The Faults in Byun Baekhyun

Author: blehmeh

Translator: berryinlove

Desclaimer: Cerita ini milik blehmeh berry hanya menerjemahkan

Original Link: (spasi ganti titik) asianfanfics com/story/view/833300/the-faults-in-byun-baekhyun-angst-romcom-baekhyun-chanyeol-baekyeol-chanbaek-sliceeoflife/18

Cast: Chanyeol; Baekhyun; EXO's member; Other

Pairing: Chanbaek; Other

Genre: Romcom; Angst; Slice of Life

Rate: M

Warning: BL; banyak umpatan-umpatan dan sex talk

Note: Do not copy or re-publish. Do like, comment, and review~ ^^

.

ooo

.

300417

.

.

.

.

Keesokan paginya, Chanyeol bangun merasa buruk.

God damn it, mengapa Byun Baekhyun tak ada di sini lagi?

Bukan dia peduli. Byun Baekhyun dapat melakukan apa pun yang dia inginkan.

Tapi bahkan saat memikirkan ini, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon Kris, satu-satunya orang yang berbicara dengan Baekhyun, atau bersamanya, semalam. Entah mengapa, dia muak merasa sangat marah pada sahabatnya, yang harus diakui, dia rindukan, dan dia muak bersembunyi dan memikirkan yang buruk mengenai apa pun.

Sekarang saatnya dia menghadapi dan menjadi dewasa.

Fase ini mengenai hal itu, 'kan? Tumbuh?

Biasanya, Kris tidak akan mengangkat teleponnya kecuali dia menelepon beberapa kali, dan ketika mengangkatnya, dia akan berbicara dalam suara mengantuk dan kesal.

Tapi kali ini, dia mengangkat.

"Halo?" Suara itu sedikit mengantuk, tapi juga gugup, dan hampir penuh harap.

"Kris." Chanyeol membalas, berharap jawabannya tidak terdengar terlalu kasar. "Di mana Baekhyun?"

Ada keheningan.

"… Kau menelepon ku jam 8 pagi untuk menanyakan Baekhyun?" Chanyeol dapat mendengar nada tersinggung di suara Kris. "Kau tidak ingin berbaikan denganku?"

"Kris, menurutku yang lebih penting itu—"

"Aku akan tidur sekarang, dah—"

"Kris!" orang di sebrang sambungan itu mendesah.

"Mengapa kau bertanya padaku?! Aku tidak tahu di mana dia."

"What the fuck? Bukannya kalian teman tapi mesra?" Chanyeol tahu dia terdengar marah dan pahit, tapi dia tidak peduli. Tidak ketika Baekhyun tak ditemukan di mana pun.

"Apa? Apa yang telah ku beri tahu padamu? Ku bilang aku mencintai Joonmyun!" Chanyeol terdiam. "Mengapa kau tiba-tiba berpikir, kalau aku berteman dengan musuhmu itu berarti aku harus mencintainya juga?"

"Well, kelihatannya seperti—"

"Tidak ada yang berpikir seperti itu!"

"…"

"Sejujurnya, Chanyeol. Aku tidak pernah tahu kau orang yang seperti ini. Ku pikir kau lebih tak memikirkan apa pun daripada itu. Sejujurnya, apa yang membuatmu berpikir aku tiba-tiba jatuh cinta pada Byun Baekhyun—"

"Jadi kau tidak tahu di mana dia?" Chanyeol menginterupsi, tapi merasa lega karena mendengar Kris tidak memiliki ketertarikan pada Baekhyun atau apa pun. Dia merasa seperti beban telah diangkat dari bahunya. Tapi masih ada beban setidaknya satu lagi.

"Tidak! Kami teman dekat, tapi kami tidak perlu mengetahui semuanya tentang satu sama lain! … Tunggu, bukannya dia teman sekamarmu? Bukan seharusnya kau tahu—" Sebelum dia dapat melanjutkan, Chanyeol menutup sambungan.

Apa? Kalau begitu di mana dia?

.

.

.

.

Chanyeol melihat kontaknya (karena dia menyimpan kontak Baekhyun sebagai sebuah kenyamanan, bukan karena ingin), dan jarinya menggerayang di nama Byun Baekhyun. Bagaimana pun juga, tepat saat dia akan meneleponnya, dia ragu.

Tunggu. Aku tidak peduli.

Aku tidak memperdulikan dia.

Chanyeol menatap layarnya, melihat huruf besar akan 'BYUN BAEKHYUN' bersinar bersamaan dengan layar, sebuah nama yang dengan cepat melekat pikiran ketika dia mulai membencinya. Sekarang, dia bisa berada di mana saja, entah dalam bahaya atau tidak, entah dia butuh bantuan atau tidak. Dan di sini dia, memikirkan hal ini ketika teman sekamarnya berpotensial dalam bahaya?

Tentu saja kau peduli. Sadarlah.

Lakukan saja.

Lakukan saja.

Mengeluarkan geraman frustasi, Chanyeol menekan nama Baekhyun, dan menempelkan ponsel itu ke kupingnya. Yang dia dengar bukanlah tut tut dari telepon, tapi lebih kepada jantung berpacu yang tidak akan berhenti. Dia dapat merasakan wajahnya memanas, dan jantungnya berdegup dengan sangat cepat sampai dia setengah berpikir untuk memutus sambungan. Setelah satu menit penuh akan tak ada yang mengangkat. Chanyeol merasa lebih gelisah, dan dia memutus sambungan, dan menelepon algi. Kali ini, tidak ada yang mengangkat juga.

Pada panggilan ketiga, seseorang mengangkat.

"H-Halo?" Chanyeol bertanya dengan gugup, melupakan alasan mengapa pada awalnya dia menelepon.

"… Siapa kau." Orang yang mengangkat bukan Baekhyun, tapi lebih, seseorang dengan suara tangguh dan kasar. Jantung Chanyeol berpacu lebih cepat, tapi kali ini karena takut.

"Di mana Baekhyun? Apa ayang kau lakukan padanya?" Chanyeol menuntut, lebih menekan ponsel ke kuping, seakan dapat membantunya untuk mendengar Baekhyun.

"… Santai, kau dumb fuck." Lelaki itu membalas. "Dia tidur." Chanyeol mendesah lega, tapi kemudian dia menemukan masalah lainnya.

"Apa? Di mana? Aku bersumpah, jika kau—"

"Dude, tenanglah!" Orang itu merasa sedikit jengkel. "Kami bersetubuh sepanjang malam, dan sekarang dia sangat lelah tertidur di kasurku! Apa masalahmu? Kau ayahnya atau semcamnya?" Chanyeol merasakan jantungnya tenggelam. Well fuck you lelaki tua, kau pikir melakukannya dengan Bakehyun dapat membuat kalian menjadi dekat? HUH?! Chanyeol mengontrol dirinya.

"Aku bukan ayahnya—"

"Well kau terdengar seperti ayahnya." Ada suara bergeser, dan Chanyeol mendengar 'Seseorang meneleponmu' yang jauh, kemudian lebih banyak suara bergeser. "Well, karena kau sangat ingin berbicara dengannya, nih."

"Aku tidak ingin—" Mengetauhi dia bukan di suatu tempat yang bahaya saja sudah cukup. Walau dia seharusnya tidak menyetubuhi sembarang orang.

"Halo?" Ini suara Baekhyun, dan jantungnya berpacu dan wajahnya menjadi merah oh god mengapa dia melakukan ini padanya—

"… Halo—"

"…"

"…"

"…"

"… Jangan ditutup!" Chanyeol menceploskan, dan ada henti sejenak lainnya di sebrang sambungan.

"Apa yang kau inginkan?" Suara Baekhyun terdengar sangat lelah.

"Dengar, menagpa kau tidak pulang tidur di kasurmu sendiri, seperti anak baik?" Chanyeol mendengar Bakehyun tertawa di sebrang sambungan.

"Apa? Bukannya ini yang selalu kau ingnkan?" Baekhyun membalas, kemudian mengatakan 'Sampai jumpa nanti, aku harus pergi' yang jauh ke lelaki itu sebelum Chanyeol mendengar sesuatu seperti pintu tertutup. "Untuk mengeluarkan semua kotoran dari sistemmu?"

"Baekhyun, ini bukan—"

"Ini bukan apa? Kau ingin mengatakan aku suci sekarang? Atau aku tidak ternodai?" Baekhyun terkekek lagi, dan betapa Chanyeol membencinya—membeci tawaan pahit yang tidak memberikan apa pun selain perasaan buruk dalam dirinya. "Aku melakukan apa yang selalu kau inginkan. Aku memberikan apa yang selalu kau inginkan."

"Dan apa yang aku inginkan?"

"Aku keluar." Datang jawaban. "Keluar dari kehidupan suci, bersih, tidak dipenuhi apa pun selain pelangi dan hujan emas dan unicorn lembut. Di mana kau bisa hidup bahagia selamanya dengan Kyungsoo."

"Tapi itu bukan yang selalu ku inginkan." Chanyeol menyerang.

"Lalu apa yang kau inginkan, kalau bukan ini?" Baekhyun balik menyerang. Chanyeol terdiam

Dia tidak tahu.

Dia tidak tahu apa yang diinginkan.

Dia ingin Kyungsoo, tapi tidak. Dai ingin hujan emas, tapi dia juga membutuhkan hujan yang normal. Dia ingin kebahagiaan, tapi dia juga butuh kesedihan. Dia tidak tahu apa yang diinginkan.

Yang dia tahu apa yang dia inginkan bukanlah yang dijelaskan Baekhyun.

Tapi sebelum dapat mengulangnya ke teman sekamarnya, Bakehyun terkekek lagi.

"Itulah jawabanku." Dengan itu, Baekhyun menutup telepon, meninggalkan Chanyeol merasa bingung, frustasi, dan entah mengapa kosong di dalam.

.

.

.

.

Mengapa dia merasa seperti ini, seperti ingin menghantam seluruh dunia menjadi berkeping-keping?

Mengapa hatinya terasa sangat diliputi, tumpah dengan emosi yang tak begitu bisa dikenali (atau tak begitu bisa diterima)?

Mengapa adegan akan Chanyeol dan Kyungsoo dari dua malam yang lalu membuatnya merasa ingin memisahkan dan memastikan mereka tak akan bertemu dengan satu sama lain lagi?

Mengapa perasaan ini membuatnya ingin meludahi wajah Kyungsoo ketika melihatnya?

Dia benci perasaan ini.

Dia takut dengan perasaan ini.

Dia takut.

.

.

.

.

Dan dia sendirian.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dia berjalan lemas ke berbagai tempat seperti tunawisma, karena sungguh, dia tidak memiliki rumah. bahkan kamarnya, yang biasanya menjadi tempat sementara untuk dituju dan tidur saat malam, bukan kamarnya lagi. Dia tidak ingin pergi ke sana, tidak ingin melihat wajah Park Chanyeol

Atau lebih seperti, dia tidak ingin beresiko melihat Chanyeol dan Kyungsoo lagi.

God, melihat keduanya bersama itu sangat membuatnya kesal. Hal tersebut meninggalkan semacam rasa buruk di mulutnya, sangat buruk sampai dia tidak dapat bisa mencucinya bahkan jika dia ingin.

Sejak kapan dia mulai merasa sangat pahit? Sejak kapan dia menjadi orang yang sangat peduli mengenai pasangan? Dia tidak peduli.

Tapi tetap, melihat mereka berdua sudah cukup untuk membuatnya merasa seperti ini untuk sisa malam itu.

Dia tidak boleh memiliki perasaan ini. Dia tidak boleh merasakan ini. Perasaan ini asing tapi juga familiar, tidak memberikannya apa pun kecuali amarah dan rasa tak aman, mengambil energi dan logikanya. Dia takut akan hal-hal asing. Terlebih, dia ngeri akan hal-hal yang asing tapi familiar.

Untuk membuat pikirannnya terlepas dari hal-hal itu, dia tidur dengan lelaki lain.

Kenikmatannya ada di sana, seperti candu yang tak bisa dilepas, layaknya roller coaster yang pergi ke atas, atas, atas. Tapi puncaknya hanya bertahan untuk beberapa detik, kemudian dia kembali ke bawah, bawah, bawah, bawah, bawah. Kemudian pos-seks, dia merasa buruk lagi.

Setelah itu, seperti pecandu obat-obatan yang mencari obat dengan putus asa, dia mencari lebih banyak seks.

Dan hal yang sama terjadi. Kenikmatan yang terbangun menyenangkan, menggetarkan, tapi setelah itu tidak meninggalkannya apa-apa selain rasa pahit di mulut dan rasa sakit yang menembaki setiap bagian tubuhnya. Membuatnya kosong. Membuatnya berlubang.

Dan dia semakin membuat dirinya lelah dengan tiap lelaki, merasa mereka mengambil sebuah bagian kecil dari dirinya dengan mereka, membuatnya merasa berlubang sampai takut rasa kosong akan mulai menelan kulitnya.

Dia tidak tahu mengapa melakukan ini, mengapa dia menyetubuhi banyak sekali lelaki yang sekarang bahkan tak dia ingat wajahnya.

Tapi mungkin karena, melalui wahana itu, hanya ada satu wajah lelaki di pikirannya.

.

.

.

.

.

.

.

"SELAMAT ULANG TAHUN, BABY NINI KU~~~~" Chen berseru sambil bergegas untuk memeluk Jongin. Jongin tertawa dan balas memeluk.

Chanyeol merasa tak enak.

Karena apa yang terjadi selama dua hari terakhir, dia tidak memiliki waktu untuk membali hadiah untuk Jongin. Jadi yang bisa dia pikirkan adalah puppy Nini kuning yang dia menangkan tahun lalu dan juga jaket yang dia beli tahun untuk sahabatnya tahun kemarin, tapi tak sempat untuk diberikan. Dia tahu dia teman yang parah, dan mudah-mudahan dia bisa mengingat untuk membalas Jongin nanti, ketika berbagai hal lebih tetap.

"Karena ulang tahun mu hanya datang setahun sekali, aku akan memberi tahu apa yang hatiku rasakan." Chen tersenyum lebar ketika melepas pelukan dan menaruh kadonya di satu tempat. Semua orang mengikuti, tidak ingin menghabiskan sisa hari dengan memegang-megangnya. "Menurutku semua orang harus melakukanya, bagaimana?" Semua orang menagngguk, dan mulai duduk mengelilingi Jongin sehingga dia berada di tengah, merona malu karena perhatian yang ada. Kyungsoo duduk di sebelahnya dan Kris di sisi lain, setelah berbaikan dengannya (agak). Baekhyun tak ada di sana.

"Kalian tidak perlu—"

"Jongin-ah," Chen mulai sambil menunggu Jongin berbalik padanya, "kita menjadi semakin dekat sepanjang tahun ke-18 mu, dengan semua kunjungan rumah sakit dan orang-orang yang memiliki banyak waku bersama sampai tak punya waktu untuk kita, sehingga membuat kita menjadi bersama." Chen meliukkan alisnya pada Chanyeol, yang duduk tepat di sebrangnya, dan Chanyeol hanya dapat merasakan hatinya ternggelam lagi.

"Tapi itu merupakan hal yang baik, karena aku jadi bisa menemukan partner in crime lain yang seidiot diriku." Chen tersenyum sambil bersandar ke depan untuk menepuk punggung Jongin. "Aku selesai."

"Giliran ku kalau begitu." Tao berkata sambil menunggu Jongin untuk bergeser berbalik menuju dirinya. "Jongin, aku baru sebentar mengenalmu, tapi ternyata kau cukup asik! Aku dan Sehun senang untuk mencoba mengenalmu setiap hari." Tao tersenyum dan melakukan semacam jabat tangan dengan Jongin.

"Giliran ku!" Sehun tersenyum. "Jongin-ah, senang mengenalmu di klub Menari, karena aku tak pernah tahu kau sebagus itu dalam menari dan sejujurnya hal itu memberikanku seseorang untuk dikagumi. Bagaimana pun juga, kita semua tahu aku yang terbaik." Semua tertawa, dan Chanyeol memutar mata. "Ku harap kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu menjahili orang-orang!" Semua orang bergerak-gerak gelisah dalam duduknya.

"Jonngin." Yi Xing memulai kali ini. "Seperti yang Sehun katakan, menurut ku rasanya lega dan menantang mengetahui seseorang seperti mu menjadi rekan dance kami. Itu berarti aku bisa belajar dari seseorang dan menganggumi seseorang dan pada waktu yang sama dapat meningkatkan diriku untuk berada di standar mu. Ku harap kita bisa terus berlanjut."

"Maafkan aku, Jongin." Kyungsoo memulai. "Aku belum terlalu mengenalmu, tapi mudah-mudahan kita bisa lebih dekat tahun ini." Kali ini, semua orang berbalik ke Chanyeol.

"Uh …. Uhm …" Suara Chanyeol melemah, ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan, karena kapan pun dia melihat Jongin sekarang yang dia lihat adalah BaekhyunBaekhyunBAekhyun—"Bisa tidak dilewat du—"

"Maaf sekali aku telat." Baekhyun menerobos masuk di kamar 88, rambut berantakan dan mata setengah tertutup dengan kelelahan. Ketika Chanyeol melihatnya, dia merasa lega Baekhyun ada di sini, dan pada waktu yang sama resah, karena Bakehyun ada di sini.

"Eiiiiiiiiiiiiiiii~" Semuanya memanggil.

"Sebagai hukuman, kau harus mengatakan apa yang selalu ingin katakan pada Jongin, tanpa persiapan." Kris memaparkan. Chen memberikannya acungan jempol.

"Oh …" Suara Baekhyun melemah.

"Cepat! Dia menyiapkannya sekarang!" Seseorang mendesis, Chen dan Jongin menunjuk ruang di antara Chanyeol dan Kyungsoo.

"Cepat! Baek, duduk di sana jadi Jongin tidak perlu menggeser pantatnya!" Chen mendesak sambil menunjuk antara Chanyeol dan Kyungsoo dengan putus asa. Baekyun dan Chanyeol berbagi kontak mata untuk sepersekian detik sebelum memutusnya dan melihat ke tempat lain.

"Baik." Baekhyun berdiri di sana dan menunggu keduanya untuk bergeser, kemudian mendudukkan dirinya sendiri di antara mereka, pakaiannya menyentuh pakaian Chanyeol, menembak hatinya lebih dari apa pun.

"Mulai! Mulai!" Jongin memanggil.

"Jongin-ah," Baekhyun memulai, "kita sebenarnya telah mengenal satu sama lain untuk waktu yang lama aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Kau sahabat pertama dan terlamaku, dan kau selalu memberikan apa yang ku butuhkan tanpa bertanya ada apa denganku. Juga, kau dumbbutt yang harus berhenti bermain dengan Chen."

"Hey~~~" Chen merengek.

Selama itu, saat Baekhyun berbicara, Chanyeol fokus pada bibirnya, bibir yang sudah lama tak diciumnya, dan ingin dicium lagi.

"Oke, selanjutnya." Kris berkicau. Jongin bergeser ke Chanyeol.

"Uh … um …." Mata Chanyeol merendah, karena biasanya dia memiliki banyak hal untuk dikatakan, tapi sekarang dia kehabisan kata-kata. Pikirannya kosong. "Jongin, kau teman yang baik. Kau sungguh teman yang baik. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau masih dua tahun lebih muda dibandingkan aku dan menurutku seharusnya kau memanggilku hyung, meskipun kita berteman." Oke, jadi mungkin dia telah menumpahkan sesuatu yang telah menganggunya untuk waktu yang lama …

"Kau tidak memanggilku hyung." Kris memaparkan saat hampir semuanya tertawa.

"Kau tidak ingin siapa pun memanggilmu hyung." Chen berkata ketus. Semua orang tertawa lagi.

"Kris-hyung! Kris-hyung!" Sehun memanggil , tersenyum seperti orang gila.

Wajah Jongin sedikit aneh sambil menatap Chanyeol untuk waktu yang lama, yang entah mengapa menolak untuk bertemu matanya. Kemudian dia berbalik ke arah Kris, dan pembicaraan jujur berlanjut.

Selama acara berkumpul mereka, Chanyeol dan Baekhyun menghindari satu sama lain layaknya wabah, di mana Chanyeol menempel ke Kyunsoo dan Baekhyun menemukan orang-orang dari Chen ke Kris (Joonmyun kesal setiap kali itu terjadi) untuk bermain bersama.

Walaupun Jongin dibanjiri perhatian, dia masih memiliki kemahiran mengamati untuk menyadari ada sesuatu yang salah dengan kedua sahabatnya.

.

.

.

.

Dia telah melihat banyak tahap dalam hubungan sahabatnya dengan satu sama lain, tapi tidak pernah ada yang seperti ini.

Mereka selalu, selalu mengakui keberadaan satu sama lain, apa pun yang terjadi. Tadi, jika normal, pada suatu titik mereka akan mulai berbicara mengenai satu sama lain, akan mengatakan sesuatu seperti 'Kau sahabatku, dan aku sahabatmu, bukan yang lain' dan mendelik pada satu sama lain atau semacamnya, tapi kali ini, tak ada menyebutkan satu sama lain. Tak ada sama sekali, sampai membuat Jongin terkejut.

Baekhyun bertingkah sama, senyuman berbentuk bulan sabit dan membicarakan topik apa pun yang ada di puncak pikirannya, tapi dia terliat lelah.

Chanyeol bertingkah dengan benar-benar berbeda, diam dan kepala menunduk dengan alis bertaut, dan bahkan Kyungsoo, taksiran waktu-lamanya, tidak dapat melakukan apa pun mengenai itu. Dia terlihat gelisah.

Jongin bertanya-tanya apa yang terjadi di antara mereka.

.

.

.

.

Dia ingin berbicara dengannya.

Dan walaupun dia tidak mengakuinya, bahkan tak tahu, hatinya diam-diam merindukannya.

.

.

.

.

Ketika Chanyeol bermain dengan Jongin malam itu, Baekhyun menyelinap ke dalam kamar mereka, mencari sesuatu di tasnya, mengeluarkan beruang merah muda, dan menyelinap keluar.

Dia memeluk beruang teddy di dadanya.

Satu-satunya yang membuatnya nyaman sekarang.

.

.

.

.

Baekhyun tidak kembali malam itu.

.

.

.

.

Baekhyun sama sekali tidak kembali.

.

.

.

.

Kasur di sampingnya terlihat kosong, hampir sekosong yang dia rasakan di dalam dirinya.

.

.

.

.

Untuk mengurangi kekosongan kamar itu, Chanyeol mengeluarkan Byun Hyun, memeluknya di dada ketika pergi tidur, dan akhir-akhir ini bahkan sering membawanya ke mana-mana sampai tak sadar bahwa dia memegangi Byun Hyun.

Orang-orang menyadari, tapi setiap seseorang mencoba bertanya mengapa dia melakukan ini, atau boneka siapa itu, dia akan mengabaikan mereka dan mengganti topik, sampai semua orang tak memiliki pilihan selain menerima kehadiran Byun Hyun.

Terkadang, yang lainnya bertemu dengan Baekhyun (karena dia berhenti datang ke meja mereka saat waktu makan siang), dan mereka bersumpah mereka melihat sesuatu yang pink dibawa lengannya, dan itu otomatis mengantarkan mereka untuk berpikir mengenai Chanyeol dan bunny birunya.

.

.

.

.

Kyungsoo menghabiskan setiap hari dengan melihat senyuman Chanyeol memudar sedikit demi sedikit.

Dia tidak tahu mengapa Chanyeol seperti ini, atau apa penyebabnya, dan berharap Chanyeol dapat bersemangat secepatnya.

Membuatnya frustasi, melihat lelaki yang dia cintai terlihat sangat … anehnya menderita.

Dan yang paling membuatnya frustasi adalah dia tidak dapat melakukan apa pun mengenai hal itu.

.

.

.

.

Setiap Chanyeol melihat Baekhyun, dia melihatnya dengan lelaki lain.

Setiap Baekhyun melihat Chanyeol, dia melihatnya dengan Kyungsoo.

Dan perasaan negatif yang tinggal di perut mereka berakumulasi dan berakumulasi, dan keduanya tahu mereka akan meledak dalam waktu dekat.

Tapi untuk sekarang, mereka harus menahan, mereka harus menahannya.

.

.

.

.

Jongin merasakan hatinya sakit ketika melihat kedua temannya bertingkah seperti ini.

Aneh melihat Chanyeol terlihat sangat tak fokus ketika dia bersama taksiran bertahun-tahunnya Kyungsoo.

Aneh melihat Baekhyun terlihat sangat terganggu kapan pun.

Aneh bagaimana mereka selalu bertingkah sangat aneh pada waktu yang sama.

Sesuatu terjadi di antara mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Chanyeol …"

"Chanyeol …"

"Chanyeol …"

"Hyung …"

"Hyung …"

"Hyung!" Chanyeol tersadar, berkedip sebanyak-banyaknya sambil berbalik untuk melihat si pembicara: Jongin.

"Oh. Jongin, kapan kau ke sini?" Chanyeol memainkan kuping Byun Hyun. Jongin duduk di kasurnya.

"Aku telah di sini setidaknya selama lima menit, memanggil namamu."

"… Oh."

"Mengapa kau sangat terganggu akhir-akhir ini?" Chanyeol membutuhkan beberapa waktu untuk memproses ini.

"Huh? Aku tidak seperti itu. Apa yang kau bicarakan?"

"Dengar. Mengapa aku tidak langsung ke poinnya?" Jongin menatap bunny biru itu, memiliki dorongan unutk mengambilnya, tapi pada akhirnya menahan diri.

"Hyung, kau dan Bakehyun-hyung telah seperti ini untuk waktu yang terlama. Bisa tidak kalian berbaikan?" Chanyeol menunduk ketika Baekhyun disebutkan.

"Kami baik-baik saja."

"Kau pikir aku tidak tahu kalau Baekhyun-hyung tidur di kamar orang lain? Bukan hanya tidur di sana, tapi tidur dengan lelaki lain untuk tidur di sana." Chanyeol berbalik, tidak ingin mendengar ini. Hal tersebut memberikan perasaan pahit di hatinya.

"Jadi? Apa hubungannya itu dengan ku?" Chanyeol membalas, suara penuh kekesalan. "Dia melakukannya karena keinginan sendiri, aku tak pernah mengusirnya."

"Please, Chanyeol. Dia terlihat sangat lelah. Dia tidak tidur dengan baik, aku yakin."

"Kau pikir aku tidak ingin dia kembali?" Chanyeol tiba-tiba berdiri, mengagetkan yang lebih muda. "Asshole itu ingin bersetubuh dengan lelaki lain, itu tak ada hubungannya denganku, selama dia tidak melakukannya di hadapan wajahku. Aku bukan bosnya, Jongin. Jika kau sangat khawatir, mengapa tidak kau saja yang memanggilnya kembali?"

"Aku telah mencoba—"

"Tepat sekali. Dia tidak ingin kembali. Dia membuat lelaki yang terbelit di ujung kelingkingnya, dan dia dapat mendapatkan apa pun yang dia mau selama dia mendapatkan persetubuhan yang nikmat. Karena itulah yang dia suka, dan aku tidak memiliki hak untuk menghentikannya—"

Saat itu juga, dia merasakan sakit yang menusuk di pipi kirinya, dan ketika indranya kembali, dia sadar Jongin telah meninjunya. Kaget, dia memegang wajahnya dan menatap Jongin dengan mata lebar. Jongin terlihat sangat marah.

"Dia tidak menyukainya, oke?!" Jongin berseru, air mata jelas di mata. Chanyeol yakin dia belum pernah melihat Jongin menangis karena marah sebelumnya. "Dia terlihat lebih dan lebih lelah setiap harinya. Sadarlah, Park Chanyeol. Dia tidak menyukainya."

"Ku pikir, karena aku telah mengenalnya untuk waktu yang lama, aku akan menjadi orang yang paling mengerti dirinya. Tapi semakin aku melihat kalian, aku sadar kaulah yang paling mengerti dirinya. Tapi tetap, sekarang, kau yang paling terakhir memahaminya. Mengapa? Apa kau tertangkap dalam mengasihani dirimu sendiri? Apa pun yang terjadi di antara kalian, selesaikan sekarang, karena tak ada yang bisa menyelesaikannya untukmu." Jongin berdiri, punggung menghadap Chanyeol, tapi Chanyeol dapat melihatnya mengusap air mata dengna mati-matian. Ada keheningan sambil Jongin mengambil nafas dalam untuk menenangkan seduannya. Dia seperti anak yang sensitif, yang tidak menginginkan apa pun selain yang terbaik untuk temannya, meskipun itu berarti mengekpresikan pemikiran yang tak pernah ia suka untuk diekspresikan, meskipun itu berarti dia harus menangis untuk menyelesaikan seluruh kata-katanya.

"Dan jika ini terus terjadi, kalian berdua hanya akan menyakiti diri kalian sendiri. Jadi hentikan. Tolong berhenti menyakiti diri kalian sendiri." Dengan itu, Jongin mengusap air matanya dengan lengan baju, membuka pintu, dan bergegas keluar.

.

.

.

.

Berhenti menyakiti dirimu sendiri, karena itu membuatku sakit juga.

.

.

.

.

Chanyeol duduk di sana, memegang Byun Hyun dengan ujung jari-jarinya.

Bagaimana? Bagaimana bisa dia menyelesaikan ini?

Dia butuh beberapa hari.

.

.

.

.

Foto Baekhyun ketika berumur 14 tahun, melihat kagum lelaki yang terlihat sangat mirip dengannya, berada di antara jari-jari Chanyeol sambil dia menatap fotonya dengan hati-hati. Mata bulan sabit nan kecil Baekhyun, bersinar dengan semacam kekaguman yang sekarang berhenti eksis dalam Baekhyun yang hari ini. Baekhyun yang hari ini, yang matanya kosong, tanpa kedalaman laut akan emosi yang biasanya menghidupkan dirinya 6 tahun yang lalu, yang emosinya hanya pergi sejauh kulit dan bukan tulang, yang perasaannya terkunci di dalam penjara di hatinya.

Hari ini hari ke-17.

Dia tiba pada sebuah keputusan.

Dia akan mengikuti Bakehyun malam ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dia menjaga untuk tidak menarik perhatian sepanjang hari ke-17 itu, tidak berkata apa pun pada siapa pun, tapi itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan, karena dia sudah diam untuk waktu yang lama jadi tak ada yang benar-benar menyadari.

Kris terobsesi dengan Joonmyun, Chen terobsesi dengan Minseok dan Jongin marah padanya karena belum berdamai. Kyungsoo sibuk dengan pekerjaannya dan tidak memilki waktu untuk memikirkannya.

Dia melihat Baekhyun masuk dan keluar, biasanya tersembunyi dalam keramaian, dan dia memastikan untuk memperhatikannya.

Setelah makan malam, untungnya dia menemukan Baekhyun menyelinap pergi di antara keramaian. Saat semua orang berjalan kembali ke asrama, Chanyeol melihat Baekhyun berlalri menuju sisi sebaliknya, figur mungilnya sangat cocok dengan bayangan. Chanyeol mulai mengejar, tapi saat dia akan bergerak, sebuah tangan mengepit di bahunya.

"Kau mau ke mana?" Chen bertanya dan Chanyeol berbalik.

"Aku harus pergi. Aku akan mengurus Baekhyun malam ini, jadi jangan khawatir. Percayalah padaku." Aku ingin menjaganya menggantikan mu. Dengan itu, dia menatap mata Chen untuk bebrapa detik, kemudian bergegas pergi.

Untungnya Baekhyun tidak terlalu jauh. Sepanjang berjalan dia sepertinya berjalan tak benar, seperti kaki atau bokongnya sakit. Chanyeol dekat mengikuti di belakang, memakai kupluk hoodie-nya, dengan cara yang tidak terlihat mencurigakan bahkan bagi orang lain. Setelah sekitar 40 menit berjalan (dan god dammit mengapa dia berjalan sangat lama), Baekhyun memasuki sebuah gang kecil. Chanyeol menunggu dua detik, kemudian dengan cepat bergegas mengikutinya.

Dia bertemu dengan jalan sempit dan gelap kecuali tanda bersinar yang mengatakan 'LUXION' dalam huruf besar. Saat berjalan menuju satu-satunya tempat yang Baekhyun dapat masuki, dia melewati banyak orang mabuk, dari perempuan sampai lelaki, mencium bahkan melakukan hal yang tak dapat dikatakan. Chanyeol merona, tapi jantungnya berpacu dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama (semenjak dia bertengkar dengan Baekhyun), dia merasa hidup.

Dia baru saja akan masuk ke dalam, tapi tiba-tiba, seorang lelaki hampir setinggi dirinya berdiri untuk menghalangi pintu. Chanyeol telah memepersiapkan diriinya untuk ini.

"Aku duapuluh—" penjaga itu tertawa, menyelanya.

"Aku tidak peduli apakah kau legal atau tidak. Beberapa orang hanya ingin bersenang-senang." Dnegan itu, dia menyingkir, memberikan jalan untuk Chanyeol.

"…" Chayeol akan mengatakan terima kasih, tapi dia tidak yakin ini situasi yang tepat, jadi sebagai gantinya dia melangkah masuk. Saat melakukannya, dia mendengar penjaga itu berbisik ke seseorang.

"Dia orang baru."

Chanyeol memerah karena itu. Apa dia sekentara itu?

Ketika masuk, musik berdering di telinganya, dentuman musik sama dengan detak jantunganya. Ada orang di mana-mana, dan perbedaan cahaya yang mendadak membuatnya merasa pusing sampai dia hampir lupa mengapa awalnya berada di sini.

Ketika melihat sekeliling, mencoba mencari seseorang melalui lautan akan tubuh, dia menemukan Baekhyun duduk di dekat bar di mana mereka menjual minuman.

Dengan segera dia memakai kupluk dan duduk di beberapa bangku dari Baekhyun. Musiknya tidak terlalu keras di sini.

"Berikan aku minuman terberat mu." Baekhyun berkata, dan bartender melihat padanya, sedikit senang.

"Apa? Harimu buruk?"

"Diamlah dan segera ambil." Bartender itu, yang Chanyeol kenali sebagai seseorang yang agak tampan, terkekek.

"Baek …" Jari-jari bartender itu memutarkan sebuah pola di telapak Baekhyun dengan menggoda, dan Chanyeol dapat merasakan amarahnya bangkit. Dia pikir dia siapa? "… Jika kau tidak menemukan siapa pun hari ini, mengapa kita tidak sedikit bersenang-senang di tempat ku …?"

"… Youngjae …"

"Oke, oke." Youngjae tertawa dan pergi.

Baekhyun duduk di sana, di ujung sambil mengetukkan jari panjangnya ke meja. Chanyeol kaget dia belum mengetahuinya. Cepat setelahnya, Baekhyun mendapatkan minumannya dan dengan segera meminum, kemudian menuntut lagi.

"Apa yang kau inginkan?" Suara bartender yang lain mengguncangnya keluar dari pemikiran, dan dia mendongak, sesaat panik.

"Uh … Air saja, please." Bartender itu memutar mata.

"Haha. Sangat lucu." Kemudain dia berjalan pergi.

Chanyeol pikir pengalaman dia dengan bartender hanya itu saja, tapi jelas tidak, karena dia mendengar sebuah gelas diletakkan di hadapannya, dan ketika berbalik, dia melihat sebuah minuman di hadapannya. Delikan dari bartender itu mengerikan, jadi dia dengan cepat membayar dan berdoa bartender itu tidak akan diganggu lagi.

Saat itu juga, dia melihat seseorang berjalan di belakang Baekhyun dengan seringai, bersandar ke bawah, dan menyelinapkan tangannya di bawah kaus Baekhyun.

What the

"Tebak siapa?" Dia berbisik di kuping Baekhyun, tapi Chanyeol menemukan tindakan itu sangat tidak penting, karena dia bahkan dapat mendengarnya dari tempatnya. Dia bersumpah dia dapat melihat Baekhyun mengerenyit sebelum memasang senyuman (atau mungkin itu hanya imajinasinya saja) dan berbalik ke lelaki itu.

"Siapa?" Nada suaranya menggoda, tapi Chanyeol dapat mengatakan bahwa dia tidak tahu siapa dia. Marah, tanpa berpikir Chanyeol mengambil segelas minuman itu dan menenggaknya, tapi langusng menyesal. Dia tiba-tiba merasa dunia di sekitarnya berputar. Dia tidak percaya bahwa dia baru saja melupakan bahwa minumannya itu alkohol!

"Oh, kau penggoda." Lelaki itu membalas, kemudian sebelum Chanyeol sadar, mereka berciuman.

God fucking dammit! Chanyeol menenggak lagi.

Setelah sesi bercumbu nan lama, mereka menarik diri. Lelaki itu menyeringai dan Baekhyun balas tersenyum, jarinya bergerak menggoda ke bawah di dada lelaki itu sambil melihat lelaki itu berjalan menjauh. Kemudian dia berbalik menuju meja, senyuman menghilang, dan dia mulai minum lagi. Chanyeol melihat.

Chanyeol tidak tahu berapa lama dia akan berada di sana, dan dia tidak tahu berapa lama dia akan tetap di sana. Bagaimana pun juga, dia akan melihat apa yang Baekhyun lakukan, kemudian pulang.

Hanya melihatnya, itu saja.

.

.

.

.

Tapi bahkan saat dia melihat Baekhyund dan melihat lelaki lain setelah yang lainnya berjalan menuju Baekhyun dan bercumbu dengannya, itu membuatnya sangat jengkel.

"… Apa kau kenal Baekhyun?" Seseorang bertanya, dan dia menoleh, pikiran berawan akan alkohol, dia mengenali orang itu sebagai bartender yang telihat cukup dekat dengan Baekhyun—Youngjae atau semcamnya. Jerk.

"…" Chanyeol mengabaikannya, tidak sadar akan betapa konyol dia terlihat dengan pipi merah, mata setengah tertutup, dan sebuah rengutan. Dia menenggak.

"Dia biasanya tak seperti ini, kau tahu." Youngjae mulai. "Biasanya dia sudah bersetubuh dengan seorang lelaki. Atau dua."

"Apa yang coba kau katakan?" Chanyeol menggerutu, menenggak (menurut Chanyeol, setiap tenggakan itu dua mulut penuh). Dia bersumpah dia menjadi lebih jantan, dengan jumlah alkohol yang diminum.

"Aku mengatkan …" Youngjae mendesah, seperti dia mencoba meyakinkan anak kecil bahwa dia melakukan hal yang buruk. "… Bahwa Baekhyun bertingkah lebih aneh dari biasanya. Ada sesuatu terjadi dengannya."

"Ya?" Chanyeol minum lagi sambil melihat lelaki baru meraba Baekhyun, siap untuk menghantamkan botolnya menjadi berkeping-keping. "Well, aku tidak peduli."

"Oh, serius?" Bartender itu terkekek. "Aku menyetubuhi beberapa waktu yang lalu."

"Apa … yang kau katakan yang?" Chanyeol menggeram melalui gigi tergertak. Dia ingin menghantamkan gelasnya.

"Bukan apa-apa." Yang lain membalas. "Cara mu bertingkah, seperti kau pacar atau semcamnya."

"Aku lebih baik mati … daripada menjadi pacarnya." Aku hanya ingin menciumnya, itu saja … Youngjae terkekek dan berjalan menjauh, meninggalkan Chanyeol merasa sangat frustasi sampai ingin memukul sesuatu dengan kepalan tangannya. "Memang kenapa jika kau … melakukannya … dengan dia? Itu tidak membuatmu lebih baik. Bajingan sombong." Chanyeol bergumam sendiri sambil melihat Youngjae melemparkan tatapan sugestif pada Baekhyun, tak sadar memegang minumannya lebih erat.

Saat melihat Baekhyun, dia sadar Baekhyun juga mabuk, setelah minum berapa gelas siapa yang tahu. Chanyeol hanya satu, dan sejujurnya itu lebih dari cukup.

Lelaki selanjutnya yang bergerak menuju Baekhyun terlewat konyol.

Lelaki itu menurunkan Baekhyun dari tempat duduk dan menariknya ke dalam ciuman lidah-berkunci yang bahkan tidak terlihat seperti ciuman tapi lebih seperti memakan wajah satu sama lain. Kemudian lelaki itu mulai menyelipkan tangannya ke dalam celana Baekhyun, bergerak ke bawah untuk meremas bokongnya. Dengan cara yang entah mengapa membuat Chanyeol sangat terangsang, tapi pada saat yang sama tidak nafsu karena Baekhyun melakukan ini dengan lelaki lain.

"Kau sangat hot." Chanyeol mendengar lelaki itu menggream, dan dia mencengkram minumannya lebih keras. Baekhyun tidak membalas, hanya memegang lelaki itu dan menariknya ke dalam ciuman lagi, tangan yang bebas merah ke bawah untuk memegang sesuatu yang Chanyeol tidak ingin sebut.

Itu hanya membuat amarah di dalam Chanyeol lebih mendidih. Banyak sekali sampai dengan cepat menjadi tak tertahankan.

Dia merasa sangat marah, sangat geram sampai ingin menghancurkan semuanya.

Beruntung, untung untuk hatinya, sesuatu mengalihkan lelaki itu dengan cara menariknya menjauh, memberi tahu bahwa seseorang memanggilnya, oleh karena itu dia menyeleting jeans-nya dan menepuk bokong Baekhyun.

"Aku akan kembali." Dia berbisik, menyeringai sambil memgeang dagu Baekhyun, kemudian berjalan menjauh. Seperti dia memiliki Baekhyun atau semacamnya. Seperti Baekhyun fucktoy-nya. Fucking asshole.

Chanyeol sangat marah sekarang, dia bersumpah dia dapat mengahancurkan gelas ini dengan tangan kosongnya. Dia bersumpah dia dapat menghancurkan apa pun dengan tangan kosongnya. Dia bersumpah dia dapat menghancurkan barang lelaki itu dengan tangan kosognya.

Tapi dalam keadaan mabuknya pun, dia tahu kekerasan bukanlah ide yang bagus.

Sehingga dia melihat Baekhyun bergerak kembali ke tempat duduknya, melihatnya menenggak segelas alkohol lainnya (bagaimana dia melakukan itu?), dan duduk sendiri di sana, menunggu orang mesum itu kembali.

Tanpa berpikir, Chanyeol bergerak.

.

.

.

.

"Aku kembali." Suara berat bergumam di kuping Baekhyun, dan dia merasakan lengan menyelinap di pinggangnya, menguncinya di tempat, ke dalam... pelukan yang entah mengapa hangat. Mungkin dia terlalu mabuk, kerena dia langsung membalikkan kepala dan mencium penuh bibir lelaki itu.

Dia bersumpah kali ini ciumannya berbeda, karena ciuman itu menyalakan percikan yang tersebar ke seluruh tubuhnyat, membuatnya gelisah, membuatnya senang;membuatnya hidup. Otomatis, dia mencengkeram kemeja dan menariknya lebih dekat, kecuali sekarang kemejanya tebal dan lembut bukannya halus dan dingin seperti yang dia cengkeram sebelumnya, bibir itu sekali lagi cocok dengan miliknya di mana membuatnya sakit ingin lebih. Bibir itu familiar—aroma ini anehnya familiar, dan begitu pula dengan cara lelaki ini mendekapnya—

Baekhyun menarik lepas, dan ketika membuka mata, benar-benar membuka matanya dari alkohol, dia melihat siapa dia.

"Apa yang kau lakukan di sini—" Dia mendorong Chanyeol, tersandung sedikit karena kekuatan itu. Dia merasa marah, geram, tapi kebanyakan, merasa malu.

Malu karena Chanyeol melihatnya seperti ini.

"Baekhyun—" Suara Chanyeol serak dan lebih rendah dari sebelumnya, dan dia memegang lengan Baekhyun dengan kekuatan yang tak dapat Baekhyun lepas. "Kita akan pulang."

"Tinggalkan aku sendiri." Baekhyun menggertak dan mencoba untuk melepas lengannya dari genggaman Chanyeol, tapi alkohol justru membuatnya tersandung. Pipinya memerah, bukan karena alkohol, tapi karena malu. Rasa malunya...

"Fuck, Baekhyun." Chanyeol mengeratkan pegangannya. "Hentikan. Ayo kita pulang."

"Pergilah, Chanyeol..." Baekhyun bergumam, menolak bertemu dengan mata Chanyeol. Sejak kapan dia menjadi seperti ini? Sejak kapan dia menjadi sangat terhina akan apa yang dia lakukan? Sejak kapan dia peduli akan apa yang orang katakan mengenai dirinya? "... Pergilah."

Ada keheningan di antara mereka, kecuali jantung Baekhyun yang berdetak secepat dentuman musik di kupingnya, bahkan mungkin lebih cepat, dan dia merasa jantungnya terbelit ketika Chanyeol melepas pegangan...

... dan membiarkannya pergi...

Mendadak, karena merasa kurangnya kontak, Baekhyun menyadari sesuatu. Dia tidak menginginkan ini. Dia tidak ingin Chanyeol meninggalkannya sendirian. Dia tidak ingin ditinggal sendirian lagi, tidak ingin orang-orang berjalan pergi dari dirinya lagi hanya karena dia mendorong jauh mereka.

Dan Chanyeol tidak melakukannya.

Ketika Chanyeol meregangkan pegangannya, dia meringkuk ke bawah dan mengangkat Baekhyun dengan satu tangan, lalu melempar seluruh tubuh yang lebih kecil ke bahunya. Baekhyun terlalu kaget dan mabuk untuk menyadari apa yang terjadi sampai mereka ke luar pintu, bahkan tidak memiliki waktu untuk sadar ketika Chanyeol membayar semua minuman yang dia minum.

"Chanyeol …" Baekhyun berbisik, merasa lebih baik ketika udara dingin mengenai wajah dan musiknya mati menjauh dari kupingnya. "Chanyeol..."

"…" Chanyeol tidak menjawab, dan sebagai gantinya hanya memegangnya sambil berjalan dalam langkah panjang kembali ke sekolah mereka. Baekhyun memerah dengan rasa malu lagi—jika ada orang yang dia akan ijinkan untuk melihatnya seperti ini, orang itu sudah pasti bukan Chanyeol. Chanyeol akan menjadi orang terakhir.

"Aku benci kau... " Baekhyun bergumam, merasakan wajahnya lebih memanas karena alasan yang digunakan untuk menutupi rasa malunya. Dia berharap Chanyeol mempercayainya, dan tak akan kembali lagi. "Aku sangat membencimu." Apakah rasa malu terasa sesakit ini?

"… Aku tahu itu." Chanyeol membalas dengan pelan, sangat pelan sampai Baekhyun hampir tak mendengarnya. "Aku tahu itu. Aku tahu kau membenci orang sepertiku, orang-orang seperti ku itu sama, kau akan selalu membenci orang seperti ku. Orang yang terlihat seperti ku, orang yang kedengarannya seperti ku. Aku tahu itu, Baekhyun, jadi berhentilah mengatakannya."

Setiap bagian tubuhnya sakit. Dia telah menghabiskan beberapa hari terakhir dengan tidak melakukan apa pun, selain bersetubuh, bahkan tidak memiliki waktu untuk tidur, belajar atau apa pun selain bersetubuh, dan sekarang tubuhnya sakit dan dia hanya ingin tidur. Bahkan otaknya pun sakit. Bahkan hatinya pun sakit.

"Selamat." Baekhyun terkikik, menjadi gila dengan kecemburuan dan highkarena alkohol.

"Apa yang kau bicarakan?"

"Kyungsoo. Itu yang selalu kau inginkan selama bertahun-tahun, 'kan?" Baekhyun terkikik lagi, tapi jantungnya terpelintir. Mengapa dia merasa seperti ini? "Untuk bersama Kyungsoo."

"... Kau fucktard, Baekhyun. Kami tidak pacaran."

Lega. Lega sekali, tapi apakah dia berani mempercayainya?

"Kau idiot."

"... Kau... Kau, anak muda, tak pernah mengurusi urusanmu sendiri ..."Dia malah mengganti topik."... Dan kau selalu mencampuri urusanku ... Tinggalkan aku sendiri, Pak Chanyeol. Berhenti melanggar privasiku." Baekhyun berbicara banyak. Karena kau baru saja melanggar bagian diriku yang tak ingin dilihat siapa pun, terutama kau. Dan sekarang aku tidak bisa melakukan apa pun selain berharap aku dapat melupakan ini, dan kau juga, jadi aku tidak harus bangun esok pagi dengan ingin mengubur diriku sendiri di dalam lubang.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kau sangat rusak.

Kau sangat sangat rusak, sampai tak ada yang dapat memperbaikimu.

Tapi aku ingin memperbaikimu.

Aku ingin mencoba.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pada akhirnya Baekhyun jatuh tertidur, dan Chanyeol mendesah.

Dalam perjalanan pulang, dia tersasar beberapa kali, tapi dia tidak menyerah. Bahunya mulai lelah, tapi dia tak menyerah, tidak ingin menggendong Baekhyun di belakang atau bridal style karena keduanya akan menyakiti bokong Baekhyun (yang dia cukup yakin kemungkinan akan SANGAT sakit).

Itu benar. Chanyeol tidak mengurusi urusannya sendiri, terutama ketika berhubungan dengan urusan Byun Baekhyun, tapi apa lagi yang dapat dia lakukan?

Dia seperti terhisap ke dalamnya.

Pada akhirnya, dia tiba di asrama, dan ketika membiarkan Baekhyun turun, dia baru sadar bahwa Baekhyun sadar selama ini, hanya sangat diam sampai Chanyeol berasumsi bahwa dia tidur.

"Jangan kembali ke sana." Chanyeol berkata sambil mengunci pintu asrama mereka. Baekhyun menolak untuk bertemu matanya semenjak dia tahu Chanyeol ada di sana, dan sejujurnya Chanyeol tidak tahu harus merasa seperti apa.

"Mengapa?" Baekhyun membalas. "Aku ingin melakukannya … Itu tidak ada hubungannya denganmu."

"Mengapa kau ingin melakukannya?" Chanyeol berbalik dan menatap Baekhyun, hati merasa sedikit bermasalah ketika Baekhyun tidak melihatnya. "… Karena kau mencoba untuk melupakan?"

Hal itu mendapatkan perhatian Baekhyun. Mereka mengunci tatapan, Baekhyun mabuk tapi mencoba untuk mencari tahu arti dibalik perkataan Chanyeol.

"Aku tahu dari lama, Baekhyun." Chanyeol melanjutkan, dan mata Baekhyun terbesit dengan sesuatu sebelum dia berbalik lagi. Chanyeol menyadari bagaimana jari-jarinya gemetar. "Setidaknya, aku tahu yang Chen tahu."

"Chen memberi tahumu?"

"Ya, Baekhyun." Chanyeol anehnya merasa tenang dan berpikiran jernih sekarang, dan dia bahkan tidak tahu mengapa atau bagaimana itu terjadi. "Dan dia mengkhawatirkanmu, setiap hari, atau setidaknya, setiap bulan."

"Baekhyun, berhentilah melakukan ini. Ini tidak bagus untuk siapa pun, dan membuatmu lelah, bisakah kau lihat itu? Lihat dirimu. Kau bahkan tak menikmatinya. Kau bahkan tidak—"

"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?" Baekhyun tertawa hampir dengan maniak. Chanyeol dapat melihat luka internalnya. "Berbaring di atas lantai dan menunggu dunia menelanku? Menunggu untuk menghantuiku? Berbicara memang mudah, Park Chanyeol. Jika saja menyingkirkan kebiasaan ini sangat mudah—" Saat ini, Chanyeol telah berjalan menuju Baekhyun dan memegang tangannya. Dengan pelan, seperti sebuah bulu sayap, sampai Baekhyun tak akan menyadarinya jika bukan karena kehangatan yang berasal dari tangan besar terpindah ke tangan Baekhyun yang hampir tak bernyawa.

"Kalau begitu buatlah kebiasaan lainnya karena dirimu sendiri." Chanyeol membalas, pegangannya mengencang di jari Baekhyun, dan yang bisa pikiran mabuk Baekhyun pikirkan adalah, 'Oh, hangatnya', dan yang bisa jantung mabuknya lakukan adalah berdetak lebih cepat, lebih cepat sampai hampir sakit.

"Apa yang kau bicarakan—"

"Kalau begitu biarkan aku menggantikan malam-malam mabuk dan one night stands tak berharga itu." Chanyeol menyela, dan Baekhyun bersumpah ini adalah momen yang tak akan pernah dia lupakan, tak peduli seberapa besar dia ingin melupakannya. "Biarkan aku membawamu ke tempat yang tidak ingin kau lupakan, dan biarkan aku melakukan berbagai hal yang akan selalu ingin kau ingat bersamamu. Setiap bulan, Baekhyun, aku janji. Setiap bulan."

Apakah ini … Park Chanyeol? Dia bertanya sendiri, tapi jika dia memang melakukannya, dia sudah tahu jawabannya. Jawabannya sudah ada di sana selama ini.

Ini Park Chanyeol.

"Daripada melelahkan dirimu sendiri, menenggelamkan driimu sendiri dengan rasa akan orang asing dan minuman familiar, biarkan aku membawamu ke tempat di mana kau tidak perlu menyakiti dirimu sendiri dalam rangka menyelamatkanmu sendiri. Biarkan aku menggantikan memori buruk itu. Biarkan kita membuat memori baru, sangat bagus hingga kita dapat menyampahkan semua mimpi buruk itu sampai mereka tidak berani datang mendekati kita, sampai mereka tidak membandingkan dengan kita, dan biarkan kita menang melawan mereka tak berbatas banding nol.

"Baekhyun, ayo jangan lupakan lagi. Mari tidak tinggal di masa lalu lagi. Biarkan dirimu mulai yang baru."

.

.

.

.

.

.

.

.

Benarkah?

Akankah Park Chanyeol benar-benar menghabiskan satu hari setiap bulan melakukan ini? Untuknya?

Mengapa?

Mengapa?

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol tidak tahu mengapa.

Yang dia tahu ketika dia memegang tangan Baekhyun, merasakan jari panjang tapi dingin itu sedikit bergetar karena rasa hina atau malu atau marah, atau bahkan hanya dingin, dia tidak ingin Baekhyun menghadapi masa lalunya sendirian.

Dia ingin mereka menaklukkan ketakutan Baekhyun bersama.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bahkan jika dia tahu Baekhyun membencinya karena dia terlihat seperti Joo-hyung, dia tidak akan menerimanya.

Dia tidak ingin menjadi bayangan yang bersembunyi di balik seseorang, terutama di mata Baekhyun.

Dia ingin menjadi seseorang yang benar-benar baru, seseorang yang Baekhyun dapat senyumi dan dipikirkan dengan hal baik, tidak untuk dilihat Bakehyun dan memberikannya ribuan pisau di perut.

Dia tidak ingin digeneralisasi oleh Baekhyun. God dammit, dia akan merubah pandang Baekhyun padanya, apa pun caranya.

Benci dirinya jika dia ingin, Chanyeol tidak peduli. Karena ketika Chanyeol selesai dengannya, tak akan ada yang membencinya karena figur seorang pecundang dari masa lalu.

Dia tidak akan menjadi bayangan, sebuah pengganti. Tidak di mata Baekhyun, maupun haitnya.

Dia tidak akan.

Dan setelah malam itu, bagian kecil Chanyeol mulai menduga, bahwa mungkin fase ini sebenarnya bukan fase sama sekali.

Dan dia mulai sadar, jika ini bukan sebuah fase,

mungkin dia tidak mempermasalahkannya.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun terkikik.

"Aku menerima tantanganmu." Dia berkata.

Lalu tidak ada lagi yang terbagi, karena yang lebih kecil berlari menuju kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tapi tak apa, karena Chanyeol ada di sana untuk menepuk punggungnya, mengusap mulutnya, memegang tangannya.

Dan dia tak melepaskan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku tak pernah tahu kau sepuitis ini, Park Chanyeol.

.

ooo

.

TERIMA KASIH YANG BANYAK BANGET UNTUK (sesuai abjad):

4kimhyun, aphroditears, aupaupchan, ay, Azzuree, baek ca (spasi ganti titik), baekbaek, Baekbooty, baekfrappe, baekhee2811, BaekheeByunnie, baekpupie, baekvelvet, baepupie, beecikifly, BTB, Bumbu-cimol, Byunae18, byuniepark, Byunsilb, cbsforlyfe, CBZAAY, cchii, Chaaphnx, Chanlie, Chanpagne, ChanBMine, ChanBaekXing69, Chanbelong2baek, chanxlatifaxbaek, chanyeolisbaekk, CYBH, Cynta533, daebaektaeluv, daeri2124, desyansa6104, Dhea Park, dindinxoxo94, Dini695, DLajeng, Dwarfeu-B, elbetsyy, Ereegtufe, Eka915, flashbaek, flyingwithjoy, fwxing, Fyouth, Glowixhan, Guest, Hepiyeol, Hyera832, Hyun CB614, HyunAPark12, ieznha asmaulhaq (spasi ganti titik), Incandesene7, ikakaaaaaaa, Jung HaRa, littleloetlovi, Latifanh, LavenderCB, LuckyDeer, mashedpotato, maybae506, mbsbtbujcc, Mikaela Clavem, momomay, Nadivarahma6104, NLPCY, osh pcy (spasi ganti tititk), parkbaekhy, ParkChera, pengen tahu jeltot, ParkBaeko, Prk. Ns, RahmaIndirawati, rekmooi, Ricon65, saltybyun, seseoh, SexYeol, Shintaaulia23, srzki, streetgirl, Sweatcold, tikayuan, tkxcxmrhmh, ukebaeknc, white morning glory, woo jizii, XianLie92, yeoletbaek, yeolibeun, yoon745, yousee, zarrazr.

JUGA BUAT YANG UDAH FAV, FOLLOW, DAN BACA!

.

T/N :

Haiii!

Berry update. maaf ya Berry sekarang updatenya lama terus.

Berry lagi sakit btw, mana lagi uts, ada yang review salty :') jadi berry mau minta maaf kalau update kali ini berantakan. Maaf juga berry gak bisa dobel apdet. Tapi berry update sebisa berry, kalian yang review dan nyemangatin yang buar berry terus translate. Ilysm guys.

Dan momen chanbaek akhir akhir ini /sobs/ Seneng banget berry tuh. My parents :') AAAAAAARRG pengen tereak XD

Welcome readers baru! Dan its okay yang baru review sekarang. I miss you sm straws!

Lots of love,

.

Berry