Possesive
.
[Taehyung/V x Jimin]
[Cameo; Hoseok]
.
VMin TaeChim 95lines
.
Based On True Story
.
.
Kim Taehyung.
Park Jimin.
2 orang anak adam yang tengah dimabuk cinta. Mereka adalah pasangan yang tidak terpisahkan dan merupakan pasangan yang banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Perbedaan tinggi badan yang mencolok adalah salah satu kenapa pasangan ini di-klaim sebagai pasangan yang sangat menggemaskan.
Taehyung itu cool dan sangat tampan, suara beratnya itu adalah nilai plus, oh dan jangan lupakan hidung mancungnya yang seperti perosotan di Taman Kanak-Kanak. Sementara Jimin adalah sosok periang, ramah dan sangat manis, tinggi badan yang hanya sebatas dagu Taehyung menambah kesan imut padanya, jangan lupakan kedua matanya yang akan terlihat seperti lengkungan bulan sabit saat ia tersenyum, sangat cantik.
"Jiminie, aku tunggu di lapangan saat pulang sekolah nanti." Taehyung mengedipkan sebelah matanya lalu mengecup singkat bibir semerah cherry Jimin setelah itu segera melesat pergi ke ruang kelasnya.
Bel yang menandakan berakhirnya jam istirahat sudah berdering sejak beberapa detik yang lalu. Taehyung dan Jimin sama-sama kelas 3, hanya saja mereka tidak dalam satu kelas yang sama.
Jimin, yang menerima 'serangan' tidak terduga dari Taehyung langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan rona merah yang perlahan menghiasi kedua pipi gembilnya. Ada sekelompok gadis yang melihat kejadian tersebut dan langsung menjerit tertahan, Jimin terlampau menggemaskan.
Saat pulang sekolah, Jimin langsung berlari ke arah lapangan mencari sosok Taehyung yang ia temukan tengah duduk bersantai di bangku penonton dengan beberapa gadis yang mengerumuninya. Tanpa sadar, Jimin mencebikkan bibirnya dan mendengus keras-keras. Hentakan kakinya saat berjalan menghampiri Taehyung menandakan bahwa ia sedang kesal, kesal pada kekasih mata keranjangnya itu.
"Permisi nona-nona, tapi waktu flirting kalian sudah habis." Ujar Jimin sarkastik. Kedua mata sipitnya melemparkan tatapan tajam ke arah Taehyung seolah ia bisa menguliti Taehyung saat itu juga, hanya dengan menatapnya. Taehyung bergidik ngeri.
Gadis-gadis itu bergumam 'Ah, sayang sekali' dan Jimin menaikkan satu alisnya, beralih melemparkan tatapan tajamnya untuk gadis-gadis yang mengerubungi Taehyung tadi.
"Aku tidak meladeni mereka."
"Tidak meladeni tapi mereka mengerubungimu seperti semut mengerubungi gula."
"Jadi, kau cemburu ?"
"Dan kau masih bertanya ? Tidak punya perasaan."
Jimin melempar sebuah buku yang sedari tadi dipengangnya ke arah Taehyung lalu berlalu pergi tanpa peduli buku yang dilemparnya tadi mengenai wajah Taehyung. Ini gawat batin Taehyung.
Jimin sudah hampir mencapai gerbang sekolah saat Taehyung meraih pundaknya, menghentikan langkah kakinya yang menghentak-hentak tanah. "Sungguh, aku tidak meladeni mereka, aku hanya bilang jika aku sedang menunggumu setelahnya aku sama sekali tidak menggubris mereka. Aku bersumpah."
Saat-saat paling menyenangkan dalam hidup Jimin adalah melihat Taehyung yang panik dan kebingungan, sikap yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia selalu bersikap tenang dan cool meski sedang dihadapkan pada badai sekalipun, tapi ia akan berubah menjadi panik dan kebingungan saat Jimin mulai marah padanya. Itu sangat menggemaskan.
Jimin mengecup bibir Taehyung, kedua kakinya berjinjit saat melakukannya, lalu memamerkan senyum malaikatnya. "Ayo pulang, aku sudah lapar." Jimin merangkul lengan Taehyung mesra dan segera menyeretnya keluar dari sekolah.
Mereka sedang asik menertawakan seorang pejalan kaki yang ada di seberang jalan saat mereka mendengar ada seseorang yang berteriak keras-keras memanggil nama Jimin. Taehyung yang namanya tidak ikut disebut pun menoleh karena Jimin merupakan nama dari kekasihnya dan apapun yang menyangkut soal kekasihnya, dia juga termasuk di dalamnya.
Jimin mengerutkan alisnya melihat seorang lelaki berjalan cepat menghampirinya dan Taehyung dengan senyum lebar. "Itu siapa ?" Taehyung meluncurkan satu pertanyaan yang membuat atensi Jimin beralih padanya. Lalu Jimin mengedikkan bahunya pertanda ia juga tidak tahu-menahu soal orang dengan senyum lebar tersebut.
"Kau lupa padaku ?" laki-laki itu menatap Jimin tak percaya, dan Jimin yang sama sekali tidak memberikan respon apapun pada sederet kalimat tanyanya tadi membuatnya menghela nafas pasrah. "Aku Hoseok, kau masih tidak ingat ?"
Jimin berpikir keras, nama itu terdengar sangat familiar dan beberapa detik kemudian Jimin menepuk tangannya satu kali sambil berteriak. Pertanda ia sudah mengingat siapa gerangan Hoseok itu.
"Jung Hoseok! Aku ingat! Astaga, maaf, aku sempat lupa tadi." Jimin tertawa canggung dan Hoseok hanya mengangguk maklum sementara Taehyung hanya diam menyimak pembicaraan kekasihnya dengan orang yang sama sekali tidak diketahuinya.
Mereka sempat berbincang untuk beberapa saat lalu Hoseok segera berpamitan pergi karena ia sedang terburu-buru.
"Jadi, itu Hoseok yang mantan kekasihmu itu ?" selidik Taehyung pada Jimin.
"Ng, ya begitulah." Jawab Jimin santai sambil berkutat dengan tali sepatunya yang terlepas.
"Yang sudah kuliah itu ?" Lagi, Taehyung bertanya seolah sedang menginterogasi Jimin.
"Hu'um." Jimin mengangguk, menggandeng lengan Taehyung lagi saat ia sudah selesai mengikatkan tali sepatunya dengan benar.
Sepanjang perjalanan, Taehyung diam seribu bahasa seolah ia mendadak kehilangan suaranya. Jimin tidak memperdulikannya dan menganggap mungkin kekasih tampannya itu sedang kelelahan dan lapar.
Pemikiran yang sederhana. Tidak peka.
Hoseok menjadi sering muncul di kehidupan Jimin sejak mereka tidak sengaja bertemu beberapa hari yang lalu. Taehyung bahkan mengetahui jika Hoseok beberapa kali mengirim pesan pada Jimin. Awalnya Taehyung tidak mempedulikannya, tapi setelah beberapa lama akhirnya ia mulai merasa tidak nyaman.
Taehyung khawatir.
Hoseok terus menerus mengirim pesan pada kekasihnya, sempat beberapa kali menelponnya dan mengajaknya untuk bertemu, Jimin yang memberitahukan hal itu pada Taehyung. Taehyung semakin khawatir saat Hoseok mulai berani mengunjungi rumah Jimin.
"Ada urusan apa sampai dia datang ke rumahmu seperti itu ?" Taehyung sudah berusaha membuat nada bicaranya sebiasa mungkin tapi tetap saja terdengar ketus di telinga Jimin.
Jimin menyandarkan kepalanya di pundak Taehyung, "Katanya dia hanya ingin berkunjung, dia bilang dia rindu padaku."
Mendengar jawaban Jimin barusan sedikit banyak mampu membuat emosinya menjadi tidak stabil. Entah sadar atau tidak, Taehyung mengepalkan tangannya dan bahkan menggigit bibir bagian dalamnya seolah tengah menahan emosinya sendiri.
Jimin menyadarinya, ia membuka kepalan tangan Taehyung perlahan lalu menelusupkan jari-jarinya di antara jari Taehyung, menggenggamnya lembut lalu mengusapnya penuh kasih sayang. "Jangan khawatir, aku hanya milikmu." Bisiknya pelan.
Taehyung menjadi lebih tenang, ia menundukkan wajahnya untuk mencium pelipis Jimin agak lama dengan kedua mata terpejam. "Kau memang hanya milikku, tidak boleh ada yang memilikimu atau bahkan menyentuhmu selain aku." Ucap Taehyung posesif, ia melepaskan genggaman tangan Jimin dan berganti melingkarkan lengannya di pinggang Jimin, memeluknya dengan erat.
"Jiminie milikku."
Jimin terkekeh kecil, mencubit gemas pipi Taehyung tak lupa mencium bibir kekasihnya. "Terkadang sikap posesifmu itu terlihat sangat menggemaskan dan membuatku semakin jatuh cinta padamu."
"Aku posesif ?"
"Kau bahkan selalu mengecek setiap notifikasi yang masuk di ponselku."
"Benarkah aku se-posesif itu ?"
"Kau tidak memperbolehkan aku pulang lebih dari jam 10 saat aku pergi bersama teman-temanku, kau memaki setiap perempuan ataupun lelaki yang menggodaku, dan kau jadi paranoid sejak aku bertemu dengan Hoseok." Jimin menjabarkan semuanya dalam satu tarikan nafas, Taehyung bahkan tidak percaya ia telah melakukan semua itu.
Jimin menganyunkan kakinya lalu memeluk Taehyung, "Kau marah besar dan bahkan menghiraukan aku selama 2 hari saat aku memberikan ID kakaotalk ku pada Hoseok."
Taehyung menghela nafas berat, "Aku sudah benar-benar menggilaimu, kau tahu. Dan hadirnya mantan kekasihmu itu mengusik kesejahteraan hubungan kita. Dia bahkan terang-terangan mendekatimu di hadapanku! Aku ingin memotong lengannya yang dengan seenak jidak merangkul bahumu itu..."
Jimin memperhatikan Taehyung yang sedang mengoceh dengan senyum yang tak menghilang barang sedetikpun dari wajahnya. Entahlah, Jimin merasa senang saat Taehyung bersikap posesif padanya seperti itu. Teman-temannya bilang jika Taehyung itu terlalu mengekang Jimin, contohnya, membatasi jam pulang Jimin saat tengah bermain dengan teman-temannya dan bahkan menjadi marah saat Jimin masih belum pulang pada waku yang sudah ditentukan.
"Aku sangat mencintaimu."
Jimin tidak bisa menahannya lagi, ia meraih dagu Taehyung dan membawa kepala Taehyung turun hingga bibirnya bisa menggapai bibir Taehyung. Ciuman yang mengisyaratkan betapa mereka saling mencintai satu sama lain.
"Aku juga mencintaimu."
Yang namanya mantan kekasih memang seperti racun, selalu datang membawa sejuta bencana pada hubunganmu yang sekarang. Dan mereka seperti hantu, selalu bergentayangan dalam hidupmu, jahil jika dihiraukan saja, dan akan melunjak jika kau meladeninya.
Mungkin Taehyung memang terlihat seperti mengekang Jimin, terlalu mengatur hidup Jimin. Bukan mengekang, hanya terlalu khawatir dan sisanya karena Taehyung terlampau mencintai Jimin. Itu saja.
Jimin hanya perlu mengerti dan ia memiliki caranya sendiri untuk menghadapi sikap posesif Taehyung itu.
.
.
Sorry for too late update, WB menyerang dan mood benar-benar sedang berada di titik terendah. Mood Swing ini membuatku gila! huft
Oh, dan maaf jika update kali ini kurang memuaskan, aku sudah berusaha. Semoga kalian menikmati meski yaaaa ceritanya rada ga nyambung di awal sampe akhir.
Terima kasih bagi kalian yang masih mengikuti VMin Stories sampai sekarang, terima kasih sudah sabar untuk menunggu, terima kasih juga untuk semua komentar, follow dan favorite-nya. Laffyu all! mwah mwah
keichila
27 Agustus 2016
