Title: Winter In Seoul [REMAKE from Novel Winter In Tokyo]
Author: Rilakkyuming97
Cast:
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Other Cast
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Angst.
Rating: T
Disclaimer: Alur, cerita, ide, dan jalan cerita ini murni milik Ilana Tan. Saya hanya meminjam ceritanya untuk di jadikan fanfiction—walaupun ada perombakan di sana sini. Cast milik diri mereka sendiri, Tuhan YME, dan serta ELF semua. Saya hanya meminjam nama, dan meminjam ide. Fanfiction ini milik saya walaupun remake=)) Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, dan Sungmin milik saya-_-v *kabur
Warning: Newbie, AU, OOC, REMAKE, Gender Switch, Typo(s), dan hal-hal yang tidak berkenan lainnya. No Bash, No Flame! Anda boleh memflame/membash fanfiction dan authornya, tetapi tidak membash jalan cerita dan cast-nya:)
Summary:
"Mereka pertama kali bertemu di awal musim dingin di Seoul. Selama sebulan bersama, perasaan baru pun terbentuk. Lalu segalanya berubah ketika suatu hari salah seorang dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya…"
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
PUTIH. Hanya itu yang dilihatnya ketika ia membuka mata. Setelah mengerjap beberapa kali, Kyuhyun baru sadar yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya masih agak kabur, kepalanya sakit. Di mana dia? Di rumah sakit? Apa yang…?
Ah, ia ingat. Perkelahian itu. Kim Kangin kembali menyerangnya. Dan Sungmin. Di mana gadis itu? Apakah ia baik-baik saja?
"Kau sudah sadar?"
Kyuhyun menggerakkan kepalanya ke arah suara. Wajah Park Yoochun terlihat di samping tempat tidurnya. "Samchon?" gumamnya serak.
"Aku senang kau masih mengingatku." Park Yoochun tersenyum lega. "Kurasa kau juga sadar bahwa kau berada di rumah sakit."
"Sungmin?" tanya Kyuhyun dan berusaha bangkit.
"Tunggu, tunggu," cegah pamannya dan menahan bahu Kyuhyun. "Pelan-pelan saja."
Kyuhyun duduk dibantu pamannya. "Di mana Sungmin? Bagaimana keadaannya?"
"Sungmin?" kata Park Yoochun bingung. "Maksudmu gadis yang dibawa ke sini bersamamu itu? Dia baik-baik saja."
"Di mana dia sekarang?"
"Tadi dia di sini. Perawat baru saja membujuknya kembali ke kamarnya sendiri. Dia harus banyak istirahat," sahut pamannya ringan. Melihat sorot mata Kyuhyun yang tiba-tiba cemas, ia cepat-cepat menambahkan, "Percayalah. Dia tidak apa-apa. Kata dokter dia sudah boleh pulang besok. Sedangkan kau harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi."
Merasa tenang mendengar Sungmin baik-baik saja, Kyuhyun mengembuskan napas perlahan dan tersenyum. Kemudian ia tertegun dan menatap pamannya. "Samchon, sudah berapa lama aku di sini?"
Pamannya tersenyum lebar. "Tidak selama yang waktu itu. Kau hanya pingsan beberapa jam. Hebat, kan? Apakah mungkin itu berarti kau sudah kebal dihajar?"
Kyuhyun tertawa, dan langsung meringis ketika wajahnya terasa sakit. Ia melirik jam dinding. Belum tengah malam. "Kenapa Paman masih ada di sini?" tanyanya heran. "Bukankah jam besuk sudah lewat?"
"Tentu saja sudah lewat," balas pamannya sambil tertawa. "Tapi aku membujuk perawat memperpanjang waktu kunjunganku. Perawat di sini baik-baik."
Kyuhyun tertawa kecil, ingat pamannya bisa sangat memesona kalau keadaan mengharuskan.
"Untunglah kau segera sadar," Park Yoochun menambahkan. "Kalau tidak, aku harus menelepon eommamu dan mengabarkan bahwa kau dikeroyok lagi. Eommamu pasti akan langsung terbang ke sini dan menyeretmu kembali ke New York tanpa banyak omong."
Kyuhyun meringis. "Tapi Samchon belum menelepon Eomma?"
"Kupikir, untuk apa membuat ibumu khawatir sebelum kita tahu hasil yang pasti? Bagaimanapun juga, sekarang kau sudah sadar dan sepertinya kau sangat baik."
"Ya, tapi badanku sakit semua." Kyuhyun terdiam sejenak, lalu berkata, "Orang-orang itu…"
"Polisi sudah menahan orang-orang yang menyerangmu itu," sela Yoochun. Nada suaranya berubah serius. "Mereka juga yang menyerangmu pada Hari Natal waktu itu."
Kyuhyun mengangguk.
"Aku tidak ingin kau merisaukan masalah ini…" Pamannya tersenyum menenangkan. "Aku sudah menghubungi pengacaraku dan dia yang akan mengurus semuanya. Yang perlu kaulakukan sekarang hanyalah mengurus dirimu sendiri. Setelah merasa cukup sehat, kau harus memberikan pernyataan kepada polisi."
Kyuhyun mengangguk lagi. "Bagaimana dengan Sungmin?"
"Kurasa polisi sudah berbicara kepadanya."
Kening Kyuhyun berkerut samar. Ia tidak suka Sungmin harus menghadapi polisi sendirian.
Seolah-olah bisa membaca pikiran Kyuhyun, Park Yoochun berkata pelan, "Kau tidak perlu khawatir. Aku meminta pengacaraku menemaninya saat itu."
Kyuhyun menarik napas panjang. "Terima kasih, Samchon."
"Gadis itu… Sungmin," Suara pamannya terdengar agak ragu, "…dia gadis yang kubilang mirip Hyukjae."
Kyuhyun menatap pamannya dengan pandangan bertanya.
"Dia gadis yang pergi ke pertunjukan balet bersamamu pada malam Natal itu," kata Park Yoochun.
Kyuhyun tersenyum. "Ne. Dia saudara kembar Hyukjae."
Alis Park Yoochun terangkat. "Benarkah?"
Kyuhyun memejamkan mata, namun ia masih tetap tersenyum. "Dia lahir lima menit setelah kakak kembarnya. Dia tidak bercita-cita menjadi model. Dia senang bekerja di perpustakaan, suka membaca buku, suka mengomel dalam bahasa Indonesia, dan suka menonton balet. Pikirannya juga suka melantur ke mana-mana. Dia takut gelap dan tidak bisa memasang bola lampu…"
"Dan kau menyukainya," gumam Park Yoochun pelan sambil tersenyum mengerti.
Kyuhyun menatap pamannya. "Mwo?"
Park Yoochun menggerakkan dagunya ke arah meja kecil di samping tempat tidur. "Aku sudah melihat itu."
Kyuhyun menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat amplop besar. "Ige mwoya?"
Park Yoochun meraih amplop itu dan menyerahkannya kepada Kyuhyun. "Mereka menemukan ini di balik swetermu. Amplopnya yang lama sudah basah dan robek, tapi foto-fotonya masih bisa diselamatkan."
Kyuhyun tersenyum memandangi foto-foto yang diberikan Victoria kepadanya. Foto-foto yang diambilnya ketika ia baru saja tiba di Seoul, termasuk foto-foto Sungmin.
"Dan ini Sungmin-mu, bukan?" tanya Park Yoochun sambil menunjuk salah satu foto. "Kau tidak akan memotret seperti itu kalau kau tidak menyukainya."
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
Beberapa jam setelah pamannya pulang, Kyuhyun masih terjaga di memang terasa lemah, tetapi ia sangat sadar, otaknya terang benderang, dan ia tidak bisa tidur.
Mungkin sebaiknya ia pergi melihat Sungmin. Memastikan gadis itu memang baik-baik saja.
Kyuhyun turun dari ranjang dengan perlahan, meringis sedikit ketika kakinya menginjak lantai dan harus menopang tubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih ke pintu, membukanya, dan melongokkan kepala ke luar. Tidak ada siapa-siapa di koridor yang diterangi lampu itu. Kamar Sungmin tidak jauh dari kamar Kyuhyun sendiri. Ia sudah bertanya kepada pamannya tadi, jadi ia tidak akan kesulitan menemukan kamar Sungmin.
Kamar Sungmin memang tidak jauh, tetapi Kyuhyun membutuhkan waktu lima belas menit untuk berjalan ke sana. Tentu saja karena ia sesekali harus berhenti sejenak untuk menarik napas atau mengistirahatkan ototnya yang sakit. Menjadi orang lemah dan sakit memang menyebalkan.
Perlahan-lahan dan tanpa suara Kyuhyun membuka pintu kamar Sungmin. Di kamar yang diterangi lampu kecil di meja sudut, Kyuhyun melihat Sungmin terbaring pulas di ranjang. Gadis itu berbaring menyamping, sebelah pipinya disandarkan ke bantal, dan selimut ditarik sampai ke dagu.
Kyuhyun berjingkat-jingkat menghampiri ranjang. Ia berhenti di samping ranjang dan memandangi gadis yang terlelap itu.
Sepertinya tidak ada luka, pikir Kyuhyun setelah menatap wajah Sungmin dengan saksama. Ia baik-baik saja. Syukurlah.
Kyuhyun duduk di kursi di samping ranjang. Ia menarik napas dan mengembuskannya pelan. Kini ia bisa bernapas lebih mudah. Kegelisahan yang tanpa sadar dirasakannya sejak tadi mulai menguap dari tubuhnya. Ia merasa lega. Ya, semuanya akan baik-baik saja.
Ia berkata pada diri sendiri bahwa ia hanya akan duduk di sana sebentar. Hanya sebentar. Namun kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu, walaupun ia hanya duduk di sana tanpa melakukan apa-apa selain memandangi wajah Sungmin yang sedang tidur?
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
Tadinya Yesung bermaksud mampir ke kamar Sungmin dan melihat keadaan gadis itu. Walaupun Sungmin dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan, tidak lama kemudian gadis itu sadar dan langsung menanyakan keadaan Kyuhyun.
"Kyuhyun tidak apa-apa," hibur Yesung saat itu. "Dia memang belum sadarkan diri, tapi keadaannya sudah stabil. Dia pasti bisa bertahan. Jangan khawatir."
Sungmin masih terlihat cemas, tetapi ia tersenyum kecil. "Aku tahu," gumamnya. Lalu ia mendongak menatap Yesung. "Boleh aku melihatnya?"
Yesung mengantarnya ke kamar rawat Kyuhyun. Saat itu paman Kyuhyun ada di sana, jadi Yesung memperkenalkan mereka berdua.
"Kukira semua keluarga Kyuhyun-sshi sudah pindah ke New York," kata Sungmin setelah memberi hormat kepada pria yang lebih tua itu dan acara perkenalan berlalu.
Park Yoochun tersenyum. "Rupanya dia tidak pernah bercerita tentang aku?"
"Oh, aku tidak bermaksud…"
"Gwenchana. Sudah kuduga pasti begitu," sela paman Kyuhyun ringan.
Sungmin beralih menatap Kyuhyun yang terbaring di ranjang. Kepala dan kaki kiri Kyuhyun dibebat.
"Keadaannya stabil," gumam Park Yoochun, menjawab pertanyaan Sungmin yang tidak diucapkan. "Dia baik-baik saja."
Sungmin mengangguk.
"Kalau tidak keberatan, maukah kau menemaninya sebentar?" tanya Park Yoochun. "Aku harus menelepon seseorang."
Tentu saja Sungmin tidak keberatan. Tapi setelah menyatakan kesediaannya, ia berpaling ke arah Yesung, baru teringat Yesung masih berdiri di dalam kamar itu juga.
"Sunbae tidak perlu menemaniku," katanya perlahan. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya akan duduk di sini sebentar. Hanya sebentar."
"Baiklah," kata Yesung setelah berpikir sejenak. "Tapi jangan ragu-ragu memanggilku kalau ada apa-apa."
Sungmin tersenyum yakin. "Baiklah."
Setelah itu Yesung meninggalkan Sungmin yang duduk di kursi di samping ranjang Kyuhyun.
Kini, Yesung berdiri tertegun di pintu kamar rawat Sungmin yang terbuka sedikit. Matanya menatap sosok Kyuhyun yang duduk di kursi di samping ranjang Sungmin. Kyuhyun hanya duduk di sana, dengan kedua tangan disandarkan ke masing-masing lengan kursi, kakinya yang dibebat diselonjorkan ke depan. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk di sana memandangi Sungmin yang sedang tidur.
Karena tidak ingin mengganggu, Yesung kembali menutup pintu tanpa suara dan berjalan menjauh dari kamar rawat Sungmin. Sebenarnya ia sudah merasakannya sebelum ini, hanya saja ia masih belum yakin atau ia tidak mau mengakuinya. Tetapi dari apa yang dilihatnya tadi, semuanya sudah jelas. Ia hanya perlu menerimanya.
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
Kyuhyun tidak tahu jam berapa ia kembali ke kamarnya sendiri, tetapi ia akhirnya bisa terlelap. Dan ketika ia terbangun keesokan harinya, matahari sudah bersinar cerah walaupun rasa dingin di luar sana tetap menusuk tulang.
Tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Mungkin pamannya baru akan datang siang nanti. Apakah Sungmin sudah bangun?
Kyuhyun bermaksud pergi mencari gadis itu. Tetapi ketika ia sedang berusaha bangkit dari ranjang, pintu kamarnya terbuka. Ia mengangkat wajah, berharap melihat Sungmin, tetapi ternyata bukan.
"Victoria?"
Victoria Song menyerbu masuk dan bergegas menghampiri ranjang Kyuhyun. "Tadi aku pergi mencarimu ke apartemenmu dan salah seorang tetanggamu memberitahuku tentang penyerangan itu. Jadi aku langsung ke sini," katanya cemas, sebelum Kyuhyun sempat bertanya. "Kyunie, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?"
"Nan gwenchana. Kau tidak perlu khawatir," kata Kyuhyun menenangkan. Ia memberi isyarat supaya Victoria duduk, tetapi wanita itu mengabaikannya karena sepertinya ia terlalu cemas. Lalu Kyuhyun menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi kemarin malam.
"Mengerikan sekali," gumam Victoria di akhir penjelasan Kyuhyun.
"Tapi aku akan segera sembuh," tambah Kyuhyun. "Yesung juga bilang yang harus kulakukan hanya istirahat yang cukup. Setelah itu aku akan sembuh total."
Victoria masih terlihat cemas.
"Oh ya, kenapa kau mencariku?" tanya Kyuhyun, teringat bahwa Victoria pergi mencarinya ke apartemen.
Akhirnya Victoria duduk di kursi di samping ranjang. "Oh, aku hanya ingin memberitahumu pelatihanku di Seoul sudah berakhir dan besok aku akan pulang ke New York."
"Oh, ya? Cepat sekali waktu berlalu."
"Tapi aku bisa tetap tinggal di sini kalau kau membutuhkanku. Maksudku, karena sekarang kau masih sakit."
Kyuhyun menggeleng. "Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Dan aku tidak mungkin merepotkanmu."
Victoria tersenyum kecil. "Sama sekali tidak repot. Itu gunanya teman, bukan?" sahutnya. Ia terdiam sejenak. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Sungmin-sshi?"
Raut wajah Kyuhyun melembut. "Dia diizinkan pulang hari ini," sahutnya sambil tersenyum.
"Senang mendengar dia juga baik-baik saja."
Kyuhyun mendesah dan memandang ke luar jendela. "Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kurasa aku…"
"Ne?"
Kyuhyun menatap Victoria, baru sadar kalau tadi ia sudah mengucapkan apa yang sedang dipikirkannya. Ia menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Lupakan saja."
"Kyunie."
"Mm?"
"Kau yakin dengan perasaanmu terhadap Sungmin-sshi?"
"Maksudmu?"
Victoria mengangkat bahu dengan bimbang. "Bukan apa-apa. Maksudku, kau tidak mengenalnya dan kau sama sekali tidak ingat apa pun tentang dia, tapi tiba-tiba kau bilang kau menyukainya. Bukankah kedengarannya gegabah?"
Kyuhyun mendongak menatap langit-langit. "Ingatanku bisa saja bermasalah," gumamnya pelan, "tapi aku tahu apa yang kurasakan."
"Apa yang kaurasakan?"
"Kau ingat ketika kita menghadiri acara reuni SMP-ku bulan lalu?" Kyuhyun menoleh ke arah Victoria. Ketika yang ditanya mengangguk, ia melanjutkan, "Saat itulah pertama kali aku melihatnya setelah aku hilang ingatan. Dia sedang berdiri di seberang ruangan. Dan ketika dia menatap ke arahku, jantungku serasa berhenti berdegup. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi saat itu… aku merasa sangat senang melihatnya." Kyuhyun berhenti sejenak dan mengangkat bahu. "Kedengarannya konyol, bukan?"
Victoria menarik napas perlahan, lalu tersenyum. "Tidak. Sama sekali tidak konyol."
"Saat itu aku sangat bingung dengan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya," lanjut Kyuhyun dengan nada melamun. "Maksudku, aku sama sekali tidak mengenalnya. Tidak ingat apa pun tentang dirinya. Tetapi aku selalu ingin melihatnya."
"Akhirnya kau berpikir dulu kau mungkin pernah menyukainya," gumam Victoria.
"Ya. Saat itu aku memang berpikir begitu," aku Kyuhyun. "Tapi sekarang aku tahu memang begitulah kenyataannya."
Alis Victoria terangkat sedikit. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata pelan, "Ingatanmu sudah kembali."
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
"Sungmin-ah."
Sungmin yang sedang dalam perjalanan ke kamar Kyuhyun berhenti melangkah dan menoleh ketika mendengar suara Kim Jongwoon. "Sunbae," sapanya sambil tersenyum lebar dan membungkuk. "Annyeong haseyo."
Kim Jongwoon menghampiri Sungmin. "Bagaimana keadaanmu pagi ini?"
"Sangat baik. Terima kasih atas bantuannya."
Yesung tersenyum kecil. "Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang sakit," sahutnya ringan. Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Sungmin-ah, aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi…"
"Sunbae," sela Sungmin cepat, "apa pun yang dilakukan sepupu Sunbae tidak ada hubungannya dengan Sunbae. Jadi Sunbae tidak perlu meminta maaf untuk apa pun. Aku yakin Kyuhyun-ah juga akan mengatakan hal yang sama."
Yesung menarik napas panjang. "Aku hanya berharap aku bisa membantu."
"Sunbae sudah banyak membantu dengan memberikan informasi kepada polisi," kata Sungmin. "Itu tindakan yang sangat berani."
Yesung menatap lurus ke mata Sungmin. "Aku sungguh tidak ingin kau terluka."
Alis Sungmin terangkat sedikit, tetapi ia tetap tersenyum. "Sunbae, aku tidak apa-apa. Sungguh. Bukankah Sunbae sendiri yang bilang begitu?"
"Benar. Kau memang benar. Aku hanya berharap…" Yesung ragu sejenak. Ia menatap Sungmin dan tersenyum kecil. "Aku hanya berharap akulah yang melindungimu saat itu."
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
"Kau tidak perlu mengantarku, kau tahu?" kata Victoria ketika Kyuhyun bangkit dari ranjang dan ingin mengantarnya ke luar. "Kau masih belum cukup sehat untuk berkeliaran."
"Gwenchana. Aku juga butuh olahraga," sahut Kyuhyun mantap. "Lagi pula hanya sampai ke lift."
Begitu tiba di depan lift, Victoria berbalik menghadap Kyuhyun. "Oh, ya, hampir saja lupa," katanya sambil tersenyum dan merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan kotak kecil yang terbungkus kertas ungu. "Untukmu," katanya Victoria dan mengulurkan kotak itu ke arah Kyuhyun.
"Apa ini?"
"Cokelat," sahut Victoria pendek. "Happy Valentine's Day."
Alis Kyuhyun terangkat. "Valentine's Day? Sekarang bukan tanggal 14, bukan?"
Victoria tersenyum. "Tanggal 14 nanti aku sudah tidak ada di Seoul, jadi kuputuskan untuk memberikannya sekarang," katanya, lalu masuk ke lift dan melambaikan tangan.
Setelah pintu lift tertutup, Kyuhyun berbalik, hendak kembali ke kamarnya, tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti dan ia menoleh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Lee Sungmin, yang saat itu masih mengenakan piama rumah sakit, berdiri berhadapan dengan Kim Jongwoon.
Kyuhyun melihat tangan Yesung memegang kedua bahu Sungmin, sepertinya sedang mengatakan sesuatu. Sungmin mendongak menatap laki-laki itu, tersenyum, dan mengangguk. Lalu Yesung melambaikan tangan dan berjalan pergi.
Sungmin sendiri berputar dan berjalan ke arah kamar rawat Kyuhyun. Sedetik kemudian gadis itu mengangkat wajah dan menatap Kyuhyun. Matanya melebar dan senyumnya berubah cerah.
Apakah gadis itu gembira karena melihatnya atau gembira karena baru bertemu dengan Yesung?
"Kyuhyunie," seru Sungmin dan bergegas menghampiri Kyuhyun. "Kau benar-benar sudah sadar."
Kyuhyun menunduk menatap gadis itu dan tersenyum lebar. Setiap kali melihat gadis itu tersenyum, ia tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. "Aku sudah sadar sejak kemarin malam," katanya, "tapi tentu saja kau tidak tahu karena kau tidur seperti bayi."
Sungmin balas menatapnya dengan mata yang juga disipitkan. "Apa maksudmu aku tidur seperti bayi?" katanya, terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Ngomong-ngomong, kenapa kau jalan-jalan sendirian? Ayo, kembali ke kamar."
Kyuhyun membiarkan dirinya dituntun Sungmin kembali ke kamar rawatnya. "Aku bosan," gerutunya. "Dan aku benci rumah sakit."
Mereka masuk ke kamar dan Sungmin mendorong Kyuhyun ke ranjang. "Kalau kau mau cepat-cepat keluar dari sini, kau harus istirahat. Luka-lukamu masih belum sembuh benar, tahu. Memangnya kau mau lukamu bertambah parah dan tinggal di sini lebih lama lagi?"
Kyuhyun duduk di tepi ranjang dengan patuh, lalu menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. "Kau juga duduk di sini."
Sungmin menurut. Ia duduk di samping Kyuhyun di ranjang dan menatap laki-laki itu. "Kyuhyunie… Terima kasih."
"Terima kasih? Untuk apa?"
Sungmin menggeleng. "Karena aku, kau jadi terluka seperti ini. Bagaimana kepalamu? Sakit sekali?"
"Kau tidak perlu mencemaskanku," kata Kyuhyun. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh luka memar di pipi Sungmin. Sentuhannya ringan, tetapi Sungmin meringis karena kulitnya masih terasa nyeri. "Masih sakit?" tanya Kyuhyun dengan nada khawatir.
Setelah menahan napas sesaat, Sungmin memaksa dirinya menghirup napas dengan normal dan menggeleng. "Sepertinya kau lebih kesakitan daripada aku."
Kyuhyun menurunkan tangannya dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Aku kuat. Luka begini saja sama sekali bukan masalah."
Alis Sungmin terangkat. "Bukan masalah? Kau tahu betapa takutnya aku sewaktu orang-orang itu tidak mau berhenti memukulimu? Dan aku tidak bisa membantumu. Tidak bisa melakukan apa-apa. Dan ketika polisi datang, kau tidak bergerak. Kukira kau… Kukira…" Mata Sungmin berkaca-kaca. Ia mengerjap, lalu mengalihkan pandangannya ke depan, dan menarik napas panjang.
Kyuhyun tertegun. Ia menatap Sungmin sesaat, lalu mengulurkan tangan meraih tangan Sungmin dan meremasnya. "Mianhamnida," gumamnya. "Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi."
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
Sungmin sendiri tidak menyangka ia akan mengucapkan kata-kata itu. Tetapi semua itu benar. Saat itu ia memang sangat ketakutan. Bukan takut pada orang-orang kasar itu, tetapi takut mereka akan melukai Kyuhyun. Yang dipikirkannya saat itu adalah bagaimana kalau Kyuhyun celaka? Bagaimana kalau Kyuhyun tidak bisa bangun lagi? Selama-lamanya? Apa yang akan terjadi padanya kalau orang-orang itu benar-benar membunuh Kyuhyun? Sungmin menggigil memikirkan kemungkinan itu.
Saat itu Kyuhyun menggenggam tangannya dan berkata pelan, "Mianhamnida. Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi."
Sungmin menahan napas, mengangkat wajah, dan menatap Kyuhyun. Laki-laki itu tersenyum kepadanya dan meremas tangannya, meyakinkannya bahwa ia tidak perlu cemas. Benar, pikir Sungmin. Aku tidak perlu cemas. Semuanya baik-baik saja. Kyuhyun baik-baik saja. Laki-laki ini kini ada di sampingnya. Dan itulah yang terpenting.
"Ngomong-ngomong, apa itu?" tanya Sungmin sambil mengalihkan perhatian ke arah kotak kecil di ranjang Kyuhyun.
"Oh, cokelat. Hadiah Valentine dari Victoria," sahut Kyuhyun ringan.
Alis Sungmin terangkat. "Victoria-sshi? Tadi dia ke sini?" tanyanya.
Kyuhyun mengangguk. "Dia hanya sebentar di sini."
"Oh." Hanya itu yang bisa dikatakan Sungmin. Ia tidak ingin bertanya untuk apa Victoria datang ke sini. Walaupun Kyuhyun pernah berkata ia tidak punya hubungan istimewa dengan Victoria Song, tetap saja itu bukan urusan Sungmin.
"Dia datang untuk mengatakan dia akan pulang ke New York," kata Kyuhyun tanpa ditanya. "Masa pelatihannya sudah selesai."
"Oh?" Sungmin agak kaget mendengarnya. Tanpa bisa mencegah dirinya, ia bertanya, "Apakah Kyuhyunie juga…?"
"Aku akan tetap di sini. Bersamamu," kata Kyuhyun sambil menatap lurus ke arah Sungmin. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. "Apakah kau mau menerimaku?"
Kenapa Sungmin tidak bisa bernapas? Kenapa ia tidak bisa bergerak? Ia balas menatap Kyuhyun dan ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras. Akhirnya, ia memutuskan untuk menganggapinya sebagai gurauan. "Karena hanya aku yang mau memasak untukmu?" tanyanya sambil tersenyum lebar.
Kyuhyun terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Tiba-tiba ia bertanya, "Ngomong-ngomong, aku melihatmu bersama Yesung tadi."
Agak kaget dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba-tiba ini, Sungmin mengerjap, lalu bertanya heran, "Ne. Waeyo?"
"Apa yang kalian bicarakan?"
Sungmin tidak langsung menjawab. Lalu ia menunduk dan berkata, "Tidak ada yang penting."
Kyuhyun berdeham. "Kau… berencana memberinya cokelat? Pada Hari Valentine nanti, maksudku."
Sungmin mengerutkan kening, lalu tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memberikan cokelat kepada Kim Jongwoon pada Hari Valentine.
"Kau akan memberikan cokelat kepadanya?" Suara Kyuhyun terdengar lagi.
Kalau tersenyum sendiri dan menggeleng. "Ani."
"Kalau untukku?"
"Mwo?" Sungmin mengerjap dan menatap Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kau membuat biskuit yang sama seperti yang pernah kau berikan kepadaku Hari Natal lalu? Enak sekali."
Mata Sungmin melebar. Apa? Biskuit? Hari Natal lalu? Tunggu… Jadi…? Ia tidak berani berharap, tapi…
"Aku sudah ingat," kata Kyuhyun, seolah-olah menegaskan apa yang dipikirkan Sungmin.
"Kau sudah ingat?" ulang Sungmin tidak percaya. "Semuanya?"
Kyuhyun mengangguk. "Semuanya."
Sejenak Sungmin tidak berkata apa-apa, hanya menatap Kyuhyun tanpa berkedip. Ia ingin mencerna apa yang baru saja dikatakan Kyuhyun kepadanya. Ia ingin merasa yakin ini bukan mimpi.
Kyuhyun menatapnya dengan alis terangkat. "Sungminnie, kenapa diam saja? Aku benar-benar sudah ingat semuanya. Tidak percaya?" Ia memiringkan kepala dan mengerutkan kening, seolah-olah sedang berpikir. "Aku ingat kau mengendap-endap di depan pintu apartemenku pada hari pertama aku tiba di Seoul. Aku ingat kau pernah bermalam di apartemenku karena lampu di apartemenmu tidak bisa menyala. Oh, jangan menatapku seperti itu. Kau memang bermalam di apartemenku walaupun kau tidak suka dengan istilah itu. Aku ingat kencan kita pada malam Natal, pertunjukan balet, lalu kita pergi ke arena seluncur es…"
Tiba-tiba saja, tanpa berpikir dua kali—tanpa benar-benar berpikir, Sungmin melingkarkan kedua lengannya di leher Kyuhyun dan memeluknya erat-erat.
Sekujur tubuh Kyuhyun masih sakit dan ia harus menahan diri untuk tidak meringis atau mengaduh ketika Sungmin tiba-tiba memeluknya dan hampir membuatnya terjungkal ke belakang. Tetapi bagaimanapun juga, ada saatnya ketika rasa sakit sama sekali tidak penting. Misalnya sekarang, ketika Lee Sungmin memeluknya untuk pertama kali.
"Kau sudah kembali," gumam Sungmin di bahu Kyuhyun. "Kau sudah kembali."
Kyuhyun tersenyum, menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan pelan. Ia merasa lega. Sangat lega. "Aku sudah kembali," gumamnya lirih. "Apakah kau juga akan kembali kepadaku?"
Sungmin tertegun. Lalu ia mundur sedikit dan menatap Kyuhyun.
Tiba-tiba pintu kamar rawat Kyuhyun terbuka dan langsung disusul oleh suara Kim Heechul. "Dia pasti ada di kamar Kyuhyun. Nah, kubilang juga… Lho, kalian sedang apa?"
Sungmin tersentak dan buru-buru menjauh dari Kyuhyun. Wajahnya terasa panas.
"Eonnie, kau sudah datang. Oh, Haraboji dan Halmonie juga."
"Aku juga datang!" seru Ryeowook yang masuk belakangan. "Wah, Kyuhyun Hyung sudah sadar?"
"Ingatan Kyuhyunie sudah kembali," kata Sungmin.
Dan kamar yang tadinya terasa agak sepi itu pun berubah ramai.
"Benarkah? Itu berita yang sangat bagus!"
"Kita harus merayakannya begitu Kyuhyun keluar dari rumah sakit."
"Hyung, apakah ingatanmu kembali gara-gara kejadian kemarin? Maksudku, karena kepalamu dipukul sekali lagi… Aduh! Noona, kenapa kepalaku dipukul?"
"Karena kau tidak peka. Siapa suruh kau mengungkit-ungkit masalah itu? Ngomong-ngomong, kalian berdua, tentunya kalian sudah tahu mataku tajam dan aku selalu yakin dengan apa yang kulihat. Benar? Jadi mulailah menjelaskan apa yang kulihat tadi ketika aku baru masuk."
TO BE CONTINUED…
.
.
.
"Kau ingat hari itu? Perempatan yang selalu ramai dan saat itu kau hampir jatuh karena ditabrak dari segala arah."
"Aku sedang mencarimu. Kukira kau… Maksudku, kau bisa saja tersesat di antara begitu banyak orang."
"Saat itu aku ada di belakangmu. Aku bisa melihatmu. Aku selalu melihatmu."
.
.
.
"Kalau ingatanmu saat ini masih belum kembali, apakah kau akan mengatakan hal yang sama seperti yang kaukatakan tadi?"
"Sejak sebelum aku hilang ingatan aku sudah menyukaimu. Ketika aku tidak mengingat apa-apa, aku kembali jatuh cinta padamu. Jadi, ya, aku akan tetap mengatakan hal yang sama walaupun seandainya ingatanku belum kembali."
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa, karena aku memang sudah melihatmu."
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
DAN YEAAAHHHH AKHIRNYA FFN BISA DI BUKA DARI FIREFOX SAYAAA! :* Kemaren ga bisa dibuka dan alhasil mesti download addson 'anonymox' biar bisa dibuka lagi :))
Yap! Chapter depan adalah final part, dimana semua permasalahan dan cerita selesai di chapter depan^^
Oh iya, maafkan saya yang sebesar-besarnya yaaa kalau update chapter yang satu ini benar-benar lama :''') Habisnya..., setelah ulangan semesteran kemaren, saya benar-benar terlarut dalam liburan seminggu yang dikasih sama sekolah ToT jalan mulu, tidur ampe sore, dan hal-hal yang ngga bisa dilakuin selama sekolah lah. Awalnya juga gak ada waktu untuk ngepost juga gara-gara sekarang lagi masa-masa ulangan harian, hehe bahkan ini juga ngupdate dalam keadaan galau karena akhirnya kembali menyandang status single setelah dua kali putus. hiks:''''') /malah curhat/
Gabisa ngomong banyak-banyak, insyaAllah, final chap bakal pania post kalau banyak yang nungguin chap final ama epilognyaa^^
Gamsahamnida, buat semua yang setia menunggu cerita ini^^ Mohon maaf kalau masih ada typo(s) disana-sini ^^ Buat yang udah nanyain di twitter, terimakasih banyaaaakkk!
Satu bocoran deh, pania mau ngepost satu fanfict yang lagi-lagi ngeremake… hiqs. Hehe abis ceritanya cocok deh buat KyuMin, jadi kepikiran buat remake3 Dan tenang aja, ada satu project lagi yang bakal pania lempar buat para pembaca setelah Summer in Seoul sama fanfict satu lagi udah end~ Intinya, pania bakal sering update lg skrg karena ini jaringan udah bener ^^ Oh iya, buat yang mau nanya-nanya, mau gila-gilaan bersama atau berteman sama author amatiran tapi kece ini, bisa contact di twitter Vania: adspaniw^^ Mention for followback^^
And last,
Mind to Review?
_Rilakkyuming_
