.

Chapter 21 – Beneath The Same Sky

.


Tidak mungkin

Kenapa bisa jadi begini?

Kenapa harus berakhir seperti ini?

Itulah yang terlintas di pikiran mereka bertiga yang mengetahui betapa keduanya saling mencintai.

Soo Won mengenal mereka berempat, ia tahu betul betapa Hakuya mencintai Yohime seperti Yohime mencintai Hakuya. Tak mungkin... tak seharusnya mereka berdua berakhir seperti ini.

"Haku... tolong jaga Yohime...".

"kau sendiri yang meminta tolong padaku, Hakuya... tapi kenapa... jika memang kau masih hidup, kenapa kau tak kembali? kenapa kau malah membunuhnya? kenapa kau biarkan dia mati terbunuh bahkan di tanganmu sendiri? kenapa kau biarkan dia menusukmu?".

Terlintas ucapan dan ekspresi Yohime di kepala Haku, senyuman dan kata-kata terakhirnya.

"Haku, jaga adikku".

Haku melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Yona dan mengangkatnya sambil memberi instruksi pada teman-temannya untuk lari dari sini secepatnya, sejauh mungkin. Mereka sempat lupa, tapi mereka masih ada di tengah medan perang.

"turunkan aku, Haku?! kakak masih disana?!".

"tak bisa, Hime-sama?! Aku sudah berjanji pada kakakmu untuk menjagamu!?".

"turunkan aku, Haku?! setelah aku harus kehilangan semuanya malam itu... setelah aku harus pergi meninggalkan rumahku dan ayahanda saat itu, apa aku harus meninggalkan kakakku juga!?".

"bukan hanya kau yang terpaksa meninggalkan kakakmu, jadi diamlah?! kau bisa memberiku hukuman nanti, tapi sekarang yang terpenting adalah keselamatanmu?!".

Di tengah tangisan pilu Yona yang meronta di gendongan Haku pasca teriakan keras Haku yang terdengar memilukan, saat mereka berusaha kabur dari medan perang, terjadi keanehan.

Tanda burung Suzaku di dada Yohime bersinar dan tanda naga berwarna perak di punggung Hakuya bersinar.

Jasad Yohime mulai terbakar dan berubah menjadi burung Suzaku yang terbang tinggi ke langit sambil berkoar, menebar bulu sayapnya ke bumi bersamaan dengan hilangnya jasad Yohime. Di saat bersamaan, dari punggung Hakuya muncul seekor naga berwarna perak dengan surai berwarna coklat kehitaman muncul setelah jasad Hakuya menghilang, naga perak itu terbang mengelilingi Suzaku dan meraung, halilintar menyambar para pasukan yang ada di bawah.

Ketika para pasukan dibuat panik oleh kemunculan naga perak dan Suzaku itu, naga itu terbang menukik ke bawah menuju tanah dengan mulut terbuka lebar, bersiap menelan Soo Won dan kedua Shogun serta beberapa pasukannya.

Sadar naga perak raksasa itu hendak melahap mereka semua, Joo Doh meminta Soo Won dan pasukan mereka mundur. Saat itulah Suzaku terbang menukik ke tanah lebih dulu, membakar mereka semua dengan api yang berasal dari sayapnya. Api Suzaku yang keluar bersama api dari bulu sayap Suzaku yang berjatuhan dari langit menebarkan api, membakar tanah medan peperangan tapi api itu tak membakar mereka, justru api itu menyembuhkan luka-luka mereka semua.

Saat Joo Doh dan Soo Won menghampirinya, Geun Tae turun dari kuda dan meraih tali kekang Xue "dua orang itu... kemana perginya?".

Mereka semua yang terlalap api Suzaku selamat, kecuali Yona dkk yang hilang tanpa jejak.

.

Fuuga, wilayah suku angin...

"tapi kita bahkan tak tahu apa Hakuya-sama masih hidup atau tidak" ujar Han Dae menghela napas, mengingat Haku hanya bersama Yohime dan Yona saat mereka bertemu di Fuuga.

"jika mereka masih hidup, aku merasa kalau kita pasti akan bertemu lagi dengan mereka, selama kita berada di bawah langit yang sama" ujar Tae Woo menunjuk langit.

"kalau dia mati seenaknya, akan kubunuh dia" gumam Mundok.


Yona membuka matanya dan melihat Haku di sampingnya, bersama Yun dan ke-4 ksatria naga yang ada di belakang Haku. Mereka tak tahu saat ini ada dimana, tak tahu harus pergi kemana di tengah tempat yang seperti dunia lain ini. Luka di tubuh mereka semua sudah sembuh karena api penyembuh dari sayap Suzaku. Mereka bahkan tak yakin apakah mereka masih hidup atau tidak karena hal terakhir yang mereka ingat adalah saat api Suzaku melalap mereka. Cahaya putih keperakan bercampur cahaya merah kekuningan menyinari mereka dan saat mereka membuka mata mereka, mereka berada di tempat lain. Tempat yang sangat familiar bagi Yona dan Haku, kastil Hiryuu.

Saat mereka melihat sosok gadis kecil yang berlari melewati mereka dan menghampiri wanita yang dikenali Yona dan Haku sebagai sebagai Yohime di masa kecil dan mendiang permaisuri Yoan, ibu kandung Yona dan Yohime, Yun menyadari bahwa mereka saat ini tengah melihat pantulan masa lalu.

"dan aku merasa pasti ada yang salah..." gumam Yun, membuat teman-temannya menoleh padanya.

"apa maksudmu, Yun?" tanya Kija.

Yun menautkan jari telunjuknya ke dagunya, kebiasaannya saat ia berpikir "ingat apa ramalan Ik-Su?".


.

Saat kegelapan memenuhi daratan

Darah naga dan Suzaku akan mengembalikan kehidupan sekali lagi

Sesuai perjanjian kuno, ketika ke-4 naga berkumpul

Darah Suzaku akan memberikan kehidupan baru

Dari Naga Langit yang datang dari alam kematian

Pedang dan perisai yang melindungi Raja akan terbangun

Naga merah akan kembali saat fajar

.


"kita bahkan belum bertemu naga langit" lanjut Yun.

"itu masih belum menjelaskan apa yang baru saja terjadi di depan mata kita" ujar Haku dengan ekspresi muram.

"belum lagi kita tak tahu dimana kita berada dan kenapa kita melihat pantulan masa lalu ini?" tambah Yona.

"jika kecurigaanku benar, semuanya akan terjawab setelah kita kembali ke tempat semula tapi tampaknya yang bisa kita lakukan saat ini hanya melihat pantulan masa lalu sampai selesai. Ini juga mungkin akan menjelaskan apa yang disembunyikan Yohime darimu, Yona... dan bisa jadi kita akan melihat apa yang terjadi pada kakakmu, Raijuu" ujar Yun menatap pantulan masa lalu, sama seperti teman-temannya.

"tapi apa pria itu benar-benar..." ujar Kija terpotong.

"tak salah lagi, aku tak mungkin salah kenal... meski warna rambutnya lain, tak salah lagi, dia Hakuya, kakak kembarku... aku tak habis pikir, kenapa dia...".

"menurutmu, apa kakakmu sanggup melakukan ini semua atas keinginannya sendiri?" tanya Jae Ha.

Haku terdiam, ia tahu betul kalau Hakuya, kakak kembarnya yang ia kenal tak mungkin bisa melakukan hal sekejam itu, mengkhianati mereka dan membunuh Yohime. Haku terkejut saat ia mengalihkan pandangannya pada Yona.

"ibu...".

Yona menangis, bukan hanya karena apa yang barusan ia saksikan, tapi juga karena ia merasa perasaannya campur aduk, melihat sosok ibunya yang sudah lama meninggal dan hampir tak bisa ia ingat, kini muncul di hadapannya meski hanya pantulan masa lalu.


Yoan, ibu kandung Yohime dan Yona, memiliki rambut hitam lurus yang indah dan mata ungu yang terlihat begitu lembut.

Sambil duduk bersandar di bawah pohon yang teduh, Yoan meletakkan buku yang ia baca dan mengelus kepala Yohime (4 tahun) yang membaringkan kepalanya di pangkuannya "Yohime, mana Yona? kenapa kau tak bersamanya? Tak seperti biasanya...".

"Yona pergi menemui Soo Won makanya aku kabur kemari, bunda".

"lho, kenapa malah kabur? memang kenapa dengan Soo Won? dia anak yang baik, kan?".

"iya, aku tahu, ibunda... masalahnya Soo Won datang kemari bersama paman Yu Hon, pria itu menyeramkan... jadi aku refleks kabur...".

Yoan mengelus kepala Yohime "kau takut pada Yu Hon, tapi kau tak takut pada kakekmu dan para Shogun seperti Mundok Shogun?".

"soalnya kakek mengizinkanku baca buku di perpustakaannya yang banyak sekali dan sering memberitahuku banyak cerita yang menarik!? Para Shogun tak menakutkan karena mereka tak ada apa-apanya jika berhadapan dengan kakek!?" ujar Yohime mengangkat kedua tangannya ke atas.

"para Shogun pasti shock jika mendengar kau bicara begitu" ujar Yoan menahan tawa.

Yohime memiringkan kepala karena heran sebelum duduk di samping Yoan sambil memegang paha Yoan "tapi di antara para Shogun, yang paling kusukai adalah Mundok Shogun?! Soalnya Mundok Shogun mirip seperti kakek, mereka hangat, baik dan ramah pada anak-anak, kakek dan Mundok Shogun tak menyeramkan seperti paman Yu Hon".

"tak perlu takut, Yu Hon mungkin memang terlihat menyeramkan, tapi dia tak jahat... jika kau takut padanya, ibu bisa menemanimu, lagipula kasihan Soo Won, kan? nanti dia pikir kau tak mau berteman dengannya".

"aku tak terlalu tertarik berteman dengan anak laki-laki yang tampangnya manis seperti anak perempuan itu...".

"Yo-hi-me~ bunda sentil, ya?" ujar Yoan menyentil dahi Yohime "kau ini, tak baik begitu".

"aw, aku bercanda, bunda... meski soal tampangnya yang manis seperti anak perempuan itu kenyataan, kan?" ujar Yohime mengelus dahinya "tapi, Mundok Shogun sudah janji padaku dan Yona bahwa ia akan membawa kedua cucunya yang seumuran dengan Soo Won pada saat kunjungan berikutnya, aku lebih tertarik berteman dengan mereka berdua... boleh, kan?".

"boleh, tapi ajak juga Yona dan Soo Won bersamamu, ya?".

Yohime mengangguk dengan wajah tersipu sehingga Yoan tersenyum sambil mengelus kepala Yohime. Tak lama setelah Yohime tertidur, Hakuya (6 tahun) muncul dari semak-semak di dekat situ.

"hei, kau anak yang dibawa Mundok Shogun waktu itu... cucu angkat Mundok Shogun, kan?".

Hakuya mengangguk, Yoan tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya, meminta Hakuya mendekat. Hakuya terlihat ragu mendekatinya sehingga Yoan kembali memperkenalkan diri sambil mengelus kepala Yohime yang tertidur di pangkuannya.

"ini putriku, Yohime... dia masih bayi saat aku pertama kali melihatmu di kastil Hiryuu, meski mungkin kau tak ingat...".

"tidak, saya ingat... anda Yoan-sama, istri pangeran Il, kan?" ujar Hakuya menggelengkan kepala dan menunjuk Yohime "dan bayi yang anda gendong saat itu... Hime-sama ini?".

"benar, aku ingat saat itu Mundok Shogun datang kemari membawamu bersama adikmu, dan aku ada di belakang suamiku sambil menggendongnya... aku ragu kau ingat padaku karena kau masih 4 tahun saat itu, tapi ternyata kau ingat...".

"permaisuri juga mengingatku?".

"tentu saja, mana mungkin aku bisa lupa pada anak yang memiliki warna mata yang unik dan indah seperti ini?" ujar Yoan tersenyum lembut dan mengelus kepala Hakuya, entah kenapa wajahnya yang tersenyum terlihat sedih saat menatap Hakuya.

Memang benar, Hakuya memiliki warna mata yang unik dimana matanya berbeda warna sejak lahir (mata heterochroma). Mata kanannya memiliki warna yang berbeda dengan mata kirinya, dimana mata kanannya berwarna hijau Jade sedangkan mata kirinya berwarna biru Azure Sky.

Setelah menggendong Yohime dan membawa bukunya, Yoan mengajak Hakuya untuk ikut bersamanya. Yoan selalu tidur bersama Yohime dan Yona di kamarnya, ketika Yoan kembali ke kamar bersama Hakuya kali ini, Hakuya takjub melihat banyaknya buku yang tersimpan di perpustakaan pribadi milik Yoan di kamarnya sebagai permaisuri.

"wah, banyak sekali bukunya".

"ini hiburan untukku juga Yohime yang kadang tak bisa keluar kamar saat ia sedang sakit..." ujar Yoan menyelimuti Yohime "jarang ada anak yang sepantaran putriku atau dekat usianya dengannya, dan tak seperti adiknya, Yona, Yohime sering jatuh sakit sehingga dia lebih jarang keluar kamar, di saat seperti itu hanya ada buku sebagai hiburan untuknya, karena itu kadang ia kesepian... apa kau dan adikmu mau berteman dengan kedua putriku?".

"apa boleh?".

Yoan tersenyum mendengar pertanyaan Hakuya "kenapa tidak? sering-seringlah main kemari dan kau boleh menemani putriku... kau juga suka membaca, kan? aku tahu dari sorot matamu barusan saat melihat jumlah buku di kamarku".

Memang benar, selain berlatih dan belajar seperti yang dilakukannya bersama Haku dan anak-anak di Fuuga, Hakuya termasuk anak yang suka membaca, ia sering membaca buku bersama Tae Yeon sebelum tidur. Tak seperti reaksi anak-anak pada umumnya, sesaat Hakuya sempat terlihat ragu sebelum Yoan kembali meyakinkannya sehingga Hakuya bersorak karena senang dan Yoan tertawa melihat reaksi Hakuya yang seperti ikan dimasukkan dalam air.

Saat Yoan dan suaminya, pangeran Il (karena belum naik tahta menjadi raja) bertemu dengan Mundok yang membawa Hakuya dan Haku untuk diperkenalkan pada Yona dan Yohime, Yona dan Yohime mengaku kalau mereka sudah bertemu Haku dan Hakuya kemarin meski ketiga orang dewasa ini tak menyangka atas apa yang dilakukan Yohime.

Dengan tubuh mungil dan tangan kecilnya, Yohime menangkap Hakuya tanpa ragu "ibunda, aku suka dia?! boleh dia untukku?".

Hakuya tak tahu harus berkata apa sementara ayah dan kakek mereka berdua juga tercengang.

"Yohime, kata-katamu... katakan dengan jelas apa maksudmu" ujar Yoan menahan tawa mati-matian.

"lho? kenapa, ibunda? karena aku anak pertama yang hanya punya satu adik perempuan, aku ingin punya kakak laki-laki sepertinya, habisnya dia baik dan aku sangat suka warna matanya yang indah?!".

"tolong jangan katakan hal memalukan itu dengan lantang, Hime-sama" ujar Hakuya menoleh ke arah Haku "Haku, jangan ketawa?!".

Haku tak bisa menahan tawa melihat ekspresi kaget kakak kembarnya dan kakeknya akibat ulah Hime-sama yang polos itu "aku salut padamu karena kau berhasil membuat Hime-sama yang dikenal pendiam dan pemilih dalam bergaul ini menyukaimu, kak".

"terserah... tolong kau temani mereka berdua, aku mau pergi ke perpustakaan istana saja" ujar Hakuya berbalik, hanya selangkah sampai ia menyadari bahwa Yohime menahan bajunya dari belakang dan jelas-jelas Yohime ingin mengikutinya. Belum sempat ia protes satu kata pun, saat menoleh ke belakang, ia terkejut melihat Yohime yang menahan bajunya dengan mata berbinar dan ekspresi memelas layaknya anak kucing yang tak ingin ditinggal bahkan dari ekspresinya, ia seolah berkata "aku juga ditinggal?".

"berhenti memandangiku dengan sorot mata dan ekspresi itu?! itu namanya curang, kan?! dasar makhluk imut mematikan satu ini?!" pikir Hakuya melihat Yohime yang menahannya dan berakhir dengan mengajak Yohime ikut dengannya karena pada akhirnya ia merasa tak tega meninggalkan Yohime.

Di perpustakaan, Hakuya melihat Yohime menatap Haku dan Yona yang bermain di taman dan ia tak tahan lagi sehingga ia bertanya "kenapa kau tak bermain bersama adik kita saja?".

"sebelumnya, ada yang ingin kutanyakan padamu".

"apa itu?".

"apa kau bertengkar dengan adikmu?".

Hakuya menautkan alis "hah? kenapa bertanya begitu?".

"karena dari sorot matamu saat kau melihat adikmu, terkadang aku merasa kau sedang sedih meski bibirmu tersenyum".

Hakuya tersenyum sambil menundukkan kepala mendengar ucapan Yohime, untuk sesaat sorot matanya terlihat menyimpan kesedihan yang sangat dalam dan terlalu besar untuk diitanggung oleh ukuran anak seusianya.

"jika kau tak mau cerita, tak masalah... hanya saja, menurutku kau akan merasa lebih lega jika kau mengatakan apa yang kau rasakan, kan?".

"jangan bilang apapun yang akan kukatakan padamu pada adikku atau kakek, jika kau bisa tutup mulut maka aku akan menjawab pertanyaanmu, setuju?".

Yohime mengangguk.

"itu hanya karena aku teringat kematian orang tua kami, tampaknya dia sudah tak ingat apa yang terjadi" sahut Hakuya sebelum tersenyum pada Yohime "tapi tak apa, lebih baik dia tak mengingatnya... aku hanya merasa tak nyaman karena aku tak bisa melupakannya meskipun ingin".

"kau kesepian?".

Hakuya tak menjawab, ia memiringkan kepala dan menautkan alis sambil menatap Yohime, jelas ia tak mengerti seperti apa perasaan yang dimaksud Yohime.

"meski berada di tengah banyak orang, tetap ada penggalan diri kita yang terasa kosong disini karena merasa ditinggalkan seorang diri atau sendirian. Apa kau juga pernah merasakan hal itu? jika iya, menurut ibunda, itu namanya kesepian... sebab itu yang kurasakan saat aku hanya bisa melihat keluar dari dalam kamar tiap kali aku sakit".

Hakuya teringat ucapan Yoan tentang Yohime, sudah sewajarnya Yohime bisa mengerti rasa kesepian yang kadang Hakuya rasakan karena Hakuya tahu, Yohime sama sepertinya.

"oh... itu namanya kesepian, ya?".

"baru tahu?".

"yah, kadang aku merasakannya... tapi aku tak merasakannya saat di Fuuga karena ada adikku, kakek dan anak-anak lain".

"tenang saja, aku takkan bicara apapun pada adikmu atau bertanya apa yang terjadi... aku juga tak suka jika ada yang bertanya apa yang menggangguku dan maaf, jika aku mengingatkanmu pada apa yang membuatmu sedih... kukira kau bertengkar dengan adikmu, rasanya pasti tak nyaman jika kita bertengkar dengan saudara kita, kan? karena itu, aku bertanya begitu..." ujar Yohime mengelus kepala Hakuya "tapi jika apa yang terjadi terlalu menyedihkan sampai tak bisa kau lupakan, tutupi saja dengan hal-hal menyenangkan, bukankah dunia ini terlalu indah untuk dilewatkan dengan cuma berpangku tangan?".

"contohnya?".

"contohnya..." gumam Yohime berpikir sejenak sebelum mengangkat kedua tangannya ke atas "masih ada banyak buku yang ingin kubaca dan ada makanan manis yang ingin kucoba!?".

Hakuya tertawa lepas mendengar ucapan Yohime, jika ia ingat mungkin ini pertama kalinya ia tertawa lepas seperti itu pasca kematian orang tuanya.

Yohime tersenyum lebar melihat Hakuya akhirnya tertawa "kau lebih pantas tertawa".


A/N :

Sorry for long update, because of internet connection problem at my place

Anyways, because we don't know Yona's mother's name, so i decided to give similar name belong to her daughter and i give their mother's name, that's it, Yoan. Actually, believe it or not, that name i got from my beloved little sister