.

Title :

I'm Mama and You're Papa

Genre :

Hurt, romance

Rate :

M

Main Cast :

- Jung Yunho

- Kim Jaejoong

- Park Yoochun

- Kim Junsu

- Shim (Jung) Changmin

Supporting Cast :

- Kim Dong Wan (SHINHWA)

- Kim Yeon Ji (SeeYa)

- Kim Hyun Joong (SS501)

- Jung Ji Hoon ( Rain)

- Jung Yoon Hye (Rainbow)

- Jung Soo Yeon (Jessica SNSD)

- Choi Seung Hyun (TOP BigBang)

- Ok Taecyeon (2PM)

- Yang SeungHo (MBLAQ)

- Hyo Ahjumma

Warning :

GenderSwitch! TYPO!

Ceritanya ini diadaptasi dari manga "Nan Eomma Nun Appa" karangan Hwang Mi-Ri. Saya disini hanya menjadikannya sebuah FF, ada beberapa bagian yang saya kurangi maupun tambahkan. Sesuai dengan keperluan cerita. Saat saya membaca ini, saya malah ngebayangin jika itu Yunho dan Jaejoong, jadilah saya membuat FF ini. hehe.

Yang mau baca silahkan, yang nggak juga silahkan. Yang protes, ya silahkan. :3

But, I hope you like it ~

.

.

note : saya minta maaf, mungkin setelah ini saya akan lama untuk update FF ini. karena manhwa-nya sendiri masih berbahasa korea, belum ada yang engsubnya. saya tidak tahu apakah saya akan menunggu manhwa-nya menjadi engsub ataukah melanjutkan dengan versi saya sendiri (dengan melihat gambar). tetapi jika banyak peminatnya, saya akan pertimbangkan untuk melanjutkan dengan versi saya atau tidak.

jika kalian sangat penasaran dengan cerita ini, kalian bisa membaca manhwa itu. biar rasa penasaran kalian hilang.

:: di mahnwa-nya memang sudah sampai chapter 30-an, tetapi di FF ini ada beberapa chapter yang saya gabung, seperti chapter ini sebenarnya ada dua tetapi saya gabung jadi satu. makanya FF ini masih chapter 21, tidak sama dengan komiknya yang sudah sampai chapter 30an.

sekali lagi saya minta maaf, jangan terlalu menunggu FF ini setiap hari lagi, ya. saya akan lama meng-updatenya.

terimakasih sebelumnya..

.

ps : chapter ini FULL YUNJAEMIN! yang menanti momen mereka bertiga, semoga puas dengan chapter ini.

.

.


Chapter 21

.

"Dimana ini?" tanya Jaejoong dan Yunho bersamaan saat mereka telah tiba di tempat tujuan.

Mereka segera turun dan melihat kesekeliling, sampai mata mereka melihat baliho dengan tulisan : Parenting skills camping trip for parents.

"Untuk orang tua…" lirih Yunho.

"Camping untuk orang tua?" Jaejoong membelalakkan matanya.

"Mengapa aku harus berada disini?" teriak Yunho pada supirnya.

"Kalian berdua harus berada disini selama 2 hari. Dan setelah itu akan datang untuk menjemput kalian."

"Apa? 2 hari? Aku ingin pulang sekarang! Kau tidak bisa membiarkanku disini!" teriak Yunho. Namun sayang, teriakannya hanya angin lalu karena supirnya telah melaju untuk kembali pulang.

"Camping untuk orang tua… aku pikir ini akan menyenangkan." Ucap Jaejoong seraya tersenyum.

Mereka segera memasuki gedung itu, dan menuju resepsionis yang berada disana.

"Selamat datang, bisa saya tahu nama Anda?" tanya resepsionis itu ramah.

Jaejoong menatap Yunho, tetapi Yunho hanya diam. "Namaku Kim Jaejoong."

"Ah, jadi kalian pasangan suami-istri, Jung Yunho dan Kim Jaejoong."

"Apa? Suami dan istri?" tanya mereka bersamaan.

Resepsionis itu tidak menjawab pertanyaan mereka. "Jadi ini Changmin. Dia begitu lucu dan menggemaskan." Ia menatap kearah mereka. "Mari ikuti saya, saya akan memberitahu kalian dimana ruangan kalian."

Merekapun mengikuti resepsionis itu. Memasuki salah satu ruangan yang cukup besar.

"Ini adalah kamar kalian. Tempat tidur bayinya ada disana. Kalian berdua silahkan bersiap-siap, dan ikuti kelas pertama di lantai 1. Kelasnya akan dimulai sebentar lagi."

"Apa hanya ada satu kamar untuk kami?" tanya Jaejoong.

"Iya."

"Tapi.. kasurnya hanya satu."

"Ah, apa kalian sedang dalam pertengkaran? Aku yakin semuanya akan kembali normal setelah kembali dari camping ini. Ketika kalian ke kelas, tolong ganti pakaian kalian dengan pakaian yang telah kami sediakan. Ukuran bajunya Changmin 70, kan?"

"Ukurannya 80." Sanggah Yunho. "Perutnya besar, seperti ibunya. Jadi ukurannya sekitar 80."

"Ah jadi begitu, baiklah aku akan mengganti pakaian untuk Changmin."

Resepsionis itu pun berlalu dari kamar mereka untuk mengambil pakaian Changmin.

'Darimana Yunho tahu ukuran bajunya Minnie? Minnie memang sering terlihat menggunakan pakaian yang lebih besar dari ukuran bayi lainnya. Dan Jung Yunho mengetahui tentang hal itu…'

"Apa itu kau?" tanya Jaejoong.

"Huh?"

"Apakah kau yang memberikan baju pada Changmin?"

"Apa yang kau bicarakan? Jangan bicara yang tidak-tidak disini."

"Mengapa kau membelikannya untuk Changmin? Aku tahu, kau tidak ingin mengakui dia sebagai anakmu."

"Tidak ada alasan untuk itu. Tetapi, itu akan membuatnya frustasi jika di hari ulang tahunnya tidak ada yang mengingatnya. Ketika aku berumur 10 tahun, tidak ada yang mengingat hari ulang tahunku dan aku benci itu. Tapi, kenyatannya mereka merencanakan sebuah pesta jam 9 malam. Tetapi, aku membuat kenakalan sebelum aku mengetahuinya." Cerita Yunho panjang lebar. "Aku tahu itu sangat menyedihkan ketika tidak ada yang mengingat hari ulang tahunnya. Jadi, aku membelikan hadiah untuknya, tetapi ini tidak merubah apapun tentang aku yang mengakui dia anakku atau tidak."

"Sangat menyentuh. Tetapi 100 hari itu tidak seperti hari ulang tahun." Ucap Jaejoong pelan.

"Jadi, apa itu?"

"Ini hanya peringatan 100 hari kelahiran Changmin, dan hari ulang tahunnya masih 365 hari lagi."

"Jadi, mengapa kau menggambar kue tart di kalendermu?" teriak Yunho. "Jadi, kau menipuku? Kembalikan hadiahku!" geramnya dengan mimik wajah yang lucu.

"Mengapa kau meminta hadiah itu kembali? Kau merencanakannya untuk menukar baju itu dengan uang?" kekeh Jajeoong.

"Aku akan menggunakannya! Ada masalah?!" teriak Yunho seraya keluar kamar.

"Aku masih tidak percaya jika Yunho akan memberikan hadiah untuk Changmin." Lirih Jaejoong. 'Ini sungguh aneh. Tetapi mengapa aku merasa ini aneh dan juga senang disaat bersamaan?'

Tiba-tiba Changmin terbangun dari tidurnya dan tersenyum pada Jaejoong. Jaejoong mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Oh, Minnie. Appa-mu telah memberikan hadiah untukmu."

Yunho menuju halaman belakang dari tempat itu, cukup sepi. Ia langsung mengerluarkan ponselnya dan menelepon kakeknya.

"Harabeoji, mengapa kau melakukan itu? Kau sengaja menyuruhku kesini agar aku dapat mengajarkan bagaimana bayi itu berjalan?"

"Oh! Mereka mengajarkan itu juga? Berarti aku mengirimkan kau ketempat yang benar."

"Aku tidak bercanda! Tolong suruh supir itu kesini dan menjemputku sekarang."

"Jika kau tidak suka disana, aku akan menyuruhnya kesana."

"Benarkah."

"Tapi dua hari kemudian!"

"Baiklah, aku akan menghubungi eomma agar ia menyuruh seseorang menjemputku."

"Aku akan menyuruh ibumu untuk tidak menolongmu apapun itu, jadi jangan bermimpi untuk meminta bantuan padanya. Jadilah anak yang baik. Sekarang jangan berpikir untuk kabur. Belajarlah untuk menjadi ayah yang baik."

Jung harabeoji langsung menutup percakapannya dengan sang cucu melalui telepon.

"Menyebalkan!" Yunho berjalan kearah kamarnya. "Baiklah jika begitu, aku harus membuat ia mencintaiku dalam dua hari ini. Lagipula, disini tidak ada Park Yoochun yang akan menggangguku." Ia menyeringai dan membuka pintu kamarnya.

"Tadaaa~" ucap Jaejoong seraya mengangkat Changmin dengan tinggi di depan pintu saat Yunho masuk ke kamar. Ia tersenyum pada lelaki itu. "Apa yang kau pikirkan? Kita memakai pakaian yang sama khusus keluarga. Bukankah ini sangat bagus?" Ia menyerahkan pakaian itu pada Yunho. "Ini! kau juga harus memakainya. Kelas akan dimulai sebentar lagi."

Yunho mengambil pakaian itu. "Jadi, aku harus mengganti dengan pakaian ini juga?"

"Ya."

"Apa kau gila? Kau pikir aku akan menggunakan pakaian seperti itu? Apa tidak ada merk yang lain? Aku tidak ingin menggunakannya." Yunho melemparkan pakaian itu kea rah Jaejoong.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Huh?"

Bukannya marah, Jaejoong malah tersenyum pada lelaki itu. "Tidak ada waktu, cepatlah berganti pakaian." Yunho hanya diam. "Kau kenapa? Kau ingin kita mengganti pakaian ini dengan pakaian yang lain?"

Yunho menatap Jaejoong dengan geram. "Kau!" teriaknya. "Keluarlah! Aku tidak mungkin mengganti pakaian disini jika ada kau!"

"Tidak ada seseorang disini, jadi kau jangan malu. Baiklah, aku akan keluar. Cepatlah ganti baju dan aku akan menunggumu di luar." Jaejoong melangkah keluar kamar. "Minnie, kita akan menunggu appa-mu di luar."

"Aku tidak pernah berpikir hariku akan seperti ini, seorang Jung Yunho dipaksa menggunakan pakaian ini. Bagaimana mungkin aku menggunakan pakaian seperti ini?"

Mereka pun telah berada di kelas pertama untuk pelatihan ketrampilan untuk orang tua dalam mengurus bayi.

"Jadi, bayi kita yang paling muda disini?" lirih Jaejoong.

"Pakaian kita yang kembar ternyata sangat bagus." Ucap Yunho, ketika melihat orang-orang yang menggunakan pakaian yang sama dengan mereka.

"Ah yeah."

"Halo semuanya! Aku Park Jung-ah. Aku akan mengajarkan cara mengganti popok." Ucap pemandu pelatihan ini dengan ramah. "Biasanya seorang ibu akan pandai dalam mengganti popok bayi, tetapi tidak sang ayah. Jadi, dikelas ini ayah yang akan mengganti popok untuk bayinya."

"Aku?" tanya Yunho tidak percaya.

"Ya." jawab Jaejoong.

Yunho merebahkan Changmin diatas meja yang telah dilapisi dengan kasur kecil.

"Pertama, kalian harus membuka popoknya kemudian menggunakan handuk basah untuk membersihkan pantat bayi."

Yunho mulai melakukan itu. Wajahnya terlihat malas, tetapi Changmin malah tertawa.

"Setelah itu, kalian kipasi pantat sang bayi. Bayi sangat rentan terhadap ruam yang ada pada popok karena ia terus memakainya. Lalu, kalian harus melepaskan popok yang lama dengan hati-hati menggunakan tangan kalian. Sekarang, pakaikanlah si bayi dengan popok yang baru agar ia merasa lebih nyaman"

'Dia melakukan dengan sangat baik.'

Changmin tersenyum tatkala ia bertemu dengan mata musang sang ayah. Tangannya diangkat keatas seolah minta digendong. Tapi, tiba-tiba Changmin mengeluarkan kencingnya dan mengenai Yunho.

"Yah!" teriak Yunho.

"Oh! Minnie…"

"Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati. Huh?" teriak Yunho lagi.

"Apa kau marah?" tanya Jaejoong pelan seraya menyerahkan lap pada Yunho.

'Oh, aku lupa!' batin Yunho. Ia mengambil lap itu dan tersenyum manis kearah Jaejoong. "Aku…tidak marah." Ia tertawa. "Aku mendengar jika air kencing bayi bagus untuk kulit, itu mengapa Ratu Cleopatra mengumpulkan kencing bayi dan mandi disana." Ia menatap. "Jadi, kau tahu jika air kencing ini bagus untuk kulitku?" lirihnya.

"Kau sangat lucu. Aku tidak pernah berpikir seperti itu."

"Sekarang, semua akan baik-baik saja." Ucap Yunho. 'Sekarang dia berada dibawah kontrolku.' Ia menyeringai, kemudian kembali mengurus Changmin. 'Aku ingin pulang dan kembali kerumah. Ini benar-benar menjijikkan.'

Akhirnya tiba untuk mereka makan siang. Yunho tersenyum manis pada Jaejoong. "Kau duduklah disitu dan aku akan mengambilkan makanan untuk kita."

"Bukankah sangat melelahkan jika melakukan dua kali? Aku juga akan mengambilnya dan kita mencari tempat duduk."

"Tidak. Aku tidak akan melakukannya dua kali. Aku cukup bisa menggunakannya dengan dua tanganku. Aku adalah lelaki, jadi aku bisa mengatasinya."

"Baiklah. Hmm, aku akan mencari tempat yang tidak terlalu jauh."

"Itu bagus." Yunho tersenyum memandang kepergian Jaejoong. "Akhirnya aku bisa melakukan setengah dari keseluruhan. Aku harus membuatnya mencintaiku."

Yunho segera mengambil makanan untuk mereka berdua. Ia melihat kesekeliling mencari Jaejoong, ia cukup malas melihat banyaknya bayi-bayi yang berada disini.

Saat menemukan Jaejoong, ia berjalan kearahnya.

"Ini makanlah."

"Terimakasih."

"Hei, kalian berdua," sapa seseorang yang kebetulan lewat. "Aku mendengar jika kalian berdua berusia dibawah 20 tahun. Kalian berdua sangat muda namun berbakat mengurus bayi."

"Ini sangat natural saat kami harus mengurus sang bayi." Jawab Jaejoong ramah.

Pria itu mendekati Changmin yang duduk di kereta dorong. "Mungkin kau tidak tahu ini, tetapi hari ini banyak yang melahirkan dan kemudian membuang anak mereka." Ia tersenyum pada Changmin. "Oh! Anak kalian begitu tampan! Dia bayi yang paling tampan diantara semua bayi yang kutemui!"

"Terimakasih, bayi Anda juga. Sangat menggemaskan."

"Terimakasih sudah memujinya, ini membuatku merasa bahagia. Aku juga berpikir jika Hye-Kyo anak yang menggemaskan. Selamat menikmati makanan kalian." Pria itu berjalan menjauh dari mereka.

'Tidak ada yang menarik disini. Tapi, jika dilihat lebih dekat, perempuan ini cukup menggemaskan' batin Yunho. Ia menatap Changmin. 'Wajah dan hidungnya sangat mirip denganku. Ah! Aku hampir saja kehilangan pikiranku. Ini sangat berbahaya. Dia tidak mirip denganku. Jangan membandingkannya lagi!'

.

.

Selesai makan siang, mereka semua kembali ke kamar mereka masing-masing. Tetapi tidak dengan Yunho, ia menuju halaman belakang yang sepi untuk merokok.

"Sepertinya, sikapnya padaku hari ini sangat baik. Bahkan caranya menatapku sangat menyenangkan. Dulu, aku sering sering menatapnya tetapi tidak ada pengaruh apapun. Mengapa ia berubah secepat ini? Apa dia menganggap jika kita keluarga? Baiklah, aku harus melakukan yang terbaik untuk anak itu." Ia menyeringai.

Yunho segera mematikan rokoknya ketika ia mendengar percakapan dua orang pria yang mendekat kearahnya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar.

"Ini tidak enak, jika aku tidak bisa merokok."

Ia membuka pintu kamarnya, namun ketika itu Jaejoong terlihat sedang memberi minum Changmin dari payudaranya.

"Minum yang banyak, ya Minnie sayang."

Sesaat Yunho terpaku saat melihat kejadian itu. Ia melihat koneksi perempuan itu pada anaknya, begitu dekat. Tiba-tiba botol susu Changmin yang berada di samping Jaejoong terjatuh, membuyarkan lamunan Yunho. Jaejoong sama sekali tidak menyadari kehadiran Yunho, ia hanya mendengar suara pintu yang tertutup.

'Mungkin yang menutup pintu adalah tetangga sebelah.'

Entah mengapa detak jantung Yunho tidak beraturan. Ia bingung dengan keadaannya kini.

"Mengapa ia tidak mengunci pintu?" gumamnya. Ia membayangkan kembali saat Jaejoong memberi susu pada Changmin dari payudaranya. 'Mengapa aku berpikir dia sangat cantik?'

"Mengapa Yunho tidak datang?" tanya Yoochun pada SeungHo saat mereka bertemu di kamar mandi.

"Lelaki itu pasti sibuk, sehingga ia tidak datang kesini." Yoochun hanya diam tidak menyahuti perkataan SeungHo itu. "Hai, Yoochun. Apa kau tidak ingin berdamai dengannya?" Yoochun hanya mengalihkan pandangannya sesaat. "Kami hanya ingin melihatmu dan Yunho sebagai sahabat lagi. Baiklah, aku keluar dulu."

SeungHo meninggalkan Yoochun seorang diri di kamar mandi. Lelaki itu memikirkan perkataan SeungHo tadi, ia jadi mengingat kejadian-kejadian masa lalunya bersama Yunho.

"Ingin melihatku berteman kembali bersama Yunho? Oh, SeungHo, itu tidak akan mungkin terjadi.."

Pelatihan kelas kedua pun sudah dimulai, para orang tua sudah berkumpul di tempat sebelumnya.

"Sekarang, kita akan membuat sapu tangan untuk si bayi. Kalian bisa membuat dengan gambar sesuai dengan yang kalian inginkan."

Jaejoong pun segera menjahit sesuai dengan yang ia inginkan, begitu pun dengan Yunho. Sedari tadi, Yunho terus memandangi Jaejoong.

'Dia cantik! Sangat cantik!'

Karena keasyikan melihat Jaejoong, tanpa sadar jempolnya kena jarum jahit.

"Ah, ini sakit!" teriaknya.

"Mengapa kau menusuk tanganmu dengan jarum?" tanya Jaejoong. Ia ingin menggapai tangan Yunho. "Mana? Coba kulihat."

Yunho langsung melepasnya. "Ini sudah tidak sakit lagi." Ia mengalihkan pandangannya dari Jaejoong. "Ini bukan masalah besar, jadi tidak perlu kau berteriak padaku. Sekarang selesaikan saja membuat sapu tangannya."

Jaejoong menatap Yunho. "Kapan aku berteriak padamu?"

Tiba-tiba saja Changmin menangis. Jaejoong segera menenangkannya.

"Minnie, kau sudah bangun? Biarkan eomma memberimu makan ya." Jaejoong segera mengambil dot susu di sampingnya dan memberikannya pada Changmin.

Yunho jadi teringat saat tadi tanpa sengaja ia melihat Jaejoong menyusui Changmin dari payudaranya itu. Ia menggelengkan kepalanya itu. 'Tidak ada yang special. Bukankah ini aneh, seharusnya aku tidak perlu khawatir.'

Setelah selesai kelas kedua, mereka kembali kembali lagi ke kamar masing-masing.

"Aku akan mandi. Bisakah kau menjaga Changmin sebentar?"

"Tidak." Yunho sedang asyik memainkan PSP nya.

"Kau sama sepertinya. Mengapa kau tidak mau menjaga Changmin, hanya sebentar?"

"Aku mirip siapa?"

"Kau mirip dengan Changmin."

Yunho beranjak dari kasur. "Aku mandi terlebih dahulu. Dan kau, buatlah ia tidur." Ia berjalan kearah kamar mandi. "Minggir!"

"Apa? Tingkahnya sangat buruk."

'Tapi, apa kita akan tidur dalam satu tempat tidur? Ini sangat susah.'

Tiba-tiba ponselnya Jaejoong berbunyi, ia segera mengangkat telepon itu.

"Yoochun oppa?"

"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah makan?"

"Ya, aku sudah makan."

"Apa kau kesepian sendirian dirumah? Apa kau sedih tidak bisa melakukan perjalanan bersama dengan yang lain?"

"Ya, tetapi saat ini aku sedang mengikuti pelatihan khusus untuk orangtua."

"Pelatihan untuk orang tua? Apa kau pergi bersama Jung Yunho?"

"Ya. Dan kami juga membawa Changmin. Besok kami akan pulang."

Yunho keluar dari kamar mandi, ia terlihat lebih segar. "Apa bayinya sudah tidur?" tanyanya.

Namun, tidak dijawab oleh Jaejoong. Karena ia masih berbicara dengan Yoochun di telepon.

"Bagaimana denganmu, oppa? Apakah perjalanannya menyenangkan? Kuharap perjalanan kalian semalam tiga hari ini menyenangkan."

"Apa kau tidak merindukanku?"

"Apa?"Jaejoong duduk di pinggir tempat tidur, ia masih belum menyadari jika Yunho sudah selesai mandi.

Tiba-tiba Yunho merebut ponselnya. "Hei, Yoochun. Jangan pernah meneleponnya lagi!" Ia langsung mematikan sambungan telepon itu.

"Apa yang kau lakukan?" teriak Jaejoong.

"Apa aku salah telah melakukan hal ini? Aku sudah memberitahumu jangan pernah menyebut namanya lagi. Apa kau berpikir jika aku bercanda?" Yunho menghela napas. "Kalimat ini bukanlah peringatan untukmu, tetapi karena aku kasihan padamu." Ia mengambil Changmin dari pelukan Jaejoong. "Berikan bayi ini padaku, dan kau segeralah mandi. Bukankah aku menyuruhmu untuk membuat bayi ini tidur."

Jaejoong hanya diam dan melangkah menuju kamar mandi. Ia masih bingung dengan sikap aneh Yunho itu terhadapnya. 'Ini aneh.'

Yunho merebahkan Changmin di tempat tidur khusus bayi dan membuat Changmin tertidur.

'Park Yoochun.. Aku tidak akan membuatmu untuk menggangguku lagi. Ketika kami kembali, aku akan menjadi seseorang yang akan disukai oleh Kim Jaejoong. Aku sudah melakukan separuh dari yang seharusnya.' Ia menyeringai.

"Menyuruhku untuk tidak menelepon Jaejoong lagi? Huh? Apa mereka tidur diruangan yang sama?"

Jaejoong keluar dari kamar mandi, ia mengikat rambutnya seperti sanggul. Membiarkan rambut-rambutnya yang tersisa, berantakan, tetapi ia tetap terlihat cantik.

"Ah, ini sangat menyegarkan." Lirihnya pelan. Ia melihat Yunho yang sedang merebahkan diri di kasur seraya menonton tv. 'Ia sedang tiduran di kasur.'

Jaejoong pun mengambil kasur tipis yang ada di dekat sana dan menggelarnya di lantai. Membuat Yunho bingung.

"Kau seharusnya tidur di kasur."

Jaejoong kaget saat mendengar suara Yunho itu. "Ah, itu akan membuat tempat tidur terasa sempit. Lebih baik aku tidur di bawah."

"Lagipula, tidak ada yang ingin tidur bersamamu. Jadi, itu tidak akan sempit. Aku hanya mengatakan kau tidur di kasur. Tolonglah, berpikir lagi."

Akhirnya Yunho pun tidur di lantai dan Jaejoong tidur di kasur. Tengah malam, tiba-tiba Changmin menangis cukup keras.

'Uh, dia nangis lagi?' kesal Yunho. 'Aku tidak suka seperti ini.' Ia melemparkan bantal kearah Jaejoong. "Bayi itu menangis setiap menit! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menenangkannya?!"

"Maaf."

.

.

Yunho menguap cukup lebar. Ia sebenarnya masih ngantuk dan malas untuk melakukan pelatihan kelas hari ini.

"Aku sudah mengikuti apa yang Anda perintahkan, tetapi aku tidak yakin apa yang aku buat ini akan terasa enak atau tidak."

Ya, hari ini adalah pelatihan membuat makanan untuk sang bayi.

"Kau telah melakukan yang terbaik. Apa kau sering memasak dirumah?"

"Ya. Tapi ini pertama kalinya aku membuat makanan untuk bayi."

"Panaskan lagi, sedikit agak lama. Kemudian masukkan makanan itu ke dalam mangkuk."

"Baik."

Pemandu itu pun berkeliling kembali untuk melihat hasil masakan yang lain.

Jaejoong mendekati Changmin. "Minnie, eomma akan memasak makanan untukmu, sayang~"

"Kau tidur lebih sedikit daripada aku. Mengapa kau tetap bersemangat?" tanya Yunho.

"Mungkin karena aku melupakan tentang kekhawatiranku." Ia mematikan kompor. "Akhirnya selesai."

"Kau lapar kan? Aku akan memasukkan ini kedalam mangkukmu." Ucap Jaejoong lagi, seraya memasukkan bubur ke dalam mangkuk.

"Huh? Itu adalah makanan bayi, bagaimana mungkin aku memakannya."

"Ini hanyalah bubur. Lagipula, Changmin tidak mungkin menghabiskannya. Jadi, makanlah ini."

Yunho pun memakannya. "Ini enak. Ini pertama kalinya aku memakan masakan enak seperti ini."

"Benarkah? Aku sangat bahagia!"

'Aku harap Changmin akan tumbuh dengan cepat. Aku jadi merasa bersalah pada bayi itu. Makanan ini tidak enak.'

Selesai pelatihan pertama, kini mereka melakukan pelatihan kedua, yaitu memijat tubuh si bayi.

"Sekarang kita akan belajar untuk memijat tubuh sang bayi. Pertama kita pegang pusarnya dan mulai melakukan pijatan dengan perlahan agar ia merasa nyaman.

'Apa yang sedang aku lakukan?' keluh Yunho dalam hati, saat ia memulai memijat Changmin.

"Changmin terlihat senang." Ujar Jaejoong.

"Ugh!" Yunho melihat dengan malas. Ia memandang sekilas kearah Jaejoong yang berkeringat. "Apa kau kepanasan? Mengapa kau berkeringat sebanyak itu?"

"Keringat? Tapi, aku merasa kedinginan."

Kelaspun telah usai, mereka segera kembali ke kamar masing-masing. Yunho meletakkan Changmin di tempat tidurnya. Sedangkan Jaejoong merebahkan diri di kasur. Ia memegangi keningnya.

"Apa kau lelah?" tanya Yunho.

"Tidak. Aku rasa akan lebih baik setelah aku tidur sebentar."

"Bodoh! Jangan seolah bertindak jika kau baik-baik saja. Tetaplah disini."

Yunho memanggil pemandu untuk ke kamar mereka, memeriksa keadaan Jaejoong. Jaejoong pun sedang tertidur.

"Nona Jajeoong sangat kelelahan. Hari ini, kita tidak ada kegiatan apapun, jadi dia bisa beristirahat."

"Apakah besok dia akan baik-baik saja?"

"Dia harus meminum obat ini, agar ia jauh merasa lebih baik. Hari ini, kami berharap jika Anda, suaminya, menjaganya dengan baik." Pemandu itu pun keluar dari kamar.

'Suami? Apa maksudnya?'

Jaejoong masih tertidur dengan pulas. Yunho pun terpaksa memandikan Changmin seorang diri.

"Karena eomma-mu sedang sakit jadi hari ini aku akan menjagamu. Jangan berbuat ulah seperti kemarin. Jangan tiba-tiba pipis lagi."

'Hmm, anak ini tidak buruk juga. Ugh! Mengapa air ini tiba-tiba menjadi panas?'

Dan disaat itu pula, Changmin mengeluarkan pipisnya. "Yah! Apa yang kau lakukan?"

Setelah selesai mandi, Yunho mengerikan badannya dan memakaikan baju padanya. Ia pun segera membuatkan susu untuknya.

"Masukkan susu 4 sendok. Dan, aku pun membuat susu untuknya? Ugh."

Setelah selesai membuat susu, ia mengocok susu itu agar tercampur dengan air hangat. "Ini adalah makan malammu." Ia menyerahkan susu itu pada Changmin. Tetapi, Changmin malah menggelengkan kepalanya, tidak mau minum.

"Mengapa kau tidak mau minum?" Ia mencoba meminum susu itu. "Mungkin, susu ini tidak enak?" Ia menjulurkan lidahnya. "Mengapa susu ini tidak ada rasanya."

Akhirnya Changmin pun mau meminum susunya, ia meletakkan Changmin di kereta dorong dan mereka menuju kantin. Yunho cukup lapar setelah seharian ini menjaga Changmin.

Tiba-tiba ia membuang sendoknya begitu saja ke atas piring. "Menyebalkan! Rasa laparku mendadak hilang!"

Ia menatap wajah Changmin. 'Junsu tidak ingin melihat wajahku. Jadi, mengapa aku harus melakukan ini untuknya? Apa ini takdirku, harus menderita karena perempuan yang aku cintai? Apa ini Jung Yunho?'

Ia segera kembali ke kamar untuk meletakkan Changmin di tempat tidurnya dan ia pun kembali ke kantin untuk mengambilkan makanan untuk Jaejoong. 'Setidaknya, aku senang tidak melihat ekspresi kecewa di wajah Junsu.'

Yunho membuka pintunyu dan duduk di pinggir tempat tidur. "Bangunlah. Aku membawakan bubur untukmu."

Jaejoong pun segera bangun. "Bubur? Apa menu hari ini bubur?"

"Aku menyuruh Chef untuk memasakkan bubur untukmu. Kau tidak menyuruhku untuk menyuapimu kan?"

'Dia menyuruh seseorang memasak untukku? Ini membuatku tersentuh.'

Tiba-tiba Yunho membersihkan bubur yang tersisa di bibir Jaejoong. Semburat merah muncul di pipi putih Jaejoong.

"Makanlah yang banyak."

'Mengapa detak jantungku begitu cepat dan tak beraturan?' batin Jaejoong.

"Apa kau tidak ingin makan?" tanya Yunho.

"Ye..Yeah.. ini tidak begitu enak. Aku ingin tidur lagi." Jaejoong langsung merebahkan dirinya dan bersembunyi di dalam selimut.

"Hmm, benar-benar. Padahal aku sudah menyuruhnya memasak khusus untukmu."

"Maaf." lirihnya.

"Baiklah. Sekarang kau tidur saja." Yunho pun kembali ke kantin untuk menyerahkan piring kotor.

Tepat tengah malam, Changmin kembali menangis. Yunho pun segera bangun dari tidurnya tetapi tidak dengan Jaejoong. Yunho mencium bau tidak enak di dekat si bayi.

"Ugh! Aku tidak menyangka kau akan buang air besar." Yunho memandang Jaejoong yang tertidur. "Apa.. apa yang harus aku lakukan?"

Changmin menangis semakin keras.

"Kau sangat kecil tapi mengapa kotoranmu begitu banyak? Huh?"

Perlahan Jaejoong membuka matanya, ia memang tidak sepenuhnya tidur. Ia masih bingung dengan perlakuan Yunho padanya itu.

"Argh! Aku menyentuhnya!" teriak Yunho. "Hei, diamlah."

Diam-diam Jaejoong memerhatikan Yunho yang sedang mengganti popok Changmin. 'Apakah perjalanan ini sebuah keberuntungan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?'

"Tidur yang menyenangkan!" Jaejoong merenggangkan tubuhnya.

Ia melihat Yunho dan Changmin yang tertidur di bawah karena kelelahan semalam. Posisi tidur mereka sama persis. Jaejoong segera mengambil ponselnya dan memotret mereka berdua.

Jaejoong melihat hasilnya. "Mereka sangat mirip."

"Mirip siapa?" tanya Yunho seraya bangun dan menguap.

Jaejoong menyembunyikan ponselnya. "Kau sudah bangun? Apa kau cukup tidur?"

"Hm. Apa kau sudah baikan?"

"Yeah. Aku sudah merasa lebih baik sekarang."

Yunho duduk di pinggir tempat tidur. Tiba-tiba ia memanggil Jaejoong dengan jarinya.

"Huh?"

"Kemarilah."

"Untuk apa?" Tak urung Jaejoong berjalan kearahnya, meletakkan betisnya di lantai, seolah berdiri menggunakan betisnya.

Ia mendekatkan dirinya ke wajah Jaejoong. Membisikkan sesuatu di telinganya. "Bicaralah dengan pelan! Kau bisa membangunkannya nanti. Apa kau tahu ini sangat susah untukku membuat ia tertidur!" Ia menjauhkan dirinya dari wajah Jaejoong.

"Ah, maaf."

.

.

.

to be continued

.

please review ~

.


ps: saya minta maaf, untuk chapter ini saya tidak membalas review kalian. saya pikir kalau saya balas, kalian tidak merasa nyaman karena lebih banyak isi dari balasan review daripada isi dari ceritanya sendiri. saya akan membalas beberapa yang memberi masukan pada saya ataupun beberapa pertanyaan yang memang tidak mengerti kenapa si 'ini' begitu dan begini, tetapi untuk pernyataan tentang isi tidak saya balas. sekali lagi, saya minta maaf.

.

.

:: bagi yang selalu bertanya perihal jaejoong menyusui changmin, semoga terpuaskan. jika kalian bilang kurang seru, saya minta maaf, karena saya menjabarkan sesuai dengan komiknya. dan di komik hanya segitu, saya tidak bisa menjabarkan lebih lanjut lagi.

:: yang khawatir tentang soon-kyu, kalian tenang saja, perannya soon-kyu disini sedikit, dan dia nggak akan mengganggu jaejoong, melainkan soo yeon.

:: apakah yoosu tunangan karena dijodohin sama ortunya? saya pun tidak tahu, seperti yang sudah saya bilang, komiknya masih berbahasa korea. saya tidak bisa membaca hangul, jadi saya nggak ngerti kenapa mereka bisa tunangan.

.

BIG THANKS TO :

leeChunnie, Yuan Lian, aiyu-lfishypinocchiosuju, alicekang, snow-drop-1272, sfournia, JungKimCaca, minjaeboo, irna-lee-96, CallmeUcil, iche-cassiopeiajaejoong, meybi, sachan, jj, Aston, Rosella, Shinna, nayla, Yumi, Lilly, Monalisa, Tallisa, mynamedhiendha, jejejejejung, Vitta, Teddy bear, Spon boeb, NN, Dian artika, Beauty anna, GhaldaBalqies, Ega EXOkpopers, Park FaRo, Ai Rin Lee, ruixi, Rechi, fuyu cassiopeia, Park July, Hana - Kara, Sunnie1307, Sinta clarissa, Mayy minni, Dwi yuliani 562, Mpok kitty, Astrid park, Berta, Jeje my love, Queen maharani, Kristall yepopo, exindira, GuestYunJae, Bakpia, Anastasia, Jeje yepopo, Jiji my cat, Sisca, Putri, Citra, Betty, Agnes, my yunjaechun, Amanda jj, Anita, Siid, joongmax, Rly-C-JaeKyu, megaelfcassie, Tidus, cookiemons,

.

.