LONDON GOSSIP
By : CountessCaroline (biar enggak kepanjangan kalian dapat panggil aku dengan CC)
Rated : M
Disclamair : Harpot series punya Jk Rowling, gossip girl series punya CW TV sedangkan novelnya sendiri oleh cecily von ziegesar.
A/N : Sudah pasti aku selalu usahakan bilang terimakasih dulu atas dukungan dan partisipasi kalian untuk LG Ini. Thank...everyone...YOU KNOW I LOVE YOU...
Selanjutnya aku cuman mau bilang NO...Tentu saja NO...(kalian pasti udah tau tentang maksudku dengan mengatakan NO kan? Biar lebih jelas baca aja oke?)
And then, (hanya sekedar info sih) kalau LG ini masih harus ada beberapa chapter lagi untuk tamat, well aku pikir sih dengan begitu alurnya dan feelnya lebih dapat dan tentunya terkesan alami seperti kehidupan pada umumnya. Sebisa mungkin juga aku udah padat-padatin hal-hal pentingnya aja. Jadi moga-moga alurnya enggak jalan ditempat. Yang terpentingnya lagi kalian enggak bosan untuk tetap setia dan review. Itu akan sangat mendukungku. Untuk chpater kali ini juga merupakan titik penghabisan rasa kesedihan Hermione. Karena untuk Ch 22 nanti Hermione akan memulai membangun perasaan bahagiannya kembali. Sudah waktunya Hermione bangkit dari rasa keterpurukkan,iyakan?
Oh iya, hampir saja lupa. Untuk kalian semua, ada baiknya menyiapkan menyetel lagu Problem Ariana Grande pada scene terakhir oke? Itu karena kurasa akan memudahkan kalian masuk kedalam ceritannya.
Terakhir, sepertinya aku udah kelewat banyak berkoar, oleh sebab itu aku cuman mau bilang selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan pendapat kalian oke? Bila ada typo tolong maklumi saja. Entah kenapa typo memang selalu menyertaiku.
Chapter 21
Hot issue
Harry pov,
Sore hari di hogwarts adalah hal yang menyenangkan. Itu waktu yang tepat bagiku. Tak adanya keramaian memang yang paling kusuka. Bukan berarti aku benci untuk bersosialisasi. Hanya saja justru orang-oranglah yang benci untuk bersosialisasi denganku, setidaknya begitulah yang dilakukan murid-murid kaya hogwarts ini padaku. Mereka semua membenci orang sepertiku dan aku juga bukanlah orang yang suka memuji atau menyembah mereka hanya untuk dapat di terima. Aku suka menjadi diriku sendiri. Menjadi populer bukanlah hal yang penting untukku.
Tidak peduli mereka mencibirku tanpa henti, menatapku penuh cemooh, ataupun mengerjaiku. Aku sama sekali tidak terpengaruh. Yah walaupun itu berarti aku juga harus bersabar akan betapa seringnya mereka menubruk diriku dikoridor ataupun menyiram slusshie super dingin tepat ke wajahku. Aku benar-benar menyalahkan Granger soal menyiram slushie itu. Berkat dia, kini semua orang terinspirasi untuk melakukan hal yang serupa. Sialnya selalu aku yang menjadi kelinci percobaanya.
Anak-anak kaya itu memang cuman bisa melakukan hal yang namanya membully. Mereka pasti tidak akan tau betapa sulitnya sebenarnya kehidupan ini. Aku bahkan harus kerja paruh waktu dibeberapa tempat untuk mengumpulkan uang kuliahku kelak. Aku selalu bercita-cita untuk bisa masuk yale. Itu pasti akan bagus sekali jika aku dapat berkuliah disana. Jujur saja aku kelewat muak dengan kehidupanku di Inggris. Negara penuh kebebasan seperti Amerika akan menunjang jiwa seniku.
Mengingat itu aku jadi tersenyum. Semangatku terpacu kembali. Penuh senang aku berjalan melewati salah satu koridor Hogwart sambil bersenandung. Entahlah apa yang sebenarnya sedang kunyanyikan, aku hanya sedang bersemangat. Aku membawa perlengkapan kebersihanku. Yah tiap sore hari, aku mengawali dengan membantu Hagrid. Dia salah satu pengurus hogwart yang begitu baik padaku dan yang terpenting Hagrid akan membayarku.
Aku pun mulai kegiatan mengepelku. Tidak lama setelahnya kusadari seseorang melewatiku, aku tau itu Granger. Aku menghela napasku dengan kekesalan. Sebenarnya dimana matanya? Aku sedang mengepel dan ia melewatiku begitu saja? Dasar cewek kaya, manja yang menyebalkan. Dia perempuan paling buruk di hogwarts ini dan cowoknya atau lebih tepatnya mantan pacarnya itu juga sama saja. Aku sebenarnya heran kenapa mereka putus, padahal mereka cocok sekali menjadi pasangan ter-menyebalkan di hogwarts ini.
"Hey Granger!" Aku tidak tahan untuk tidak berteriak.
Aku tidak menduga kalau dia akan berhenti dan menoleh padaku. Ia seperti biasa menatapku dengan kebencian dan rasa jijik, seolah aku adalah hama yang benar-benar menganggunya. Aku balas menatapnya sama tidak sukanya. Kata orang-orang dia itu wanita yang cantik, tapi sampai sekarang aku sama sekali tak mengerti dimana letak kecantikannya. Bagiku Astoria tetap paling cantik. Apalagi disaat wajah menyebalkan Granger itu terlihat...eu...pucat dia sama sekali tidak cantik. Dan kenapa pula wajahnya pucat begitu? Apa ia sakit?
Oh demi merlin wajahnya pucat sekali.
"Eu...apa kau baik-baik saja?" tiba-tiba kemarahanku hilang. Aku sendiri tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi padaku. Aneh saja aku merasa khawatir padanya.
"Kau meneriakiku hanya untuk menanyakan keadaanku freak?" Tanya Granger dengan nada menyebalkan.
Sialan dia berhasil membuatku salah tingkah. "Well...emmm...sebenarnya aku tadi mau marah, tapi karena kau terlihat pucat maka aku..."
Dia mendengus, menyela ucapanku. Walau begitu ia terlihat kelelahan. Kurasa Granger benar-benar sakit. Ia perlu ke uks, tapi kurasa uks pasti sudah tutup. Lagipula kenapa Granger menyebalkan ini masih ada di hogwarts sih? Aku curiga ia akan menyulitkanku.
"Perlu kau tau freak, aku tidak butuh rasa prihatinmu padaku oke? Jadi lanjutkan saja kegiatan mengepelmu itu"
Aku diam saja. Terlalu malas meladeni, kuputuskan melanjutkan kegiatan mengepelku. Granger pun sudah berbalik pergi. Langkah-langkah kakinya terdengar menghentak-hentak. Kemungkinan besar karena ia kesal padaku. Lagipula dia kan memang selalu kesal padaku. Jadi aku sama sekali tak peduli. Masa bodo dengannya.
Bruck... Tiba-tiba terdengar suara jatuh tersebut.
Oh shit. Aku sudah curiga ia akan menyusahkanku. Lihatlah sekarang ia terjatuh. Seketika aku tentu menghentikan kegiatanku. Aku terdiam dan ragu. Apakah aku perlu menolongnya. Well dia pasti akan marah jika aku menyentuhnya. Namun kurasa ia tidak hanya sekedar jatuh. Ia seperti terbaring tidak sadarkan diri. Jangan bilang dia pingsan.
Aku melangkah tiga langkah. Dengan masih memegang alat pelku, aku mencoba memanggilnya. "Hey Granger! Bangunlah! Kau tidak pinsankan?"
"..." Tidak ada jawaban. Sialan.
Oh demi Tuhan ia memang pingsan. Aku segera berlari menghampirinya. Kepanikan memenuhi diriku. Aku tidak ragu lagi untuk menyentuh tubuhnya. Sialan ia deman juga rupanya. Tubuhnya terasa panas sekali. Aku yakin saking panasnya, aku bisa memasak telur di kepalanya ini. Tanpa berpikir aku segera mengendongnya. Otakku sama sekali tidak bisa berpikir apapun selain membawanya kerumah sakit terdekat. Demi merlin Granger! Kenapa kau harus menyusahkan diriku heh?
000
London Gossip Net
Sebelum
Selanjutnya
Ajukan pertanyaan
Email kalian
Foto
PS : Semua nama tempat, orang, dan peristiwa asli telah diubah atau disingkat demi melindungi pihak yang tidak bersalah, yaitu aku.
Hey kawan-kawan.
Hari ini aku senang sekali. Bukan karana RS akhirnya tidak muncul lagi di Tv kita, tapi ini lebih karena berkat info terbaru yang kudapatkan. Ho ho ho aku bagaikan menerima kado natalku lebih awal. Aku tau kalian penasaran sekali kan? Hey-hey jangan menatapku begitu dong. Sabarlah. Aku akan menceritakannya. Bacalah dengan seksama oke?
Aku akan katakan B, si queenbee tersayang kita itu baru saja melakukan kesalahan fatal sekali. Oh ya ampun... harusnya ia mendengarkan ucapanku waktu itu. Aku tau negara kita tercinta ini merupakan negara bebas. Termasuk dalam urusan seks pranikah. Aku juga yakin kalau kalian sebelumya juga pernah melakukan hubungan fisik yang menyenangkan itu. Hanya saja ingatlah untuk menggunakan pengaman. Sialnya sepertinya B melupakan hal tersebut. Aku baru saja menangkap basah ia muntah-muntah parah sekali. Lalu dengan wajahnya yang begitu pucat ia jatuh pingsan. Untunglah Mr freak si menyebalkan itu menolongnya. Ia membawa QueenBee kita kerumah sakit terdekat. Kalian taukan rumah sakit apa yang kumaksud?
Aku langsung mengikuti. Jujur saja itu perjuangan sekali. Karena si Mr freak itu selalu menoleh kebelakang. Ia seakan curiga ada yang mengikutinya. Toh aku memang mengikuti dan tidak seharusnya ia menyusahkan pekerjaanku. Itukan hak ku. Lain kali kalian harus ingatkan aku untuk memberikan pelajaran kepada si tuan aneh itu. Tunggu saja apa yang akan kuberikan padanya nanti di sekolah.
Intinya berkat kewaspadaan Mr freak, aku hanya bisa melihat Bee yang pingsan dibawa oleh beberapa staf rumah sakit. Kurasa ke ruang gawat darurat. Sialnya belum sempat aku memfoto, si aneh nan menjijikan itu tiba-tiba berjalan penuh curiga kearahku. Aku yang bersembunyi diantara orang-orang segera menyelinap pergi. Ini tidak aman. Aku putuskan pergi. Terpaksa aku berdiam diri di kafeteria rumah sakit ini. Aku memesan makanan dan memakannya tanpa selera. Hampir satu jam aku berada di tempat sialan itu. Benar-benar deh aku tersiksa. Aku benci menunggu dan aku terlalu benci makanan di rumah sakit ini. Rasanya sama sekali tidak enak. Jadi kusarankan kalian semua harus berhenti mengeluh makanan di kantin kita. Bagaimanapun kita harus bersyukur makanan di Hogwarts di masak setidaknya oleh seorang koki. Aku bahkan tidak yakin makanan yang kupesan ini dibuat oleh koki. Percayalah rasanya enggak enak. Oh ya ampun lupakan soal itu. Ada yang lebih penting.
So ayo kembali ke topik kita sebelumnya. Aku yakin kalian pasti mencibirku saat ini dan mengatai aku pembohong. Well aku tidak menyalahkan kalian bila kalian tidak percaya padaku. Lagipula muntah, wajah pucat dan pingsankan belum tentu tanda suatu kehamilan. Hanya saja guys aku mulai yakin akan dugaanku bahwa Bee hamil. Beruntungnya aku ketika di menit berikutnya kulihat si Mr freak telah berjalan keluar. Dia pulang. Oh ya ampun... Itu anugrah. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Aku buru-buru pergi. Sialnya aku benar-benar kehilangan jejak Bee. Ku melihat kekiri dan kekanan dan yes, Tuhan menyertaiku rupanya. Aku baru saja melihat Mrs G. Thank God, kau memang paling bisa diandalkan. Dengan keahlianku, aku mengikutinya. Jalan Mrs G cepat sekali. Orang-orang yang tiba-tiba banyak berdatangan berjalan melewatiku, tentu itu tambah menyusahkan diriku. Aku sih yakin sekali jika Mrs G masuk keruangan ini. Dipintunya tertulis nama si dokter. Untunglah aku sempat ingat warna mantel cokelat Mrs G. Tidak salah lagi ia masuk ruang dokter ini. Kalian mau tau nama dokternya ? Dengan senang hati akan ku beritau. Semoga kalian langsung tau apa artinya.
dr. Merry Wilson, Sp. OG.
Nah, apa kalian sekarang percaya padaku? Kuharap kalian percaya. Ini benar-benar bukti yang tidak bisa terbantahkan lagi. Itu jelas-jelas dokter kandungan.
Emmm...sekarang kalian semua pasti bertanya-tanya siapa ayah dari anak yang dikandung B kan ? Aku sih enggak terlalu. Well ayolah siapa lagi ayahnya kalau bukan D. SO...come on D! Berhenti menghilang dan bertanggung jawablah. Kau baru saja merusak masa depan QueenBee kami. Batalkan pertunangan mu dengan A dan menikahlah dengan Bee. Perbaiki masa depannya bung ! Jujur bagiku kalian berdua sudah sangat serasi untuk bersama. Bagaimana pendapatmu girls?
Email kalian.
Dear LG,
Aku sih masih terlalu syock mendengar beritamu. Demi merlin aku belum bisa bertaruh apa-apa dulu saat ini. Bukan karena aku tidak percaya padamu, hanya saja Bee lebih tak bisa ditebak daripada yang kita lihat... Iyakan? By : Bookwrm.
Dear bookwrm sweetheart,
Kau benar. Bee sangat tidak terduga. Yang selalu kukagumi darinya adalah sifat tidak terdugannya tersebut. Aku sangat tidak sabar untuk menunggu kejutan yang akan ia buat selanjutnya. Itu pasti menarik. By : LG tersayangmu.
Hey LG,
Oh god itu berita buruk. Bukan karena aku peduli pada Bee. Perlu kau tau saja aku ini pendukung A secata total. So aku enggak peduli apa Bee hamil atau tidak. Hanya saja jika berita buruk itu memang benar ( sepertinya itu benar) oh...damn...Aku curiga bila acara pertunangan itu akan dibatalkan oleh D yang akhirnya memilih kembali pada Bee.
Asal kau tau LG, aku baru saja memesan sebuah gaun untuk kupakai pada acara pertunangan akbar itu. Jika batalkan betapa malangnya aku. By : L.B
Dear L.B (Ayolah aku tau kau lavender brown, mengakulah sweetheart)
Yang bisa kukatakan padamu hanyalah..."Apa peduliku?" Lagipula suruh siapa kau telah memesan gaun duluan heh? Lagipula sepertinya aku sudah pernah menasehatimu untuk mengurangi rasa percaya dirimu yang over itu Brown. Tanpa A dan Bee kau sama sekali tidak populer. Aku bahkan lebih populer dibanding dirimu. By : LG.
So sampai di sini info dariku. See you letter...everyone. Aku akan segera kembali secepatnya. Kalian taukan, aku sayang kalian.
XOXO. YOU KNOW YOU LOVE ME. LONDON GOSSIP.
000
"Sebenarnya ada apa dengan putriku Carles ? Satauku dia belum pernah pingsan seperti ini." Ucap Mrs Granger dengan suara yang gemetar. "Wajahnya bahkan pucat begitu"
Carles tersenyum menenangkan. Ia menyentuh salah satu tangan Mrs Granger yang duduk didepannya. Dalam ruangan serba putih nan bersih ini, dokter pribadi keluarga Granger itu sangat membantu membuat Mrs Granger tenang.
"Tenanglah Evelyn. Keadaan Hermione tidak terlalu buruk" Sahut Carles dengan nada dokter yang pada umumnya sangat menenangkan. Kedua mata Mrs Granger melebar terlihat terkejut. Sedangkan dokter bernama Carles tersebut hanya tersenyum. Lagi-lagi ia berusaha menenangkan Mrs Granger. Well ia dokter yang cukup tampan, walau usiannya seumuran dengan Mrs granger. Dengan rambut pirang pendek yang tertata rapi ia faktanya sangat tampan. Sekedar info, Carles adalah teman sekolah Mrs granger dulu dan ia pun sahabat Mr Granger yang juga seorang dokter. Jangan heran jika mereka terlihat begitu akrab.
"Jadi maksudmu putriku sama sekali tidak baik-baik saja?" Wajah Mrs Granger mendadak pucat.
Carles menghela napasnya. "Well sebenarnya aku ingin sekali berbohong padamu, tapi seorang dokter tidak boleh berbohong mengenai keadaan pasiennya."
"Segitu parahkah?" Mrs granger mulai bergerak tak nyaman di kursinya. Kecemasan menguasainya.
"Tidak juga. Masih dapat teratasi. Tapi aku tidak bisa bilang putrimu baik-baik saja"
"Kurasa William harus tau ini. Hermione perlu dirawat di rumah sakitnya kalau begitu, iyakan?"
"Evelyn kau terlalu berlebihan. Kau justru akan membuat William langsung terbang dari Perancis kemari dan kau tau iya akan memarahiku dan kalian berdua akan bertengkar begitu hebatnya sehingga rumah sakit yang kupimpin ini hancur berantakkan. Aku sarankan kau jangan melakukan itu"
Mrs Granger mendengus. Rasa paniknya berubah menjadi kesal. "Ini bukan waktunya kau bercanda Carles."
"Aku tak bercanda Evelyn. Aku justru mau kau percaya padaku untuk menangani Hermione dan kau harus berhenti untuk panik"
Mrs Granger menghela napasnya. Ia mencoba menenagkan diri. "Bisa sekarang kau katakan bagaimana keadaan putriku?"
"Well maag nya kambuh. Parah sekali. Lalu dari hasil pemeriksaan darahnya ia terkena typus. Ia pun kekurangan beberapa asupan gizi. Hal itulah yang membuatnya pingsan dan begitu pucat. Ini semakin di perparah karena kurasa ia mengalami stess berat. Sejauh ini memang tidak baik. Hermione kurasa harus menemui psikiater. Obat penenang yang kuberi beberapa lalu untuknya tidak akan berfungsi lagi Evelyn. Jadi aku juga menduga beberapa hari ini pasti ia tidak bisa tidur."
Mrs granger mencengkram tangannya. Satu yang ia pikirkan adalah menyalahkan Draco. "Malfoy junior itu benar-benar sialan. Ayah dan anak sama saja." gumam Mrs granger begitu marah.
Carles yang mendengarnya tersenyum."Jadi ini karena masalah cinta?"
"Kurasa seorang dokter tidak perlu tau soal pribadi seperti itu. Kau hanya harus fokus menyembuhkan putriku Carles."
Carles terkekeh. "Anak dan ibunya rupanya sama saja"
"Apa maksudmu itu heh?"
"Kau tau maksudku apa"
Mrs Granger mendengus. Ia diam saja. Mau bagaimana lagi, itu memang benar. Ia pernah mengalami hal yang serupa seperti Hermione. Tapi sepertinya putrinya tersebut lebih parah.
"Aku tau kalau sebenarnya aku tidak pantas untuk mengatakan ini. Tapi kurasa aku harus mengatakannya Evelyn"
"Kau tau, aku selalu menghargai pendapatmu Carles. Jadi katakan saja."
Carles tersenyum. Senyumnya sulit untuk diartikan. Ia seakan memberi kesan bahwa ia ragu Mrs granger akan menghargai pendapatnya kali ini. "Aku sudah lama memantau dan merawat kesehatan Hermione. Aku akan jujur kalau aku belum pernah melihatnya seperti ini. Ia terlihat begitu banyak pikiran Evelyn. Kau perlu lebih banyak mengambil waktu berdua denganya untuk saling berbicara."
"Aku melakukannya Carles. Aku benar-benar meluangkan waktuku untuknya. Aku bahkan menunda keberangkatanku ke New york. Tapi ia sama sekali tidak mau mendengarku"
"Yang kumaksud berbicara dengannya adalah semacam diskusi antara ibu dan anak Evy."
"Aku melakukannya"
"Dan apa kau mendengar pendapatnya?"
"Tentu saja tidak"
Carles menghembuskan napasnya. Ia sudah menduga apa jawaban yang akan di berikan Mrs granger. "Itu namanya bukan diskusi"
"Demi merlin Carles...Apa maksudmu kau mau aku mendengarkan betapa cintanya putriku pada bocah Malfoy itu heh?"
"Jika memang harus"
"Oh yang benar saja Carles... Pendapatmu kali ini tidak masuk akal untukku." Mrs granger bangkit berdiri. "Ada baiknya aku melihat putriku saja" Ia berbalik pergi. Pintu terbuka dan tertutup dengan suara yang keras. Carles menghela napasnya melihat tingkah Mrs granger tersebut.
" Dia sama sekali tidak berubah"
Mrs granger melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia masuk ke lift dan menekan tombolnya dengan penuh kekesalan. Ia paling tidak suka dianggab sebagai ibu yang tidak baik. Selama ini ia merasa semua hasil kerja kerasnya hanya untuk Hermione seorang. Jadi tak ada satupun yang boleh mengatakan ia bukan ibu yang baik. Mrs granger bahkan akan melakukan apa saja demi kebaikan putrinya.
Pintu lift terbuka. Mrs granger melangkah keluar. Ia berjalan menuju ruangan Hermione di rawat. Kawasan ini cukup tenang. Tidak begitu banyak dipadati oleh orang-orang ataupun para suster yang bolak-balik seperti di lantai sebelumnya. Mungkin karena ini lantai khusus untuk para pasien VIP. Ada Dorota yang berdiri didepan pintu kamar Hermione. Pelayan bertubuh gendut itu terlihat tengah terlibat pembicaraan dengan seorang pria dan wanita. Mrs granger tau siapa mereka. Mr dan Mrs diggory.
Mrs granger segera menampilkan senyumnya. Ia datang menghampiri. "Ini sebuah kejutan kalian disini"
Sepasang suami istri diggory itu ikut tersenyum. "Cedric memberitau kami. Anak itu benar-benar terlihat panik. Kami tentu juga panik Mrs granger, jadi kami langsung kemari" Ucap Mr Diggory.
Mrs diggory melangkah mendekat kearah Mrs granger. Wajah khawatir dari Mrs diggory semakin terlihat. Bagaimanapun ia telah begitu sayang pada Hermione. Baginya Hermione sudah seperti anak perempuan yang tidak pernah ia miliki. "Bagaimana keadaanya Evelyn? Tidak terlalu burukkan?"
"Masih dapat diatasi. Jadi tenanglah. Orang-orang justru bakal mengira kaulah ibunya Helen" Mrs granger tersenyum melihat raut wajah salah satu sahabatnya tersebut.
"Kau tau aku begitu sayang pada putrimukan?"
"I know Helen. Kau berulang kali mengatakan itu." Mrs granger lalu menatap Mr diggory. "Aku tidak melihat Cedric. Apa dia sudah pulang?"
"Tentu saja ia tidak akan pulang. Ia sejak tadi menunggu Hermione didalam" Mr diggory menunjuk kedalam. Ada senyum di wajahnya. Ia merasa senang. Ini jelas pertanda baik. Sepertinya perjodohan yang sempat putus akan terjalin lagi.
"Aku benar-benar lega. Cedric masih mau berada disisi Hermione"
"Hermione bagian dari keluarga kami Evelyn. Kau tidak perlu berkata seperti itu" ucap Mrs diggory.
Keceriaan dalam diri Mrs granger tiba-tiba muncul. Senyumnya melebar. "Aku selalu berharap kita bisa menjadi besan. Itu akan terdengar bagus sekali"
Sepertinya kesepakatan memang sudah dibuat. Semuanya tampak tersenyum dan tertawa senang. Aku merasa kasihan pada Dorota. Well hanya dia satu-satunya yang tidak setuju akan kesepakatan itu. Namun harus bagaimana lagi? Ia tidak lebih hanya seorang pelayan.
000
Kekayaan dan Skandal selalu saling berkaitan. Itulah rata-rata kehidupan di kalangan elit. Tidak pernah memandang bulu, bahkan skandal tersebut ada di kehidupan remaja, khususnya remaja seperti Astoria greengrass. Ia baru saja keluar dari gedung oxford center, dimana Daphne sang kakak yang paling ia sayangi selama ini di rawat. Langkahnya begitu pelan. Daphne baru saja memarahinya. Daphne berkata ia sudah cukup keterlauan dan seharusnya posisi mereka di tukar. Yah Astoria akui ia lah yang harusnya di rawat di oxford center. Pikirannya kacau sekali. Ini bermula dari perkataan Hermione di kamar mandi kemaren. Lalu sekarang di tambah lagi dengan berita dari london gossip, maka lengkaplah semuannya.
Astoria masih belum yakin bahwa berita itu benar. Hermione yang ia tau selama ini tidak akan pernah seceroboh itu hingga harus mengandung pada seusia muda itu. Ini membingungkan Astoria. Tadi Daphne sudah menyuruhnya bertanya langsung pada Hermione. Itu memang terdengar saran yang masuk akal, tapi Astoria tidak cukup punya keberanian. Ia lalu melihat jam tangannya. Sekitar pukul 10 malam lebih. Waktu menjenguk sepertinya sudah habis. Namun bukan berarti itu menjadi alasan Astoria untuk membatalkan rencanannya. Kita semua tau, uang dapat melakukan apa saja dan Astoria cukup memiliki banyak uang. Kini hanya tinggal keberaniannya yang perlu kita pertanyakan.
Astoria menghela napasnya dan memutuskan memberhentikan taksi. Ia sudah putuskan. Hermione sahabatnya. Sudah pasti ia harus menjengguknya.
Tidak perlu cukup waktu lama untuk sampai. Astoria telah berada di kamar Hermione. Ia duduk di samping Hermione yang tertidur. Dorota berada diruangan yang sama. Dia seakan mengawasi Astoria.
"Dorota kau tidak perlu menatapku begitu. Aku tidak akan mencelakai Hermione"
Tatapan mata Dorota tetap menatap penuh curiga. "Jika kau bermaksud menyuruhku keluar, jangan harap Miss greengrass. Aku akan mengawasimu"
"Harus berapa kali kubilang aku tidak akan melukain sahabatku sendiri Dorota."
"Bisa sajakan, mengingat betapa buruknya hubungan kalian sekarang ini. Aku tidak mau mengambil resiko"
"Terserahmu saja kalau begitu." pandangan Astoria kembali kearah Hermione. Ia menghela napasnya memandang Hermione. Wajah pucat sahabatnya itu membuat Astoria khawatir. Hermione pun di infus. "Bagaimana keadaanya Dorota?"
"Kau pasti senang mendengar ini. Miss mione sama sekali tidak baik-baik saja"
"Oh ayolah Dorota. Berhenti menuduhku yang tidak-tidak."
"Asal kau tau Miss greengrass, ini semua bermula dari kau yang menganggu hubungan nona kesayanganku dengan tuan Draco. Kau tau itukan?"
Raut wajah Astoria berubah. Ada amarah yang tertahan. "Dorota kurasa kau sudah kelewat batas. Bagaimanapun kau harus ingat statusmu."
Dorota mendengus. "Aku hanya mencoba menjalankan salah satu tugasku. Melindungi majikanku yang terpenting bagiku Miss greengrass" Dorota mengucapkan hampir setiap katanya penuh penekanan.
"Oke Dorota aku mengerti. Aku benar-benar tidak mau berdebat denganmu. Percayalah aku datang sebagai seorang sahabat. Masalah tentang Draco lain ceritanya. Lagipula kau tidak bisa menyalahkanku. Dracolah yang memilihku. Aku tentu menerimanya karena aku mencintainya Dorota. Kuharap kau mengerti antara persahabatan dan percintaan ada bedanya. Aku tidak bisa mengalah pada Hermione tentang Draco. Untuk yang satu itu tidak bisa."
"..." Dorota terdiam. Mungkin ia terlalu syock akan semua ucapan Astoria barusan. Rupanya seperti inilah hubungan persahabatan antara nonanya dan Astoria yang sebenarnya. Benar-benar rumit. Dorota bertanya-tanya bagaimana mereka berdua bisa bersahabat cukup lama.
Sejak itu tidak ada lagi perdebatan antara Dorota dan Astoria. Malam makin larut, Dorota tidak bisa menahan rasa ngantuk nya. Ia tertidur di sebuah sofa yang disediakan. Astoria sendiri tertidur begitu saja dengan kepala tertunduk disalah satu tangan Hermione. Hal itu dilakukan berulang-ulang oleh Astoria. Ini seperti sebuah rutinitas untuknya. Ia akan datang ketika Hermione sudah tertidur dan akan pergi sebelum Hermione bangun. Bagaimanapun ia belum siap bila harus bertatap muka dengan sahabatnya itu secara langsung. Selama tiga hari berturut-turut Astoria rutin untuk berkunjung. Ia juga sudah tau bahwa rumor itu tidak benar. Hermione sama sekali tidak hamil. Itu jujur melegakan. Well bagaimanapun ia tidak mau kehilangan Draco.
Kondisi Hermione sendiri mulai membaik. Dokter Carles mengawasinya sangat ketat untuk makan, minum obat, dan istirahat tentunya. Belum lagi seorang psikiater pun rutin untuk datang. Di tambah kehadiran Cedric dan Duo kembar;Padma dan Parva, sudah pasti mempercepat proses sembuhnya Hermione.
"Parva kau mendengar aku atau tidak sebenarnya?" tanya Padma menoleh ke samping. Ketika itu mereka baru saja keluar dari lift dan tengah berjalan ke ruang Hermione di rawat.
"Iya aku mendengarmu" Sahut Parva sama sekali tidak menoleh.
Padma menghentikan langkahnya. "Lalu apa yang baru saja kusebutkan. Bisa kau mengulanginya?"
Parva memutar bola matanya melihat tingkah saudara kembarnya ini. Langkah kaki Parva terhenti. Ia berdiri berhadapan dengan Padma. "Kau baru saja memerintahku untuk menjaga omonganku tentang rumor palsu dari london gossip dan Pokoknya kita tidak boleh membiarkan Hermione sampai tau tentang itu. Bagaimana? Apa kau masih tidak percaya padaku?"
Padma tersenyum. "Senang mendengarnya."
"Kau harus percaya padaku Padma. Kali ini aku akan mengunci mulutku" Saat itu juga Parva membuat gerakan seakan-akan ia mengunci mulutnya.
Padma tertawa. Parva memang konyol, tapi justru itulah spesialnya dia. Bahkan dia selalu berhasil membuat Hermione tertawa. Hari ini mereka berdua mau memberi kejutan untuk Hermione. Mereka sengaja datang pagi-pagi sekali.
"Apa menurutmu Hermione akan terkejut?" tanya Parva begitu bersemangat. Apalagi ini memang hari libur.
"Entahlah. Mungkin ia akan terkejut tapi juga kurasa ia akan marah karena kita membangunkannya." jawab Padma sambil memegang gagang pintu kamar Hermione. Sebelum pintu itu sempat ia buka. Pintunya telah terlebih dahulu terbuka. Kemunculan Astoria mengejutkan mereka.
"Apa yang kkk...kau lakukan disini?" tanya Parva polos. Suaranya bahkan bergetar, tergagab. Ia begitu kaget. Padma sendiri hanya terdiam.
"Maaf" hanya itu yang terucap dari mulut Astoria. ia sendiri juga kaget. ini diluar dari prediksinya. Wanita berambut pirang keemasan tersebut segera berjalan begitu cepat. Saking cepatnya, Padma maupun Parva tidak bisa bertanya lebih lanjut.
Lagipula mereka tak mau repot-repot untuk mengejar.
"Apa benar itu As?"
"Jika mataku tidak salah lihat sepertinya iya." Suara Padma kali ini terdengar lebih tenang.
"Buat apa si penghianat itu kesini? Apa ia berusaha mengolok-ngolok kita"
"Astaga Parva kau mulai ngawur. Ada baiknya kita kedalam saja"
"tapi..."
"ayolah!"
000
"Kenapa kalian diam saja? Kalian terlihat mencurigakan?" Tanya Hermione ditengah acara makan paginya.
Kedua kembar india itu tersenyum. "Apa kau terkejut kami kemari sepagi ini?" tanya Parva.
"Emmm...sedikit terkejut dan sangat marah karena kalian membangunkanku. Gara-gara kalian aku harus makan ini"
"Ayolah Hermione kau harus makan. Kau ingin segera pulangkan?" ucap Padma berhasil membuat Hermione tersenyum.
"Ngomong-ngomong soal itu. Hari ini aku boleh pulang. Aku sangat senang dokter Carles mengijinkanku dirawat di rumah. Aku benar-benar tidak betah disini."
Senyum Padma melebar. Ia senang tapi sedikit khawatir. "Itu berita bagus"
"Tapi kau belum boleh ke sekolah kan?"Oh ya ampun Parva! Kenapa mulutmu harus begitu comel sih? Saat itu juga Padma menyikut Parva, karena bertanya seperti itu.
"Owwww" Padma mengaduh.
Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Hermione pun memerhatikan mereka berdua. Kedua matanya menyipit curiga. "Kenapa kau bertanya tentang itu? Apa kau tidak sukaapabila aku kembali kesekolah?" Hermione mencoba memancing. Ia perlu tau apa yang sebenarnya di sembunyikan.
"Ini soal..."
"Ya ampun...ha...ha...ha...ha... Parva kau ini lucu sekali..."
Padma segera tertawa begitu keras. Ia benar-benat tepat waktu memotong ucapan Parva. Benar-benar deh, katanya Parva akan mengunci mulutnya. Namun ia malah membuka mulut comelnya itu lebar-lebar. Ini mengesalkan Padma. "Bukan kami tidak suka. Well hanya saja Parva terlalu menyukai kegiatan barunya merekam semua penjelasan guru selama kau tidak bisa hadir. Bukan begitu?" Padma menatap Parva penuh maksud.
Parva nyengir. "iya itu benar."
Kecurigaan Hermione tidak menghilang. "Well aku berterimakasih kalian mau repot-repot merekam semua itu untukku" Hermione tersenyum. "kurasa aku harus membuat tweet terimakasihku melalui twitter. Boleh aku meminjam Handphone mu Parva. Kau taukan Dorota menahan Handphoneku" Ini salah satu siasat Hermione untuk dapat melihat London Gossip. Ia yakin sekali pasti ada hubungannya dengan situs bodoh itu.
"No no no Hermione" Bagus terbongkar semuanya. Padma yang panik seperti ini semakin membuat Hermione yakin ada yang di sembunyikan.
"So katakan saja apa yang sebenarnya di tulis situs bodoh itu? Apa mengenai diriku?"
Padma dan Parva saling melirik dan akhirnya mengangguk.
Hermione menghela napasnya. "Kali ini apa yang ia katakan heh?"
Parva mendonggak. Ia menatap Hermione takut-takut. "Kau pasti tidak akan suka mendengarnya"
"Aku lebih tidak suka jika kalian menyembunyikan sesuatu dariku"
"Well..." Padma mulai membuka mulut. "LG melihatmu dibawa kerumah sakit. Ia menduga kau hamil."
Kening Hermione mengerut. "Oh yang benar saja? Memang ia memiliki bukti apa hingga menyebutku hamil heh?"
"Entahlah. Dari yang kuduga. seperti nya ia salah orang. Well dia kan mengikuti ibumu dan kurasa ia salah mengikuti orang. Kau mengerti maksudku kan?"
"Astaga" Hermione mengeleng tidak percaya.
"Oleh sebab itu kau jangan dulu ke sekolah Hermione. Orang-orang masih hangat membicarakan rumor itu" ucap Parva begitu pelan.
"Tapikan itu bukan rumor yang benar. Bagaimana bisa mereka terus membicarakannya? Apa kalian tidak melakukan sesuatu heh?"
"Kami melakukannya" jawab Padma.
"lalu?"
"Hanya saja mereka tidak...eu...mereka...itu...eu..."
Tiba-tiba pintu terbuka. "Demi merlin Miss mione!"Dorota muncul lengkap dengan rambut yang selalu tertata dalam gulungan dan juga seragam pelayan hitam putih kebanggaannya. "Kenapa kau berteriak-teriak? Suara mu bahkan terdengar sampai ke luar. Kau taukan kau harus istirahat."
Hermione menoleh. "Aku tau Dorota. Tapi ada hal yang penting yang harus kubahas"
"No no no. Kau harus istirahat. Kau tidak boleh membahas apapun. Aku sudah cukup toleransi dengan membiarkanmu belajar oke?" Dorota menghampiri. Sebuah kantung berukuran kecil berada disalah satu tangannya.
Hermione menghela napas dengan kesal. Ia harus menuruti Dorota. Kali ini duo kembar Padma dan Parva bisa sedikit bernapas lega. "Apa kau membawa apa yang kuminta?" Hermione segera mengalihkan topik pembicaraannya. Ingatkan ia tidak boleh banyak pikiran?
"Tentu saja. Kata tokonya jika kau tidak puas kau bisa mengembalikan lagi" Dorota pun menyerahkan kantung belanjaannya tersebut.
Hermione mengambilnya. Ada sebuah kotak indah bewarna hitam. Ia membuka kotak tersebut dan langsung tersenyum melihat gelang pemberian Draco. "Ini indah" Suara Hermione memelan. Terdengar sekali ia begitu kagum akan huruf N yang kini terhias di gelangnya.
"Yah memang indah. Tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan semua inisial nama digelangmu itu Mione?" Tanya Parva membuat Padma kesal.
"Oh ayolah Parva. H itu artinya Hermione"
"Lalu D dan N itu apa?" Untuk yang satu itu Padma tidak bisa menjawabnya. Tapi ia yakin D artinya Draco.
Raut kesedihan terlihat menghiasi wajah Hermione. "D artinya Draco dan N tentu saja Narcissa. Malfoy berkata padaku kalau aku hanya boleh menambah inisial nama orang-orang yang berarti bagiku dan baginya. Well sudah pasti Narcissa sangat berarti bagi kami berdua"
Padma, Parva, dan Dorota terdiam. Diam-diam mereka bertiga saling melirik sementara Hermione tersenyum memandangi gelangnya. Mereka bertiga pasti tidak akan mengerti apa yang dirasakan Hermione.
000
"Jadi bagaimana Dobby? Apa kau sudah memastikan dimana sekarang Granger dirawat?" Draco berbicara melalui handphonenya. Ia berada didalam limo saat itu. Yap dia sudah kembali ke London.
"Miss granger sudah pulang tuan. Ia pasti di kediamannya sekarang ini"
"Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi nanti.."
"Tunggu dulu tuan Draco"
"Ada apa lagi heh?"
"Kurasa anda harus tau bahwa rumor London gossip itu tidak benar sama sekali. Aku sudah memastikannya."
Draco menghela napasnya. "Walau kau berkata begitu aku akan tetap menemui Hermione, Dobby"
"Maafkan aku. Bagaimanapun aku hanya takut ayah anda sampai mengetahui kepergian anda ini"
"Itu resiko yang harus ku tanggung. Kau tidak perlu khawatir. Nanti aku akan meneleponmu lagi. Pastikan saja semuanya baik-baik saja"
"Baiklah"
Draco mematikan panggilan tersebut. Ini benar-benar diluar rencananya. Secara mendadak sekali ia nekat untuk kembali ke London. Setidaknya ia bisa bernapas lega karena ayahnya belum tau. Rasa khawatir menghantuinya selama seminggu ini. Ia sangat ingin menemui Hermione. Pokoknya harus menemuinya. Melihat secara langsung bagaimana keadaanya. Draco tak pungkiri ia terkejut akan issue yang diberikan LG. Hermione yang hamil merupakan hal yang paling terakhir Draco dapat pikirkan. Itu sudah pasti tidak benar dan memang tidak benar. Jika itu sampai terjadi pasti akan buruk sekali.
Seperti caranya dulu. Ia menyonggok pemilik apartemen sebelah untuk ke balkon Hermione. Ia berdoa dalam hatinya bahwa Dorota lupa untuk mengunci jendela kamar Hermione. Ini sudah sekitar pukul 11 malam. Hermione pasti sudah tidur. Ini waktu yang lebih baik. Draco akui ia memang terlalu pengecut untuk menemui Hermione dengan bertatap muka secara langsung. Ia masih tidak bisa bayangkan kalau kedua mata cokelat Hermione kini menatapnya penuh benci. Ia tidak bisa menerima itu, betapapun dia pantas mendapatkannya.
Jendela itu langsung terbuka dengan mudah. Tuhan mengabulkan doa Draco rupanya. Ia melangkah masuk dengan pelan. Kamar ini sama sekali tidak berubah. Draco tersenyum mengingat begitu banyak kenangannya bersama Hermione disini. Dalam pencahayaan yang remang-remang oleh lampu tidur, Draco masih dapat melihat Hermione yang berbaring Diranjang dan tertidur tersebut. Draco melangkah kearahnya. Salah satu tangannya terjulur kearah Hermione. Ia terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya memberanikan diri untuk membenarkan letak selimut Hermione.
Secara perlahan-lahan ia duduk disampingnya. Kedua tangan Draco mengenggam erat salah satu tangan Hermione. Ia membelainya pelan dan mengecupnya. Draco pun menyadari sesuatu. Hermione masih mengenakan gelang pemberiannya. Ia tersenyum tapi itu tidak lama. Senyumnya langsung menghilang ketika menyadari Hermione menambahkan inisial N di gelang tersebut. Draco hanya bisa berpikir N itu untuk nama ibunya, Narcissa. Oh Hermione... Ini tidak benar.
Buru-buru Draco menghilangkan perasaan sedihnya. Ini bukan waktunya ia bersedih. Harusnya ia gembira dapat kemari. Draco tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga seperti ini hanya untuk bersedih.
"Aku senang kau baik-baik saja Granger" Draco mencoba tersenyum. Ia berusaha terlihat senang. "Kau benar-benar berhasil membuatku tidak bisa tidur selama seminggu ini Granger. Aku bahkan memiliki kantung hitam di mataku. Aku sudah percis seperti panda. Itu semua karena ulahmu. Harusnya kau mendengarkan Blaise dan Theo. Belum lagi duo kembar India itu juga selalu mengingatkanmu kan? Harusnya kau mendengarkan mereka semua. Tapi kau memang keras kepala."
Draco pun terdiam. Selama lima menit ia hanya memandangi Hermione. Ia lalu menghela napasnya.
"Bagaimanapun ini semua bermula karena diriku sendiri. Maaf... Aku harusnya sadar bahwa kau tidak boleh bersamaku. Aku benar-benar egois dan akhirnya aku justru membuatmu menderita seperti ini. Jika aku bisa memutar waktu Granger, aku pasti tidak akan mencoba mendekatimu ataupun menghancurkan hubungan mu dengan Cedric. Percayalah aku akan menukar apapun untuk bisa melakukan itu."
Untuk kesekian kalinya Draco menghela napasnya. Pikirannya kacau, tapi ia juga merasa jauh lebih senang dapat melihat Hermione sedekat ini. Ia sangat merindukan Hermione. Bahkan semua foto-foto Hermione yang dikirim Blaise dan Theo selama ini tidak lagi ampuh untuk meringankan rasa rindunya. "Penyesalan selalu datang terakhir bukan?." Draco terkekeh. Ia terlihat kesal pada dirinya sendiri. "Dulu aku begitu bersemangat untuk mencari berbagai macam cara untuk membuat hubunganmu dengan Cedric hancur. Lalu aku berusaha mendekatimu. Oh rasanya saat itu aku sangat frustasi karena kau tidak pernah melirikku. Setiap kita bertemu dan bertengkar, diam-diam aku tersenyum senang Granger. Aku bahkan bisa melompat-lompat kesenangan ketika kau menyidirku playboy dan menatap penuh marah pada setiap wanita yang bersamaku. Well jujur saja saat itu kupikir kau cemburu. Aku selalu suka kau yang cemburu."
Draco menjulurkan salah satu tangannya dan membelai wajah Hermione. "Tapi sekarang aku sadar itu perbuatan terbodohku. Kau tak seharusnya mencintai pria seperti diriku Granger. Sekali lagi aku minta maaf padamu." Draco segera menunduk. Kecupan lembut ia berikan pada kening Hermione. Ia menatap sebentar Hermione. Ia begitu ingin mencium bibirnya. Namun tak urung ia lakukan. Ia hanya mengusap pelan bibir itu dengan salah satu jempolnya. Setelahnya Draco bangkit berdiri. Ia harus pergi.
"Aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh lagi Granger. Aku akan memgembalikan kebahagianmu kembali. Itu janjiku"
000
Hogwarts High school.
"Uhhh...I don't like monday" Guman Parva tiada hentinya.
"Ini sudah hampir sepuluh kali kau mengatakan itu Parva" Sahut Padma.
Hermione terkekeh. "Aku bahkan berniat memberikanmu sebuah es krim jika kau menyebut itu untuk yang kesebelas kalinya Parva"
Parva mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Buat apa kau memberiku Es krim Mione. Ini masih terlalu pagi untuk makan es krim."
Hermione berhenti jalan. Padma dan Parva pun ikut berhenti. Mereka saat itu tengah dalam perjalanan menuju loker mereka. Sejak tadi juga murid-murid lain pun mulai saling berbisik melihat kedatangan mereka bertiga. Khususnya kedatangan Hermione
"Tentunya untuk membuat mulutmu itu diam Parva. Kau terlalu berisik oke?"
Parva nyengir. Ia sama sekali tidak merasa bersalah. "Oh" hanya itu yang keluar dari mulutnya. Oh Boy. Hermione memutar kedua bola matanya. Akhirnya ia mulai kembali menjadi dirinya sendiri.
"Bernapaslah Hermione kau tidak perlu terlihat marah begini. Kau baru sembuh oke?" Padma segera menenangkan Hermione.
"Oh demi merlin. Kesabaranku sepertinya akan diuji hari ini."
"Ayolah Hermione kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Padma benar Hermione." Parva akhirnya berbicara juga. "Kau pasti bisa mengatasi semua tekanan ini. Kau akan hadapi orang-orang menyebalkan itu dengan dagu terangkat dan rasa percaya diri yang tinggi. Yang terpenting aku percaya kau pasti bisa menghadapi Draco. Aku sangat mendukungmu sebagai miss independent. Tunjukkan kau tidak butuh Draco. Semangat!"
"Oh boy" Lagi-lagi Hermione menghela napasnya melihat tingkah Parva. "Padma bisa kau mengumpulkan orang-orang?" Hermione segera menatap Padma.
Padma tentu terlihat kebingungan akan permintaan mendadak Hermione tersebut."Buat apa sebenarnya? Kau mau melakulan rencana apa Hermione?"
"Well kedua telingaku ini sudah terasa cukup panas. Tingkat kesabaranku habis dan aku kelewat muak menjadi bahan gossip mereka. Jadi lakukan saja oke?"
"Bbbb...baiklah" Padma segera pergi dengan berlari.
"Lalu aku bagaimana? kau mau aku melakukan apa Mione?" tanya Parva dengan tatapan penuh harap dan bersemangat.
"Carilah lakban Parva?" jawab Hermione menahan kesal.
"Buat?"
"Menutup mulut cerewet mu itu" Hermione pun beranjak pergi begitu saja.
Parva tentu berdiri terdiam dengan rasa heran yang luar biasa. "Hermione kau jahat sekali padaku"
000
Orang-orang saling berbisik. Mereka semua berkumpul dihalaman belakang Hogwarts. Bisikan mereka semua begitu keras. Hermione yang tengah berdiri di kursi taman, dimana ia sering duduki itu pun hanya bisa memutar bola matanya melihat kerumunan orang-orang yang berisik ini. Jujur Hermione merasa berdiri di depan hewan-hewan liar afrika. Yah orang-orang ini terlihar seperti hewan di mata Hermione.
"Oke. Selamat pagi warga Hogwarts yang ku hormati" Hermione mulai menyapa melalui pengeras suara yang diberikan oleh Parva. Kedua saudara kembar itu saling berdisi di sisi kanan dan kiri Hermione. "Aku Hermione jean granger, QueenBee sah kalian sangat senang untuk dapat kembali dan menyapa kalian seperti ini."
Semuanya nampak terdiam. Suasana berisik tadi segera lenyap dan berubah sunyi. Kecuali suara tepuk tangan yang heboh dari Parva.
"Yeahh..." teriaknya begitu saja, tampa menyadari bahwa tak ada satupun yang bertepuk tangan.
"Parva..." Padma memanggil dengan suara berbisik-bisik dan terdengar marah. Untunglah Parva segera mengerti.
"Aku sungguh kecewa karena kalian tidak bertepuk tangan untukku" Ucap Hermione sontak membuat yang hadir di situ bertepuk tangan. "Oke cukup. Aku akan langsung ke intinya saja. Jujur, kalian benar-benar kelewat memuakkan bagiku."
Semuanya secara kompak terdiam. "Aku menghargai kalian mau hadir disini. Tapi bukan berati aku senang. Aku sebenarnya sangat marah mengenai gossip tidak benar yang diberikan London gossip. Kesabaranku semakin habis ketika kalian masih saja membicarakannya walau kalian tau itu tidak benar. Aku tekankan. Aku Hermione Granger tidak akan sebodoh itu hingga aku membiarkan diriku hamil diluar kemauanku. Aku sama sekali bukan wanita yang menyedihkan beberapa waktu lalu. Aku bukan lagi zombie yang akan diam saja melihat kalian merendahkanku. Aku akan bertindak jika kalian mencari gara-gara denganku. Kalian mengerti maksudku itu bukan?"
Orang-orang sontak mengangguk.
Hermione tersenyum. Raut kemarahannya menghilang. Ia langsung tersenyum manis. "Nah jika kalian mengerti. Aku akan senang bila tidak ada lagi yang membicarakan gossip murahan itu. Aku akan sangat menghargainya." Hermione semakin tersenyum. "Kalian bisa bertepuk tangan" nada suaranya manis, semanis madu.
Lagi-lagi semuanya menurut. Walau itu bukan perintah, namun semuanya juga tau secara tidak langsung mereka harus menuruti Hermione. Jujur mereka semua akan berpendapat lebih menyukai melihat Hermione yang terlihat marah dibanding tersenyum seperti ini. Well Hermione seratus persen memang telah kembali rupanya.
Dari sudut matanya Hermione dapat melihat Astoria dan Draco yang Baru hadir. Draco memandangnya dari kejauhan begitu pula Astoria yang tepat berdiri disampimg Draco. Hermione mendengus. Apa mereka mulai berangkat sekolah bersama? yang benar saja, guman Hermione dalam benaknya. Sudah cukup ia bersedih dan kecewa. Bagaimana pun ini awal yang tepat untuk meminta penjelasan Draco dan memulai hal baru.
"Aku sangat senang akhirnya kalian datang juga" Tatapan Hermione tepat mengarah pada Draco dan Astoria. Orang-orang juga menatap kearah mereka. Tiba-tiba kini semua orang seakan memberi jalam bagi pasangan baru tersebut untuk saling menatap dengan Hermione. "Aku bahagia sahabatku akan bertunangan. Aku berkata jujur As. Ini bukan sesuatu sindiran"
Astoria diam saja. Ia berusaha merangkul tangan Draco namun Draco keburu menghindarinya.
"Berhenti membuat keribuatan Granger" Rahang Draco mengeras. Suaranya pun terdengar marah.
"Ayolah Malfoy ini pertama kalinya kita bertemu lagi. Tidak bisakah kau lebih ramah"
"Aku tak ada waktu untuk bermain-main seperti ini Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Bukankah menurutmu kita masih ada beberapa urusan yang harus dibahas."
Hermione turun dari bangku, tempat ia berdiri. Jaraknya kini sekitar dua meter dari Draco maupun Astoria. Orang-orang masih belum beranjak dari tempatnnya masing-masing. Ini terlalu menarik untuk di lewatkan. Mereka semua benar-benar seakan mengelilingi Hermione, Draco, maupun Astoria.
"Memang masih ada yang perlu kita bahas. Tapi tidak disini" Suara Hermione memelan. Lagi-lagi sebisa apapun ia berusaha untuk menghilangkan kesedihannya, tetap saja itu terlihat percuma. Apalagi ketika Draco berada begitu dekat dengannya seperti ini. Entah sudah berapa lama Hermione tidak dapat melihat Draco secara langsung seperti ini. Well Hermione tidak bisa menyembunyikan betapa senang dan rindunya ia terhadap Draco.
"Bahas saja disini" Sahutan Draco begitu dingin. Hermione memejamkan matanya. Rasanya masih menyakitkan. Ia lalu menghela napasnya dan memberanikan diri untuk membuka matanya kembali. "Kurasa orang-orang ini juga begitu ingin mengetahui tentang kita "
"well Malfoy... aku butuh penjelasanmu. Bagaimana pun sebuah surat tidak bisa menjelaskan semuanya."
Draco tersenyum dengan gaya menyebalkan. "Rupanya kau masih belum mengerti apa yang kutulis dari surat itu heh?"
"Aku tidak bodoh hingga aku tak mengerti apa maksud suratmu itu Malfoy. Hanya saja aku masih sulit untuk percaya pada semua yang kau tulis tanpa kau katakan secara langsung di depanku"
Kedua mata Draco menatap tajam. Rahangnya juga mengeras. Ia terlihat sangat marah. "Kau akan terlihat menyedihkan bila aku mengatakannya secara langsung padamu. Oleh sebab itu aku menulis surat sialan itu. Jadi jangan memaksaku untuk menjadi pria yang jahat dimata semua orang Granger"
Hermione mengepal tangannya penuh marah. "Coba saja! Aku mau tau seberapa akan menyakitkannya bila mendengar langsung dari mulutmu"
"Hermione" Kali ini Astoria yang berbicara. Ia menatap Sahabatnya tersebut penuh khawatir. "Kau baru sembuh. Aku tidak mau apabila kau..."
"Aku tak ada urusan dengan mu As. Tutup saja mulutmu dan cobalah tenang. Aku tak berniat mencoba merebut calon tuanganmu ini." Kembali lagi Hermione menatap Draco. "Ayo Malfoy aku menunggumu."
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan katakan bahwa kau bukan wanita yang layak untukku Granger. Seorang Malfoy selalu mendapatkan yang terbaik dan kau bukan yang terbaik bagiku. Aku akui aku senang akan hubungam singkat kita beberapa waktu lalu. Tapi ini bukan lagi waktunya aku bermain-main. Hubungan kita sudah berakhir. Terimalah itu. Aku bosan bila harus bermain-main denganmu. Kau bukan wanita yang tepat untukku"
"Yang benar saja?" Hermione mendengus. "Apa hanya itu ucapan yang dapat kau katakan?"
"Kau mau aku berkata apa lagi heh Granger?"
"jika kau bersungguh-sungguh maka Katakan kau tidak mencintaiku"
Orang-orang kembali berbisik. Suasana berubah ribut. Ini sudah pasti tontonan yang seru bagi mereka. Kedua mata Hermione tiada hentinya untuk menatap Draco. Ia tau dengan sangat jelas, semua ucapan Draco tadi merupakan kebohongan semua. Ia kecewa Draco tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Jauh lebih sakit ketika Hermione akhirnya menyadari Draco tidak mau berjuang bersamanya.
"Aku membencimu" Suara Draco bergetar.
Bagus. Draco bahkan tak berani mengucapkan apa yang diminta Hermione.
Hermione kecewa. "Kau tau Malfoy, aku baru saja menambahkan inisial N dalam gelangku. Kau tentu tau apa arti N itu. Dia pasti kecewa karena kau membohongiku seperti ini. Tapi harus bagaimana lagi. Jika ini yang kau pilih. Aku akan mencoba melupakan hubungan kita. Aku akan katakan ya untuk Cedric. Kami akan kembali bersama. Itukan yang kau mau?"
"..." Draco diam saja. Ia bertanya-tanya apa semalam Hermione tau jika Ia datang.
Hermione mencoba tersenyum. "Jika kau tidak keberatan aku akan selalu memakai gelang ini. So Malfoy... akhirnya aku hanya bisa ucapkan selamat untuk pertunanganmu kelak dengan As. Aku turut senang" Hermione lalu berbalik dan memutuskan untuk pergi. Orang-orang menatap kepergiannya. Padma dan Parva segera mengikuti. Sungguh ini drama pagi yang paling luarbiasa yang pernah terjadi di hogwarts.
000
Harry Pov,
Suara musik yang keras langsung menyambutku. Dentumannya keras sekali. Ini sudah jam Sepuluh malam. Waktunya aku bekerja. Yah ini salah satu dari sekian banyak pekerjaan paruh waktu yang kulakukan. Aku menjadi pelayan di sebuah klub malam, lengkap dengan pakaian pelayanku plus dasi kupu-kupu yang begitu lucu. Entah kenapa aku merasa jadi terlihat seperti gay.
Aku memang baru saja memutuskan mengundurkan diri menjadi kasir di sebuah minimarket. Lagipula siapa yang akan tahan bekerja di minimartket sialan itu. Selalu jaga malam, bos yang cerewat, belum lagi yang terparah tiap hari kau selalu akan dituduh mengambil uang. Oh ya ampun...mengingat itu membuat aku tiba-tiba merinding. Aku sekarang sangat yakin bahwa pilihanku tepat sekali untuk bekerja sebagai pelayan disini.
Walau aku tidak suka tempat ribut, berkelap-kelip dan penuh orang seperti ini, aku tetap bersyukur. Setidaknya aku tidak perlu lagi mendengar omelan bosnya.
"Woowwww" Orang-orang berteriak dilantai dansa. Aku menggeleng keheranan akan semua orang yang terlihat bagai hewan-hewan liar yang sedang menari-nari.
Aku mengantarkan pesanan minuman dari meja ke meja. Sesekali aku menyempatkan diri untuk melihat permainan DJ yang memainkan musik. Orang-orang masih sibuk menari-nari. Sekarang bahkan seepertinya mereka semua berteriak. Sungguh dua kali lipat lebih ribut dari sebelumnya. Suara musik pun berganti secara mendadak. Para pria berbondong-bondong mengerumuni panggung yang dilengkapi sebuah tiang menari tersebut. Well sebenarnya aku sudah biasa untuk melihat para penari mulai menari di tiang itu. Hanya saja kali ini seperti ada sesuatu yang berbeda. Antusias penonton buktinya jauh lebih bersemangat.
Ini membuat diriku penasaran. Aku berjalan lebih dekat untuk melihat siapa yang sebenarnya tengah menari. Kerumunan orang-orang yang didominasi oleh kaum pria membuatku kesulitan untuk melihat. Suara menyanyi pun mulai terdengar. Dari situ aku semakin penasaran. Bagaimana pun jarang sekali para penari itu juga menyanyi.
Hey baby, even though i hate ya
I wanna love ya
I want you
And even though i can't forgive ya
I really want to
I want you
Tell me, tell me baby
Why did you leave me
Cause even though I shouldn't want it
I gotta have it
I want you
Demi apapun... Aku bahkan tidak bisa menutup mulutku melihat pemandangan ini. Shit... bukan karena keseksian dan betapa lenturnya tubuh itu. Tapi itu lebih karena penari dan penyanyi itu adalah Granger. Aku sulit mempercayai ini. Aku bahkan menampar wajahku sendiri, sialnyaa rasanya begitu sakit. Sudah pasti aku tidak bermimpi.
Damn...damn...damn...Kenapa lagi-lagi harus Granger? Apa yang sebenarnyaa ia lakukan disini? Aku benar-benar curiga ia akan merepotkan diriku lagi. Oh come on ayolah Harry. Ingat kau sudah cukup menolongnya. Aku tak akan menolongnya lagi. Apapun yamg terjadi aku tidak akan menolongnya. Dia bukan urusanku...sama sekali bukan urusanku...pokoknya bukan urusanku. Berulang kali aku mengucapkan itu. Aku pun berbalik pergi. Aku putuskan melanjutkan perkerjaanku.
Sekali lagi, apapun yang terjadi aku tidak akan menolong Granger. Langkah kakiku aku gerakan dengan cepat. Tapi mendengar suara musik dan Granger yang masih menyanyi membuat tiap langkahku semakin melambat sehingga berhenti. Aku menoleh kembali kebelakang.
Oh sialan. Kini si Granger itu sudah mulai meliuk-liuk ditiang. Semua langsung berteriak heboh. Granger sendiri tetap bernyayi sambil tiada hentinya tertawa-tawa. Kedua matanya terlihat tidak fokus. Demi apapun, Granger yang mabuk benar-benar mengerikan. Lalu ada apa dengan penampilannya malam ini sih?
Gaya feminim klasiknya menghilang. Rambut cokelat yang selalu terurai rapi dan dihiasi sebuah bando berpita pun telah lenyap. Rambut itu pun hanya terurai asal-asalan. Gaun indah-indahnya juga menghilang. Kini ia hanya mengenakan celanan kulit bewarna hitam yang super ketat dan sebuah tantop jaring-jaring bewarna senada dengan celana dari sini saja aku dapat melihat dengan jelas dalaman atas Granger. Holly damn...damn...damn...granger. Aku bertanya-tanya dari mana kau mendapatkan tantop berjaring-jaring itu heh? Lihatlah! Sekarang kau hampir diterkam oleh segerombolan pria-pria mesum.
Head in the clouds
Got no weight on my shoulders
I should be wiser
And realize that I've got
One less problem without ya
I got one less problem without ya
I got one less problem without ya
One less problem without ya
...
Oh triple damn...Ini bahaya. Salah satu pria terhidung belang yang pernah kutau selama aku bekerja disini, tiba-tiba naik keatas panggung. Oh shit Granger! Kau harus segera turun dan pakailah pakain yang layak. Kau bahkan harusnya keluar dari sini. Granger pakailah otakmu. Ayolah Granger. Come on...Please jangan sampai aku berbuat nekat. Granger...
000
Author pov,
Harry merasa kepanikannya semakin memuncak ketika pria hidung belang itu merangkul Hermione secara mendadak. Tentu Hermione mencoba memberontak. Sayang ia yang kelewat mabuk dan fakta kekuatan pria lebih kuat dari seorang wanita membuat Hermione tidak bisa berbuat banyak.
Suara hentakkan musik masih terdengar keras. Sepertinya orang-orang tidak mempedulikan apapun yang tengah terjadi pada Hermione. Kecuali Harry sepertinya.
"Aku pasti sudah gila" Gumam Harry sebelum akhirnya berlari begitu saja menuju panggung. Dalam kecepatan yang ia sendiri sulit untuk percayai, Harry nyatanya telah berada diatas panggung dan menghajar pria hidung belang itu habis-habisan. Perasaan marah yang teramat sangat menguasainya. Ia terlihat seperti kerasukan ketika ia memukuli pria tersebut.
"Damn it! Kau tak seharusnya menyentuhnya sialan. Kau benar-benar pria mesum yang menjijikkan. Persetan denganmu..."
Berbagai umpatan kasar keluar dari mulut Harry selama ia menghajar pria bajingan tersebut. Hermione yang mabuk terlihat begitu syock. Kejadian ini begitu cepat dan otakknya sama sekali tidak bisa mencerna apapun. Melihat tindakan pemukulan yang mengerikan ini membuat Hermione merasa ingin muntah. Kepalanyaa berdenyut-denyut dan berputar-putar. Ia pusing sekali. Ia butuh keluar. Tampa bicara apapun ia turun dari panggung dan segera berlari. Ia enggak akan sanggub bila masih harus didalam.
"Aku membutuhkanmu Malfoy"
TBC
000
Yaeh akhirnya beres juga chapter kali ini. Uhhhhh...Jujur sangat melelahkan sekali mengetik sebanyak itu. (Ha..ha...ha loh kok jadi curhat ya)
Emmm bagaimana pun aku udah sebisa mungkin memasukkan adegan-adegan yang menurutku penting untuk chapter-chapter kedepannya. Kuharap kalian tidak mati kebosanan membaca chapter kali ini.
Dan soal Hermione yang tidak jadi hamil itu, aku mau minta maaf bila ada yang kecewa. Well aku sih masih tetap pada pendirianku bahwa Hermione masih terlalu muda untuk hamil. Setidaknya ada baiknya kalau ia lulus dulu dari Hogwarts. Jadi masih ada kemungkinan Hermione hamil juga kok. Tapi nanti...
Soooo, kalian pasti bertanya-tanya, jadi apa maksudku sebenarnya membuat adegan Hermione seakan-akan hamil di ch sebelumnya kan? Aku akan menjawabnya. Itu hanya kubuat sebagai ciri-ciri Hermione memang sakit. Lagipula dengan Hermione sakit begitu, aku jadi ada alasan membuat Draco kembali pulang ke london hahaha. Yah kira-kira seperti itulah deh. Sinetron sekali ya wkwkwk...
Seperti biasa mari kita tanya jawab.
Pertama, apa yang kalian rasakan telah membaca ch kali ini?
Kedua, aku benar-benar ingin tau karakter siapa yang kalian suka di LG ini. Dan kenapa?
ketiga, bolehkan aku menggunakan pen name kalian sebagai email masuk di LG?
Terakhir, seperti apa kalian menilai persahabatan antara As dan Bee? Atau kalian justru lebih klop dengan persahabatan Bee dan duo kembar india?
That's it...
Aku akan sangat menghargai dan luarbiasa berterimakasih jika kalian menjawabnya. Tapi andaipun tidak jawab aku tetap akan berterimakasih. Bagaimanapun aku senang kalian mau meluangkan waktu untuk membaca fic aneh dan abal-abalku ini.
Thank to :
Suri - Yulia - Sena - Vii Granger - Chichiyo99 - Nha Chang - Smutty - Andreanibebe - Draco addict - Bw (Aku senang sekali kamu mau mengetik begitu panjang untuk review. Well jujur review darimu selalu aku tunggu2 lo) - dew - Narcisssy - Arinamour036 - Clairy cornell - AbraxasM - Aurora - suzuki van ind - ElectraMalfoy - Yellowers - .1 - dramioni lover - malfnger - bunu - DAN SEMUANYA YANG LAINNYA. AKU SANGAT BERTERIMAKASIH ATAS REVIEW YANG TELAH KALIAN BERIKAN.
Sampai ketemu di chapter berikutnya. Semoga kalian tidak bosan2 untuk membaca kelanjutannya oke?
XOXO. YOU KNOW YOU LOVE ME. LONDON GOSSIP.
