Chapter 21 : His Gift
Noah dibawa pergi oleh Soojung dan Irene ke ruangan yang lain atas permintaan Taehyung. Selain itu, bayi yang baru berusia beberapa jam itu masih perlu diukur dan segala tetek bengek lainnya yang tidak Taehyung mengerti. Saat ini, pria itu butuh waktu berdua dengan Jungkook. Masih ada satu hal yang perlu diberikan kepada bocah yang masih tertidur pulas itu. Dari jarak sedekat ini, Taehyung bisa melihat bintik-bintik jerawat yang memenuhi kening Jungkook serta kantung matanya yang semakin menebal dalam beberapa bulan terakhir. Baru saat inilah Jungkook bisa menebus tidurnya yang sudah terganggu dalam tiga bulan terakhir.
Tetapi sayang sekali tidur nyenyaknya tidak akan berlangsung lama karena Taehyung berniat untuk membangunkannya sekarang.
Baru saja Taehyung meletakkan bokongnya di atas kasur itu, menyebabkan guncangan yang lumayan keras, lalu dirinya sudah disambut dengan kedua mata merah milik Jungkook.
"Hei, bocah."
Taehyung menyapa duluan, kemudian meraih telapak tangan kekasihnya yang sedingin es batu itu. Kentara sekali tampang dongkol Jungkook lantaran pria kurang ajar di hadapannya itu telah berani-beraninya mengganggu waktu istirahatnya yang berharga. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk merespon Taehyung, melainkan sebuah tatapan jengkel dilemparkannya tepat pada kedua mata elang di depannya.
"Happy belated birthday, sayang. Kau boleh makan kuenya sekarang." Taehyung menarik piring berisi kue yang tadi diletakannya di atas meja. Piring itu telah berada pada pangkuan Jungkook, namun yang berulang tahun hanya bengong menatap kuenya.
"Mana lilinku, hyung? Aku belum mengucapkan permohonan apa-apa, lho."
"Karena aku tahu kau tidak mungkin repot-repot mau menungguku menyalakan lilin bengkok sialan itu, maka aku tidak menyalakannya. Yah, tapi kalau kau memaksa, aku bisa apa?" ternyata Taehyung juga turut membawa lilin kecil-kecil, lengkap dengan korek apinya.
Hanya satu batang berwarna putih yang ditancapkannya pada potongan kue berbentuk segitiga itu. Duh, kalau bisa Jungkook ingin Taehyung mengembalikan potongan kecil itu pada sisa potongan besar kuenya saja. Seharusnya kuenya baru dipotong setelah Jungkook meniup lilin.
"Cepat buat harapanmu, bocah."
"Sabar hyunggg... menyebalkan sekali, sih."
Jungkook memajukan wajahnya perlahan-lahan mendekati kue yang dipegangi Taehyung itu, kemudian memejamkan matanya sambil cekikikan sendiri. Kelakuan ibu baru itu sangat mengundang Taehyung untuk melempar kue ini ke wajahnya sekarang, jika saja ia tidak ingat bahwa Jungkook baru saja mati-matian berjuang membawa buah hati mereka ke dunia ini. Ingatannya akan raut wajah kesakitan milik pemuda itu mengurungkan segala niat-niat usil yang sudah bermunculan di kepalanya.
Fuh!
Nyala api kecil itu mati seketika begitu Jungkook meniupkan udara keluar dari mulutnya dengan perlahan. Senyuman lebarnya membuat kedua mata bulatnya menyipit bahagia dan gigi-gigi kelincinya bermunculan dari balik kedua belah bibir pucatnya. Euforia-nya seakan meningkat begitu saja gara-gara permohonan yang diucapkannya dalam hati barusan. Meskipun begitu, Taehyung sama sekali tidak ada niat untuk menanyakan perihal tersebut. Ia sudah bisa menebak apa yang diharapkan oleh bocah itu.
"Oke, aku selesai. Ayo makan kuenya, hyung!" Jungkook setengah berteriak sambil menarik garpu yang diletakkan Taehyung di atas meja. Dicungkilnya hampir separuh bagian dari kue itu, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya sendiri.
"Suapan pertama dan juga potongan paling besar untuk diriku sendiri." dengan bangga Jungkook menepuk dada kirinya menggunakan telapak tangan kanannya. Ia bahkan baru mengunyah kue itu sebanyak lima kunyahan, namun makanan manis itu telah berpindah dari mulutnya ke kerongkongannya dengan cepat. Hei, Taehyung ingat ia pernah diajari untuk mengunyah sebanyak tiga puluh dua kali.
"Lalu suapan kedua... the one and only, Kim Taehyung."
Kali ini Jungkook memotong hanya seperempat bagian dari sisa kue pada piring, lalu menjejalkannya ke dalam mulut Taehyung sebelum pria itu bahkan sempat membuka mulutnya sendiri. Apakah Jungkook sebegitu laparnya sehingga ia tak mau memberi kekasihnya yang kurang gizi itu lebih banyak kue?
"Sayang sekali Noah masih terlalu kecil untuk menikmati kue ini... kalau begitu aku sebagai ibunya akan mewakili."
Sontak, Taehyung menarik hidung Jungkook main-main.
"Hei, kalau mau makan, ya makan saja. Tidak usah bawa-bawa nama anakmu, bocah."
"Koreksi : Anak kita!"
Dan dengan argumen terakhir Jungkook itu, perdebatan kecil mereka berakhir begitu saja. Ia langsung asik makan sendiri seakan tidak terjadi apa-apa barusan. Eksistensi Taehyung di situ seakan tidak diakuinya. Padahal Taehyung kan masih belum memberikan kado ulang tahunnya. Tumben sekali Jungkook tidak menagih.
Justru saat ini adalah kesempatan yang bagus untuk memberikannya, pikir Taehyung.
Diam-diam Taehyung merogoh saku celananya, berusaha menarik keluar benda kecil yang telah dipesannya dari jauh-jauh hari itu. Tentu saja harganya yang fantastis bisa membuat Jungkook melongo dan melupakan kue lezatnya selama beberapa detik ke depan. Ia yakin pemuda itu akan sangat terkejut.
"Hei, bocah?"
"Hmmm?"
"Lihat ke sini." tangan kiri Taehyung mengangkat dagu Jungkook sehingga kedua mata mereka bertemu. Piring berisi kue itu disingkirkannya kembali ke atas meja.
"Kau tidak memintanya, huh. Apa kau lupa?"
Jungkook masih memproses kata-kata Taehyung. Dahinya berkerut bingung.
"Apanya?"
"Hadiahmu, sayang." lanjutnya lagi sambil menarik wajah Jungkook ke arahnya, mengakibatkan bibir keduanya bertemu untuk waktu yang cukup lama.
Ketika pagutan hangat itu mulai berubah menjadi panas, Taehyung melepaskan pegangannya pada dagu Jungkook, kemudian tangannya meraih tangan kekasihnya. Lingkaran berwarna silver itu berkilau-kilau di bawah cahaya lampu yang berada tepat di atas kepala mereka, ketika Taehyung mendesaknya perlahan pada jemari Jungkook.
Ciuman Taehyung yang memabukkan membuatnya tidak menyadari bahwa pria itu sedang memasangkan sesuatu pada jari manisnya. Sayangnya, kegiatan panas mereka tidak bisa berlanjut karena Jungkook masih dalam masa pemulihan. Lubangnya habis disiksa selama berjam-jam dan Taehyung tidak sebrengsek itu untuk langsung memasukinya kembali. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, ia harus dapat menahan birahinya untuk beberapa bulan ke depan.
Tak sampai beberapa menit kemudian, mereka melepas pagutan mesra itu. Keduanya sama-sama terengah, berlomba-lomba meraup oksigen di sekitar mereka. Seketika pendingin ruangan di kamar Taehyung seakan kehilangan fungsinya untuk sesaat. Suhu tubuh Taehyung dan Jungkook telah meningkat dengan cepat. Bahkan Jungkook yakin keringatnya sudah hampir mencapai mulut pori-porinya saat ini.
"Suka hadiahnya?" masih dengan terengah-engah, Taehyung mengangkat telapak tangan Jungkook kemudian mengecupnya lembut. Setelahnya ia mengarahkan punggung tangan Jungkook mendekati wajah pucat pemuda itu sehingga cincin silver itu terlihat jelas di matanya.
Spontan saja Jungkook menarik paksa tangannya untuk membekap mulutnya sendiri. Ia hampir saja memekik saking terkejutnya melihat cincin berhiaskan permata kecil yang telah bertengger pada jemarinya. Taehyung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Jungkook dengan kedua bola matanya yang seperti akan keluar dari tempatnya. Ditatapnya wajah Taehyung dan cincin yang menghiasi jari manisnya bergantian, masih dengan mata yang melotot kaget.
"Hyung! Kau... melamarku?! Tolong katakan ini sebuah lamaran! Oh, Tuhan!"
Tanpa repot-repot menunggu jawaban dari kekasihnya, Jungkook melemparkan dirinya sendiri pada pelukan Taehyung. Pria berambut silver keunguan itu sedikit terhuyung ke belakang begitu diterjang tubuh gemuk Jungkook, namun ia berhasil meraih keseimbangannya kembali. Bahu lebarnya ditabrak kepala Jungkook begitu saja. Satu hal yang Taehyung yakini : meski ia sudah beranak, kebrutalan Jungkook tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Barangkali ia akan membesarkan anak mereka agar menjadi lelaki yang brutal pula. Duh, Taehyung jadi pusing.
Kembali ke topik lamaran.
"Aku tidak terima penolakan."
Sebuah pukulan keras dilayangkan pada punggung Taehyung.
"Hyung tidak tahu cara melamar yang baik dan benar."
"Ini bukan cara yang baik dan benar bagimu, tapi ini 'Taehyung style'. Khusus untuk Jungkook saja. Untuk apa basa-basi mengucapkan kalimat klise modelan 'Will you marry me?' kalau sudah tahu jawabannya?"
Oke, Taehyung benar. Tentu saja Jungkook bersedia menikah dengannya. SANGAT BERSEDIA.
Walaupun tidak kentara, namun Taehyung dapat merasakan hangat pada bahu kirinya. Isakan kecil yang keluar di antara suara nafas Jungkook semakin meyakinkannya bahwa bocah itu sudah berlinangan air mata berkat lamarannya yang dinilai tidak romantis itu. Air mata Jungkook telah membasahi area dekat lengannya dan mulai merambat ke arah kerah pakaiannya.
Taehyung semakin mengeratkan pegangannya pada pinggang Jungkook.
"Meskipun aku sudah tahu, bersediakah kau mengatakan jawabanmu, chagi?"
Jungkook mengangguk-anggukkan kepalanya yang masih menempel pada bahu Taehyung.
"Jeon Jungkook... hiks... bersedia menikahi... hiks... Kim Taehyung."
Kemeja Taehyung diremasnya erat-erat.
"Aku bersedia." ulangnya sekali lagi.
"Aku bersedia!" dan lagi.
dan lagi.
dan lagi.
dan lagi hingga Taehyung kembali menubrukkan kedua belah bibir mereka.
Hari itu menjadi hari yang paling emosional bagi Jungkook.
.
.
.
Halo, halo! Ini adalah chapter terakhir dari Cappuccino! Next adalah Epilogue. Sesuai janji, cerita ini akan tamat pada chapter 20-an huehehe.
Terima kasih dukungannya *insert love emoji*, aku sangat menghargai setiap follow, favorite, review, vote, dan comment yang kalian berikan. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, merekalah yang menjadi motivasiku saat aku males banget ngelanjutin nih cerita :')
See you in Epilogue!
