Sakura terduduk lemas di depan ruang UGD dengan kepala yang terus tertunduk. Air matanya mengalir sejak tadi, ia merasa khawatir, takut dan bersalah. Kini ia sendirian, sementara pengemudi wanita itu sedang mengurus administasi

Sakura melirik ponselnya. Belum satu jam berlalu, namun ia merasa seolah begitu lama. Ia menunggu kedatangan ibu dan ayahnya, juga kedatangan ibu Sasuke.

Sakura merasa benar-benar bersalah pada Sasuke. Ia tak tahu mengapa lelaki itu menuju kearah yang sama dengannya, namun sepertinya lelaki itu bahkan tak berpikir ketika menyelamatkannya. Dan lelaki itu sama sekali tak memikirkan dirinya sendiri, malahan ia memikirkan Sakura yang terlihat ketakutan karena menghindari roh yang mengikutinya dan meminta gadis itu memakai kalungnya.

Dan Sakura masih tak bisa melupakan momen ketika ia melihat tubuh Sasuke bersimbah darah hingga membasahi aspal serta pergelangan yang terlhat remuk. Sepertinya lelaki itu juga benar-benar kesakitan hingga tak bisa berbicara atau merintih dan hanya mengeluarkan air mata hingga akhirnya kehilangan kesadaran.

Hati Sakura terasa benar-benar sakit seolah diiris dengan golok yang tajam hingga tak lagi berbentuk. Inikah perasaan yang dirasakan Sasuke ketika Itachi mengalami kecelakaan karena menyelamatkan dirinya?

"Sakura-chan! Bagaimana bisa Sasuke-kun kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang?!"

Terdengar suara seorang wanita yang sangat tidak Sakura harapkan kehadirannya. Ia memberanikan diri untuk menoleh meski ia merasa benar-benar takut. Air mata yang sejak tadi ditahannya bahkan telah mengalir tanpa ia sadari.

"Maafkan aku, Mikoto-obaasan," ucap Sakura dengan suara tersendat-sendat. "Aku menyebrang tanpa melihat mobil yang melaju kencang. Dan tiba-tiba saja Sasuke mendorongku. Ketika aku melihatnya, dia-"

Sakura terdiam. Ia mengusap air mata yang mengalir dan menahan isakan, "-dia tertabrak."

Mikoto menatap Sakura yang kini telah terisak dihadapannya. Air mata Sakura telah mengalir deras tanpa bisa ditahan.

Mikoto merasa kesal, namun di sisi lain ia tak bisa menyalahkan Sakura. Sasuke sendirilah yang memilih untuk menyelamatkan Sakura dan mengorbankan dirinya sendiri.

"Kau bersama dengan Sasuke-kun?"

Sakura menggelengkan kepala. Ia berusaha mengatur nafasnya dan perlahan memberanikan diri untuk menjawab, "T-tidak. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari supermarket sendirian. Aku bahkan tak tahu kalau Sasuke menuju arah yang sama denganku."

Mikoto mengangguk. Ia memeluk Sakura dengan erat dan air matanya mengalir. Ia merasa takut kehilangan satu-satunya anak yang dimilikinya. Ia tak yakin akan mendapat pengganti jika seandainya ia kehilangan Sasuke saat ini.

Sakura merasa takut. Ia khawatir jika kecelakaan Sasuke akan berdampak buruk tak hanya bagi dirinya, namun juga bagi relasi kedua orang tuanya dengan orang tua Sasuke. Ia tak bisa membayangkan apa yang mungkin bisa dilakukan orang tua Sasuke terhadap keluarga Sakura dengan kekuatan mereka.

Sakura memeluk Mikoto dengan memberanikan dirinya dan menangis di pelukan wanita itu.

.

.

Sakura duduk diam sambil menatap jalanan yang dipenuhi dengan lampu yang berkerlap-kerlip di malam hari melalui jendela mobil. Air matanya meski mengalir meski kini isakan tak lagi terdengar dari mulutnya.

Baik ayah maupun ibu Sakura juga tak berbicara apapun sejak mereka masuk ke dalam mobil. Mereka berdua tampak benar-benar terkejut ketika mendengar berita mengenai kecelakaan Sasuke dari telepon Sakura dan segera bergegas datang dan ikut menemani Mikoto yang menunggui Sasuke sendirian di depan ruang UGD hingga akhirnya wanita itu memutuskan untuk pulang dan meminta Sakura serta orang tuanya untuk pulang.

Mikoto juga sempat bertemu dengan pengemudi wanita yang semula berniat untuk melaporkan kecelakaan itu kepada polisi karena merasa sebagai pihak yang dirugikan. Namun pada akhirnya wanita itu menawarkan ganti rugi setelah mengetahui orang yang ditabraknya berasal dari keluarga berpengaruh, dan sebagai gantinya keluarga Sasuke tidak menuntut apapun dari pengemudi wanita itu.

Sakura mengusap matanya yang telah memerah dan nyeri. Namun air mata masih tak mau berhenti. Ia merutuki dirinya sendiri yang terbawa emosi hingga langsung meninggalkan Sasuke tanpa menghiraukan panggilan lelaki itu.

Sakura merasa benar-benar ngeri. Ia telah berhasil menghindari ramalan dimana dirinya akan mati. Namun sebagai gantinya, Sasuke malah mengalami kecelakaan. Dan ia tak berharap jika lelaki itu akan mati.

"Sakura, bagaimana bisa kau seceroboh itu hingga membuat orang lain celaka? Bagaimana jika seandainya saat itu Sasuke tidak menolongmu? Pasti sekarang kaulah yang berada di ambang kematian sekarang," Kizashi membuka percakapan dan berbicara dengan tegas.

Sakura terdiam, mempersiapkan dirinya untuk berbicara terus terang pada orang tuanya. Tak ada lagi hal yang bisa ia tutupi saat ini.

"Aku merasa ketakutan dengan mahluk halus yang kulihat dan aku berniat menghindari roh yang mengikutiku dan berusaha menyentuhku," ucap Sakura dengan jujur.

Mebuki mengernyitkan dahi. Ia tak begitu paham dengan maksud putrinya, namun ia yakin jika putrinya tidak berhalusinasi. Ia tahu putrinya memang mewarisi indra keenam dari sang suami.

"Bukankah Sasuke-kun meminjamkan kalung pelindungnya padamu? Bagaimana bisa kau dikejar roh yang berusaha menyentuhmu? Lagipula apa roh memang bisa menyentuhmu?"

"Aku mengembalikan kalungnya-" sahut Sakura. "-setelah aku marah padanya dan meninggalkannya di restoran sendirian. Sejak itu aku tidak menghubunginya dan dia juga tak menghubungiku. Sebagai gantinya, dia meminta anikinya untuk menemaniku dan menjagaku."

Kizashi mengangguk, "Pantas saja Itachi meminta izin untuk berada di rumah. Katanya dia ingin menjagamu."

"Kau harus bertanggung jawab, Sakura," ucap Mebuki tanpa suffiks apapun. "Kau harus sering mengunjungi Sasuke. Ketika dia sudah sadar nanti, kau harus menemuinya dan langsung meminta maaf padanya. Kau tahu, dia-"

Mebuki memutus ucapannya. Ia menatap suaminya dan mengedipkan mata, berharap suaminya bisa melanjutkan ucapannya. Ia sendiri merasa tak sampai hati mengucapkan apa yang ingin diucapkannya pada Sakura.

"Sakura," Kizashi berbicara dengan suara yang lebih lembut, "Sasuke kehilangan telapak tangan kanannya. Menurut dokter, syaraf-syaraf di pergelangan tangannya juga ikut terputus sehingga harus diamputasi."

"Ini… bercanda, kan?" ucap Sakura dengan pelan.

"Tidak. Ini serius."

Sakura kembali terisak, namun kini hampir tak ada air mata yang keluar. Air matanya sudah mengering dan ia bahkan sebetulnya sudah merasa lelah untuk menangis.

Sakura benar-benar menyesal. Ia merasa tolol telah berpandangan negatif terhadap seseorang yang sebetulnya memperhatikan dan benar-benar berniat melindungi dirinya. Dan kini seseorang telah kehilangan anggota tubuhnya karena dirinya. Barangkali, mungkin kehidupan orang tersebut juga akan berubah sepenuhnya berkat dirinya.

Sakura tak sanggup menemui Sasuke, apalagi meminta maaf secara langsung padanya. Hatinya pasti akan terasa sakit melihat Sasuke.

.

.

"Bagaimana bisa otoutoku menjadi seperti ini? Kau benar-benar tidak bisa dipercaya untuk ditinggal sendirian," ujar Itachi dengan suara meninggi ketika ia menemui Sakura. Ia menahan diri untuk tak berteriak pada gadis itu.

Entah kenapa Itachi kesulitan mengontrol emosinya ketika berkaitang dengan Sasuke. Ia yang biasanya adalah orang yang tenang kini mampu berbicara dengan suara yang meninggi pada seseorang. Ia bahkan menjadi orang yang mudah marah ketika terjadi sesuatu yang berhubungan dengan Sasuke.

Sakura tak menjawab. Ia menatap Itachi sejenak sebelum menundukkan kepala dan memeluk lututnya sendiri.

"Ini memang salahku. Maafkan aku."

Itachi mengepalkan tangannya. Ia kehilangan kesabarannya. Ia perlu mendengar penjelasan dari Sakura.

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

Sakura bergidik ngeri. Lelaki dihadapannya kini bukanlah sosok lelaki yang biasa suka menjahilinya dan akan mengerucutkan bibir dengan jengkel ketika digoda dengan makanan manis. Itachi yang kini berada dihadapannya telah menatapnya dengan tajam dan penuh emosi. Nada bicara lelaki itu bahkan terdengar tegas.

Sakura memutuskan menjelaskan sedetil mungkin. Ia memberanikan diri untuk mengingat kembali pengalaman mengerikan ketika seorang korban kecelakaan dengan anggota tubuh yang hancur dan kepala yang penuh darah hingga memperlihatkan sedikit isi kepalanya tiba-tiba saja berada di depannya. Roh lelaki muda itu terus menerus mengajak Sakura berbicara dan memohon-mohon bantuan pada Sakura.

Saat itu Sakura merasa ketakutan dan ia cepat-cepat meninggalkan supermarket dengan harapan roh lelaki muda itu akan meninggalkannya. Namun roh itu malah terus mengikutinya dan ia semakin ketakutan ketika melihat beberapa roh serupa di jalanan yang ia lalui hingga bulu kuduknya merinding.

Sebetulnya Sakura menyadari jika seseorang sepertinya juga mengikutinya. Namun ia terlalu takut untuk menoleh ke belakang dan melihat siapa yang mengikutinya. Ia berjalan cepat-cepat dan menyebrang tanpa melihat apakah ada kendaraan atau tidak. Ketika Sakura menyadari ada kendaraan yang melaju dengan cepat di jalanan yang sepi itu, ia malah terdiam dan akhirnya Sasuke malah menyelamatkannya.

"Itulah yang terjadi. Maafkan aku." Sakura memutus ucapannya dan ia merasa ingin meluapkan tangisan. Dadanya bahkan sudah terasa sesak.

"Berarti dia mengikutimu," sahut Itachi. "Berterima kasihlah padanya. Dia bahkan begitu berniat melindungimu hingga mengikutimu meskipun ia bisa saja membiarkanmu pulang sendirian."

"Ini salahku. Perlakuanku padanya sungguh keterlaluan. Maafkan aku, Itachi-nii," ucap Sakura dengan pelan. Bibirnya terus mengucapkan kata 'Maafkan aku' dengan pelan. Kepalanya bahkan tertunduk.

"Kalau kau ingin minta maaf, ucapkan secara langsung pada otoutoku."

Sakura menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa. Aku takut menemuinya ketika ia sudah membaik. Bagaimana jika dia mengusirku? Bagaimana jika dia memakiku? Aku bahkan merasa tak tega melihat kondisi tubuhnya akibat kecelakaan itu."

Itachi menatap Sakura dengan tajam. Ia benar-benar kesal dengan ucapan gadis itu, namun tak sampai hati untuk berteriak pada gadis itu.

"Kau ingat apa yang kau katakan tentang otoutoku dihadapannya? Pernahkah dia memakimu sekalipun mengenai hal itu? Dia bahkan memintaku untuk tidak marah padamu."

Sakura menggelengkan kepala. Selama ini Sasuke bahkan tak pernah sekalipun membahas perlakuan Sakura padanya. Lelaki itu memilih diam, berpura-pura tak menyadari jika orang yang berinteraksi dengannya sebetulnya tak menyukai dirinya. Bahkan ketika mereka bertemu belakangan ini, lelaki itu malah menanyakan keadaan Sakura dan berusaha membantunya terbiasa dengan indra keenamnya.

"Kau harus bertanggung jawab atas segala hal yang kau lakukan."

"Aku… tahu. Ini memang salahku. Ini… salahku."

Mata Sakura kembali berkaca-kaca. Ia sendiri merasa menyesal dan bersalah, namun juga lelah dengan semua orang yang seolah menyalahkannya di saat ia tengah terputuk.

Itachi menatap Sakura yang kini terlihat kacau dengan mata merah dan bengkak. Wajahnya bahkan terlihat sembap. Ia merasa agak kasihan pada gadis itu. Lagipula secara logika hal ini juga bukan salahnya. Sasuke sendirilah yang berniat menolong Sakura.

Perlahan Itachi mengulurkan tangan. Ia menepuk-nepuk rambut Sakura dan berbicara dengan suara yang lebih lembut, "Maafkan kata-kataku yang tadi. Kecelakaan ini juga bukan salahmu."

Sakura menggeleng, "Seandainya aku tidak ceroboh, maka Sasuke tak perlu menyelamatkanku. Dan dia… tak perlu kehilangan telapak tangannya."

Itachi tersentak. Ia terdiam sesaat sebelum berkata, "Kau… sudah tahu?"

"Ayahku… mengatakannya padaku."

Itachi merasa lega. Sakura belum mengetahui kondisi Sasuke secara keseluruhan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis itu jika sudah mengetahuinya.

"Kumohon… bisakah kau mengecek kondisi Sasuke untukku? Aku ingin tahu, seberapa parah aku membuatnya terluka?"

"Kau bisa mengunjunginya dan melihatnya sendiri nanti," sahut Itachi. Ia memilih untuk tak lagi menjanjikan sesuatu yang tak bisa dipenuhinya. Ia tak ingin mengulangi kesalahan yang dilakukan semasa hidupnya.

Bukan tanpa alasan Itachi menolak permintaan Sakura. Ia menghabiskan berjam-jam mengamati dokter yang berusaha menyelamatkan Sasuke di dalam ruang UGD dan mendengar seluruh percakapan dokter. Ia sudah mengetahui seberapa parah kondisi Sasuke.

"Kau sudah tahu, kan?" Tanya Sakura sambil menatap Itachi lekat-lekat dengan matanya yang terasa nyeri.

"Akan lebih baik kalau kau menyimpulkan berdasar yang kau lihat. Berdoalah yang terbaik untuknya."

"Kondisinya parah, kan?"

Itachi menggelengkan kepala, "Aku juga tidak begitu paham."

"Kalau begitu kau temani dia saja, Itachi-nii. Jangan kunjungi aku lagi. Aku akan baik-baik saja sendirian."

"Hn. Sementara ini jangan keluar rumah sendirian di malam hari tanpaku."

Tanpa menunggu jawaban Sakura, Itachi segera meninggalkan Sakura dan kembali ke rumah sakit. Ia memutuskan untuk terus berada di sisi sang adik, tempat dimana seorang kakak seharusnya berada.

.

.

Tatapan Itachi tertuju pada sosok Sasuke yang terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa bagian tubuh yang terlilit perban serta selang-selang yang terpasang di tubuhnya. Terdapat masker oksigen yang terpasang di wajahnya dan monitor yang menamplkan detak jantung lelaki itu.

Hati Itachi terasa remuk. Ia tak sanggup melihat sang adik dalam kondisi seperti itu. Ia yakin pasti sang adik akan kesakitan, karena ia sendiri sudah merasakan rasa sakit tak tertahankan ketika kecelakaan. Dan saat itu, ia kehilangan nyawa nya dalam waktu tak lebih dari satu jam sehingga ia tak perlu merasakan rasa sakit dalam waktu yang lama.

Itachi memberanikan diri menghampiri Sasuke dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh lelaki itu. Ia melihat bagian telapak tangan yang telah hilang dan kini dibalut dengan perban. Itachi bahkan tak tahu bagaimana harus menjelaskan jika seandainya Sasuke sadar dan menanyakan telapak tangan nya yang telah hilang.

Hati Itachi terasa sakit melihat Sasuke dalam kondisi seperti ini, namun ia yakin hati nya akan jauh lebih nyeri ketika harus menghadapi Sasuke yang sudah tersadar dan menanyakan ini itu mengenai kondisi tubuhnya.

Itachi teringat dengan percakapan dokter yang mengatakan mengenai kondisi Sasuke yang masih sangat kritis. Denyut nadinya begitu lemah dan dokter bahkan tidak tahu kapan Sasuke akan siuman. Kecil kemungkinan bagi lelaki itu untuk dapat selamat.

Dan kini Itachi merasa takut. Bagaimana jika sang adik akan menyusul dirinya. Ia memang selalu mengkhawatirkan Sasuke, namun bukan berarti ia akan membiarkan Sasuke menyusulnya. Ia lebih memilih menjadi roh penasaran dan menjaga sang adik ketimbang 'pergi' bersama sang adik saat ini.

Itachi meletakkan tangan pada telapak tangan kiri Sasuke dan terkejut ketika ia hampir bisa menyentuh tangan Sasuke. Mungkin suhu tubuh mereka tidak jauh berbeda hingga Itachi bisa menyentuh lebih dekat dibanding biasanya.

"Kau tidak boleh menyusulku, baka otouto. Kau harus tetap disini dan menjaga Sakura-chan. Kalau kau sampai menyusulku, gadis itu pasti akan lebih merasa bersalah."

Itachi tak tahu apakah Sasuke bisa mendengar ucapannya atau tidak. Ia bisa merasakan jika roh lelaki itu masih berada di dalam tubuhnya.

"Okaa-san dan Sakura-chan terus menangis hingga mata mereka memerah. Kuharap kau cepat sadar agar mereka tak semakin khawatir padamu."

Itachi merasa tak nyaman bermonolog. Ia lebih memilih menyimpan pemikirannya sendiri ketimbang bermonolog. Namun kali ini ia merasa harus mengungkapkan pemikirannya meski ia tahu tak akan mendapatkan respon apapun.

Ia melirik wajah Sasuke dan mendapat air mata yang telah menetes dan kini membasahi wajah lelaki itu, entah karena kesakitan atau mendengar ucapan Itachi. Itachi cepat-cepat berpaling dan meninggalkan ruang perawatan itu. Hatinya terasa benar-benar sakit dan mungkin ia pun akan ikut menangis juga jika ia tak segera meninggalkan ruangan itu.

-TBC-