Haechan menggosokkan kedua tangannya melihat roti panggang buatannya sore ini. Tidak ada yang bisa mengusik sore indahnya ini dengan secangkir susu hangat disampingnya. Dengan pemikiran sepositif itu dia berniat membawa semua karyanya ke kamarnya—menyantapnya di kursi kesayangannya di balkon kamar sembari melihat langit yang memerah akibat bergulirnya matahari.
Oh benar-benar tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Bibi Haechan!"
Sialan! Dia bahkan belum bisa menyentuh pintu kamarnya!
"Oh hai sayang." Sembari menarik sudut bibirnya, Haechan menunduk sebentar melihat keponakannya yang sudah berjarak tiga langkah darinya. Cepat sekali sampainya, pikirnya dongkol.
"Bibi buat apa?" Pura-pura tidak tahu kan anak ini?! Dia pasti ingin minta sekarang!
"Roti panggang. Kau mau?" Bilang tidak! Aku hanya menawarimu sebagai keformalan karena kau keponakanku. Bilang tidak, bocah!
Hyoje mengangguk malu. Dan mata Haechan menyipit sempurna karena tarikan sudut bibirnya yang semakin ke atas—dongkol sekali.
"Ayo memakannya di kamar bibi. Bisa bantu bibi membuka pintu?"
Dan bocah itu mengangguk, kemudian membuka pintu kamar dengan berjinjit keras karena gagang pintu melebihi tinggi badannya. Kalau mau roti pangganggnya maka bocah ini setidaknya juga harus berusaha kan?
Ketika mereka akhirnya sampai di balkon, Haechan hanya bisa menatap langit sore dengan perasaan nelangsa karena harus merelakan satu roti panggangnya terenggut darinya. Satu roti panggang mana cukup untuk perutnya? Kenapa pula dia tadi cuma buat dua saja? Kenapa tidak tiga? Kenapa tidak empat atau lima? Kenapa?!
"Kakek bilang bibi Haechan mau pergi jauh dengan paman minggu depan."
"Pergi jauh?" Apakah dia harus percaya begitu saja? Dia bocah. "Kakek serius berkata seperti itu pada Hyoje?" sembari menggigit roti panggangnya dia memastikan lagi.
Bocah itu mengangguk sembari menjliat tangannya yang terkena coklat. "Kakek bilang kalian berdua akan pergi jauh selama seminggu penuh."
Wah! Roti panggangnya terasa semakin enak saja dalam kunyahannya. Ia sepertinya memang harus mempercayainya. Mana ada sih anak kecil yang minum susu saja masih memakai botol yang menggelikan, melakukan kebohongan atau tipu daya pada orang dewasa? Iya 'kan?
"Bibi sebenarnya tidak tahu mengenai itu—tapi kakek bilang apa saja pada Hyoje?" Haechan mencoba mengorek berita menyenangkan yang lain dari keponakannya lagi.
Eh tapi bagaimana kalo perjalanan seminggu itu ternyata perjalanan bisnis? Ah pasti akan membosankan sekali.
Haechan harus menunggu sebentar ketika keponakannya memutuskan untuk menandaskan potongan roti panggang di tangan kecilnya—hampir menelannya sepenuhnya karena merasa tidak enak membuat bibinya menunggu lama.
Setelah semua roti sudah tertelan, bocah itu menatapnya sembari menjilati semua jarinya untuk membersihkan sisa-sisa coklat.
"Kata kakek, bibi dengan paman akan membuat adik bayi untuk Hyoje."
"Heh?!"
.
.
.
Haechan berdehem kecil, sedikit kesusahan untuk menarik perhatian Mark dari tabletnya—terus berkutat dengan benda pipih itu sebelum tidur—memastikan semua pekerjaan kantor beres.
Ah bagaimana ya menarik perhatiannya? Pikirnya bingung. Kalau mau dikatakan langsung ia yang gengsi sendiri. Topik ini sepertinya terlalu sensitif, privasi, memalukan dan bagaimana mengatakannya sih? Dia bingung sekali menjabarkannya. Pokoknya topik yang kalau dibicarakan harus memakan nada suara yang pelan dan hati-hati—topik yang hanya dia dan suaminya saja yang boleh tahu.
Jadi dia berdeham kecil lagi sembari menmbenarkan poninya yang jelas sekali tidak perlu dirapikan lagi karena sudah berada di tempat yang tidak menganggu penglihatan.
"Bicara saja."
Haechan hampir tersentak mendengarnya. Terkejut kalau teryata suaminya mengetahui maksud dan tujuannya bersikap seperti itu. Ia juga sedikit bersyukur karena suaminya mengetahuinya, tapi perasaan yang mendominasi kini malah perasaan malu. Bagaimana dia mengatakannya pada suaminya ini?
Langsung saja?
Apakah perlu basa-basi sedikit?
Atau bagaimana sih seharusnya? Dia takut salah bicara dan berakhir mempermalukan dirinya sendiri. Ini itu terlalu memalukan!
"Keluar saja. Masuk jika kau sudah siap bicara—"
"—Kakek bilang kita akan membuat anak?!"
Mata Haechan mengedip beberapa kali ketika menyadari isi kepalanya keluar begitu saja tanpa bisa dihentikan hanya karena ancaman suaminya.
"Oh, kau sudah mendengarnya?"
Oh dia sejak awal sudah mengetahuinya?
Ah saus tartar! Dia memang tidak punya hak pendapat disini.
Dan apa-apaan itu responnya?! Apa pembicaraan ini sebegitu tidak pentingnya baginya?! Kenapa tidak memandangnya sama sekali?! Apa dia manusia?!
"Kemarin kau ngotot sekali bilang tidak ingin punya anak. Tapi kenapa tiba-tiba kau menjadi santai begini?! Apa rencanamu heh?!"
Haechan melanjutkan dengan dongkol. "Jangan membuatku bingung. Kau juga harus berbagi rencanamu padaku agar kita bisa bekerjasama dengan baik. Kau pikir aku ini apa heh?! Istri pajangan?"
"Tidak ada rencana, buat anak saja."
?
Heh?
Dia benar-benar mengatakannya?
Haechan merasa ada beberapa detik dia kehilangan akalnya mendengar suaminya berkata begitu. Bagaimana mungkin suaminya mengatakannya begitu mudahnya seperti itu?! Tidak mungkin sekali kan?!
Apa dia habis minum?
Pikirannya tetap menolak untuk percaya begitu saja walau jelas sekali mendengar suaminya mengatakannya dan melihat raut wajah suaminya ketika mengatakannya.
"Oh?" Haechan benar-benar tidak habis pikir. "Kini kau mengatakannya semudah itu?"
Mark menatapnya lelah. "Turuti saja kata mereka. Mereka tidak akan berhenti sampai kau melahirkan anakku."
"Anakku juga." Haechan merasa tidak terima kalau hanya kata 'aku' yang disertakan. Dia kan yang sangat berperan kalau ia benar-benar sampai hamil.
"Oke. Anak kita."
Oh itu terdengar lebih enak ditelinganya.
"Apa kita bisa melakukannya?" Haechan bertanya-tanya sembari mengawang-awang. Bagaimana bisa? Ia terus bertanya-tanya.
"Maksudku—aku dan kau tidak saling mencintai. Dan kita—kita melakukannya, maksudku membuat itu. Dan—dan aku rasa itu tidak bisa diterima akal sehatku. Kau paham maksudku kan?" Dengan gerakan lucu Haechan menyampaikannya, terlalu bingung menggambarkan keadaan mereka dipikirannya.
"Kau pernah melakukan seks 'kan?"
Tunggu—tunggu!
Dia membicarakan seks layaknya itu adalah kegiatan keseharian manusia. Kenapa dia sefrontal itu?
"Apa maksudmu?! Tentu saja iya. Orang mana sekarang yang menunggu menikah untuk melakukannya? Gila apa?"
"Kalau begitu akan lebih mudah 'kan kalau kau juga sudah berpengalaman?"
Oke. Kepalanya semakin terasa tertiup kencang dengan percakapan mereka sendiri.
"Tapi tetap saja. Rasanya masih tidak masuk akal!" Haechan bersikeras.
"Bayangkan saja kita melakukan one night stand."
Mukanya terlihat bodoh. Tapi ia memang harus jujur mengenai ini. "Aku tidak pernah melakukan seks dengan orang asing." Suaranya sampai memelan dari sebelumnya. Itu hal paling memalukan tidak ya?
"Dan kau 'kan bukan orang asing—"
Haechan menatapnya bingung. "kau 'kan suamiku?"
.
.
.
Haechan semalaman tidak bisa tidur. Dia terus berpikir bagaimana dia melakukan acara 'mari membuat bayi untuk menyenangkan rumah besar ini'.
Dipikirkan saja sudah sangat konyol sekali!
Bagaimana saat mempraktikkannya?
Dia rasa ia bisa gila karena ini.
Dulu ia memang meminta terang-terangan pada Mark untuk membuat anak. Tapi itu didasari rasa tidak terima saja. Saat itu ia kesal sekali. Bagaimana suaminya lebih mengepentingkan wanita lain ketimbang dirinya. Yah walaupun memang wanita lain itu sebenarnya bukan wanita lain sih. Dia kan kekasihnya sebelum mereka menikah dan dirinya hanya sosok istri pilihan terakhir dan tidak bisa digugat. Situasi yang penuh ironi memang. Tapi kalau mereka sudah menikah begini, harusnya Mark juga menempatkan dirinya di posisi yang sama kan?
Dia memang sudah pernah melakukannya dengan kekasihnya waktu kuliah dulu. Itupun terhitung hanya 2 kali dengan orang yang sama. Setelah itu ia diselingkuhi. Kesal tentunya. Tapi kan mereka melakukannya dengan perasaan saling suka dan sukarela. Tidak ada alasan lain seperti 'pemaksaan' dan 'penuntutan'? Jadi ia rasa situasinya berbeda sekali. Ini itu lebih dari sekedar one night stand!
Merasa sudah tidak tahan dengan pemikirannya sendiri. Hari ini ia melakukan konsultasi dengan dokter Boo. Manatahu dia mendapatkan pencerahan dan solusi yang benar.
Awalnya ia akan menghubungi Jaemin untuk membicarakan masalah ini. Tapi ia merasa itu sangat tidak tepat. Ia bisa membongkar semua kebohongannya. Dan ia sangsi kalau Johnny tidak ikut serta. Dan lagipula ia juga malu sekal, ia rasa masalah ini bisa menjadi bahan olokan untuk seumur hidupnya jika mereka mengetahuinya.
Jadi ia rasa berkonsultasi dengan dokter Boo adalah pilihan yang sangat tepat. Dokter Boo tidak begitu mengenalnya. Dan sepertinya orangnya begitu bijaksana dan baik hati. Ia mungkin akan membuka diri pada dokter anggun itu. Mungkin semua kebohongannya bisa ia bagi dengan dokter Boo. Dia pasti tidak keberatan.
"Oh Haechan?"
Ia tersenyum canggung, hampir meringis saking canggungnya. "Oh halo dokter Boo."
"Apa yang membuatmu kemari?" tanya dokter Boo dengan ramah sembari mempersilahkannya duduk.
Haechan duduk—meneguk air ludahnya sendiri. Kemudian berdeham kecil sembari tersenyum. "Aku ingin bercerita pada dokter."
"Oh bagus. Apa kau sudah melakukan tips yang kuberikan?"
Ia mengulum senyum lebar yang canggung, kemudian menggeleng. Dokter Boo tampak bingung kemudian.
"Akan, dokter."
Haechan tampak begitu kacau mengatakannya, pasrah dan bingung. Dokter muda itu terkekeh mengerti.
"Ini baru pertama kali untukmu?"
Haechan menggeleng. "Tidak."
Dokter Boo semakin bingung. "Lalu?"
"Aku ingin jujur dengan dokter." Haechan mengambil nafas sebentar, menenangkan dirinya agar lancar mengatakan kejujurannya pada dokter dihadapannya ini.
"Kami menikah karena dijodohkan."
Oh Haechan merasa lega sekali bisa mengatakan ini pada orang lain. Semua orang hanya tahu mereka jatuh cinta secara alami sebelum pernikahan—dan itu menyebalkan.
Dokter Boo tersenyum mengerti. Walau dunia sudah bergulir menjadi zaman yang begitu modern, tapi pemikiran tradisionil masih terpatri pada beberapa kepala. Dan ia rasa itu bukan hal yang konyol ataupun terbelakang. Itu hanyalah masalah kepercayaan dan mungkin peraturan bagi beberapa golongan mengingat kliennya yang berkonsultasi sekarang adalah termasuk golongan borjuis di negaranya ini.
"Seks bukan masalah cinta atau tidak. Kau bisa melakukannya untuk kesenangan. Itu tidak masalah tidak menggunakan cinta di dalamnya. Jangan membebani dirimu."
Dokter Boo mendekatkan diri sembari tersenyum ramah. "Kapan kau terakhir melakukan seks?"
Haechan mengigit bibir. "Saat kuliah dulu—sudah lama sekali."
"Kau tidak bisa menahan dirimu lebih lama lagi. Semua manusia memiliki kebutuhan untuk melakukan seks, Haechan. Itu kebutuhan biologis. Jangan menahannya, kau melukai dirimu sendiri."
"Tapi kami tidak saling mencintai. Rasanya begitu aneh dan aku merasa—aku tidak bisa melakukannya, dokter."
"Aku tahu. Rasa menyesal menghantuimu. Melakukan seks tanpa rasa cinta memang meninggalkan luka dan penyesalan. Walau tubuhmu menginginkannya, tapi perasaanmu akan menangis setelah melakukannya. Itu hal yang wajar.
Nah! Itulah yang ia rasakan dan pikirkan sampai-sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak semalaman. Bagaimana kalau dia menyesal setelah melakukannya dengan Mark?
"Tapi kau wanita yang sudah menikah sekarang. Kau adalah seorang istri dan kau punya suami sekarang."
"Jika sebuah pernikahan tidak memiliki keintiman seksual apapun, maka pernikahan itu hanya akan menjadi hubungan 'teman sekamar', kalian menikah tapi kebutuhan dalam pernikahannya sendiri tidak terpenuhi."
"Seks sangat dibutuhkan untuk pasangan menikah. Apalagi dalam awal hubungan pernikahan seperti kalian."
"Ketika hubungan pernikahan sudah berlangsung lama dan bahagia, seks bisa menjadi nomor kesekian dalam daftar pikiran pasangan itu. Banyak hal yang bisa membuat cinta tetap bertahan walau tanpa seks sekalipun bagi mereka."
"Tapi itu tidak berlaku bagi pasangan yang baru menikah. Kalian adalah awalan, hubungan yang baru dijalin membutuhkan seks untuk membantu mengikat emosi dan mencipatkan koneksi antara pasangan. Ini dikarenakan seks dapat mencukupi kebutuhan biologis, psikis, serta spiritual seseorang yang melakukannya. Jadi seks sangat dibutuhkan dalam hubungan kalian."
Haechan merasa tercerahkan sih sebenarnya. Tapi tetap saja terasa sulit sekali untuk dijalankan sepertinya. Ia tidak ingin merasa kecewa setelahnya. Dan lagipula ia juga merasa malu memperlihatkannya pada Mark. Ia merasa aneh saja.
"Kau tidak bisa menahannya, Haechan. Wanita memang lebih tangguh mengenai urusan tahan-menahan. Tapi bagaimana dengan laki-laki? Mereka makhluk yang sangat lemah dalam urusan seperti itu—terutamanya dalam seks."
Dokter Boo terkekeh mengatakannya. "Banyak sekali penelitiannya kalau kau tidak percaya."
"Jika kau tetap bersikeras untuk tidak melakukannya. Dia bisa berakhir dengan melampiaskannya pada wanita lain."
Haechan hampir berucap, namun sudah dihentikan oleh dokter Boo. "—Bermain solo itu bukan pilihan, Haechan. Itu hal paling terakhir yang bisa dilakukan."
"Laki-laki berbeda dengan perempuan. Kita mungkin akan lebih memilih untuk bermain solo daripada harus bermain dengan orang asing. Kita menomorsatukan perasaan. Tapi laki-laki tidak. Hasrat dan nafsu adalah hal yang paling tidak bisa mereka tangguhkan. Itulah kenapa ada yang mengatakan kelemahan lelaki adalah lubang hangat wanita."
"Mereka handal memainkan seks tanpa melibatkan rasa cinta. Itu hal yang mudah bagi mereka."
"Dan jika kebutuhan hasrat dan nafsu mereka tidak terpenuhi. Wanita lain adalah solusinya. Dan aku rasa sebagai seorang direktur dan salah satu ahli waris perusahaan terbesar di negara ini, itu bukanlah hal yang sulit baginya."
"Pilhanmu adalah melakukannya atau menunggu melihatnya melakukannya dengan wanita lain."
"—Atau mungkin ia sudah."
.
.
.
Niatnya sih tadi ingin langsung pulang saja. Rasanya ia ingin tidur dari sore saja. Mendadak lelah sekali dirinya. Tapi kemudian dia mendapatkan telpon dari Jaemin. Katanya dia rindu dan ingin bertemu. Jadilah dia langsung meminta sopirnya untuk mengantarkannya ke kafe dekat perusahaan.
"Haechan!" Jaemin berseru riang ketika ia memasuki kafe yang sepi pengunjung karena batas jam istirahat sudah selesai.
"Kau sendiri? Dimana Johnny?" Haechan berkerut heran sembari menarik kursi.
Jaemin tersenyum. "Sebentar lagi dia akan menyusul. Dia sedang mencari alasan untuk keluar."
"Oh oke.—Kau sudah memesan?" tanya Haechan sembari membukan daftar menu yang ada.
"Belum. Aku baru memesan es lemon saja sembari menunggumu. Kau ingin makan apa?"
"Aku ingin jajangmyong pedas. Aku rasa mulutku sudah terlalu lama tidak memakannya."
Jaemin mendecih jenaka. "Tentu saja. Kau pasti hanya makan roti panggang dan spageti setiap harinya."
"Ah tidak juga. Terkadang mereka menyediakan japchae, bibimbap, galbi, dan beberapa makanan korea yang lain."
"Hidupmu sudah seperti bangsawan saja. Pinjami aku uang kalau begitu."
Haechan mendelik kesal, tahu kalau sahabatnya ini tengah bercanda. "Yak. Kau lihat sendiri aku tidak bekerja sama sekali. Aku pengangguran sukses ini."
"Walau begitu, kau tetap kecipratan." Goda Jaemin lagi.
"Yak! Kau pikir aku bisa menghamburkannya begitu saja?!"
"Tentu saja. Bahkan untuk menraktir kami disini, kau tidak akan jatuh miskin. Jangan berlaga menjadi wanita baik kau ini."
Haechan mendesis. "Kau pikir aku nyaman menggunakan uangnya?"
"Terlihatnya begitu."
Ah sudahlah. Memang sepertinya begitu juga kalau dipikir-pikir lagi.
"Kau ingin apa Na?"
"Aku lemon ini saja."
"Serius?"
"Kalau kau yang traktir, aku akan memilih."
Oh apakah ini alasan yang mendasari wanita ini ingin bertemu dengannya?! Memang teman sekali dirinya ini.
"Pilih saja. Aku orang kaya sekarang."
Mata Jaemin membesar bahagia. Kemudian mengangkat tangannya bersyukur. "Oh astaga! Tuhan memberkatimu Haechan-ah!"
Teman memanglah teman. Tidak ada teman yang baik, pengertian, dan tidak ingin menyusahkan temannya yang lain. Teman yang memang teman, memang seperti itu kan?
Saat Jaemin mulai memilih menu apa yang ingin ia pesan, Johnny datang dengan raut wajah bersalah. Dari pintu masuk pria itu menggumamkan kata maaf berulang kali padanya ketika tatapan mereka bertemu dari awal.
Ada apa?
Dan ketika dia mulai mendekat barulah Haechan sadar kalau ternyata Johnny tidak sendirian. Ketua tim berada di belakangnya.
"Kenapa ada ketua tim? Kau mengajaknya?" Haechan menuduhkannya pada Jaemin.
Dahi Jaemin berkerut kesal. "Yak. Walaupun aku menyukainya. Kalau perihal begini aku tidak akan membawa ketua tim tanpa seijin kalian terlebih dahulu. Kau pikir aku semurah itu dengan memanfaatkan keadaan ini heh?"
Haechan mendecak pelan. "Kupegang kata-katamu Na."
"Johnny payah sekali. Harusnya aku tahu kalau dia itu tidak handal dalam urusan berbohong." Gerutu Jaemin.
Johnny menggigit bibir ketika mereka berdua akhirnya sampai ke meja. Haechan merasa kasihan. Dan tentu walau ini semua bukan mutlak kesalahannya, tapi sekarang hanya dia yang bisa bertanggungjawab.
"Jangan memarahi mereka atau menangguhkan gaji mereka. Aku yang mengajak mereka keluar. Kau bisa meminta uangku untuk ganti rugi waktu yang sudah mereka berikan padaku. Jangan potong gaji mereka."
Ada waktu seperkian detik Haechan menatap Jeno dengan pandangan serius yang memelas. Dan Jeno tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak tertawa melihatnya.
"Apa yang kau bicarakan?"
Dahi Haechan berkerut bingung.
"Aku kesini karena ingin makan siang. Aku belum sempat makan siang tadi. Dan kemudian aku bertemu Johnny di depan kafe. Jadi sekalian saja."
"Oh, Anda belum makan siang ketua tim?!" Itu Jaemin yang mendadak khawatir.
"Mari makan siang dengan kami. Haechan berbaik hati menraktir kami hari ini."
Astaga! Siapa yang barusan bilang kalau dia tidak akan memanfaatkan keadaan menyangkut ketua tim?! Wanita ini benar-benar tidak bisa dipegang kata-katanya.
"Oh itu tawaran yang menggiurkan tentunya. Terima kasih banyak."
Haechan melebarkan senyum—kesal sekali dengan keadaan ini. Ia jadi tidak bisa menceritakan beberapa masalah pribadinya dengan mereka kalau ada ketua tim di sini.
Akhirnya mereka semua duduk dalam meja kecil itu, kemudian memesan beberapa menu makanan yang diinginkan masing-masing. Jaemin terus mengajak Jeno untuk berbincang. Johnny yang berada di depannya hanya bisa memutar mata jengah setiap kali Jaemin beraksi. Dan ia sendiri hanya bisa bermain dengan pikirannya sendiri karena tidak bisa menyampaikan keluh kesahnya yang ia tahan-tahan sedari tadi karena menunggu Johnny.
"Oh Haechan. Jangan terlalu memikirkan uangmu. Kau tidak akan jatuh miskin begitu saja kan untuk menraktir kita semua?"
Haechan mendelik pada Jaemin. Untuk apa sih mengungkit-ngungkitnya? Lagipula dia tidak memikirkannya sama sekali.
"Jangan menekuk-nekuk wajahmu begitu."
Haechan membuang nafas. "Bukan seperti itu. Hanya saja aku sedang memikirkan rumah. Aku tidak bisa pergi terlalu lama. Aku tidak minta ijin terlebih dahulu untuk bertemu dengan kalian. Ini mendadak, ingat?"
"Ah benar."
Alibi yang bagus kan?
Padahal mau dia pulang telat atau tidak, kalau selama dia membawa sopir dia tidak akan kena damprat.
"Kau ingin aku menghubungi bibi? Aku bisa bicara dengannya kalau kau pergi denganku."
Haechan terdiam—tidak habis pikir. Bagaimana dia mengatakannya semudah itu? Dia ini 'kan istri sepupunya. Apa yang akan ibunya pikirkan nantinya? Kenapa bisa menawarinya seperti itu? Atau dirinya saja yang sebenarnya terlalu berlebihan mengenai ini?
"Ah tidak perlu ketua tim. Aku bisa menjelaskannya nanti setelah kembali. Mereka pasti mengerti."
Tak lama setelah itu, pesanan mereka semua datang. Jadi situasi canggung diantara dirinya tidak berlangsung lama.
"Terima kasih makanannya!" Jaemin dan Johnny bersorak bersamaan, adat makan dirinya sebelum masuk ke dalam keluarga Jung yang harus ia tinggalkan disana. Jadi ia hanya bergumam kecil sembari menirukan gerakan mereka. Mendadak jadi biru lagi dirinya.
Seperti Jung yang lain. Jeno makan dengan tenang, tanpa suara bising makanan yang beradu di mulut. Berbeda sekali dengan Johnny dan Jaemin yang lahap sekali memakan makanan mereka. Dan dirinya merasa dilemma sekali mana yang harus ia pilih.
Sekarang ia bagian dari keluarga Jung, kira-kira kalau dia melakukan itu juga memalukan tidak ya? Akan ada orang yang melihat tidak ya?
Kalau dia makan seperti itu, dia harus sembunyi-sembunyi dari orang rumah dan juga masyarakat umum—tidak sopan katanya. Oleh karenanya, ia sering sekali membawa makananannya ke kamar agar orang-orang tidak melihat. Dia pernah ditegur dua kali oleh ibunya. Dan ia rasa untuk ketiga ia tidak menginginkannya lagi.
.
.
.
"Kau sudah siap?"
Haechan mengambil dompet tangannya setelah memasang anting anting mutiara kesukaannya. Malam ini ia ada acara menghadiri pesta ulang tahun kawan suaminya. Tidak tahu yang mana. Tapi pokoknya bukan kak Taeyeong ataupun Lucas.
"Nanti aku harus bilang apa?"
"Katakan selamat saja. Selebihnya bersenang-senanglah di sana. Ini bukan pesta formal yang kau bayangkan."
Bukan?!
Haechan menghentikan langkahnya setelah mendengarnya. "Kalau begitu kenapa kita memakai pakaian seformal ini?! Kau ingin kita jadi bahan spotlight pesta atau jadi bahan olokan?"
"Astaga! Turuti saja. Aku sudah membawa baju ganti untuk kita nanti. Kita akan pulang larut sekali. Katakan saja ini pesta formal dan kita akan selamat."
Haechan mencemooh terang-terangan. "Oh kau suka sekali berbohong."
"Memang."
Haechan semakin dongkol mendengar jawaban suaminya. Jadi ketika mereka mulai berjalan kembali, dengan wajah kesal yang jenaka, ia mencemooh di balik punggung suaminya lagi.
Dan benar. Hanya bermodalkan kata itu mereka diijinkan untuk tidak mengikuti acara makan malam. Begitu mudahnya~
Acara pesta dilakukan di luar kota. Tidak begitu jauh tapi tempatnya begitu terpencil dan tertutup. Sebelum sampai ke tempat acara, mereka berbelok dulu ke tempat peristirahatan di jalan tol untuk berganti pakaian. Dan Haechan sedikit terpaku dengan baju yang dibawa oleh Mark untuknya. Bukankah ini baju pasangan?
Jadi ia segera bergegas keluar untuk memastikannya.
Oh tidak! Demi Tuhan! Dia benar-benar memakainya!
"Kau benar-benar melakukannya?!" Ia hampir berteriak saking terkejutnya melihat Mark sudah menunggu di depan mobil mereka dengan pakaian putih yang senada dengan dress selututnya.
"Kau memakai cincinmu kan?"
Apa sih?! Orang benda itu selalu melingkar di jarinya.
Dia menunjukkannya jelas-jelas pada Mark. "Lalu mana cincinmu?" Dia juga harus ikutan menuduh. Mana tahu kan suaminya melepaskan cincin pernikahan mereka kalau tidak berada di rumah.
Dan ketika ia menarik tangan suaminya dan menemukan cincin itu masih tersemat. Ia berujar, "Kalau kau sampai melepasnya, akan kubuang cincin ini dari tanganku sekalian." Haechan menggertak. Sebal sekali dituduh begitu.
"Jangan tinggalkan aku. Jangan jauh-jauh dariku. Dan jangan biarkan aku menikmati wineku sendirian nanti!"
Mark memutar mata. Berlebihan, pikirnya.
Haechan menepuk lengannya keras. "Aku tidak kenal siapapun disana. Jangan jadikan aku orang asing kalau kau sudah bertemu dengan teman-temanmu nanti." Ia memperingatkan.
Jadi dengan berbekal tanda persetujuan suaminya, mereka masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan ke pesta kawan suaminya.
Dia hampir memekik ketika tempat pesta kawan suaminya ternyata diadakan di pinggir pantai secara terbuka. Pantas saja pakaian yang mereka kenakan begitu simpel.
Dan ketika Mark membawanya untuk ikut ke dalam pesta, barulah Haechan sadar kalau Mark membawakannya baju pasangan itu karena dress code acara yang digelar memang serba putih. Oh sialan! Ia sudah bahagia sekali dengan baju ini tadinya.
"Oh Mark Jung, kawanku!"
Seorang pria tinggi menghampiri mereka dengan hangat. Merangkul suaminya dan kemudian berjabat tangan dengannya. Tapi pria itu tidak segera melepas jabatannya, membuat Haechan menatap suaminya dan pria itu secara bergantian dengan pandangan bak orang hilang.
"Wah, seleramu benar-benar tidak bisa ditebak Mark. Istrimu seperti gadis sekolah menengah. Kau menyewanya ya?"
Ketika pria itu akan menyentuh dagunya, Mark mendesis—menariknya mendekat dan menggenggam lengannya erat-erat. "Jangan menganggunya. Dia istriku."
Pria itu tertawa senang, kemudian merangkul suaminya dari sisi samping. "Tenang saja, Mark Jung. Semua orang tahu kalau dia istrimu. Nikmati saja pestanya, kawan. Maafkan aku ya kalau lancang menyentuhnya."
"Oh berhentilah menggodanya Changbin. Kau itu suka sekali menggodanya." Seorang perempuan cantik berambut panjang datang dengan raut wajah bersalah. Pria itu mengedik sembari tersenyum jenaka, kemudian melenggang pergi meninggalkan mereka.
"Maaf ya membuatmu tidak nyaman. Changbin suka sekali menggoda Mark. Tapi dia hanya bermain-main saja. Jangan terlalu dipikirkan. Nikmati saja pestanya ya." Ujar perempuan itu padanya layaknya ibu yang tengah menghibur anaknya. Haechan mengangguk mengerti sembari membalas senyuman. Begitu anggun, pikirnya.
Mark tersenyum, kemudian memeluk perempuan itu sebentar. "Selamat ulang tahun noona. Semoga semua yang kau inginkan bisa tercapai."
"Terima kasih, Mark. Kau juga."
Oh?! Ini pasti kak Gyuri yang diceritakan Mark. Seniornya yang berulang tahun itu.
"Oh selamat ulang tahun eonnie. Semoga kebaikan selalu menyertaimu."
"Terima kasih banyak, Haechan-ah. Aku Gyuri, senior suamimu saat kuliah dulu di Paris."
Haechan terhenyak mendengar namanya disebutkan oleh wanita ini. "Oh?! Kakak mengenalku?"
"Kenapa tidak?" Gyuri sampai menahan tawa mendengar pertanyaannya. "Kau istri Mark Jung. Wanita yang mengambil alih pangeran es di dunia bisnis. Tidak ada orang yang tidak mengenalmu."
Haechan tertawa canggung. Tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapinya.
"Ada banyak kudapan disana, Mark. Kau bisa membawa istrimu untuk bertemu teman-teman kita."
Mark mengangguk sembari tersenyum. "Tentu, noona."
"Maaf ya tidak bisa menemani kalian lebih lama. Nikmati saja pestanya."
Selepas kepergian seniornya, Mark membawanya ke kerumunan teman-temannya. Ia sebenarnya canggung sekali. Tapi ya mau bagaimana lagi. Dia harus siap menghadapi.
"Oh pasangan pengantin baru kita!"
Mark hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Apa kalian sudah mengisi? Kalian pasti rajin sekali 'kan melakukannya?"
Oh ayolaaaaah... topik ini lagi?!
"Tidur Mark pasti jauh lebih nyenyak sekarang?"
"Aura Mark jadi berbeda sekarang ya?—Kau sudah tunduk dengan istrimu ya?"
Tunduk apanya?!
"Kata romantis apa yang Mark berikan padamu sampai-sampai kau mau menikah dengannya? Dia kan payah sekali mengenai perasaan begitu."
Memang payah!
"Siapa yang di atas? Kau atau Mark?"
Heh?! Apa yang dia katakan?!
Mark mendesis. "Urusi saja urusan ranjang kalian sendiri."
"Whoooaaahh~"
Teman-temannya mencemooh jenaka, bahkan sampai bersiul setelah mendengar Mark.
"Dia benar-benar berubah. Istrinya pasti memegang kendali dikehidupannya."
Astaga! Ini jauh lebih mengerikan ketimbang godaan keluarga mereka tepat sehari setelah mereka menikah.
"Ada yang melihat Gyuri?"
Dan semua orang terdiam setelah pertanyaan itu dilontarkan oleh seseorang.
.
.
.
Haechan tidak pernah membayangkan akan terjebak dalam situasi rumit seperti ini—canggung, marah, kesal, pasrah, bingung, semuanya berputar menjadi satu. Kepalanya rasanya ingin pecah saja. Apalagi dengan respon teman-temannya yang ikutan canggung juga.
"Kau ingin wine lagi?"
Winwin menawari Mark. Dan Haechan hanya bisa membuang muka sembari menyesap winenya yang bahkan masih penuh—minuman itu tidak bisa menyenangkannya sekarang, terasa hambar dan begitu pahit di tenggorokannya.
Semua orang tampak bersimpati dengannya, tapi tidak ada yang mereka lakukan. Pura-pura bodoh saja.
Sedari tadi suaminya menjadi lebih pendiam. Ia tahu itu. Tapi ia tidak masalah. Selama kontak fisik mereka tidak begitu berlebihan, Haechan rasa ia bisa memakluminya. Toh pada dasarnya dialah istri sah seorang Mark Jung. Untuk apa khawatir dengan wanita ini?
"Barbeque time!"
Changbin berteriak meriah ketika acara memanggang barbeque seafoodnya selesai.
Semua orang mendatangi Changbin, mengambil hasil karya pria itu seluruhnya selama setengah jam berada di depan pemanggang.
Ketika semua hidangan sudah berada di meja. Haechan berinisiatif mengambilkan Mark beberapa tusuk barbeque yang ada sebelum ia juga ikut makan. Setidaknya dia harus menampilkan kesan istri yang perhatian bukan?
"Buka mulutmu Mark. Aaakk..."
Mark menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa ia artikan. Tapi mulut pria itu tidak mau membuka.
"Apa yang kau lakukan?!" Winwin berseru marah sembari membuang barbeque yang ia berikan pada Mark.
Haechan bahkan tidak bisa berpikir jernih ketika barbeque itu jatuh ke pasir dan semua orang mulai melihat mereka sebagai pusat perhatian. Ada apa dengannya?
"Kau ingin membunuhnya?!"
Hah?
"Mark alergi udang!"
.
.
.
It's been a long time :"
Glad to see ya all again geeengsss
Gimana kabar kalian? Udah pertengahan puasa ajah ya :V
Makasih buat semua yang udah stay ampek sekarang. Maaf ya kalo ga bisa jadi author yang update rajin :3
Semoga hari kalian menyenangkan!
