapar di atas rumput. Yunho mencoba bangun tapi pening hebat di kepala, juga rasa ngeri luka-lukanya, membuatnya menghentikan usahanya. Akhirnya ia tergolek pasrah. Ditudunginnya kedua matanya dengan sebelah lengan saat sinar matahari yang terik menyorot tajam.

Begitu mobil Yunho melesat pergi, Jaejoong langsung keluar rumah dan menyetop taksi, balik ke sekolah. Tapi ternyata kedua cowok itu tidak ada. Hampir semaput dia periksa semua ruangan di sekolah. Nihil. Kosong.

Waktu iseng dia bertanya pada Pak Kumis, tukang es yang mangkal di depan gerbang sekolah, Pak Kumis malah bilang kalau Yunho nggak balik lagi, dan Siwon juga langsung pergi tak lama setelah Yunho mengantar Jaejoong pulang.

Jaejoong jadi semakin waswas. Dia merasa sesuatu akan terjadi. Sampai malam Yunho dan Siwon ternyata tidak pulang. Bolak-balik dia telepon ke rumah mereka, tapi jawabannya selalu "Belum pulang".

...

Malam sudah larut, tapi Yunho masih terjaga. Terbaring di tempat tidur. Tubuhnya terasa luluh lantak setelah digempur Siwon tadi siang.

Sambil menatap sayu selembar kertas ungu, Yunho mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu, hari di saat hatinya hancur dan pikirannya lelah, hari di saat Jaejoong tiba-tiba memberinya kertas ungu itu, entah karena betul-betul perhatian atau karena terpaksa melakukannya.

"Masih jadi pikiran ya?" tanya Jaejoong waktu itu, di dalam mobil Yunho.

Yunho tersenyum tipis mendengar pertanyaan Jaejoong. Apa itu sesuatu yang dengan mudahnya bisa dilupakan? Membunuh seseorang, meskipun tanpa sengaja.

Seseorang yang justru paling dekat di hatinya. Seseorang yang selalu hadir dalam lebih dari seribu mimpi.

Jaejoong tersenyum tipis, lalu mengangguk kecil. Jaejoong paham meskipun tak ada jawaban yang Yunho berikan.

"Yun, gue bawain ini buat elo. Barangkali aja elo bisa agak tenang. Di baca ya?"

Cewek mungil itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Selembar kertas bernuansa ungu. Lembut dengan tebaran camar putih. Di atasnya terdapat baris-baris kalimat, tertulis juga dengan tinta ungu.

"Puisi?" tebak Yunho saat itu. Heran dan surprise.

"Bukan. Kebagusan bener gue bawain puisi buat elo!"

Yunho jadi tersenyum dengan jawaban yang agak judes itu. Jaejoong selalu begitu.

Walau terkadang ketus, cewek itu telah melindunginya sungguh-sungguh.

"Ini doa!"

Doa? Kening Yunho mengerut.

"Doa?"

"He-eh. Gue lupa dari mana gue kutip ini. Tapi kalo nggak salah inget, ini doa para peziarah dalam perjalanan menuju Santiago de Compestela. Doa ini indah banget, Yun." Jaejoong menatapnya, kesungguhan terpancar dari dua bola matanya. "Dosa terindah. Bisa menenangkan. Mudah-mudahan elo juga akan begitu."

"Kalo gue nggak mau terima?"

"Sayangnya harus iya!" Jaejoong kontan melotot, membuat Yunho jadi tersenyum lagi.

Yunho ingat, ternyata beberapa hal yang pernah dilakukannya kini berbalik di lakukan si mungil itu terhadapnya.

"Boleh gue baca dulu?" tanya Yunho.

Kedua alis Jaejoong bertaut, dia tersadar. "Oh, iya! Belom gue kasih liat ke elo ya?"

Setelah memegang kertas bernuansa ungu itu, Yunho tertegun. Tertunduk kelu menatap barisan kata-kata itu.

Tuhanku...

Bicaralah padaku bila aku kesepian

Bisikkanlah aku dukungan-Mu bila aku dirundung kecemasan

Dengarkanlah suaraku bila aku jatuh

Sudilah menjadi bagiku penghiburan dalam perjalanan

Tempat bernaung di waktu panas

Tempat berteduh di kala hujan

Tongkat penuntun dalam kelelahan

Dan penolong dalam bahaya

Semoga aku berhasil

Mencapai tujuanku

Sekarang, dan juga nanti

Pada akhir hidupku.

Jaejoong benar. Doa ini indah. Sangat indah. Damai dan meneduhkan.

Itu hadiah terindah kedua yang diberikan Jaejoong untuknya. Hadiah yang pertama selalu diberikan Jaejoong di ujung minggu, sebelum cewek itu turun dan menutup pintu mobil.

"Besok jangan lupa ke gereja ya?"

Selalu. Seperti itu.

Dan di hari-hari berikutnya, perlahan Yunho sadari, betapa indah satu pesan itu.

Saat ini, saat doa ini di bacanya lagi, benar-benar ingin dipeluknya Jaejoong kuat-kuat, sebagai tanda berjuta terima kasih yang pasti takkan cukup.

Untuk doa ini... dan pesan itu...

Malam ini, sama seperti hari itu, doa teduh para peziarah dalam perjalanan panjang mereka menuju Santiago de Compestela membuat Yunho kembali termangu.

Tuhanku...

Bicaralah padaku bila aku kesepian...

Dua baris pertama yang begitu menyentuh. Selalu. Saat ini, bukan hanya kesepian yang dirasakannya. Tapi juga kesedihan, kehilangan, kecemasan, kesakitan, juga keputusasaan. Begitu banyak. Sangat banyak.

Perlahan, kepalanya terkulai, tangannya jatuh ke tempat tidur, masih memegang kertas ungu itu. Perlahan, doa teduh itu terulang. Jauh direlung terdalam.

Tuhanku...

Bicaralah padaku...

...