[21th Songs: Rhythm of Rain by The Cascades] Hanya sebuah lagu yang syairnya menceritakan mereka, iramanya menemani mereka. Hanya sebuah lagu yang memberi kesan pada hati masing-masing. (Song-Ficlet/Drabble for HunHan April Passion)
Songs _ Playlist _ Oldiest _ The Cascades _ Rhythm of Rain- status: playing.
Twenthty Song: The Cascades – Rhythm of Rain
Oh Sehun EXO-K | Xi Luhan (Warn!GS)
(other warn! Sehun-centric)
Disclaimer: I don't own the cast, aku cuma pinjam nama mereka sebagai tokoh utama di cerita ini. Ide cerita, plot dan sebagainya selain cast adalah milikku atas pen-name Hwang0203
.
Rain please tell me now does that seem fair
For her to steal my heart away when she don't care
I can't love another woman when my hearts somewhere far away
.
.
Sehun mengadahkan kepalanya, menantang air hujan yang membuat tanah lembap. Memasuki musim semi, kota Seoul sering sekali dikunjungi awan kumulus hitam yang nantinya akan menyebabkan suara petir.
Tidak peduli nanti dia akan terkena demam dan flu, tidak peduli orang-orang menatpnya aneh. Sehun hanya perlu berjalan di bawah guyuran air hujan. Mencoba menyamarkan jejak tangis di pipi mulusnya.
Namun, dia berhenti di halte saat dilihatnya halte sepi pengunjung. Sehun mencoba menepi untuk berlindung di bawah atap halte.
Benar kata Sehyun hyung; Sehun masih terlalu amatir untuk hal sekedar cinta. Tapi namanya juga remaja; bagaimanapun Sehun adalah remaja enam belas tahun yang masih terlalu memusingkan masalah cina yang sebenanrya tidak berguna untuk seusianya.
Gadis yang dikagumi Sehun yang selama ini dianggap pemuda itu sebagai 'cinta' adalah kakak kelas yang cukup popular. Sehun beruntung dekat dengan kakak kelas itu karena mereka satu klub. Ya, mencoba tiga bulan pendekatan, tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Kaka kelas itu pindah ke Jerman. Dengan jawaban atas pertanyaan Sehun. Jawaban yang tidak duduganya.
"Maaf, Sehunni. Bisakah kita menjadi seperti biasanya? Kita masih terlalu muda untuk ini." dan pergi menyeret kopernya menjauhi Sehun.
Bukankah itu hal yang paling bodoh?
Seumur hidup, Sehun menganggap sakit hati adalah sakit yang paling mengerikan daripada tendangan bokong Sehyun hyung.
Seperti mati rasa.
Bisakah Sehun mencintai gadis lain jika hatinya sudah terpaku nama kakak kelasnya?
Sehun tidak yakin, tetapi dia mencoba.
"Sehun! Kau disini?!" sebuah suara membuat Sehun mendongakkan kembali kepalanya yang sempat tertunduk memandangi jalanan beraspal.
Saat ini di depan Sehun adalah Luhan yang membawa payung bewarna ungu untuk dirinya sendiri dan payung hijau toska yang masih belum terbuka.
Sehun dapat melihat gadis yang lebih tua dua tahun darinya itu mengambil nafas pendek-pendek sembari menyunggingkan senyum kecil.
"Sehyun Oppa khawatir padamu. Dia mengira kau ada di rumahku. Ayo pulang, ini sudah larut dan sepertinya hujan bertambah lebat!" seru Luhan sembari menyodokan payung hijau toska tadi ke arahnya.
Bukan, jika kalian berpikir Luhan adalah kakak kelasnya –kalian salah besar.
Xi Luhan, tetangganya yang sangat dekat dengan dirinya semenjak bayi. Dia gadis cantik dan baik yang selama ini Sehun tahu.
"Kau ada masalah?" Luhan menunduk untuk melihat apakah Sehun demam atau mungkin terjadi sesuautu padanya. Sehun hanya memberikan jawaban berupa gelengan kepala.
"Noona…"
Secara tidak sadar, Sehun memeluk Luhan erat. Tidak peduli baju basahnya juga ikut membasahi dress Luhan; Sehun menumpahkan air matanya pada bahu gadis itu. Meski lebih tua, tinggi Luhan hanya sebatas daun telinganya.
Luhan terkesiap atas tindakan tiba-tiba dari Sehun. Tapi detik selanjutnya Luhan tersenyum kecil dan membiarkan Sehun bersandar padanya untuk beberapa waktu. Dia menepuk pelan punggung Sehun sesekali membisikkan kata-kata penenang.
Sehun tidak tahu. Benar-benar merasa diambang kebingungan yang snagat.
Kakak kelasnya yang selalu membuatnya berdebar tetapi secara bersamaan membuatnya patah hati, atau…
… Luhan yang membuatnya selalu nyaman dan merasa ada untuk dibutuhkan.
Hujan malam di musim semi tahun ini adalah waktu kebingungan yang sangat bagi Oh Sehun remaja.
.
.
21th Songs status:
F I N
A/N: Lol banget aku ini. Lirikya galau, tapi nadanya ceria khas lagu jadul 60an gitu. Jadinya ending kan tidak sesuai lirik lagu, huhuhu… tapi nggak tega juga sih dibikin sad-end.
Gimana? Oh, soal lagu itu, wajib denger deh. Kalo kamu pecinta lagu lawas era 40an-90an, rekomen banget lagu ini. Sebetulnya sih, pas ngetik chapter ini lagi nggak ada ide. Pas ayahku muter lagu ini di hape-nya dan bikin aku plesbekan pas umur 3thn sering banget dinyanyiin lagu ini sama ayah dan kakak tertuaku.
