Taera bangun lebih pagi, dia segera membersihkan diri dan bergegas memakai pakaian santai dan pergi menuju rumah ibunya. Ia begitu semangat bahkan dia bertaruh jika semua orang belum bangun. Tentu saja ini masih pukul 6 pagi. Tapi...

" tae "

" ya "

Tanpa sadar taera membalas paggilan tersebut. Dia menoleh dan mendapati Insoo yang sudah terbangun dan berdiri di depan pintu kamar Taera. Taera yang tadinya ceria berbalik dengan menampilkan raut wajah sedih dan takut. Dia bahkan tidak berani menatap Insoo. Insoo berkali-kali berkedip, dia juga gugup. Terliaht dari bola matanya yang bergerak tak teratur

" kau sudah bangun, m...mau kemana?"

" rumah ibu "

Jawabnya dengan masih menunduk takut. Insoo perlahan berjalan mendekat, sedang Taera masih disana. Dia tidak berani bergerak maupun menatap balik. Sampai akhirnya

Greeep

Taera dibuat terkejut dengan pelukan hangat Insoo. Kenapa harus tiba-tiba?

" ma...maafkan aku. M...maafkan aku tae "

"..."

" maaf jika aku berubah selama ini. ak.. aku hanya belum bisa menerimanya "

"..."

" aku hanya perlu meminta maaf denganmu. Aku ingin kita kembali seperti dulu "

Taera tersentuh, perlahan kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan insoo.

" maaf jika menyakitimu tae, maafkan aku hiks "

" s...soo "

Insoo melepas pelukannya. Dia sudah banjir air mata

" aku sudah memaafkanmu dari dulu. Aku tidak pernah menganggap kita musuh, aku hanya berfikir jika.. jika kau butuh waktu untuk semuanya "

" hiks... aku egois tae. Aku tidak memikirkan bagaimana dirimu. seharusnya sahabat yang baik selalu ada. Kau sedang sedih tapi aku malah menjauhimu hiks "

Taera tersenyum. Dia menarik Insoo untuk duduk di tepi ranjang

" tak apa, aku mengerti soo. Aku juga minta maaf. Aku tidak menginginkan semua ini. aku meminta maaf karena membuat soo eomma berubah saat itu. maafkan aku "

" hiks hiks tidak soo, hiks hiks maafkan aku "

" hey, tak perlu menangis. Sudahlah "

Dan dipagi itu mereka kembali bersahabat dan berpelukan.

Sebenarnya sejak kejadian Insoo menangis di dada Kevin, ia tidak tahu bagaimana memulai untuk meminta maaf. Bahkan ia tidak bisa tidur semalaman, malah berfikir bagaimana caranya. Insoo masih terlihat ragu, apakah ia benar-benar memaafkan TAera atau sebaliknya? Mendengar ucapan para kakak, yang melihat dari kedua sisi. Insoo merasa bersalah, ia tidak seharusnya seperti ini. Mereka berdua adalah sahabat, dan seharusnya…. Aah sudahlah tidak perlu diulang-ulang. Hingga akhirnya Insoo menguatkan tekat untuk mendatangi TAEra, dan benar saja TAera dengan tangan terbuka memaafkannya bahkan TAera juga meminta maaf atas nama sang ayah. Salah besar jika Insoo berfikir kalau TAera sama dengan sang ayah.

X

X

X

X

Sedang di lain tempat, Sehun tampak berfikir. Apa yang membuatnya mendatangi rumah Jongin waktu itu? Dorongan atau ada hal lain? Jujur Sehun tidak mempunyai pikiran untuk mendatangi rumah dan melihat putra bungsunya disana. Bahkan dengan konyol SEhun terang-terangan berkata jika ia adalah ayah dari Minguk. Oohh Goooood betapa brengseknya ia. Sehun berdiri dari ranjang dan hendak keluar kamar, tapi baru saja ia mau melangkah ke depan, mata sipitnya mendapati TAera dan Insoo berpelukan di seberang sana. Kamarnya memang dibatasi oleh tangga tengah jadi ia bisa melihat bagaimana Insoo memeluk putri keduanya. Sehun mengurungkan niat dan kembali menutup pintu dan melempar tubuhnya di ranjang. Tampaknya TAera sudah berbaikan. Lalu bagaimana dengannya?

" kim jongin, bahkan aku lupa bagaimana caraku bertahan denganmu "

X

X

X

X

Beberapa hari menjelang pulang, Taera setiap hari datang ke rumah sang ibu dan bermain dengan adik laki-lakinya. Minguk? Tentu saja bocah kecil itu sudah lengket dengan sang kakak. Jongin masih enggan membuka kedainya, mungkin berlibur dari aktivitas harian bisa membuatnya sedikit bersantai. Apalagi melihat bagaimana ketiga buah hatinya yang tengah tertawa di kursi kedai, cukup membuatnya tersenyum. Ditambah lagi, Jimin dan Yoongi datang berkunjung setelah beberapa hari yang lalu mereka pergi entah kemana.

" bibi "

Jongin menoleh mendapati Yoongi keluar dari dapur dengan membawa beberapa camilan serta minuman di baki

" kenapa duduk disini, tidak bergabung disana ?"

" tidak, bibi disini saja sayang. Cepatlah kesana "

Yoongi tersenyum dan mengangguk manis.

" yeaaayyy,,,, kimbab "

" eoh, Minguk juga suka kimbab ?"

" eumbh,,, kimbab buatan ibu enak thekali nunaa. Nunaa belum coba thiiih "

" iya nanti nunaa akan coba "

Taera tersenyum tipis lalu mengusap rambut sang adik. Sampai sekarang ia tidak pernah melupakan bagaimana enaknya masakan Jongin. Gadis itu terlalu rindu sampai tidak pernah membeli masakan yang sama seperti sang ibu. Ia terlalu takut jika harus menangis ketika memakannya. Dengan perlahan ia mengambil potongan kecil kimbab dan memasukkan ke dalam mulut. Sama, tidak ada yang berubah pada masakan wanita tercantik di dunia baginya.

" benal bukan? Nunaa pasti suka "

" eumbh, ini benar-benar enak. Apa nunaa boleh menghabiskannya ?"

" tidak, ini punya Minguk "

" eeyyy kau ini jahat sekali sama nunaamu "

" sstt belithik "

Jimin dibuat melotot dengan ucapan Minguk, uuuhh ingin rasanya ia mencubit pipi gembil Minguk sampai memerah dan…

NYUUUT

Benar dugaan yang lain, Jimin dengan jahil mencubit pipi Minguk sampai memerah dan,,,,,

" aaaarggghhh ibuuuuuuu jimin hyung nakal "

Dan semua yang ada disana tertawa kencang mendengar rengekan si kecil.

Jongin hanya bisa menggeleng dan memangku Minguk yang masih menangis kecil sambil mengunyah kimbab. Lucu sekali, bahkan wajahnya memerah karena air mata.

" ibuuu hungiie nakal, cubit cubit "

" sudah nunaa cubit Minguk, jangan cengeng "

" ittthhhhhh nunaa jahat "

" kalau masih menangis taera nunaa habiskan kimbab ini "

" aniiyaaaa "

Secepat kilat, Minguk mengambil sumpit kecilnya dan menggapai kimbab yang sengaja TAerin jauhkan dari si kecil. Jongin menatapnya jengah dan memukul kecil lengan si sulung

" berhenti menggoda adikmu tae, kau ini "

" iya benal, tae nunaa pukul thaja "

Taera tersenyum kecil, pertengkaran kecil. Ia dan TAerin bahkan dulu sering sekali bertengkar, dan pada akhirnya taerin mengalah dan memeluknya. Jongin menoleh, menatap si tengah yang melamun

" ada apa tae ?"

Tanya Jongin dengan menyentuh lengan kiri TAera. Taera menggeleng dan melanjutkan makan.

X

X

X

X

Jimin dan Yoongi sudah kembali, tinggal mereka berempat di kedai. Minguk mulai menguap, ini sudah pukul 12 siang. Memang waktunya si kecil tidur siang, meski Minguk lebih banyak emnghabiskan waktu siangnya untuk bermain. Jongin menggendong si bungsu dan membawanya ke dalam. Sedang taerin, ia membawa taera untuk keluar. Menyuruh TAera untuk di depan pintu sedang ia akan mengambil sepeda. Taerin ingin mengajak taera bersepeda sebentar.

" unnie mau mengajakku kemana ?"

" tidak jauh, kau diam saja "

Taera hanya mengangguk dan membiarkan sang kakak mengayuh sepeda.

Tak lama hanya 15 menit, mereka sampai di padang bunga. Padang bunga berwarna kuning, itu kata Minguk. Hamparan bunga begitu indah dan ada jalan kecil yang membelah lautan bunga. Taera menganga, menatap ciptaan Tuhan yang begitu indah.

" taman bunga kuning, itu kata Minguk. Kami selalu kesini, indah bukan ?"

Taera mengangguk menyetujui ucapan TAerin.

" kau mau berfoto disana. Unnie akan memotretnya "

" aku tidak mau foto sendiri "

Ucap TAera dengan mempoutkan bibir. Ia mengulurkan ponsel pintarnya pada TAerin dan ia mulai berpose

Klik

Klik

Klik

" kau bilang tidak mau berpose sendiri, tapi nyatanya ? heol "

" berisik, cepat kemari "

Taera menarik lengan TAerin dan mereka memulai foto bersama. Beberapa kali jepretan dan beberapa kali gaya. Bahkan ia meminta tolong pada pengunjung yang lain untuk memotret mereka. Mulai dari gaya piggy back, gaya berpelukan bahkan gaya Taera mencium Taerin .setelah berterima kasih kepada fotrografer amatiran, Taera menyimpan ponselnya dan menengadahkan tangan ke arah Taerin

" apa ?"

" ponselmu "

" huh ?"

" ponselmu, daritadi hanya ponselku. Mana ponselmu unnie "

Taerin tersenyum miris, ia menggeleng. Taera mengernyitkan kening tidak paham

" maksud unnie ?"

" aku tidak punya ponsel ra "

" kau bohong tae "

Taerin mengeluarkan ponsel kecil dari saku celana. Itu ponsel 2G, bahkan masih memakai tombol dan berlayar abu-abu.

" aku hanya punya ini tae "

Ujar TAerin dengan memamerkan ponsel kecilnya. Taera tertegun, bahkan kakaknya masih memakai ponsel keluaran lama.

" kemana ponsel lamamu ?"

" aku menjualnya, ibu membutuhkan uang untuk melahirkan Minguk "

GREEP

Beruntung Taerin sigap, kalau tidak mereka akan terjatuh di padang bunga. Tidak ada pergerakan dari TAera. Tapi TAerin merasa jika sang adik memeluknya begitu erat.

" hey kenapa tiba-tiba sekali memelukku "

"….."

" taera "

Taerin mengernyit ketika ia susah melepaskan diri dari pelukan TAera

" … "

Taerin mengeluarkan 50% tenaganya dan menatap sang adik yang menunduk. Oh tidak, ia menangis. segera saja TAerin membingkai wajah sang adik dan mengusap air mata dengan ibu jari

" ada apa? Mengapa menangis ?"

'geleng-geleng'

" kenapa menangis ra. Kau membuatku takut "

Perlahan taera mengangkat wajah, terlihat jelas jika ia menahan tangis. Wajahnya sampai memerah begitu

" apa unnie, ibu dan Minguk selama ini baik-baik saja ?"

" maksudmu ?"

" hidup dengan baik, makan dengan baik, dan tinggal dengan baik "

" tentu saja, mengapa bertanya seperti itu ?"

Taera menggeleng kecil ia lantas kembali memeluk Taerin.

Kehidupan mereka berbanding terbalik. Bahkan Taerin Nampak baik-baik saja setelah ia mengalami perubahan dari seorang putri menjadi seorang upik abu. Sedang dirinya, semua yang ia ingin kan dalam detik ini juga pasti ada. Taerin mendesah kecil, ia tahu apa yang ada dipikiran sang adik

" unnie baik-baik saja, selama ini kita baik-baik saja tae. Unnie hanya tidak meneruskan sekolah. Jangan memikirkan hal lain. Justru unnie dan ibu yang selalu memikirkanmu. Apa kau akan baik-baik saja ketika tahu kami pergi ?"

"..."

" tapi mendengar cerita dari yang lain jika kau tidka dalam kondisi baik-baik saja, membuat kami begitu terpukul. Tapi... kau tahu sendiri bukan bagaimana kita ?"

'anggukangguk'

Taerin masih setia membingkai wajah sang adik. Dikecupnya kecil pucuk hidung Taera.

" melihatmu sekarang menjadi lebih baik, membuatku lega. Melihatmu tumbuh menjadi seorang remaja dan jujur kau tambah cantik sayang. Unnie bangga denganmu "

" hiks "

Lolos sudah air mata nya, taera bahkan menggigit bibir bawah dalamnya. Ia menunduk tidka berani menatap sang kakak yang begitu ia sayangi.

" mendengar kau mendapat prestasi sebagai siswi terpandai, unnie turut bangga sayang. Kau memang mirip seperti ayah dan ibu. Unnie bangga "

" hiks hiks "

" kenapa menangis tae ? apa unnie menyakitimu ?"

'gelenggeleng'

" unnie hiks... apa kita bisa kembali bersama ?"

Taerin tertegun ia masih setia menatap taera yang menunduk menahan isakan. Tapi begitu keempat mata mereka beradu, dan melihat bagaimana sayangnya taera kepadanya. Itu membuat taerin menangis dalam diam

" tidak bisakah kita kembali bersama. Ke rumah kita, di seoul. Bersama ayah ibu, unnie aku da minguk? Bisakah kita mengulangnya kembali ?"

" ... "

" apa unnie tidak merindukan kamarmu? Merindukan pertengkaran kita dan_"

" unnie tidak bisa tae "

Taera menatapnya sendu, taerin menghelas nafas kecil

" semua tak sama, tak bisa kembali sedia kala. Kalau pun ada, itu semua sandiwara tae. Kita tidak pernah bisa bersama. Bersama dalam atap yang sama. Tidak ada lagi cinta disana, jadi untuk apa bersama ? "

"..."

" ayah tidak pernah mencintai ibu. Aku lahir karena sebuah kecelakaan, bahkan aku hampir tidak bisa menghirup udara dunia. Dan kau, kau lahir karena kepuasan. Tapi kau beruntung, ayah begitu menyayangimu dengan tulus. Tapi denganku, itu semua pura-pura. Ibu begitu menyayangi kita, tapi bisakah aku mendapat cinta tulus dari ayah? Kita berdua lahir karena kebodohan ibu dan kepuasan ayah. Menjadi pemeran figuran yang tak berarti, jadi untuk apa kita kembali memainkan drama jika akan berakhir sama ? "

" kau tak mengerti aku unnie "

X

X

X

X

Knock knock

Jongin terperanjat dalam tidur ayamnya, ia baru saja akan menyelami dunia mimpi. Menemani si bungsu yang begitu nyenyak tidur di kasur lipat. Jongin mengernyit heran, siapa yang bertamu di saat kedai sudah tutup? Aah mungkin tetangga sekitar yang datang. Itu fikirnya. Tanpa menunggu lama, ia segera bangkit dan mengambil kuncir rambut lalu mengikatnya menjadi 1. Berjalan kelaur pintu penghubung dan membuka pintu kedai. Ia terperanjat begitu tahu siapa tamu yang datang kemari. lidahnya tercekat, bibirnya mendadak kaku. Untuk apa laki-laki tinggi berambut cokelat ini datang kemari

" ada yang bisa ku bantu ?"

Hanya itu yang ada dipikirannya saat ini. mantan suaminya datang dan tidak ada salam pembuka darinya jadi jongin berinisiatif untuk menyapanya dulu

" taera_ "

" oh, taerin mengajak taera berkeliling. Mungkin sebentar lagi kembali. kau mau menunggu di dalam ?"

Ada nada canggung di kalimat yang jongin lontarkan. Sehun hanya menatapnya diam. Sejenak laki-laki itu mengangguk kecil dan jongin mempersilahkan sehun untuk masuk.

Wanita 3 anak tersebut, menyediakan teh hangat dan sepiring kue kering untuk tamunya. Ia lantas duduk di hadapan sehun dan sedikit tersenyum. sehun masih saja tanpa ekspressi. Datar dan dingin. Tidak ada yang berani membuka obrolan, bahkan mereka sudah duduk 5 menit. 5 menit bagi jongin sama seperti 1 jam. Ia merutuki kegugupan jantung yang begitu berdegup kencang.

" apa taera kemari tidak memberitahuu ?"

" ya, dia memberitahuku "

" tidak bilang kalau akan kembali pukul berapa ?"

" tidak "

Hening, kembali hening. Suara yang tercipta hanya bunyi jarum jam dinding dan juga bunyi nyamuk. Astaga bahkan hewan terkecil kecil itu sampai terdengar di telinga manusia. Jongin memalingkan muka, ia tidak mau bertatap muka dengan sehun. ingin rasanya memutar jam dinding agar lebih cepat berdentang

" bagaimana kabarmu ?"

1 pertanyaan dari suara husky membuat jongin menoleh menatapnya. Sehun menatapnya intens

" seperti yang kau lihat "

" kau tampak lebih kurus dari terakhir kita bertemu "

Jongin tersenyum miris dan menggeleng kecil

" tidak, aku masih sama "

" kau kehilangan pipi gembilmu bear "

Ooh ya tuhaaan, jongin hampir saja sesak nafas. Apa itu tadi? Bear? Itu panggilan sehun selama mereka berumah tangga. Dan whaaat, sehun masih mengingat itu. ya tuhan ya tuhan. Bangunkan jongin jika ini adalah mimpi buruk. Jongin menatap sekilas wajah sehun yang mengerutkan kening

" ada apa? apa aku salah bicara ?"

" a.. aah tidak. pipiku... ya pipiku, memang tidak segembil dulu "

" kau gugup ?"

" aha tentu saja tidak. aku baik-baik saja "

Sumpah, demi apapun. Jongin tadi melihat jika sehun tersenyum kecil melihat tingkahnya

" kau tidak pandai berbohong. Masih sama "

" maksudmu "

" kau berbicara dengan gugup, dan aku tahu apa maksudnya "

" kau masih ingat rupanya "

" 18 tahun bersamamu, sedikit banyak aku mengerti tentangmu meski aku tidak ingin tahu bagaimana dirimu "

" yaa, seharusnya kau tidak perlu memperhatikan hal kecil tentangku bukan ?"

Jongin menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana rasa sakit itu kembali datang padanya

" tapi aku tidak bisa untuk tidak memperhatikanmu. Sedang kau ada di sekitarku selama 24 jam "

" aku tidak pernah memintamu untuk melakukan hal itu hun. Apa kau lupa, sebelum aku melahirkan taerin, aku meminta kita untuk berpisah "

" drama menjijikan "

" ya, dan kita berdua adalah aktor dan aktris terbaik bukan? 18 tahun bermain drama bahkan taerin dan taera adalah pemain figuran terbaik "

Ada rasa menyesal dari diri Jongin begitu ia mengucapkan 2 nama putrinya. Ia akan meminta maaf nanti kepada mereka

" dan menurutmu apa drama itu berakhir ?"

" ya, tidak perlu season kedua ataupun seterusnya. Semua sudah berakhir dan menjadi ending yang tidak bisa ditebak oleh siapapun "

" tapi kufikir kita membutuhkan ending yang berbeda dari cerita tersebut "

Jongin mengernyitkan kening, apa maksud dari mantan suaminya ini? apa sehun ingin_

" tidak perlu difikirkan, aku hanya bercanda "

Entah ini perasaan lega atau tidak, ada sebongkah rasa dalam dada jongin yang menginginkan membuat drama baru dengannya.

" tentu, itu sudah berakhir. Tidak perlu cerita berkelanjutan, karena salah satu tokoh tersebut, sudah mendapatkan akhir yang ia inginkan "

"..."

" aah aku rasa, taerin akan sampai nanti sore membawa taera pergi. Akan aku suruh pulang jika mereka berdua sudah kembali, aku pasti khawatir dengan taera. Tapi tenang saja, taerin akan membawa pulang taera dengan selamat "

Sehun mengangguk kecil dan mulai beranjak dari sana. Sebagai pemilik rumah yang baik, Jongin mengantar sehun sampai pintu depan. Mereka membungkuk hormat sebentar dan lelaki dengan punggung tegap tersebut pergi menjauh dari rumahnya. Jongin hanya bisa menatapnya dalam diam, kepala mungilnya bersandar pada daun pintu serta seulas senyum ia sematkan untuk kepergian mantan suaminya.

X

X

X

x

Kedua kakak beradik tersebut sampai di pagar utama villa tempat taera dan yang lain menginap. Taerin memilih untuk mengantarkan taera pulang, ia sudha terlalu lama keluar jadi ia tidak ingin membuat yang lain khawatir. Sejak terakhir kali mereka berdeba, taera lebih banyak diam. Ia hanya mengangguk menurut begitu taerin mulai mengayuh sepeda. Kini mereka sudah sampai tapi taera masih tidak mau beranjak dari boncengan.

" tae, sudah sampai "

" ya unnie "

Dengan terpaksa, ia turun dari boncengan dan berdiri dihadapan sang kakak. Mereka berdua bertatapan sejenak dan saling melempar senyum, bukan bukan senyum manis tapi senyum tanda hmmmb perpisahan mungkin

" maaf unnie hanya bisa membawamu ke padang bunga kuning, esok unnie janji akan mengajakmu berenang "

" aku besok harus kembali "

" oh, kalian akan kembali. baiklah kalau begitu mungkin lain waktu "

Ucap taerin dengan berpura-pura senyum. Ia mengusap pipi putih sang adik sedang tidak dengan taera. Ia masih ingin bersama sang kakak. Liburan selama seminggu penuh disini seperti hanya sehari. Nothing special kecuali hari ini.

" masuklah, udara semakin dingin. Mandilah dengan air hangat dan pakai baju hangatmu. Makanlah dengan baik tae, badanmu kurus sekali "

" ya, unnie juga begitu "

'menganggukkecil'

" masuklah "

Taera masih diam disana menatap taerin, namun setelahnya ia memutar tubuh dan tak sengaja pandangan taera tertuju pada sosok yang ia kenal. Ayahnya berdiri di balkon menatap kedua putrinya. Taerin yang bingung, ikut mendongak dan mata bulatnya menatap ke arah sang ayah. Ia juga tahu jika sehun memandangnya. Taera yang merasa tidak bertatapan memutar tubuh dan melihat sang kakak saling bertatapan dengan ayah mereka.

Pandangan taerin terkunci pada mata elang sehun. sebisa mungkin taerin menutupi pandangan rindu. Ingin rasanya ia berlari ke arah sehun dan memeluk erat laki-laki yang membuatnya hidup di dunia. Taerin merindukan sosok ayah yang ia sayangi, tapi ia harus tahu jika itu adalah semu. Kasih sayang yang selama ini ia dapatkan adalah semu. Jadi ia memutuskan kembali pada kenyataan dan memutuskan pandangan. Dengan segera taerin menuntun sepeda kayuhnya dan pergi dari sana. Sedang taera, ia masih setia memandang punggung sempit sang kakak sebelum ia mendongak menatap sehun. Ia kecewa, ayahnya tidak menyiratkan kerinduan untuk putri sulungnya.

X

X

X

X

TeBeCeh...

Cut disini dulu yaa,, duuh maaf ini ngaret banget. Nunaa konsen ke real life soalnya. Kerjaan akhir tahun menguras pikiran. Seharusnya ini mau di up kemarin, tapi kenapa nunaa gak bisa buka dan login ke ffn? Ada yang sama? Padahal kemarin pagi up ugly cyber bisa. huuufffttt...

Pendek yaa? Ia emang nunaa cut disini, chap ini nunaa ketik ulang. Gak sama dengan versi aslinya, mungkin mau nunaa tambahin 1-2 chap lagi. Ada yang udah bosen? Chap ini full tentang hunkai dan family. Nunaa selipin kejadian real meski Cuma 20% adakah yang baper disini? wkwkwk jangan sampai yaa..

Baiklah nunaa kembali ucapkan terima kasih buat kalian yang sudah capek-capek ngetik review dan baca ni ff unfaedah. Wkwkwk nunaa sangat berterima kasih. Cukup sekian cuap-cuapnya.. annyeong pay pay