"Give Me A Second Chance" Chapt. 21
*Sebelumnya*
"Ajussi!, tolong appaku!" teriaknya dan masih menangis. Shindong bergegas ke luar saat mendengar Haru memanggilnya.
"Haru~ah, ada apa?,kenapa kau menangis?"
"Appa…hik…appa Haru sakit. Ajussi tolong appaku!" sahut Haru sesenggukkan.
Shindong terkejut, lalu ia bergegas ke rumah Haru, dan Haru berlari di belakang Shindong.
Saat Shindong masuk, Shindong sangat panik dan shock karena Kyuhyun tergeletak tidak sadarkan diri.
"Kyuhyun~ah!, kau kenapa?, Kyu! Sadarlah!" Shindong menepuk-nepuk pipi Kyuhyun, tapi Kyuhyun tidak bereaksi.
"Appaku kenapa ajussi?!, appa Haru kenapa?!" Tangisnya pecah.
"Kita harus membawa appamu ke rumah sakit, Haru" sahut Shindong.
Kemudian Shindong bergegas menggendong Kyuhyun di punggungnya, lalu ia dan Haru segera pergi menuju rumah sakit.
*Selanjutnya*
Donghae berencana pulang ke rumah, karena pekerjaannya telah ia selesaikan semalam. Donghae memijit tengkuk lehernya yang terasa lelah sambil masuk ke dalam lift. Donghae menyandarkan tubuhnya, ia memandangi dirinya di depan dinding lift berlapis cermin, sekilas terbayang dipikirannya wajah Haru saat bermain bersama Kyuhyun di Pantai. Donghae menggelengkan kepalanya dan menjauhkan pikirannya mengenai Haru.
"Kenapa aku selalu terpikir akan anak itu?, Haru…,apa karena ia adalah darah dagingku sendiri?, apa aku peduli padanya?, Akh!, aku berencana ingin merebutnya dari Kyuhyun, bukan karena aku peduli pada anak itu!" batin Donghae menolak apa yang ia rasakan sebenarnya pada Haru.
Lamunan Donghae buyar ketika ponselnya bergetar. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Ia menatap nama seseorang yang sudah lama tidak bertemu dengannya, dan namja itu mengirim email padanya semalam.
"Eunhyuk?, apa dia ingin meminta maaf padaku, karena emailnya semalam?" pikir Donghae.
Kemudian ia menjawab telepon dari Eunhyuk, salah satu sahabat dekatnya semasa kuliah.
"Ada apa?" tanya Donghae ketus.
"Aku ingin bertemu denganmu!, kau ada dimana?" sahut Eunhyuk dingin.
"Aku di kantor!, kau temui aku di cafe dekat kantorku saja"
"Ne" sahut Eunhyuk dan langsung mematikan ponselnya.
"Apa kau masih marah padaku, Hyuk?" gumam Donghae.
Eunhyuk dan Jinho dalam perjalanan pulang ke Seoul. Jinho mengamati Eunhyuk yang terlihat marah sambil mengemudi.
"Kau kenapa hyeong?"
"Aku tidak apa-apa" sahutnya berbohong.
"Oh" Jinho enggan bertanya lebih banyak karena ia tahu, jika Eunhyuk sedang marah ia tidak suka diganggu.
Sepanjang perjalanan menuju Seoul, Eunhyuk banyak diam, dan ia masih tidak habis pikir dengan sikap Donghae yang sebenarnya.
"Jika aku mengingat apa yang kau lakukan pada Ji Won juga Kyuhyun, aku tidak menyangka, jika kau benar-benar keterlaluan!" batin Eunhyuk.
Eunhyuk teringat kembali saat mereka masih Kuliah, Donghae yang ia kenal sangat peduli dengan orang lain, walau ia tidak suka jika dikalahkan oleh orang lain.
~flashback~
"Hae, apa yang kau lakukan?, itu bahaya " tanya Eunhyuk pada Donghae yang menolong seekor anak Anjing yang terperangkap di bawah bongkahan beton , karena salah satu bangunan di Kampus mereka roboh begitu saja.
"Kasihan anak Anjing itu, aku harus menolongnya" sahut Donghae dan berusaha menolong anak Anjing tersebut.
—
"Halmoni, aku akan menolongmu" ucap Donghae pada seorang nenek tua yang terlihat berat membawa barangnya, saat menaiki anak tangga. Donghae bergegas menolong nenek tersebut, Eunhyuk tersenyum pada sahabatnya tersebut, lalu ia ikut menolong nenek itu.
—
"Huh!, kali ini Hyunsik bisa mengalahkanku!, tapi tidak lain waktu, aku akan mengalahkannya!" ucap Donghae kesal karena Hyunsik mengalahkan Donghae saat Olimpiade Sains.
"Sepertinya Tuhan kali ini berpihak pada Hyunsik. Kau tidak perlu marah, mungkin saat ini bukan giliranmu yang menang." ucap Eunhyuk menasehatinya.
"Kau tahu aku sangat benci pada Hyunsik?!, dia terlalu sombong. Jangan-jangan kali ini, dia akan semakin angkuh!" sahut Donghae masih tidak bisa menerima kekalahannya di depan umum.
"Lain kali, kau pasti bisa menang darinya, Hae"
"Nde!, aku akan berusaha untuk selalu menang, bukan hanya dari Hyunsik!, tapi juga dari orang lain!" ucap Donghae menatap tajam kearah Hyunsik dan mengepalkan tangannya.
—
"Hyuk, lihat yeoja itu. Dia cantik ya" Donghae menatap seorang yeoja berparas cantik, sedang duduk menyendiri di Cafe langganan mereka.
"Ah, namanya Ha Ji Won, dia satu Kampus dengan kita, tapi dia mengambil jurusan Seni" sahut Eunhyuk yang ternyata mengenal Ji Won.
"Wah!, kau mengenalnya?, ayo…kenalkan aku padanya" pinta Donghae.
"Baiklah" sahut Eunhyuk, kemudian mereka beranjak dari kursi dan berpindah mendekati Ji Won.
"Ji Won~ssi"sapa Eunhyuk.
"Eunhyuk~ssi" sahut Ji Won tersenyum manis pada mereka.
"Boleh kami duduk?" tanya Donghae.
"Ah…nde, silahkan saja" sahut Ji Won, lalu mereka duduk di depan Ji Won.
"Ji Won~ah, kenalkan…ini Lee Donghae" ucap Eunhyuk memperkenalkannya pada Ji Won.
"Ha Ji Won" Ji Won mengulurkan tangannya pada Donghae.
"Lee Donghae" sahut Donghae menyambut uluran tangannya.
Sejak perkenalan itu Donghae jadian dengan Ji Won. Hampir setiap hari Donghae bercerita mengenai Ji Won, tapi setelah mereka Lulus Kuliah, Donghae pergi tanpa kabar. Dan sejak saat itu pula, Donghae tidak pernah menghubungi Eunhyuk. Karena mereka sama-sama sibuk.
~flashback End~
"Kenapa aku jadi teringat Ji Won, juga Kyuhyun?, apa Ji Won baik-baik saja?, sudah lama aku tidak bertemu dengannya?, apa Ji Won tahu, jika anaknya ada bersama Kyuhyun?" batinnya. Eunhyuk sama sekali tidak tahu bahwa Ha Ji Won sudah meninggal.
Kyuhyun dilarikan ke UGD, di sebuah Rumah Sakit kecil yang terdekat. Haru berdiri di tepi ranjang Kyuhyun, dan masih menangis karena Kyuhyun belum sadarkan diri, dan detak Jantungnya yang lemah.
Shindong meneteskan air mata melihat Kyuhyun yang tidak berdaya karena kondisinya, "Ada apa denganmu sebenarnya, Kyu?" batinnya.
"Ajussi, kenapa appaku belum bangun?" tanya Haru sesenggukkan.
"Appa Haru masih tidur, karena Dokter memberinya obat tidur" sahut Shindong berbohong.
"Appaku kenapa ajussi?, appaku gak meninggal kan?" tanya Haru takut.
"Ani, appa Haru tidak meninggal, appa hanya tidur saja"
"Haru takut appa meninggal, Haru gak mau ditinggal appa, ajussi"
"Haru, appa sangat sayang padamu, tidak mungkin appa Haru akan meninggalkan Haru"
"Waktu di Pantai, appa juga gak bangun-bangun. Haru takut ajussi"
"Kenapa Haru sering kali mengatakan Kyuhyun tidak bangun-bangun?, apa Kyuhyun sering pingsan seperti tadi?" batinnya.
Seorang Dokter datang menghampiri Shindong, "Apa Anda keluarga pasien?"
"Nde" sahut Shindong.
"Saya bisa bicara dengan Anda sebentar?"
"Ne"
"Silahkan ikut ke ruangan saya"
"Ne" sahut Shindong.
"Haru~ah, tunggu di sini saja ya, ajussi mau ke ruangan Dokter ini dulu"
"Ne, ajussi" sahut Haru.
Kemudian Shindong pergi bersama Dokter tersebut ke ruangannya yang masih berada di lingkup ruang UGD.
"Silahkan duduk"
"Ne" kemudian Shindong duduk di depannya, Shindong merasa ada yang tidak beres terjadi pada Kyuhyun, karena wajah Dokter itu terlihat cemas.
"Apa yang ingin Anda sampaikan pada saya, Dok?"
"Setelah saya memeriksa kondisi pasien, sepertinya sel kanker itu sudah menyebar ke organ yang lain" Shindong sangat shock setelah mengetahui penyakit yang diderita Kyuhyun.
"Kan…ker?"
"Nde, kanker ini cukup langka, karena bersarang dibagian Ginjal kanannya, saya sarankan pasien di rujuk ke rumah sakit pusat, agar mendapat pengobatan yang lebih baik. Karena fasilitas di rumah sakit ini belum memadai."
"Apa…dongsaeng saya bisa disembuhkan?"
"Saya bukan Tuhan yang bisa memvonis umur seseorang, tapi…jika dilihat dari kondisi pasien, saya khawatir, jika tidak segera berobat, maka kondisinya akan semakin parah."
Air mata Shindong jatuh begitu saja, ia tidak menyangka jika Kyuhyun harus menderita penyakit ganas.
Sungmin telah membeli ponsel baru, Sungmin duduk di salah satu kursi berwarna putih yang tersedia di kamar tamu, Sungmin mencari nomor ponsel Do Kwang. Sungmin bingung kenapa ia tidak menemukan nomor Do Kwang pada kartu simnya.
"Kenapa tidak ada?" gumamnya dan mencari ulang nomor Do Kwang, setelah berpikir kembali, Sungmin baru sadar, bahwa nomor HP Do Kwang tersimpan dimemori ponselnya yang rusak.
"Aish!,jincha!, kenapa aku bodoh sekali, tidak menyimpannya di kartu simku?!" Sungmin bergerutu kesal pada dirinya sendiri.
Do Kwang menerima tugas dari pihak Rumah Sakit Inha, untuk mengikuti Diklat mengenai penyakit Kanker di Singapura selama beberapa minggu. Karena tugas dadakan ini, Do Kwang menjadi lupa untuk menghubungi Sungmin, karena ia harus segera berangkat.
Changmin dan Hana tiba di depan rumah Kyuhyun, Changmin tampak bingung karena pintu pagarnya tidak tertutup.
"Apa mungkin Kyuhyun dan Haru sudah pergi?"pikirnya.
"Haru~ah!" panggil Hana, tapi Haru tidak keluar.
Changmin mengajak Hana untuk masuk ke dalam, "Kita masuk saja ya"
"Ne samchon" sahut Hana.
Kemudian mereka masuk ke dalam, Changmin semakin heran karena bukannya pintu pagarnya yang terbuka begitu saja, tapi juga karena pintu rumah Kyuhyun yang terbuka.
Hana memanggil Haru tapi tidak ada sahutan, begitu pula Changmin yang memanggil Kyuhyun.
Hati Changmin tidak tenang sehingga ia masuk ke dalam, dan Hana menunggu di luar.
"Hana~ah, tunggu di sini ya"
"Ne samchon"
Changmin membuka sepatunya, kemudian ia masuk tanpa mengetuk pintu.
"Kyuhyun~ah" panggil Changmin.
"Kenapa sepi sekali?, apa Kyuhyun sudah mengajak Haru ke Sekolah?" gumamnya.
Changmin berencana ingin ke kamar Kyuhyun, tapi langkahnya terhenti saat ia melihat darah di lantai.
Changmin jongkok dan memeriksanya, "Darah?"
Mata Changmin melebar saat ia berpikir telah terjadi sesuatu pada Kyuhyun.
"Apa jangan-jangan ini noda darah Kyuhyun?, apa penyakitnya kambuh lagi?" pikirnya.
Changmin bergegas ke luar, lalu memakai sepatu, dan mengajak Hana menemui tetangga depan rumah Kyuhyun.
"Ada apa samchon?" tanya Hana bingung.
"Haru mana?" tanyanya lagi.
"Hana, tunggu sebentar di sini, samchon harus menemui ajussi di rumah ini. Jangan kemana-mana ya"
"Ne" sahut Hana dan menunggu Changmin di depan rumah Shindong.
Changmin semakin heran karena Shindong juga tidak ada di rumahnya, dan pintu rumahnya terbuka begitu saja.
"Tidak salah lagi, pasti telah terjadi sesuatu pada Kyuhyun" yakinnya.
Kemudian Changmin ke luar dan menggandeng tangan Hana, Changmin bertanya pada seorang tetangga Kyuhyun yang baru saja ke luar dari rumahnya.
"Ajumma, apakah Anda tahu, Kyuhyun dan Haru pergi kemana?, dan penghuni di depan rumah Kyuhyun juga tidak ada"
"Mian, saya tidak tahu" sahutnya.
"Ne,gumawo"
"Ye"
"Samchon kenapa?" tanya Hana bingung.
Changmin tidak menyahut, ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Yoochun, "Hyeong, apa Kyuhyun ada di sana?"
"Kyuhyun?"
"Nde, aku ada di rumah Kyuhyun, tapi dia tidak ada, dan aku menemukan noda darah di rumahnya"
"Darah?"
"Nde, hyeong tolong cek, apa di sana ada pasien bernama Kyuhyun? ,Karena aku takut jika penyakitnya kambuh lagi"
"Ne, hyeong akan memeriksa daftar pasien yang masuk hari ini"
"Ne hyeong, kalau sudah menemukannya, tolong segera hubungi aku"
"Ne"
Kyuhyun mulai sadar, ia membuka matanya perlahan-lahan, sayup-sayup ia mendengar suara tangis Haru yang memanggilnya, "Appa bangun!"
Kyuhyun menatap Haru yang tampak bahagia karena melihatnya sadar, "Horeee, appaku sudah bangun!" seru Haru bahagia, dan berlari memberitahu beberapa perawat karena ayahnya sudah sadar.
Kyuhyun tersenyum lemah, dan ia berencana bangun, tapi seorang perawat mencegahnya.
"Anda baru sadar, jangan beranjak dulu. Saya akan memanggil Dokter" cegahnya.
"Tapi…"
"Anda harus tetap istirahat, saya akan segera memanggil Dokter" ucapnya lagi.
"Onni, appa Haru sudah bangun" senangnya, dan memberitahu pada salah satu perawat yang terlihat masih sangat muda.
"Syukurlah gadis kecil, apa kau senang?"
"Mm…Haru senang~~~~ sekali" sahutnya bahagia.
Shindong terdiam di tempat saat melihat Haru mengumumkan pada perawat yang bertugas bahwa Kyuhyun sudah sadar. Air mata Shindong mengalir begitu saja ketika menatap wajah polos Haru yang tampak bahagia.
"Haru~ah, kenapa hal ini harus terjadi lagi padamu?,kenapa Tuhan sangat tidak adil?,Engkau telah merampas Ji Won darinya, dan kini Kau ingin merebut Kyuhyun dari hidupnya?, kenapa Kau lakukan ini Tuhan?!, kenapa?!" batinnya berteriak, Shindong terduduk lemas dan menangis. Seorang perawat terkejut dan mendekati Shindong, "Anda tidak apa-apa?" tanyanya. Shindong tidak menyahut, dan ia masih saja menangis.
Haru memandang Shindong dengan tatapan bingung, kaki mungilnya berjalan menghampiri Shindong, "Ajussi kenapa menangis?" tanya Haru yang kini berdiri di depannya.
Shindong menatap Haru sejenak, lalu ia menarik Haru kepelukannya. Shindong menangis sesenggukkan, dan memeluk erat Haru.
Kyuhyun beranjak dari ranjang pasien, meski perawat memintanya untuk beristirahat. Bukan hanya perawat, pasien bahkan Kyuhyun pun memandangi suasana tangis Shindong yang menjadi sorotan orang-orang.
Kyuhyun menatap sedih kearah mereka, Kyuhyun berpikir Shindong menangis karena ia sudah mengetahui bahwa dirinya menderita Kanker.
Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya, karena dirinya merasa bersalah.
"Apa kau menangis karena mengetahui penyakitku hyeong?, mianhe…aku membuatmu bersedih."batinnya.
"Kenapa aku merasa hidupku selalu menyusahkan orang lain?, appa, eomma, Donghae hyeong, Changmin, dan sekarang kau hyeong. Kenapa…kenapa ini semua terjadi padaku?!"
Teukie mencium punggung tangan Hyorin, karena Hyorin demam tinggi dan belum turun juga demamnya. Teukie sudah menghubungi Dokter keluarganya, untuk datang ke rumah dan memeriksa Hyorin. Cukup lama menunggu, Dokter keluarga mereka datang, "Siwon~ssi, Tolong sembuhkan Hyorin" pintanya.
"Saya harus memeriksanya dulu" sahut Siwon.
"Ne" ucap Teukie, lalu beranjak dan membiarkan Siwon memeriksa keadaannya.
Teukie sangat mencemaskan kondisi Hyorin ketika Siwon memeriksanya, "Bagaimana?" tanya Teukie.
"Sepertinya Hyorin stress"
"Stress?,"
"Nde, apa dia terlalu banyak pikiran hingga membuatnya stress dan demam seperti ini?"
"Nde, itu karena Hyorin terlalu merindukan Kyuhyun"
"Kyuhyun?"
"Nde"
"Aku seperti pernah melihat Kyuhyun beberapa hari yang lalu di rumah sakit"
"Rumah sakit?"
"Nde, tapi mungkin saja aku salah, bukankah Kyuhyun ada di Inggris?"
"Nde, kau mungkin saja salah"
"Mm…,o iya, aku akan menyuntikkan obat penurun demam. Jika demamnya masih belum turun juga, kau harus segera membawanya ke rumah sakit" saran Siwon.
"Ne, gumawo Siwon~ah"
"Ne" sahut Siwon.
TBC
