Sesuai janji, d chapter ini Gumi, Lily, sm Oliver bkln mncul scara brsamaan ^
Klo di chapter sblumnya critanya mnegangkan, mka d chapter ini critanya saya buat agak sdikit santai
Meet reading, Minna ^^
Story start!
Chapter 21: Snowball Fight
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha, not my own
Rated : T
Genre : Friendship, Romance, Drama
Pairings :
Mikuo x Miku
Kaito x Meiko
Len x Rin
Gakupo x Luka
Oliver x Lily
Nero x Neru
Akaito x Gumi
Don't like, don't read it!
.
.
.
.
.
Di rumah sakit, kedua orangtua serta teman-teman Miku sedang berkumpul di kamar di mana saat ini Miku dan Mikuo dirawat...
"Hmmm...". kata Kaito
"Ada apa, Kaito?". Tanya Meiko
"Apakah kita harus melaporkan Haku pada polisi?". Tanya Kaito
"Ya, kita harus. Apapun alasannya perbuatan yang telah dia lakukan sangat salah dan...". kata Gakupo
"Dia hampir saja membunuh Miku dan Mikuo". Kata Luka
"Lebih baik kita prioritaskan keselamatan mereka terlebih dulu". Kata Neru
Mereka menatap Miku dan Mikuo yang masih belum terbangun dari koma
"Miku... Mikuo...". tulis Rin
"Semuanya akan baik-baik saja, Rin. Bersemangatlah.. yang penting kita tidak terlambat menolong mereka". kata Len
"Meskipun dia adalah wanita, aku tidak akan segan-segan menghajarnya karena dia sudah berani melukai Miku". Kata Akaito
Kedua orangtua Miku yang daritadi duduk di sofa segera beranjak dan berjalan mendekati Akaito
"Biarkan polisi yang menanganinya, Akaito-san". Kata Nana
"Dia akan membayar untuk apa yang telah dia perbuat". Kata Taya
"Nana Oba-san... Taya Oji-san...". tulis Rin
"Tapi jangan perlihatkan ekspresi seperti ini saat kita melihat mereka". kata Nana
"Bersemangatlah supaya mereka juga ikut bersemangat, mereka tidak ingin kita merasa cemas". Kata Taya
Sementara itu Kaito dan teman-temannya sedang berbisik satu sama lain
"Taya Oji-san dan Nana Oba-san kali ini terlihat serius". Kata Kaito
"Sekarang ayo kita katakan pada mereka, sayang? Setelah ini mari kita adakan acara syukuran karena putri tercinta kami, Miku telah selamat.. dan juga pangerannya: Mikuo-kun... kyaaaa! Bukankah semua ini sangat romantis, minna?". Tanya Taya dan Nana bersamaan
"Sou.. da.. ne... sayang. Semuanya, tolong kerjasama kalian karena ini untuk putri tercinta kami dan juga pangerannya: Mikuo-kun.. nyaaa! Kalau begini jadi teringat saat di mana kita masih pacaran dulu... hahaha". Kata Taya
"Hahahaha...". kata Taya dan Nana bersamaan
Kaito dan teman-temannya kembali berbisik satu sama lain
"Kalian lihat, tadinya kupikir mereka akan benar-benar bersikap serius". Kata Kaito
"Karena kita tidak bisa membantu... maka mereka mencoba untuk menyemangati diri mereka". kata Meiko
"Ugh". Kata mereka semua
Kedua orangtua Miku menatap mereka
"Eh? Ada apa?". Tanya Taya dan Nana bersamaan
"Tidak ada...". jawab mereka
"Oh... tadinya kupikir ada sesuatu, apakah kau juga berpikir hal yang sama denganku, sayang?". Tanya Nana
"Kau benar, tadinya aku sempat berpikir kalau mereka merasa terganggu karena kita, tapi ternyata malah tidak... hehehe". Kata Taya
Teman-teman Miku yang melihatnya hanya memasang wajah datar
"Baiklah, semuanya ayo kita pulang. Biarkan mereka beristirahat". Nana berkata sambil menatap Miku yang masih tertidur, ia terlihat sedih
"Arigatou semuanya". Taya berkata sambil memasang wajah serius, mencoba untuk tetap tersenyum
Mereka meninggalkan kamar di mana Miku dan Mikuo dirawat lalu pulang menuju mansion masing-masing
[2 minggu kemudian]
Memasuki minggu ketiga bulan Desember, musim dingin telah tiba. Jalanan di luar sana hampir seluruhnya tertutup oleh salju. Miku dan Mikuo kini sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, mereka sudah sembuh total. Kedua orangtua serta teman-teman Miku yang mendengarnya tentu saja merasa senang. Hari ini Miku dan teman-temannya berencana pergi keluar mansion untuk bermain...
"Karena sekarang kita sudah berada di New York, bagaimana kalau kita bersenang-senang?". Tanya Meiko
"Baiklah!". Seru mereka semua
Mereka berjalan keluar lalu bermain di halaman mansion yang lebarnya cukup luas dan berhadapan langsung dengan jalanan
"Ini menyebalkan.. aku benci salju". Kata Len
"Len, yuki ... yuki. Aku suka.. aku suka salju". Tulis Rin
"Kurasa ini tidak akan membantu.. baiklah kalau begitu, mari kita bersenang-senang". Len berkata, wajahnya merona merah
Rin yang mendengarnya merasa sangat senang
"Arigatou, Len". Rin menulis lalu memeluk Len
"Aaaahhh, Rin". Len berkata, wajahnya merona merah
"Gakupo-sama, ayo kita bersenang-senang". Kata Luka
"Ya". Gakupo berkata sambil tersenyum
Wajah Luka merona merah
"Kalau begitu, mari kita coba bermain PERANG SALJU!". Seru Gakupo
Mereka semua yang mendengarnya langsung terkejut
"E-Eh?". Tanya Meiko
"Kyaaa!". Seru Miku
"Miku, apa kau tidak menyukainya?". Tanya Mikuo
"A-Aku menyukainya..". Miku berkata, wajahnya merona merah
Mikuo hanya tersenyum
Mereka merasa sedikit heran karena tidak biasanya Mikuo keluar dari mansion tempat tinggalnya, kecuali jika ada urusan mendadak di perusahaan ibunya
"Mikuo, apakah tidak apa-apa jika kau keluar dari mansionmu? Apa ibumu sudah mengizinkannya?". Tanya Neru
"Tidak apa-apa, lagipula sekarang dia sedang tidak ada di sini dan masih belum juga kembali dari luar negeri". Kata Mikuo
"Kalian semua, jangan diam saja! Ayo kita main! PERANG SALJU! Hahaha!". Seru Gakupo sambil melempar bola salju pada Mikuo
Mikuo yang melihatnya langsung terkejut
"Mari kita bertarung!". Seru Neru
"Hehe..". Miku berkata sambil tersenyum, tiba-tiba saja ada bola salju yang mengenai kepalanya. Ternyata Mikuo yang melemparnya
Miku merasa sedikit kesal
"Jangan hanya diam saja, haha". Kata Mikuo
"A-Aku tahu... inilah pembalasanku!". Miku berkata sambil melempar beberapa bola salju ke arah Mikuo
Kaito dan Meiko menatap mereka dari kejauhan
"Ini seperti permainan anak-anak. Aku tidak mau ikut.. ugh...". Kaito berkata namun tiba-tiba saja kepalanya terkena lemparan bola salju, Kaito menatapnya. Ternyata Gakupo yang melemparinya
"Sial!". Seru Kaito
"Gakupo-sama". Luka berkata namun tiba-tiba saja Meiko melemparinya dengan bola salju
Meiko menatap Luka sambil menunjukkan senyumnya yang menyeramkan
"Hei, Luka. Apakah kau akan terus-terusan menempel pada Gakupo selama seharian penuh? Bergabunglah dengan kami". Kata Meiko
Luka kemudian membuat bola salju dan melemparnya ke arah Meiko
"A-Aku tidak akan kalah!". Seru Luka
Sementara itu, Rin dan Len...
"Ini membosankan". Kata Len
"Len...". tulis Rin
"LEMPARAN SALJU MEMATIKAN!". Seru Gakupo sambil melempar beberapa bola salju ke arah Len
"Siall! Ayo kita lari, Rin!". Seru Len
"Hahaha.. bergabunglah dengan kami, Len atau aku akan melempari Rin dengan bola salju". Kata Meiko
"Kenapa aku juga ikut terlibat? Ini benar-benar seperti neraka!". Tulis Rin
"Akhirnya Rin marah juga". Kata Miku
Kaito sedang memikirkan suatu permainan yang menurutnya sangat menarik. Sebuah ide terlintas di kepalanya
"Ah! Aku tahu bagaimana cara membuat supaya permainan ini terlihat semakin seru". Kata Kaito
"Eh?!". Mereka semua yang mendengarnya amat terkejut
"Kita akan bermain secara berpasangan. Setiap pasangan akan bekerjasama untuk membangun kerajaan salju, lalu masing-masing kerajaan akan mencoba untuk menerobos dan menghancurkan kerajaan lawan, hingga tinggal satu kerajaan yang tersisa. Kerajaan yang mampu bertahan sampai akhir permainan akan menjadi pemenangnya". Kata Kaito
"Ini terdengar menyenangkan". Kata Akaito, ia baru saja tiba
Meiko yang melihatnya langsung terkejut
"Kapan dia muncul". Kata Meiko
Setelah mendengar penjelasan Kaito, mereka semua terlihat bersemangat
"Baiklah kalau begitu, langsung kita mulai saja permainannya!". Seru Gakupo
"Ayo!". Kata mereka semua
Mereka mulai untuk membangun kerajaan masing-masing
Kerajaan Miku dan Mikuo...
Miku dan Mikuo sudah selesai membangun istana. Mereka berlindung di balik tembok salju yang mereka buat
"Aku takut". Kata Miku
"Jangan takut, I'm your King after all". Mikuo berkata sambil tersenyum
"M-Mikuo...". Miku berkata sambil tersenyum, wajahnya merona merah
Tiba-tiba saja seseorang muncul di tengah-tengah mereka
"Hei, jangan lupakan aku". Akaito berkata, ia seperti menganggu pembicaraan mereka berdua
Miku dan Mikuo yang melihatnya sedikit terkejut
"Akaito, kenapa kau di sini?". Tanya Miku
"Aku adalah knight mu". Kata Akaito
Mikuo yang mendengarnya merasa sedikit kesal
"Di sini tidak membutuhkan seorang Knight, jika sudah ada seorang raja yang berkuasa". Kata Mikuo
"Hei, jangan lupakan saat di mana kau menghilang, Miku juga menghabiskan waktu bersama denganku". Akaito berkata, wajahnya merona merah
"Dia adalah temanku sejak kecil". Mikuo berkata, wajahnya merona merah
Miku yang melihat mereka berdebat langsung berjalan menghampiri mereka berdua
"Yamete yo, kalian berdua hentikan! Jangan bertengkar, bertemanlah!". Kata Miku
"Lebih baik aku mati saja". Kata Akaito
"Aku juga". Kata Mikuo
Miku yang melihat mereka bertengkar hanya bisa menghela napas pelan. Tiba-tiba saja Mikuo berlari mendekatinya, ia terlihat ketakutan
"Miku! Akaito barusan memukulku! Tolong aku!". Mikuo berkata sambil memeluk Miku
"Wahhh,Mikuo! Kau kembali menjadi dirimu yang dulu!". Seru Miku
"Hei! Jangan lakukan itu!". Seru Akaito, wajahnya merona merah. Ia terlihat cemburu
Kerajaan Luka dan Gakupo...
Luka dan Gakupo masih membangun istana mereka
"Luka, kau buat tembok saljunya, aku akan membuat bola salju". Kata Gakupo
"Y-Ya". Kata Luka
"Tapi, ini sangat sulit! Bagaimana caranya?". Tanya Luka
"Tenanglah..". Gakupo berkata sambil memegang wajah Luka
"Eh?". Tanya Luka
"Lihatlah wajahku". Kata Gakupo
"Eh?!". Luka terkejut, wajahnya merona merah
"Kalau seperti ini mungkin kau akan terlihat bersemangat dan bisa memikirkan strategi untuk menyerang kerajaan lawan... hahaha". Kata Gakupo
Kaito dan Meiko menatap mereka dari kejauhan...
"Gakupo kono baka". Kata Meiko, ekspresi wajahnya terlihat datar
"Meiko, ayo kita buat istana kita". Kata Kaito
"Ya". Kata Meiko
Kerajaan Kaito dan Meiko...
Mereka baru saja mulai membangun istana
"Jadi, pertama-tama kita buat temboknya dulu. Tembok yang tidak mudah untuk dihancurkan". Kata Kaito
"Hehehe...". kata Meiko, ia menunjukkan serigai yang cukup menyeramkan
"E-Eh?". Tanya Kaito
"Mari kita buat supaya kerajaan lain tunduk pada kita. Aku akan membuat roket salju lalu melemparnya ke arah mereka. Entah kenapa tiba-tiba saja aku jadi menyukai salju. Hehehe...". kata Meiko
"M-Menyeramkan.. tapi terlihat lucu..". kata Kaito
"Eh?". Tanya Meiko
"Mari kita buat kerajaan yang tidak mudah untuk dihancurkan. Bagaimana menurutmu, Meiko?". Tanya Kaito
"A-Aku setuju". Jawab Meiko, wajahnya merona merah
Kerajaan Len dan Rin...
Rin terlihat sibuk membangun istana, sementara Len hanya duduk diam
"Len, tolong aku!". Tulis Rin
"Hmmm... aku tidak mau". Len berkata sambil duduk di salju
"Tolonglah, bantu aku!". Tulis Rin
"Hei, mengapa kau berusaha begitu keras?". Len berkata sambil menatap Rin
Wajah Rin merona merah saat mendengarnya, lalu ia menulis
"Itu karena kau akan menjadi pangeranku dan kau akan melindungiku dari bahaya... setidaknya seperti itulah yang kubayangkan, karena di kerajaan lain mereka pasti akan melakukan hal yang sama.. itu menurutku...".
Len berdiri dari duduknya lalu ia memeluk Rin
"Kono baka, anata wa hontoni baka onna...". kata Len
Rin yang mendengarnya langsung terkejut
"Kau pikir aku hanya melakukannya pada permainan ini? You're my princess now and forever... aku akan selalu melindungimu, permainan ini bukanlah alasannya. Itulah sebabnya aku bertanya padamu, mengapa kau sampai berusaha begitu keras..". Len berkata sambil tersenyum
"Akhirnya kau tersenyum juga, Len". Rin berkata pada dirinya sendiri, wajahnya merona merah lalu ia memeluk Len dengan erat
"Tapi jika kau ingin bersenang-senang, aku akan ikut bergabung". Len berkata, wajahnya merona merah
"Baiklah!". Tulis Rin, ia terlihat senang
Masing-masing dari mereka sibuk menyusun rencana, taktik, serta membuat bola salju yang akan digunakan untuk menjatuhkan kerajaan lawan, hingga akhirnya ...
"Sepertinya kalian semua terlihat sedang bersenang-senang". Kata suara itu
Mereka menatap orang itu. Seorang gadis bersurai pirang panjang sedang berjalan bersama dengan seorang pemuda bersurai blonde pendek yang mata sebelah kirinya ditutup oleh perban. Di belakang pemuda bersurai blonde tersebut, seorang gadis bersurai hijau pendek sedang berjalan sambil menyesap kopi panasnya. Gakupo dan Mikuo yang melihatnya sangat terkejut, mereka semua mengenalnya
"Usashiburi, minna-san". Lily berkata sambil tersenyum
"Doumo. Bolehkah kami ikut bermain?". Tanya Oliver
"Yo! Hallo Miku, Mikuo. Lama tidak bertemu". Kata Gumi
Gakupo dan Luka berjalan mendekati Lily
"Nee-san, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kukira kau sudah pulang ke Jepang". Kata Luka
"Kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu dan waktu bercinta kami ada di sini". Lily berkata, ia terlihat senang
"Waktu bercinta?". Tanya Miku
"Maksudnya honeymoon.. ". kata Meiko
"Sudah lama tidak bertemu, Lily". Gakupo berkata sambil memeluknya
"Yo.. Gakupo. Kau sudah bertambah dewasa". Lily berkata sambil mengelus kepala Gakupo
Gakupo merasa sedikit terganggu, wajahnya sedikit merona
"Hei, jangan memperlakukanku seperti anak kecil".
"Oh, gomenasai. Aku lupa". Lily berkata sambil tersenyum
"Nee-san, aku sekarang sudah jadian dengan Gakupo-sama!". Luka berkata, wajahnya merona merah
"Selamat untuk kalian". Kata Lily
.
.
.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, mereka kembali melanjutkan permainan yang hampir tertunda
"Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan?". Tanya Kaito
"Apapun permainan yang kalian mainkan, kami bertiga bisa menjadi jurinya". Kata Gumi
"Ide yang bagus, Gumi-chan". Kata Oliver
Miku dan Mikuo berjalan menghampiri Gumi
"Hai, Gumi". Kata Mikuo
"Hallo, Gumi". Kata Miku
"Hallo, Mikuo-kun". Gumi berkata sambil melompat lalu memeluk Mikuo
Miku merasa sedikit kecewa
"Lagi-lagi dia mengabaikanku". Miku berkata, wajahnya merona merah. Ia terlihat sedikit cemburu
Sementara itu, Mikuo masih bersama dengan Gumi
"E-Eh...". kata Mikuo
"Oh, gomen. Aku terlalu berlebihan". Gumi berkata sambil melepas pelukannya
"Hai, Miku". Gumi berkata sambil mengedipkan sebelah matanya
Len dan Rin menatap dari kejauhan
"Siapa dia?". Tanya Len
"Gumi-chan. Dulu kita pernah mengenal dia saat masih SMP, dia pernah berkunjung ke sekolah kita. Apakah kau sudah melupakannya?". Tulis Rin
"Dia jauh lebih baik daripada Haku". Kata Meiko
"Ya, meskipun dia menyukai Mikuo. Tapi dia tidak pernah melakukan hal buruk". Kata Kaito
Gakupo merasa tidak sabar, ia ingin segera memulai permainan
"Mari kita mulai permainannya!". Seru Gakupo
"Baiklah!". Seru mereka semua
Lily berdiri di tengah halaman mansion, ia ingin memberitahukan sedikit petunjuk
"Baiklah, peraturan singkat pada permainan kali ini: hancurkan kerajaan lain tanpa ragu dan tanpa ampun! Kerajaan yang bertahan paling lama akan keluar sebagai pemenang! Hahahahaha!". Seru Lily
Mereka semua yang menatapnya hanya memasang wajah datar
"Dia sangat bersemangat". Kata Gakupo
"Setuju". Kata mereka
Oliver berjalan mendekati Lily lalu menatapnya
"Hmmm.. Lily-chan kumohon tenanglah.. hehe". Oliver berkata sambil tersenyum
"Oh.. maaf". Kata Lily
"Wow... trik mengubah suasana hati yang cukup hebat". Kata mereka
"D-Diamlah!". Lily berkata, wajahnya merona merah
Sementara itu, Gumi sedang menghitung mundur waktu permainan
"Baiklah... bersedia... siap... mulai...". kata Gumi
"Gumi-chan. Itu untuk memulai balapan". Kata Mikuo
"D-Diamlah!". Gumi berkata, wajahnya merona merah
"Haha". Kaito berkata sambil tertawa
Tak lama kemudian, permainan pun dimulai...
"3... 2... 1... MULAI!". Seru Lily
.
.
.
Gakupo mulai menyerang kerajaan Len dan Rin...
"Waaahhh! Bola saljunya menyerang kita!". Tulis Rin
"Bersembunyilah di balik tembok". Kata Len
"Eh?". Tulis Rin
"Jangan bilang eh... keselamatan tuan putri harus diutamakan". Kata Len
Wajah Rin langsung merona merah saat mendengarnya
Sementara itu di kerajaan Gakupo dan Luka...
"Luka, sekarang!". Seru Gakupo
Luka melempar beberapa bola salju berukuran besar ke kerajaan Len dan Rin
"Eh?". Len berkata sambil melempar bola salju ke kerajaan Gakupo dan Luka
Rin yang melihatnya langsung terkejut
"Waaahh! Len! Tembok istana kita telah hancur!". Tulis Rin
"Sial!". Kata Len
"KERAJAAN LEN DAN RIN TELAH GUGUR, SILAHKAN TINGGALKAN HALAMAN!". Seru Lily
"Kalian berdua, silahkan pergi". Kata Gumi
"Mereka mudah sekali kalah.". Oliver berkata sambil tersenyum
"Yang penting mereka kalah secara terhormat". Kata Meiko
"Ya". Kata Kaito
Len dan Rin berjalan menuju teras mansion dan duduk di kursi yang terletak dekat dengan jendela
"Jangan khawatir, yang tadi itu tidak apa-apa". Kata Len
Rin menangis karena telah kalah, Len yang melihatnya merasa sedikit panik
"Aahhh! Jangan menangis!". Len berkata sambil memeluk Rin, mencoba untuk menenangkannya
Di kerajaan Gakupo dan Luka...
"Kau memang hebat, Luka!". Gakupo berkata sambil memeluk Luka, wajah Luka merona merah
Mereka tidak menyadari bahwa kerajaan lawan sedang mengincar kerajaan mereka
"Terima ini!". Seru Kaito
"Eh?". Tanya Gakupo
"Inilah serangan pembuka kami! Terimalah ini!". Seru Meiko dan Kaito sambil melempari kerajaan Gakupo dan Luka dengan beberapa bola salju berukuran besar
"Waaahh! Gakupo-sama! Istana kita sudah hancur!". Kata Luka
"Tch". Kata Gakupo
"KERAJAAN GAKUPO DAN LUKA TELAH GUGUR! SILAHKAN TINGGALKAN HALAMAN!". Seru Lily
"Kalian berdua, silahkan pergi". Gumi berkata sambil menyesap kopi panasnya
"Cepatlah pergi". Oliver berkata sambil tersenyum
Miku dan Mikuo menatap mereka dari kejauhan
"Lagi-lagi dia bicara kasar". Kata Miku
Mikuo yang melihatnya hanya menghela napas pelan
Gakupo dan Luka berjalan menuju teras depan mansion lalu duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Rin dan Len
"Hahaha.. akhirnya kalian kalah juga". Tulis Rin
"D-Diamlah!". Kata Gakupo
"Hei, jangan bicara seperti itu pada Rin". Kata Len
"Jangan bicara seperti itu juga pada Gakupo-sama". Kata Luka
Tiba-tiba saja Lily muncul di tengah-tengah mereka
"KALIAN SEMUA, JANGAN BERTENGKAR DI SINI, ATAU...". Lily berkata sambil menunjukkan serigai yang terlihat cukup menyeramkan
"Huwaaaa! Seru Len, Gakupo dan Luka bersamaan
"Kowaiii!". Tulis Rin
.
.
.
Di tengah-tengah halaman mansion...
"Baiklah, kita lanjutkan permainannya". Kata Gumi
"Hanya tersisa dua kerajaan". Oliver berkata sambil tersenyum
Meiko yang melihatnya merasa sedikit kesal
"Oliver, bisakah kau tidak tersenyum saat sedang berbicara?". Tanya Meiko
"Tidak akan..". Oliver berkata sambil tersenyum
"Lelaki ini benar-benar membuatku kesal". Kata Meiko
"Meiko, Tenanglah dan fokus pada kerajaan lawan". Kata Kaito
Di kerajaan Miku dan Mikuo, Mereka sedang menyusun strategi...
"Kita harus memikirkan siasatnya". Kata Mikuo
Akaito berdiri di tengah-tengah halaman mansion, ia seperti sedang mengenggam sesuatu
"Hei, kalian semua, lihatlah! Aku menemukan ini!". Akaito berkata sambil menunjukkan serigai yang terlihat menyeramkan, ia memperlihatkan benda tersebut pada mereka semua: sebuah granat kecil
"Eh?!". Mereka semua amat terkejut saat melihatnya
"Hei, itu curang!". Seru Meiko
"Tidak, ini namanya kecerdasan". Akaito berkata sambil menunjukkan serigai yang terlihat menyeramkan, lalu ia mengaktifkan granat kecil tersebut
Mereka yang melihatnya langsung panik setengah mati
"Waaaahhhh!". Seru mereka semua sambil berteriak
"Hei, Nii-san! Bukankah itu melanggar aturan?". Tanya Kaito
"Di sini hanya ada satu peraturan: hancurkan kerajaan lain tanpa ragu dan tanpa ampun! Kerajaan yang bertahan paling lama akan keluar sebagai pemenang!". Kata Lily
"Ya, aku setuju dengan Lily-san". Kata Gumi
"Hahaha". Akaito berkata sambil tertawa
Miku dan Mikuo sedang berlindung di tembok kerajaan mereka
"Ini benar-benar terlihat seperti perang salju sungguhan!". Seru Miku, ia terlihat ketakutan
Akaito melempar granat kecil tersebut ke kerajaan Kaito dan Meiko. Mereka semua yang melihatnya amat terkejut
"TIDAAAAKKKKK!". Seru mereka semua
Kaito dan Meiko jatuh terkapar di teras depan mansion...
"Meiko, K-Kau baik-baik saja?". Kaito bertanya sambil memeluk Meiko
"Y-Ya. Aku tidak apa-apa". Jawab Meiko, ia terkejut
"Perlu kita ketahui, ternyata itu hanyalah granat salju.. tch...". kata Kaito
Tak lama kemudian, Lily segera mengumumkan pemenangnya
"Pemenangnya adalah kerajaan Miku dan Mikuo!". Seru Lily
"Kalian hebat". Kata Gumi
"Mari kita berikan tepuk tangan pada mereka". Oliver berkata sambil tersenyum
Mereka semua terdiam seperti merasa ada sesuatu yang ganjil
"Eh? Tapi Miku dan Mikuo samasekali tidak melakukan apapun". Kata Luka
"Ya, kau benar!". Seru Len
"Eh? Tapi.. aku setuju denganmu, Len". Tulis Rin
"Kalian curang!". Seru Gakupo
"Kalian jahat, kenapa hanya menyebutkan nama mereka berdua? Padahal aku yang telah menyelamatkan mereka TT_TT". Kata Akaito
"Kami tidak curang". Kata Miku
"Ya". Kata Mikuo
Mereka sepertinya masih berdebat dan tidak bisa menerima keputusan Lily
"AKU UMUMKAN MEREKA SEBAGAI PEMENANG, APAKAH ADA MASALAH?". Seru Lily
"T-Tapi...". kata mereka semua
Tiba-tiba seseorang datang ke mansion tempat mereka berkumpul
"Semuanya, apa kabar?". Tanya suara itu
Mereka menatapnya, seorang gadis bersurai putih panjang yang model rambutnya dikuncir dua ke bawah menyapa mereka semua. Teman-teman Miku yang melihatnya amat terkejut, mereka menunjukkan sedikit kewaspadaan
"H-Haku...". kata Mikuo
"Haku". Kata Miku
"Kau... GADIS SIALAN! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DI SINI, HAH?!". Akaito berteriak, ia terlihat marah
"Pergilah dari mansion kami sekarang juga!". Kata Meiko
"Ada perlu apa kau kemari?". Tanya Gakupo
"Gakupo-sama, tenanglah..". kata Luka
"Hmmm... Tamu yang tak terduga tiba-tiba saja muncul di hadapan kita". Kata Kaito
"Dialah pelakunya". Tulis Rin
"Kau benar". Kata Len
Haku berjalan mendekati mereka, raut wajahnya terlihat sedih
"Uhm.. ano.. aku kemari untuk...". Haku berkata sambil menangis
.
.
.
To Be Continued
Minna, bagaimana mnurut klian? Ckup memuaskan ga? ^
Di chapter dpan konfliknya mngkin akan sgera brakhir n 2 chapter lgi fic ini bkln tamat
Review nya mana nih? :3
