TOO FAR SERIES
(FOREVERTOO FAR)
by RyeoTa Hasu
(Original Story by Abbi Glines)
.
.
Disclaimer :
This original story is fromToo Far Series Novel by Abbi Glines
I just remake it with my own idea and with Kyumin as main Cast
Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi
Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita
.
Rate :
M (Mature)
.
Warning :
Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Mature Contain, some explisit sexual activity, uncensored, Typo menjamur
.
a.n :
Sekedar informasi aja, mulai chap ini, ff ini akan berbeda 70% dari novelnya. Semoga ga kecewa ya! ^.^
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ!
MAKE IT SIMPLE
HAPPY READING ^.^
.
.
Chapter 21
o.o.o.o.o.o.o.
.
.
(Hasu POV)
.
Setelah ritual mandi yang penuh dengan perjuangan dan desahan, Sungmin dan Kyuhyun memutuskan untuk sarapan di balkon apartemen.
Namun ternyata, mereka sudah didahului oleh pasangan ayah dan anak yang sedang kembali bertengkar, Jay dan Taemin.
"Aigoo, tidak bisakah sehari saja kalian hidup dengan damai. Aku lelah melihat drama keluarga kalian itu." Ternyata bukan hanya ayah dan anak itu yang ada disana. Seorang pria rocker paruh baya turut menjadi penonton setia dari pertunjukan drama keluarga itu, Cho Jino, Abeoji Kyuhyun.
"Jika kau tidak suka kau boleh pergi. ini urusanku dengan ayahku." seru Taemin marah sambil menatap Jino tajam.
Alih-alih pergi, Jino justru menyamankan posisinya yang tengah berbaring di salah satu kursi malas yang ada di balkon.
"Nona manis, sekedar informasi jika kau lupa, ini adalah apartemenku. Apartemen 'AYAHMU' ada di bawah, dan disana ada ISTRI SAH serta ANAK SAH nya. Kalian berdua hanya tamu disini, jadi jagalah sikap kalian," ujar Jino santai.
Taemin melotot mendengar perkataan Jino.
"Abeoji," geram Kyuhyun.
Jino beranjak dari posisi berbaringnya kemudian menoleh ke pintu balkon, dimana Kyuhyun dan Sungmin yang berdiri diam dan ikut menjadi penonton.
"Ah, Anak dan menantuku. Selamat pagi!" sapa Jino santai sambil tersenyum polos.
"Menantu?" ulang Taemin sinis.
"Yah, menantu. Dia akan segera menikah dengan Kyuhyun, tentu dia menantuku kan?" jawab Jino masih santai.
"Apa kau tak malu memiliki menantu gay menijikan sepertinya?" ujar Taemin sinis.
"YAK! LEE TAEMIN!" bentak Kyuhyun dan Jino bersamaan.
"Aku Kim Taemin. Ayahku Kim bukan Lee!" seru Taemin keras.
"Seingatku, aku belum mengijinkanmu menggunakan namaku." sergah Jay sambil berdiri dari posisinya yang tadi duduk dihadapan Taemin. mereka berdiri berhadapan sekarang.
"Kau mengatakan Lee Sungmin gay? Lalu kau ini apa? Apa kau pikir aku tak tahu kegilaanmu selama ini, hah?" geram Jay.
"JAY AHJUSHI!" seru Kyuhyun berusaha menghentikan Jay.
"Kau dan Eommamu itu sama saja. Sama2 bitchy! JIka kau bisa merubah sedikit saja sikapmu itu, mungkin aku tak keberatan mengakuimu atau sekedar memberikan nama belakangku untukmu. Tapi... lihatlah dirimu. Begitu kekanakan dan egois. Melemparkan tubuhmu kedalam pelukan sembarang pria. Kesana kemari merusak keluarga orang lain, apa kau tak malu hah! Dan kau juga gay, bitch boy!" bentak Jay.
"Kim Young Deok, CUKUP!" Jino beranjak dari posisinya dan beralih menarik Jay agar menjauh dari Taemin yang berdiri kaku di depan Jay dengan pandangan shock.
"Jay Ahjushi..." Kyuhyun mengeratkan rangkulannya pada Sungmin yang juga berdiri kaku disamping Kyuhyun. Spechless.
"Aku lelah Cho! Aku lelah menghadapi tingkahnya dan Eommanya yang gila itu. Aku hanya meladeninya sekali, dan tiba-tiba dia membawa Taemin sebagai anakku?! Meskipun dengan bukti hasil DNA yang positif sekalipun... Apa mereka pikir semua yang mereka inginkan bisa mereka dapatkan hah? Dengan menghancurkan keluargaku?!"
"Keluarga apa maksudmu? Kau juga sama brengseknya dnegan kami!" Taemin akhirnya buka suara.
"Kau telah memiliki istri tapi masih bermain dengan wanita lain. Kau tidak ingat umurmu. Jika bisa memilih, aku juga tidak ingin memiliki ayah sepertimu!"
"KAU!" Jay menggeram marah.
"Taemin, Kim Young Deok cukup! Kalian jangan gila! Sungguh kekanakan!" seru Jino keras. Wajahnya begitu tegang dan menyeramkan.
Sungmin sampai berjengit kaget.
Dia belum pernah melihat seorang Cho Jino marah sebelumnya. Ternyata Jino dan Kyuhyun jika marah sama, sama-sama menyeramkan.
Kyuhyun yang merasakan tubuh Sungmin berdiri kaku di sampingnya menoleh cemas sambil mengeratkan rangkulannya.
"Baby, kau tak apa?" tanyanya khawatir. "Abeoji! Kau membuat Sungminku takut!" seru Kyuhyun pada Jino.
Jino melirik Kyuhyun dan Sungmin, wajah tegangnya yang menyeramkan perlahan melunak.
"Mianhae, menantuku," ujarnya dengan nada lembut sambil tersenyum tipis.
Dia beralih pada Kyuhyun.
"Lebih baik kau membawa menantuku masuk, Kyu. Dia sedang hamil jadi jangan sampai dia terpengaruh drama konyol kedua orang gila ini, dia tak boleh stres kan?" ujarnya dengan nada tegas pada Kyuhyun.
Kyuhyun melirik bimbang antara Sungmin yang menatapnya dengan pandangan cemas bercampur takut, dan Taemin yang menatapnya dengan padangan marah dan kecewa. Dia berada pada posisi yang sulit dan terpaksa memilih salah satu dari kedua orang yang paling dicintainya melebihi nyawanya sendiri.
"CHO KYUHYUN!" seru Jino menyadarkan Kyuhyun dari keterdiamannya.
Kyuhyun menatap Taemin dengan pandangan bersalah bercampur kecewa.
"Taeminnie... semalam bukankah kita sudah sepakat? Kau akan merenungi sikapmu dan aku akan mencoba membantumu. Tapi jika kau terus egois dan keras kepala seperti ini, bagaimana aku bisa membantumu? Selama hidupku sejak kau lahir, aku mencurahkan seluruh hidupku untukmu, Taetae. Tapi kini," Kyuhyun memeluk Sungmin erat sambil membelai perut buncitnya. "Aku akan segera menjadi Abeoji untuk anak kami dan seorang suami bagi Sungmin. Aku ingin memberikan yang terbaik pada mereka dan... aku ingin menikmati hidupku yang bahagia tanpa masalah dan dendam lagi, Taetae. Aku ingin hidup damai. Tak bisakah? Apa ini terlalu egois?" pinta Kyuhyun lirih. Sungmin berdiri diam dalam pelukan Sungmin, tak tahu harus bereaksi apa.
"Kyu hyung..." Taemin mengeluarkan tangis yang sejak tadi ditangannya. "Aku... iri dengan kalian. Kau memiliki ayah yang mengakuimu dan memberikanmu perhatian, lalu kini kau memiliki pria itu dan juga anakmu. Dan Lee Sungmin, dia memiliki Lee Minho, ayah baik hati yang sempat menjadi ayahku. Sedangkan aku... Eomma yang hanya mementingkan status dan materi serta ayah brengsek yang tak mau mengakuiku bahkan sekedar memberikan nama belakangnya untukku? Apa menurutmu ini semua adil?" rengeknya.
Sungmin menegang dalam pelukan Sungmin. Dia mengerti benar perasaan Taemin. Dia begitu hancur, sangat hancur pasti.
"Yah bocah," ujar Jay.
"Namaku Taemin bukan bocah brengsek!" maki Taemin pada Jay.
"Ini semua bukan murni salahku. Aku juga korban. Aku besar tanpa ayah dan kau mengenal bagaimana Eommaku, lalu apa itu salahku jika aku seperti ini? Aku hanya ingin bahagia! Aku juga ingin punya keluarga. Aku... tidak sebrengsek dan se-bitchy yang kau kira." Isak Taemin.
"Tae," Kyuhyun ingin sekali memeluk adiknya yang begitu rapuh itu, namun... disampingnya Sungmin, Eomma dari darah dagingnya juga membutuhkan dirinya. Dia hanya bisa menahan dirinya dengan hati yang teriris perih karena tak mampu berbuat apapun.
Ini diluar kuasanya. Ini semua tergantung Taemin dan... Jay. Pria brengsek yang menjadi ayah biologis Taemin itu harus bisa berfikir dewasa dan melunakan sedikit egonya untuk mau menerima Taemin, maka masalah akan selesai.
"Jika kau mau membuka hatimu dan mau mengenalku sedikit lebih dekat... aku akan tahu diriku yang sesungguhnya." Lirih Taemin lagi.
"Tapi, kau tidak mau mencobanya. Kau... tidak memiliki hati nurani seorang ayah. Kau tak lebih dari hanya sekedar mesin seks berjalan yang hobi menebar benih dan menolak memanennya. Kau lah yang bersalah bukan aku. Kau yang menjadi penyebab masalah ini. Kau Kim Young Deok brengsek!" maki Taemin sambil melangkah pergi dari balkon setelah sengaja menabrak bahunya dengan Jay yang berdiri shock di depannya karena perkataan 'indah' Taemin tentang dirinya.
Jino hanya bergeleng pasrah disamping Jay sebelum kemudian kembali pada posisinya semula, berbaring malas di kursi malas dan menutup mata.
Taemin menghentikan langkahnya sejenak di depan Kyuhyun dan Sungmin yang masih berpelukan dengan Kyuhyun yang memandang Taemin penuh rasa bersalah.
"Hyung, Kyuhyun hyung... Mianhae... Maaf karena... aku telah merampas kebahagiaanmu selama ini. Aku..."
"Tae..." sela Kyuhyun tersentak.
Taemin menggelengkan kepalanya.
"Aku lelah hyung, aku lelah. Aku cukup sabar dengan semuanya. Aku telah merenung hyung, semalaman. Aku memang egois. Aku memang jahat. Lee Sungmin... dia tak bersalah apapun tapi aku selalu bersikeras menyalahkan dan menyakitinya." Taemin beralih memandang Sungmin sendu. "Aku takkan meminta maaf karena aku tak pantas dimaafkan, tapi... aku menyerahkan Hyungku padamu. Satu-satunya keluarga yang ku miliki dan mengakuiku. Tapi kini... aku kehilangan semuanya. Aku sendiri. Selamat tinggal." Tanpa menoleh lagi Taemin berjalan pergi kemudian keluar dari apartemen itu.
Jay masih menatap tak percaya pada kepergian Taemin.
"Apa kalian dengar yang dia katakan padaku? Dia bilang aku apa? Aku apa?!"
serunya kesal.
"Kau brengsek dan mesin seks Kim Young Deok," dengan senang hati Jino mengulangi perkataan Taemin tadi.
"Yak, Cho! Apa bedanya aku denganmu hah?!" bentaknya pada Jino.
"Aku?" Jino menunjuk dirinya. "Aku memang player, tapi aku bertanggung jawab kok. Kyuhyun contohnya. Aku ayah yang baik kan Kyu?" tanyanya santai pada Kyuhyun yang berdiri kaku memandangi pintu apartemen dimana sosok adik satu-satunya menghilang dibaliknya.
Sungmin yang merasa prihatin dengan perasaan Kyuhyun membelai dada Kyuhyun lembut kemudian beralih ke rahangnya dan mengarahkannya agar menghadapnya.
Ditatap Kyuhyun dengan pandangan lembut penuh perhatian.
"Kyu, kejar adikmu." Pinta Sungmin lembut.
"BabyMin..."
"Dia membutuhkanmu. Dia telah menunjukkan penyesalannya padaku dan dirimu. Dia sedang hancur dan membutuhkan sosok yang diharapkannya sebagai penopangnya, dirimu Kyu." ujar Sungmin lagi dengan lembut.
Kyuhyun menatap Sungmin ragu.
"Aku tak apa. Disini ada Abeonim. Aku baik-baik saja. Kau menyayangi Taemin kan? Aku juga tak membencinya. Jadi," Sungmin merenggang pelukannya kemudian mengarahkan tubuh Kyuhyun ke arah pintu apartemen berada.
"Susul dia Kyu," pinta Sungmin lagi, kali ini dengan tegas.
Kyuhyun menatap Sungmin penuh cinta.
"Aku akan kembali, Baby. I promise." Setelah memberikan Sungmin kecupan dalam penuh makna, dia langsung beranjak keluar apartemen untuk menyusul Taemin.
Sungmin memandang kepergian Kyuhyun dengan pandangan sendu.
"Aku percaya Kyu, always," ujarnya lirih.
Sementara di balkon Jino dan Jay tengah saling berhadapan dengan tegang, lebih tepatnya Jay yang menatap Jino dengan marah dan Jino yang masih nyaman dengan posisinya berbaring di kursi malas, tak terpengaruh tatapan Jay.
"Wae? Aku benar kan? Bukan anakmu itu yang salah, tapi dirimu. Juga Bae Sooji. Kalian pasangan orang tua yang childish dan sangat egois. Banyak yang menjadi korban dari sikap buruk kalian itu, kau mengerti kan?" ujar Jino santai namun tegas.
"Cho Jino," geram Jay.
"Kim Young Deok," balas Jino.
"Aku berbicara sebagai sahabatmu dan juga seorang Ayah, Jay. Sudah cukup dengan sikap brengsekmu itu. Aku lelah, kau juga seharusnya lelah kan? Kau telah memiliki Hanbyeol yang begitu sabar dan bersembunyi di balik sikap polosnya. Dia juga sebenarnya terluka dalam hatinya karena sikapmu itu, karena aku tahu... aku hanya tahu," ujar Jino dengan tenang.
Jay masih berdiri diam.
Itulah mengapa aku enggan berkomitmen. Cukup Kyuhyun saja yang menjadi korban dari ke egoisanku semasa muda dulu. Kita sudah tua, Jay. Jangan ada korban lagi." Sambung Jino.
"Lalu, apa maumu Cho?" tantang Jay.
"Taemin, tentukan keputusanmu. Ini takkan pernah berakhir Jay jika tidak ada keputusan. Walau bagaimanapun, tak dapat kau pungkiri Taemin adalah darah dagingmu, suka tidak suka, dalam tubuhnya mengalir darahmu. Dia anak laki-lakimu. Hanbyeol dengan tangan terbuka dan tulus mau menerima Taemin dengan segala masa lalumu. Jadi, ini giliranmu sebagai pria. Jika kau memang pria sejati." Jino beranjak dari posisinya dan beralih berdiri di hadapan Jay dalam jarak dekat.
"Jangan sampai kau menyesal kawan," ujar Jino final sebelum meninggalkan balkon.
Dia berpapasan dengan Sungmin yang masih berdiri kaku di pintu balkon.
Dia langsung melembutkan wajahnya dan tersenyum.
"Apa kau ingin menemaniku sarapan, Sweety?"ajaknya sambil merangkul Sungmin dan sedikit menggiringnya menuju ruang makan.
Sungmin hanya pasrah mengikuti ajakan Jino, bayinya butuh makan, dan dia juga butuh energi untuk menghadapi apapun yang akan terjadi nanti.
.
.
(Sungmin POV)
.
.
Ini baru hari ketiga kami disini dan sudah banyak pertengkaran disertai teriakan saling bersahutan yang terjadi. Taemin ternyata tidak terlalu kekanakan seperti yang ku kira sebelumnya. Dia hanya merasa bingung dan kehilangan arah karena tak lagi memiliki pegangan. Sebelumnya dia memiliki Kyuhyun, tapi kini Kyuhyun telah bersamaku sehingga Kyuhyun kurang memberikannya perhatian yang sebenarnya sangat dibutuhkannya.
Aku akui aku memang egois. Aku mencintai Kyuhyun dan ingin selalu bersamanya. Dengan menggunakan anak buah cintaku dan Kyuhyun, aku menjadikan bayiku sebagai alasan untuk menyita seluruh perhatian Kyuhyun. Aku terlalu egois.
Namun kini, aku ingin memberi kesempatan untuk Kyuhyun dan Taemin. Walau bagaimanapun, mereka adalah kakak beradik yang lahir dari Eomma yang sama. Ibarat aku dan Sungjin. Sudah cukup aku memisahkan mereka selama ini.
Lagipula, tujuan kami kemari adalah untuk membantu Taemin. Bertengkar dan meladeni amarah kami masing-masing takkan menyelesaikan masalah.
Tadi saat kami mandi, Kyuhyun telah menceritakan garis besar pembicaraannya dengan Taemin semalam. Dia menceritakan bagaimana Taemin sempat berkata memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya karena putus asa.
Untunglah Kyuhyun berhasil meyakinkan Taemin dan membujuknya untuk merenung agar masalah mereka lekas mendapat titik terang.
Semoga saja Kyuhyun bisa mengatasi Taemin dan... Jino Abeonim bisa meyakinkan Jay-ssi agar mau menghilangkan keegoisannya dan mau menerima Taemin. Seperti Hanbyeol Noona yang begitu baik dan tulus menerima Taemin, meski mendapat tanggapan sinis dari Taemin.
Yah, semoga saja.
.
.
Suara ketukan pintu kamar mengejutkanku dari kegiatan melamun yang sejak setelah sarapn tadi ku lakukan.
Aku tak sanggup naik sendirian ke atas kasur, jadi aku hanya bisa tidur-tiduran di sofa yang untungnya berukuran besar dan nyaman.
Ketukan pada pintu kamar masih berlangsung dan berkesan tidak sabaran.
Siapa? Abeonim? Atau Hanbyeol Noona? Atau... Kyuhyun?
Sejak kepergiannya tadi pagi untuk menyusul Taemin dia belum juga kembali.
Dengan langkah hati-hati sambil menopang pinggang karena rasa berat yang tiba-tiba kurasakan pada perutku, aku mendekati pintu kamar dan membukanya.
Hanbyeol Noona berdiri di depan pintu dengan senyum cerah.
"Sungminnie! Apa aku mengganggumu?" tanyanya ceria.
Aku membalas senyum manisnya sambil menggeleng.
"Tidak Noona. Aku hanya sedang melamun saja," jawabku sambil masih tersenyum.
"Jika kau mau, aku ingin mengajakmu ke apartemen kami, maksudku apartemen Youngdeokie yang berada satu lantai di bawah apartemen ini. Aku ingin mengenalkanmu pada anakku. Apa kau mau?" tanyanya penuh harap.
Aku langsung mengangguk senang.
"Tentu saja. Jujur aku bosan hanya diam di kamar seperti ini. Jika tidak merepotkan tentu aku takkan menolak Noona."
"Baiklah, ayo." Hanbyeol Noona langsung merangkul lenganku dan menarikku keluar dari kamar dan membimbingku menuruni tangga.
Sambil masih merangkulku, kami menuju ke apartemen Hanbyeol Noona.
Begitu aku masuk ke dalamnya, aku langsung terpana.
Tak jauh beda dengan apartemen Jino Abeonim, apartemen ini sungguh artistik dan mewah. Namun berbeda dengan desain di apartemen Jino Abeonim yang begitu klasik dan 'sangat rocker', apartemen Hanbyeol Noona dan Jay-ssi bergaya modern dengan sentuhan feminin dan dominan warna perak dan putih, seolah mewakili kelembutan hati Hanbyeol Noona.
"Jadi bagaimana menurutmu, Sungminnie? Tidak buruk kan?" tanya Hanbyeol Noona sambil melepaskan rangkulannya pada lenganku dan mendahuluiku masuk semakin ke dalam apartemennya.
"Haneul-ah, dimana anak Eomma," seru Hanbyeol Noona setengah berteriak sambil melangkah menyusuri apartemennya, mungkin memanggil anak perempuannya.
Haneul? Hanbyeol? Nama yang manis, baik Eomma maupun anak memang sama-sama memiliki nama yang manis dan indah.
"EOMMA!" suara teriakan anak kecil dari atas tangga mengagetkanku yang sedang melangkah hati-hati menyusuri apartemen indah ini sambil memandangi seisi apartemen.
Seorang gadis kecil yang mungkin masih berusia 5 atau 6 tahun berdiri di ujung tangga. Sepertinya anak itu langsung berlari turun dari kamarnya setelah mendengar suara teriakan Eommanya.
Hanbyeol Noona langsung menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menuju ke arah anak perempuan itu.
Jadi itu, Haneul, Kim Haneul mungkin? Anak Jay-ssi dan Hanbyeol Noona?
Gadis kecil yang manis dan lucu. Rambutnya dipotong bob seperti kartun Dora dengan tubuh mungil berisi dan jari-jari gemuk. Dan juga senyum cerianya yang 100% mirip dengan Hanbyeol Noona. Benar-benar fotokopi Hanbyeol Noona.
Dalam hati, entah mengapa aku bersyukur karena anak itu sepertinya tidak sedikitpun mewarisi penampilan ayahnya yang seram itu.
Ya, Jay-ssi memang seram menurutku. Jauh lebih seram dari Jino Abeonim karena Abeonim terkadang masih tersenyum sehingga wajahnya terlihat sedikit ramah. Sedangkan Jay-ssi lebih sering menyeringai atau tersenyum mesum, sedikit mengerikan dan menjijikan.
"Sayang..." Hanbyeol Noona memeluk anak perempuan itu sambil membelai rambutnya lembut.
"Anak Eomma yang cantik," ku dengar Hanbyeol Noona memuji anaknya sehingga wajah anak itu memerah manis dalam pelukan Hanbyeol Noona.
Aigoo, anak yang lucu!
Hanbyeol Noona melepaskan pelukannya pada anaknya dan menoleh padaku.
"Kemari Sungminnie, perkenalkan anakku, Kim Haneul," ujarnya sambil mengayunkan tangannya menyuruhku mendekatinya.
Aku akan melangkah ke arah Hanbyeol Noona namun aku langsung menghentikan langkahku saat ku rasakan remasan pada perutku. Ini sangat menyakitkan.
Aku langsung menjatuhkn tubuhku dan berlutut sambil memegang erat perutku.
Sakit! Sangat sakit!
"Sungminnie," seru Hanbyeol Noona tertahan.
Dalam sekejap Hanbyeol Noona telah ada di hadapanku dan langsung memegang bahuku berusaha menguatkanku.
"Ada apa? Sakit? Apa terasa teremas?" tanyanya panik.
Aku tak mampu mengatakan apapun karena aku berusaha untuk tidak merengek atau menangis. Jadi aku hanya bisa mengangguk.
"Bersabarlah Sungminnie. Aku akan segera memanggil ambulans. Bertahan Sungmin," Hanbyeol Noona langsung meraih ponsel dari dalam sakunya dan kemudian ku dengar dia berbicara pada seseorang di seberang ku kira operator panggilan darurat, Noona menjelas situasi yang ku alami. Kemudian dia menutup teleponnya dan beralih padaku.
"Ambulans akan segera tiba, bertahanlah," ujarnya sambil menggenggam salah satu tanganku.
Aku mengeratkan genggamanku pada tangannya untuk menjadikannya penopang dari rasa sakit yang ku rasakan.
Ada apa, anakku? Ku mohon jangan sakit sayang!
.
.
(Sungmin POV END)
.
.
(Hasu POV)
SS International Hospital
"Kandungan Anda baik-baik saja, Lee Sungmin-ssi. Hanya sedikit kram karena tekanan yang dipicu oleh stres," ujar Dokter sambil sambil tersenyum ramah, membuat kecemasan yang sejak awal dirasakan Sungmin mulia berkurang.
"Benarkah Dokter?" tanya Sungmin dan Hanbyeol bersamaan.
Dokter itu tertawa kecil karena kekompakan Sungmin dan Hanbyeol kemudian mengangguk.
"Benar, Lee Sungmin-ssi, Kim Hanbyeol-ssi," jawab Dokter itu sambil masih tersenyum ramah.
Dokter wanita bernama Lee Chaerin yang cantik dan ramah itu menggenggam salah satu tangan Sungmin yang bebas.
"Jika Saya di ijinkan bertanya, apa Anda memiliki beban pikiran yang terus Anda pikirkan beberapa waktu ini, Lee Sungmin-ssi?" tanya Dokter itu lembut.
Sungmin menatap sang Dokter dengan pandangan ragu.
"Jangan terlalu dipaksakan, Sungmin-ssi. Saya tidak akan memaksa Anda untuk mengatakannya karena Saya bukanlah psikolog. Tapi, Saya hanya berharap untuk kali ini Anda harus lebih berhati-hati karena kandungan Anda sudah memasuki tri-semester kedua menuju tri-semester ketiga. Janin sudah berkembang sangat baik dan mulai berwujud bayi yang sempurna dan sehat. Namun, kesehatan janin juga akan sangat dipengaruhi oleh kesehatan Eomma yang mengandungnya," Dokter itu mengeratkan genggamannya untuk memberikan dukungan.
"Jika bisa, sangat Saya sarankan untuk tidak memendam beban pikiran yang terlalu berat karena akan sangat mempengaruhi kesehatan Anda dan juga bayi Anda." Lanjut Dokter itu sambil tersenyum menenangkan Sungmin.
Dokter itu beralih pada Hanbyeol.
"Hanbyeol-ssi, jika Saya bisa memberikan saran, Sungmin-ssi sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya serta lingkungan dan pikiran yang tetap tenang selama kehamilannya ini."
Hanbyeol mengangguk mengiyakan.
"Tentu saja, Dokter. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga Sungmin agar kejadian ini tidak terulang lagi," ujar Hanbyeol mantap sambil mengeratkan genggaman pada tangan Sungmin yang lain.
Sungmin hanya bisa tersenyum tipis pada Dokter dan Hanbyeol sambil berpikir cara untuk mendapatkan ketenangan demi bayinya.
Dengan semua masalah Taemin yang belum juga selesai dan secara tidak langsung membebaninya, dia takkan bisa mendapatkan ketenangan.
.
(Hasu POV END)
.
.
Too Far Series
.
.
(Kyuhyun POV)
.
Aku tiba di hotel tempat Taemin menginap, dalam hati berharap semoga dia ada di dalam.
Aku telah meninggalkan Sungmin demi dirinya. Jika terjadi sesuatu, aku takkan memaafkan Kim Young Deok.
Aku mengetuk pintu kamarnya dan menunggu. Setelah beberapa saat aku menunggu tanpa adanya jawaban, aku kembali mengetuk pintu.
Nihil.
"Lee Taemin, buka pintunya!" seruku.
Seorang bellboy yang melihatku mengetuk pintu (dengan brutal) menghampiriku dan menepuk bahuku untuk menghentikan aksiku.
Aku menoleh padanya dengan kesal bercampur cemas.
"Adikku Lee Taemin ada di dalam. Aku sudah mengetuk pintu sejak tadi namun dia tidak menjawab. Aku juga sudah menghubunginya dan dia juga tak mengangkat teleponku. Aku mengkhwatirkannya," ujarku setengah panik pada bellboy itu yang menatapku penuh curiga.
"Bisakah kau membukakan pintunya untukku?" pintaku lagi dengan panik.
Bellboy itu hanya diam sambil masih memandangku curiga.
Ck, aku tidak punya waktu untuk ini!
Aku langsung mengeluarkan dompetku dari saku celana dan mengambil kartu identitasku.
"Aku Cho Kyuhyun, ayahku Cho Jino. Adikku di dalam dan aku sangat mengkhawatirkannya. Ku mohon tolong buka pintunya untukku."
Terpaksa aku menjual nama Abeoji agar bellboy bodoh ini segera mengiyakan permintaanku.
Bellboy itu langsung tersenyum senang, terlampau senang. Mungkin dia penggemar Abeoji juga, cih!
"Tentu, akan segera Saya buka." Seru Bellboy itu sambil merogoh kunci master dari saku seragamnya dan membukakan pintu kamar Taemin.
Aku langsung bergegas masuk dan mencari sosok Taemin di seluruh penjuru kamar.
Dan aku melihat tubuh Taemin yang terduduk di bawah karpet ruang tamu hotel dengan kepala tergeletak di atas sofa.
Dengan cemas aku langsung menghampirinya.
"Tae," aku membelalak melihat yang ada di depan mataku.
"TAEMIN!" aku langsung meraih tubuhnya dalam pelukanku dan memeriksa lengannya yang terdapat luka sayatan yang cukup dalam serta darah yang terus mengalir dari luka itu.
"CEPAT PANGGIL AMBULANS!" seruku pada bellboy itu.
Aku mendengar langkah terburu-buru yang keluar dari kamar.
"TAEMIN! ANAK BODOH!" makiku marah sambil merogoh saku dan untunglah aku selalu membawa sapu tangan.
Aku lilitkan sapu tanganku untuk menutupi luka sayatan itu dan berharap ini akan menghentikan pendarahan.
Spontan air mata meluncur deras dari pelupuk mataku.
Taemin kau tak boleh mati!
Jika terjadi hal buruk padamu, aku takkan bisa memaafkan diriku Tae!
.
(Kyuhyun POV END)
.
.
TBC
.
.
#Sembunyi di balik tamengSatpolPP sebelum ditimpuk readers.
Iya, ini pendek.
Ini buru-buru gara-gara mati lampu (lagi) dan PLN yang baik hati hanya menyisakan 30% baterai untuk Hasu mengetik ff ini.
Daripada telat, jadi Hasu post aja sekarang keburu abis baterai.
Tapi tenang, malam nanti abis tarawih langsung di update lagi kok.
Beneran deh, ga bohong! ^.^
Bersabar, ok? ^.^
Keep Reading
Gomawo
.
.
RyeoTa Hasu
