"Kau bukan anakku!"
Kyuhyun menggeleng. "Bohong! Kau berbohong, appa!"
"Tidak! Itu adalah kenyataannya! Kau bukan anakku!"
Kyuhyun lagi-lagi menggeleng. Tidak ingin percaya apa yang dikatakan oleh Young Woon.
Young Woon merogoh sesuatu di sakunya. "Kau tidak percaya? Kau ingin bukti?" dia membuka lipatan kertas yang dia ambil dan menyerahkan dua lembar kertas tersebut kepada Kyuhyun. Memaksa Kyuhyun untuk membacanya. "Baca itu. Kau akan mengerti dan mempercayaiku!"
Tangannya bergetar memegang dua lembar kertas yang sudah usang. Nampak sudah lama disimpan. Kyuhyun mengeluarkan ponsel untuk memudahkannya membaca. Kertas pertama adalah sebuah surat dari Youjin. Sebuah pengakuan, permintaan maaf, penyesalan dan ucapan selamat tinggal.
'Maafkan aku. Maafkan aku karena kau harus menyayangi anak yang bukan darah dagingmu. Maafkan aku tidak mampu menjaga kehormatanku. Aku sangat mennyesal akan dosa ini.'
Tangan Kyuhyun semakin bergetar.
'Akan kubawa dosaku bersamaku, yeobo. Bencilah kami lalu lupakan kami. Semoga kau hidup dengan bahagia setelah kami pergi.'
Air mata Kyuhyun mengalir lagi. Membaca setiap penggal yang ditulis ibunya. Kertas yang lain adalah sebuah hasil tes DNA bertahun-tahun lalu. Melihat tanggal dan tahunnya adalah sesaat setelah peristiwa hari itu.
Kyuhyun meremas kedua kertas tersebut. Jadi begitu. Dia bukan putra kandung Kim Young Woon? Dia hanya anak haram dari seseorang yang bahkan tidak tahu siapa? Tapi, tapi dia tidak mengenal siapapun kecuali Young Woon. Kyuhyun hanya tahu satu orang sebagai ayahnya. Kim Young Woon. Baginya hanya dia satu-satunya ayah.
"Aku tidak percaya. Appa ini pasti bohong! Kau tahu eomma, dia berbeda! Kau bilang sendiri padaku, eomma berbeda. Dia,"
"Dia gila karena dirimu!" seru Young Woon memotong perkataannya. "Dia tidak menginginkanmu! Itulah kenapa ibumu menjadi gila! Karena dia merasa berdosa dan harus menanggung beban karena hal itu!"
'Mari menebus dosa bersama, Kyuhyun-ah. Dosa pada appa yang begitu menyayangi kita.'
Kalimat ibunya sekarang dia paham. Tapi, tapi….
Tidak. Kyuhyun tidak percaya. Dia menggeleng, menjatuhkan kertas ditangan dan meraih tangan Young Woon. "Tidak! Kau appaku! Hanya kau! Bukan orang lain!"
Young Woon merasa marah mendapati sentuhan Kyuhyun juga penyangkalan anak itu. Dia mencoba melepaskan tangannya namun Kyuhyun memegangi dengan kuat. "Kau bukan anakku!"
"Semua itu bohong!"
"Aku membencimu karena kau bukan anakku! Kau anak pria brengsek yang menghancurkan hidupku, istriku dan masa depan kami!"
"Tidak, appa, bukan! Aku anakmu! Itu semua tidak benar!"
"Dia mati! Ibumu mati mencoba membawa dosanya bersamanya! Tapi kau masih hidup! Kenapa kau masih hidup?!"
Kyuhyun melepas tangan Young Woon. Menutup telinga dan menggeleng kuat-kuat.
"Tidak ada yang menginginkanmu! Youjin berusaha keras menyingkirkanmu! Tapi kau masih hidup! Dan hidup hingga sekarang! Tidak ada yang menginginkanmu!"
"Berhenti, kumohon! Aku anakmu! Tidak 'appa' lain!"
Young Woon menarik Kyuhyun memaksanya berdiri. "Dengar baik-baik, aku bukan appamu. Selamanya tidak ada ikatan diantara kita. Kumohon pergi dari hidup keluargaku. Kumohon biarkan aku tenang menatap kebahagiaanku."
Pergi. Kyuhyun menarik diri dari cekalan Young Woon. Bibirnya bergetar hebat. Entah sudah berapa banyak dia menangis. Berapa banyak dia menyangkal dan memohon. Tetap saja Young Woon membeberkan kenyataan yang tidak bisa dia hapus.
Kenapa? Kenapa?!
"AAAAAAA!"
Kyuhyun berteriak dengan keras. Meremas kuat-kuat rambutnya. Menjatuhkan diri di pusara sang eomma. Meratapi diri menghadapi kenyataan ini. Dia berharap semua ini hanya mimpi. Mimpi buruk, sangat buruk hingga dia merasa harus bangun dan tidak tidur lagi.
"Kyuhyun-ah!"
Changmin datang nampak terburu. Dia langsung berlari dari tempatnya berdiam tidak jauh dari mereka, sudah cukup dia memperhatikan dan menjadi tidak sabar saat mendengar jeritan Kyuhyun. Changmin mendapati Kyuhyun meraung di pusara ibunya. Mencakar tanah makam yang sudah berumput.
Dia beralih menatap Young Woon. Berharap mendapat penjelasan.
"Kau sudah mengerti sekarang. Lakukan operasimu dan penuhi permintaanku." kata Young Woon menatap datar pada Kyuhyun dibawahnya.
Changmin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Dia ingin memukul. Sungguh. Dia sangat ingin meremukkan sesuatu sekarang.
"Tapi, Kyuhyun, kau bertahan hidup untuk apa? bahkan ibumu mencoba membunuhmu. Siapa yang menginginkanmu? Aku? Tidak, kau bukan anakku. Aku tidak mungkin menginginkanmu setelah apa yang terjadi pada istriku. Hiduplah untuk dirimu sendiri. Lupakan semuanya dan hidup untuk dirimu sendiri."
"Apa maksudnya itu!" Changmin merengsek maju. Meraih kerah Young Woon, tidak perduli jika itu adalah seorang yang lebih tua darinya. "Mengatakan hal semacam itu, kau pikir apa yang kau katakan, hah?!"
"Kau Changmin? Temannya? Benar, mungkin hanya kau yang peduli pada anak haram itu."
"BRENGSEK!"
BUAGH!
Satu pukulan lepas dan menghantam keras wajah Young Woon. Lelaki itu jatuh telentang. Changmin bernafas dengan kasar. Tidak menyadari Kyuhyun bangkit dan melangkah pergi dalam diam yang beku.
"Apa kau seorang ayah? Kau pikir dirimu pantas menjadi seorang ayah tuan Kim?! Lucu sekali! Kau hanya pria brengsek! Kau tidak akan pernah menjadi ayah dari anak manapun!"
Tes.
Young Woon menegang. Sesuatu yang dingin dan lembab menjatuhi pipinya. Kemudian keningnya. Kemudian bukan hanya satu. Dua. Tiga dan banyak yang lain.
Hujan.
Hujan datang tiba-tiba. Bukan gerimis. Dia jatuh deras. Mengguyur tubuh Young Woon dalam sekejap.
'Appa, mianhe. Hiks. Kyunie mencoba pulang sendiri.'
'Gweanchana. Appa disini. Kau tersesat, eoh? Appa sudah menemukanmu. Appa pasti menemukanmu. Uri Kyunie, jangan menangis lagi, ne.'
0o0o00o0
ZRAAAAZZZZZ
'Kau bukan anakku!'
'Youjin juga tidak menginginkanmu! Itulah kenapa ibumu menjadi gila! Karena dia tidak menginginkanmu, merasa bersalah dan menanggung beban!'
'Dia mati! Ibumu mati mencoba membawa dosanya bersamanya! Tapi kau masih hidup!'
'Kyuhyun, kau bertahan hidup untuk apa?!'
'Siapa yang menginginkanmu! Ibumu bahkan mencoba membunuhmu! Aku? Aku tidak mungkin masih menginginkanmu!'
Kyuhyun berjalan seperti orang linglung. Di kepalanya terus berputar semua kalimat Young Woon tanpa henti.
Bruk!
Bahkan saat dia tersandung jatuh dia akan bangkit seolah tidak pernah jatuh. Kyuhyun hanya tahu dia harus berjalan agar suara di belakang kepalanya menghilang. Tidak perduli sudah sebasah apa dirinya. Tidak perduli sudah seletih apa tubuhnya. Dia hanya ingin melenyapkan suara-suara itu.
0o0o0o0
Changmin merasa belum puas dengan memukul wajah Kim Young Woon. Dia ingin melakukannya lagi sekalipun tangannya akan ikut merasakan sakit. Tapi, tapi dia harus mencari Kyuhyun, yang sudah tidak disana saat dia menoleh. Dia bergegas pergi meninggalkan Young Woon yang telentang di tengah hujan di tanah kuburan.
Young Woon masih berbaring menerima dengan pasrah sapuan air hujan di wajahnya. Dia bahkan tidak berkedip oleh sakit pada mata yang dia rasakan karena terkena air hujan langsung.
Kenapa?
Aku sudah mengatakannya.
Aku sudah berterus terang.
Tapi kenapa? Aku tetap tidak merasa lega?
Kenapa?
Sesuatu mengalir di sudut-sudut mata Young Woon dan dia meyakini itu bukan air matanya. Hanya air hujan. Iya, karena hujan begitu deras hari ini juga masuk ke dalam matanya. Dia tidka mungkin menangis. Lagi pula apa yang dia tangisi? Dia sudah melakukan apa yang harus dia lakukan. Ini akan cukup membuat Kyuhyun tahu diri dan tidak mengusik hidupnya.
Benar. Seperti ini sudah benar.
Tapi kenapa? Kenapa rasanya lubang dalam hatinya masih menganga? Apa karena hujan? Kenapa hujan turun snagat deras dan tiba-tiba?
Kenapa? Padahal siang tadi begitu terik!
Hiks hiks
Young Woon membelalak mendengar sesuatu. Suara anak menangis!
Dia bangkit dengan satu gerakan. Menolehkan mata di sekitar. Gelap dan hanya ada suara hujan.
Hiks heks heks
Lagi!
"Siapa?!" Young Woon kembali mengedar pandang ke sekitar. Tidak ada siapapun tapi suara seorang anak menangis justru semakin jelas. Dia bangkit namun terpeleset dan jatuh lagi. Kali ini dia jatuh di atas gundukan makam istrinya. Matanya langsung disambut oleh foto yang menempel di nisan tersebut.
"Youjin-ah."
Tangan Young Woon hampir menyentuh foto tersebut namun terhenti oleh suara kecil di belakangnya.
'Appa!'
Young Woon menoleh ke belakang. Dia mundur terkejut, matanya melebar tidak percaya. Sosok Kyuhyun kecil berseragam dan ransel biru menggembung di belakang tubuhnya. Sosok itu berdiri dengan mata basah dan merah. Tangannya terulur…..
Hiks hiks appa heks!
Young Woon menutup telinga rapat-rapat. Suara tangis disertai seruan 'appa' terus memangil tepat disisi-sisi telinganya. Kyuhyun kecil masih berdiri mengulurkan tangan kepadanya.
"PERGIIII!"
0o0o0o0o0
Changmin tidak bisa menemukan Kyuhyun. Dia seperti orang gila memutari jalan di tengah hujan. Bagaimana Kyuhyun bisa menghilang secepat itu.
"Sial!"
Changmin memukul motornya yang mati. Mengusap wajahnya dari air hujan. Dia bahkan melupakan helmnya yang entah sudah berada dimana.
Dengan gusar dan terburu Changmin merogoh ponselnya. Beruntung ponselnya masih bisa digunakan, segera menghubungi Leeteuk.
"Saem, kumohon tolong aku!" serunya begitu pnggilannya diangkat
'Changmin-ah?'
"Aku kehilangan Kyuhyun! Tolong aku! Aku tidak menemukannya!" suara Changmin tertelan oleh derasnya hujan.
'Aku tidak bisa mendengarmu, Changmin!'
"AKU TIDAK BISA MENEMUKAN KYUHYUN! DIA MENGHILANG!"
Entah karena cemas atau kah kesal dia berteriak. Setelahnya dia menjambak rambutnya sendiri dan menangis dengan kuat. Dia harus menemukan Kyuhyun. Tapi kemana sahabatnya pergi di situasi dan perasaan yang seperti itu.
Changmin takut. Dia takut sekali.
0o0o0o0o0
Kibum memandang hujan diluar. Perasaannya sangat tidak enak. Apalagi hujan yang turun setelah cuaca begitu terik. Membuat perasaan tidak nyaman.
"Kibum, jangan melamun. Kalau kau melakukan kesalahan lagi, Heechul hyung akan mengomel kepadaku." tegur Donghae tidak suka.
"Kau tidak merasakannya, hyung?"
"Apa?" Donghae rasa Kibum sangat aneh.
Kibum menggeleng. "Lupakan."
Donghae berdecak. "Beruntung pelanggan hari ini sedikit."
Kibum berlalu. Donghae mengikuti. Saat Kibum meletakkan nampan di konter dekat kasir, Donghae meletakkan nampannya juga kemudian dengan memaksa dia menarik Kibum ke sudut yang sepi.
"Kibum, kau bertemu Kyuhyun?"
Kibum menatap tidak suka cara Donghae menariknya. "Heum. Aku bertemu di sekolah."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Iya." Kibum mengingat kembali bagaimana keadaan Kyuhyun pagi ini. Dia rasa Kyuhyun cukup baik. Meski terlihat lebih kurusan dari awal liburan, Kibum tahu itu karena sakit beberapa waktu lalu. "Dia hanya lebih kurus."
Donghae nampak terlihat lega.
Kibum menatap Donghae sedikit heran. "Kau mengkhawatirkannya juga?"
"Tentu saja!" jawabnya yakin. Donghae menatap jauh. "Kyuhyun anak yang kuat tapi juga lemah. Dia takut gelap, hujan dan petir. Sekarang sedang hujan, apa dia baik-baik saja? Aku harap dia bersama seseorang disaat seperti ini." gumam Donghae di akhir.
Kibum menatap jauh ke luar. Hujan sangat deras, mengaburkan pemandangan di luar.
"Kyuhyun anak pintar. Aku tahu dia menerima beasiswa di sekolah appa. Dia tinggal sendirian dan bekerja mengumpulkan uang."
"Dia masih punya orang tua." sahut Kibum tanpa sadar.
"Benarkah? Aku tidak tahu soal itu." di café tidak ada yang tahu tentang kehidupan pribadi Kyuhyun. Mereka hanya tahu sekilas, bahwa Kyuhyun hidup sendirian di sebuah flat sewa pertahun dan bersekolah di sekolah elit sebagai penerima beasiswa.
"Apa dia dari keluarga kurang mampu? Jadi itu yang membuatnya mendonorkan ginjal padamu? Apa mereka butuh uang saat itu?"
Kibum meremas genggaman tangannya. Dia tidak tahu soal itu. Tapi jika melihat rumahnya mereka cukup mampu menurutnya. Tapi kenapa Kyuhyun hidup di flat murah dengan biaya sendiri? Sehebat apa pertengkarannya dengan ayahnya? Sampai ayahnya tidak memperdulikan putranya lagi?
Donghae melihat Kibum yang nampak melamunkan sesuatu. "Kibum." panggilnya.
Kibum menatap Donghae.
"Apa menurutmu ini cukup untuk membalas budi?"
Kibum mengernyit tidak tahu maksud Donghae.
"Orang di café, bahkan bos Heechul merasa Kyuhyun menyembunyikan sesuatu. Aku rasa dia sedang dalam kesulitan. Jika kau ingin membalas budi kenapa kau tidak mencoba mencari tahu dan membantunya?"
Kibum menelan ludah. "Sebenarnya," berhenti. Masih menimbang apa Donghae perlu tahu perihal penyakit Kyuhyun?
"Dia tidak disini! Tidak disini, Leeteuk!" seruan Heechul menarik perhatian semua orang. Termasuk Donghae dan Kibum. Mereka memperhatikan Heechul yang terlihat gusar menerima telepon.
"Jangan bercanda Leeteuk! Kyuhyun tidak mungkin hilang! Sial! Aku akan bantu cari, beritahu aku dimana dia terkahir kali!" Heechul mematikan ponselnya setelah mendapat jawaban dari Leeteuk. Dia mengambil mantel di gantungan. Berseru pada Sungmin dan Shindong. Menyerahkan café pada mereka.
Sungmin dan Shindong hanya mampu mengangguk melihat kepanikan Heechul. Bos mereka bergerak cepat meninggalkan tempat kasir. Tidak perduli pada para pengunjung juga karyawan lainnya. Namun langkahnya harus berhenti saat di depannya Kibum menghadang.
Pemuda itu bertanya dengan wajah datar namun Heechul bisa melihat kekhawatiran. Tapi Heechul tidak punya waktu untuk memberi penjelasan. Jadi dia hanya bisa mengatakan bahwa Kyuhyun menghilang.
"Apa maksudmu menghilang?! Dia sekolah hari ini!" kata Kibum menyanggah, tidak percaya.
"Mana kutahu Choi Kibum! Sekarang minggir, aku tidak punya waktu lebih untuk menjelaskan padamu!" Heechul mendorong Kibum ke samping dengan mudah karena Kibum terlihat syok.
Heechul berlari keluar, memutar mobilnya dengan cepat kemudian melaju di jalan yang basah, menembus hujan yang masih mengguyur dengan lebat.
"Sebenarnya, ada apa?" tanya Ryewook yang disahut gelengan Eunhyuk.
Kibum melepas celemek dan menyerahkan begitu saja pada Donghae. Donghae menerimanya dengan wajah bengong.
"Kau mau kemana, Kibum?" kejar Donghae begitu sadar. Dia mengikuti langkah Kibum menuju pintu.
"Pertanyaan bodoh, tentu saja aku akan mencarinya!"
"Diluar hujan!"
"Kyuhyun menghilang!" teriak Kibum berbalik menatap Donghae dengan nyalang. "Kau pikir aku akan peduli dengan hujan, mendengar kabar seperti ini?! Jangan membuatku tertawa, kau bilang sendiri Kyuhyun takut hujan gelap dan petir. Diluar sana gelap, hujan dan entah kapan datang petir!"
"Setidaknya kau harus tahu akan mencarinya kemana!" Donghae balas berteriak. Tidak sabar melihat Kibum seperti bukan dirinya yang tenang dan berkepala dingin. Kibum terlihat lepas kontrol dan panik sendiri. "Ada seseorang yang bisa kau hubungi?" tanya Donghae lebih tenang.
Kibum menggeleng. Matanya memerah, berkaca. "Siwon hyung, minta pada Siwon hyung mencarinya." Kibum merogoh sakunya, menarik ponselnya keluar. Dia dengan cepat bisa menemukan nomor hyung tertuanya dan segera menghubunginya. Meminta pertolongan untuk mencari Kyuhyun.
0o0o0o0o0
"Mana Kyuhyun?" Hera bangkit menyambut Young Woon saat lelaki itu pulang dengan tubuh basah kuyub dan kotor oleh tanah. Hera tentu saja langsung panik melihat dia dalam keadaan seperti itu. Dalam hati bertanya-tanya apa yang terjadi.
"Mana Kyuhyun, Young Woon?!" tanya Hera sekali lagi karena calon mantan suaminya itu hanya diam tidak menjawab.
Hera semakin cemas, diluar hujan dan Kyuhyun takut hujan. Dia tentu saja tahu tentang satu hal itu. "Young Woon jawab! Apa yang terjadi, kalian pergi kemana?Sekarang dimana Kyuhyun?!"
"Aku tidak tahu." jawab Young Woon pelan.
Hera jadi tidak sabar. Dia meraih bahu Young Woon yang terlihat sedikit linglung. "Apa maksudmu tidak tahu? Kalian keluar bersama. Kau bawa dia kemana? Apa kau sudah mengantarnya pulang? Ceritakan Young Woon, apa yang kau lakukan tadi?"
Young Woon menggeleng seraya memejamkan mata. Suara tangisan dan seruan anak kecil masih terdengar dikepalanya.
Henry memperhatikan keduanya. Tidak sabar juga dengan reaksi Young Woon yang terlihat aneh.
"Henry, coba hubungi Changmin. Tanyakan apa Kyuhyun sudah pulang ke rumahnya." perintah Hera yang langsung diangguki Henry. Henry sudah cerita kalau Kyuhyun tinggal dirumah Changmin. Namun sayang hanya ada nada tut tut tut. Beberapa kali dicoba dan terakhir terdengar suara si operator.
Young Woon menjatuhkan diri, duduk tidak memperdulikan keadaannya yang basah dan kotor oleh lumpur.
"Aku sudah mengatakannya."
Hera dan Henry menoleh pada Young Woon. "Apa yang kau katakan? Apa maksudmu?" tanya Hera.
Young Woon meremas jemarinya yang mulai berkeriput karena dingin. "Aku mengatakan kebenaran. Kebenaran yang akan membuatnya mengerti dan memahami semua sikapku. Kalian juga akan memahami aku sekarang."
Hera tidak mengerti kemana arah pembicaraan Young Woon namun dia tetap mendengarkan.
Young Woon mengangkat wajahnya, menatap lurus kepada Hera. "Aku memendamnya, menjaga rahasia ini untuk menjaga nama baik Youjin. Aku berniat menyimpannya selamanya, tapi semua hal terjadi. Kau juga terus melakukan proesmu bahkan menuntut bercerai,"
Hera menggeleng tidak sabar. "Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti Young Woon. Daripada itu kenapa kau tidak jelaskan apa yang kau lakukan tadi dengan Kyuhyun. Dan kemana Kyuhyun sekarang?!"
"Aku sedang menjelaskannya!" seru Young Woon. "Kau menyuruhku untuk memberi ijin operasi itu! Aku sudah melakukannya! Aku mengatakan aku akan menandatangani surat itu! Tapi,"
Hera merasa tidak enak mendengar kata tapi itu. Sedangkan Henry melihat ibu dan ayahnya bergantian dengan raut bingung. Dia tidak paham. Ijin operasi apa yang mereka bicarakan? Siapa yang perlu operasi?
"Katakan sampai selesai, Kim Young Woon! Apa syarat yang kau ajukan pada Kyuhyun!" seru Hera emosi. Hal mengerikan terpikirkan olehnya. Sesuatu yang buruk pasti sedang dilakukan Young Woon. Hera tidak tahan dengan bayangannya sendiri.
"Aku memintanya untuk pergi dan tidak mengganggu keluargaku lagi." jawab Young Woon dengan lancar.
Hera menutup mulut tidak percaya. Henry menatap ayahnya dengan tidak kalah terkejut. "Apa maksud appa? Kau mengusir Kyu hyung dari hidupmu?"
Young Woon beralih menatap Henry. "Benar. Dengan begitu hidup kita akan lebih baik. Asal jangan menyebut Kyuhyun atau mengingatnya. Dia bisa hidup dimana pun, dan kita akan menjalani kehidupan kita sendiri. Kita akan jadi keluarga yang bahagia, Henry-ah."
Henry menggeleng. "Kau sudah gila, appa. Dia anakmu sendiri. kenapa kau melakukan hal itu? Kyu hyung, dia, dia,"
Young Woon menggeleng. "Dia bukan anakku."
Sekali lagi mereka dibuat terkejut. Young Woon kembali menundukkan kepala. Meremas jemarinya. "Sudah kukatakan aku berniat menyembunyikannya seumur hidupku. Tapi keadaan ini sudah tidak bisa membuatku bertahan lagi. Kau yang memaksaku Hera. Inilah kenyataannya. Kyuhyun bukan anakku. Dia bukan darah dagingku."
Henry harus menopang tubuh ibunya agar wanita itu tidak jatuh.
0o0o0o0o0
Changmin berdiri dengan tubuh menggigil. Dia tidak sendirian ada juga Leeteuk, Heechul dan Siwon. Mereka mencari bersama. Sedangkan beberapa orang suruhan Siwon mencari di tempat lain. Setelah lama mencari mereka mulai putus asa. Mungkin Kyuhyun sudah jauh pergi.
"Siwon hyung!" Donghae muncul bersama Kibum, berlari menerobos hujan.
"YA! Kenapa kalian kemari?! Bagaimana café?" seru Heechul marah melihat mereka.
"Tidak ada pelanggan lagi! Tapi yang lain masih berjaga disana!" jawab Donghae.
"Kibum, kenapa kau juga ikut? Kau bisa sakit jika hujan-hujanan seperti ini!" Siwon tentu saja khawatir. Mengingat riwayat kesehatan Kibum, mereka selalu menjaga Kibum agar tidak sakit lagi. Siwon hendak maju namun seseorang lebih cepat melewatinya dan langsung menyerang Kibum.
Semua terkejut saat Kibum terjerembat jatuh setelah dihantam tinju Changmin. Tidak cukup sampai disana, Changmin sudah kembali menindih tubuh Kibum dan memukulinya. "Brengsek! Ini juga karena kau! Kau salah satu penyebab penderitaan Kyuhyun!"
Semua tersadar dari keterkejutan beberapa saat kemudian. Buru-buru mereka melerai. Leeteuk dan Heechul menarik Changmin yang bersikukuh menindih Kibum. Siwon dan Donghae menarik adiknya berdiri begitu Cangmin berhasil diringkus dan dijauhkan.
"Tenanglah Changmin!" Leeteuk berteriak di tengah hujan yang masih mengguyur.
"Apa masalahmu brengsek!" teriak Donghae marah melihat adiknya berdarah-darah di wajahnya. "Kau sudah gila, hah?!"
"Kalian yang keluarga gila! Keluarga penjahat! Pencuri!" teriak Changmin tidak kalah emosi.
"Changmin sudah!" desak Heechul. Dia sendiri tidak paham dengan kemarahan Changmin yang meledak tiba-tiba.
"Tidak! Kalian!" tangan Changmin menunjuk wajah ketiga Choi. "Orang-orang busuk! Kalian semua! Manusia rendahan! Kalian membuat sahabatku menderita! Kalian sudah merusak hidupnya!"
"Tutup mulutmu! Memangnya apa yang kami lakukan!" Donghae hendak maju memberi pelajaran Changmin namun Siwon menahannya.
Changmin tertawa keras tiba-tiba. "Kalian bertanya? Kau yakin masih ingin bertanya? Pura-pura tidak tahu? Hey, Kibum! Pencuri ginjal! Kembalikan ginjal Kyuhyun!"
Ketiga Choi itu membeku di tempat. Leeteuk melepas pegangannya kepada Changmin, matanya dengan cepat beralih menatap ketiga Choi, atau tepatnya menatap Kibum. Heechul sendiri terlihat bingung. Dia mana tahu Kyuhyun pernah mendonorkan ginjalnya?
Dari mana Changmin tahu? Mana bisa dia berdiam diri saat melihat sahabatnya bertindak anarkis pada dirinya sendiri? Meskipun itu untuk pertama kali dia melihatnya sendiri dibandingkan Leeteuk yang sudah sering, tapi dia tidak bisa hanya diam. Saat melihat ponsel Kyuhyun tergeletak dengan layar yang retak, dia mulai merasa aneh. Padahal dia masih melihat ponsel itu baik-baik saja saat siang. Dengan penasaran dia mengecek nya, beruntung masih menyala dan masih menampilkan layar browser yang memuat biografi Choi Jung Woon. Dia langsung menemukan kalimat 'putra bungsu tuan Choi berhasil selamat melalui cangkok ginjal'. Otaknya langsung menarik benang-benang penghubung dari kalimat tersebut dengan keadaan aneh Kyuhyun yang mencakari bekas luka operasinya. Akhirnya dia paham sesuatu. Tuan Choi yang ditakuti Kyuhyun dan menimbulkan trauma adalah ayah dari seorang Choi Kibum.
"Kalian putra si Choi itu! Dan kau Choi Kibum, kau sudah membodohi kami selama ini! Berpura-pura baik mendekati Kyuhyun, apa kau sedang mempermainkannya, hah?! Kau ingin melihat bagaimana keadaan orang yang sudah kau curi ginjalnya! Apa kau sudah puas?! Kau sudah melihatnya, bukan! Apa yang kau lihat?! Bagaimana Kyuhyun menurut matamu!"
Leeteuk menarik lengan Changmin, memaksa pemuda jangkung itu menghadap padanya. "Changmin sudah cukup! Apa gunanya kau mengatakan itu sekarang!"
Changmin menggeleng. Matanya kembali berembun. "Tidak ada! Tapi rasanya memaki mereka saja tidak cukup, saem! Kau sendiri yang bilang, Kyuhyun terganggu dengan sosok tuan Choi! Dia bahkan kehilangan akalnya hanya dengan melihat tuan Choi! Kyuhyun mengatakannya padaku! Dia takut pada lelaki itu! Bagaimana dia akan menjalani hidupnya dengan ketakutan itu?! Katakan padaku, apalagi yang bisa kau lakukan jika suatu saat akal Kyuhyun tenggelam tidak bersisa?!" Changmin menguncang bahu Leeteuk. Meminta jawaban dari orang yang selama ini berusaha mempertahankan kewarasan Kyuhyun. "Katakan padaku, Leeteuk songsaenim! Dia bahkan sudah mendengar hal lebih buruk dari itu. Kim Young Woon, Kim Young Woon mengatakan hal sangat buruk kepadanya." Changmin terisak hebat. Tubuhnya merosot jatuh. Bersimpuh dengan suara tangisnya yang keras.
0o0o0o0o0
Rumh itu terasa beku. Sangat beku. Seperti diguyur hujan salju dengan keminusan parah. Baik Hera, Henry juga Young Woon berdiam dalam posisinya. Hera duduk bersandar terlihat lelah tak berdaya setelah mendengar semua penjelasan Young Woon, Henry berdiri di dekat kursinya. Sedangkan Young Woon masih di tempatnya, meremas kedua tangan dan menunduk dalam.
Hera bergerak, menarik tubuhnya yang terasa lemas. Dia mencari pegangan pada Henry, anak itu langsung meraih tangan sang ibu. Membantunya berdiri.
"Ayo pulang." ajak Hera meminta Henry menuntunnya.
Young Woon langsung bereaksi melihat mereka akan melangkah pergi. "Kalian tidak boleh pergi! Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan Hera. Tepati janjimu!"
Hera menatap sengit Young Woon. Tidak percaya lelaki itu masih menuntut janji setelah apa yang dia lakukan? Apa dia merasa masih memiliki hak atas janji yang Hera katakan? "Sekarang aku mengerti, Kim Youg Woon bagaimana hatimu sesungguhnya. Kau sangat kejam!" air mata Hera jatuh. Dadanya terasa sesak oleh sembilu dan kepedihan. "Aku tidak bisa menggantungkan hidupku dan putraku pada lelaki dengan hati seperti itu. Menyingkirlah, kami akan baik-baik saja. Aku dan Henry akan jauh lebih bahagia tanpamu."
Young Woon masih menahan mereka. Dia terlihat ketakutan saat mereka melangkah untuk mencapai pintu. "Henry-ah, kumohon pulanglah, nak. Appa sangat menyayangimu. Ajak ibumu pulang." mohonnya.
Henry menatap Young Woon. Masih banyak kebingungan yang dia rasakan. Tapi satu yang pasti dan harus dia katakan. "Kau bukan appaku. Mianhe." jawab Henry menghancurkan harapan Young Woon.
Dirinya hanya menatap nanar kedua orang yang dia harapkan untuk tinggal telah mencapai pintu.
"Mungkin Tuhan tahu, kau tidak akan pernah pantas menjadi seorang ayah, Young Woon. Youjin pun pasti menagis disana." kata Hera untuk sejenak berhenti di muka pintu. Menatap Young Woon untuk terakhir kali. Ya, dia harap ini untuk terakhir kali dia melihat lelaki itu.
0o0o0o0o0
Heechul keluar kamar mandi dengan mengenakan pakaian kering. Dia segera bergabung dengan Leeteuk di ruang tengah rumah Changmin. Leeteuk yang sudah lebih dulu membersihkan diri dan sekarang sedang duduk termenung seorang diri, sedangkan di meja sudah tersaji dua cangkir teh ginseng.
Heechul duduk, menepuk kaki Leeteuk. "Aku rasa kau perlu menjelaskan banyak hal, Leeteuk."
Ponsel ditangan Leeteuk di taruhnya di meja. Melihat Heechul sekilas. Kemudian menghela nafas. "Akan panjang."
"Akan ada waktu semalaman."
Leeteuk diam. Menoleh ke arah tangga dimana Changmn tadi menghilang kesana. Dia bisa melihat kemarahan dan rasa frustasi Changmin hingga tidak memperdulikan mereka yang ikut pulang bersamanya. Beruntung seorang ahjuma kemudian datang dan memberi tahu Leeteuk dan Heechul dimana mereka bisa membersihkan diri. Ahjuma itu juga menyiapkan pakaian kering untuk mereka berdua.
"Daripada melamun lebih baik kau mulai penjelasanmu." kata Heechul tidak sabar. Dia sudah bersedekap dada menantang Leeteuk dengan sebuah tuntutan.
Leeteuk memulai ceritanya dengan mengambil nafas panjang.
Sedangkan Changmin sedang menangis di tepian ranjangnya. Dalam satu hari dia sudah memukul dua orang yang menurutnya paling pantas di pukul. Dia tidak menyesal. Sedikitpun tidak. Tapi rasa sedih dalam hatinya sangat terasa. Dia masih cemas atas Kyuhyun, meskipun di luar sana ada orang-orang Siwon yang akan masih terus mencari tetap saja dia tidak bisa tenang sampai Kyuhyun ditemukan .
"Kenapa harus Kyuhyun?"
Dia masih ingat ucapan seorang Kim Young Woon. Bahwa Kyuhyun bukan putra seorang Kim. Kyuhyun adalah anak orang lain yang tidak jelas siapa. Bahkan Young Woon pun tidak tahu siapa lelaki yang telah merenggut kehormatan istrinya. Rasanya Changmin sulit mempercayai semua perkataan Young Woon tapi lelaki itu pun begitu yakin saat mengatakan semuanya.
"Kenapa, padahal Kyuhyun sangat menyayanginya. Kyuhyun sangat menghormatinya. Dia tetap memangilnya ayah meski banyak hal buruk sudah dia lakukan. Kenapa? Kenapa memang jika bukan anaknya? Kyuhyun tetap anak istrinya. Kyuhyun anak dari wanita yang dia cintai. Apa hubungan keluarga hanya sebatas hubungan darah?"
Changmin tidak paham. Sungguh dia tidak mengerti kehidupna orang dewasa yang tenggelam oleh cinta dan hubungan semacam itu. Tapi haruskah Kyuhyun menderita oleh perbuatan orang lain? Dia sudah banyak menderita. Sahabatnya yang malang, masih haruskah mendapati kenyataan yang begitu menyedihkan?
0o0o0o0o0
"Ada apa dengan kalian?" Jung Woon mendapati ketiga putranya dalam keadaan tidak baik. Pulang dengan tubuh basah dan wajah yang muram. Terlebih keadaan Kibum yang terlihat sangat tidak baik. Wajah putra bungsunya babak belur.
"Jangan menyentuhku!" Kibum mundur dari sentuhan sang ayah.
Jung Woon terkejut. "Ada apa Kibum?"
Tidak mendapat jawaban dari Kibum dia beralih pada dua anaknya yang lain. Siwon menunduk. Donghae sebaliknya menatap tajam sang ayah. Jung Woon semakin tidak mengerti. "Ada apa dengan kalian?"
"Ini semua tidak akan terjadi jika appa tidak menyembunyikannya." kata Kibum. Kibum menatap ayahnya. "Jika appa tidak harus menyembunyikan semuanya, aku dan Kyuhyun akan saling mengenal lebih awal tanpa harus ada hal semacam ini!"
"Apa maksudmu Kibum?"
"Kami sudah tahu pendonor Kibum." jawab Donghae. "Yang tidak disangka kau dan Siwon hyung bersekongkol menyembunyikan hal tersebut!"
"Donghae sudah kujelaskan semua itu! Jangan menyalahkan appa!" Siwon kembali mengatakan hal sama dengan di mobil.
"Kalian hanya mencari aman! Benar kata changmin, kita keluarga brengsek! Keluarga pencuri!"
"Jaga bicaramu, Choi Donghae!" seru Siwon.
"Jangan panggil aku Choi, sialan!" balas Donghae naik pitam. Keduanya hampir adu pukul jika tuan Choi tidak melerai. Dia sedikit paham masalahnya tapi kenapa wajah Kibum babak belur dan mereka basah?
"Kyuhyun sudah tahu semuanya!" kata Donghae tidak beniat melunakkan nadanya. "Sial! Jadi karena itu kalian berbuat baik kepada Kyuhyun?! Ah, aku muak dengan keluarga ini!" Donghae berlalu. Menaiki tangga dengan cepat, bahkan membanting pintu hingga terdengar suaranya di telinga mereka.
Choi Jung Woon menatap Kibum sedih dan menyesal. Dia mendekat. Meraih kedua bahu putranya. "Maafkan appa, Kibum. Appa melakukannya bukan dengan maksud buruk. Appa menyesal kau harus hidup dengan beban hutang budi seperti ini. Tapi itu kesepakatan kami. Aku dan tuan Kim sepakat untuk tidak berhubungan lagi. Apalagi membicarakan masalah ginjal itu."
"Aku tahu, appa! Aku tahu! Tapi kau, bahkan hari itu! Kyuhyun melihatmu, kan? Dia sakit karena hal itu! Dan siwon hyung, dia juga menyembunyikan penyakit Kyuhyun dariku! Kalian melakukan semua kebaikan itu karena aku! Kalian mencoba membalas budi dengan cara kalian mewakiliku! Hingga, hingga aku sendiri menjadi pengecut dan bersembunyi dibalik pertemanan. Aku tidak ingin hubunganku dengan Kyuhyun hancur karena hal itu. Karena sungguh, aku menyayangi anak itu, appa. Tapi sekarang, dia pasti tidak ingin melihatku lagi. Dia menghilang. Dia pergi entah kemana!" Kibum terisak. Air matanya turun tidak berhenti.
Jung Woon merasa iba, bersalah dan sangat bersalah. Dia menarik Kibum dalam pelukan. Kibum langsung mengeratkan diri. Menangis lebih keras. "Bagaimana sekarang? Kyuhyun menghilang! Bagaimana aku harus menebus semuanya. Tolong temukan dia. Temukan Kyuhyun, appa. Kumohon!" mintanya dengan sesenggukan.
Choi Jung Woon hanya mampu mengangguk mengatupkan mulut rapat-rapat.
Kyuhyun hilang? Itu kabar buruk untuknya. Jung Woon menatap Siwon, dia butuh banyak penjelasan mengenai hal ini.
0o0o0o0o0
Seperti si bodoh yang ditendang di tengah jalan. Itulah perasaan Heechul setelah menerima semua penjelasan Leeteuk. Dia tidak bisa mengatakan apapun tapi ingin sekali banyak memaki. Itu sudah diujung lidahnya, namun hanya desisan penuh geram yang akhirnya keluar.
Leeteuk melihat Heechul yang seperti kesulitan mengungkap perasaannya. Dia hanya mengulurkan tangan menepuk-nepuk ringan bahu lelaki di sebelahnya tersebut. "Percayalah, responmu lebih tidak terduga."
"Apa maksudmu? Semua itu rumit, Leeteuk! Aku selalu merasa aneh dan cemas tanpa alasan setiap melihat anak itu! Dan lihat, anak itu lebih berantakan dari apa yang aku duga! Dibenci ayahnya? Diusir dari rumahnya? Dijual ginjalnya? Coba dibunuh ibunya? Sampai mencoba bunuh diri?! Astaga!"
Heechul bangkit, meletakkan satu tangan di pinggang dan tangan lain memijit pelipis. "Dan bagaimana dia bisa tetap hidup?!"
Leeteuk membulatkan mata mendengar kalimat Heechul.
"Maksudku," buru-buru Heechul mejabarkan maksudnya, "Kyuhyun masih bisa tersenyum, berbuat jahil, bahkan bersekolah dan bekerja!"
"Dia rusak Heechul." tambah Leeteuk menghela nafas berat. Bersandar lelah. "Aku sangat cemas sekarang. Kemana dia pergi dan," Leeteuk mengerjapkan mata mengusir pikiran buruk yang mungkin saja dilakukan Kyuhyun. Setelah apa yang dijelaskan Changmin pada mereka perihal pengakuan tuan Kim, Leeteuk tidak bisa erasa tenang. "Semoga orang-orang Siwon bisa menemukannya. Mereka harus menemukannya."
Heechul menatap Leeteuk tidak percaya. Leeteuk masih berharap orang Choi itu menemukan Kyuhyun? Kenapa harus bergantung kepada keluarga yang disebut terhormat namun bisa melakukan hal buruk seperti mengambil ginjal anak kecil, untuk menemukan Kyuhyun?! Dia kurang suka, tapi siapa lagi yang bisa dimintai tolong. Mereka memiliki kekuasaan dan banyak uang untuk mengerahkan orang sebanyak mungkin untuk pencarian.
0o0o0o0o0
Apa yang perlu dia jelaskan kepada ayahnya? Siwon hanya tahu Kibum menghubunginya dan memberitahu jika Kyuhyun menghilang. Selebihnya dia benar-benar tidak tahu ada masalah apa sampai Kyuhyun menghilang.
"Tapi Changmin mengatakan sesuatu. Tuan Kim bersama dengan Kyuhyun sebelum dia menghilang. Changmin bilang sesuatu yang buruk dikatakan tuan Kim kepada Kyuhyun." Siwon menggeleng. "Aku tidak tahu apapun tentang itu appa."
Tuan Choi diam tidak berkomentar namun kepalanya tidak bisa berhenti bertanya-tanya dan memikirkan segala kemungkinan mendengar bahwa tuan Kim bersama dengan Kyuhyun sebelum Kyuhyun menghilang. Pasti ada sesuatu!
"Apa yang kau pikirkan, appa?" tanya Siwon melihat Jung Woon hanya diam.
Jung Woon menghela nafas panjang. "Apa ini ada hubungannya dengan ijin operasi? Kau bilang perijinan akan diurus Leeteuk, bukan?"
Siwon mengangguk. "Aku akan bicara dengan Leeteuk-ssi dan mencari tahu apa yang terjadi."
"Tidak perlu. Biar aku yang bicara. Aku yang melakukan hal kotor itu. Jadi biarkan serahkan ini padaku."
Siwon merasa ragu, namun akhirnya mengangguk setuju. "Appa, kau baik-baik saja?" tanya Siwon begitu melihat sang ayah nampak memikirkan sesuatu dengan wajah cemas. Namun Jung Woon hanya menggeleng dan mencoba tetap tersenyum.
Dia tidak bisa berpura-pura dengan menyembunyikan kekhawatirannya. Kyuhyun hilang. Anak Youjin, anaknya. Anaknya sendiri yang menghilang. Dengan segala rasa bersalah yang berkecamuk bagaimana dia bisa tetap tenang? Kyuhyun menghilang setelah berbicara dengan tuan Kim, apa itu artinya Kim Young Woon tahu Kyuhyun bukan anaknya dan mengatakan hal itu pada Kyuhyun?
Bagaimana jika benar itu yang terjadi? Lalu apa yang harus dia lakukan? Bagaimana dengan operasi Kyuhyun? Bagaimana dengan dirinya yang harus bertanggung jawab? Bagaimana dia akan menebus segala perbuatan buruknya? Bagaimana dia akan menghadapi mantan istrinya dan juga Youjin? Bagaimana dia akan tetap mengangkat wajahnya di hadapan dunia dengan perbuatan yang begitu buruk?
Choi Jung Woon menangis sorang diri. Merasa begitu buruk. Dia tidak tahu apakah masih bisa menghadapi putra-putranya dengan wajah yang biasa. Hidupnya sudah tidak lagi baik. Sangat buruk dan sayangnya dia masih harus menyelesaikan banyak hal.
TBC
Thursday, November 3, 2016
6:29 AM
Monday, November 7, 2016
6:03 AM
Selamat pagi dan saya masih mengantuk. Hahaha
Iya kemarin salah harusnya tanggal 5 November, terima kasih yang sudah mengingatkan.
Trus ada yang tanya kapan Young Woon tahu Kyuhyun bukan anaknya? Udah lama, tepatnya sehari setelah peristiwa tragis Youjin bunuh diri. Dia ambil tes DNA dan tahu Kyuhyun bukan anak kandungnya. Belum aku ceritain ya? Tapi clue nya banyak kok.
Chukkae SUJU! Happy anniversary! Selalu jaya, semangat, dan semakin dikenal dunia. Dan semoga kita masih bisa melihat mereka 11 tahun kedepan, 11 tahun lagi dan 11 tahun lagi! *Apaan coba! Wkwkwkwk. Intinya deh, SUJU tetap SUPER JUNIOR!
Saya gak ngeh lho kalo kemarin anniversarynya Suju. Untungnya kalian ingatkan dan terima kasih yang nagih ff ini. Tadinya mau posting tengah malem, eh ternyata saat pegang hp malah ketiduran. Ya udah pagi ini jadinya. Terlambat ya? Mianhe.
Sampai di chapter ini saya jadi keinget ff salah seorang author berjudul ME. Saya ngerasa kenapa ini ff alurnya jadi kayak ff itu? Dn terus terang saja, ini berbeda dari draf yang sudah saya susun. Karena rasanya yang sudah saya susun gak nyambung meski sayang jga jika tidak dimasukkan. Apa boleh buat itu tetap tidak bisa dimasukkan ke sini.
Berterima kasih sekali kepada semua readers, yang fav n follow. Terima kasih sudah bersama ff ini sampai di Chapter 17 + 4 bonusnya.
Untuk SUPER JUNIOR, semua hal baik menjadi do'a untuk kalian. Semoga tetap mejadi Super Junior sekalipun melakukan kegiatan solo. Kyuhyun, akan pergi wamil? Aku akan merindukanmu~
Hey, ada yang minta ff EXO, maaf mungkin lain kali? Saya kurang tahu member EXO dan nama-namanya. Butuh waktu untuk mengenal mereka.
Yeah kenyakan cuap-cuap. Saya tutup disini saja. Selamat membaca dan maaf untuk segala typo dan lain sebagainya.
Sima Yu'I
(SY'I)
