New Member Adventure

Disclaimer: TVP yang dari tadi Frantic melulu tidak memiliki GC beserta properti yang ada di dalamnya...ia hanya memiliki OC dan alur cerita Fic ini...

Pemenang Polling Chapter Ini adalah...Cross Light Dain A.K.A Dain dengan 3 suara! baiklah, lanjut!

Balas Feedback!

.

.

.

Quest: Grand Chase : ah...maaf Quest-san! saya kemarin tidak melihat daftar review, jadi baru bisa di balas sekarang! mau lihat karakter-karakternya? hm...kalau Dain, coba liat gambra Hiwatari Satoshi dari D. sedangkan Theo liat gambar Daiskue Niwa dari Manga/Anime yang sama, tapi mukanya lebih serius. yah...kalau saya sudah bisa mengupload gambar buatan saya, segera saya pasang di Cover-nya...mungkin hanya ini. saya ucapkan terima kasih karena telah mengirim sepucuk review *emang surat?*. akhir kata, selamat membaca dan mengikuti NMA!

.

.

.

Quest: Theo: uu~ ternyata ada juga yang berpikiran sama dengan si Author! hehe~*nyengir kuda* kalau cerita sungguhan...wah, bakal seru tuh! Not a bad idea! yah...daripada saya nge-khayal-ria terlalu tinggi, sebaiknya saya sudahi sampai sini. terima kasih sudah memberi Review pada Fic saya! akhir kata, selamat membaca dan mengikuti NMA!

.

.

.

DarkMelt: ini pertama kali saya bikin yang sadis begitu lho (jangan-jangan saya bisa jadi author sadis nih...xixixi *evil laugh*). apakah Theo masih bisa menggunakan api hitamnya? hm...hehe, itu masih rahasia...belum bisa di beritahu. Dain? hehe...itu juga sama...kedua ini masih top Secret...jadinya begini deh, tapi tenang aja, nanti juga bakal terungkap. mungkin Cuma itu. terima kasih sudah mereview cerita saya. selamat menikmati update-an ceritanya ya!

.

.

.

Kaien-Aerknard: wkwkwk...itulah gambaran Lass menurut pandangan saya. Stay Cool jadi motto! uh...mungkin karena saya terlalu paranoid ceritanya gak nyambung (meskipun akhirnya tetap gak nyambung =_="), maka chapter-nya kepanjangan (banyak penjelasannya sih...)...yah sudahlah, yang penting selesai. Anyway, terima kasih sudah mereview fic saya ini! selamat membaca dan menikmati NMA ya XD !

.

.

.

Chalice07: wahahaha! Sieghart! saya baru tahu kamu itu Granddaughter Complex! bahaya lho, bisa jadi Lolicon...(Sieghart: kau yang bikin aku jadi begini! *Soul Edge dalam Rage Mode*). hm...kalau saya pikir-pikir, kamu benar deh Chalice-san...saya juga belum dapat pajak jadian! *kena Tendang Theo & Shera* yah...intinya sih Terima Kasih telah Mengikuti, Membaca, Dan Mereview NMA! selamat membaca ya!

.

.

.

Perfect Maid Haruka: wah...Ru-san saja sampai gagal menginterogasi mereka, apalagi saya. brr...bisa-bisa saya di bawa ke Underworld. woah...saya kira Scene 'pencabutan bola mata' Cuma ada di Anime Naruto pas Episode Itachi vs Sasuke, ternyata di Anime lain ada juga ya? oh well, sepertinya tidak ada yang mau saya katakan lagi selain mengatakan...Terima kasih Karena Telah Mereview NMA, Ru-san! sekarang, selamat membaca dan menikmati NMA!

.

.

.

Note: Cerita yang ini adalah pergabungan antara NC dan Relay Dungeon (kalau yang pernah ikutan Event Dungeon-Relay Dungeon pasti tahu), jadi jangan bingung kalau banyak Villain Boss disini dan juga OC milik author lain akan saya masukkan disini, tapi belum semuanya. bagi author yang merasa OC-nya saya masukkan di cerita ini, don't hesitate to PM me if There Are some mistake with OC Appearance, attitude, or skill. bagi Author lain yang OC-nya belum saya masukin, mohon ditunggu karena saya akan mencari scene yang pas dimana OC anda semua bisa masuk, ok?

.

.

.

-Chapter 18: Welcome To Your Worst Nightmare-

Elia

Kaze'Aze Castle

05.00 A.M.

Normal POV

"akhirnya sampai juga..." gumam Pyro Gunner anggota D5, Wulfric saat mencapai Kastil Kaze'Aze – Kaze'Aze Castle saat matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. toh...walaupun matahari bersinar dengan terangnya, daratan Elia akan tetap sekelam dan sesuram biasanya.

Wulfric dengan segera berjalan masuk ke singgasana kastil tersebut dan menemukan anggota D5 dan Kaze'Aze. Wulfric langsung berlutut dengan sebelah kakinya di hadapan sang ratu kegelapan.

"Wulfric...bagaimana dengan rencanamu? apakah berhasil?" tanya sang ratu kegelapan.

"tentu saja yang mulia, meski hanya mendapatkan setengahnya, saya masih bisa menggunakannya untuk meningkatkan kekuatan senjata biologis milik kita..." jawab Wulfric.

"lalu, masih ada satu lagi. Dain the Darkness sepertinya akan kembali lagi, kita harus segera menjalankan sebuah siasat agar Grand Chase tidak akan mendapatkan kekuatan tempur yang lebih kuat lagi..." sambung Wulfric.

"hm...sepertinya aku harus meminta...tidak...menggunakan Ring Master untuk 'menjinakkan' Dain dan menjalankan Proyek Relay Dungeon di Serdin..." ucap Kaze'Aze dengan senyum sadis yang terpampang di wajahnya.

"eh? Ring Master? apakah akan ada sirkus, Nona Kaze'Aze? boleh aku lihat? boleh ya?" celetuk seorang anak laki-laki dengan tinggi semampai (Se-meter tak sampai) dengan semangatnya.

anak ini memiliki mata berwarna coklat dengan rambut hitam, memakai sebuah baju kaos berwarna putih dengan lengan yang sengaja dinaikkan, memakai rompi berwarna coklat, memakai celana pendek yang memiliki banyak aksesoris seperti ikat pinggang, dan juga menggendong sebuah boneka kayu berukuran besar yang ditutupi kain berwarna putih dipunggungnya.

PLETAK!

"bodoh! kalau bicara dengan Nona Kaze'aze cobalah sopan sedikit!" ujar seorang pemuda berambut Silver, Sound menggetok kepala anak itu.

PLETAK!

"kau juga sama, Sound..." ucap Nature Menggetok Kepala Sound.

"aduuuh...sakit..." ucap mereka berdua (Sound dan anak itu) sambil memegangi kepala mereka yang benjol.

"oh? sepertinya kau cocok untuk tugas ini, Peter...apa kau mau menghadiri sirkus ini?" tanya Kaze'Aze. langsung saja, sebuah senyum memekar di bibir anak bernama Peter itu.

"benarkah? aku boleh melihatnya?" ucap anak itu dengan antusias.

"tentu saja...namun kau tetap mendapatkan tugas..." ucap Kaze'Aze sambil tersenyum (bayangin coba kalau Kaze'Aze tersenyum XD).

"yey~asik! nonton sirkus~!' ucap Peter sambil melompat kegirangan.

"tapi sebelumnya..." ucap Kaze'Aze menggantung. Kaze'Aze menjentikkan kedua jarinya dan memunculkan sebuah amplop yang datang entah darimana.

"...kirimkan ini ke Serdin..." sambung Kaze'Aze.

X – X – X – X – X

Serdin

1 week after Theo's Searching

06.00 A.M.

Normal POV

Seminggu setelah pencarian Theo, akhirnya kini si Pyro Gunner telah pulih, walaupun masih terbalut perban di beberapa bagian, terutama dibagian mata kiri. sekarang yang bisa Theo lakukan adalah duduk menyandar di tempat tidurnya bersama dengan Cerberus yang masih seukuran anak anjing.

tapi, Theo masih bertanya-tanya; sehebat apapun para Chaser yang memiliki Skill Heal, tidak mungkin membuatnya pulih dengan cepat. pasalnya lukanya yang seharusnya memakan waktu sebulan untuk memulihkannya sembuh dengan waktu yang terhitung singkat, mungkin karena potion khusus buatan Reina (yang tanpa di ketahui oleh Theo diminumkan oleh Shera XD).

Theo membuang pikiran itu jauh-jauh dan menggantikannya dengan sebuah masalah yang dipikirkannya dari kemarin. yang ia permasalahkan saat ini adalah, apakah ia masih dapat menggunakan Api Hitam-nya? iseng, Theo menutup matanya, mencoba untuk menggunakan Dragon Eyes dan bersinkronisasi dengan api hitam-nya sebelum sebuah suara menghentikannya.

"aku sarankan kau tidak menggunakan Api Hitam-mu saat data-nya hilang setengah..." ucap Drane.D. lainnya, Reina. ia berjalan mendekati Theo dan meletakkan sebotol Potion yang sama dengan yang diminumkan kepada Theo 7 hari yang lalu.

"memangnya kenapa kalau aku menggunakannya sekarang?" tanya Theo memasang wajah bingung. Reina menarik kursi yang tidak jauh dari tempat tidur Theo dan menariknya agar ia dapat duduk disamping ranjang Theo.

"begini...sebenarnya api hitam itu adalah energi liar yang tidak dapat dikendalikan oleh siapapun kecuali klan Drane.D., namun meski begitu, kalau kemampuan seorang Klan Drane.D. itu kurang, api hitam itu tetap saja seperti pedang bermata dua; ia akan membakar tubuh penggunanya kalau tidak dapat dikendalikan. dalam kasus-mu, kalau data mu menghilang, kemungkinan kau dapat mengendalikan api hitam itu adalah 50% banding 50%, jadi itu antara kau yang bisa mengendalikannya atau kau yang lepas kendali saat mengaktifkannya" jelas Reina, sambil melepas kacamata-nya dan mengelap lensanya, Theo hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Reina.

"kalau begitu, bisa jelaskan kenapa Cerberus jadi seperti ini?" tanya Theo sambil mengangkat Cerberus dengan memegang kedua kaki depannya.

"kalau kekurangan energi atau terkena Damage yang terlalu besar, semua War-Wolf pasti akan seperti ini" jawab Shera. Theo manggut-manggut lagi sambil mengangkat Little Cerberus setinggi matanya.

seperti bisa membaca pikiran Theo, Reina langsung menyambung perkataannya.

"tenang saja, Cerberus akan kembali ke bentuk semulanya kalau kau menyalurkan sedikit energi api mu ke Cerberus...Tapi Saat Kau Sudah Pulih!" ujar Reina saat melihat Theo bersiap-siap menyalurkan energi apinya ke Cerberus.

"Ngomong-Ngomong, bagaimana kalau kita keluar dan bertemu Chaser lain? meski kau masih belum pulih sepenuhnya, tapi kalau tidak menggerakan sedikit tubuhmu sama saja bohong. lagipula, mereka semua sedang menunggumu..." ucap Reina sembari bangkit berdiri.

"baiklah..." jawab Theo simpel kemudian turun dari ranjangnya.

X – X – X – X – X

Meanwhile,

Dain's Room

06.15 A.M.

Normal POV

"cih...terlau banyak energi gelap yang merembes keluar...apa perlu kubawa ExeLyon ke nenek di Reinforcement itu ya?" gumam Dain sambil melihat wajahnya dicermin.

kedua Matanya Kini berwarna Biru Tua, rambutnya menjadi berwarna hitam seluruhnya, dan ditangan Kanannya, selain tato yang mengeluarkan hawa jahat, Dain juga merasakan kulit tangan kanannya mengeras dan jari-jarinya mulai menajam; seperti Rake Hand milik Dio. Dain memutuskan untuk memakai sebuah Fingerless Glove ditangan kanannya untuk menutupi tato tersebut.

'kira-kira berapa lama aku bisa menahan kekuatan ini?' batin Dain saat tangannya telah tertutup oleh Glove-nya.

Tok Tok Tok...suara ketukan dari luar pintu kamarnya membuat Dain tersadar dari lamunannya.

"Dain, sebentar lagi kami akan sarapan...ayo turun..." ujar suara Nerin dari luar pintu itu.

"ya, aku segera turun!" ujar Dain sambil berjalan kearah pintu untuk menemukan Nerin yang terlihat menunggu Dain saat membuka pintu tadi.

"...Exe masih mengeluarkan energinya?" tanya Nerin saat melihat warna rambut dan Mata Dain yang berubah.

"ya, dan pagi ini makin banyak yang merembes keluar. jangan beritahu yang lain, ok?" ucap Dain pada Nerin. Nerin hanya mengangguk sebagai respon atas permintaan Dain.

"jadi...bagaimana kalu kita turun sekarang? kau pasti tidak mau kan makanan bagianmu diambil oleh Elesis?" ucap Nerin sambil tersenyum. Dain hanya tertawa kecil.

"baiklah, ayo..." ucap Dain sambil berlalu turun ke ruang makan bersama Nerin.

X – X – X – X – X

Dining Hall

06.16 A.M.

Normal POV

"akhirnya! kau tahu berapa lama kami menunggu kalian untuk memulai sarapan?" ujar Elesis saat melihat Theo, Dain, Nerin, dan Reina tiba di ruang makan.

"iya, iya, maaf deh..." ujar Dain sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

"hwaa~ ada anak anjing!" ujar Amy saat melihat Cerberus yang sedang tengkurap diatas kepala Theo. Cerberus yang kaget berniat untuk menggeram kearah Amy, namun bukannya geraman yang keluar, tetapi suara khas anak anjing yang menurut Amy menambah kelucuan Cerberus.

"kawaiiii~" langsung saja Amy mengangkat Cerberus dari kepala Theo dan memeluknya dengan erat.

"apakah ini mahluk bernama War-Wolf itu? kecil sekali..." komentar Dio yang melihat Cerberus yang kehabisan napas di dalam pelukan Amy.

"yah...begitulah" jawab Theo santai.

mereka semua menempati tempat duduk yang belum mempunyai 'pemilik' alias belum di duduki. belum lama mereka duduk, Arme dan Lire datang dari dapur sambil membawa beberapa menu untuk sarapan mereka kali ini (juga langsung mendekati Amy yang sedang memeluk Cerberus/ Author: kasihannya dirimu, Cerberus.../ Cerberus: *menggigit Author*). seperti pagi-pagi yang lain, pagi ini duo Sieghart lagi-lagi berkelahi memperebutkan makanan.

sementara para chaser sedang sibuk memakan sarapan mereka (dan dua anggota keluarga Sieghart yang sibuk bertengkar XD), Theo yang duduk di dekat Shera menyadari wajah Shera yang memerah saat ia duduk disebelahnya.

"ng? Shera, kenapa wajahmu memerah? sakit ya?" tanya Theo dengan nada khawatir.

"uh..ah...t – tidak kok...aku baik-baik saja" ucap Shera.

"tapi wajahmu merah begitu, lalu suaramu juga bergetar. kau yakin kau tidak apa-apa?" ucap Theo sambil menyentuh kening Shera dengan telapak dan punggung tangannya bergantian. Amy yang kebetulan duduk di seberang meja Theo menyadari hal ini dan menarik perhatian Theo.

"hey~hey~, mau tahu tidak kenapa dia begitu?" tanya Amy. mereka berdua (Theo dan Shera) langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Amy.

"memangnya ada apa?" tanya Theo sambil mengambil segelas jus miliknya dan meneguk sedikit jus tersebut sementara Shera hanya terlihat panik.

"ini nih~" ucap amy sambil menunjukkan selembar foto Shera yang...You Know What I Mean. saat itu juga, Theo langsung tersedak karena melihat foto tersebut saat ia sedang meminum jus miliknya.

"Ah! i – itu idenya Reina! d – dia yang menyuruhku untuk memberikan Potion itu padamu dengan cara itu!" ucap Shera berusaha menjelaskan sambil menepuk-nepuk punggung Theo yang masih terbatuk-batuk.

"lho, kalau tidak setuju dengan ide ku, kenapa kau tetap melakukannya? itu artinya kau juga menginginkannya bukan?" ucap Reina santai yang kemudian menerima sebuah Death Glare dari Shera. Chaser yang melihat ini hanya bisa tertawa kecil (kecuali Mari, Dio, dan Zero tentunya).

tak lama, pet milik Shera, Mary Jane (yang masih memegang mesin penyedot debu) berjalan masuk keruang makan.

"permisi...tadi ada yang mengantarkan surat..." ucap Mary Jane dengan sopan. karena dia tahu kalau Elesis adalah pemimpin Grand Chase, ia langsung menyerahkan surat itu pada Savior berambut merah itu.

"NC? apa itu?" gumam Elesis sembari membuka segel surat itu dan mengeluarkan Tiket berwarna emas sebanyak jumlah Chaser saat ini dikurangi Reina.

"oh! tiket sirkus!" ucap Lire saat melihat tiket-tiket Premiere sebuah sirkus.

"wah! dan tiket ini juga khusus VIP!" Ujar Ley yang mendekati Elesis untuk melihat tiket itu lebih jelas.

"siapa yang mengirimkannya?" tanya Jin sambil mengambil amplop yang awalnya berisi tiket-tiket tadi. Jin membolak-balikkan amplop itu dan tidak menemukan apapun yang bisa menjadi petunjuk siapa pengirimnya. barulah saat Jin merogoh bagian dalam amplop tersebut, ia mendapati sebuah kertas bertuliskan:

'mohon diterima, From: Anonymous'

"memberikan tiket Premiere secara Cuma-Cuma? wow...siapapun orang yang mengirim ini pasti sangat bodoh karena menyia-nyiakan tiket ini..." komentar Ryan yang membaca surat misterius itu.

"yeah...atau para Fan Girl yang nge-fans pada ku..." ucap Sieghart dengan narsis tingkat dewa. Chaser yang mendengar ini (atau yang terlalu peduli untuk merespon) langsung memandang Sieghart dengan tatapan Jadi-Gua-Harus-Bilang-Wow-Gitu?

"tapi...kalian merasa aneh tidak? nama sirkusnya aneh – Nightmare Circus..." ucap Ronan memungut selembar tiket dan membaca keterangan yang tertulis disitu. saat kalimat 'Nightmare Circus' disebutkan, Lass terlihat agak terkejut.

Arme yang menyadari ini langsung bertanya.

"ada apa, Lass?" tanya arme. Lass hanya menggeleng dan menjawab Arme dengan nada menenangkan.

"tidak ada apa-apa kok...hanya rasanya aku mengingat sesuatu yang terkait dengan nama itu..." ucap Lass.

Balik lagi ke chaser, mereka mulai mengerumuni Elesis seperti semut yang mengerumuni gula untuk melihat lebih jelas tiket 'misterius' dari pengirim 'misterius' tadi.

"lumayan juga...kenapa kita tidak memanfaatkan tiket ini untuk sedikit melakukan pelemasan? menurut data terakhir, selama beberapa minggu belakangan kita selalu mendapat tugas dari Knight Master..." komentar Mari sambil memegang tiket permiere itu.

"ide yang bagus! lagipula, paling tidak kita harus membawa Theo bersantai dulu selama masa pemulihannya!" ucap Arme dengan semangat 45.

"ah, tapi – " ucap Theo namun sudah keburu dipotong.

"baiklah~! ayo kita bawa Theo bersantai! kapan waktunya, Hot-Head?" tanya Amy.

"tapi aku – " ucap Theo lagi namun lagi-lagi dipotong.

"hm...disini tertulis jam 5 sore nanti..." jawab Ronan menggantikan Elesis (soalnya Elesis udah mulai perang dunia ke 3 dengan Amy).

"tapi – " ucap Theo lagi, dan lagi-lagi dipotong.

"baiklah! sudah diputuskan! kita akan pergi sore ini! tiket Premiere jarang didapat lho!' ujar Ley dengan semangat.

Theo sebenarnya mau berbicara lagi, namun karena berpikir kata-katanya bakal dipotong lagi, jadi diurungkannyalah niatnya itu. sementara itu, Reina yang memperhatikan Theo melalui lensa kacamatanya terlihat berpikir.

'bukannya Theo itu memiliki sifat yang sama dengan Kirra?...jangan-jangan yang dia ingin katakan tadi itu...' batin Reina dengan sebuah senyum usil terpampang diwajahnya. Reina mendekat ke Theo kemudian membisikkan sesuatu.

"selamat menonton..." ucap Reina dengan nada agak mengejek. Theo yang mendengarnya merasa bulu kuduknya berdiri.

X – X – X – X – X

Later,

16.45 P.M.

Serdin Central Park

Normal POV

di taman sentral kerajaan Serdin terlihat kelap-kelip lampu hias yang menyusuri tiap sudut taman itu. tempat ini sudah terlihat seperti tempat Festival karena dimana-mana terlihat stand-stand minuman, makanan ringan, dan juga Game khas Festival.

Seperti kebanyakan Festival, Taman Serdin dipenuhi oleh lautan manusia yang berbondong-bondong mendatangi Taman Sentral Serdin. namun, stand-stand tadi bukanlah hal yang menarik perhatian orang-orang ini, melainkan pertunjukkan sirkus yang akan di gelar disebuah tenda yang ada di tengah-tengah Taman.

diantara kerumunan orang itu, terlihatlah para jagoan kita dalam cerita ini...Kamen Raider Tokusatsu! *plak!* eh...maksud saya, Para Chaser!

"waw~ ramai juga~" ujar Amy dengan mata berbinar sambil melihat sekeliling.

"...Terlalu Banyak Orang..." gumam Mari yang aslinya tidak suka tempat ramai.

"masih 15 menit sebelum pertunjukkan dimulai, bagaimana kalau kita semua jalan-jalan dulu?" ucap Lire menyarankan para chaser.

"Ide yang bagus! ayo, Lass~!" ujar Arme sambil menarik lengan Lass pergi kearah sebuah Stand Lemapr Pisau.

"uu~ Arme Curang! tunggu!" ucap Amy sambil mengejar Arme + menarik kerah baju Jin hingga membuat anggota Silver Knights itu mengap-mengap kehabisan udara.

"yah...paling aku hanya berkeliling saja...mau ikut Mari?" tawar Sieghart pada Mari. karena berpikir bahwa saat ini dia tidak mengetahui harus mengerjakan apalagi, Mari memutuskan untuk mengikuti Sieghart.

"Lire, Lire! ayo kita pergi juga!" ucap Ryan kegirangan seperti anak kecil. maklum, Festival besar-besaran seperti ini mana ada di Elven Forest. Lire hanya tertawa kecil melihat tingkah Ryan dan berjalan mengikutinya.

"ayo..." gumam Elesis sambil menarik kasar tangan Ronan. baru mau diprotes, Ronan menyadari wajah Elesis yang agak memerah. melihat ini, Ronan hanya bisa tertawa di dalam hati.

"cih...aku tidak menyukai perayaan dunia manusia...ayo Alfred, Sebastian, kita pulang..." ucap Dio sambil membalikkan badannya untuk kembali ke Mansion (tipe yang sama seperti Mari, tidak suka tempat yang terlalu ramai). belum sempat melangkahkan kakinya, Rambut Dio yang cukup panjang itu ditarik oleh Ley yang membuat Dio menggeram.

"apa mau mu?" ucap Dio dengan nada kasar.

"eits...aku hanya mau kau ikut denganku menonton sirkus itu. masa yang lain punya pasangan tapi aku enggak?" ucap Ley dengan wajah sok imut *author kena hajar Ley & Butler-nya*.

"huh...aku tetap tidak peduli..." respon Dio.

"oh begitu? ya sudah, tapi jangan salahkan aku kalau nanti malam kau menemukan kamarmu di bumihanguskan Mary" ucap Ley dengan wajah dan nada yang mengancam. Dio menelan ludahnya sambil mengingat anjing milik Ley itu, mungkin trauma masa kecil karena Ley memang selalu melepaskan anjingnya untuk mengejar Dio. mau tak mau, sang Leviathan akhirnya menyetujui ajakkan Si Darkbringer.

"hey Nerin..." ucap Dain.

"apa?" tanya Nerin.

"...ayo kita ikuti mereka..." ucap Dain sambil menarik tangan Nerin untuk mengikuti chaser lain berkeliling Taman tersebut.

"...maukah kau – " "ayo kita pergi~!" ucapan Theo diinterupsi Shera yang sudah lebih dulu menarik Theo memasuki kerumunan Festival tersebut.

"...hey, Gran...apakah menurutmu aku harus mengikuti mereka?" tanya Zero pada pedang bermata miliknya itu.

"terserah deh...kau ikut atau tidak aku tidak peduli..." jawab pedang itu.

Zero terlihat menimbang-nimbang apa pilihannya dan setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk pergi melihat-lihat.

X – X – X – X – X

Somewhere,

Near The Festival Avenue

Normal POV

"...manusia-manusia tidak berguna..." ucap seorang Demon dengan Rambut berwarna coklat dengan pakaian yang hampir seluruhnya berwarna merah marun diatas sebuah dahan pohon sambil memperhatikan rakyat Serdin.

"hey, Hey, kalau kau bilang begitu aku merasa tersinggung...aku ini setengah manusia, kau tahu?" ucap seorang laki-laki yang membawa sebuah Scythe berukuran besar yang bagian tajamnya tertutupi perban. ia memiliki mata yang berwarna putih dengan rambut yang juga berwarna putih, ia memakai jubah berwarna hitam dengan ornamen rantai di bagian bawah jubahnya, dan juga memakai kalung berbentuk gembok.

Demon itu hanya mengangkat kedua bahunya sambil menghela napas.

"terserah...yang penting aku sudah merasakan aura target kita...rasanya ada 2 energi disini...Blue Flame...dan Dark Matter..." gumam Demon itu. ia kemudian mengeluarkan dua pistol yang juga berwarna merah marun dengan ornamen permata berbentuk bulat berwarna keunguan di kedua sisinya, atau yang biasa dikenal dengan – Eyetooth.

"sepertinya buruan kali ini akan sangat besar nilainya..." ucap Demon tadi sambil menyeringai lalu kemudian menghilang bersama partnernya.

X – X – X – X – X

(Still) Somewhere,

Near The Festival Avenue (too)

Normal POV

sementara itu, di lain tempat, terlihat seorang laki-laki yang kelihatannya berumur sekitar 14 tahun yang membawa-bawa busur panah (lengkap dengan panahnya).

'hm...jadi ini Serdin? ramai juga, tidak seperti daerah dekat Elven Forest' batinnya saat melihat keramaian yang ada disitu.

kalian pikir dia berumur 14 tahun sifatnya juga agak dewasa? kalian salah...karena saat seorang penjaga Stand berteriak:

"AYO! COBA KEMAMPUAN PANAHMU UNTUK MENGENAI TAGET DAN DAPATKAN ACTION FIGURE EDISI TERBATAS!" anak ini langsung berlari kearah stand itu seperti anak kecil.

"waaa! Action Figure!" ujar anak itu dengan mata berbinar. er...sebenarnya anak ini jenius, tapi kok kekanak-kanakan gini?

X – X – X – X – X

Other Place

Normal POV

di lain tempat (lagi), terlihat 2 orang yang terlihat kebingungan ditengah-tengah kerumunan manusia yang ada disitu.

"huh...si Yuri dan Rye ke mana sih? udah bela-belain ke Serdin buat gabung ama Grand Chase, mereka malah menghilang..." ucap seorang gadis berpakaian dengan nuansa Gothic.

"sudahlah, aku yakin mereka juga tersesat seperti kita..." ucap seorang gadis lain dengan rambut berwarna Merah Strawberry yang di kuncir kesamping berjalan disebelahnya.

"huh...siapa bilang kita tersesat?" ucap gadis pertama dengan angkuh.

"terus, apa?"

"Cuma tidak tahu arah jalan..."

dan dengan itu, gadis kedua hanya ber-Facepalm-ria sambil menghela napas untuk memperingati (?) kebodohan temannya. yah...gak bodo-bodo amat sih, tapi lumayan keterlaluan.

X – X – X – X – X

Meanwhile,

Grand Chase Mansion Library

Normal POV

"lho? Reina, kenapa tidak ikut yang lainnya?" tanya Knight Master saat memasuki perpustakaan para Chaser dan menemukan Reina yang sedang sibuk membaca buku dengan Mary Jane dan Blue Fairy yang menemaninya (Cerberus juga, Theo sengaja meninggalkannya).

"hm...bilang saja aku ini tidak terlalu suka keramaian..." jawab Reina sambil tersenyum kearah Knight Master. KM hanya mengangguk tanda mengerti dan bersiap meninggalkan perpustakaan sebelum Reina menghentikan Knight Master.

"tapi sebenarnya aku khawatir, pasalnya aku merasa akan terjadi sesuatu malam ini kalau mereka pergi ke acara itu..." ucap Knight Master dengan nada khawatir.

"tenang saja Knight Master...mereka itu kan Grand Chase, mereka pasti bisa menghadapi apapun yang menghalangi mereka. lagipula, mereka semua membawa senjata kok..." ucap Reina yang membuat Knight Master bingung.

"perasaan mereka tidak membawa satupun senjata..." gumam Knight Master.

"kalau masalah itu, si Dain yang membawa senjata mereka di lubang dimensi..." jelas Reina. Knight Master hanya ber-'oh'-ria.

"tapi, seperti yang dikatakan KM, aku juga merasa malam ini akan terjadi sesuatu..." ucap Reina.

X – X – X – X – X

Back Again To The Chase

16.50 P.M.

Normal POV

"yey~sebentar lagi sirkusnya di mulai!" ujar Amy sambil melompat kegirangan. sekarang mereka semua sudah mengantri diantara warga Serdin lain yang juga berniat menonton sikus ini.

tiba-tiba, seseorang dengan kostum badut mendekati para chaser.

"wah~kalian ini kan – ..." belum sempat sang badut menyelesaikan perkataannya, 2 bogem mentah sudah menghampiri kedua pipinya. siapa yang melakukan hal itu?

"ah! Lass! Theo! apa yang kalian lakukan?" tanya Arme dengan berteriak, terkejut melihat kedua anggota chaser ini tiba-tiba memukul seorang badut.

"ah...maaf" respon Lass saat menyadari dirinya sudah menghajar badut itu. sedangkan Theo, ia terlihat gemetaran saat melihat badut itu.

"kenapa Theo?" tanya Shera yang menyadari Theo yang gemetaran.

"uh...tidak...tidak ada apa-apa...tanganku bergerak sendiri..." jawab Theo.

"huh...dendam apa sih sama aku? aku hanya menjalankan tugas, kalian tahu?" ucap badut itu dengan emosi sambil kembali berdiri.

"yah, seperti yang aku bilang tadi, kalian pasti Grand Chase yang menerima tiket VIP bukan? kalian tidak perlu antri disini, kalian masuk saja melalui pintu yang ada disana" ucap badut itu menunjuk sebuah pintu masuk dengan sebuah Banner bertuliskan VIP diatasnya.

"oh begitu...terima kasih atas bantuannya..." ucap Mari dengan nada datar. Chaser lain mengikuti. Setelah mereka sudah menjauh, badut tadi mengeluarkan semacam Walkie-Talkie.

"The Clown pada Ring Master...target sudah memakan umpan" ucap badut itu. Saat ia mengakhiri kontaknya, badut itu menghilang ke dalam bayangan.

X – X – X – X – X

"wah~ternyata penonton VIP punya jalan khusus ya~" ucap Amy sambil berputar kegirangan. Saking senangnya ia tidak menyadari bahwa ada seorang anak kecil yang menggendong boneka dipunggungnya berlari kearah mereka.

"aduh!" BRUK! Bocah itu terjatuh karena menabrak Amy yang sedang berotasi(?).

"ah! Maaf! Kau tidak apa-apa?" ujar Amy dengan panik sambil membantu anak itu berdiri.

"ah iya...aku tidak apa-apa" jawab anak itu sambil tersenyum. Pandangan anak itu kemudian jatuh kearah Shera dan langsung saja wajah anak itu berubah menjadi terkejut.

"Shera-nee?"

"Peter?"

Setelah memanggil namanya, bocah yang dipanggil Peter itu segera berlari meninggalkan para Chaser yang kebingungan.

"ok...itu benar-benar membuatku penasaran..." ujar Ryan.

X – X – X – X – X

Peter POV

Ternyata nona Kaze'Aze benar...kakak bergabung dengan Grand Chase...tidak bisa ku maafkan!

X – X – X – X – X

Para Chaser saat ini sudah menduduki tempat VIP yang ditunjukkan seseorang berkostum badut (dan hampir ditinju oleh Lass dan Theo lagi...). sesaat mereka masuk, musik khas sirkus (atau Background Music-nya Nightmare Circus, silahkan dengar sendiri :D) mengalun di tenda sirkus itu.

tak lama, lampu di tenda itu meredup dan satu-satunya tempat yang terkena sinar lampu sorot adalah tepat dimana seseorang dengan topi yang tinggi dan berambut Silver sedang berdiri.

"Ladies and Gentlemen, Welcome, Welcome All To The Nightmare Circus!" ujar orang itu di tengah lapangan pertunjukkan. sudah jelas dia adalah pemimpin sirkus ini, sang Ring Master.

dengan segera, riuh sorak sorai penonton yang ada disitu menggelora mendengar kata-kata pembuka Ring Master itu.

"dan sekarang, sebagai pembukanya, seharusnya para asistenku sudah ada disini...tapi mereka kemana ya?" ucap sang Ring Master dengan nada bertanya.

"hee~? asistennya tidak ada? lalu bagaimana dengan sirkusnya?" ucap Amy dengan nada kecewa.

tak lama setelah mengatakan itu, sebuah bola berwarna hitam dengan sumbu menyala jatuh di dekat Ring Master.

"oh! ini bom! tidak! tidak!" ucap Ring Master itu menggenggam bom tadi sambil berlari memutari lapangan itu. hal ini membuat para penonton menertawakan kelakuan konyol Ring Master.

"ah! sumbunya sudah pendek!" ucap Ring Master sambil menjulurkan kedua tangannya yang masih memegang bom tadi dan menutup matanya. namun, bukannya meledak, saat sumbunya sudah habis, bom itu malah terbagi menjadi dua dan mengeluarkan bendera berwarna putih bertuliskan 'BANG!'.

"huff...rupanya tidak mele – uwakh!" ucapan Ring Master itu saat 'Bom' tadi mulai mengeluarkan asap yang sangat tebal. para penonton terlihat kebingungan, dan saat layar asap tadi menghilang tampaklah beberapa orang selain Ring Master tadi berdiri di tengah lapangan.

"ah...ini dia para asistenku...kalau begini, kita mulai pertunjukkannya!" ujar Ring Master itu membuat para penonton bersorak sorai, tak terkecuali Grand Chase.

pertunjukkan pun dimulai. dari seorang Hammer Man, para Juggler yang dengan lihai men-Juggling Beberapa bola, sampai seorang wanita penjinak hewan buas yang mempertunjukkan kebolehannya beraksi menjinakkan Singa-Singa yang ada disitu.

penonton yang ada disitu benar-benar terpaku pada pertunjukkan yang ada di depan mata mereka, hingga mereka tidak menyadari seringai sadis Ring Master.

X – X – X – X – X

Meanwhile,

Outside the Tent

Normal POV

"ARGH! dari awal sampai sekarang, si Rye dan Yuri kemana sih!" teriak seorang gadis dengan nada frustasi. disebelahnya, seorang gadis lain sedang berusaha menenangkannya.

"su – sudahlah, Yuna! mereka pasti memiliki alasan yang kuat kenapa mereka tidak terlihat saat ini!" ucap temannya menenangkan.

"grr! kuharap itu benar! kalau alasan mereka konyol, akan ku remas mereka berdua!" (serius loe? *kena hajar Yuna*).

karena berjalan sambil marah-marah, Yuna dan Heart tidak menyadari seorang remaja laki-laki berumur sekitar 14 tahun yang membawa-bawa Bow sedang berjalan kearah mereka.

"akhirnya Action Figure-nya dapat juga!" ujar anak itu sambil mengangkat Action Figure hadiah dari sebuah stand permainan yang ia menangkan. ia sangat terpaku pada benda itu sehingga ia juga tidak menyadari ada 2 orang gadis yang tengah berjalan di depannya.

dan...GABRUK! tabrakan tak terelakan lagi dan membuat ketiga orang itu terjatuh.

"Ittai..." ucap laki-laki yang membawa Bow tadi.

"hei! matamu kemana sih!?" ujar Yuna dengan emosi saat ia berdiri.

"Yu – Yuna! itu tidak sopan! kita yang salah karena tidak memperhatikan jalan..." ucap Heart mengingatkan Yuna. Yuna hanya memasang muka cemberut kemudian memalingkannya kearah lain sambil melipat kedua tangannya.

"maafkan Yuna, dia agak Bad Temper sekarang. kau tidak apa-apa?" ucap Heart sambil memberikan tangan kanannya untuk membantu anak tadi berdiri.

"ah...tidak apa-apa, lagipula aku juga salah, jalan tanpa melihat..." balas anak laki-laki itu saat ia sudah berdiri.

"ngomong-ngomong, namaku Cruz Montecalm, tapi kalian bisa memanggilku Cruz" ucap anak laki-laki itu memperkenalkan dirinya.

"oh, namaku Heart Hareta, panggil saja Heart. dan dia Yuna Kurogane" ucap Heart sambil memperkenalkan Yuna pada Cruz.

"Kuro(hitam)gane? pantas saja pakaiannya di dominasi warna hitam..." komentar Cruz.

"apa? punya masalah dengan itu?" tanya Yuna dengan nada dingin.

"tidak...memangnya kau punya masalah kalau aku bertanya begitu?" ucap Cruz bertanya balik.

"grr! kau tahu, aku ini lebih tua darimu? untung saat ini Death Scythe ku ketinggalan di hotel dan disini tidak ada mayat atau sejenisnya, kalau tidak, sudah kuhajar kau!" ucap Yuna dengan emosi.

"Yuna! sudahlah!" ucap Heart berusaha menenangkan Yuna.

"sudahlah...aku mau pergi dulu. senang bertemu denganmu, Heart, Kurogane..." ucap Cruz sambil membungkuk untuk pergi. kemudian, seperti teringat sesuatu, ia mulai merayapi tiap saku celananya.

"ng? ada apa? apa ada barangmu yang hilang?" tanya Heart saat melihat Cruz seperti sednag mencari sesuatu. dengan gerakan yang seakakn di-Slow Motion dan musik yang dramatis, Cruz menolehkan wajahnya kearah Yuna dan Heart.

"...Action Figure-ku hilang!" ujar Cruz dengan mata yang mengeluarkan sedikit Fake Tears Anime Style.

"che...Cuma Action Figure...masih mendingan kehilangan GP atau Gem" komentar Yuna.

"tapi itu Limitied Edition!" balas Cruz sambil mulai menelusuri tanah tempat ia berpijak tadi.

"apakah ini benda yang kau cari?" tanya sebuah suara di dekat mereka. spontan, ketiga orang tadi langsung menghadap ke sumber suara dan melihat...

"AH! ada pencuri topeng Hollow Ichigo!" teriak Yuna saat melihat Lich yang ada disitu.

"enak saja! nyuri darimana! ini asli punya ku yang dikasih sama KOG Studio, bukan sama pembuat Anime/Manga Bleach!" ujar Lich.

"Ah! itu Action Figure ku!" ucap Cruz sambil menunjuk benda yang dipegang Lich.

"kau ingin benda ini? kalau begitu...tangkap!" ucap Lich sambil melemparkan Action Figure itu keatas, namun sebelum menyentuh tanah, Action Figure itu sudah terlebih dahulu terpotong menjadi beberapa bagian kecil.

"A...Action...Figure...ku..." ucap Crus meratapi Action Figure-nya yang rusak.

"ohoho...cepat sekali kau, Gaikoz...aku bahkan tidak melihat kau memotong benda itu..." ucap Lich memuji seorang Hantu Samurai yang berdiri di depannya.

"...dalam peperangan, kita harus cepat memutuskan sesuatu dan cepat dalam bergerak...seperti yang dikatakan Sun Tzu...Cepat seperti angin..." gumam Gaikoz.

"apa ini? kenapa Boss dari 2 dungeon ada di sini?" ujar Heart.

"grr! aku tidak peduli! Gaikoz, kau akan menerima ganjaran karena telah merusak Action Figure-ku! Nature Rage!" ujar Cruz dan mengaktifkan energi alamnya. secara teknis, Nature Rage miliknya tampak similiar dengan Rage Mode Sieghart.

"tak akan kubiarkan!" ujar Lich memanggil beberapa pasukan Zombie Orc.

"dia bisa memanggil Zombie? tunggu...itu artinya sekarang ditanah ini ada mayat? kesempatan!" ucap Yuna dengan senyum licik.

"Summon Zombie!" ujar Yuna dan juga memanggil beberapa pasukan Zombie.

"...Bergerak Seperti Halilintar..." gumam Gaikoz dan mulai melakukan teleport untuk membingungkan Cruz. namun Cruz tidak tinggal diam.

"Up Root!" ujar Cruz yang memanggil keluar beberapa akar dari bawah tanah dan berusaha menangkap Gaikoz yang melakukan teleport kesana kemari.

X – X – X – X – X

Meanwhile,

Other Place

Normal POV

"Nona Reina, kami tahu kau ingin melihat keadaan, tapi kenapa membawa kami?" tanya Mary Jane yang mengikuti Reina dari belakang.

"aku yakin Chaser lain akan sangat terbantu jika kalian semua ikut..." jawab Reina santai.

"lagipula, sepertinya aku butuh bantun kalian sekarang..." sambung Reina menyadari kalau ia belakang mereka, terlihat beberapa sosok yang mulai menunjukkan wujud mereka. terlihatlah sosok Troll, Orc Warrior, Treant, dan Wendy.

"hanya cecunguk?...Very Easy..." gumam Reina sambil menyiapkan DS-Maverick miliknya.

X – X – X – X – X

Back to Nightmare Circus

Normal POV

"Now, the last but not least, pertunjukkan langsung yang akan di lakukan oleh aku sendiri, Ring Master!" ucap seorang MC (emang di NC ada MC?) dipenghujung acara, setidaknya itulah yang dipikirkan penduduk Serdin dan Chaser.

"baiklah, karena pertunjukkan kami akan selesai, saya sebagai Ring Master akan memberitahu maksud kedatangan Rombongan Nightmare Circus kemari..." ucap Ring Master. semua yang hadir disitu memasang telinga mereka baik-baik. kenapa? karena takut jatuh atau kecolongan orang disebelahnya (*plak*).

(Back To Serious Mode)

"dulu, kami memiliki seorang Sharpshooter yang sangat handal. kami mengurusnya sejak kecil hingga ia remaja, namun ia memutuskan untuk keluar dari Nightmare Circus dan menghancurkan sirkus ini..." ujar Ring Master. para penonton merasa iba, namun para chaser memiliki insting bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

BZIT! sebuah kilasan ingatan tiba-tiba terbesit di kepala Lass. ia mengingat sirkus itu, ia mengingat bagaimana mereka memperlakukannya dulu, dan ia ingat apa yang terjadi saat ia sudah keluar dari sirkus itu.

"bersiap untuk mengevakuasi penonton..." bisik Lass pada Arme yang ada disebelahnya. Mage itu mengangguk dan mengembalikan pandangannya kearah Ring Master.

"...dan maksud kedatangan kami adalah untuk...merebut kembali anak itu dari kalian, Grand Chase!" ucap Ring Master yang tiba-tiba berteriak dan menunjuk Grand Chase.

tak lama setelah Ring Master berteriak, para Juggler, si Hammerman, dan juga penjinak binatang dan beberapa singa langsung muncul di dekat para penonton. para penonton mulai panik dan berteriak ketakutan.

"hey, pernahkah terpikir dibenak kalian kalau kita akan mempunyai hari-hari yang damai tanpa serangan musuh?" ucap Ryan dengan nada frustasi.

"tidak dalam kehidupan kita yang ini, Ry..." jawab Jin.

"kalau begitu, ayo kita mulai serang mereka. Dain!" ujar Sieghart pada Dain.

"aku tahu!" jawab Dain yang memanggil ExeLyon. Dain menebaskan pedangnya dan menciptakan sebuah lubang dimensi yang sangat besar dan didalam lubang dimensi itu tampak senjata para Chaser.

"bagus! Now, Shall We Start?" ucap Ryan yang telah mendapatkan Strom Pike-nya.

"Juggler! Hammerman! serang mereka!" perintah Ring Master.

X – X – X – X – X

Back to The Outside

Normal POV

"Up Root!" ujar Cruz yang maasih berusaha menangkap Gaikoz yang menghindari akar-akar miliknya. namun usahanya membuahkan hasil, salah satu akarnya berhasil membelit kedua kaki dan tangan Gaikoz saat masih di udara.

"Gotcha! Hunter Trap!" ujar Cruz memanggil sebuah perangkap yang biasanya dipakai pemburu untuk memerangkap buruannya. saat itu, Cruz membuat akar-akar tadi untuk menarik Gaikoz menuju perangkap itu. berhasil? belum, karena sebelum Gaikoz memasuki perangkap itu, ia terlebih dahulu menggunakan skill-nya.

"...Saat Menyerang...Dahsyat Seperti Api..." gumam Gaikoz dan menebaskan pedangnya dalam alur Horizontal dan Vertikal dengan sangat cepat dan membuat akjar-akar tadi terpotong.

'cih! dia bebas! pikir Cruz, pikir! pasti ada satu atau dua cara untuk mengalahkannya!' batin Cruz.

"sekarang giliranku..." gumam Gaikoz dan memanggil beberapa Kerangka Samurai yang membawa Katana dan Senapan.

'gawat! bagaimana ini!?' pikir Cruz dan disaat-saat kritis itu, ia masih sempat melihat kearah Yuna.

sementara itu, Yuna yang melawan Lich tampak kewalahan karena ia benar-benar kalah jumlah.

"waa! kenapa saat Death Scythe ku gak dibawa selalu terjadi hal semacam ini!?" ujar Yuna yang terus menerus memanggil Zombie untuk melawan Zombie milik Lich.

tanpa Yuna ketahui, salah satu Stone Orc Zombie melemparkan palu Zaman prasejarahnya kearah Yuna dan saat palu itu hampir mengenai Yuna...

"Barrier!" ujar Heart membentuk sebuah pelindung di sekeliling Yuna dan membuatnya luput dari serangan palu Orc tadi.

"Thank's, Heart! ugh! tidak ada pilihan lain! Skeleton Trap!" ujar Yuna dan membuat sebuah perangkap yang terbuat dari tengkorak dibawah tiap Zombie yang ada di dalam jangkauan Skill Yuna.

Zombie-Zombie itu terlihat seperti orang yang energinya terhisap. setelah beberapa saat, Zombie-Zombie itu mati dan menjadi abu karena kehabisan tenaga.

"apa yang terjadi? kau menghisap energi Zombie-ku?" tanya Lich saat Zombie-nya yang mati perlahan.

DEG! ini menarik perhatian Cruz dan sebuah ide langsung terbentuk di benaknya.

"oi! Hitam!"

"namaku Yuna!"

"terserah! sekarang aku butuh bantuanmu! cepat kemari!" perintah Cruz. Yuna langsung berlari kearah Cruz dan berdiri dengan saling memunggungi. Cruz terlihat membisikkan sesuatu kepada Yuna.

"...kau yakin ini akan berhasil?' tanya Yuna meyakinkan.

"...yah...mungkin?" ucap Cruz agak tidak yakin.

"grr...baiklah! kita jalankan rencanamu! tapi kalau gagal..." ucap Yuna mengancam.

"baiklah! ayo mulai!" ujar Cruz dan memakai Nature Rage-nya yang tadisudah habis.

"oh? sepertinya mereka mau kerja sama? Gaikoz, kita juga!" perintah Lich yang hanya ditanggapi dengan anggukan Gaikoz.

"Hea! Head Hunt!" ujar Cruz dan menembakkan anak panahnya dnegan akurasi yang sangat tinggi dan menargetkannya kearah Gaikoz. sedangkan Gaikoz menghindarinya dengan mudah sehingga anak panah milik Cruz hanya mengenai para Skeleton pasukan Gaikoz dan membuat tulang-tulang bergerak itu hancur berserakan.

Gaikoz dan Lich berlari kearah mereka berdua, meninggalkan tumpukkan tulang-tulang pasukan Gaikoz. Gaikoz menyiapkan Katana-nya dan Lich bersiap menembakkan sengatan Listrik dari tongkatnya. Cruz langsung menjalankan siasatnya.

"sekarang, Yuna!" ujar Cruz.

"Skeleton Trap!"

"Hunter Trap!"

ujar mereka berdua bersamaan dan membuat jebakan darat versi mereka sendiri. namun, yang terlihat hanya Hunter Trap milik Cruz. Gaikoz dan Lich berhenti ditempat mereka berdiri.

"Kelihatanya berbahaya...hati-hati, Gaikoz!" ujar Lich mengingatkan Gaikoz saat mereka dikelilingi jebakan Cruz.

'meski begitu, dimana jebakan milik gadis itu?' pikir Lich sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari perangkap berbentuk tengkorak milik Yuna.

"Up Root!" ujar Cruz memanggil akar-akar tanaman yang bergerak mengejar Lich dan Gaikoz. tentu kedua Boss dari Forsaken Barrows dan Gaikoz Castle ini dengan mudah menghindarinya.

mereka menghindarinya dengan terus melompat mundur dan menghindari tiap jebakan yang dibuat Cruz.

tanpa mereka sadari, mereka kembali ketempat mereka berdiri semula; diatas tumpukan kerangka pasukan Gaikoz.

'daritadi, aku tidak menemukan perangkap gadis itu...' pikir Lich sambil memperhatikan pijakannya.

'tunggu...jangan-jangan!'

"heh...rencanamu berhasil, bocah..." gumam Yuna. sebelum Lich dan Gaikoz bertindak, lagi-lagi dari bawah tanah tempat mereka berpijak muncul akar-akar tanaman dan mengikat mereka berdua, khusus Gaikoz, Katana miliknya juga telah ditahan.

perlahan namun pasti, 2 perangkap berbentuk tengkorak muncul dari bawah pijakan Gaikoz dan Lich.

"begitu, jadi tembakan berakurasi tinggi tadi bukan diarahkan padaku, tapi untuk membuat kerangka pasukanku hancur dan kerangkanya dipergunakan untuk menutupi perangkap tengkorak ini...cerdas sekali..." komentar Gaikoz.

"ya...dan Hunter Trap yang kupanggil tadi pun sebenarnya tidak ada satupun yang berfungsi. itu hanya cara untuk membuatku dengan mudah mengarahkan kalian dengan membuat kalian berasumsi bahwa jebakan itu berfungsi..." sambung Cruz.

"sekarang...waktunya menyelesaikan ini..." ucap Cruz memerintahkan akar-akar tanaman tadi menarik Gaikoz dan Lich langsung menuju perangkap itu.

"Game Over..." gumam Cruz.

To Be Continued

TVP: wokeeh! sekarang saya pamit! maaf ceritanya saya potong, tapi saya janji bakal ngasih lanjutannya secepat mungkin!

Theo: dan Author kami minta maaf kalau OC author lain yang dimasukkan disini jadi OOC...biasalah, Author-nya sekarang lagi dalam Mode Otaku...

TVP: *baca manga setumpuk*

Theo: tahu kan maksudku?

Dain: karena itu, Minna...

Everyone: Read and Review!

Catatan: Sun Tzu adalah seorang ahli strategi perang yang membuat Stratgei Furinkazaninrai yang isinya; Cepat Seperti Angin, Tenang Seperti Hutan, Diam dan Bertahan Seperti Gunung, Dahsyat Seperti Api, Bergerak Seperti Halilintar, dan Tersembunyi Seperti Bayangan. (Sumber: Detective Conan Volume 59 File 8-10)

P.S. Hallow! Bicara Langsung dengan saya! baiklah, saya pertama-tama minta maaf karena update yang kelamaan dan juga OC yang diberikan kepada saya malah kelewatan OOC...Gomen, Minna! baiklah, akan saya uraikan dulu sifat-sifat para OC milik Author lain:

-Yuna Kurogane (Chalice07): Kekanakan, Gampang Marah, Agak Baka dikit. (Sifatnya yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi belum dimasukin disini).

-Heart Hareta (Chalice07): Sopan, Baik Hati (sifat Kekanakannya belum muncul...baru yang sopan ama baiknya. Maaf Chalice-san XD).

-Cruz Montecalm (BlitzHunter): Kekanak-kanakan, Jenius (liat Scene Yuna & Cruz VS Gaikoz dan Lich. mudah-mudahan Penggambaran Tentang Kejeniusan Cruz sudah pas disitu...).

-OC milik Daniel. : ? (belum di kasih tahu...hehe...).

mudah-mudahan penggambaran saya tentang OC anda sekalian sudah tepat...kalau tidak, tolong beritahu bagaimana yang benar, ok? ;)