20
RAHASIA DAN KEBOHONGAN
.
.
.
Kecoak itu menyelinap di bawah pintu Kamar 66 dan hampir saja melompat dari kulitnya. Dia melongo melihat pecahan kaca yang berserakan disalah satu sudut ruangan, baju-baju robek yang digantung, tiga orang penyihir yang sedang tidur–lalu melarikan diri sebelum ada yang melihatnya.
Namun ternyata ada satu penyihir yang melihatnya, juga angsa di perutnya.
Antenanya mengibas-ngibas ke kiri dan kanan, Kyungsoo menelusuri bau parfum Soojung menuruni tangga bengkok dan koridor lembap (hampir 'diserang' kecoak jantan yang berpapasan dengannya), sampai dia menemukan sumber baunya di ruang serbaguna.
Hal pertama yang dilihatnya di dalam ruangan itu adalah Hort yang bertelanjang dada, mukanya merah tegang, dan urat-urat di lehernya sedikit menonjol. Sambil menggeram, dia memelototi dadanya dan dua helai rambut baru mencuat keluar.
"Yeah! Bakat siapa yang bisa mengalahkan itu?"
Di sofa sebelahnya, Soojung membenamkan hidungnya lebih dalam lagi di balik Rapalan Mantra untuk Idiot.
Dia mendenger suara serangga berklik-klik dua kali lalu buru-buru mendongak. Hort membusungkan dadanya dan berkedip. Soojung berpaling dengan ngeri. Dilihatnya tulisan lipstik cakar ayam di lantai di belakang sofa.
"KAMAR MANDI. BAWA BAJU."
Soojung benci sekali kamar mandi Kejahatan, tapi paling tidak itu tempat yang aman untuk bertemu. Anak-anak Never sepertinya fobia dengan toilet dan mengabaikannya. (Dia tidak tahu di mana mereka semua melegakan diri, tapi dia memilih untuk tidak memikirkannya sekarang.) Pintu berderit saat dia menyelinap ke dalam ruang besi remang-remang itu. Dua obor berkelip-kelip di dinding berkarat, memperpanjang bayangan bilik-bilik pemisah. Ketika dia pelan-pelan menghampiri bilik terakhir, sepenggal kulit pucat mengintip dari celah besi.
"Baju?"
Soojung menyelipkannya di dinding bilik.
Pintu terbuka dan Kyungsoo melangkah keluar memakai piama katak milik Hort, tangannya menyilang.
"Aku tidak punya yang lain lagi!" rengek Soojung. "Teman-teman sekamarku merobek dan menggantung semua bajuku."
"Tidak ada lagi yang suka padamu," bentak Kyungsoo, menyembunyikan jarinya yang menyala. "Aku penasaran kenapa."
"Dengar, aku minta maaf! Aku tidak bisa pulang begitu saja, tidak saat aku telah mendapatkan pangeranku."
"Kau?Kau mendapatkan pangeranmu?"
"Yah, kebanyakan aku yang–"
"Tadinya kau bilang kau mau pulang. Tadinya kau bilang kita ini satu tim! Itulah sebabnya aku menolongmu, Jung Soojung!"
"Kita memang satu tim, Kyungsoo! Semua putri membutuhkan tangan kanan."
"Tangan kanan?!" teriak Kyungsoo, menggeleng tak percaya. Dia sudah merelakan waktu dan tenaganya untuk membantu Soojung, tapi ini balasan yang dia terima? Hatinya berdenyut sakit, tengkuknya memanas karena emosi, pendar di jarinya menyala semakin terang."Mari kita lihat saja bagaimana lakon putri kita berhasil melakukan semuanya sendirian."
Kyungsoo beranjak pergi, tetapi Soojung menyambar lengannya dengan cepat.
"Aku sudah mencoba menciumnya, tapi sekarang dia meragukanku!"
"Lepas–"
"Aku butuh bantuanmu, Kyungie."
"Tidak mau," Kyungsoo berontak dan menyikutnya. "Kau pembohong, penipu, pengecut."
"Lalu kenapa kau ada di sini?" tanya Soojung, matanya berkaca-kaca.
"Awas. Air mata buaya berarti keriput buaya," ejek Kyungsoo dari ambang pintu.
"Kumohon. Aku mau melakukan apa saja," isak Soojung.
Kyungsoo berputar. "Bersumpahlah kau akan menciumnya pada kesempatan pertama yang kau dapat. Bersumpahlah atas hidupmu."
"Aku bersumpah!" jerit Soojung. "Aku ingin pulang, aku tidak mau dibunuh mereka!"
Kyungsoo berkedip. "Hah?"
Lengkap dengan ekspresi suara dan gerakan tubuh, Soojung mengulang kejadian pertemuan para guru dengan histeris, tantangan-tantangan yang gagal, dan pertengkarannya dengan Kai.
"Kita sudah hampir sampai di akhir cerita, Soojung," kata Kyungsoo pelan, pucat pasi. "Selalu ada yang mati di akhir cerita dongeng!"
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?" dengking Soojung.
"Menangkan Uji Dongeng lalu cium Kai saat itu juga."
"Tapi aku tidak akan bisa bertahan! Aku akan sendirian tanpa perlindungan Kai selama tiga jam."
"Kau tidak akan sendirian," ujar Kyungsoo galak.
"Benarkah?"
"Akan ada kecoak peri baik hati di bawah kerah jubahmu, menyelamatkanmu dari bahaya. Tapi kali ini, kalau kau tidak mencium pangeranmu saat kuperintah, aku akan mengutukmu dengan segala mantra Kejahatan yang sudah kupelajari hingga kau menciumnya."
Soojung menghela napas lalu memeluk Kyungsoo. "Oh, Kyungie, aku teman yang payah. Tapi aku punya waktu seumur hidupku untuk memperbaikinya."
Terdengar langkah kaki di koridor.
"Pergi! Aku harus bermogrif lagi," bisik Kyungsoo.
Soojung memeluknya sekali lagi dan berseri-seri karena lega, kemudian menyelinap keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang serbaguna. Semenit kemudian, seekor kecoak menyusul dan melesat ke tangga.
Keduanya tak melihat tato merah yang menyala dalam kegelapan.
.
.
.
Sesuai tradisi, tidak ada pelajaran sehari menjelang Uji Dongeng. Sebagai gantinya, 15 peserta Ever dan 15 peserta Never diberi waktu untuk menjelajah Hutan Biru. Sementara murid-murid yang tidak terpilih berlatih untuk Sirkus Bakat, Soojung membuntuti Kai melintasi pagar, sadar betul ada kebekuan di antara mereka.
Meskipun kebanyakan Tanah Lapang sudah jadi mangsa musim gugur yang mematikan, Hutan Biru tetap berkilauan, lebat seperti biasanya di tengah hari yang cerah. Sepanjang minggu, murid-mrid berusaha memancing para guru untuk membocorkan rintangan macam apa saja yang akan mereka hadapi, tetapi para guru mengakutidak tahu-menahu. Sang Guru merancang Uji Dongeng secara rahasia, para guru hanya diberi wewenang untuk mengamankan perbatasan-perbatasannya. Mereka bahkan tidak bisa menonton kontes itu, karena Sang Guru merapalkan mantra penyelubung di seluruh Hutan Biru sepanjang malam.
"Sang Guru melarang kami campur tangan," gumam Profesor Dovey di kelasnya, jelas kelihatan gundah. "Beliau lebih senang kalau Uji Dongeng menyimulasi bahaya dari Hutan di luar akal sehat dan tanggung jawab."
Namun saat para peserta berkumpul di Hutan Biru, tidak ada yang percaya bahwa sehari dari sekarang taman indah ini akan berubah menjadi tempat tantangan yang sadis. Anak-anak Ever dan Never bergerombol melintasi tanaman-tanaman pakis berkilauan di Kebun Pakis, tupai-tupai yang sedang mengudap di Lembah Pinus, dan ikan-ikan trout yang berlompatan di Sungai Biru, sebelum akhirnya mereka sadar bahwa mereka adalah musuh dan kemudian memisahkan diri.
Kai berlalu sambil menyerempet Soojung. "Ikuti aku."
"Aku pergi sendiri saja," kata Soojung pelan. "Aku belum layak mendapat perlindunganmu."
Kai menoleh. "Kata Seulgi kau mendapat peringkat satu karena curang. Benarkah?"
"Tentu saja tidak!"
"Lalu kenapa kau gagal di semua tantangan percobaan Uji Dongeng?"
Air mata berlinang di mata Soojung. "Aku ingin membuktikan aku bisa selamat tanpamu, supaya kau bangga padaku."
Kai menatapnya tak percaya. "Kau gagal dengan sengaja?"
Soojung mengangguk.
"Apa kau gila?!" Kai meledak. "Anak-anak Never itu–mereka akan membunuhmu!"
"Kau rela mengorbankan nyawamu untuk membuktikan aku Baik," Soojung terisak. "Aku juga rela berjuang demi dirimu."
Sejenak Kai kelihatan seperti mau menghajarnya. Kemudian warna merah di pipinya memudar lalu ditariknya lengan Soojung. "Saat aku masuk dari pintu itu, berjanjilah kau akan menunggu di sana."
"Aku janji. Demi kau, aku janji."
Kai menatap matanya. Soojung memonyongkan bibirnya yang mengilap sempurna–
"Kau benar, kau harus menjelajah sendiri," kata pangerannya sambil menjauh. "Kau harus merasa percaya diri di sini tanpa aku. Terutama setelah kalah dalam begitu banyak tantangan."
"T-tapi–"
"Menjauhlah dari anak-anak Never, ya?"
Dia meremas tangan Soojung lalu berlari menyusul cowok-cowok Ever di lahan labu. Suara tajam Sehun menggema. "Tetap saja penjahat, Kawan. Tidak akan ada perlakuan khusus dari kami ..."
Soojung tidak mendengar jawaban Kai. Dia berdiri sendirian di lembah yang sunyi, di bawah pohon mistletoe biru.
"Kita masih ada di sini," gerutunya.
"Kalau saja kau menyampaikan kalimat-kalimat itu sesuai dengan caraku mengucapkannya!" bentak si kecoak di balik kerah tunik hitamnya.
"Tiga jam sendirian tidak terlalu buruk," Soojung mendesah. "Maksudku, Never belum boleh menggunakan mantra-mantra terlarang. Yang bisa kami lakukan hanya membuat badai atau berubah jadi kungkang. Memangnya mereka bisa melakukan apa padaku?"
Sesuatu menyerempet rambut pirangnya. Soojung berbalik dan melihat goresan di batang pohon ek, di sebelah pohon mistletoe tempatnya berdiri. Si Vex yang bandel duduk di cabang pohon seberang sambil memegang tongkat tajam menyerupai tombak.
"Cuma penasaran seberapa tinggi tubuhmu," ujar Vex yang kemudian menyeringai.
Chaerin datang tersaruk-saruk dari balik pohon ek lainnya dan membubuhi tanda. "Yeah, dia pasti muat."
Soojung ternganga memandang mereka.
"Seperti yang kubilang tadi. Cuma penasaran," kata Vex.
"Aku akan mati!" lengking Soojung sambil berlari keluar dari Hutan Biru.
"Tidak selama aku ada di sana," ujar Kyungsoo, kaki depannya melengkung. "Aku mengalahkan mereka semua di kelas-kelasmu, dan ya, akan mengalahkan mereka lagi besok. Fokus saja mendapatkan cium–" Ada yang menyerempet antenanya.
"Apa-apaan–"
Kyungsoo melihat bangkai kecoak di rerumputan kering. Empat ekor lagi mendarat dan menyangkut di rambut pirang Soojung.
Perlahan, Soojung dan Kyungsoo mendongak dan melihat menara-menara Kejahatan diselimuti kabut merah muda, bangkai-bangkai serangga bertaburan dair balkon-balkon ke Tanah Lapang.
"Ada apa ini?" tanya Soojung.
"Pembasmian," jawab sebuah suara.
Soojung menoleh dan melihat Amber yang bersandar di bawah salah satu pohon.
"Ternyata serangga-serangga berkeliaran di sekolah pada malam hari. Para guru tak mau ambil resiko terjadinya wabah lagi, setelah temanmu sakit."
Amber memungut seekor serangga yang menggelepar di bahunya.
"Lagipula, peringatan bagus untuk apapun yang coba-coba pergi ke tempat yang tidak semestinya, iya kan?"
Dijilatnya serangga itu, memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya bak orang kelaparan, lalu melenggang kembali ke Hutan Biru, dedaunan kering berkersik di bawah kakinya.
Soojung terkesiap. "Menurutmu dia tahu kalau kau kecoak?"
"Tentu saja, dasar idiot!"
Suara anak-anak Never mendekat dari dalam Hutan.
"Pergi! Kita tidak boleh bertemu lagi," desis Kyungsoo, merayap turun di kaki jenjang Soojung.
"Tunggu! Lalu bagaimana caranya aku bisa selamat di Uji–"
Namun Kyungsoo sudah menghilang ke terowongan Kebaikan, meninggalkan Soojung untuk menjaga dirinya sendiri.
.
.
.
Berhubung para peri memulai inspeksi jam malam dari lantai satu, Kyungsoo punya cukup waktu untuk menyelinap ke Jembatan Layang dan menyebrang ke Menara Valor. Sama seperti guru-guru lainnya, kamar tidur Sader terhubung dengan ruang kerjanya. Terobos masuk saja, Kyungsoo tidak peduli kalau orang aneh itu tidak mau menjawab pertanyaannya. Dia akan mengikatnya di tempat tidur, kalau perlu.
Kyungsoo tahu itu rencana buruk, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak akan bisa menyelinap ke Uji Dongeng dan Soojung tidak akan bisa bertahan sendirian selama tiga jam tanpa Kai. Sader-lah harapan terakhir mereka untuk bisa pulang.
Tangga mengantarkan Kyungsoo langsung ke ruang kerjanya, pintu tersendiri di Menara Valor lantai enam. Ada bintik-bintik biru yang berjajar pada marmernya. Tangan Kyungsoo terulur merabanya.
"Murid tidak diizinkan berada di lantai ini," suara Sader menggelegar. "Segera kembali ke kamarmu."
Kyungsoo menyambar gagang pintu dan mengarahkan jarinya yang berpendar jingga pada gemboknya.
Pintu itu berderit terbuka dengan sendirinya.
Sader tidak ada di dalam, tapi belum lama pergi. Seprai tempat tidurnya agak kusut, teh di mejanya masih hangat. Kyungsoo mengendap-endap di ruang kerjanya; rak, kursi, dan lantainya dipadati buku. Mejanya terkubur tiga kaki di bawahya, tapi ada beberapa buku yang terbuka di tumpukan paling atas, barisan titik-titik aneka warna ditandai dengan bintang-bintang kecil tajam berwarna perak di pinggirannya. Dia meraba salah satu baris yang ditandai itu dan adegan kabur tiba-tiba muncul dari buku dengan suara tajam seorang wanita:
"Roh tidak akan pernah bisa beristirahat sampai tujuannya tercapai. Karena itu,mereka harus memanfaatkan tubuh seorang ahli ramal."
Kyungsoo menyaksikan sesosok hantu kurus kering menabrak masuk ke tubuh orang tua berjanggut, lalu kabut berpusar masuk kembali ke halaman. Dirabanya berisan bertanda bintang di lembar berikutnya:
"Dalam tubuh peramal, roh hanya bisa bertahan selama beberapa detik sebelum roh dan tubuh peramal itu hancur."
Di hadapannya, muncul dua tubuh melayang-layang, lalu hancur menjadi debu. Kyungsoo meraba barisan bertanda bintang selanjutnya.
"Hanya peramal terkuat yang bisa menerima roh di dalam tubuh mereka. Sebagian besar peramal wafat sebelum roh sempat menguasai tubuh–"
Kyungsoo meringis, kemudian jantungnya serasa berhenti.
Ramalan, kata para guru.
Mungkin Sader bisa melihat masa depan? Mungkinkah dia bisa melihat akhir kisahnya dengan Soojung? Apakah pulang ke Jangho merupakan akhir bahagia mereka?
"Do Kyungsoo!"
Profesor Dovey melotot di ambang pintu.
"Alarm Sader, kukira ada kecoak yang tertangkap sensornya, ternyata murid–kau melanggar peraturan! Dua minggu membersihkan toilet untuk keluar kamar setelah jam malam!" omelnya.
Kyungsoo terbirit melewati tangga. Kemudian dia menoleh ke belakang, Profesor Dovey menyapu tangannya pada buku-buku Sader sambil mengerutkan kening. Dia menangkap Kyungsoo mengamatinya lalu membanting pintu secara ajaib.
Malam itu, kedua gadis bermimpi tentang rumah.
Soojung bermimpi sedang melarikan diri dari Amber dan menembus kabut merah muda ke dalam Hutan. Dia berusaha meneriakkan nama Kyungsoo, tapi seekor kecoak malah merayap keluar dari mulutnya. Akhirnya dia menemukan sumur batu dan berenang ke dasar, lalu mendapati dirinya di Jangho. Dia merasakan tangan-tangan kuat, lalu ayahnya menggendong Soojung ke ruah mereka yang berbau daging dan susu. Dia perlu ke toilet, tapi ayahnya membawa Soojung ke dapur. Di sana seekor babi tergantung pada cantelan mengilap dan seorang wanita mengetuk-ngetukkan kukunya di meja makan.
Tuk, tuk, tuk.
"Ibu?" pekik Soojung.
Sebelum wanita itu sempat berbalik, ayahnya mengecup keningnya, membuka oven, lalu melemparkan Soojung ke dalamnya.
Soojung melonjak terbangun begitu kencang sampai kepalanya menghantam dinding dan pingsan.
Kyungsoo bermimpi Jangho dalam kebakaran. Jejak baju-baju hitam terbakar mengantarnya ke Bukit Kuburan dan saat dia sampai di puncak, yang ditemukannya hanya lautan kuburan tanpa rumah. Dia mendengar suara-suara dari dalam sebuah kuburan lalu mulai menggali. Suara itu lebih jelas dan semakin jelas, sampai dia terbangun dan mendengar suara itu di koridor, tepat di kamar sebelah.
"Kau bilang penting!" bentak Kai.
"Kata anak-anak Never, dia dibantu Kyungsoo," ujar Seulgi.
"Soojung tidak berteman dengan Kyungsoo! Kita semua tahu Kyungsoo itu penyihir–"
"Mereka berdua penyihir! Kyungsoo berubah jadi kecoak supaya bisa memberinya jawaban!"
"Seekor kecoak? Kau bukan hanya picik dan cemburu, tapi juga gila!"
"Mereka berdua penjahat, Kai. Mereka memanfaatkanmu!"
"Kau sendiri yang mendengarkan omongan anak-anak Never! Soojung kalah dalam semua tantangan itu karena dia ingin menjagaku! Kalau itu penjahat, lalu kau ini apa?"
Angin mengibarkan tirainya. Kyungsoo tidak mendengar kelanjutannya lagi, tapi tak lama kemudian pintu dibanting dan Kai pergi. Kyungsoo mencoba kembali tidur, tapi hanya bisa menatap bunga perkamen merah muda di nakas marmernya.
Kyungsoo mendengking, diberondong ide.
Semua kamar di koridor Menara Kebaikan kelihatan gelap kecuali kamar-kamar para peserta Uji Dongeng. Sedari kemarin mereka masih terus berlatih sampai subuh. Dengan baju mandi renda peachnya, Kyungsoo berjinjit tanpa alas kaki menaiki tangga kaca pink, matanya terpaku ke atas, was-was jika ada peri atau guru.
Lima lantai di bawahnya, Kai memandang ke atas dan melihatnya dari celah tangga, bertanya-tanya apakah yang dikatakan Seulgi memang benar adanya.
Setelah menanggalkan sepatu botnya, Kai membuntuti Kyungsoo melalui Jembatan Layang ke lantai empat Menara Honor yang seluruhnya adalah Perpustakaan Keluhuran. Perpustakan itu berlantai dua dan dirawat dengan apik oleh seekor kura-kura berkulit keras yang sekarang tengah terlelap di atas katalog buku besar dengan pena bulu di tangan kanannya.
Kedua telapak kaki Kai yang beralas kaus kaki putih mengendap-endap, mengintip ke dalam dan melihat Kyungsoo menghilang ke balik koliseum buku-buku. Dia berjingkat-jingkat lalu bersembunyi di sebelah rak terdekat dari pintu masuk perpustakaan. Keadaan perpustakaan yang gelap dan hanya ada sinar rembulan yang masuk melalui ventilasi begitu menguntungkan bagi keduanya. Segera setelah Kyungsoo menemukan buku yang dibutuhkannya, dia menyelinap keluar melewati si reptil dan sang pangeran, yang tidak berhasil melihat buku apa yang dibawanya. Suara langkahnya menghilang di Jembatan Layang biru laut.
Kai menggertakkan giginya. Rencana apa yang dimiliki penyihir itu? Apakah Soojung terlibat dan berencana mengkhianatinya? Apakah kedua penjahat itu masih berteman? Sang pangeran segera beranjak, jantungnya berdebar–lalu terdengar suara goresan aneh.
Saat menoleh, dilihatnya pena bulu itu secara ajaib menyelesaikan tulisan di katalog si kura-kura, lalut terjatuh kembali ke tangan si reptil yang mendengkur. Sambil menyipitkan mata, dia mendekat dan mengintip katalog itu.
Flower Power: Jampi-jampi Tanaman Demi Dunia yang Lebih Bahagia
(Kyungsoo, Purity I)
Kai mendengus, mengomeli dirinya sendiri karena telah meragukan putrinya, lalu pergi mengambil sepatu botnya.
.
.
.
Peraturan-peraturan dalam Uji Dongeng singkat dan akurat. Saat matahari terbenam, dua peserta pertama memasuki Hutan Biru. Setiap 15 menit, dua peserta lain akan masuk sesuai dengan urutan peringkat tantangan percobaan Uji Dongeng mereka, sampai pasangan terakhir masuk dengan jarak lebih dari tiga jam setelah pasangan pertama masuk.
Setelah berada di dalam, murid-murid Never boleh menyerang Ever dengan bakat mereka dan mantra apa saja yang telah dipelajari di kelas, sementara Ever boleh mempertahankan diri mereka dengan senjata dan mantra penangkal yang diizinkan. Sihiran-sihiran Sang Guru akan memburu kedua pihak. Tidak ada peraturan lain lagi. Para peserta itu sendiri yang wajib mengenali ancaman maut dan menjatuhkan saputangan yang sudah dimantrai; pada saat saputangan itu menyentuh tanah, dia akan dikeluarkan dari Uji Dongeng dengan aman.
Saat cahaya matahari terbit pertama kali terlihat, para serigala akan melolong, menyerukan berakhirnya Uji Dongeng dan siapapun yang kembali melalui pagar dinyatakan sebagai pemenang. Belum pernah ada lebih dari satu orang pemenang. Seringnya, tidak ada sama sekali.
Musim dingin datang pada saat yang menjengkelkan, mengembuskan angin es ke Tanah Lapang tepat saat para peserta bersiap di depan gerbang masuk Hutan Biru. Cowok-cowok Ever membawa perisai berbentuk layangan biru yang sewarna dengan jubah biru tua mereka serta sebuah senjata; kebanyakan memilih busur dan panah (yang oleh Profesor Jung dibuat tumpul sehingga menyebabkan pingsan, bukan terluka), tetapi Kai dan Sehun memilih pedang latihan yang berat. Di dekat mereka, cewek-cewek Ever diam-diam berlatih memanggil hewan dan berusaha terlihat begitu tak berdaya supaya cowok-cowok mau menyembunyikan mereka di balik sayap perlindungan mereka.
Di seberang padang rumput, para peserta Never duduk dan bersandar ke pohon mengenakan jubah biru tua mereka sambil kembali menghafal mantra-mantra dan kutukan. Anak-anak Ever yang tidak terpilih sudah siap untuk berpesta piama dengan bantal, selimut, keranjang berisi mousselines bayam, puding elderflower, krim sup ayam, dan berbotol-botol sirup ceri. Sementara itu, anak-anak Never yang tidak terpilih bergerombol di mulut terowongan mereka memakai sandal dan topi tidur, siap-siap melarikan diri saat tim mereka menampakkan tanda-tanda memalukan.
Sementara para serigala dan peri membagikan saputangan-saputangan sutra yang sudah dimantrai–putih untuk Ever dan merah untuk Never–Castor dan Pollux mengurutkan antrean peserta. Karena prestasi mereka paling buruk selama tantangan percobaan, Soojung dan Baekhyun akan masuk tepat saat matahari terbenam. Heize dan Chanyeol akan masuk 15 menit setelah itu, lalu Sehun dan Vex, diikuti Reena dan Chaerin, dan pasangan-pasangan lainnya akan terus masuk secara berurutan sampai Amber dan Kai masuk pada giliran terakhir.
Di baris paling belakang, sang pangeran menerima saputangan putih dari peri.
"Tidak akan memerlukan ini," gumamnya, lalu menjejalkannya ke dalam sepatu botnya.
Di baris terdepan, Soojung menggenggam saputangan merahnya, siap untuk menjatuhkannya pada saat dia masuk.
Andai saja dia lebih memperhatikan saat pengepasan jubah. Tunik biru tuanya terkulai di bagian dada, jubahnya terseret di tanah, dan tudungnya menggantung panjang hingga menutupi wajahnya seolah dia tak berkepala.
Bisa-bisanya dia memikirkan tentang pakaian! Mata hijaunya mengawasi kerumunan dengan gusar. Masih belum ada tanda-tanda kehadiran Kyungsoo.
"Kami mendengar rumor bahwa murid-murid yang tidak layak ikut mungkin akan coba-coba menyelinap ke dalam Hutan Biru," kata Pollux di samping Castor, bayangan berkepala dua yang mengesankan dalam cahaya senja yang semakin redup. "Tahun ini kami menambah tindakan pencegahan."
Awalnya Soojung mengira dia membicarakan serigala-serigala yang berjaga di setiap senti pagar. Kemudian Castor menyalakan obor dan dilihatnya pagar-pagar itu tidak lagi terbuat dari emas, melainkan laba-laba raksasa berwarna hitam dan merah, berselang-seling secara ajaib dan siap menyerang.
Jantungnya mencelus. Sekarang bagaimana mungkin Kyungsoo bisa menyelinap masuk?
"Kalau ada yang curang, mereka layak mati."
Soojung menoleh.
"Aku tidak heran kalau para penjahat itu melakukannya," kata Kai, pipinya merah keemasan karena kedinginan. Dia meraih tangan Soojung yang masih menggenggam erat saputangannya. "Tidak boleh, Soojung. Kau tidak boleh menjatuhkannya."
Soojung memandang mata biru Kai, menyiratkan kekhawatiran yang begitu kental.
"Saat kita sudah bekerja sama, mereka akan melakukan apapun untuk mengeluarkan salah satu dari kita–Ever, Never, juga Sang Guru. Kita akan saling melindungi. Aku butuh perlindunganmu," tutur sang pangeran.
Soojung mengangguk pasrah.
"Tidak ada yang mau kau katakan?"
"Ciuman keberuntungan?" ucapnya tertahan.
"Di hadapan seluruh isi sekolah?" Kai tersenyum. "Boleh juga."
Wajah Soojung berubah cerah dan memonyongkan bibirnya dengan lega. "Yang lama, untuk jaga-jaga saja."
"Oh, pasti akan kuberi yang lama," Kai menyeringai. "Setelah kita menang, tepat sebelum aku membopongmu ke kastel Kebaikan."
Soojung ternganga. "T-tapi kalau kita tidak–"
Dengan lembut, Kai menarik sutra merah dari jemari Soojung yang sedikit gemetar.
"Kita ini Baik, Soojung," katanya sambil menjejalkan saputangan merah itu ke dalam kantung jubah biru tuanya. "Dan Kebaikan selalu menang."
Di mata birunya yang jernih, Soojung melihat pantulan Amber dari belakangnya, tudungnya diturunkan seperti Malaikat Maut.
Dalam sekejap, para serigala mendorongnya di ke ujung yang berseberangan di Pintu Utara. Laba-laba berbulu mendesis di depan mukanya dan Soojung pun tak sanggup bernapas. Panik, tatapannya beralih ke menara Sang Guru yang berkuasa di atas Hutan. Dalam secercah sinar matahari yang terakhir, dia bisa melihat siluet Sang Guru mengawasinya dari jendela.
Soojung melirik resah ke segala arah, berharap Kyungsoo akan menyelamatkannya sekarang juga, tetapi yang dilihatnya hanyalah langit yang semakin gelap di atas Hutan. Dari menara Sang Guru, turun percikan-percikan perak yang meletup dan menyelubungi Hutan bak kabut tebal yang mengancam.
Di sebelahnya, jari-jari lentik Baekhyun meremat erat jubah biru tuanya. Jantungnya berdebar semakin cepat, udara musim dingin di sekelilingnya malah terasa hangat. Mata cokelatnya menatap ngeri pada kawanan laba-laba di depan. Pikirannya terus meluncurkan sugesti-sugesti menenangkan, lalu dia kembali mengingat-ingat strategi rancangannya sendiri. Kalau tidak bisa menang, setidaknya dia harus bertahan selama mungkin agar tidak menjadi murid pertama yang menjatuhkan saputangannya. Tidak, aku tidak selemah itu. Ayo, Baekhyun, buat dirimu sendiri bangga!
"Pasangan pertama, siap!" Castor menggelegar.
"J-jangan–tunggu!–"
Tapak-tapak kaki serigala mencengkeram Soojung dari belakang dan melemparkannya ke kawanan laba-laba. Capit-capit berbulu menggerayangi kulitnya selagi dia menjerit. Berklik-klik seolah memberi izin, lalu secara ajaib mereka memberi celah masuk, meninggalkannya sendirian di ambang Hutan yang diterangi obor. Seekor serigala melolong. Kawanan laba-laba langsung menyegel pagar di belakangnya.
Uji Dongeng telah dimulai.
.
.
.
Increase your imagination, then go read the next chapter!
