Matahari sudah tinggi. Jam digital di nakas sebelah kiri sudah terpampang angka 6 lewat 47. Dan Naruto tidak heran disebelahnya sudah kosong. Hinata memang bangun tepat jam 6, bahkan kurang. Mengucek matanya yang agak berat, Naruto meregangkan ototnya yang sedikit kaku. Mengintip box bayi yang ada tepat disebelah ranjang, ternyata Boruto juga sudah bangun.

Tarikan senyum tipis terpasang dibibirnya yang sedikit kebas. Bahkan ada yang menonjol, bekas gigitan Hinata. Dan senyum itu bertambah lebar saat kilasan kegiatannya tadi malam lewat. Malam panas yang Naruto akui baru pertama kali ia rasakan. Berkali-kali bergulat di ranjang, malam tadi seakan ia baru saja melepas masa perjakanya. Berlebihan.

Bangun dari ranjang hangatnya, Naruto meraih boxer yang tergeletak di lantai, memakainya lalu berdiri. Mengamati bagaimana ranjang yang biasanya cukup rapi sekarang terlihat seperti medan perang. Well, tadi malam ia memang berperang sih.

Lengket. Naruto segera melangkahkan kakinya untuk mandi. Ia akan cuti sehari karena perjalanan bisnisnya kemarin. Dan berniat bermalas-malasan dengan anak kembarnya. Aksi juteknya kemarin membuat dirinya hanya bisa bermain sebentar dengan si kembar.

Lima belas menit berlalu, Naruto sudah segar dan tampak santai dengan kaus hitam dan celana pendek bergaris oranye miliknya. Saat keluar kamar mandi, satu senyum geli disertai dengusan kecil terdengar dari pria pirang itu. Kasurnya sudah rapi dengan seprai baru berwarna biru langit cerah dan motif awan. Mungkin Hinata menggantinya saat ia mandi tadi.

Sebelum keluar untuk sarapan, Naruto meraih ponselnya dan membaca beberapa pesan disana. Dan Sasuke menjadi satu-satunya pengirim pesan yang ia balas. Lainnya hanya tagihan kartu kredit atau pemberitahuan cicilan.

Turun ke lantai satu, ini waktunya untuk sarapan. Di meja makan sudah ada ibunya yang menyuapi Himawari. Sedangkan Boruto duduk di bangku khusus miliknya. Dari arah dapur Hinata membawa nampan berisi satu gelas susu dan beberapa lembar roti panggang.

"Ohayou," sapa Naruto.

"Lihat, tou-san sudah bangun." Ujar Kushina kecil sambil bermain tangan-tangan mungil Himawari. Boruto yang melihat Naruto segera melompat-lompat girang menarik perhatian. Tawa kecilnya terdengar saat Naruto mengangkat bocah jiplakan dirinya itu.

"I-ini sarapanmu, Naruto-kun." Hinata meletakan satu gelas susu dan satu piring berisi roti panggang dengan selai kacang dan jeruk. "Biar Boruto ku gendong."

Naruto menggeleng. "Suapi aku."

Kushina dengan tidak elitnya melongo. Rasanya baru tadi malam keduanya terasa jarak dan saling bermusuhan. Kenapa sekarang jadi sok mesra-mesra begini?

"A-apa?" tangan Hinata yang siap dengan posisi menggendong sedikit bergetar.

"Kemarin aku belum puas bermain dengan Boruto karena dia tidur. Sekarang, aku ingin bermain dengannya dan kau suapi aku."

Kushina yang mengerti segera tersenyum geli. "Suapi saja Hinata-chan. Jarang-jarang Naruto manja begitu."

Digoda sang mertua membuat pipi Hinata tambah memerah. Dengan canggung Hinata duduk disebelah Naruto. Mengambil gelas susu dan mendekatinya ke arah Naruto. Setelah diminum seperempatnya, Hinata mencomot satu roti dan menyuapi Naruto.

Entah bagaimana perasaan Naruto sekarang. Tapi Hinata, rasa jantungnya seperti diremas dan perutnya geli sampai menjadi mual.

"Kau sudah sarapan? Si kembar?" tanya Naruto setelah selesai mengunyah. Mendapat anggukan dari Hinata, Naruto melanjutkan. "Siang nanti ikut aku ke rumah Sasuke. Bibi Mikoto mengundang kita makan siang di sana."

"Apa ada Kou dan Itachi-nii?"

Naruto sedikit mendelik ke arah Hinata saat wanita itu menyebut nama Itachi. Naruto itu posesif. Dan sepertinya Kushina yang sadar raut wajah anaknya hanya bisa tersenyum geli.

"Kalau ada kau mau apa?"

Dengan tidak pekanya, Hinata menjawab. "Aku rindu sekali pada mereka. Sudah sebulan ini aku tidak bertemu mereka."

Mereka. Kou dan Itachi. Tapi tetap saja Naruto tidak suka jika Hinata merindukan laki-laki lain. Ini sedikit norak, tapi Naruto akui ia mulai cemburu sejak Hinata berpegangan tangan dengan pria lain di Ame.

"Hn."

"Benarkah?" wajah Hinata berbinar. Tangan yang tersisa serpihan roti ia gesekan satu sama lain, lalu mencubit pipi tembam Boruto yang ada digendongan Naruto. "Boruto, nanti akan ada Kou-nii dan Itachi-jisan!"

Naruto mendengus pelan. Lalu tangannya meraih gelas susu dan meminumnya sampai habis dalam satu tarikan nafas.

"Ck, anak muda sekarang." Gumam Kushina geli.

.

.

.

"Yah, Himawari tidak ikut, ba-chan?"

Dengan raut menyesal Hinata menggeleng. "Himawari sedang menemani baa-san, sayang. Jadi hanya Boruto yang ikut."

Wajah Kou yang tadi meredup sekarang mulai cerah kembali. Ia menghampiri Naruto yang sekarang menggendong Boruto di ruang tengah. Duduk bersama Sasuke dan Sakura. Sedangkan Hinata sedang ada di dapur, membantu Itachi dan Mikoto menyusun kue yang tadi Naruto dan Hinata bawa.

"Seharusnya kalian tidak usah repot-repot bawa kue, Hinata." kata Mikoto lembut.

"Tidak apa-apa, ba-san. Ini juga titipan ibu." Balas Hinata tersenyum. "Dan juga Kou sangat suka brownies kukus."

Itachi yang berdiri disebelah Hinata berhenti mengunyah satu potong brownies yang baru ia ambil dari kardusnya. Brownies juga kesukaan Hanabi. Mereka biasanya makan brownies berdua seminggu sekali di atap Uchiha Corp. Kenangan manis yang bisa ia ulang bersama sang anak, Kou. Karena putranya itu juga menyukai brownies .

"Bibi antar ke ruang tengah dulu, ya." Mikoto membawa nampan yang berisi potongan brownies di dua piring datar berwarna putih. Sedangkan teh melati yang tadi wanita paruh baya itu buat sudah di bawa Sakura sebelumnya.

Hinata mengangguk. Ia membereskan sisa kardus brownies dan membuangnya ke tempat sampah yang tersedia. Lalu tersenyum kecil melihat Itachi terdiam di tempatnya.

"Itachi-nii? Tidak menyusul ke ruang tengah? Ayo."

"Apa… saat mengidam dulu Hanabi sering meminta brownies ?"

Mata perak Hinata membesar sesaat. Ini memang bukan sekali dua kali Itachi bertanya perihal Hanabi. Entah bagaimana keadaannya saat hamil muda atau tua. Saat mengidam sesuatu. Atau saat gelisah karena merindukan dirinya. Yang tidak mungkin Hinata jawab dengan terlalu jujur.

"Hm… Sebenarnya, Hanabi itu sering minta es krim rasa masam. Sesekali ia minta kue perasa jeruk. Dan seingatku, Hanabi tidak pernah minta brownies ." Kali ini Hinata jujur. Saat membujuk Hanabi untuk makan, setidaknya harus ada dua cup es krim berukuran kecil agar hanabi mau menyuapkan nasi ke mulutnya barang tiga suap.

Mata kelam Itachi menatap dalam pada mata perak Hinata. Hinata sendiri tidak merasa terganggu. Ia mengerti sekarang Itachi sedang melepas kerinduannya dengan melihat amethyst khas klan Hyuuga. Yang tentu dimiliki juga oleh Hanabi.

"Apa Itachi-nii sangat merindukan Hanabi?" pertanyaan bodoh. Yang dijawab satu tetes air mata di pipi kiri Itachi.

"Setiap hari." Jawab Itachi dengan senyuman kecilnya. "Aku merindukannya setiap hari."

Hinata balas tersenyum. "Hanabi sangat beruntung mendapat cinta yang besar dari Itachi-nii."

"Benarkah? Apa dia tidak menyesal karena bertemu pria sepertiku?"

Air mata Itachi makin deras. Padahal pria dengan rambut panjangnya itu sudah berusaha menahannya. Setiap kali bertatap langsung dengan Hinata, entah kenapa emosi dihatinya sulit untuk di kontrol. Hinata memang tidak terlalu mirip dengan Hanabi. Tapi perawakan mereka sama. Apalagi matanya.

"Dicintai sebesar itu, mana mungkin dia menyesal?" tangan kanan Hinata terangkat. Mengelap sisa-sisa air mata di pipi Itachi. "Itachi-nii coba berziarah ke makam Hanabi. Sekalian menyapa ayah dan ibuku. Mereka pasti akan sengat senang."

Jika dilihat sekilas mereka memang sangat intim. Tapi jika diperjelas, emosi yang mereka rasakan tak lebih dari sebatas kakak dan adik yang saling mengerti.

"Boleh aku memelukmu?" Tangan Hinata turun perlahan. Mereka memang tidak secanggung itu. Tapi ini pertama kali Itachi meminta pelukan darinya. Melihat keterkejutan dari wajah Hinata, Itachi terkekeh pelan. "Ini bukan pelampiasan. Tapi aku senang sekali ada kau. Seperti memiliki adik perempuan. Sasuke benar-benar berbeda darimu. Dan dia tidak suka aku peluk."

Suara Itachi yang kembali jenaka membuat Hinata lepas dari kecanggungannya sendiri. Lalu wanita cantik itu mengangguk dan merentangkan sedikit tangannya. Pelukan mereka tidak terlalu erat, bahkan tubuh mereka masih berjarak. Itachi hanya mengusap pelan punggung Hinata sebentar lalu mengusap puncak kepala indigonya.

"Terimakasih untuk tidak menaruh dendam padaku. Dan juga merawat Kou hingga menjadi anak yang pintar."

"Aku hanya merawatnya saat bayi." Kata Hinata yang sekarang sibuk membenahi rambutnya yang cukup berantakan. "Selebihnya Itachi-nii mengajarinya menjadi anak yang pintar."

"Dan juga cerewet."

Keduanya tertawa, sampai suara deheman cukup keras terdengar dari arah pintu dapur.

"Oh, Naruto. Ada apa?" ujar Itachi santai. Ia sama sekali tak merasakan aura Naruto yang cukup tak bersahabat dari tukikan alisnya yang menajam. Atau memang Itachi sudah sering melihat Naruto begitu?

"Kou ingin ke kamar kecil. Dan mencari ayahnya." Itachi mengangguk. Ia mengacak lagi rambut Hinata lalu beranjak dari dapur. Yang mungkin kali ini sengaja karena diselingi senyum jahilnya. Setelah Itachi hilang dibelokan pintu dapur, Naruto kembali bersuara. "Pempers Boruto penuh."

Hinata tersentak karena suara Naruto yang kelewat dingin. Mata mereka bertemu, dan Hinata tidak kuat melihat sapphire yang berkilat kesal. Buru-buru Hinata berjalan menuju ruang tengah, yang mungkin saja sekarang Boruto dan di gendongan Sakura atau Mikoto.

.

.

.

"Boruto tidak boleh pulang dulu!"

Itachi menghela nafasnya kasar. Ini memang salahnya karena terlalu memanjakan Kou. Terlebih neneknya dan Sasuke mengingat ia Uchiha paling muda di sana. Jadi sekarang, Kou sedikit sulit diatur dan kadang terlalu berlebihan dalam meminta sesuatu.

"Kou, ba-chan harus pulang. Kasihan adik Himawari di rumah."

"Tidak boleh!" masih berontak di gendongan sang ayah, Kou berteriak cukup nyaring.

"Kou!" sulung Uchiha itu membentak. Rasanya anak laki-laki memang harus sedikit dikeraskan. Bentakan Itachi berhasil membuat Kou diam. Namun gantinya, oniks bulat bocah itu berkaca-kaca. "Nanti kita main lagi. Tapi sekarang Boruto harus pulang."

Tangisan bocah balita itu terdengar. Membuat Boruto yang ada digendongan Naruto kaget dan menangis juga. Kedua jagoannya menangis, Hinata menyuruh Naruto sedikit menjauh. Sedangkan wanita dengan dua anak itu mendekati Kou yang ada di gendongan Itachi.

"Kou sayang—" suara lembut itu dibuat sepelan mungkin. Tangan Hinata menangkup wajah bulat Kou, menghapus jejak air matanya yang meleleh dipipi gembilnya. "Nanti ba-chan janji mengajak Kou ke rumah dan menginap ya. Tapi sekarang ba-chan dan Boruto harus pulang dulu."

Tangisan Kou masih belum reda. Tubuh mungilnya menggeliat, lalu mendekati Hinata agar digendong.

"Ja—hiks, janji?" tanya Kou dengan suara menahan tangisnya.

Mikoto menggeleng maklum melihat kemanjaan Kou. Sedangkan Sakura dan Sasuke sudah pergi duluan. Sakura harus kembali ke klinik di rumahnya karena ada pasien dadakan.

Naruto yang sudah berhasil menenangkan Boruto terlihat menahan kesalnya. Apa-apaan pemandangan di depannya itu? Hinata yang menggendong Kou dan Itachi yang ada disebelahnya. Mereka seperti pasangan yang bahagia dengan satu anak laki-laki. Yang tentu mirip ayahnya.

Setelah selesai memberi pengertian, Hinata mengembalikan lagi Kou ke tangan sang ayah. Mereka berdua berbincang sebentar sampai satu tangan Itachi kembali mengacak surai indigo Hinata. Membuat geraman pelan Naruto terdengar.

Cemburu? Naruto tidak mengingkari itu. Rasa panas di dada kirinya tentu bukan karena Boruto yang ia gendong. Atau debaran jantungnya yang meningkat bukan karena ia jantungan, kan?

Masih ingat bahwa Naruto itu orang yang posesif cenderung egois? Dan saat seseorang menyentuh miliknya, tentu saja tunggal Uzumaki itu tidak suka.

"Ayo Boruto, sama kaa-san." Saat sudah di sebelah Naruto, tanpa kepekaan yang berarti seperti biasa, Hinata mengambil Boruto dari gendongan Naruto. "Naruto-kun, kau tidak keberatan kita belanja sebentar, kan? Kata ibu bahan makanan sudah habis. Lalu—"

Bla-bla-bla.

Naruto tidak terlalu mendengarkan Hinata yang mengikutinya memasuki mobil dengan supir pribadi mereka. Naruto sedang malas menyupir. Lagipula supir mereka sedang menganggur karena sang ibu tidak pergi kemanapun.

"Naruto-kun?" merasa tidak ada respon, Hinata memanggil nama Naruto sekali lagi.

"Hn."

Sebenarnya Hinata sudah melihat keganjilan Naruto sejak tadi. Tapi sekali lagi, Hinata itu jarang menaruh curiga pada seseorang. Entah terlalu baik atau memang ia benar-benar tidak peka. Hinata hanya menebak bahwa Naruto itu lelah. Tanpa ada kesadaran bahwa pria yang berstatus suaminya itu sedang cemburu.

.

.

.

"Hinata?"

Naruto berhenti mendorong keranjang belanja saat suara berat dari belakang mereka terdengar. Saat semuanya menoleh, Hinata membulatkan mata peraknya. Dengan menenteng keranjang belanjaan kecil berisi beberapa makanan ringan dan minuman kaleng, Utakata tampak santai dengan sweater abu-abu dan levis hitamnya.

"Senpai ?" Hinata tersenyum lebar. "Kau di Tokyo?"

Mata biru Naruto melihat bergantian antara Hinata dan Utakata. Dari mata keduanya kentara sekali mereka sudah akrab. Yang membuat lagi-lagi Naruto takjub bukan main karena seseorang yang terlihat pendiam dan tidak pandai bergaul seperti Hinata ternyata memiliki banyak kenalan pria.

"Baru kembali tadi pagi. Kau sedang belanja? Dan…" Alis Utakata terangkat dengan raut bertanya perihal bocah pirang yang ada digendongannya dan pria juga pria pirang yang ada dua langkah di belakang Hinata. "Kau jadi baby sitter?"

Tiga kerutan kesal tiba-tiba saja ada di dahi kiri Naruto. Baby sitter?

"O-oh, ini anak pertamaku, Boruto. Dan itu suamiku, Naruto."

Kali ini seringai kemenangan terpampang jelas di sudut bibir Naruto saat melihat wajah super kaget milik Utakata.

"Kau sudah menikah?!" pekik Utakata tertahan. "Kapan?"

"S-sudah mau jalan dua tahun."

Dengan lirikan yang tidak sehangat saat menatap Hinata, Utakata menyelidiki wajah datar Naruto. Benar, itu Naruto, seorang presdir kenama di dunia perbisnisan Jepang. Pamor cemerlangnya sudah tidak diragukan. Dan berita ia pemangku wanita juga tidak kalah tenar. Tapi sekarang, ia menikah dengan Hinata?

"Bagaimana bisa?"

Hinata sedikit tersentak atas pertanyaan mantan kakak tingkatnya itu. "I-itu… ya—"

"Hinata, ibu sedang menunggu untuk makan malam." Rasanya Naruto harus bertindak. Utakata memang terlihat hangat di depan Hinata. Tapi dari lirikannya tadi, kentara sekali Utakata cukup berbahaya.

"Senpai , senang bisa bertemu denganmu lagi. Tapi aku harus cepat pulang. Nanti kita mengobrol lagi, ya?"

Naruto mendecih kecil.

"Hm." Jawab Utakata dengan senyum lebarnya. "Oh, kemarin aku menghubungimu tapi salah sambung. Sepertinya kau salah memberikan nomor ponselmu." Sindir Utakata halus dan melirik Naruto tajam.

"Benarkah?" Hinata merogoh saku tas selempang kecilnya dan mengambil ponselnya darisana. "Kalau begitu nomor ponsel senpai saja. Nanti aku hubungi."

Utakata meraih ponsel Hinata. Memasukan nomornya disana lalu me-misscall ponselnya.

"Ini." Utakata mengembalikan ponsel Hinata. Lalu mengacak pelan puncak kepala Hinata dengan seringai puas saat melihat mata biru Naruto membesar. "Kalau begitu aku ke sana ya."

Hinata mengangguk. Lalu Utakata sedikit membungkuk pada Naruto, yang tentu saja dibalas delikan tajam pria berkulit tan itu.

Berbalik, Hinata mengerutkan dahinya saat Naruto sudah lebih dulu berjalan di depannya.

"Naruto-kun. Tunggu."

.

.

.

"Hei."

Suara berat itu mengusik tidur lelapnya. Tangan dengan kulit pucat itu melingkar dipinggang mungilnya, mendekap erat dari arah belakang. Ino, yang saat itu baru setengah bangun hanya menggumam menjawab sapaan sang suami.

Ya, 2 minggu lalu mereka resmi menikah di Sapporo. Tempat mereka tinggal sekarang. Setelah sidang pelepasan mereka, keduanya memutuskan untuk menetap dulu di ujung timur Jepang itu. Saat itu hanya Mikoto, Sasuke dan Itachi yang hadir di gereja mungil pinggir pantai itu. Dari yang mereka berdua dengar, sebenarnya Hinata juga ingin ikut menghadiri pernikahan mereka. Tapi tentu saja Naruto tidak mengizinkan.

Kedatangan keluarga angkat Uchiha itu sudah membuat kedua pasangan yang sekarang saling mendekap berhadapan itu sudah senang. Biarlah mereka membuka lembaran baru. Mencari kebahagiaan sendiri dengan saling melengkapi satu sama lain.

"Kau sudah tidur tiga jam, Ino. Dan kau melewatkan makan malam."

Mata aqua milik Ino mendelik jenaka. "Memang siapa yang mengurungku di selimut sedari pagi, huh?"

Sai tersenyum kecil. Dan menjawab dengan entengnya. "Aku."

Ino mendengus. Mengapit hidung mancung Sai dengan jarinya. "Kau sudah makan malam?"

Mendapat gelengan dari Sai, Ino melepas apitan jarinya. "Pesan saja, ya? Aku sedang malas masak."

Kali ini Sai mengangguk. Mereka kembali berpelukan. Mata Ino masih cukup berat untuk terbuka, maka wanita yang sekarang kembali pirang itu kembali menutup matanya.

"Bagaimana visanya? Lusa sudah bisa di ambil?" setelah diam sebentar, Ino kembali membuka suara.

"Hm. Malamnya kita berangkat ke Singapura."

Mereka berdua memutuskan untuk tinggal di Negara kecil itu. Meninggalkan Jepang. Mungkin selamanya.

"Terimakasih." Tiba-tiba Ino berbisik. Terasa lembab, Sai tahu bahwa sekarang Ino menangis di dadanya. "Terimakasih…"

"Kau cengeng sekali." Ino yang Sai tahu adalah wanita yang ambisius. Tapi akhir-akhir ini istrinya itu sering sekali menangis untuk hal-hal kecil yang Sai lakukan padanya.

Cubitan kecil diterima Sai tepat dipinggangnya. Sedikit nyeri, tapi malah kekehan kecil yang terdengar.

"Aku mencintaimu." Ujar Sai tulus dan mengeratkan pelukannya.

"Aku mencintaimu, Sai-kun bodoh."

Dan akhir-akhir ini juga Ino sering sekali mengatainya 'bodoh' atau 'idiot'.

"Kau mau ku kurung lagi di selimut, hm?"

.

.

.

Naruto merengut tidak suka saat lagi-lagi mendapati Hinata sibuk dengan ponsel pintarnya. Sejak bertukar nomor dengan pria menyebalkan di supermarket, beberapa kali Hinata ketahuan membalas pesan atau bertelpon ria. Ya, walaupun tidak terlalu intens, tapi biasanya Hinata hanya menggunakan ponselnya di rumah untuk menghubungi Kou atau sakura.

Dengan Himawari digendongannya, Hinata menahan ponsel di telinganya dengan tangan kanan.

"Ya, kemungkinan besarnya memang seperti itu, senpai ."

Tuh, siapa lagi yang akan Hinata panggil dengan senpai kecuali pria bernama Utakata itu.

"Hm, siang besok? Pamerannya di kantormu?"

Apapun nanti yang Hinata katakan, Naruto hanya perlu menjawab tidak.

"Baiklah, aku akan memberi kabar lagi. Selamat malam."

Naruto mengalihkan lagi fokusnya pada laptop yang ada dipangkuannya. Melirik sekilas Hinata yang menaruh Himawari di box bayi bersama Boruto yang lebih dulu tidur. Dirasa ranjang king size itu bergerak, menandakan Hinata turut bergabung dengan Naruto yang lebih dulu berada di ranjang.

Dari lirikan matanya Naruto bisa tahu Hinata sedang menimbang-nimbang untuk berbicara. Tangan wanita itu tidak akan bisa diam kalau sedang gugup atau canggung. Dan itu terlihat dari pilinannya di guling yang ia pangku.

"Hm… N-Naruto-kun?"

"Hn?" respon Naruto memang sengaja dibuat dingin.

"S-sibuk sekali, ya?" suara Hinata terdengar ragu-ragu, mungkin cenderung takut. Dan Naruto tidak suka jika Hinata masih merasa tidak nyaman bersamanya.

Maka dari itu ia me-sleep laptop miliknya dan menaruh di nakas sebelah. Lalu memusatkan perhatiannya pada Hinata yang ternyata sedari tadi menunduk saat bicara padanya.

"Ada apa?" tanya Naruto dengan nada yang melembut.

"I-itu…" Perlahan Hinata menengok ke arah Naruto. "Besok mau menemaniku ke pameran lukisan? Pamerannya ada di gedung Utakata senpai yang waktu itu bertemu denganmu di supermarket."

Ia ingat bahwa Hinata memang menyukai lukisan. Tapi Naruto juga ingat bahwa karena insiden melihat lukisan juga Hinata harus melahirkan anak mereka secara premature. Melihat kesungguhan di mata bulan itu, Naruto akhirnya mengangguk. Mengundang senyum di bibir ranum Hinata.

"Tapi dengan syarat, kau tidak boleh pergi sampai aku menyelesaikan pekerjaanku di kantor. Jam berapa besok?"

Hinata mengangguk semangat. "Dari jam makan siang sampai jam kantor tutup. Apa besok Naruto-kun tidak terlalu sibuk?"

Kali ini Naruto menggeleng. Sedikit berbohong karena sebenarnya besok jadwalnya cukup padat. Tapi jarang-jarang Hinata meminta waktunya.

"Terimakasih." Senyum Hinata makin lebar, mengundang Naruto untuk tersenyum.

Tiba-tiba tangan Naruto terulur dan mengusap pipi lembut Hinata. Membuat wajah ayu yang tadinya tersenyum menjadi tegang seketika. Perlahan Naruto mendekat,memangkas jarak diantara keduanya sampai bibir mereka bertemu.

Hasrat itu ada saat Naruto melihat bibir ranum itu tersenyum lebar dan tulus. Rasanya Naruto ingin sekali mengemut bibir kemerahan itu sampai habis. Dan saat semua itu terwujud, Naruto menggeram karena rasanya sungguh manis.

Tangan Naruto yang bebas dari acara mengelus pipi Hinata terselip dipinggang ramping itu. Menarik Hinata lebih dekat lagi. Kelima jari itu meremas, lalu menelusup ke bongkahan padat bokong yang terlapisi pakaian dalam dan celana legging abu-abu sebetis itu.

Hinata melenguh sebentar. Sampai ia mengerang lirih karena Naruto menggigit bibir bawahnya. Dirasa tangan panas itu sudah melewati batas aman area intimnya, Hinata segera menahan tangan Naruto dan menarik diri dari ciuman yang berubah panas itu.

"Kenapa?" Naruto bertanya, masih menahan Hinata agar tidak jauh-jauh darinya.

"M-maaf… m-malam ini tidak b-bisa. Aku sedang datang b-bulan."

Nafas gusar terhembus sedikit kasar dari hidung mancung Naruto. Untung saja ia belum terlalu bergairah. Mata birunya melirik sebentar pada Hinata yang memerah dan memberi kecupan lagi pada bibir yang membengkak itu.

"Tidurlah." Ujar Naruto dan mengelus puncak kepala Hinata.

Wajah Hinata terlihat memelas, mungkin merasa bersalah. Tapi setelah itu kembali tenang saat Naruto memberikannya senyum yang cukup manis.

"Naruto-kun mau kemana?" melihat sang suami bangkit dari ranjang, Hinata bertanya.

"Aku akan ke ruang kerja, sedikit lagi selesai."

Setelah itu Naruto mengambil lagi laptop dinakas dan keluar menuju ruang kerjanya.

.

.

.

Utakata tahu ada yang tidak beres dari pernikahan Hinata dan Naruto. Dari gosip yang ia dengar, bahwa tak sampai 9 bulan setelah pernikahan, Hinata sudah melahirkan. Untuk hamil diluar nikah memang tidak tabu di Jepang. Tapi untuk Hinata, Utakata sedikit ragu.

Dan benar saja, saat Utakata mengorek lebih dalam, ternyata Naruto termasuk playboy nomor satu perihal wanita. Sosoknya yang tegap sudah dicap sebagai pemangku wanita. Jelas sekali wanita baik-baik seperti Hinata bukan termasuk wanita yang dengan suka rela dipangku. Walaupun ujung-ujungnya menikah, namanya pria kadang ketahuan belangnya, kan?

"Kau datang, Hinata?" di depan pintu ballroom yang dijadikan tempat pameran, Utakata menyambut Hinata yang sedang menggendong bayi lucu berambut persis sepertinya. "Oh, yang ini kembaran yang kemarin, ya?"

Hinata tersenyum. Lalu mengambil tangan mungil Himawari dan melambaikannya pelan. "Iya, namanya Himawari. Salam kenal, Utakata-jisan!"

"Hallo, bayi manis. Kau cantik sekali," untuk urusan bayi memang Utakata tidak terlalu paham, tapi sepertinya sapaannya diterima baik oleh Himawari karena bayi itu tersenyum. "Ibumu juga cantik."

Namanya Hinata, dipuji seperti itu pasti membuat pipi bulatnya memerah.

"S-senpai bisa saja," balas Hinata pelan. Mengundang tawa dari Utakata.

"Ehm,"

Mata hitam Utakata bergulir cepat pada Naruto yang ia anggap pengganggu. Ia tidak terlalu suka pria dingin dan judes begitu dekat-dekat dengan Hinata yang ramah dan lembut. Lalu ia melirik sekilas pada Boruto digendongan sang pemberi gen. Mereka berdua mirip sekali.

"Selamat siang, tuan Uzumaki."

"Selamat siang, tuan Uchiha."

Utakata tersenyum dengan satu sunggingan bibir, sedangkan Naruto tetap simetris. Naruto baru tahu bahwa pria yang Hinata bilang sahabatnya itu adalah seorang Uchiha. Saat ia tanya Sasuke, ternyata Utakata adalah saudara jauhnya. Kalau dijelaskan rumit. Dan keluarga mereka berdua tidak terlalu akrab.

"Kau mau melihat lukisan, kan? Ayo." Sengaja menekankan melihat lukisan, Naruto seakan menohok Utakata tepat di ulu hatinya. Apalagi melihat anggukan polos Hinata.

"Senpai bisa memberitahuku lukisan yang bagus?"

Demi kami-sama, kadang Naruto ingin sekali memberi pembelajaran hidup pada Hinata agar tidak terlalu mudah percaya pada seseorang.

"Tentu." Jawab Utakata dengan nada yang tak kalah mengejek. "Kesebelah sini."

.

.

.

"Oh, yang padang bunga matahari juga indah. Iyakan, Naruto-kun?" Sudah sekitar setengah jam Hinata berceloteh tentang isi pameran yang benar-benar membuatnya tersenyum sepanjang sore tadi. Sepanjang perjalanan pulang, Naruto juga ikut tersenyum saat Hinata menceritakan kecintaanya pada bunga. Muncul ide picisan yang membuat Naruto harus membuang sesaat mukanya ke arah jendela. Sepertinya sesekali memberikan bunga pada Hinata romantis juga.

Walaupun nyaris sepanjang waktu Hinata mengobrol dengan Utakata dan itu membuat moodnya benar-benar jelek, setidaknya sekarang terbayar dengan celotehan riang Hinata. Ternyata membuat Hinata senang itu tidak perlu dengan makan malam merepotkan atau membelikannya berlian yang mahal. Hanya perlu menemaninya ke tempat umum seperti tadi saja sudah bisa mengundang Hinata yang cenderung malu berbicara lebih cerewet sekarang.

Saat sampai di rumah, Naruto mengernyit sebentar saat mobil asing ada dipelataran rumahnya. Sebenarnya tidak asing juga saat Naruto tahu bahwa mobil minicooper putih belang hitam itu mirip dengan milik seseorang. Tapi tidak, semenjak 5 tahun lalu mereka sudah tidak berhubungan lagi.

"Ada tamu, ya?"

Hinata turun dengan menggendong Boruto yang tertidur. Sedangkan dirinya membawa Himawari yang sedang asik dengan 'empeng'nya. Mereka berdua berjalan bersisian untuk masuk rumah. Dan tepat saat ruang tamu yang cukup megah itu terlihat, wanita yang selama ini tak ada kabar sedang duduk dengan kaki terlipat berkelas.

"Hai," aksen luarnya masih kentara. Namun Naruto tahu wanita itu fasih dalam bahasa Jepang. Hinata yang tidak tahu apa-apa hanya membukuk sopan. Tak lama Kushina turun dari lantai dua. Memandang sengit pada Naruto yang mengedikan bahunya tanda tak tahu apapun.

"Temui tamumu." Ini pertama kalinya Hinata mendengar nada yang cukup dingin dari ibu mertuanya. Mengambil alih Himawari, Kushina memberi kode pada Hinata untuk mengikutinya.

Tidak mau mengganggu, akhirnya Hinata mengikuti sang ibu mertua.

"Lucy," Naruto berujar dan mendudukan dirinya di depan wanita berperawakan bule sama sepertinya. "Kenapa kau ada di Jepang?"

"Your mother doesn't like, right?"

"Still."

Suara tawa renyah terdengar dijaga, khas tawa wanita sosialita.

"Yup," balas Lucy. "For godness sake, we've done! Why is she still ignoring me?"

"Don't have clue. So, what is the point you come here?"

Mata coklat terang milik Lucy mengerling jenaka. "Kalau aku bilang rindu Jepang dan dirimu, kau tidak akan terayu, kan?"

"Like you said. We've done."

"I got , Aku ingin sekali datang ke pernikahan akbarmu itu. Tapi tidak bisa karena aku ada diluar negeri."

Naruto mengangguk. "Kau juga tidak ada kabar."

"Masih mengharapkan kabarku?"

"Hey, lady. You are such a celebrity in Japan."

Lucy memang primadona dimata para pengusaha kaya seperti Naruto.

"Ya," Mengeluarkan sesuatu dari tas bermerk miliknya, Lucy menyodorkan undangan berselimut warna emas dan hitam yang elegan. "Karena aku tidak datang dipernikahanmu, jadi aku tidak menuntutmu untuk datang juga ke pernikahanku."

"You? And marriage?"

"Mirror, please." Ledek Lucy yang tak terima dengan nada meragukan Naruto. "Bahkan kau sudah punya 2 buntut yang lucu."

Mereka berdua memang hanya terlibat cinta satu malam. Tapi dari semua teman ranjang Naruto, Lucy termasuk orang yang bisa diajak bicara. Cukup humoris dan mempunyai perasaan sebelas duabelas dengannya. Dalam artian teman kencan, mereka berdua tidak serius. Dan masih mencari jati diri sampai hari ini, sudah lima tahun lamanya mereka tidak bertemu dan Lucy akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya.

"Ku rasa kita sudah bisa menemukan pelabuhan terakhir, ya?"

Naruto tersenyum pelan. "Jadi, kau jauh-jauh ke sini hanya untuk memberikan undangan? Aku merasa sangat tersanjung."

"Tidak juga." tiba-tiba Lucy berdiri dan meraih tasnya. "Mungkin lebih baik aku segera pergi. Ibumu terlihat sangat tidak suka ada wanita lain mengunjungimu, ya?"

Naruto ikut berdiri, lalu mengedikan bahunya cuek. "Dia sayang sekali pada Hinata."

"Hinata?"

"Istriku."

Kekehan geli keluar begitu saja tanpa bisa Lucy tahan. Ini hal yang jarang saat wajah tegas Naruto terlihat melunak saat menyebutkan kepemilikan yang begitu intim itu. Dan wanita cantik itu bisa simpulkan bahwa Naruto benar-benar sudah berubah dari terakhir kabar yang bisa ia dengar tentang Naruto.

"Yup, Casanova Jepang sudah berubah rupanya."

Naruto hanya memberikan seringai kecil pada Lucy dan mengikutinya keluar rumah. Sesampainya di depan mobil keluaran lama itu, Naruto membantu Lucy untuk mengambil sesuatu dari bangku penumpang.

"Kau tidak mengganti mobilmu?"

Lucy menggeleng. "Aku nyaman dengan ini."

Tak ada percakapan sampai Lucy bisa mengeluarkan dua box cukup besar dan diserahkan pada Naruto.

"Ini kado untuk pernikahanmu dan juga kedua anakmu. Yang biru untuk istrimu dan merah muda untuk anak-anakmu."

"Aku tidak tahu kau seperhatian ini."

"Untuk kawan lama apa sih yang tidak?"

"Ya," kali ini Naruto tersenyum tulus. Temannya mungkin bisa dihitung dengan jari. Dan baru kali ini Naruto merasa Lucy masuk hitungan jarinya. "Aku akan sampaikan pada mereka dan aku akan datang ke pesta pernikahanmu."

"O…. key?" nada Lucy sedikit ragu disertai raut wajah yang sedikit dibuat-buat. Pasalnya lagi-lagi ia menemukan Naruto dengan raut wajahnya yang lebih lembut dari sebelumnya. "Oh, satu pelukan sebagai tanda terima kasih?"

"Kemari." Tangan kanan Naruto yang bebas dari dua box itu merangkul pinggang Lucy dan memeluknya untuk beberapa detik.

Dan mungkin Hinata ada diwaktu yang tidak tepat saat membuka pintu rumah untuk mencari keberadaan Naruto.

.

.

.

TBC~

Hm…. Apa ya? Saya sampai tidak bisa berkata apapun lagi. Takut juga baca kolom review, hehe. So, this is it, chapter 21 finally out! Aduh bahasa inggris beleber aja belagu ya daku, hehe.

First, yang selalu saya lakukan adalah minta maaf. Karena saya sadar membuat seseorang menunggu itu tidak baik. Hiks, nunggu tanpa kepastiankan sakit ya :')?

Second, Minta maaf lagi karena menyinetronkan hinata dan naruto. Hiks.

Third, say thanks to you guys! Karena terimakasih selalu menjadi bagian dari kunci kesuksesan seseorang. Aduh, apa sih haha.

Hm… boleh curhat sedikit, gak? Jadi di wattpad ceritanya ada yang bilang, ada yang mempublish ulang ceritaku yang.. bad boy kalo enggak salah. Pokoknya ada yang mempublish gitu, deh. Aku sih enggak inget pernah ngasih izin, tapi bagi yang merasa monggo coba PM aku dan katakan sejujurnya. Jangan takut, aku orangnya gak langsung meledak-ledak kok. Marah sih, namanya hasil karya sendirikan ya walau abal-abal wkwk. Tapi menurut aku, lebih baik kalian izin coba ke pemiliknya. Mau dibales judes sampe pake CAPSLOCK yang jebol juga, setidaknya kalian sudah izinkan, jadi tidak dituduh plagiat. Pengalaman aku sih, yang baca balesan dari yang ramah sampai kek dapet pesan SP3 dari tempat kerja, semua lebih baik dikatakan jujur jadi lebih transparan. So, ditunggu pengakuannya. Haha

Salam, LLYchu :*