TIME
.
Arlian Lee
.
Jung Taekwoon / Lee Jaehwan
..and many more...
.
Disclaimer: Chara's are not mine, this is pure fanfiction, Alternative universe, Out Of Character
.
Genre's: Angst, romance, hurt, drama
.
Pair : LeKen slight! Others.
.
Please don't! Blame, Bash, Plagiarize and other bad things
.
.
.
Chapter 20
.
"Jae!"
Taekwoon memeluk Jaehwan dengan erat menyebabkan sang lawan tersentak dan terkejut. Taekwoon tak peduli tatapan dari orang lain yang mungkin mengatakannya gila, Taekwoon tak peduli dengan bisik-bisik samar yang mengaung dari mulut-mulut mereka. Taekwoon tak peduli dengan lingkungan sekitar. Atau bahkan ia tak peduli dengan Kyungsoo yang terbaring tenang.
Taekwoon tak peduli, toh posisi mereka cukup jauh dari jangkauan Kyungsoo.
Yang saat ini Taekwoon pedulikan adalah Jaehwan. Sosok yang selama ini tak pernah bisa ia lihat secara langsung. Sosok yang menolak bertemu dengannya dan sosok yang membencinya. Tapi sekarang? Sekarang ia bisa memeluk tubuh yang sangat ia rindukan hingga tubuhnya meremang. Merindukan Jaehwan bagaikan ia mati perlahan.
Taekwoon bahkan tak peduli dengan penolakan dari Jaehwan saat ini. Pelukan itu semakin erat dan erat setiap detiknya.
"Aku merindukanmu, Jae! Aku sangat merindukanmu!"
Ucapnya terburu. Ia tak bisa lagi menahan apapun yang ada di dirinya. Hirupan dalam ia lakukan. Harum tubuh Jaehwan yang ia rindukan mampu mengembalikan energi yang lepas dari dirinya. Satu persatu segalanya berkumpul kembali. Dalam hitungan detik keadaan Taekwoon berubah seratus delapan puluh derajat.
Inilah yang diinginkan Taekwoon. Berada dalam jangkauan tubuh Jaehwan. Menyesap aroma tubuh Jaehwan dan merengkuh tubuh Jaehwan. Tubuh yang entah sejak kapan menjadi candu baginya, memabukkannya dan menghipnotisnya. Membuatnya gila saat tak sanggup merengkuh tubuh itu. Bukan berarti ia hanya menginginkan tubuh itu, tidak. Ia mencintai Jaehwan. Mencintainya dan tak ingin kehilangan tubuh itu barang sejenak.
Sekedar berpisah sementara pun ia tak ingin.
"Maafkan aku, Jae! Maafkan aku! Kenapa kau menolak bertemu denganku? Maafkan aku! Aku mencintaimu dan aku sangat merindukanmu!"
Selama berada dalam pelukan Taekwoon. Jaehwan hanya diam tak bergeming. Tubuhnya seolah membeku tak sanggup bergerak. Tatapannya kosong jatuh pada lantai kayu. Dadanya sesak dan terhimpit dan tangannya menggepal. Seakan ia menggenggam sebuah rasa yang tak tahu apa saja itu. Yang jelas, Jaehwan berada dalam dua bilik yang saling menariknya.
Satu bilik ia ingin lepas dan satu bilik ia ingin tetap berada dalam posisi itu. Hingga-
"Lepaskan aku!"
-satu bilik itu memenangkan kendali atas Jaehwan.
"Lepaskan aku!"
Suaranya dingin, sedingin salju yang mungkin sebentar lagi menyapa. Sedingin penghujung musim gugur yang akan berganti tugas dengan musim dingin.
"Aku merindukanmu, Jae! Ku mohon! Maafkan aku!"
Meski sedingin apapun saat ini musim yang menyelimuti Jaehwan, Taekwoon tak peduli. Ia sama sekali tak mempedulikan apapun. Yang ia pedulikan hanyalah kembali memeluk Jaehwan dan menyesap kerinduan yang ditaburkan untuk Jaehwan.
"Lepaskan aku!" Tangan Jaehwan beraksi. Meraih lengan Taekwoon yang berada dalam pundaknya. Mungkin sedikit ia merasa hangat saat tubuh Taekwoon menjamahnya. Mungkin kekosongan yang beberapa kali ia rasa mulai terisi. Namun tetap saja, keangkuhan dan kebencian itu memiliki kendali yang luar biasa atas dirinya.
"Lepaskan aku atau aku berteriak!"
Lalu Taekwoon mengalah. Ia melepaskan pelukan itu dan menyorot penuh penyesalan juga kekecewaan pada dua kristal kelam Jaehwan. Ia bisa melihat bahwa di dalam sana memang ada kebencian dan rasa tak suka kepadanya. Tetapi sepasang mata musangnya jeli dalam melihat kan? Ada sirat kesepian yang beradu dengan kesedihan. Mungkin kah?
Taekwoon tak tahu. Yang pasti, kegelapan rasa benci itu masih bertahan. Entah bagaimana caranya ia menggantinya dengan terang cahaya kasih dan membuat Jaehwan kembali padanya.
Hanya saja, Taekwoon perlu bersyukur. Setidaknya ia bisa memeluk tubuh Jaehwan. Bisa menghirup aroma tubuhnya dan bisa merasakan hangat di tubuhnya. Ini semakin menumbuhkan semangat untuk merebut kembali hati Jaehwan. Apapun resikonya.
.
.
.
Kembali lagi rutinitas Taekwoon menyambangi kediaman Tuan Kim untuk meluluhkan batu yang bersemayam dalam hati Jaehwan. Ia kembali dengan tangan membawa es krim. Mungkin saja Jaehwan menerimanya. Meski ini bukan es krim mahal dari kafe terkenal.
Lalu ia memencet bel. Ada asa yang tinggi untuk Jaehwan. Semoga setelah kejadian tempo hari Jaehwan tak semakin membencinya. Semoga Jaehwan akan tersentuh dan mau memaafkannya.
"Oh, Taekwoon!"
Taekwoon berjengit kaget manakala Tuan Kim yang membuka pintu untuknya. Biasanya Sungkyu yang akan menyambutnya. Tapi ini? Apa Tuan Kim kebetulan ada di rumah?
"A-ajusshi! Selamat malam!" Satu bungkukan diberikan Taekwoon sebagai rasa hormatnya.
Tuan Kim tersenyum dan menyentuh pundak Taekwoon.
"Mau bertemu dengan Jaehwan? Masuklah! Ajusshi akan panggilkan Jaehwan."
Dan untuk pertama kalinya semenjak kejadian itu ia dipersilahkan masuk selama berjuang memungut maaf dari Jaehwan. Selama ini Sungkyu akan membiarkannya membeku di depan rumah lalu mengusirnya. Taekwoon harus mencatat juga mengingat kebaikan yang ditorehkan Tuan Kim. Ia tak akan mengecewakan Tuan Kim.
"Jaehwan menolak bertemu denganmu."
Sudah biasa Taekwoon mendengar jawaban itu. Seharusnya ia tak berharap banyak dan sedikit menurunkan asanya agar sang hati tak terluka terlalu dalam lagi. Ia hanya bisa menghela nafasnya pelan dan mengulas senyum pilu. Sakit itu terus membuntutinya hingga ia tak bisa tersenyum lagi.
Lalu ia pun harus menurunkan kesenangan yang sempat ia junjung tinggi.
"Ah, sepertinya Jaehwan memang masih membenciku. Kalau begitu Taekwoon pulang dulu! Maaf menggangguk Ajusshi juga Jaehwan."
"Tunggu! Jangan pulang! Bagaimana kalau kita mengobrol dulu? Ada beberapa hal yang ingin Ajusshi sampaikan padamu."
Baru saja Taekwoon akan berdiri dan pergi. Namun ajakan Tuan Kim mengubah keinginannya. Taekwoon pun mengangguk ragu. Apa yang akan mereka obrolkan? Apakah ada hal penting? Atau sekedar basa-basi?
"Bagaimana keadaan eomma-mu? Ajusshi dengar dia masuk rumah sakit jiwa." Tanpa sedikitpun menyindir, Tuan Kim bertanya serius.
Taekwoon mengulum bibirnya begitu ditanya tentang sang ibu. Dengan senyum pahit ia menjawab. "Masih sama. Tidak ada perkembangan yang berarti. Tapi saya bersyukur eomma sehat secara fisik."
"Ajusshi benar-benar turut sedih mendengar keadaan eomma-mu. Lalu kau? Apa kau masih bekerja di toko itu?"
"Ya, tidak ada yang berubah. Bahkan keadaan saya semakin lama semakin memburuk. Terutama hati saya. Saya... benar-benar kehilangan Jaehwan."
"Kau mulai mencintainya?"
Taekwoon mendongak. Tatapan itu menjurus pada sorot teduh Tuan Kim yang seakan mengatakan bahwa ia tahu banyak tentang Taekwoon. Reflek Taekwoon mengangguk yakin. Tak ada keraguan ataupun kepura-puraan.
Itu menimbulkan senyum simpul dari yang lebih tua. Tuan Kim melepas kacamatanya lalu menyender dengan nyaman di senderan sofa.
"Syukurlah kalau kau mulai mencintai Jaehwan. Tapi kau benar-benar mencintainya bukan?"
"Ya! Saya mencintai Jaehwan! Jika memang saya tidak mencintainya kenapa saya harus berusah payah mengais maaf dari Jaehwan? Saya tidak akan peduli jika Jaehwan membenci saya sekalipun."
Keyakinan dan ketulusan ucapan Taekwoon menarik Tuan Kim untuk segera mengungkapkan semua. Tak ada yang perlu ditutupi lagi. Toh Taekwoon juga perlu tahu kan? Sudah terlalu lama juga keadaan sama sekali tak menjadi apa yang diharapkan. Taekwoon menderita begitu juga dengan Jaehwan. Jika terus seperti ini apakah keduanya akan menggapai keinginan bahagia?
"Kalau memang kau benar-benar mencintainya, kau perlu tahu tentang hal ini."
Alis Taekwoon menaut bersanding dengan dahi yang mengerut. Apa itu?
"Kau tahu? Sebenarnya Jaehwan pun tidak begitu kuat menghadapinya sendiri. Dia memang membencimu, dia memang bersikap seolah tak pernah ingin bertemu denganmu lagi. Tapi perlu kau ketahui kalau dia butuh seseorang yang berada di sebelahnya. Ada kesepian dan kekosongan yang perlu diisi oleh seseorang. Ajusshi yakin jika seseorang itu bukan orang lain. Yang dibutuhkan oleh Jaehwan adalah dirimu."
"Ma-maksud Ajusshi? Apa.."
"Dia butuh waktu untuk melepas kebenciannya, dia butuh waktu untuk mengakuinya. Tapi dia benar-benar membutuhkanmu. Dia membutuhkanmu disisinya. Karena saat ini, saat ini Jaehwan tengah mengandung anakmu. Dia hamil anakmu, Taekwoon."
"Ha-hamil?"
Taekwoon terkesiap tak percaya. Pendengarannya masih berfungsi dengan baik bukan? Hamil? Jaehwan hamil anaknya? Benarkah ini? Tiba-tiba perutnya membludak kebungahan yang tak terkira. Rasa bahagia itu menjalar keseluruh tubuh. Dada Taekwoon bergemuruh senang berirama dengan degupnya yang tak beraturan. Jelas, Taekwoon sangat bahagia mendengar ini.
Sekalipun Jaehwan masih membencinya, setidaknya ada satu pengikat yang tak akan melepaskan dirinya dari Jaehwan. Pengikat itu akan menyatukan ia dengan Jaehwan. Ya, anak mereka. Anak mereka pasti akan memberikan kesempatan bagi Taekwoon untuk kembali dalam pelukan Jaehwan.
.
.
.
Dan yang diyakini oleh Taekwoon terjadi. Entah bagaimana caranya Tuan Kim membujuk, saat ini Taekwoon bisa kembali masuk dalam Keluarga Kim. Jaehwan mau menerima kehadirna Taekwoon lagi. Apakah mungkin ini karena pengikat yang ada di tubuh Jaehwan, atau memang Jaehwan lelah dengan keras kepala yang ada di otaknya?
Entahlah, apapun itu Taekwoon bersyukur Jaehwan mau memberikan kesempatan padanya. Ada yang perlu Taekwoon perhatikan disini. Sebesar apapun rasa syukur dan kebahagiaan yang ia dapatkan, Jaehwan masih enggan berbicara padanya. Tubuhnya memang ada di tempat yang sama, tetapi Jaehwan bungkam dan enggan memberikan jawaban jika ia tak menginginkannya sendiri.
Seperti malam ini, Jaehwan tak membalas ucapan Taekwoon. Jangankan satu kata, senyum saja tidak. Hanya tatapan sinis dan lengosan benci yang menjadi pemandangan Taekwoon sepanjang malam.
"Kau akan tidur dimana?" Tanya Taekwoon saat melihat Jaehwan mengambil bantal dan selimutnya. Dan Jaehwan tak menjawab, ia melewati Taekwoon begitu saja. Namun kecepatan tangan Taekwoon jauh lebih besar dibandingkan gerakan Jaehwan. "Kalau harus ada yang pergi dari sini, itu aku. Bukan kau!"
Jaehwan memutar bola matanya. Tatapan malas itu menghujam blackhole Taekwoon. Dari tatapan itu Taekwoon bisa membaca apa maksud Jaehwan.
"Aku benar-benar minta maaf, Jae! Sebesar itu kah rasa bencimu kepadaku? Sampai kau jijik berada satu ruang denganku? Memang, aku adalah lelaki biadab yang telah mengecewakanmu, membuatmu terluka, dan menyakitimu. Tapi.. tidak adakah kesempatan untukku memperbaiki semua?"
Tak menjawab, Jaehwan menghentakkan tangan Taekwoon dan melangkah lagi. Namun Taekwoon meraih lengan itu kembali.
"Aku mohon! Aku mohon, Jae! Jika itu bukan untukku, ini adalah untuk anak kita!"
Bola mata Jaehwan bergerak kecil. Lagi dan lagi ia akan merasa kalah dengan kata anak. Kenapa ia menjadi lemah setiap kali ada yang menyinggung tentang anaknya? Diam pun masih merajai dirinya. Baiklah, ini untuk anaknya. Kebaikan anaknya. Ia harus melepas keegoisannya sebentar dan menyingkirkan kebencian itu untuk beberapa jenak.
Karena Jaehwan pun merasa perutnya bergejolak. Sepertinya janin itu mendengar ucapan Taekwoon.
"Tidurlah! Jangan bicara kepadaku."
Jaehwan pun mengalah dengan kembali ke ranjang. Ia tidur menyamping. Membelakangi Taekwoon yang masih berdiri di tempat dengan perasaan sedikit lega. Mungkin sekarang Jaehwan masih belum benar-benar bisa menerima kehadirannya, Taekwoon yakin jika nanti Jaehwan pasti akan menerimanya kembali.
Keadaan menjadi dingin sekali. Taekwoon tak menemukan kehangatan yang dulu sering ia rasakan bersama Jaehwan. Taekwoon yakin Jaehwan bukan orang yang seperti itu. Tapi ini semua? Lalu dadanya mencelos, sebesar itukah kesalahannya hingga Jaehwan berubah seperti ini? Padahal ia ingin sekali memeluk tubuh itu. Membawanya dalam dekapan hangat dan meninabobokkannya seperti dulu. Saat-saat kehancuran itu belum datang. Saat dimana ia masih terpengaruh dalam dendam dan Jaehwan masih mengumbar cinta. Saat dimana Taekwoon merasa bodoh diperbudak dengan dendam dan mengabaikan kasih yang dituangkan Jaehwan.
Bodoh! Taekwoon memang bodoh!
Lantas ia ikut berbaring di sebelah Jaehwan dengan menatap punggung Jaehwan. Ada do'a yang mengurai dari bibirnya. Do'a yang sama setiap malam.
Semoga Jaehwan benar-benar memaafkan.
.
.
.
"Kau bangun sendiri? Mana Taekwoon?"
Sungkyu selesai menyiapkan sarapan dan melihat Jaehwan yang duduk sendiri di meja makan. Tak ada tanda-tanda dari Taekwoon yang entah sudah bangun atau belum. Jaehwan pun tak menjawab tanya Sungkyu. Dari apa yang Sungkyu lihat sepertinya Jaehwan masih tak memiliki keinginan peduli pada Taekwoon.
Beberapa detik kemudian, Woohyun dan Tuan Kim datang. Mereka pun sama, memancarkan tanya kemana Taekwoon. Tapi gelengan Sungkyu lebih dulu membungkam mulut mereka untuk diam.
"Pagi ini kita sarapan roti panggang dan susu ya? Oh ya, Jae! Apa kau tidak mual minum susu ini nanti? Susu khusus milikmu sudah habis."
Jaehwan menggeleng dengan senyum tipis. "Tidak apa-apa! Jaehwan kuat kok. Kalau memang mual, nanti Jaehwan akan minum obat dari dokter."
"Obatmu masih ada?"
"Masih, hyung!"
"Jaehwan.." Jaehwan menengok pada Tuan Kim yang memanggilnya setelah meneguk setengah susu yang disiapkan Sungkyu. "Kau tidak membangunkan Taekwoon? Bangunkan dia dan ajak makan."
Jaehwan menghembuskan nafasnya kasar. Tiba-tiba moodnya untuk sarapan pagi hilang ketika ditanya tentang Taekwoon. Bukankah mereka sudah berjanji untuk tak mengusik ketenangannya dengan mengungkit nama Taekwoon jika ia bersedia menerima Taekwoon? Biarkan saja ia bertindak semau hati tanpa harus ditanya tentang Taekwoon. Jaehwan jengah, ia masih kesal dan ia tak ingin menjawab setiap tanya itu dari mulutnya.
"Jae! Ayo, ajak Taekwoon makan!"
"Tidak perlu, ajusshi!" Semua menoleh pada sumber suara. Rupanya Taekwoon datang dengan penampilan yang sudah rapi. "Taekwoon pasti akan keluar untuk makan." Lalu ia duduk di sebelah Jaehwan.
"Aku selesai!" Jaehwan bangkit. Ia tak sudi makan satu meja dengan Taekwoon.
"Jae! Duduk! Kembali makan!"
"Tidak!"
Dan Sungkyu menahan sang ayah yang ingin Jaehwan agar tetap tinggal. Mereka tahu Jaehwan masih belum memakan makanannya. Mungkin hanya minum susu saja. Namun mereka pun tak menampik kenyataan jika Jaehwan benar-benar masih menyimpan kebencian pada Taekwoon.
"Maafkan Taekwoon!" Taekwoon merasa bersalah dengan kepergian Jaehwan. Seharusnya ia saja yang tak datang ke ruang makan. Seandainya Taekwoon tahu bila kedatangannya akan berakibat demikian, lebih baik Taekwoon mundur dan tak muncul lagi.
Tuan Kim tersenyum begitu juga dengan Sungkyu dan Woohyun.
"Semua butuh proses, Taek! Ini adalah balasan untukmu, tapi ajusshi yakin Jaehwan akan menerimamu nanti. Tunggulah dan bersabarlah."
"Iya, terima kasih kepada kalian yang masih mau menerima Taekwoon. Saya tidak tahu bagaimana hidup saya jika selamanya saya tidak bisa menerima maaf dari kalian."
Sungkyu mendesah kecil. "Ya, awalnya aku sangat membencimu. Tapi melihat ada batu yang bersarang di otakmu mau tidak mau melukai hatiku. Aku juga manusia yang lama kelamaan akan luluh menyaksikan kegigihanmu. Aku berharap usahamu ini tidak akan berakhir sampai disini. Ku berharap kau akan terus menghancurkan dinding kebencian yang dibangun dalam hati Jaehwan." Tukas Sungkyu panjang lebar. Ya, memang nyatanya Sungkyu saat ini mulai membuka diri untuk Taekwoon. Toh kalau dipikir-pikir lebih lagi tidak ada gunanya menyimpan sejuta kebencian untuk Taekwoon.
Mau apa? Taekwoon juga bukan kekasihnya. Ia mau benci ataupun marah kepada Taekwoon, lelaki itu akan tetap pada pendiriannya menarik kembali Jaehwan ke dalam pelukannya.
"Hyung setelah ini mau berangkat bekerja?" Woohyun melempar tanya. Ia masih menjunjung rasa hormat untuk Taekwoon. Usia mereka terpaut satu tahun dan lebih tua Taekwoon. Sehingga ia akan tetap meggunakan embel-embel hyung untuk menghormati Taekwoon.
Taekwoon mengangguk.
"Mau bareng? Kebetulan, aku juga akan berangkat ke kafe. Daripada hyung naik bus kota."
"Kalau itu tidak memberatkanmu, aku menerima."
"Tentu."
"Ya sudah, cepat habiskan sarapan kalian. Oh ya, Sungkyu! Setelah ini datanglah ke kamar Jaehwan. Bawa makanan untuk dia."
"Pasti."
.
.
.
Ini sudah jam tiga sore dan Jaehwan sama sekali belum menemukan fokusnya. Sejak ia memutuskan untuk bekerja selepas jam makan siang, sering kali ia salah dalam bekerja. Entah itu salah pesanan, entah itu piring pecah atau yang paling parah adalah ia nyaris menyiram pelanggan dengan minuman yang ia bawa.
Ada kemelut yang membungkus otaknya dan sulit sekali ia temukan ujung benang itu. Membuntal jadi satu dan menghambat kejernihan otaknya dalam berpikir. Apa sebenarnya yang menyebabkan ia seperti ini? Apa?
Jaehwan pun tak tahu. Ada banyak sekali yang bersemayam di dalam pikirannya. Mulai dari ngidamnya yang tak hilang-hilang sejak kemarin malam –ia terpaksa menahan karena kondisi rumah yang kurang baik sejak kedatangan Taekwoon-, lalu masalah Taekwoon, masalah anaknya dan masalah masa depannya. Entahlah, Jaehwan terlalu larut hingga ia tak sadar bahwa saat ini ia butuh fokus dalam bekerja.
"Berhentilah atau kau akan terus menjatuhkan minumannya, Jaehwan!" Suara itu menyentak pendengaran Jaehwan.
Adalah Woohyun yang sedikit kesal melihat Jaehwan banyak melamun dan berakhir dengan beberapa minuman pesanan jatuh. Ia tidak marah, tidak. Hanya saja ia kurang enak dengan pelanggan yang membual berita bodoh di belakangnya.
"Istirahatlah, Jae! Kau akan menyakiti dirimu dan hyung!"
"Hyung?"
"Ya, kalau kau terus membuat onar bagaimana citra hyung dimata para pelanggan?"
Jaehwan menghembuskan nafasnya pasrah. Ia akui jika dirinya memang banyak salah hari ini.
"Maaf! Tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini." Jaehwan meletakkan nampannya dan bersender pada meja kasir. Ia mengabaikan tatapan jengah dari Woohyun.
Satu decakan kecil turun dari bibir tebal Woohyun. "Kau tahu apa yang membuatmu seperti itu." Sahut Woohyun.
"Apa?"
"Jangan terlalu dijadikan beban! Apa sih susahnya menerima? Hyung tahu kalau itu mungkin terlalu sulit, tapi.. Kalau terus seperti ini, kau juga yang akan tersiksa."
Tanpa harus menjelaskan dengan gamblang, Jaehwan tahu kemana arah pembicaraan ini. Apa terlalu jelas? Jaehwan menghela nafasnya. Jika bersama Woohyun, ia jarang membantah saat membicarakan hal-hal yang serius. Apa Woohyun pernah merasakan seperti yang Jaehwan rasakan? Lelaki itu sedikit mencibir dalam hati. Ini sulit, jelas sulit. Bagaimana bisa ia memaafkan dan menerima kembali sepenuhnya sosok yang telah melukai dan menyakitinya secara fisik juga batin?
Kalau pun mudah, sudah sejak awal ia akan melakukannya.
Ia bahkan mengaburkan selembar tipis rasa yang masih bertahan dan mencari peluang untuk berkembang.
"Dia sudah mendapatkan karmanya, jadi apa kau sengaja mengujinya lagi?"
Sontak Jaehwan menoleh. Entah mengapa kalimat tanya itu menggelitik relung hatinya. Menyentil dengan kuat dan menggugah kesadaran yang ada.
Mengujinya? Mengujinya? Apa mungkin?
Lalu ia mengendikkan bahunya kecil. "Bisa... bisa jadi. Entahlah! Aku tidak tahu!"
"Ya, sepertinya kau menguji kesabaran Taekwoon!"
"Hyung!"
"Oke, sekarang lebih baik kau berberes dan pulang. Aku sungguh tidak ingin melihatmu lebih buruk lagi."
Kali ini Jaehwan menurut. Ia melepaskan celemek yang menutup bagian depan tubuhnya dan melipatnya kemudian. Sekon berlalu ia berjalan menuju ruang karyawan untuk mengambil perlengkapannya dan pulang.
Selama di dalam perjalanan pulang, kalimat Woohyun mendengung berulang. Mengujinya? Sungguh, Jaehwan masih bingung sampai sekarang. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Suara hatinya berucap dengan pendapat yang berbeda. Bak dua malaikat berbeda tujuan yang tengah mempengaruhinya hingga salah satu dari mereka menang.
Itu juga yang menjadikan Jaehwan terkadang kasihan kepada Taekwoon tapi tak menampik kekejaman yang diberikan.
.
.
.
"Hyuuuungg! Ayolaaaahhh! Aku ingin sekali makan es krim rasa latte di kafe Incheon! Aku ingin sekali!"
Rengekan Jaehwan membuat Sungkyu mendesah pelan. Ia ingin menolak tapi melihat wajah cemberut Jaehwan membuatnya bingung. Sekarang sudah tengah malam, mana mungkin ia akan pergi ke Incheon untuk semangkuk besar es krim latte?
Tubuhnya juga kurang sehat, lalu Woohyun juga belum pulang. Terus bagaimana?
"Jae! Besok saja yaa? Hyung sedang pusing.."
"Hyung! Aku inginnya sekarang." Rengekan Jaehwan masih terdengar menguasai di kediaman Kim. "Aku inginnya sekarang!"
"Tapi Jae! Ini sudah malam.. Hyung tidak mungkin ke Incheon membelinya.."
"Biar aku saja yang beli hyung!"
Baik Sungkyu maupun Jaehwan sama-sama menoleh ke sumber suara. Ada Taekwoon disana dengan senyum mengulas cerah. Sepertinya ia baru saja pulang bekerja. Apa ia mendengar rengekan Jaehwan?
"Taek? Kau baru saja pulang!"
"Tidak apa-apa, hyung! Kau ingin apa Jae?"
Jaehwan tak menjawab, ia melengos pergi meninggalkan Sungkyu dan Taekwoon. Sungkyu lantas memberi tahu apa keinginan Jaehwan. Ia juga memberikan kunci mobil untuk dibawa oleh Taekwoon pergi ke Incheon. Sebenarnya ia tak tega, tapi mau bagaimana lagi ini juga sudah tanggung jawab Taekwoon.
Dan bagi Taekwoon, ia tak masalah harus pergi ke Incheon asal itu bisa membuat Jaehwan bahagia dan menerimanya kembali. Ini adalah salah satu cara yang bisa ia lakukan. Segera ia pergi untuk mendapatkan apa yang diidamkan oleh Jaehwan.
.
.
.
Es krim latte sudah ada di tangan. Taekwoon tersenyum dan siap memberikan pada Jaehwan sekarang setelah dua jam menempuh perjalanan. Ia segera masuk ke dalam rumah dengan tangan membawa pesanan Jaehwan. Saat ia masuk ke dalam rumah, ia melihat Jaehwan duduk berdua dengan Sungkyu. Namun sepertinya Taekwoon perlu menata hatinya, tatapan Jaehwan terlalu tajam untuk dilawan.
"Ini yang kau inginkan." Ucap Taekwoon dengan menyodorkan satu mangkuk besar es krim latte.
Sungkyu tersenyum puas. Adik iparnya benar-benar bisa diandalkan untuk urusan demikian.
"Waahh, Jae! Dia sudah membawakan apa yang kau inginkan!" Pekik Sungkyu senang dan mengambil alih es krim itu dari tangan Taekwoon. Selanjutnya ia memberikannya pada Jaehwan.
Yang diharapkan tak selamanya sesuai dengan kenyataan. Tampaknya Taekwoon benar-benar harus menyiapkan kadar kesabaran yang besar hari ini. Jaehwan menyentuh es krim itu bukan untuk dimakan, melainkan dibuang. Perhatikan baik-baik! Dibuang! Ya, es krim itu dibuang di depan mata Taekwoon dengan satu lemparan tepat masuk ke dalam kotak sampah.
Jaehwan lalu tersenyum jijik dan meninggalkan Sungkyu yang memekik tak percaya juga Taekwoon yang mencelos terperangah. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Jaehwan bersikap demikian kasarnya atas usaha susah payah yang diberikan Taekwoon? Setidaknya beri sedikit perhargaan atas kerja keras Taekwoon. Satu suapan masuk ke dalam mulutnya, mungkin?
Sungkyu menggeram marah. Ini sebuah penghinaan. Ia tahu Jaehwan mungkin masih kesal dengan Taekwoon tapi tidak seperti ini juga. Tidak seharusnya Jaehwan bertindak kejam seperti ini.
"Jae! Kau!"
Suara bel terdengar nyaring berbarengan dengan pekikan Sungkyu yang dihiraukan oleh Jaehwan. Sungkyu menoleh pada Taekwoon. Sedang lelaki itu hanya mengendikkan bahu tidak tahu. Lantas Sungkyu bergegas ke pintu utama.
"Oh, Hongbin?"
"Jaehwan hyung mana? Hongbin membawakan pesanannya. Katanya dia ingin es krim dari kafe di Incheon. Kebetulan juga Hongbin baru saja mengantarkan Sanghyuk ke bandara."
Sungkyu menghembuskan nafasnya pelan. Sungguh, Jaehwan benar-benar keterlaluan. Tidak sepantasnya ia meminta Hongbin seperti ini. Mau tak mau Sungkyu membiarkan Hongbin masuk ke dalam kamar Jaehwan.
"Waaahh! Terima kasih, Binnie! Kau memang yang terbaik!" Seru Jaehwan antusias dengan tangan menerima uluran es krim dari Hongbin. Jelas ini berbeda jauh dengan sikap yang ditunjukkan pada Taekwoon. Jaehwan tak peduli bahkan saat ini Taekwoon yang tengah melihatnya pun ia tak peduli. Melihat seberapa besar rasa antusias Jaehwan saat menerima suapan dari Hongbin.
Sebesar apapun luka yang menganga dan mengeras di hati Taekwoon, Jaehwan tak peduli.
Taekwoon hanya menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit, kesal dan amarah yang berkumpul. Ia hanya bisa mengeratkan kepalan tangannya. Ia bisa apa jika kenyataannya ia memang kalah? Jaehwan masih membencinya. Jaehwan masih merasa jijik bersanding dengannya. Lalu Taekwoon bisa apa kalau Jaehwan memang memilih bersikap demikian? Toh ini konsekuensi atas pilihannya juga kan?
Sesakit apapun itu Taekwoon mencoba bertahan demi kasih sayang yang lama ia rindukan.
.
.
.
Sepagi mungkin Taekwoon sudah bangun. Jadwalnya untuk menjaga toko adalah pagi. Sehingga ia harus bangun dan menyiapkan sarapan untuk Jaehwan. Seakan tak memiliki rasa kapok dibanting berulang kali oleh Jaehwan, lelaki itu masih berdiri kokoh demi memetik maaf dari Jaehwan. Lelaki itu seolah memiliki hati yang terbalut besi yang tak mudah hancur walaupun diterjang berulang kali.
Satu nampan sarapan telah tersedia di meja nakas. Sengaja Taekwoon tak membangunkan Jaehwan yang tampaknya sedikit kesusahan karena tiba-tiba perutnya rewel semalam. Lelaki itu tertidur lelap sekali. Tapi sekarang sudah mendekati pukul delapan pagi dan Jaehwan harus bangun sebelum ia pergi bekerja.
"Jae! Jae, ayo bangun!"
Taekwoon menggoyangkan kecil bahu Jaehwan. Sebisa mungkin ia tak menyakiti Jaehwan.
Jaehwan pun memberikan respon kecil. Ia mengerjab berulang sebelum membuka sepenuhnya kelopak tipis itu.
"Ayo sarapan dulu, Jae! Hyung akan pergi bekerja sebentar lagi." Ucap Taekwoon dengan tangan mengusap lengan Jaehwan.
"Jangan menyentuhku!" Bentak Jaehwan begitu ia sadar bahwa saat ini Taekwoon berusaha untuk membangunkannya. Jaehwan masih tak suka jika Taekwoon menyentuh tubuhnya.
Taekwoon hanya menghembuskan nafasnya pasrah. Bukan hal aneh jika ia mengalami hal ini. Sudah biasa dan ia harus terbiasa.
"Aku tidak akan menyentuhmu, sekarang kau sarapan dulu eum? Aku juga membuatkanmu susu." Taekwoon mengalihkan atensinya pada nampan dan mengambil gelas susu yang ada untuk diberikan pada Jaehwan.
Jaehwan menerimanya. Tapi tak lama kemudian, ia membanting gelas itu hingga pecah dan susunya berceceran kemana-mana. Bukan hanya gelas susu itu saja, melainkan piring yang berisi nasi goreng kimchi itu juga berserakan tak karuan. Jaehwan tertawa setelahnya, tertawa sinis dan penuh hinaan. Ia sempat mengumpat bahwa ia tak akan makan masakan Taekwoon.
Sementara Taekwoon, rahangnya mengeras dan kepalan tangannya mengerat. Dadanya bergejolak dan amarah yang ada nyaris membludak. Ia ingin sekali membentak dan meluapkan emosinya, tapi sesuatu menahannya untuk tetap berada di tempat. Taekwoon memejam, berusaha menetralisir dirinya. Mengambil nafas dan menghembuskannya berulang, berharap ketenangan bisa ia raih.
Ngilu dan sesak menghimpit hatinya saat ini. Sikap Jaehwan sungguh keterlaluan. Ini melebihi batas, tapi untuk kesekian kalinya Taekwoon tak bisa apa-apa selain membereskan kekacauan yang dibuat Jaehwan.
Ia sudah berjanji kan, akan menerima semuanya? Sekalipun harus menelan amarahnya mentah-mentah.
Ini sakit asal kalian tahu. Sakit sekali.
.
.
.
Sikap Jaehwan melekat terus di otak Taekwoon. Rasa sakit itu tak pernah mau beranjak dari tempatnya. Terkadang Taekwoon ingin sekali berteriak dan menangis. Menyesali semua yang telah terjadi. Jika saja ia tak melakukan hal itu mungkin Jaehwan pasti berada di pelukannya dan berbagi kasih sayang bersama. Bukan pekikan dan penolakan bertabur kebencian. Bukan seperti ini.
Lalu air mata itu menetes pelan dari balik kelopaknya. Saat ini ia tengah berada di gudang menghitung persedian. Tak ada siapa-siapa, tak masalah kan kalau ia menangis saja? Taekwoon tidak kuat. Kesabarannya berada dalam ambang batas yang mengerikan. Ia juga manusia yang akan hancur jika terus saja memikirkannya.
Memang ia bersikap seolah ia tahan banting dan kuat diperlakukan demikian oleh Jaehwan. Tapi, ia akan menangis jika sang hati meraung kesakitan. Bagaimanapun ia manusia yang butuh melampiaskan rasa sakit itu dengan menangis.
Dan Taekwoon pun menangis terisak. Dadanya terhimpit dengan tenggorokan yang tercekat. Ia hanya bisa berdo'a semoga ini tak akan berjalan lama.
Sekitar lima belas menit kemudian, gudang itu diketuk seseorang. Pasti Sungjong. Siapa lagi? Di dalam toko ini hanya ada dia dan Sungjong sebagai pegawainya.
"Hyung? Kau di dalam kan? Ada undangan untukmu."
Undangan? Taekwoon segera mengusap air matanya. Undangan? Undangan apa?
Kemudian ia keluar dengan wajah sembab yang mungkin Sungjong bisa menebak bahwa Taekwoon baru saja menangis.
"Ada undangan untukmu. Sepertinya undangan pernikahan. Ah, iya, cepat cuci muka. Kita bertukar tempat! Aku bosan menjaga kasir."
Taekwoon mengambil alih undangan dari tangan Sungjong dengan anggukan dari kepalanya. Menyetujui keinginan Sungjong untuk bertukar posisi. Setelah Sungjong pergi, Taekwoon mulai membaca siapa pengirim undangan itu.
Dan sepertinya Tuhan masih betah untuk memberikannya cobaan dan beberapa luka di hatinya sehingga ia bisa menjadi lebih kuat lagi. Undangan itu adalah undangan pernikahan Hakyeon dan Wonshik.
Ya, Cha Hakyeon dan Kim Wonshik. Bagaikan disambar petir di siang bolong, Taekwoon nyaris limbung dengan kepala berkunang. Kenapa ia masih harus mendapatkan pesakitan dari Hakyeon? Kenapa? Lalu, buat apa Hakyeon mengundangnya? Untuk apa? Ah, Taekwoon butuh tenaga untuk sekedar berpikir tenang.
.
.
.
TBC
.
Update cepet..
Sengaja biar cepet selesai.
Jadi bagaimana? Taek ma Jae udah tinggal bareng noh, hahahahha
.
Oke reviewnya saja deh yaa..
Oh yass spesial ucapan terima kasih untuk kalian di chapter 20 ini. :D
Big thanks untuk:
Ligthningklass, bulantaurus, taona39, yoitedumb, Bhellaep, CandytoPuppy, Sky Onix, restiana, Lvinnie, guest dan siapapun yang berpartisipasi dalam ff ini. :D
Terima kasih banyak... :* :*
.
.
Salam hangat
.
.
~Arlian Lee~
