FINAL FANTASY VERSUS
021
PROMPTO
11.07.748 M.E. | 06.30 AM
Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu bernama Prompto. Terhitung mulai hari ini, dia menduduki kelas enam SD dan memasuki semester pertama. Kegiatan belajar mengajar di sekolahnya berlangsung pukul tujuh pagi sampai satu siang. Ada sesi istirahat dua kali di pukul sembilan pagi dan setengah dua belas siang dengan durasi masing-masing setengah jam. Pada hari pertama tahun ajaran baru ini, Prompto berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya. Dia tiba di sekolah pukul setengah tujuh pagi. Cepat-cepat dia melewati gerbang, menapaki tangga demi tangga hingga tiba di lantai tiga. Dia berlari sambil mencari papan kecil di atas pintu masing-masing kelas. Dia berhenti ketika menemukan papan bertuliskan 6-B. Di kelas itulah tahun ini dia ditempatkan, jadi masuklah dia ke sana.
Ruang kelas itu masih kosong melompong. Belum ada satupun siswa yang datang. Terdapat tiga puluh meja dan kursi yang dibagi menjadi lima baris. Satu siswa mendapat masing-masing satu meja dan kursi. Di depan ada papan tulis hijau lengkap dengan kapur dan penghapusnya, jam dinding, sistem suara untuk menyampaikan pengumuman, dan sebuah TV LCD tiga puluh dua inci. Prompto juga melihat ada dua foto yang dibingkai dan digantungkan di atas papan tulis. Orang di dua foto itu adalah Raja Regis Lucis Caelum XIII dan mendiang Ratu Aulea. Suatu hal yang lazim bagi sekolah-sekolah untuk memajang foto pemimpin Insomnia. Sedangkan di sisi kiri ruang kelas terdapat deretan jendela kaca yang menghadap ke halaman sekolah.
Napas Prompto terengal-engal. Dengan bobot tubuhnya yang mencapai delapan puluh kilogram, dia mudah kelelahan kalau melakukan aktivitas yang menguras tenaga secara ekstrem. Hari pertama tahun ajaran baru adalah penentu tempat duduk para siswa untuk satu semester ke depan. Jadi, didasarkan alasan itu, dia memilih meja paling kanan dan belakang. Dia meletakkan tas selempangnya di meja dan menarik kursi dari bawah meja. Lemak di perutnya bergelambir ketika dia duduk di kursi. Kaos putih berpola coklat di bagian lengannya tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa dia adalah seorang anak laki-laki yang gemuk. Bahkan lemak menumpuk di wajahnya. Pipinya tembem dan dia nyaris tampak tidak memiliki leher karena dagunya yang berlipat.
Lima belas menit kemudian, para murid mulai berdatangan satu demi satu. Kelas menjadi penuh sekitar lima menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Prompto mengenali ada sekitar lima belas siswa yang pernah sekelas dengannya di tahun-tahun ajaran sebelumnya, tapi dia tidak pernah mengobrol dengan mereka. Pada kenyataannya, Prompto tidak memiliki teman sama sekali. Kepercayaan dirinya rendah karena penampilan fisiknya dan dia juga tidak pandai dalam mata pelajaran apapun, terutama matematika. Apa yang bisa dibanggakan dari dirinya? Dia selalu merendahkan dirinya sampai-sampai dia terlalu takut untuk sekedar menyapa orang-orang yang ditemuinya sepanjang hari.
Selama dua jam ke depan, Prompto berpura-pura memerhatikan guru yang tengah mengajar. Dia mencoret-coret buku catatannya dengan menggambar hewan Chocobo yang disukainya. Dia bermimpi suatu saat nanti ingin menunggangi burung bertubuh besar itu sambil menyanyikan lagu tema Chocobo yang telah terekam di dalam otaknya. I wanna ride my chocobo all day~. Dengan benak yang membayangkan berbagai hal mengenai Chocobo, tanpa disadarinya bel telah berbunyi. Saatnya bagi para siswa untuk menikmati jam istirahat pagi.
Prompto mengeluarkan bekal (atau yang dianggapnya sebuah "bekal") berupa junk food: hamburger keju, kentang goreng, dan minuman soda. Dia selalu membeli paket kesukaannya itu dari franchise toko cepat saji Crow's Nest yang terkenal dan memiliki banyak cabang yang tersebar di Lucis. Ada logo penguin hitam mengenakan topi dan baju hijau di kemasan Crow's Nest itu. Prompto menghabiskan bekalnya hanya dalam lima menit, tak mampu menahan nafsu makannya yang besar setiap kali berhadapan dengan makanan apapun yang tampak lezat baginya. Mau bagaimana lagi, perutnya yang gemuk membutuhkan banyak asupan kalori.
Lima belas menit selanjutnya dia habiskan dengan mencermati foto-foto hasil potretnya dengan menggunakan kamera saku pribadinya. Dari balik kacamata kotaknya, dia melihat foto hewan-hewan yang tidak sengaja dia temui sepanjang perjalanannya antara rumah dan sekolah. Ada foto seekor kucing hitam di dekat tong sampah, anjing pudel yang sedang berjalan dengan sang majikan, anjing Shiba Inu yang menatap ke luar jendela dari rumah tetangga, dan dua ekor kucing yang sedang tidur di jalanan. Tidak ada satupun manusia dalam kumpulan foto itu. Memotret manusia hanya akan membuat kepercayaan diriku semakin rendah, pikirnya.
Ketika Prompto memperhatikan foto-foto itu, ada tiga orang siswa sedang mengobrol dan saling bercanda di dekat mejanya.
"Akhir minggu ini kita lari bareng lagi, yuk!" kata seorang siswa.
"Mau berapa kilometer kali ini? Tiga atau lima?" timpal siswa lainnya.
"Sepuluh kilometer, dong! Masa mentok di lima terus?" protes siswa ketiga. Tidak sengaja dia melangkah terlalu mundur hingga menabrak meja Prompto, membuat tubuh Prompto sedikit bergeser. "Maaf!" sesal siswa itu.
Tidak apa-apa, kok! Prompto ingin membalas, tapi dia malu untuk mengucapkannya. Kenapa sulit sekali untuk sekedar berkata-kata? Prompto kesal dengan dirinya sendiri. Dia memilih diam tanpa menoleh sama sekali seperti patung pada siswa itu. Dia bisa merasakan ketiga siswa itu saling bertatapan. Berselang dua detik, salah seorang dari mereka mengajak dua temannya untuk pergi meninggalkan Prompto.
Palingan mereka menganggapku orang yang pendiam atau dingin. Mau bagaimana lagi? Apa yang bisa kulakukan? Mustahil untuk mengubah kepribadianku apalagi fisikku dalam waktu singkat. Biarlah orang-orang mengatakan hal jelek di belakangku. Toh aku tidak peduli dengan diriku sendiri, jadi untuk apa aku peduli akan pendapat orang lain?
Tiba-tiba Prompto merasa kebelet pipis. Dia meninggalkan kelas dan melintasi koridor dengan sepasang mata birunya masih tertuju pada kamera saku di tangan.
"Pangeran Noctis, kamu punya berapa pelayan?" Terdengar suara seorang siswi beberapa meter di depannya di koridor itu.
Pangeran Noctis katamu?
Walaupun Prompto satu sekolah bersama Noctis sejak kelas satu SD, dia tidak pernah sekelas dengan sang Pangeran. Oleh karena itu, dia tidak mendapatkan kesempatan untuk mengobrol, bahkan sekedar menyapa Noctis. Apalagi ditambah dengan kepribadiannya yang pemalu, kemungkinan untuk berinteraksi dengan seseorang berpangkat istimewa seperti Noctis hampir mencapai nol persen.
Merasa penasaran, dia meluruskan wajahnya dan mendapati sang Pangeran sedang dikerumuni empat siswi. Sepanjang pengamatannya selama ini, Noctis selalu mengenakan pakaian serba hitam. Apa dia tidak bosan terus-menerus memakai pakaian berwarna monoton seperti itu? pikirnya.
"Seratus pelayan, ya?" tanya siswi kedua.
"Tidak mungkin! Lebih dari seratus 'kan?" sanggah siswi ketiga.
Siswi keempat mendekatkan wajahnya kepada Noctis. Nada bicaranya terdengar mendesak. "Jadi ada berapa banyak? Katakan pada kami!" Noctis tidak menjawab. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia membalikkan badan dan meninggalkan kerumuman siswi itu.
"Pangeran Noctis, mau pergi ke mana?" seru seorang siswi.
"Ke toilet," jawab Noctis cuek.
Bukannya toilet ada di ujung depan? Dia pasti berbohong untuk menghindari kerumunan perempuan itu!
Noctis berjalan melewati Prompto. Prompto buru-buru bergerak ke samping agar tidak menabrak sang Pangeran. Dia terpana melihat aura Kerajaan yang terpancar dari wajah sang Pangeran ketika mereka berdekatan satu sama lain, sampai membuat mulutnya menganga lebar.
Wow! Pasti rasanya keren sekali menjadi seorang Pangeran. Andaikan saja aku bisa berteman dengannya… Tidak, tidak, tidak. Orang biasa sepertiku tidak akan mungkin bisa berteman dengan seorang Pangeran seperti dia. Jangan berharap terlalu tinggi, hei Prompto!
Dia menghembuskan napas panjang. Kekecewaan merekah dalam hatinya. Lalu dia menyimpan kamera saku ke dalam kantung celana pendeknya dan pergi bertolak belakang dengan sang Pangeran menuju toilet.
Di dalam toilet, selesai kencing, dia mencuci tangan dan mukanya yang berminyak. Diambilnya sehelai sapu tangan yang selalu dia bawa dalam kantung celana dan dia mengeringkan wajah dengan itu. Sapu tangan itu berwarna krem dan ada nama 'Prompto Argentum' di pojok kanan bawah. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel. Dengan rambut pirang yang tebal dan poni yang panjang sampai menutupi kening, wajahnya tidak jauh berbeda dari bokong Chocobo.
Dasar jelek, kau Prompto! Dengan cepat dia menyingkirkan wajah dari cermin untuk berhenti menghina dirinya sendiri.
Sebelum pulang ke rumah, Prompto mampir ke Crow's Nest untuk membeli makan malam. Perjalanan dari sekolah ke Crow's Nest dan ke rumah memakan waktu satu jam. Dia terbiasa jalan kaki karena keluarganya tidak memiliki kendaraan. Lagipula, dia bisa sekalian memotret hewan-hewan dan pemandangan acak yang ditemuinya selama perjalanan pulang, jadi dia tidak bermasalah dengan itu.
Tempat tinggal dia berada di sebuah komplek perumahan di pinggir Tembok Insomnia bagian selatan, tepatnya di Distrik B. Tinggi Tembok itu mencapai dua ratus meter. Saking tingginya, Tembok itu menghalangi sinar matahari untuk mencapai komplek perumahannya. Imbasnya, pukul tiga sore terasa bagaikan pukul enam sore karena intensitas cahaya yang menghilang dengan cepat.
Ketika Prompto tiba di beranda rumah, dia mengecek kotak pos. Dia menemukan dan mengambil sebuah amplop yang disegel ketat. Tidak ada catatan nama atau alamat pengirim di amplop itu. Hanya ada sebuah tulisan yang diketik menggunakan komputer yang berbunyi, "Kepada Yth. Tuan/Nyonya Argentum. Kukirimkan tunjangan bulanan reguler untuk Prompto melalui surat ini. Terima kasih."
Prompto mendesah. Semenjak kecil, dia sudah mengetahui bahwa kedua orangtuanya adalah orangtua angkat. Biaya kehidupannya selalu ditanggung oleh orang misterius yang sama sekali tidak dia kenal. Siapapun orang itu, yang pasti dia adalah orang yang kaya raya karena setiap bulan Prompto selalu mendapatkan tunjangan sebesar seratus ribu Gil. Menambah keganjilan dalam hidupnya, kedua orangtua angkatnya jarang sekali berada di rumah. Ini menjadi alasan utama Prompto selalu membeli makanan cepat saji karena tidak ada orang yang menyediakan makanan untuknya di rumah. Dia sendiri tidak bisa memasak, jadi pilihan apa yang bisa dia ambil?
"Aku pulang," kata Prompto dengan lesu ketika dia masuk ke dalam rumah. Walaupun dia tahu tidak ada orang yang bisa mendengarnya atau membalasnya, dia sengaja melakukan itu untuk membuat dirinya merasa lebih baik setiap kali menapakkan kaki di rumah yang kosong. Rumahnya berukuran kecil, tapi kekosongan membuat rumah itu tampak terlalu luas untuk ditempati seorang diri.
Prompto masuk ke ruang serba guna yang berfungsi sebagai dapur, ruang makan dan ruang keluarga. Dia membuka bungkusan Crow's Nest sambil berkata parau, "Selamat makan." Dia menghabiskan malam itu dengan makan dan tidur sendirian.
Keesokan hari dalam perjalanan pulang dari sekolah, Prompto menemukan seekor anak anjing berbulu putih sedang berjalan di trotoar. Dia mengangkat kamera saku, berniat untuk memotret anak anjing itu. Tapi dia menyadari ada yang aneh dengan anak anjing itu karena jalannya pincang. Dia mencermati dan menemukan ada luka penuh darah di kaki kiri belakang anak anjing itu. Anak anjing itu tampak kesakitan dan mulai menjilati lukanya. Ada sebuah kain hijau terikat di kaki kanan depan dan melingkari tubuh anak anjing itu. Terselip sebuah buku catatan bersampul merah di sana.
Sebagai pencinta hewan peliharaan, Prompto terdorong untuk membantu anak anjing itu. Dia berjongkok dan mengangkat anak anjing itu ke atas pahanya. Sang anak anjing memberontak, tapi Prompto berusaha menenangkan. "Tidak apa-apa. Aku memegangmu," kata Prompto lembut. Dia mengambil sapu tangan yang selalu dibawanya dan membalut luka sang anak anjing.
Setelah itu, Prompto menurunkan sang anak anjing kembali ke trotoar. Dia mengelus punggung sang anak anjing dengan halus. "Nah, kamu akan lebih baik seperti ini." Sang anak anjing mengambil dua langkah, tapi segera berhenti dan duduk di trotoar. Tampangnya lesu.
"Apa kamu lapar?" tanya Prompto. Sang anak anjing mengangguk. Maka dari itu, Prompto membawa masuk anak anjing itu ke dalam rumah. Setibanya di rumah, Prompto cepat-cepat masuk ke dapur. Dia membuka pintu kulkas, berharap-harap cemas masih ada persediaan susu yang tersisa.
Ah, ini dia! Setelah menemukan sebotol susu, dia menuangkan isinya ke sebuah mangkuk. Sang anak anjing mulai minum dengan lahap. "Aku juga punya makanan untukmu," Prompto menawarkan. Sang anak anjing menggonggong seakan menerima tawaran Prompto dengan senang hati.
"Mungkin ada seseorang yang mencarimu. Sebaiknya aku menyebarkan pamflet," gumam Prompto. Dia mengarahkan kamera saku pada sang anjing, berniat untuk memotret dia untuk bahan pamflet. Sayangnya, sang anak anjing tampaknya tidak mau dipotret, jadi dia menendang mangkuk hingga menumpahkan susu ke celana Prompto. "Hei, hati-hati, dong!" keluhnya.
Prompto mengelap tumpahan susu di celana. Ketika dia berjongkok, dia menatap lagi pada buku bersampul merah yang dibawa oleh anak anjing itu. Dia menjadi penasaran dengan isi buku itu. Mungkin ada petunjuk mengenai majikanmu di dalam buku ini.
Anak laki-laki tambun itu mengambil buku itu dan mulai membaca di meja makan. Pada balik sampul depan buku, dia menemukan sebuah bunga biru. Dia tidak tahu jenis bunga itu, tapi dia menyukai wanginya yang menyegarkan. Pada halaman pertama ada pesan berangkai yang ditulis dengan indah. Dia menebak pemilik buku itu pastinya seorang perempuan.
Prompto mulai membaca paragraf pertama pesan itu.
Dear Pangeran Noctis,
Bagaimana kabarmu? Sejak kejadian itu, aku selalu mendoakan keselamatanmu. Kuharap Pangeran sudah pulih total dan dapat berjalan dengan normal kembali. Aku juga mengharapkan hal yang sama bagi Raja Regis.
Prompto terkejut menemukan nama "Pangeran Noctis" di salam pembuka pesan itu. Benaknya mulai meloyangkan berbagai kemungkinan.
Wah, seriusan nih? Buku ini dikirimkan untuk Pangeran Noctis yang itu? Sebuah kebetulan yang amat langka! Tunggu. Mungkin saja ada Noctis lainnya di kota sebesar ini. Eh, tunggu lagi. Orang ini jelas-jelas menuliskan sebutan "Pangeran" untuk Noctis. Siapa lagi seorang Pangeran selain Noctis selain dia? Bahkan orang ini menyebutkan nama Raja Regis. Tidak salah lagi, buku ini pasti ditujukan untuk Noctis yang satu sekolah denganku!
Karena tidak baik merusak privasi seseorang, Prompto tidak membaca penuh surat itu, jadi dia hanya mengamati dengan cepat sampai menemukan nama penulis pesan itu di halaman sebaliknya.
N/B: Aku akan menukar Umbra dan Pryna secara bergantian untuk pesan-pesan berikutnya.
Salam hangat,
Lunafreya Nox Fleuret
Dia terkejut untuk kedua kali ketika menemukan nama "Lunafreya Nox Fleuret" di penutup pesan itu. Ketika sedang mengikuti mata pelajaran sejarah di sekolah, dia pernah mendengar nama itu.
Kalau tidak salah ingat, Lunafreya Nox Fleuret ini seorang Putri Tenebraen. Ibunya meninggal dalam invasi Kekaisaran Niflheim ke Tenebrae empat tahun lalu. Wah, aku tidak menyangka Pangeran Noctis ternyata berhubungan dengan Nona Lunafreya! Eh, tapi kalau dipikir-pikir nggak aneh, kok! Mereka 'kan sama-sama keturunan Kerajaan yang terhormat. Apalagi menurut gosip yang beredar, Pangeran Noctis sempat berkunjung ke Tenebrae untuk berobat.
Prompto bersandar di kursi, pandangannya tertuju ke lampu pijar yang menggantung di atas meja makan. Dia tidak menyangka dapat terlibat dalam hubungan spesial antara dua anggota Kerajaan yang sedetik lalu terasa berada sangat jauh dari jangkauannya. Apa yang bakal terjadi dengan dirinya, nih?
Pandangannya teralih pada anak anjing yang duduk manis di dekat kakinya, tengah menunggu makanan yang dia janjikan. "Jadi majikan kamu Nona Lunafreya, ya?" tanya Prompto. "Nama kamu Umbra atau Pryna?"
Sang anak anjing tidak menjawab. Prompto menghela napas, lalu berpikir sebentar untuk memutuskan nama panggilan yang tepat bagi anak anjing itu. "Tubuh kamu kecil, jadi aku panggil kamu 'Tiny' saja, ya?"
Sang anak anjing menggonggong riang seolah setuju menerima nama 'Tiny'.
Dia tertawa ringan. "Baiklah, Tiny. Bulu-bulumu kotor sekali. Jadi sehabis kamu makan, aku akan memandikanmu."
Tiny menggonggong lagi.
Setelah itu, mereka hidup berdua di rumah kecil itu selama tiga hari ke depan. Prompto selalu berlari sekuat tenaga sepulang sekolah menuju rumah untuk bertemu Tiny. Mereka makan, mandi, dan tidur bersama. Prompto bahagia dengan kehadiran Tiny secara kebetulan. Tiny dapat mengisi kekosongan di rumah. Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat karena pada suatu malam, Tiny mengendap-endap pergi meninggalkan Prompto yang sedang tidur lelap tanpa memberikan tanda apapun.
Pada pagi esok, Prompto cemas bukan main dengan kepergian Tiny yang terlalu mendadak. Dia berlari ke luar rumah dan mencari-cari Tiny di sekitar rumah selama setengah jam, tapi usahanya sia-sia. Imbasnya, dia malah terlambat hadir di sekolah dan disetrap oleh guru.
Bagaimana kalau Tiny tersesat lagi? Atau lebih parahnya, kalau terluka lagi? Padahal aku sudah menganggap dia sebagai hewan peliharaan yang kusayangi.
Sulit baginya untuk berkonsentrasi selama mengikuti pelajaran di sekolah. Kemudian pada sore harinya, Prompto pulang dengan lesu setelah membeli makanan di Crow's Nest. Mengikuti kebiasaannya, dia membuka kotak pos sebelum masuk ke dalam rumah. Tanpa disangka-sangka, dia menemukan secarik amplop putih yang bertuliskan, "Kepada Yth. Tuan Prompto Argentum. Dari Lunafreya Nox Fleuret."
Membaca nama sang Putri, Prompto cepat-cepat membuka pintu rumah dan menghampiri meja makan. Dia membuka amplop putih itu dengan hati-hati. Ada dua lembar kertas dengan tulisan sambung yang indah. Prompto mengendus kertas itu yang wanginya harum. Sepertinya kertas itu telah disemprotkan parfum berbahan sama dengan bunga biru di buku catatan merah karena beraroma serupa.
Prompto mulai membaca isi surat itu dengan pelan-pelan.
Dear Tuan Prompto,
Aku berharap surat ini dapat kamu terima dalam kondisi yang baik. Perkenalkan, namaku Lunafreya Nox Fleuret. Aku memperoleh namamu dari sapu tangan yang kamu ikatkan pada anjingku, Pryna. Berdasarkan itu, dayangku membantuku untuk mencari alamat rumahmu. Aku percaya kamu adalah orang yang menemukan Pryna. Hatiku terasa berat ketika memikirkan Pryna yang menghilang. Tetapi kami telah berkumpul kembali dengan bahagia berkat bantuanmu. Aku juga menyadari bahwa Pryna sempat terluka dan kamu merawatnya sampai sembuh. Karena itu, aku sungguh berterima kasih padamu.
"Tiny!" seru Prompto. Sekejap kecemasan menghilang mengetahui kenyataan bahwa Tiny alias Pryna telah pulang dengan selamat pada sang majikan di Tenebrae. Merasa senang, dia lanjut membaca lembar kedua surat itu dengan antusias.
Kurasa kamu sudah mengetahui bahwa aku mengirimkan Pryna untuk mengirimkan buku pada Pangeran Noctis karena Pryna tidak membawa pulang buku itu padaku. Aku ingat aku pernah berjanji pada Pangeran Noctis untuk mencarikan teman untuknya. Bolehkah aku meminta bantuanmu sekali lagi? Kamu adalah orang yang baik, Tuan Prompto. Aku berharap kamu dapat berteman dengan Pangeran Noctis dan menyampaikan buku catatanku padanya.
Terima kasih atas bantuanmu. Semoga kita dapat bertemu suatu saat nanti ketika kamu sudah berteman dengan Pangeran Noctis.
Salam hangat,
Lunafreya Nox Fleuret
Mengerjapkan mata berkali-kali, sulit baginya untuk memercayai permintaan pribadi Nona Lunafreya padanya. "Aku berteman dengan Pangeran Noctis? Apa itu berarti Nona Lunafreya ingin aku berbicara dengan Pangeran Noctis?" Tanpa disadarinya, dia meremas surat di tangan ketika membayangkan persahabatan yang mungkin akan dijalaninya bersama Noctis. Prompto terkesiap dan buru-buru merapikan dua lembar kertas itu di atas meja. "Nona Lunafreya mengandalkanku!" serunya.
Dua lembar surat itu telah memberikan motivasi yang kuat bagi Prompto untuk memberanikan diri menghadap Noctis. Dia tahu ada kemungkinan Noctis menolak kehadirannya yang mendadak, apalagi dengan statusnya yang bukan siapa-siapa bagi sang Pangeran. Namun baru kali ini ada seseorang yang mengandalkan bantuannya. Dia tidak ingin mengecewakan Nona Lunafreya. Dia ingin dirinya berguna bagi Nona Lunafreya. Jadi, meskipun masih ada segumpal keraguan dalam hati, dia memaksakan diri untuk melakukan satu hal yang paling ditakutinya: menyapa orang lain.
Ketika jam istirahat siang esok hari, diam-diam Prompto membuntuti Noctis. Sang Pangeran selalu menghindari keramaian dengan berdalih, "Ke toilet". Tapi Prompto yang pernah menyaksikan itu tidak akan mudah tertipu. Ternyata "toilet" yang dimaksudkan Noctis adalah halaman belakang sekolah yang jarang dilalui orang. Sang Pangeran menyendiri dengan menyandarkan punggung di sebuah tiang. Di dekatnya ada dua tungku pembakaran sampah. Di seberang ada empat keran terbuka tempat para siswa bisa minum atau mencuci tangan dan kaki.
Untuk beberapa menit, Prompto mengawasi Noctis dari balik dinding. Noctis tampak tenggelam dalam pikirannya dan kesepian. Mungkin di depan banyak orang, dia bertingkah cuek dan sombong, tapi jauh di dalam hatinya, sebenarnya dia senantiasa menunggu seseorang yang ingin berteman dengannya dengan tulus. Karena itu, Nona Lunafreya yang memahami perasaan Noctis meminta bantuan Prompto untuk berteman dengan sang Pangeran.
Prompto terus mengingat permintaan khusus Nona Lunafreya padanya. Ya, aku bisa melakukan ini! Dia mengepalkan tinju. Jantungnya berdegup kencang. Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk keluar dari persembunyian dan muncul di hadapan Noctis.
"Ha-Halo Pangeran!" sahut Prompto terbata-bata. Menyadari kehadiran Prompto, Noctis menoleh padanya.
Tatapan matanya tajam sekali! Aku jadi semakin takut!
Prompto mengangkat tinggi kaki kanannya ketika ada sebuah tali melintang di jalan. "Ada kiriman untuk—ahhh!" Sayangnya, Prompto tidak memerhatikan kaki kirinya yang tersangkut di tali itu. Dia pun jatuh terjerembab ke tanah. Di saat seperti ini, lemak berlebih di perutnya yang bulat berguna untuk menjadi armor dadakan untuk melindungi tubuhnya dari hantaman yang keras.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Noctis cemas. Sang Pangeran berlari menghampiri Prompto.
"Y-Ya. A-Aku baik-baik saja," jawab Prompto grogi.
Sang Pangeran menyadari ada buku catatan bersampul merah di tangan Prompto. Dia terkejut dan bertanya untuk memastikan, "Dari mana kamu mendapatkan buku itu?"
Prompto menoleh pada buku di tangannya. "O-Oh ini… A-Aku tidak sengaja menemukan Pryna y-yang terluka k-ketika dia sedang m-membawa buku ini untukmu."
"Kamu kenal Pryna?"
"U-Uhm, ya? N-Nona Lunafreya meminta bantuanku u-untuk memberikan buku ini p-padamu."
Noctis melipat telunjuk di bawah dagu. "Jadi begitu ya. Aku mengerti sekarang." Dia mengambil buku itu dari Prompto dengan tangan kiri. Lalu dia tertawa dan menyodorkan tangan kanan pada Prompto. "Sini kubantu kamu berdiri." Prompto menyambut uluran tangan Noctis.
Sang Pangeran tampak kesulitan untuk mengangkat Prompto sampai tangannya bergetar. "Tunggu sebentar," kata Noctis. Dia menjepit buku catatan di ketiak, lalu kali ini mencoba mengangkat Prompto dengan dua tangan. Tapi tetap saja dia tidak mampu membantu Prompto bangkit. "Ugh. Kamu berat." Prompto kaget mendengar komentar Noctis.
Dengan dorongan terkuatnya, akhirnya Noctis berhasil mengangkat Prompto, diikuti dengan bunyi bel dari dalam gedung sekolah yang menandakan bahwa jam istirahat telah usai. "Terima kasih atas bukunya. Sampai jumpa," kata Noctis sambil tersenyum tulus, lalu berlari dengan gesit meninggalkan dia sendirian.
Pengakuan spontan sang Pangeran masih membuat Prompto terngiang-ngiang dan berdiri seperti patung. "Aku berat?" gumamnya. Mendadak dia teringat akan pesan Nona Lunafreya. Dia berputar dan mengejar sang Pangeran sambil berseru, "T-Tunggu! M-Maukah kamu—ahhh!" Karena terburu-buru, kakinya lagi-lagi menyenggol tali yang sama, dan dia terjatuh untuk kedua kali.
Anak laki-laki itu berguling di tanah. Matanya tertuju ke langit biru dengan awan-awan tipis seperti kapas di siang itu. "Sudah kuduga. Tidak mungkin kita bisa berteman."
Aku berharap kau dapat berteman dengan Pangeran Noctis. Penggalan harapan Lunafreya terus terngiang di benak Prompto. Dia menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. Dia menarik kaos yang tidak sengaja bergeser hingga menampilkan perutnya yang bulat.
"Tidak! Kita pasti akan berteman!" Dengan pendirian itu, Prompto bangkit dan berlari kembali ke dalam kelas.
Setelah pertemuan perdana dia dengan Noctis, rutinitas Prompto berubah total. Untuk menurunkan kadar lemak dalam tubuh, dia rutin joging setiap hari, pagi sebelum berangkat ke sekolah dan sore sepulang dari sekolah. Surat dari Nona Lunafreya dia masukkan ke dalam amplop dan disimpan baik-baik dalam sebuah kotak bekas perhiasan ibu angkatnya. Sebelum dia joging, dia selalu mencium amplop beraroma menyegarkan itu untuk membakar semangat. Bahkan ketika cuaca tidak mendukung—seperti turun hujan sebagai contohnya—dia mencium kembali amplop itu dan memaksa dirinya untuk tetap joging dengan mengenakan jas hujan.
Prompto memberanikan diri bertanya kepada tiga siswa yang pernah menyenggol mejanya untuk mendapatkan tips-tips menjadi seorang pelari yang andal. Tanpa diduga, mereka meladeni dia dengan ramah. Ternyata selama ini dia terkungkung oleh pikiran negatif yang memproyeksikan balik gambaran buruk dari dirinya pada orang lain, padahal mereka tidak berpikir seperti itu. Secara berangsur, Prompto mulai mempelajari kekuatan dari berpikir positif untuk membangun kepercayaan diri.
Berdasarkan tiga teman sekelasnya itu, Prompto mendapat tiga tips yang berguna untuk memperoleh hasil yang optimal dari rutinitas jogingnya: pantau terus perkembangan fisik dari hari ke hari, atur pola gizi makanan sehari-hari, dan berlarilah dengan pelari yang berpengalaman.
Di sebuah cermin panjang di rumah, Prompto menggunakan kamera saku untuk memotret seluruh bagian tubuhnya dari ujung rambut ke ujung kaki. Foto-foto itu dia tempel di pintu kulkas dan dia gunakan untuk mengukur perubahan fisiknya sepanjang waktu.
Dia juga berhenti total menyantap makanan cepat saji dan menggantinya dengan salad. Meskipun pada awalnya dia ingin muntah setiap kali menelan salad yang tidak seenak makanan Crow's Nest kesukaannya, dia menambahkan bumbu-bumbu penyedap rasa pada salad itu.
Untuk tips terakhir, ada seorang pelari bertubuh atletis yang selalu menyapa dan menyemangati Prompto setiap kali mereka berpapasan ketika joging di komplek perumahannya. Dari pelari itu, Prompto belajar cara menyapa yang baik. Semakin lama, Prompto semakin berani menyapa setiap orang yang ditemuinya di jalur joging itu dan di sekolah. Suaranya semakin lantang dan bersemangat. Dia merasa bagaikan pribadi yang berbeda.
Walaupun prosesnya panjang dan tidak mudah, Prompto tidak pernah patah semangat untuk memperbaiki diri baik dari luar dan dalam. Dia tidak pernah menampakkan wajah pada Noctis sejak interaksi pertama mereka di halaman belakang sekolah. Dia akan menyapa sang Pangeran ketika dia menilai dirinya telah menjadi seorang teman yang layak.
Setiap langkah yang ditempuh Prompto di jalur joging akan menggiringnya menjadi pribadi yang lebih positif. Dia yakin dia pasti akan berteman dengan Noctis suatu saat nanti sesuai dengan harapan Nona Lunafreya yang ditaruh padanya.
Prompto tersenyum lebar. Pandangannya lurus ke depan, jauh ke garis finis pada jalur joging yang tampak semakin mendekat. Dia mengangkat tangan tinggi-tinggi ke langit. "Aku pasti akan berteman dengan Pangeran Noctis!" serunya hingga bergema di langit pagi itu.
05.07.752 M.E. | 07.15 AM
Prompto memotret seluruh tubuhnya di sebuah cermin panjang. Jerih payahnya rutin berjoging telah membuahkan hasil yang memuaskan. Tingginya mencapai seratus tujuh puluh tiga sentimeter dan posturnya ramping. Perutnya rata dan lemak-lemak berlebih yang pernah tertimbun di badannya berhasil dia bakar. Pipinya tidak lagi bulat, tapi tirus. Dia tidak perlu menggunakan kacamata lagi. Dengan kata lain, dia berhasil mendapatkan tubuh ideal yang diimpikannya sejak empat tahun silam.
Dengan usia yang menginjak enam belas tahun, hari ini Prompto resmi menjadi seorang siswa setara SMA. Dia mengenakan seragam sekolah berupa kemeja putih lengan panjang, celana panjang abu-abu dan jas hitam. Seuntai dasi hijau berpola putih melingkari lehernya. Setelah rapi, dia meninggalkan rumah sambil berseru, "Aku pergi!"
Dia telah mencari informasi gedung SMA yang diduduki oleh Noctis untuk memastikan bahwa mereka satu sekolah. Perjalanan menuju sekolah barunya lebih jauh ketimbang sekolah SD dulu, tapi dia sudah terbiasa berjalan kaki, malah dia menikmati setiap langkah kaki pagi hari ini. Berjalan santai tidak ada apa-apanya daripada berlari non stop baginya.
Ketika memasuki beranda sekolah yang ditumbuhi pepohonan hijau yang rindang, dia melihat para siswi berkerumun di tepi beranda, mengelu-elukan nama Noctis ketika sang Pangeran berjalan tenang—nyaris tampak keren—melewati mereka.
"Eh, apa dia Pangeran?"
"Wow, aku tidak percaya kita satu sekolah dengannya!"
"Apa sebaiknya kita berbicara padanya?
"Tidak, aku tidak berani!"
Gumaman mereka terdengar bagaikan déjà vu bagi Prompto. Dulu dia hanya bisa terpana dengan aura sang Pangeran ketika berpapasan dengannya, berada di gedung sekolah yang sama, tapi tidak berani kontak mata, bahkan menyapa dan berbicara dengannya. Namun semua itu adalah masa lalu. Sekarang dia adalah orang yang berbeda, baik dari luar maupun dalam. Tidak perlu takut, tidak perlu malu, dan yang terpenting dia menilai dirinya pantas menjadi sahabat sang Pangeran.
Prompto memakai wristband di pergelangan tangan kanan dan berteriak dalam hati, "Yosh, inilah saatnya untuk memenuhi permintaan Nona Lunafreya!" Dia berlari cepat dan menepuk punggung sang Pangeran tanpa segan. "Hai, Pangeran Noctis!" sapanya riang.
"Huh?" Noctis keheranan dengan kehadiran mendadak Prompto di hadapannya.
"Senang berjumpa denganmu. Namaku Prompto!" salamnya sambil tersenyum lebar.
Selama tiga detik Noctis mencermati ujung kaki hingga ujung rambut Prompto. Awalnya dia tampak tidak percaya, tapi nyatanya dia berkata, "Bukannya kita pernah bertemu sebelumnya?"
Prompto terkesiap. Dia tidak menyangka walau penampakannya berubah total, sang Pangeran tetap mengingat pertemuan pertama mereka di halaman belakang sekolah. Dari sorot mata Noctis yang ramah, Prompto menyadari bahwa sang Pangeran tidak peduli dengan penampilan luar, melainkan lebih mementingkan apa yang tersembunyi di dalam. Menjadi salah tingkah, Prompto menggaruk-garuk rambut pirangnya dan tertawa ringan. Noctis tersenyum dan balas menepuk punggung Prompto.
Pada akhirnya, mereka berjalan bersama sambil mengobrol menuju ruang kelas, mengawali persahabatan di antara keduanya yang tidak lekang oleh waktu.
